
SEBUAH PENOLAKAN
Kalau di ingat-ingat, sebenarnya Ibu Yuri sangat marah. Apalagi Miko dan dua anaknya membohongi Ibu Yuri mengenai kerja part time Miko.
Nasi sudah menjadi bubur, mungkin begitulah yang di hadapi Ibu Yuri. Ada perjanjian kontrak antara Miko dengan perusahaan Steve, Ibu Yuri tidak bisa memutuskan kontrak secara sepihak. Walau sebal, Ibu Yuri tetap berlapang dada.
"Miko berangkat ya, Bu," ucap Miko. Ibu Yuri sedang memasak di dapur, Miko mengambil tangan Ibu Yuri lalu menciumnya. Dia menyambangi sang Ibu yang tengah sibuk. "Miko nanti ada jadwal ekstrakurikuler, pulang agak sore, Bu."
"Asal nggak pulang malam saja," kata Ibu Yuri. "Ibu nggak masalah."
"Nggak kok Bu," jawab Miko. Habis ekstrakurikuler, Miko langsung pulang." Dia pergi, yah karena Miko di anggap sebagai pengganti sang ayah, makanya dia harus bertanggungjawab. Lagi pula Miko juga tidak enak hati membohongi Ibunya. Meskipun kebenarannya sudah terungkap, seberapa lama pun dia menyembunyikannya, sang Ibu juga akan tahu.
"Kak Miko mau kemana Bu?" tanya Niko. Dia hendak mengambil minuman di kulkas, berpapasan dengan saudaranya itu di pintu dapur. "Rapi, tumben."
"Katanya ada kelas dadakan. Besok kak Miko mau lomba basket, mumpung hari ini nggak ikut pemotretan, Kakak mu memanfaatkan waktu yang luang."
Niko ber-oh saja. Menganggukkan kepalanya, lalu meminum kembali air putih yang dia teguk.
"Pagi Bu," sapa Dinda. Wajahnya terlihat kucel di pagi hari ini. Dia hendak menuju bilik kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur.
"Ehm," Ibu Yuri tak begitu memperhatikan putrinya. Dia hanya sibuk pada pekerjaannya.
"Bu, sabun muka Dinda dimana ya?" dari kamar mandi Dinda berteriak lantang.
"Coba lihat di atas sower. Biasanya di situ," balas Bu Yuri. "Kebiasaan. Sabun muka sendiri kok lupa," di ujung kalimatnya Ibu Yuri mengomel pelan.
Suara bel listrik di depan berbunyi. Ibu Yuri yang sedang sibuk memasak meminta Niko yang membukanya. "Buka pintu di depan. Tengok siapa yang datang," kata Ibu Yuri.
"Malas Bu, ah. Palingan juga tukang roti," ucap Niko. Dia memang duduk santai di meja dapur. Memakan semangkuk sereal. Jika sudah malas bergerak, semua terasa sangat berat untuk di kerjakan, termasuk membuka pintu di depan.
"Ck," Ibu Yuri menggeleng. Anaknya begitu malas kalau di suruh. Terpaksa bagi Ibu Yuri harus bertindak. Dinda pun masih di kamar mandi, manalah mungkin Dinda yang akan membukanya.
Kenapa mereka akhir-akhir ini sangat malas bergerak. Padahal hanya membuka pintu. Ibu Yuri mengomel sepanjang jalan menuju pintu yang berbunyi ini.
"Nak Steve?" di depan pintu Ibu Yuri agak kaget. Sepagi ini dia sudah bertamu di rumahnya. "Ada apa datang kemari?"
Steve tersenyum ramah pada Ibu Yuri, dia membawa sebuket bunga merah besar. "Aku ingin bertemu Ibu hari ini," jawab Steve. "Jika Ibu senggang."
"Untuk apa?"
"Aku ingin menyampaikan sesuatu kepada Ibu."
Ibu Yuri mengerutkan alisnya. Pikirnya ada apa sampai sebegitunya Steve terlihat serius ingin bicara padanya. "Kalau begitu masuk dulu. Kita bicara di dalam."
Steve mengekori Ibu Yuri yang menuntunnya masuk ke rumahnya yang minimalis. Steve duduk di sofa, di temani Ibu Yuri. "Niko. Bilang pada kak Dinda buatkan teh hangat," teriak Ibu Yuri.
Entah mendengar perintah sang Ibu atau tidak, Niko tak menjawab. Tapi saat Dinda keluar dari kamar mandi, walau samar-samar Niko mendengar ucapan Ibunya. Tetap Niko menyampaikan pada Dinda kata sang Ibu.
"Di depan ada Kak Steve. Kata Ibu buatkan teh hangat," Niko melanjutkan kata-kata sang Ibu tadi.
"Kapan dia tiba?" tanya Dinda.
"Baru saja."
Dinda memanyunkan bibirnya, lalu membuatkan teh hangat untuk Steve. Niko hanya memperhatikan saja, dia tidak melakukan apapun.
Di ruang tamu, Steve mulai berkata pada Ibu Yuri. Serius, wajahnya amat tegang saat duduk berdua dengan Ibu Yuri. "Saya datang ke sini pagi-pagi seperti ini karena ingin menyampaikan sesuatu hal pada Ibu." Walau Steve gugup, namun dia memberanikan diri untuk berkata.
Ibu Yuri menatap wajah tegang Steve. "Ingin menyampaikan tentang apa?" tanyanya penasaran.
Kaki Steve gemetaran. Dia bingung harus mulai dari mana. Saat dia buntu berkata, Dinda datang dari dapur membawakan segelas teh untuknya. Melihat Dinda, mendadak ide untuk menyampaikan ucapannya mengalir begitu saja.
"Saya datang ke sini sebenarnya ingin melamar Dinda Bu." Tanpa pikir panjang, mumpung masih segar kata-kata ini, Steve mengucapkannya lantang. Menatap wajah Dinda seakan semua keberaniannya terkumpul. "Jika Ibu tidak keberatan. Saya ingin melamar Dinda menjadi istri saya."
Ibu Yuri sejak lama sudah menyukai Steve. Walau Steve sudah membuktikan dia pria yang terbaik, tapi Ibu Yuri ingin berulah. Apalagi melihat wajah Steve yang sudah pucat, Ibu Yuri pernah berada di posisi Steve.
"Bagaimana ya. Ibu masih belum rela melepaskan Dinda, apalagi dia putri Ibu satu-satunya. Apa Nak Steve cari saja wanita yang lain, Dinda ini masih belum rela Ibu lepaskan." Ibu Dinda ini tidak serius dalam berkata. Di lubuk hati kecilnya dia ingin terkekeh, tapi dia menahannya.
Dinda yang duduk di sebelah Ibu Yuri, menatapnya dengan tatapan heran. Apa yang Ibu katakan? Kenapa dia berkata seperti itu.
Siapa yang tidak akan bingung. Jika sebelumnya Ibu Yuri merestui hubungannya dengan Steve, kenapa tiba-tiba hari ini di berubah.
__ADS_1
Steve yang mendengar penolakan dari Ibu Yuri atas lamarannya agak kecewa. Tapi Steve tidak menyerah, dia memulai aksinya.
"Saya tidak ingin mencari wanita lain, Bu. Saya hanya mencintai Dinda, dan saya berjanji akan menjadi suami yang baik untuk Dinda. Asal Ibu merestui hubungan kami."
"Ehm," Ibu Yuri pura-pura batuk kecil, dia mendeham menahan kekeh. "Apa Nak Steve yakin ingin menjadi suami yang baik. Nak Steve terlihat seperti bukan pria yang mudah sabar menghadapi istri. Ibu kurang yakin pada jiwa Nak Steve."
"Ibu tidak perlu khawatir," sambar Steve. "Selama Dinda menjadi istri ku, aku berjanji pada Ibu. Bahwa aku akan setia, tidak melirik wanita manapun bahkan akan menjadi suami yang bertanggung jawab. Aku akan melakukannya demi Ibu, aku berjanji tidak akan menyakiti putri Ibu."
Mulut manis Steve memang benar-benar lihai dalam meyakinkan orang lain bahwa dia yang terbaik. Ibu Yuri tidak meragukannya, hanya saja dia ingin berulah lebih jauh lagi. Seakan inilah ujian terakhirnya untuk Steve.
Ibu Yuri menyeka rambut Dinda, menyepi-nya di daun telinga. Ibu Yuri melihat wajah putrinya yang juga ikut tegang itu. "Anak gadis Ibu akan di ambil orang. Ibu harus bagaimana agar tidak kehilangan putri Ibu yang mahal ini."
Jika Ibu berkenan, aku siap menggantikan putri Ibu dengan seorang anak. Akan lebih baik begitu saat Ibu mendapatkan cucu, dari ku. Diam-diam Steve mulai berimajinasi pada pemikirannya yang nakal.
Hanya menunggu persetujuan Ibu Yuri, setelah itu Steve akan merasa lega.
Ayo, cepat katakan bahwa anda merestui ku. Aku sudah lelah dengan permainan tarik ulur ini. Tubuh yang tegang dan bergetar Steve memang tidak bisa di sembunyikan begitu saja. Nampak jelas siapa pun yang melihat.
Ibu Yuri mengembuskan napas panjang. Dia berakting pura-pura lemas tak berdaya. "Jika keputusan kamu untuk melamar putri Ibu tidak bisa di urungkan. Ibu bisa berbuat apa? Toh yang akan kamu nikahi juga bukan Ibu, tapi Dinda. Minta saja dia yang merestui, Ibu hanya walinya saja."
"Maksud Ibu?" Sambar Steve cepat.
Kata-kata yang di ucap Ibu Yuri ini bagai teka-teki, tapi Steve menyukainya. "Apakah Ibu menerima lamaran ku ini?"
"Yang akan menjadi pendamping mu bukan Ibu, tapi Dinda. Bertanyalah padanya, apakah Dinda mau menikah dengan kamu atau tidak," jawab Ibu Yuri. Dalam arti lain, Steve mendapatkan lampu hijau dari Ibu Dinda.
"Maksud Ibu?" Steve asal menebak. "Ibu menerima lamaran ini?" tanyanya memastikan.
Ibu Yuri menggeleng. "Sebelum Ibu berubah pikiran."
Mendengar kata persetujuan dari Ibu Yuri, Steve merasa begitu semangat.
Steve kegirangan mendapatkan restu dari sang Ibu. Sangking bahagianya, Steve hampir kelepasan. Dia hampir meloncat-loncat kegirangan menikmati imajinasinya.
"Jika boleh Ibu izinkan, saya ingin membawa Dinda keluar sebentar."
"Bawa saja," tanpa ragu-ragu Ibu Yuri mengizinkan. "Asal pulang jangan terlalu malam."
Steve membawa Dinda jauh mengikuti suasana hati yang sedang bahagia. Selama di dalam mobil, Steve tidak berkata-kata pada Dinda. Tapi dia hanya senyum-senyum sendiri.
"Kita mau kemana?" tanya Dinda.
Steve menoleh ke arahnya sekilas. "Ke butik," jawabnya singkat.
"Buat?"
"Aku ingin merancang baju pengantin kita di sana."
"Hei," Dinda tertegun. Secepat itu Steve ingin melakukannya. Walau dia tidak mengatakan melamar, tapi beberapa kali Steve mengucapkan lamarannya hingga berkali-kali. "Kamu yakin kalau hari ini harus pitting. Lagi pula aku belum bilang kalau kita akan menikah!"
Mendadak Steve menghentikan mobilnya di bahu jalan, apalagi Dinda berkata begitu. Di tatapinya wajah Dinda dalam-dalam. Kemudian tidak tahu kenapa tangan Steve dengan sendirinya menarik caruk leher Dinda.
Steve melumat habis bibir Dinda. Dinda termangu, dia menahan nafas selama Steve menciumnya. Dadanya sangat berdebar, Steve melakukannya sangat bergairah.
"Apa ini belum cukup membuat mu menjadi wanita ku?" Kata Steve seraya mengakhiri ciumannya.
"A... Aku..."
"Jangan di pikirkan," sambar Steve. Dia tahu Dinda pasti gugup. "Menikahlah dengan ku. Aku hanya ingin kamu menjadi satu-satunya wanita di dalam hidup ku, tidak ada yang lain."
"Apa ini sebuah lamaran?"
Steve mengangguk. "Maaf jika tidak romantis."
Dinda terkekeh-kekeh, menahan gelak tawa. "Sudah berkali-kali kamu melamar ku di tempat yang tidak biasa seperti ini. Bagaimana jika mobil ini di jual, akan hilang kenangan kita di sini."
Steve tidak berkata, tapi dia memandangi wajah Dinda. Steve ingin melakukannya lagi, mencium Dinda. Dia memajukan kepalanya semakin mendekati Dinda, gadis ini memundurkan kepalanya.
Tapi, Steve makin maju. Dinda sudah terpojok pada situasi ini. Dan Dinda menyerah, Steve mencium bibirnya lagi. Dinda hanya bisa menahan nafasnya lagi, dia takut jika bernafas akan membuat ciuman Steve tidak seromantis tadi.
Pelan-pelan Dinda menutup matanya, menikmati ciuman lembut Steve. Kemudian Dinda teringat pada kejadian saat Steve menciumnya paksa di malam itu. Persis seperti yang di lakukan Steve sekarang.
__ADS_1
Mengingat kejadian itu, refleksi Dinda sangat kuat. Dia mendorong Steve hingga mengakhiri ciumannya.
"Maaf," ucap Dinda merasa bersalah. "A-aku. Terpikirkan oleh hal lain."
Steve tidak marah, justru dia tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf karena mencium kamu tanpa izin. Lain kali aku akan meminta izin dahulu agar kamu tidak kaget."
"Kamu nggak kecewa-kan?" Dinda agak mencemaskan Steve. Biasanya dia marah kalau mengakhiri ciuman seperti ini. "Maaf jika aku membuat kamu kecewa."
Steve membelai rambut Dinda lembut. Menatap sepasang bola mata yang berbinar itu. "Aku nggak kecewa," jawabnya. "Justru aku tersadar kalau kita belum sah menjadi suami istri. Jika kamu tidak melakukannya, mungkin aku akan lebih luas lagi melakukannya."
Mendengar kata-kata Steve ini, Dinda terenyuh. Dia tidak ingin Steve kecewa karenanya. Dinda kali ini berinisiatif, dia menarik caruk leher Steve, lalu mencium bibir Steve membalas ciumannya tadi.
Dinda memang tidak ahli dalam bercumbu, Steve yang mengajarkannya begitu. Karena tidak pernah ada yang namanya ciuman melalui mulut seperti ini di Indonesia. Hanya mencium pipi, itu yang biasa Dinda ketahui. Entah budaya dari mana mencium bibir, tapi yang jelas Steve seperti yang sudah ahli dalam hal berciuman.
Seringnya Steve menciumnya seperti ini, pada akhirnya Dinda perlahan-lahan sudah Pasih mencumbu Steve.
Steve tidak menolaknya, dia sangat senang mendapatkan ciuman seperti ini.
Dinda mengakhiri ciumannya sesaat seseorang mengetuk kaca mobil Steve. Di samping Steve, berdiri seorang polisi. Karena takut ketahuan, Dinda secepatnya mendorong tubuh Steve.
"Ck!" Steve agak sebal di ganggu. "Polisi ini. Mengganggu saja!" gerutunya sewot.
"Kita berhenti di bahu jalan. Kamu lihat, kita ada di rambu-rambu dilarang berhenti," Dinda memberitahu.
"Tapi dia mengganggu," bantah Steve.
Dinda mengelus bahu Steve. "Karena itu kewajibannya. Buka saja pintu mobilnya, biarkan dia melakukan tugasnya," ucap Dinda pada Steve.
Kaca yang di ketuk-ketuk polisi ini membuat Steve berang. Dia membuka kaca mobilnya-walau terpaksa.
"Anda tahu sudah melakukan sebuah kesalahan apa?" tanpa basa basi polisi ini langsung berkata pada intinya.
Steve menatapnya sinis, lalu memberikan polisi ini kartu namanya berwarna hitam. "Anda bisa menghubungi pihak kantor ku. Aku sedang sibuk, tidak bisa berlama-lama di sini," katanya angkuh.
Melihat kartu nama Steve, polisi itu menurut saja. Dia tidak menuntut Steve, membiarkan pria itu melanjutkan perjalanannya. Saat mobil Steve sudah menjauh, barulah polisi ini menggelengkan kepalanya.
"Ada di zaman sekarang pria angkuh seperti dia," ujarnya keheranan. Tapi polisi ini tak ambil pusing, dia juga berlalu melanjutkan tugasnya.
Sesampainya di butik-mahal. Ada beberapa manekin yang memajang beberapa gaun pengantin yang cantik. Dinda senang melihat gaun-gaun yang terpampang di etalase butik ini.
Dinda menyentuh kelembutannya, terkadang dia mencium aromanya yang masih enak untuk di hirup.
"Maaf kak, mau cari baju pengantin yang seperti apa?" salah seorang karyawan butik menyela.
"Aku ingin pitting baju pengantin," jawab Steve.
"Oh. Kalau begitu, mari ikut kami Kak."
Steve dan Dinda ikut masuk ke ruangan tempat menjahit pakaian. Di sana mereka langsung di ukur. Dinda memilih gaun berwarna putih, sementara Steve menggunakan tuksedo hitam. Bukan mereka yang memilih, tapi rekomendasi perancang busana.
BERSAMBUNG
***Dulu, ketika aku ingin mendapatkan perhatiannya. Aku melakukan hal-hal gila agar dia melihat ku sebagai seorang pria. Sekalipun dengan kekerasan, bahkan dengan melakukan perjanjian konyol tidak masuk akal itu. Semua itu ingin aku buktikan bahwa aku hanya ingin perhatiannya saja.
Dulu, aku pikir cinta ku tak di balas oleh wanita yang selama ini diam-diam sudah membuat ku terobsesi. Jalan cinta yang berlika-liku, tarik ulur, pertengkaran dan pertikaian semuanya sudah kami lalui.
Tidak menyangka, ternyata hari ini semua pengorbananku akhirnya terbayar dengan kebahagian yang tiada bandingannya.
Bahkan saat melihatnya tersenyum aku merasa separuh nafas ku ikut bertasbih. Aku menatap tubuh rampingnya yang tengah mengenakan gaun pengantin berwarna putih itu. Dia sangat cantik, baru kali ini aku mengakuinya.
Semua rasa senang ku saat ini tidak bisa aku ungkapkan. Aku berhasil mendapatkan hatinya, bahkan kini akan menikahnya. Mengikatnya dengan cincin di jari manisnya, mencium harumnya rambut yang panjang.
Aku ingin melakukan segalanya bersama wanita yang paling aku cintai. Tuhan, I just wanna say Thank you so much. Terima kasih sudah mempertemukan aku dengan wanita yang selama ini aku cari.
Aku percaya pada perubahan. Dulu aku yang emosional, kini perlahan berubah menjadi penyabar. Semua aku lakukan agar wanita ku bahagia. Di sampingnya, aku merasa seperti sedang melihat matahari tenggelam di sisi sungai themes.
Seandainya semua yang ada di dunia ini bisa di tukar, tak akan ada satupun yang sebanding dengan wanita ku.
Aku, Steve, adalah pria paling beruntung. Tidak ada pria yang beruntung seperti diri ku bisa menikahi wanita setangguh dan sesabar Dinda. Dari namanya saja kalian pasti tahu, bahwa dia wanita yang sempurna.
Sosoknya yang bisa memikat siapapun, membuat aku tidak rela membiarkannya di lirik oleh pria manapun. Bahkan kedua pria itu, aku tidak Sudi menyebut namanya***.
__ADS_1