
Suara musik klasik khas acara-acara yang dilangsungkan seperti acara kebudayaan menggema di seisi hotel di pinggir sungai Huangpu river cruize ini.
Hotel besar yang berada tepat di sisi sungai Huangpu, tempat penginapan para turis dari luar yang sedang menikmati liburan di Shanghai.
Di hotel yang menggelar tiga acara sekaligus ini, merupakan pertama kalinya bagi Steve menghadiri acara keluarganya ini.
Biasanya Steve absen dalam acara seperti ini karena orang tuanya memaksa akan memperkenalkan dirinya ke publik.
Steve ingat, ketika dia sedang magang di perusahaan besar di kota new York, ayah dan ibunya sengaja menyewa beberapa kendaraan pribadi demi menjemput Steve. Hanya demi menghadiri acara penting seperti ini.
Kehidupan orang-orang kaya memang tidak jauh-jauh dari media. Steve bukan tipe pria yang suka mencari perhatian di depan muka umum.
Jelas orang-orang akan asing padanya mengingat Steve sebagai penerus grup wong sangat tertutup pada pemberitaan media.
Bahkan ketika Steve kuliah di Frankfurt, banyak media yang mengadakan sayembara. Bagi yang bisa menemukan atau tahu wajah asli putra grup wong. Bagi siapa saja yang bisa mempublikasikan wajah putra grup Wong, maka akan di iming-iming hadiah sebesar seratus ribu dollar.
Tapi, hari ini. Steve yang dahulu enggan berada di depan media, kini ingin tampil di depan publik dengan membawa Dinda sebagai tunangannya.
Semua orang terpana saat melihat Dinda dan Steve bergandengan tangan menuruni anak tangga yang di lapisi karpet merah cerah.
Sungguh pasangan yang serasi. Para tamu memuji.
Apa itu DD, artis yang tengah naik daun? Beberapa tamu lainnya berspekulasi.
Hampir mirip DD, hanya saja mereka sama-sama cantik, putra tunggal Tuan Wong juga tampan, serasa seperti hadir di acara royal wedding. Bisik tamu-tamu yang suka membuat rumor.
Apa itu putra grup wong yang selama ini tidak pernah tampil di depan publik? Sangat keren dan berwibawa, hampir mirip aktor tampan **. Para tamu tidak bisa melepaskan pandangan melihat kedua pasangan yang tengah bergandeng ini.
Pantas saja tidak pernah terlihat di media, aku kira dia malu karena jelek, ternyata dia tidak mau pamer kalau dia tampan. Putra grup wong memang berbeda, puji yang lain.
Bisik-bisik para tamu undangan melihat Steve seakan menarik perhatian semua orang.
Orang-orang tidak menyangka, bahwa Steve yang tidak pernah muncul di depan publik, kini bisa di lihat dengan jelas.
Beberapa kantor berita lokal memberitakan acara ulang tahun pernikahan Tuan wong dan Nyonya Diah sekaligus ulang tahun perusahaan dan ulang tahun ibu Steve secara bersamaan.
Yang menjadi trending dan pusat perhatian tentunya adalah Steve yang mulai tampil percaya diri di media.
Namun Steve tidak menghiraukan begitu banyaknya sorot kamera yang menerjang matanya. Steve hanya fokus pada acara keluarga.
Di depan media, Steve memegang tangan Dinda. Dia tidak mau melepaskannya walau hanya sebentar.
Di tengah hotel terlihat kue ulang tahun berdiri setinggi seratus enam puluh tiga centimeter. Tinggi kue yang senada dengan tinggi Dinda. Kue yang di lapisi krim segar berwarna susu.
Tidak jauh dari kue besar yang berdiri tegak, Steve melihat sang ayah sedang berbincang serius dengan beberapa rekannya. Steve membawa Dinda menemui sang ayah yang tengah berkata-kata itu.
"Pa," Steve menegur. Steve menghampiri Tuan wong yang tengah bicara dengan rekan sesama pebisnis.
"Oh, Steve," sambut Tuan Wong. Dia memeluk anaknya hangat.
"Ini Steve anak ku," Tuan Wong memperkenalkan Steve pada rekannya.
Steve menjabat tangan pria itu, dia memperkenalkan dirinya pada rekan ayahnya. "Aku Steve," ucapnya. Tak lupa Steve memperkenalkan Dinda. "Dia Dinda, calon menantu keluarga Wong," tukas Steve memberitahu.
"Wah, calon menantu keluarga wong sangat cantik," puji pria itu. Dia tersenyum sumringah. "Aku pikir dia adalah DD, artis yang tengah naik daun itu."
Dinda tersenyum, dia tidak mengerti apa yang pria itu katakan. Karena Dinda berpikir bahwa pria itu menggunjingnya dengan sindiran halus, dengan cepat, Dinda mengambil tangan pria itu lalu menciumnya.
"Apa ini maksudnya?" tanya rekan ayah Steve kebingungan setelah mendapatkan ciuman tangan dari Dinda.
"Itu hanya kultur yang ada di Indonesia. Itu adalah bentuk hormat kepada orang yang lebih tua dan sebagai identitas kebudayaan Indonesia," jawab Tuan wong sekaligus menjelaskan.
Pria itu mengangguk. "Aku pikir seperti sedang apa, ternyata itu salah satu budaya masyarakat di sana," ucap pria itu takjub. "Maaf, aku hampir salah paham!"
Anda terlalu sungkan," tukas Tuan Wong.
Steve menyikut Dinda, lalu membisik. "Jika berada di Shanghai, jangan mencium tangan orang tak di kenal sembarangan. Mereka akan salah paham nanti," Steve memberitahu membisik pelan. "Mulailah beradaptasi secara perlahan."
"Maaf, aku pikir dia sedang mengatakan bahwa aku tidak sopan," jawab Dinda. "Aku merasa tidak enak hati."
Steve merangkul Dinda. "Tidak apa, ini pertama kalinya kamu bertemu dengan orang-orang asing. Aku menyukai keramahan mu," bisik Steve lagi.
"Tuan wong, sebaiknya saya permisi dulu. Sepertinya kalian butuh waktu untuk bicara," pria itu undur diri.
Tuan wong mengangguk, dia mempersilahkan temannya pergi.
"Pa," Steve menyambar dan mulai bicara. "Steve perlu bicara."
"Tentang?"
"Wanita pilihan papa, si Peni!" Steve menyinggung masalah semalam. "Tolong Papa jangan membuat keputusan sepihak!"
Tuan Wong menarik nafas panjang. Dia paham maksud Steve. Dia mengelus bahu Steve, ekspresi wajahnya datar namun tenang. "Siapa saja calon istri mu nanti, Papa akan mendukung. Papa tidak akan memaksa kamu menikahi Peni, itu hanya keinginan ibu mu agar kamu kembali ke Shanghai."
"Maksud Papa? Papa setuju apapun keputusan Steve?" Steve memastikan.
"Siapapun yang kamu pilih, Papa akan merestuinya!" tegas Ayah Steve.
"Papa sungguhan akan setuju Steve memilih wanita manapun," Steve bersemangat. "Papa yakin?" dia mengulangi perkataannya. Steve memastikan sekali lagi persetujuan sang ayah.
"Papa setuju siapa saja calon istri kamu. Yang penting kamu jangan melupakan tanggung jawab sebagai penerus grup wong," tuntut Tuan Wong. "Tapi ingat, ubah perilaku pemarah mu itu, dan harus patuh pada ibu mu, dia sering menangis setiap malam memikirkan kamu."
"Steve janji Pa, Steve akan menuruti kata-kata Papa dan Mama," ucap Steve menuruti kemauan orang tuanya. "Mulai saat ini Steve berjanji, Steve akan berubah."
__ADS_1
Karena kegirangan, Steve langsung memeluk ayahnya. Ini kali pertama bagi sang ayah menerima pelukan dari Steve setelah sekian lama. "Terima kasih pa, terima kasih telah menerima keputusan Steve," Steve terharu.
Tuan wong mengusap punggung Steve. "Ketika usia mu sebelas tahun, itulah terakhir kali papa memeluk mu. Setelah itu, kamu tidak mau memeluk papa mu lagi. Setelah lebih dari berpuluh-puluh tahun, akhirnya kamu mau memeluk papa mu ini," Tuan wong terkenang. "Kamu sekarang sedikit berubah."
"Maafkan Steve, Pa. Maafkan aku yang selalu membangkang perintah Papa."
Tuan Wong melepaskan pelukan Steve. "Kamu sudah bertanggung jawab, Papa bangga pada mu."
"Dinda," Tuan wong memegang tangan kekasih Steve. "Mulai sekarang, tolong bimbing Steve. Jangan cepat mengeluh karena sikapnya yang pemarah. Jadilah wanita yang tulus mencintainya, terlepas dari apapun kekurangan yang dia miliki. Kamu mengerti!" Tuan wong menginginkan hal seperti ini terjadi.
Dinda melirik Steve, dia ingin tahu reaksi Steve. Steve menganggukkan kepalanya, meminta agar Dinda berjanji pada ayahnya. "Aku akan melakukan itu Pak," Dinda berjanji.
"Jangan panggil aku Pak. Panggil saja Papa, aku akan senang jika kamu memanggil ku seperti itu," kata Tuan wong meminta.
"Iya, Pa," jawab Dinda.
"Kalau begitu, sebaiknya kalian berdua temui Mama. Dia akan senang jika kalian tinggal di Shanghai dalam waktu yang lama," ucap tuan wong menyarankan. Lalu dia pergi, meninggalkan keduanya.
Mereka membalas dengan senyum, si pria tua berkaca mata itu terlihat awet muda walau dia sudah beruban.
"Kamu lihat," Steve menyikut Dinda. "Sebentar lagi kamu akan menjadi menantu Tuan tampan, Steve," goda Steve. "Yes, kita mendapatkan lampu hijau dari Papa dan Mama ku!" Steve mengepal tangan, dia sangat asyik saat itu.
"Tapi aku belum bilang iya, kenapa kamu seenaknya saja memonopoli," Dinda menggerutu. "Seharusnya kamu menunggu jawaban ku dulu, baru bersemangat!"
Steve mendesis. "Lupakan," Steve beralih bicara. "Yang penting kita sudah resmi bersama, untuk kedepannya kita pikirkan bersama-sama," Steve bertingkah percaya diri.
Sedangkan Dinda, hanya bisa mengernyitkan dahinya melihat tingkah Steve yang memiliki sisi narsis.
"Mau membuat semua orang terpukau?" Steve menyarankan idenya.
"Buat?"
"Agar orang-orang tahu, kalau calon istri Tuan tampan tidak hanya mahir dalam keuangan, tapi juga mahir dalam seni dan musik," lirih Steve.
"Aku rasa sepertinya itu nggak perlu deh," Dinda menolak halus. "Semua orang pun tidak ada yang mengenali ku."
Steve tersenyum tipis, dia menarik lengan Dinda. "Aku akan memetik piano dan kamu yang bernyanyi untuk semua orang. Jangan pikirkan apakah orang mengenal kamu atau tidak, yang terpenting kamu adalah wanita ku," ucap Steve pelan.
"Kamu serius?" Dinda tegang. "Aku agak malu jika bernyanyi di acara seperti ini."
"Ey.. Nggak ada bedanya antara kamu bernyanyi di acara Alianor maupun acara ulang tahun ini. Sama saja, kamu harus tampil memukau hari ini," Steve meyakinkan.
Dinda tersenyum manis, dia menyetujui permintaan Steve. Mereka menaiki panggung kecil berkarpet
-kan merah cerah.
Di atas panggung Steve duduk dengan anggun layaknya pianis profesional. Dinda bernyanyi, sesuai permintaan Steve, Dinda ingin menghibur para tamu dari kalangan atas.
Semua orang menyaksikan pertunjukan mereka berdua. Orang-orang terpukau, mereka sangat sesuai dengan lagu yang di bawa dan irama pianis yang handal. Melodi lagu membuat beberapa tamu tersentuh.
~Lets hung our pictures on the wall.
~All those precious moments.
~That we carved in stone.
~Are only memories after all.
Sepenggal lirik yang di nyanyikan oleh Dinda, begitu bermakna bagi Steve.
Steve semakin terpacu memainkan melodi irama dari piano.
Para tamu memberikan tepuk tangan sebagai bentuk apresiasi atas penampilan keduanya. Serasa menonton konser artis terkenal, mereka merasa terpukau ulah suara yang di padukan dengan petikan piano yang merdu.
Usai bernyanyi, para awak media yang menunggu Steve untuk wawancara berdesakan menghampiri dia.
Bahkan pita pembatas antara awak media dan tamu undangan di terobos oleh para jurnalis-jurnalis itu.
Steve mengernyitkan dahinya, orang-orang jurnalis itu mendekatinya. Dinda yang berdiri di belakangnya, ingin Steve lindungi. Dia tidak mau gadisnya sampai terluka karena ulah para reporter tak bertanggung jawab.
"Jangan panik, orang-orang dari berbagai media ini memang tidak bisa menjaga privasi orang lain," ucap Steve pada Dinda.
Dinda yang berada di bersembunyi di belakang Steve, paham maksudnya.
Dengan meliputi dan mewawancarai Steve, mereka akan mendapatkan keuntungan yang besar dari pemberitaan ini. Apalagi jarang-jarang mendapatkan gambar Steve setelah sekian lama di rahasiakan.
Steve ingin menghindar dari para reporter. Steve menarik lengan Dinda, berlari menjauh dari para reporter.
Steve meninggalkan hotel juga acara penting ini tanpa pamit. Dia membawa Dinda menuju Utara hotel, secepat kilat, Steve tidak mau awak media menangkap mereka.
"Kita mau kemana," Dinda dengan nafas tergesa-gesa menyeringai.
"Kita harus menghindari mereka dulu. Mereka sangat mengganggu."
Namun di tengah pelarian, Dinda melepaskan genggaman tangan Steve.
"Kenapa?" tanya Steve.
"Heels ku patah," Dinda menunjukannya pada Steve.
Tak ada pilihan lain bagi Steve, selain menggendongnya. "Naik!" perintah Steve. Dia sudah duduk, menunggu Dinda naik ke punggungnya.
"Kamu ngapain?"
__ADS_1
"Naik saja!" Steve memaksa.
Dinda mengikuti perintah Steve. Dia naik di punggungnya, sementara tangan Dinda memegang sepasang heelsnya yang patah.
"Di depan ada toko heels, kita mampir saja di sana."
"Aku biasanya pakai heels seharga seratus ribu," ucap Dinda di telinga Steve.
Steve melirik Dinda sekilas. "Pantas saja cepat patah, ternyata kamu suka pakai barang dari bahan nggak jelas."
"Tapi kan aku belinya pakai uang hasil kerja ku sendiri," elak Dinda. "Lagi pula aku sudah nyaman kok dengan heels murah!"
"Hei, jangankan heels seharga seratus ribu, dua triliyun pun akan aku belikan untuk kamu," ujar Steve sok kaya.
Dinda terkekeh. "Memang ada heels seharga dua triliyun!"
"Ada," jawab Steve. "Heels yang di baluti berlian. Bukankah bisa saja harganya dua triliyun."
"Iya! iya, kamu memang selalu benar," Dinda terus tertawa. Steve selalu melucu walau dia garang.
Steve dan Dinda jalan di sekitar pusat kota Shanghai pedestrian dekat dengan beberapa bangunan pencakar langit khas kota ini.
Dinda ikut saja apapun yang Steve inginkan. Steve membawanya ke toko heels di dekat mall terbesar di Shanghai. Usai membelikan Dinda heels, mereka kini berada di taman dekat dengan bund yang tak jauh tempat mereka berpelukan semalam.
"Mau naik kapal pesiar?" Steve menawarkan. "Keliling kota Shanghai melalui sungai Huangpu."
"Akomodasinya besar, kita jalan-jalan saja di sekitar sini," Dinda kontra.
"Kamu terus saja menolak," Steve kesal. "Maka maafkan aku yang tidak segan-segan memaksa kamu ikut dengan ku!"
Steve memaksa Dinda mengikutinya. Tidak peduli apakah Dinda setuju atau tidak, Steve hanya ingin Dinda menemaninya menaiki kapal pesiar yang akan membawa mereka mengelilingi sungai Huangpu.
"Aku biasanya mabuk angin laut," Dinda menginformasikan.
"Aku akan mengecup bibir kamu jika kamu mabuk," jawab Steve tak ingin mengalah.
Dinda dan Steve menaiki kapal pesiar besar nan mewah. Mengelilingi Huangpu river cruize, melewati beberapa bangunan bersejarah di Shanghai dan menikmati semilir angin kencang.
Cuaca dingin, namun matahari terlihat meninggi memanas cerah. Perpaduan sempurna cuaca panas dan dinginnya angin menuju musim salju.
Steve menutupi bagian bahu Dinda yang terbuka. Dengan jas besarnya, Steve merangkul Dinda. Mereka berdiri di lantai bagian atas kapal seraya melihat semua bangunan tinggi kota Shanghai.
"Mari besok kita jalan-jalan ke Korea!" Steve memulai aksinya. "Aku dengar sekarang, di Korea sedang musim semi dan sebentar lagi salju akan turun. Apa kamu mau menikmati salju di Korea?"
"Bagaimana dengan pekerjaan?"
"Kita bahas itu lain kali, kita punya waktu seminggu di Shanghai. Mari kita habiskan waktu di kota ini dengan indah," Steve menyuarakan keinginannya.
"Baiklah," Dinda setuju. "Apapun yang kamu mau, aku akan menyetujuinya sekarang."
Angin laut berhembus kencang. Dinginnya angin seperti menusuk pori-pori. Steve memeluk Dinda dari belakang, menopang dagunya di pundak Dinda.
"Bagaimana kalau kita menikah segera," Steve bicara serius. "Aku akan menafkahi kamu dan menanggung semuanya bersama kamu."
Tangan Steve yang mengerat di perut Dinda, ia elus lembut. "Aku harus memikirkan ibu ku dulu. Aku harus meminta persetujuan ibu dalam hal ini."
"Kalau begitu, mari kita sama-sama menemui ibu mu. Lalu kita meminta persetujuannya agar bisa menikahi putrinya," ucap Steve menggagas idenya.
"Setelah pulang dari Shanghai, kemungkinan ibu akan pindah ke apartemen," Dinda membalik badannya, mereka berhadapan. "Setelah rumah di pinggiran kota laku, kami ingin pindah rumah. Butuh waktu untuk menemui ibu," Dinda menjelaskan.
"Tidak masalah," jawab Steve. "Selagi meminta restu ibu mu adalah hal agar kita bisa bersama, maka aku akan melakukannya, walau aku kurang yakin jika ibu kamu tidak menyukaiku."
"Hei," Dinda menutup mulut Steve dengan jarinya. "Jangan bilang seperti itu, ibu saja belum pernah bertemu dengan kamu, kenapa first impression malah di buat dengan pikiran yang aneh-aneh," tampik Dinda. "Ibu ku tidak sejahat yang kamu kira, hanya saja ibu harus mencarikan aku pasangan yang cocok. Minimal seperti ayah, itulah pria pilihan ibu?"
"Seperti ayah?" Steve mengulangi.
"Tenang saja! Kamu hampir seperti ayah ku. Perhatian dan penuh kehangatan, aku yakin ibu pasti menyukai kamu." Dinda menghibur.
Dering telepon berdering menggetarkan saku celana Steve. Panggilan yang mengganggu waktunya bersama Dinda.
Steve mengabaikannya, dia lebih peduli pada Dinda. Panggilan itu berulang kali berdering, Dinda tidak tega jika melihat Steve mengabaikannya hanya karena dia.
"Mungkin saja panggilan penting, sebaiknya di angkat saja," Dinda memahami situasi Steve.
"Biarkan saja," tolak Steve. "Hanya telepon tidak penting atau nomor salah sambung."
"Jika kamu nggak mau menjawabnya, biarkan aku yang menjawabnya untuk kamu," Dinda memberikan pilihan.
"Ide bagus, kamu yang berbicara," Steve suka pada tawaran Dinda.
Dinda menjawabnya, terdengar suara Stevie. Baiklah kak, sekarang juga? Tapi bagaimana mereka. Kakak bersama mereka! Syukurlah. Hati-hati di jalan.
"Siapa yang menelpon?" Sambar Steve.
"Kak Stevie," balas Dinda.
"Apa yang dia katakan?" Steve penasaran. "Apakah dia meminta kita kembali?"
"Bukan," Dinda menggeleng. "Dia hanya bilang kalau hari ini dia kembali ke Jakarta, ada urusan mendadak."
BERSAMBUNG
Karena keasikan membaca, pembaca novel ini lupa meninggalkan jempolnya. Hadeuh, author kasih kiss kalau lupa ninggalin jempolnya.
__ADS_1
Hehehehe.