
Steve dan Dinda melewati beberapa toko ber-etalase-kan barang-barang bermerek.
Steve menggandeng tangan Dinda, layaknya pasangan pada umunya. Dinda sedikit risih, apalagi dia merasa sudah bangkotan. Dinda merasa tidak cocok dengan adegan romansa kontemporer ini.
Malu rasanya saat mengumbar keromantisan di muka umum. Dinda tidak biasa melakukan hal-hal seperti ini.
"Kita di sini hanya jalan-jalan saja atau Steve ingin mencari sesuatu untuk di beli?" Dinda bertanya seraya menegur. Sementara orang-orang memperhatikan mereka, dua muda mudi yang sedang kasmaran.
Mereka sedari tadi sudah berjalan melewati beberapa lantai mall. Entah kemana pria itu akan membawa Dinda pergi. Hanya berputar saja di beberapa tempat.
"Aku ingin membelikan kamu barang-barang yang paling mahal di sini," jawab Steve. "Aku ingin memberikan sesuatu yang akan membuat mu senang."
Kebetulan mereka sedang berdiri di depan toko perhiasan mewah yang waktu itu tak sengaja Dinda bertemu dengan Johan.
Toko berlian mahal dengan pernak-pernik mewahnya, menarik perhatian Steve. Dia mengerutkan alisnya, seakan ada yang membisik agar masuk kedalam toko itu. Terlintas dalam benak Steve bahwa wanita mencintai suatu kemewahan, termasuk Dinda.
Tanpa pikir panjang Steve membawa Dinda masuk kedalam toko perhiasan mahal itu.
"Mau apa kita ke sini?" tanya Dinda lagi. Matanya melirik sekeliling etalase toko perhiasan mewah ini. "Ini toko perhiasan mahal, apa yang kamu cari disini," Dinda membisik pelan.
Steve tahu bahwa itu toko perhiasan mahal. Dia menatap Dinda romantis penuh perasaan, dia ingin memberikan kejutan pada Dinda. "Kamu pilih salah satu berlian yang kamu inginkan. Aku akan membelikannya untuk mu," Steve menawarkan.
Dinda sedikit syok, dia merasa seperti sedang salah dengar. "Jangan bicara aneh. Aku tidak butuh berlian," Dinda menganggap Steve sedang bercanda.
"Aku hanya ingin membelikan salah satu berlian mahal disini, untuk kamu. Memangnya salah kalau aku membelikannya untuk mu," Steve berkata bahwa itulah keputusannya.
Dinda menarik tangan Steve, dia membawanya sedikit menjauh dari beberapa penjaga toko yang siap melayani mereka. "Tapi aku tidak butuh barang-barang seperti itu," Dinda berkata. "Aku tidak ingin barang-barang mahal semacam berlian di sini. Terlalu berlebihan bagi ku," tandas Dinda menolak.
Dengan tenangnya Steve mengatakan hal-hal yang dia suka pada Dinda. "Aku yang memintanya dan aku yang membelikannya untuk mu. Kenapa harus menolak."
"Aku tidak terbiasa dengan barang-barang mahal," kilah Dinda. "Aku suka yang sederhana, tidak berlebihan seperti ini."
Steve ingat, saat itu Dinda pernah menggosipi dirinya dengan adiknya Miko saat ada di rumahnya beberapa waktu lalu. "Ehm..... Apa kamu ingat, waktu itu kamu sendiri yang mengatakan bahwa aku anak sultan," Steve mengingatkan Dinda. "Dan kamu juga bilang bahwa aku sedikit lebih kaya dari Mukesh ambani, kamu ingatkan, jika kamu pernah mengatakannya itu pada Miko."
Dinda mengingat-ingat apa yang di katakan oleh Steve. Dia berpikir sejenak, sepertinya dia pernah berkata hal itu namun dia sedikit melupakannya.
"Benar juga," Dinda mulai mengingat apa yang pernah dia ucap. "Aku hampir lupa kalau aku pernah bilang seperti itu pada Miko," Dinda berkata pelan.
"Tapi malam itu, aku sengaja berkata begitu untuk membohongi Miko," Dinda berdalih. Dia menjawab Steve dengan perasaan tak enak, dia sudah ketahuan berkata bohong.
"Menarik," Steve menyukai bicara Dinda. "Kamu sengaja mengatakan kebohongan ini pada Miko, agar dia termotivasi bisa sukses seperti Steve yang tampan? Begitu kah yang ingin kamu bilang," Steve menebaknya. Dia tahu itulah inti perkataan Dinda.
Gaya bicara Dinda mulai gagap, Dinda merasa kalah bicara. "Sejujurnya aku ingin mengatakan begitu," Dinda sedikit tersenyum tak enak. "Membohongi Miko agar dia bisa termotivasi menjadi orang sukses. Tapi, aku Tidka ada niat untuk memuji mu begitu. Aku bersumpah," celetuk Dinda seraya menggigit bibir bawahnya.
"Bagaimana dengan sekarang?"
"Se..... Sekarang? Kenapa dengan sekarang?" tanya Dinda.
"Sekarang aku tidak membohongi mu kalau aku benar-benar kaya," balas Steve. "Aku ingin membuktikan pada kamu, kalau aku benar-benar kaya. Setingkat lebih kaya dari Mukesh ambani."
"Tetapi aku berkata membohongi Miko agar dia bisa ketularan sukses," Dinda kembali berdalih. "Aku nggak bermaksud membohongi Miko dengan sengaja mengatas-namakan Steve. Aku tidak bermaksud begitu."
Steve menggeleng, dia sedikit men-decak. "Terserah kamu saja, aku akan tetap membelikan kamu hadiah yang mahal," pungkas Steve.
Steve tak habis pikir, Dinda bicara serius membohongi adiknya tapi dia tak bisa mempertanggung jawabkan perkataannya.
Bisik-bisik keduanya di sela oleh salah satu penjaga toko. Wanita berpakaian putih itu menghampiri keduanya.
__ADS_1
"Maaf," dia berkata sopan. "Apakah tuan dan nyonya sekalian ingin memilih berlian terbaik di toko kami?" pegawai itu menawarkan diri dengan ide yang manis.
"Tentu saja," jawab Steve merespon. "Pilihkan salah satu cincin atau apapun itu yang harganya sangat mahal," Steve memerintah.
"Baik, kami akan menyiapkannya," kata pelayan toko berlian. "Tuan dan nyonya bisa menunggu sebentar."
"Oh iya," Steve kembali menyela. "Tolong keluarkan berlian yang paling bagus dan mewah yang ada di dalam toko ini. Aku akan membeli berapapun harganya,"perintah Steve.
Dengan senang hati penjaga toko itu melayani kemauan Steve. "Kami akan menyiapkan untuk anda tuan," katanya bicara sopan sembari mengeluarkan semua perhiasan andalan mereka.
"Ini tuan," pelayan toko itu menunjukan beragam berlian mewah dari etalase toko. "Berlian mahal yang di buat di Dubai dengan berat 350 gram di padukan dengan beberapa batu Swarovski hitam dan batu Ruby merah delima. Silahkan di lihat dahulu," dia menjelaskan detail.
Steve melirik seluruh berlian yang ditawarkan toko itu. Semuanya terlihat tampak menawan, dia bingung harus memilih yang mana.
"Berlian-berlian ini kualitasnya terbuat dari bahan-bahan murni. Tuan tidak akan menyesal jika membeli perhiasan di toko kami," kata pelayan toko. Dengan mulut manisnya, mereka mencoba menarik hati pelanggan yang datang.
Steve mendercit, dia kewalahan harus membelikan Dinda yang mana. "Kamu pilih salah satu di antara berlian ini, aku bingung harus memilihkan yang mana untuk mu," pinta Steve.
Dinda mendengus, dia berpikir seharusnya Steve tak melakukan itu untuknya. "Maaf mbak, boleh saya bicara sebentar dengan Bos saya," Dinda menyela, dia bicara pada karyawan toko. "Ada hal penting yang ingin saya sampaikan."
"Silahkan," jawab pelayan toko ramah.
"Bukan bos, tapi suaminya," timpal Steve memperbaiki ucapan Dinda. Dia tidak ingin melewatkan kata-kata itu.
"Ih, ngomong apaan sih," Dinda mencubit Steve sambil membisik pelan.
"Jangan di dengarkan apa yang bos saya katakan, dia suka bicara sembrono," Dinda berkata pada pelayan toko. Agar wanita itu tidak salah paham pada perkataan Steve.
Penjaga toko sedikit terkekeh melihat adegan keduanya. Pasangan romantis masa kini, pikirnya mereka sudah menikah.
Dinda menganggukkan kepalanya pada karyawan toko, sambil tersenyum ramah. Dia menarik lengan Steve keluar dari toko.
Steve mendeham. Dia memegang kedua bahu Dinda dari belakang lalu mendekatkan kepalanya di telinga Dinda. "Bukan kah semua wanita suka yang mewah?" kata Steve menggoda.
"Tapi aku tidak seperti wanita yang kamu pikirkan itu," seringai Dinda. Dia membalikan badannya menatap Steve yang berdiri di belakangnya.
"Kenapa? Kamu kan juga wanita! Kenapa tidak menyukai sesuatu yang mewah," ini pertama kalinya bagi Steve menemukan wanita yang tidak suka barang mahal. Dia menuntut penjelasan dari Dinda.
"Aku sudah terbiasa dengan barang-barang murah," balas dinda. "Jadi, jika memakai barang-barang mahal, aku terkadang merasa tidak enak hati," Dinda mengakui kebenarannya pada Steve. "Aku mohon jangan memaksa ku lagi untuk memilih barang mahal seperti itu. Aku akan membuangnya jika kamu memaksa." Dinda bersikeras pada kehendak-nya.
Steve mulai kagum pada sikap Dinda yang tak mawas diri. Sungguh sulit bagi bagi Steve menemukan wanita seperti Dinda ini di jaman sekarang. Wanita yang tidak memperhatikan status sosialnya dan lebih suka belajar dari bawah.
Steve termangu sebentar, dia mulai paham pada pemikiran gadisnya itu.
"Baiklah, kalau kamu menolaknya, tak masalah. Lain kali aku akan membelikannya untuk mu," Steve mengalah. Dia mengikuti permintaan Dinda. "Tapi sebagai gantinya, kamu tidak boleh menolak semua hadiah yang aku berikan kali ini," Steve sekali lagi menawarkan Dinda sesuatu.
"Hadiah apa?" Dinda penasaran. "Jangan bilang barang mewah lagi. Aku akan menolaknya."
Steve menjentikkan jarinya seraya mengedipkan matanya penuh hasrat. "Ikut saja aku, nanti kamu akan tahu hadiahnya."
"Tapi tidak dengan barang-barang mahal lagi," Dinda kembali memperingati Steve.
"Aku janji," jawab Steve sambil mengangkat dua jarinya membentuk huruf V. "Ayo kita kesana sekarang," ucap Steve, menarik tangan Dinda meninggalkan toko.
Dinda ikut saja, dia mulai penasaran apa yang hendak di hadiahkan Steve padanya. Sementara, penjaga toko keluar dari toko mencari keduanya.
Diskusi mereka memakan waktu yang lama, sampai-sampai membuat penjaga toko berang menunggu. Mereka terlalu lama berpikir.
__ADS_1
Namun sayang, saat penjaga toko itu keluar mencari mereka, Steve dan Dinda sudah tak ada lagi di sekitar toko mereka.
Sang pegawai toko menggelengkan kepalanya, dia merasa seperti sedang di permainkan. "Dasar penipu ulung," dia menggerutu.
Setidaknya Steve tidak terjerat dalam mulut manis para pelayan toko itu.
Steve yang membawa Dinda pergi menjauh dari toko perhiasan mahal itu, kini melewati beberapa toko kecantikan. Mata Steve sudah tertuju mengarah pada salah satu toko pakaian yang juga bermerk.
Steve membawanya masuk kedalam toko baju, di sana para pegawai toko juga sudah siap menyambut kedatangan mereka.
"Tolong cari-kan istri ku pakaian yang bagus dari toko ini. Aku ingin melihat dia cantik hari ini," Steve memerintah, seakan sedang bicara pada pelayan di rumahnya.
Tanpa basa-basi, mulutnya sangat ringan berkata menyuruh. "Ingat, pakaian yang paling bagus untuk istri ku," kata Steve sekali lagi memberitahu pelayan toko.
"Bukan.... Aku bukan istrinya. Aku hanya pegawainya, bukan istri," Dinda berkilah. Dia sedikit sebal atas setiap ucapan Steve yang mengada-ada.
"Itu sudah biasa mbak, pasangan muda memang seperti itu. Sering malu mengakui suami mereka sendiri di depan orang lain," ucap pegawai toko baju ini. Dia terkekeh mendengar pembelaan Dinda.
Dinda melirik Steve dengan tatapan menakutkan. Seperti monster, Dinda ingin memakan Steve saat itu juga.
Steve mengangkat kedua bahunya, dia bersikap netral.
Dinda menahan amarahnya, walau Steve berkata mengada-ada, dia sadar bahwa mereka pacaran.
Steve membantu Dinda memilih pakaian. Sejujurnya, Dinda tidak mau membeli pakaian apalagi memilihnya. Dia bisa membeli sendiri pakaian yang dia suka, tapi Steve memaksanya.
"Baju merah ini bagus," kata Steve menunjukkan Dinda pakaian yang di peragakan oleh manekin. "Kamu pasti cocok memakainya."
Dinda hanya melihatnya saja, dia tidak berkomentar.
"Gaun ini di rancang oleh designer kenamaan, dan di jahit dengan benang berkualitas tinggi," pelayan toko yang berdiri mengikuti Dinda dan Steve menjelaskan. Dia sebagai pemandu keduanya.
Steve menunjukan gaun lain. Kali ini dia menunjuk gaun peach blossom dengan aksen bunga yang cantik. Sangat indah dan cocok dengan bentuk tubuh Dinda.
"Itu adalah gaun musim panas kami, tuan," pegawai toko kembali menjelaskan. "Di rancang satu-satunya oleh perancang internasional, dan beruntung toko kami di berikan kepercayaan memasarkannya."
"Cantik," Dinda memuji. Dia sedikit menyentuh kelembutan gaun indah itu.
"Apa kau menyukainya?" tanya Steve. Dia melihat Dinda sedikit terpana melihat gaun cantik itu.
"Nyonya akan tambah cantik jika mengenakan gaun luksury ini tuan," pelayan toko menyela, dia berkata dengan mulut manisnya. "Apalagi tubuh nyonya sangat indah dan ideal, pasti makin menambah aura kecantikan Nyonya," katanya memuji.
"Benarkah?" respon Steve. "Kalau begitu, bungkus semua pakaian mahal yang ada di toko ini, aku akan membelinya," tanpa pikir panjang Steve melakukannya untuk Dinda.
"Baik tuan, kami akan lakukan," pelayan toko beranjak. Dia mengerahkan karyawan tokonya untuk membungkus seluruh pakaian yang di pajang di tokonya.
Sementara Dinda hanya bisa termangu. Steve begitu baik dan tidak pelit keuangan bahkan dia mau membelikan semua barang untuk Dinda.
Dinda menggeleng-gelengkan kepalanya, dia terus harus kuat menahan tingkah Steve yang tak bisa menghemat keuangannya.
"Semua ini di beli," Dinda sedikit kewalahan.
Steve mengangguk, dia sedikit berkata menggoda. "Demi wanita ku, semuanya akan ku beli."
"Tapi ini pemborosan."
"Siapa peduli," jawab Steve apatis. "Yang terpenting gadis ku menyukainya, maka aku akan memberikan apapun. Termasuk bulan, jika kamu mau, aku bisa memberikannya untuk mu."
__ADS_1
Dinda sudah lelah, apalagi Steve melakukannya memaksa. Dia pasrah pada Steve yang memperlakukannya seperti seorang putri.
BERSAMBUNG.