
Steve mengajak Dinda menuju ke sebuah rumah sakit. Tidak tahu apa alasannya, yang pasti Dinda tidak bertanya kenapa Steve membawa dia ke tempat ini.
Di ruang VVIP, Steve menuju ke ruangan itu. Seringnya dia berjalan cepat, mungkin sudah menjadi kebiasaan bagi pria ini.
"Memangnya siapa yang sakit?" di depan pintu ruangan pasien rumah sakit ini, Dinda bertanya. "Seingat ku keluarga kamu nggak ada yang sakit? Apa mungkin kak Stevie?"
Steve menggeleng. "Dia anak kecil yang kesepian," jawabnya. Steve masuk kedalam, di sana terkapar seorang bocah berusia tujuh tahun terbaring lemah.
Siapa? Dinda ingin bertanya siapa anak itu. Tapi niatnya di urungkan, Steve sudah jauh melangkah kedalam.
Anak yang Dinda dan Steve jenguk, sedang bermain dengan dengan robot Transformers berwarna merah. Melihat kedatangan Steve, anak kecil yang asik bermain dengan imajinasinya ini, menyambutnya hangat.
"Om siapa?" tanyanya. "Om mau bertemu dengan kakek ya?"
Anak ini belum bisa duduk, posisi tubuhnya masih lemah sehingga dia harus berbaring.
"Kalau mau bertemu kakek, bukan di rumah sakit om," katanya. "Kakek Ardan masih kerja di kantor yang besar?" Anak kecil memberitahu. Dia membuka tangannya lebar, menjelaskan pada Steve bahwa kakeknya pekerja kantor yang dalam imajinasinya begitu besar.
Steve tersenyum, lalu mengelus rambutnya lembut. "Om ke sini bukan mau bertemu kakek. Tapi om kesini mau ketemu Ardan."
"Memangnya Om siapa?" tanyanya penasaran. "Apa Om ayah Ardan?"
Steve lagi-lagi tersenyum hangat, tapi menggeleng. "Om hanya ingin menjenguk Ardan."
Dinda yang memahami hati anak-anak, mendekati remaja kecil yang imut nan menggemaskan ini. "Perkenalkan, nama Tante Dinda," ucapnya. "Dan ini namanya Steve. Om dan Tante ke sini sengaja datang menjenguk Ardan. Ardan pasti kesepian ya menunggu kakek?"
"Sangat kesepian Tante," jawabnya dengan senyum sumringah. "Sudah lama Kakek nggak jenguk Ardan. Ardan kangen dengan kakek."
"Karena Ardan baru selesai operasi, Ardan jangan terlalu banyak bergerak yah. Nanti jahitannya terbuka," Steve berkata. Anak itu tidak mengenakan pakaian karena jahitan sisa-sisa operasi masih belum kering. Dia telanjang dada.
Hanya di bungkus selimut, Steve diam-diam iba pada anak yatim piatu ini. Di usianya yang masih kecil harus kehilangan orang tuanya.
Dari luar kamar pasien ini, Mira datang membawa sekotak bingkisan besar. "Ini Pak barang yang anda pesan," ucap Mira yang terlihat agak lelah membawa kotak besar ini.
"Apa itu?" tanya Dinda.
"Hanya bingkisan kecil untuk anak ini," jawab Steve. "Mira, tinggalkan saja kotak itu di dekat meja," kini pria itu memerintah wanita berambut setengah panjang ini.
Mira menurut saja, dia tidak berkata apapun kecuali dia izin pada Steve pergi meninggalkannya keduanya.
"Adik manis, om punya hadiah untuk kamu," Steve menunduk, berkata dekat pada bocah ini. "Kamu pasti penasaran kan?"
"Ardan penasaran banget Om," jawabnya semangat. "Ayo, beritahu Ardan, hadiah apa yang om bawa," katanya merengek tak sabar mendapatkan hadiah.
Steve membuka kotak hadiah, melihat anak itu sangat kegirangan, Steve merasa ikut semangat. Dia kebagian semangat hidup anak yang pantang menyerah ini. "Eits, tapi Ardan harus janji ya," sebelum memberikan hadiah, Steve merayu anak itu. "Ardan harus sembuh dan terus sehat. Nggak boleh menyusahkan kakek Ardan lagi. Nggak boleh nakal dan selalu menurut pada kakek."
"Ardan janji om. Ardan akan sehat," jawabnya polos. "Ardan bakal jadi anak yang baik."
Steve menyentik lembut hidung bocah kecil yang imut ini. Lalu mengeluarkan hadiah untuk sang bocah. "Ta-da!"
"Wah, robot Transformer!" serunya bersuka cita. Dia memeluk robot yang tingginya setengah meter ini. "Terima kasih ya om sudah memberikan Ardan robot ini. Ardan janji, Ardan akan merawat robot ini," katanya bertingkah menggemaskan nan lucu.
"Pokoknya, Ardan harus kuat. Sama seperti robot ini, Ardan nggak boleh lemah," ujar Steve menyemangati bocah periang ini.
Dinda yang melihat Steve sangat menyukai anak kecil, tertawa manis. Tidak ku sangka, Steve ternyata menyukai anak kecil.
Mungkin karena Ardan terlihat lucu dan menggemaskan, sehingga Steve menyukainya.
Stevie masuk kedalam ruangan ini. Suara heels yang berbunyi menghentakkan lantai, mengundang perhatian Dinda dan Steve.
__ADS_1
"Hallo adik manis, bertemu lagi dengan kakak yang cantik," Stevie berkata pada anak kecil ini, dia mengabaikan keduanya.
Gaya bicaranya sok akrab pada anak kecil, Steve meragukan tingkah Stevie pada anak kecil di hadapannya itu.
"Kakak kesini, memangnya pekerjaan kantor sudah beres?" Tegur Steve. Wanita itu duduk santai menemani sang bocah, tepat di sebelahnya.
"Kamu menyinggung tentang pekerjaan. Aku langsung teringat pada slogan Pak presiden. Kerja! Kerja! Kerja!" ucap Stevie. "Tapi sayang, setiap kali pergi ke kantor. Aku selalu tidak pernah fokus. Rasanya ingin tidur terus di rumah, pergi ke mall, belanja barang mewah."
Memang setahu Steve bahwa kakaknya tidak pernah fokus dalam bekerja. Mungkin hanya akan mengacau saja di kantornya.
"Begini saja," Stevie mendadak teringat. "Bagaimana kalau hari ini biarkan Dinda pergi bersama ku. Aku ingin membawanya menemaniku pergi ke salon. Sudah lama aku tidak kesana, dan rasanya kepala ku sudah berat jika tidak di keramas," katanya memberi saran. "Mumpung nggak ke kantor, sekalian saja liburan merawat diri."
Jelas saja Steve akan menolak. Sangking tidak mau Dinda di bawa oleh wanita ini pergi, Steve sampai menyembunyikan Dinda di balik punggungnya. "Dia tidak akan kemana-mana. Dia akan tetap bersama ku, apapun bentuknya."
Stevie berdiri, lalu memelototi Steve dengan lirikan mata yang tajam. "Memangnya kamu siapa beraninya memonopoli anak orang sembarangan?" sentaknya berang. "Biarkan dia yang memilih mengikuti aku atau mengikuti kamu. Jangan membatasi hak orang lain!"
"Aku tidak akan mengizinkan dia pergi kemana-mana!" tegas Steve. Walau dia sudah takut Stevie akan berulah, namun Steve berusaha bersikap bahwa dia tidak takut padanya. "Jangan membuat aku marah."
"Hah? Marah?" Stevie mendengus. "Seharusnya aku yang marah. Sebagai seorang wanita, aku tidak mau Dinda merasa terkekang oleh pria kasar seperti kamu," katanya memancing kegaduhan di depan Dinda dan bocah kecil.
Steve cukup menahan emosinya saja, siapa yang akan berani melawan mulut pedas Stevie. Sekalipun Steve terbilang kuat, ucapan kakaknya itu jauh lebih sakit ketimbang kekerasan.
"Tanyakan pada Dinda. Dia mau ikut bersama ku atau tidak, biar jelas persoalan ini," Stevie memerintah. Dia yakin Dinda akan menuruti permintaannya.
"Oke!" balas Steve setuju. "Kita lihat, siapa yang akan di pilihnya."
Steve menatap Dinda, dia mengisyaratkan agar tidak pergi kemanapun. Steve memegang kedua bahu Dinda, menatapnya serius. "Kamu tetap bersama ku. Jangan pernah pergi kemanapun," ujarnya pada Dinda.
"Tapi...., Aku...."
Dinda bingung, entah siapa yang harus dia turuti. Antara Stevie dan Steve, dua-duanya tidak bisa di berikan pengecualian.
Stevie yang melihat Steve terus mengintimidasi Dinda, mendengkus kesal karena adiknya itu pemaksa. "Bisa nggak sih kamu itu sesekali nggak ngancam anak gadis orang sembarangan?" Stevie menegur adiknya itu. Dia hafal betul pada kelakuan sang adik, apapun yang dia inginkan, sekalipun harus dengan ancaman. Maka dia harus mendapatkannya.
"Aku tidak rela jika kakak pergi dengan pacar ku. Kaka bisa pergi sendiri, kenapa harus membawanya." Menjauh dari Dinda, rasanya neraka bagi Steve.
Apapun bentuknya, Dinda harus tetap di dekatnya. Itulah maksud Steve.
Dinda menatap kedua kakak beradik yang bersitegang kecil ini.
Dia bingung, siapa yang harus di dengarkan. Steve si pemarah, atau Stevie yang ramah padanya.
Stevie agak bosan pada sang adik yang memaksa kehendak orang lain itu. Lucu rasanya bagi Stevie melihat adiknya itu menjadi budak cinta.
"Bagaimana, Dinda. Pergi ke salon bersama ku jauh lebih baik dari pada ikut Steve," katanya memprovokasi. "Kalau kamu ikut dia, yang ada kamu tidak nyaman. Pria kasar seperti dia, siapa yang Sudi menjadi kekasihnya."
Perkataan Stevie memancing api kemarahan Steve. Kakaknya terus menjelek-jelekkan dirinya di hadapan Dinda. Dia agak geram, tapi tidak berani membentak sang kakak yang bar-bar.
"Bagaimana kalau aku ikut kak Stevie ke salon?" Dinda memberanikan diri berkata. Dia menatap Steve, harus melalui persetujuannya agar bisa ikut Stevie.
"Tidak!" Dia membantah cepat. Penolakannya kasar, tapi dia tidak rela Dinda pergi bersama wanita itu. Nanti dia akan meracau, begitulah yang di pikirkan oleh Steve. "Aku tidak akan membiarkan kamu pergi dengan kak Stevie, atau kamu akan menerima akibatnya," Steve mengancam. Sekalipun di hadapan kakaknya yang kontra, Steve masih pada pendiriannya.
"Ck," Stevie men-decak menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kenapa kamu menjadi pemaksa seperti ini, sih?" Katanya yang tak habis pikir atas kelakuan Steve. "Kamu sama saja seperti membatasi hak orang lain kalau bersikap begitu."
"Suka-suka aku," timpal Steve. "She is my mine, don't touch him."
(Dia milik ku, jangan sentuh dia)
Stevie menggaruk kepalanya, walau tidak gatal tapi otaknya yang sedikit konslet karena terlalu banyak memikirkan adiknya ini. "Oke-oke. Aku mengalah!" Katanya berhenti bersikap. "Aku tidak akan mengajaknya kemanapun. Kamu menang."
__ADS_1
Steve mendengus, lalu tersenyum penuh kemenangan. "Seharusnya begitu."
Tidak tahu apakah Dinda kuat dengan permainannya. Aku hanya bisa berharap, Steve tidak menyakitinya. Stevie mengkhawatirkan Dinda.
Stevie lalu berkata, menimpali Steve dengan kata-kata yang tidak di mengerti olehnya. "Ni Yeye (kakek mu)," katanya memanyunkan bibir. "Fengkuang de ren (Kamu gila)," untuk terakhir kalinya dia berkata sarkas pada sang adik.
Steve memang tidak mengerti bahasa Stevie, dia bungkam.
Melihat kegaduhan kedua kakak beradik ini, Dinda sejujurnya mengurut dada. Kenapa mereka bisa bertikai seperti ini karena memperebutkan dirinya.
"Kakak cantik. Ardan hari ini boleh nggak ketemu kakek?" bocah kecil yang sedang terbaring ini, menyela pembicaraan mereka. Walau Steve sudah menghiburnya dengan mainan, namun dia masih teringat pada pria tua itu bahkan merengek.
Stevie menyentuh hidungnya lembut, dia berkata di depan wajah anak kecil ini. "Tapi Ardan janji, kalau sudah bertemu dengan kakek, Ardan harus sembuh yah," ucap Stevie.
Anak itu tersenyum. "Ardan janji. Ardan akan akan cepat sembuh, biar kakek nggak ninggalin Ardan lagi," katanya merasa senang. Dia bahagia akan bertemu kakeknya.
Stevie ingat kalau dia datang bersama Pak Jajang. Pria itu dari tadi menunggu di luar, saat Stevie memanggilnya, barulah dia memberanikan diri masuk.
"Kakek!" teriak anak kecil ini. Mungkin rasa girangnya bertemu orang yang paling di sayangnya, membuat bocah kecil begitu semangat menyambut kedatangannya.
"Cucu kakek sudah sehat rupanya," kata Pak Jajang menghampiri tubuh yang terkulai itu.
"Iya kek, Ardan sudah sehat."
Pria tua ini mengelus rambut bocah kecil ini. Sudah beberapa hari tidak bertemu, rasanya dia sangat merindukan sang cucu.
Di ruangan cucunya di rawat, Pak Jajang sadar bahwa dirinya bisa bebas karena Steve yang meminta kakaknya, Stevie membantu pria malang itu. Walau sebenarnya dia malu saat melihat Steve ada di ruangan cucunya, Pak Jajang mau tak mau harus mengucapkan terima kasih pada Steve.
Dia perlahan mendekati Steve, memberanikan diri untuk berkata. "Terima kasih Pak Steve," ucapnya. "Terima kasih sudah membebaskan Pak Jajang juga sudah membantu biaya operasi rumah sakit Ardan."
"Sudah kewajiban ku menanggung biaya kesehatan seluruh karyawan perusahaan," jawab Steve. "Pak Jajang jangan khawatir pada hal ini."
Karena lapang dada dari Steve yang mengampuninya. Entah sejak kapan pria muda ini memperhatikan dirinya, apalagi dia sebelumnya tidak pernah bicara pada OB tua ini. Pak Jajang begitu bersyukur atas kebaikan hati Steve. Dia bersimpuh di kakinya, sambil menangis haru.
"Sungguh Pak Steve pria yang benar-benar terhormat. Bahkan Pak Jajang yang hampir melakukan percobaan pembunuhan, masih Pak Steve maafkan. Pak Steve memang pria sejati sesungguhnya." Pria tua ini memuji dalam sujud syukurnya di hadapan Steve.
Steve tidak tega melihatnya menangis. Steve memapahnya berdiri, dia tidak bisa melihat orang-orang melakukan hal itu di depannya. "Pak Jajang tidak perlu bersikap begini. Lupakan yang baru saja terjadi," kata Steve bijak.
"Pak Jajang malu karena sudah hampir mencelakakan Pak Steve," katanya menyesali. "Pak Jajang akan berhenti bekerja di kantor Pak Steve mulai hari ini. Pak Jajang akan pindah ke pinggiran kota dan membawa Ardan pergi. Kami ingin hidup damai. Sebagai rasa penyesalan Pak Jajang di masa lalu, pria bodoh seperti aku memang patut menerima semua ini."
Steve mengelus bahu pria tua yang tengah menangis itu. Steve tidak memecatnya, tapi dia sendiri yang mengundurkan diri. Meskipun hanya OB, namun gaji yang di berikan perusahaan lumayan untuk jasa pria tua ini.
Dengan lapang dada, Steve tidak menahannya agar tetap bekerja di kantor Wong. "Jika itu keputusan Pak Jajang, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik saja. Semoga Pak Jajang bisa hidup lebih baik lagi kedepannya."
"Itu pasti Pak Steve," responnya cepat. "Terima kasih atas kebaikan Pak Steve pada kami kaum kecil."
Steve tidak berkata apapun lagi, dia menerima keputusan pria itu hengkang dari perusahaannya. Tidak berat melepaskan, juga tidak sedih kehilangan pria tua ini. Steve hanya berharap, hidup di pinggiran kota membuat hidupnya jauh lebih tentram dan damai.
Mendengar pria tua itu akan membawa cucunya pindah ke pinggiran kota. Stevie sejujurnya sudah tahu mengenai kepindahan pria tua ini. Saat di kantor polisi dia mengakui hal ini jika dia bebas. Stevie merogoh kocek tasnya, dia mengeluarkan amplop berisi uang.
Dia memberikannya pada Pak Jajang, hitung-hitung sebagai gaji terakhir pria ini. "Semoga uang ini bisa membantu ekonomi Pak Jajang dan Ardan."
Nominalnya memang sedikit, hanya tiga belas juta. Tapi bagi Pak Jajang, itu sudah cukup untuk kehidupannya setahun lebih.
"Terima kasih, Bu Stevie," katanya. "Pak Jajang sangat bersyukur atas kebaikan kalian."
Dinda memperhatikan kedua kakak beradik ini. Diam-diam mereka memiliki jiwa sosial yang tinggi. Dinda senang mengenal keduanya, terlebih, mereka yang begitu akrab tanpa memandang status sosial.
BERSAMBUNG
__ADS_1