UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 143


__ADS_3

Aku ingin menjadi rambut suami ku. Karena aku mau, aku selalu di perhatikan. Sama halnya dengan rambutnya, yang selalu dia rawat seutuhnya.


—DINDA—


_____________________________________________


Tadi siang pulang dari bandara, Steve dan Dinda sudah berbaikan. Memang tidak terlalu lama pertengkaran ini.


Mulut Steve itu bagai racun. Dia mampu membuat Dinda berhenti mengacau.


Rumah besar ini sepi. Oh, surga sekali bagi Steve. Di tidak akan menyia-nyiakan kesempatan berharga ini. Kapan lagi bisa berduaan saja bersama istri di rumah sendiri.


“Sayang. Duduk di sini. Malam ini adalah milik kita.”


Di tepuknya lembut kasur, sementara Steve menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.


“Aku pakai lotion dulu.”


Dinda memang menggunakan baju tidur jenis daster. Itulah kenapa tubuh itu menggoda suaminya hingga membuat Steve tak sabaran ingin membelainya.


Alamak. Dulu sebelum nikah biasa saja. Tapi sekarang kentara banget aura cantiknya. Sumpah, kakinya mulus banget. Mirip tahu.


Pantas saja dua cecunguk itu cinta mati pada istri ku. Alasannya ini toh.


Steve memandangi tubuh istrinya yang sedang bolak balik di depannya. Tubuh Dinda itu isinya pas. Porsinya tidak lebih dan tidak juga kurang. Ibarat takarannya sudah sempurna, Dinda wanita yang memikat.


Ukuran dadanya juga lumayan. Tidak besar dan tidak juga kecil. Tapi tonjolan puding itu isinya padat. Kulitnya kenyal, wajahnya juga mulus.


Nggak kebayang kalau aku menggigitnya. Pasti rasanya seperti nutri jell lima ratusan. Asik buat nyemil tiap malam. Hihi.


Ah. Kenapa istri ku sangat menggoda. Aku makin tidak sabaran ingin memainkan puding kenyal itu.


Sepertinya, pikiran kotor itu sudah merusak imajinasi Steve. Dinda ini, dia memang wanita idaman. Bahkan melihatnya saja, Steve sudah merasa tegang.


“Kalau kita pindah ke Shanghai. Terus rumah ini bagaimana?”


Dinda sudah selesai memakai lotion di badannya. Dia lalu duduk di sebelah Steve, menyandarkan punggungnya juga di kepala ranjang. Steve memeluknya, bahu Dinda di rangkul hingga tubuh mereka menempel serapat mungkin.


Ah. Harumnya aroma tubuh Dinda, membuat Steve mendengus tergoda. Apapun yang di miliki Dinda, pria ini makin menggila dan terobsesi.


“Mengenai hal itu, jalan terbaik adalah..... Di biarkan kosong.”


Dinda meliriknya. “Terus kita kembali lagi kesini kapan?”


“Di pikirin nanti.”


What the Fucek. Segitu entengnya dia berkata. “Terserah kamu saja deh. Aku mah manut saja”


Dinda tidak marah. Sudah cukup tadi dia marah. Sebenarnya, membahas kepindahan mereka ke Shanghai sudah di katakan tadi siang. Tapi rasanya Dinda ingin membahasnya lagi. Dia tidak berani meninggalkan Jakarta. Sungguh.


Jika bisa menolak, Dinda hanya mau tetap di sini. Tapi kuasanya tak ada. Saat ini, kepatuhan pada suami adalah hal utama yang harus dia lakukan sekarang. Atau dia akan menjadi istri durhaka.


Steve pernah berkata pada Dinda, kalau istri durhaka nanti di marah tuhan. Lelucon konyol, tapi ada benarnya juga.


Steve telanjang dada. Niatnya tadi ingin memperdayai Dinda. Tangan Dinda sejak tadi diam, tapi Steve terus berulah. Kadang menciumnya, membelainya, menggigit gemas, sesekali dia juga menjilat jari-jari istrinya.


Karena tadi Steve sedang bekerja melalui laptopnya. Kini benda pipih melipat itu, dia tinggalkan di atas buppet meja. Dekat lampu tidur di sebelahnya. Fokusnya buyar seiring menggodanya lekuk tubuh sang istri di matanya.


Dan yang paling absurd adalah, Steve memainkan trik kotornya itu. Dia menempatkan tangan Dinda di perut yang menjadi andalannya menggoda istrinya itu. Sedangkan kakinya yang berbulu ikut memulai aksinya, apalagi Steve hanya menggunakan celana pendek. Dia letakkan di kaki mulus Dinda.


“Kamu sedang merayu?” Lirih Dinda terperangah.


Steve tersenyum. “Tadi pagi nanggung, dan aku merasa kecewa tidak menyelesaikannya. Pingin di lanjutin.” Namun tak berhenti tangannya itu menuntun tangan Dinda agar mengelus-elus perutnya yang keras.


Ya, kotak-kotak berbentuk roti itu selalu menggoda kaum hawa. Sampai meleleh rasanya kalau melihat perut keras itu, apalagi menyentuhnya. Doble kill.


Aku sebenarnya tidak berani melakukan ini. Aku belum siap. Aku takut kalau apa yang di ucapkan kak Stevie ini benar.


Oh. Harus bagaimana aku sekarang. Apakah harus aku menuruti permintaan suami ku ini. Ataukah aku harus mencari alasan lain agar suami ku tidak meminta bagiannya.


Ah. Aku harus bagaimana sekarang. Aku bingung. Haruskah aku tolak permintaannya. Tapi apa alasan aku menolaknya. Apakah dengan datang bulan. Oh, tidak. Itu terlalu kuno dan alasan sampah.


Dinda butuh waktu untuk berpikir. Kira-kira dua detik untuk Dinda agar bisa berpikir jernih mengenai malam surga dunia ini. Namun tetap saja. Pikiran Dinda hanya tertuju pada satu kata. Ya.


Jalan satu-satunya adalah....


“Steve,—”


“Hemph.......”


Belum sempat Steve menjawabnya panjang, Dinda sudah bersikap agresif. Dia ******* habis bibir Steve, hingga suaminya ini tidak sempat mengambil nafas tadi.


“Hemph.....”


Dinda tidak memberikan Steve waktu untuk bernafas. Ruang gerak Steve di batasi oleh Dinda. Dia posesif, sampai-sampai suaminya kelagapan saat Dinda menghisap habis bibirnya.


“Kamu kacau!” gerutu Steve. Setelah Dinda mengakhiri ciuman agresifnya itu, Steve barulah bisa menarik nafas dalam. Lega rasanya.


“Kamu yang mengajarkan aku seperti ini.”

__ADS_1


Steve menyungging bibirnya. Tak lama kemudian, Dinda yang duduk di pahanya, dia putar. Kali ini Steve yang membawahi Dinda.


“Kalau begitu. Biarkan aku yang bertindak.”


Dinda sebenarnya belum siap. Apalagi dia ingat pada kata-kata Stevie. Malam pertama adalah hal yang di benci oleh wanita. Katanya rasa sakit dan nyeri itu lebih brutal dari pada melahirkan.


Tapi dia suaminya. Bagaimana Dinda bisa menolaknya.


Steve merobek kasar baju Dinda. Hingga robekan itu hanya menyisakan pakaian dalam bra dan CD-nya saja.


Masih seperti tadi pagi. Dinda masih menggunakan pakaian dalam berwarna merah cerah, di padukan dengan renda-renda di pinggir jahitan.


Dan itu menambah gairah Steve ingin mendapatkan sesuatu yang lebih dalam lagi di sana. Pandangan Steve selalu tertuju pada bagian yang indah itu.


Jujur, sejak pertama kali melihat Dinda di kantornya. Steve sudah sejak dulu menahan diri untuk menyentuh bagian menonjol indah nan menawan ini.


Steve selalu ingin menyentuhnya. Tapi tidak ada kesempatan. Pikiran Steve teringat pada kejadian di mana Dinda pingsan saat di labrak oleh Nyonya Diana.


Sebenarnya saat itu Steve yang menggantikan pakaian Dinda. Bukan karyawan wanita seperti yang dia katakan. Hanya saja Steve tidak mau mengakuinya. Jauh lebih aneh kalau mulutnya itu berkata jujur.


Itulah kenapa Steve sudah menantikan dada Dinda ini. Karena ingatan di waktu itu yang membuat Steve terus terbayang.


Putih, bersih, segar, kenyal dan masih banyak lagi imajinasi Steve yang ingin di sampaikan pada bagian indah ini.


“Sayang. Boleh ya.”


Memang benar Dinda saat ini istrinya. Tapi untuk bagian milik Dinda, Steve tidak berani bertindak tanpa meminta. Takut kalau tidak izin dulu jika ingin mencicipinya, Dinda akan marah pada Steve.


Dinda mengangguk. “Asal tidak merusak,” katanya pasrah.


Ah. Itu semakin menambah Steve terus bersemangat. Bagian itu sudah tegang. Karena yang empunya barang mengizinkan, maka kacamata merah itu di gigit Steve gemas.


“Maaf kalau menyusahkan kamu nanti.”


Saat Steve ingin berhenti dari puding Dinda. Tapi istrinya malah meminta lebih. Dia tidak mau Steve pergi dari situ. Dan Steve makin semangat saat istrinya menggeliat tak bisa diam.


Jujur, Dinda tidak bisa menolak pesona suaminya ini. Steve makin tak bisa menahan diri dari malam mereka ini.


"Kamu yakin malam ini sudah siap?” tanya Steve lagi. Dan Dinda mengangguk cepat.


“Kamu suami ku saat ini. Kenapa aku harus menolak. Ini sudah menjadi kewajiban ku.”


Satu hal yang Steve suka. Istri penurut. Dan Dinda menurut malam ini. Itu makin membuat Steve memiliki banyak kesempatan.


“Maafkan aku sayang jika harus mengacaukan tidur mu malam ini.”


Steve mencium dahulu bibir Dinda. Tangan lainnya menjamah dada Dinda. Semakin kesini, bibir Steve semakin turun ke bawah.


Hingga malam itu berakhir indah. Steve dan Dinda akhirnya mendapatkan waktu yang berharga.


Semalam Steve meyakinkan Dinda kalau ucapan Stevie hanya lelucon yang mencoba menakut-nakuti istrinya ini.


Untunglah, walau masih pemain pemula tidak berpengalaman. Steve akhirnya berhasil membuat Dinda tahu kalau sebenarnya tidak sesakit itu aktifitas aneh dan absurd ini.


Semalam tubuh Dinda terus tegang dan takut, dan rasanya Steve makin menikmati istri penurutnya itu. Steve tidak memperdulikan istrinya yang berekspresi ketakutan menahan rasa sakit, Steve tetap melakukan ide konyolnya.


“Selamat pagi sayang.”


Senyum bahagia itu menghiasi mata Dinda. Bangun tidur di sambut oleh tawa ceria dari sang suami. Dinda membalasnya dengan senyuman. Suaminya terlihat senang di pagi hari seperti ini.


“Kamu sudah bangun duluan?” tanya Dinda.


Steve mengangguk. “Sudah sejak jam empat tadi.”


Dinda terperanjat. Dia memaksa diri untuk bangun. “Hah. Jam empat. Yakin jam segitu? Serius?” ujar Dinda sambil membesarkan bola matanya.


Steve mengangguk lagi, lalu bibirnya tersenyum. “Kenapa kaget begitu?”


“Aku kalah start sama kamu.” Ah, malu rasanya kalau harus kalah dari suami. Masa jam empat sudah bangun, istri masih molor.


Dinda yang bangun, tidak sadar kalau sebenarnya dia sudah telanjang bulat. Hanya ada selimut, itupun masih membuat Dinda tidak sadar kalau dadanya terbuka di hadapan Steve.


“Kenapa kamu tertawa?” tanya Dinda pada Steve yang cekikikan terkekeh.


Steve tertawa, dia tidak mengatakan langsung kalau dia melihat Dinda masih berbadan polos. Dinda menyadari saat dia melirik ke bawah.


“Suami ku sendiri yang melihat. Kenapa harus malu.”


Peduli amat sama orang lain. Kan di rumah ini hanya ada mereka berdua. Dinda tidak terlalu cemas lagi saat ini. Walau ini kali pertama bagi Dinda memperlihatkan sisi lain tubuhnya pada orang lain selain dirinya.


“Istri ku sudah mulai nakal.”


Steve mengacak rambut Dinda. Sebenarnya Steve juga masih polos. Dia belum menggunakan sehelai benang pun di badannya. Dan Dinda juga sudah melihat bentuk tubuh suaminya sendiri.


“Kalau di ingat-ingat. Aku sebenarnya malu kalau harus menunjukan seluruh tubuh ku pada orang lain.” Curhat Dinda pada Steve.


Suaminya tersenyum. “Aku kan suami mu. Kenapa harus malu mengenai tubuh indah kamu. Lagi pula, kita sudah melakukannya semalam. Jadi apa yang perlu kamu malukan lagi.”


“Aku malu saja. Belum terbiasa.”

__ADS_1


Steve tersenyum, dia tahu itu. Itulah kenapa dia sangat menyukai Dinda. Dia wanita yang berbeda dari wanita lainnya yang pernah dia temui.


Aktifitas tegang menegang semalam, sebenarnya membuat Steve sangat senang. Ada hal tak terduga yang dia rasakan.


Ya. Setidaknya bagian penting ini selalu membuat Steve tidak bisa berhenti menahan tawa. Tidak tahu lucu atau apa, rasanya Steve benar-benar ingin terus tersenyum setiap kali mengingatkannya.


“Sayang,” ucap Steve.


“Ada apa.”


“Terima kasih semalam.”


Dinda membulatkan matanya. Kornea cokelat Dinda memperhatikan wajah suaminya yang terlihat bahagia ini.


“Terima kasih untuk apa?” tanya Dinda tak paham.


“Terima kasih sudah menjaga tubuh mu untuk ku.”


Dinda mengernyitkan dahinya. Dia tidak paham pada maksud suaminya ini. “Maksudnya?” tanya Dinda benar-benar tidak mengerti.


“Kamu masih wanita yang terhormat dari sebelumnya,” bisik Steve pelan.


“Hah." Dinda membelalak. "Kamu tahu dari mana?”


“Sederhana.”


Rasanya beda dari apa yang Steve bayangkan. Tapi itulah kenyataannya. Dinda memang benar-benar wanita terhormat. Steve tidak menduga kalau dia akan menjadi pria yang paling beruntung saat mengetahui hal ini.


“Ayo katakan. Aku ingin tahu. Seperti apa kehormatan itu.”


Dinda merengek. Dan itu membuat Steve terkekeh. Karena Steve tidak akan mengakui dimana dia menemukan kehormatan Dinda, Steve hanya membalasnya dengan sebuah gendongan.


“Aku mau mandi bersama istri ku. Kita buat sesi kedua pagi ini.”


“Tapi kamu belum menjawab aku.”


Steve terus tersenyum. Dia tidak mau mengakui apapun. Kecuali memberitahu Dinda kalau istrinya itu wanita terhormat. Pokoknya dia terhormat. Titik.


“Nanti aku jelaskan. Kita mandi dulu.”


****


Bertatapan dan saling mengerti suami sendiri membuat Dinda tidak lagi canggung. Walau sebenarnya kemarin malam sempat terjadi. Tapi syukurlah, dia bisa mengatasinya.


Bagian dari tubuh pria, Dinda mengakuinnya—kalau Dinda mengintip hanya sebatas dada. Tidak lebih. Kalau bagian dalam seorang pria, Dinda tidak berani menelisik lebih dalam lagi. Itu belum pernah Dinda lihat.


Tapi saat melihat bagian dalam milik suaminya sendiri, Dinda barulah paham. Ternyata begitu rupa dan bentuk aurat suaminya. Agak canggung saat Dinda melihatnya, tapi mau bagaimana lagi. Sudah kodratnya tercipta seperti itu.


Dinda sudah berpakaian rapi, dia menuruni anak tangga menemui suaminya yang sudah menunggunya dari tadi.


“Kamu kenapa jalannya begitu. Kok terseok-seok.” Steve cukup memperhatikan. Jalan Dinda sudah berbeda dari sebelumnya. “Kamu sakit?”


Dinda menggeleng. "Nggak tahu. Tapi perut ku rasanya nyeri."


“Apa. Nyeri?” Seketika Steve terkejut sejadi-jadinya. “Apakah itu maksudnya kamu ham.....”


“Nggak!” tandas Dinda cepat. “Baru semalam itu terjadi, nggak ada hubungannya. Masa langsung jadi.”


“Siapa tahu benar-benar istri ku hamil. Kan bisa jadi.”


“Kamu pikir aku wanita malam yang mengisi sebelum waktunya.”


Dinda memikirkan ide. Sebenarnya kenapa itu bisa terjadi. Rasa penasaran akan rasa nyeri ini, membawa Dinda mencari penyebab semua ini di balik benda pipihnya itu.


Saat menggulirkan setiap layar dari artikel. Sudah Dinda duga. Artikel mengatakan hal yang sama.


“Benda tumpul itu penyebabnya.”


"Kenapa dengan benda tumpul?" tanya Steve menyahut. Isterinya terpaku, setelah melihat layar handphonenya. Steve menopang dagunya di pundak Dinda, dia ingin melihat juga apa yang di lihat oleh Dinda.


“Bukan apa-apa,” balas Dinda menggeleng.


“Ke rumah sakit dulu deh. Aku takut kamu kenapa-kenapa.”


“Tapi aku nggak sakit,” bantah Dinda cepat.


“Walaupun. Aku nggak mau kalau anak ku kenapa-kenapa.”


****. Sudah di bilang baru semalam terjadi. Masa langsung di bilang mau punya anak. Dinda tidak tahu bagaimana caranya memberi tahu suaminya ini.


“Kita kerumah Ibu saja. Aku mau bertemu Ibu dulu.”


Imajinasi Steve seharusnya di akhiri. Atau dia tidak akan bisa berhenti sampai mendapatkan jawaban yang benar-benar memuaskan. Masa belum apa-apa sudah mikir punya anak. Dasar suami tidak sabaran.


“Yakin nggak mau chek dulu ke rumah sakit?” tanya Steve lagi.


“Nggak. Ke rumah Ibu saja.”


"Oke. Menurut kata istri."

__ADS_1


BERSAMBUNG


“LAGI MALAS UP SEBENARNYA, CUMA NGGAK TAHU KENAPA MAU UP SAJA HARI INI. JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKENYA YAH, SEMOGA KALIAN TETAP SUKA PADA NOVEL INI. TERIMA KASIH.”


__ADS_2