
“Mereka pacaran. Bangke.”
°°°°°°°°°°°
Sudah seminggu ini si tampan Niko tidak keluar dari kamarnya. Dia di Landa galau berat. Hari-harinya di penuhi oleh kegundahan. Ingatannya tetap saja mengarah pada kejadian pegangan tangan itu. Ah, menjengkelkan.
Seandainya hari itu Niko tidak duduk di taman. Pasti dia tidak akan melihat adegan itu.
Niko memandangi wajah cantik Vanya dari layar handphonenya. Perasaan yang sudah dia pendam pada wanita yang lebih tua darinya itu, membuat Niko sadar. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Vanya bukan jodohnya.
“Aku pikir kak Vanya akan menjadi kekasih ku. Ternyata dia lebih dahulu menerima perasaan kak Zico. Kita memang tidak berjodoh.”
Niko menghela napas berat, handphone yang semula dia lihat dengan intuisi, kini dia buang sembarangan di kasur. Sesekali Miko memijit kepalanya. Dan itu terasa menyakitkan setiap kali mengingat kejadian di taman seminggu yang lalu.
“Niko.” Dari luar suara Ibunya memanggil. Namun Niko tidak menyahut. “Ayo keluar. Ada kak Dinda dan si kecil,” teriak Ibu Yuri.
“Ah terserahlah. Ada kak Dinda kek ada si kecil kek. Aku malas keluar.” Niko menggerutu. Semula badannya menyandar di kepala ranjang, kini dia buat memaksa tertidur.
“Niko. Kak Dinda di luar mau pamitan pergi. Kamu tidak ingin melihat kakak untuk yang terakhir kali kah?”
Lagi dan lagi. Suara Ibunya membuat Niko membekukan diri di balik selimutnya.
“Biarkan Dinda saja Bu yang menemui Niko. Ibu duduk saja di depan,” kata Dinda berinisiatif.
Ibu Yuri mengangguk. “Ibu siapkan teh dulu untuk suami mu,” balas Ibu Yuri sambil berlalu.
Dinda masuk kedalam kamar Niko. Oh, lebih tepatnya itu kamar Dinda yang sudah di ambil oleh Niko. Karena Niko punya kamar sendiri, atau dia lebih suka tidur bersama kakaknya si Miko.
“Niko. Kakak hari ini mau pulang ke Shanghai bersama si kecil. Kamu nggak mau melihat kakak untuk yang terakhir kalinya?”
Niko memunggungi Dinda. Dia tidur miring membelakangi kakaknya.
“Kapan kakak akan kembali lagi?” tanya Niko.
“Tidak dalam waktu dekat.”
“Lama?” seketika Niko membalik badannya, lalu duduk sejajar bersama kakaknya di kasur.
Dinda mengangguk. “Keputusan kak Steve. Iqbal akan sekolah sampai lulus kuliah di sana.”
Niko tidak terlalu kaget, hanya sedikit tertegun. Walau jarang bertemu dengan si kecil di sini, di tempat satu kota. Yang jaraknya tidak memakan waktu berhari-hari menuju ke rumah si kecil. Namun rasanya berat juga, si kecil adalah mood booster bagi Niko. Apalagi saat ini si kecil akan ke Shanghai, pasti akan makin sulit menemuinya.
“Kalau itu keputusan kalian. Niko bisa apa.”
“Kamu nggak mau melihat dulu Iqbal?” tawar Dinda.
Secepat itu Niko berubah. Biasanya juga, dia selalu rajin mengambil Iqbal dari Ayahnya. Terlebih, si kecil selalu merengek kalau sudah di gendongan Niko.
“Nggak deh kak,” balas Niko tak bertenaga. “Yang ada, nanti aku makin rindu pada si kecil.”
Dinda melipat bibirnya. Senyum tak begitu enak dia gambarkan. Ketika melihat Niko tak semangat, Dinda tahu. Pasti galau.
“Ya sudah. Kakak pergi sekarang. Kamu jaga kesehatan di rumah. Jangan kerja terus. Ingat pelajaran di sekolah, dan jangan lupa untuk istirahat sesekali. Jangan begadang.”
“Hem.....”
Niko membalasnya singkat, tidak mendetail. Dinda memilih pergi dari kamar ini, lagi pula Niko tidak mau melihat si kecil.
“Bagaimana. Sudah?” tegur Ibu Yuri ketika mereka berdua berpapasan di depan pintu kamar Niko.
“Sudah Bu,” balas Dinda di ikuti anggukan. Satu tangannya masih memegang gagang pintu, mengatupnya agar tertutup.
“Dia nggak bilang apa yang terjadi padanya seminggu ini?” tanya Ibu Yuri penasaran.
Dinda menggeleng. “Dinda tidak bertanya kenapa. Dinda hanya pamitan mau pergi, dan dia bilang seadanya.”
“Anak itu..... ” Ibu Yuri juga bingung, setelah di tanya apa penyebab Niko seperti itu. Dia hanya terdiam membeku, tak berkata apapun. “Sudahlah. Ayo kita kedepan. Siap-siap. Kalian akan berangkat ke kantor nanti.”
Di depan, Steve masih santai, ketika orang-orang sedang sibuk ingin mengantarkan mereka ke bandara.
Bapak muda satu ini masih asik menggendong anaknya. Untunglah, jas hitam yang tersetel rapi itu tidak akan kotor karena puf Iqbal.
Anaknya memakai pembalut khusus bayi, jadi Steve aman.
“Sayang. Berangkat sekarang atau......”
__ADS_1
“Nanti saja deh. Biarkan aku dan Iqbal bersama dulu di sini.”
Ibu Yuri terkekeh, menantunya itu memang tidak bisa jauh dari putra satu-satunya ini.
“Kak Steve dan kak Dinda bakal lama di Shanghai. Pasti si kecil akan lupa pada om-nya.” Miko mengadu. Sedih rasanya harus berpisah dari ketiga orang itu.
Apalagi si kecil, lalu Steve. Biasanya Miko kalau tidak ada pekerjaan, setiap malam pasti ke rumah Steve. Hanya demi bermain game Konsul yang tengah di gandrungi oleh kawula muda.
“Nggak sedih gitu dong. Kan sekarang Miko banyak uang. Jadi bisalah naik pesawat ke Shanghai,” celetuk Dinda cengengesan.
Biarlah begitu. Miko hanya bisa membuang napas engah. Di lihat di depan, mobil hitam Steve sudah penuh dengan koper.
“Sudah pukul setengah sepuluh. Pesawat transit ke Hongkong nggak lama lagi berangkat.”
Miko melihat jamnya tadi, dia mengingatkan kembali mereka agar tidak berlama-lama.
“Oh. Iya. Kita berangkat sekarang.” Steve menuruti.
Sebelumnya mereka akan singgah di kantor. Ini hari terakhir mereka di Jakarta, karena Steve tidak berniat lagi kembali ke sini. Kemarin sang ayah sudah menelpon, dan rasanya itu adalah peringatan.
“Ayo kita berangkat sekarang,” ajak Steve pada Dinda.
°°°°°°
“Pak Zico. Kami sudah menyiapkan karangan bunga untuk menyambut Pak Steve. Semuanya sudah beres,” kata karyawati pada Zico.
“Oh. Baiklah. Kalau semuanya sudah beres, katakan pada semua karyawan kalau hari ini mereka harus berkumpul di aula kantor.”
“Baik Pak.”
Zico di temani Vanya yang kini menjadi sekretaris pribadinya. Sedang mencoba memberikan kejutan terakhir untuk Steve sebelum pergi. Katanya, Steve akan mampir ke kantor sebelum berangkat ke bandara.
Ada begitu banyak karang bunga yang terpajang sepanjang lobi kantor menuju ruangan Steve. Karang bunga bertuliskan perpisahan paling absurd abad ini.
“Aku harap. Perpisahan kali ini, aku bisa lebih kuat dari sebelumnya.”
“Kamu pasti bisa,” sahut Vanya. “Aku tahu Pak Steve sudah banyak membantu calon suami ku. Aku yakin, kamu bisa berdiri tanpa Pak Steve kali ini.”
Zico tersenyum. Memang hiburan dari Vanya ini membuat napas Zico di tarik lancar. “Terima kasih,” ucap Zico. Satu tangan Zico mengusap lembut punggung tangan Vanya.
“Persiapkan segalanya dengan baik. Kumpulkan semua karyawan di aula kantor.” Zico memerintah. Jalan mereka agak tergesa-gesa, sedangkan Vanya dan karyawan tadi berjalan menuju ke tempat lain.
“Baik Pak,” balas karyawan tadi.
Zico merapikan jasnya, saat menuju ke lift menuju lantai bawah. Dia amat berharap kali ini Steve bisa memandangnya rapi dan segar. Percaya diri Zico agak meningkat kali ini.
Di lobi kantor, Dinda menggendong putranya sementara Steve seperti biasa. Semua orang di lobi kantor sangat menyambut kedatangan pria yang memakai jas hitam rapi itu.
“Mari lewat sini Pak.” Tunjuk salah satu karyawan wanita.
Mereka menuju ke aula di mana tempat mereka akan berkumpul. Setibanya di sana, banyak pekerja yang sudah menunggu. Sambutan yang di berikan ini terlalu berlebihan, apalagi karangan bunga memenuhi seluruh jalan yang Steve lalui.
Bak selebriti, semua orang terutama penjaga mengikuti mereka dari belakang. Steve dan Dinda merasa perpisahan ini benar-benar heboh.
“Steve.” Zico memanggilnya. “Maaf tidak meyambut kamu di depan kantor tadi.”
Steve mengangguk paham, Zico pasti sibuk hari ini. “Bisa kita mulai acaranya.”
“Tentu. Semuanya sudah siap!” Zico menunjukkan tempat di mana Steve akan berpidato sebentar untuk yang terakhir kalinya. Sebelum dia benar-benar akan kembali ke Shanghai.
Steve tidak mau buang-buang waktunya. Jadi Steve langsung berkata pada intinya saat melihat semua karyawan sudah duduk di hadapannya. Sementara Steve sendiri sudah berdiri di atas panggung kecil di aula kantor.
“Kalian tentu tahu kenapa aku ingin kalian berkumpul di sini hari ini.” Steve memulai bicaranya. Matanya mengedar ke seisi aula, yang di penuhi oleh seluruh pekerja.
Semua karyawan mengangguk paham. Dan Steve kembali melanjutkan ucapannya. Dia tidak gugup, sudah biasa baginya berdiri di depan banyak orang.
Mungkin agak berat. Namun ini adalah pertemuan terakhir kita. Untuk kedepannya, kantor cabang ini akan di ambil alih oleh Zico— sebagai Direktur cabang. Aku berharap, semua pekerja di sini tetap giat bekerja walau tak ada aku di sini. Dan aku sadar, kalau seluruh karyawan sudah bekerja sebaik mungkin.
Hari terakhir di kantor ini, aku sangat berkesan dengan pekerjaan yang sudah di lakukan dengan baik oleh para karyawan Grup Wong. Oleh karena itu, aku harap hari terakhir ku di sini, kalian bisa lebih enjoy dalam bekerja.
Tidak peduli apakah perusahaan mengalami pasang surut. Dan sering terjadi kecelakaan kerja, semua tetap giat bekerja mengabdi di perusahaan ini. Aku menghargai segala bentuk performa kerja kalian. Kedepannya, semoga setiap individu yang bekerja giat di sini, makin profesional dan produktif dalam bekerja. Dan, hanya ini yang bisa aku sampaikan untuk kalian para pekerja yang handal.
Terima kasih.
Steve mengakhiri bicaranya, dengan mematikan mikrofon. Semua karyawan terlihat sudah siap dengan kepergian pria ini. Walau dia bos yang dingin, namun setidaknya dia bos yang bertanggung jawab.
__ADS_1
“Steve. Terima kasih sudah mempercayakan kepada ku sebagai direktur cabang. Aku doa kan kalian baik-baik saja di Shanghai,” kata Zico dengan lapang dada melepaskan kepergiannya.
“Ya. Aku juga berharap kamu bisa mengemban tugas ini,” balas Steve sambil menepuk pundak pria ini.
Kemudian mata Zico beralih pada si kecil. Ah, anak Steve benar-benar menggemaskan. Menggigit jarinya, matanya terlihat indah. Zico menjadi iri melihat anak itu.
“Hei si kecil. Jangan lupa pada om Zico di sini ya. Kalau sudah besar, jangan dingin dan pemarah seperti Ayahnya. Kamu harus bersikap hangat pada siapa pun. Oke.”
Steve cengengesan terkekeh saat Zico menyinggung putranya dengan tingkahnya yang pemarah nan dingin. Namun Steve tidak menyangkalnya.
“Zico. Aku harap hubungan kamu dan Vanya bisa berjalan baik ya.” Dinda tidak lupa pada bagian ini. Rasanya pria itu masih agak kekanakan kalau di ingat-ingat.
Zico merona dan malu saat di ingatkan seperti itu oleh Dinda.
“Kami sudah bertunangan,” bisik Zico memberitahu.
Sial. Kabar buruk bagi Dinda. Dia baru tahu sekarang.
“Hah. Serius? Kapan?” tanya Dinda antusias. Dia melirik Vanya di sebelahnya, dan wanita itu hanya tersenyum malu.
“Seminggu yang lalu,” balas Zico ragu mengakuinya.
“Astaga.”
Dinda geleng-geleng kepala. Dua orang itu ternyata gerak cepat.
°°°°°°°
Kepastian kapan mereka akan kembali ke Indonesia. Dinda dan Steve tidak bisa memprediksi. Namun wacananya, mereka tidak akan kembali lagi ke Indonesia. Iqbal akan besar di kota itu, kemudian melupakan tempat kelahirannya. Mungkin.
“Huh. Rasanya berat ingin meninggalkan kota ini,” kata Steve penuh keraguan.
Sesekali Steve mengurut dagunya, kadang juga menggaruk bagian tertentu walau sebenarnya tidak gatal.
Jalan di depan, seolah melancarkan ban mobilnya agar segera tiba di bandara.
“Aku tadi sudah menghubungi Miko. Nanti dia akan mengambil mobil ini di bandara.”
Steve melirik Dinda, nyatanya kepergian ini tak bisa di urungkan. “Sopir dan Asisten rumah tangga?” tanya Steve.
“Mereka juga sudah pulang kampung. Kak Stevie juga memberikan mereka uang insentif, bonus mingguan dan ongkos.”
“Bukannya kedua orang itu akan tetap di rumah?” seingat Steve, memang sopir dan ART paruh baya itu akan berhenti bekerja jika Stevie ikut ke Shanghai.
“Kak Stevie tadi menelpon. Katanya mereka jadi di berhentikan. Dia ingin di rumah sendiri, tanpa ada yang menggangu.”
Steve ber-oh kecil, mengangguk pelan hingga berkali-kali. Steve melirik ke arah putranya sesekali, wajah menggemaskan itu tertidur pulas.
“Aku harap kita punya waktu untuk kembali ke sini.”
“Semoga.”
Jalan yang lengah ini, pada akhirnya membawa mobil Steve tiba di bandara. Walau berat, namun rasanya mereka tida bisa menunda lagi kepergian ini. Sebelumnya, seminggu yang lalu mereka sudah mendiskusikan hal ini.
Mereka sudah berusaha mengajak Stevie agar ikut. Namun wanita itu tetap keras kepala. Dia enggan meninggalkan Jakarta. Telepon dari sang Ayah, mengingatkan Steve—kalau waktunya sudah berakhir.
“Semua barang sudah di turunkan semua?” tanya Dinda menyela. Suaminya mengeluarkan dua buah koper besar, dan satu koper kecil milik putra mereka.
“Sepertinya nggak ada lagi yang ketinggalan,” balas Steve memastikan dengan keyakinan penuh.
“Kalau tidak ada yang ketinggalan. Kita tunggu Miko di ruang tunggu saja. Biarkan dia menemui kita di sana.”
Steve mengangguk. Megulu* bibirnya, hingga mengerut. “Ayo.”
Steve mendorong troli khusus pengangkut barang bawaan di bandara. Yang sebelumnya dia ambil di lobi bandara.
Sedangkan Dinda menggendong si kecil. Usianya sudah cukup untuk mengikuti kedua orangtuanya berpergian jauh.
Hah. Setelah beberapa kali menahan diri untuk tidak ke Shanghai, akhirnya itu tidak efektif. Tidak ada alasan lagi untuk tidak ke sana.
Pada akhirnya, aku akan mengakhiri semua kenangan di kota ini dengan indah. Walau tak sebegitunya indah, namun aku akan merindukan kota ini. Shanghai, ah kota itu, walau aku malas menyebutnya, namun dia akan menjadi tempat baru ku.
Dinda mengedarkan pandangannya di seluruh ruangan luas di tempat tunggu penumpang. Rasanya semua sudah berlalu secepat ini.
“Yakinlah Dinda. Ini yang terbaik.”
__ADS_1
TBC