
JANGAN ITU SAYUR
Permintaan Ibunya agar dia bersimpuh memohon di kaki Steve, membuat Vanya bimbang. Sejujurnya dia tidak mau melakukan hal ini, tapi jika di pikir-pikir ada benarnya juga.
Kalau dia memohon pada Steve, mungkin saja pria itu akan mengampuni usaha keluarganya. Mungkin, jika dia melakukannya, bisa jadi harga dirinya akan di injak-injak oleh Steve.
"Aku harus bagaimana ini?" Vanya agak panik dalam kebingungan menentukan arahnya. Dia mondar-mandir di kamarnya sambil menggigit jari, memikirkan hal ini. "Apakah harus aku menemui dia?"
Vanya menimbang-nimbang apakah harus pergi ke kantor Steve atau tidak. Kebimbangannya membawa Vanya pada kebuntuan ide. Jalan satu-satunya bagi Vanya adalah menemui Steve. Mulutnya berkata tidak mau menemui pria itu, tapi hatinya berkata harus.
"Mungkin-kah aku harus bersimpuh di hadapannya?" Vanya sangat bimbang memikirkan ide Ibunya ini.
Pemikirannya untuk pergi pada akhirnya membawa Vanya melangkah keluar rumah.
Sejak pagi Vanya sudah tidak ada di apartemennya. Dia memutuskan mengikuti instruksi sang Ibu, menemui Steve.
****
"Ma, Papa berangkat!" teriak Tuan Tama di depan pintu. Biasanya pria tua ini berangkat kerja satu mobil dengan Johan.
Sesuai kebiasaan, Johan sudah ada di dalam mobil menunggu pria tua ini berangkat bersamanya.
Nyonya Diana menghampiri sang suami yang masih ada di depan pintu. Dia sekedar mengantar sang suami berangkat kerja, itu rutinitasnya.
"Hati-hati di jalan, Pa." Tepat di teras rumah dia berkata pada sang suami. Merapikan dasinya seakan dia adalah istri paling harmonis dan perhatian.
"Papa berangkat kerja dulu," kata Tuan Tama. Dia melihat cuaca yang mendung, tahu saja bahwa hari tidak mendukung. "Hujan akhir-akhir ini makin tidak teratur saat mengguyur. Mama jaga kesehatan di rumah, jangan lupa pakai jaket tebal."
"Papa tidak perlu mengkhawatirkan Mama yang ada di rumah, perhatikan saja kesehatan Papa."
Di depan pintu gerbang rumah keluarga Johan, sebuah mobil taksi menepi di bahu jalan. Vanya? Dia keluar dari taksi berwarna kuning itu.
Rupanya dia lebih memilih pergi ke rumah Johan lebih dahulu dari pada ke kantor Steve. Tuan Tama yang hendak berangkat kerja, melihat gadis ini berjalan menuju arah rumahnya agak kaget saja.
Sejak hari dimana acara pertunangannya dengan Johan yang kacau itu, anak ini tidak pernah lagi tinggal di rumahnya. Tapi hari ini kedatangannya yang mendadak, membuat pria tua itu setidaknya berlaku menghargai dia yang bertamu.
"Om," sapa Vanya. "Apa kabar."
"Om baik-baik saja. Kamu sendiri bagaimana? Baik-baik saja atau?"
"Vanya baik-baik saja kok om," jawab Vanya. "Cuma ada internal problem saja."
Vanya berbincang di depan halaman rumah. Lebih tepatnya, di dekat mobil yang hendak mengaspal itu. Nyonya Diana yang melihat kedatangan calon menantunya itu, memanyunkan bibirnya. Kemat-kemot, acuh tak acuh tak suka melihatnya datang lagi kerumahnya ini.
"Ngapain kamu datang kesini lagi?" dari teras rumah Nyonya Diana menyahut. "Kalau nggak ada kerjaan mending pulang saja. Om banyak pekerjaan."
"Eh, Tante," kata Vanya berbasa-basi. "Vanya hanya ada perlu sebentar dengan Om kok Tante," jawabnya. Walau Vanya juga tak suka matanya di rusak oleh makhluk abstrak Ibunya Johan, tapi dia berusaha kuat. Sejujurnya Vanya malas jika berhadapan dengan wanita berwajah dua ini. Dia melakukannya terpaksa, hanya mereka tempat terakhir untuk berlabuh.
Nyonya Diana melipat tangannya di dada, ekspresi wajahnya terlihat nampak jelas. Dia tidak suka Vanya ada di sekitar rumah mereka. "Cih! Palingan juga memohon meminta bantuan?" Gumam Nyonya Diana pelan.
Ya. Pada dasarnya Vanya datang menemui Tuan Tama karena meminta bantuan keuangan untuk perusahaan ayahnya. Penanaman modal membantu keuangan perusahaan Ayahnya dalam situasi mencekam seperti ini.
"Om. Jika om tidak keberatan, Vanya hanya minta tolong. Om suntikkan dana ke perusahaan Papa. Keadaan keluarga Vanya saat ini genting, Om." Vanya merengek di depan pria tua berkacamata ini.
Tidak ada tempat lain bagi Vanya untuk memohon selain keluarga Tama. Sekalipun menemui Steve, Vanya tidak akan memohon di hadapannya. Tak Sudi bagi Vanya melihat wajah angkuh pria itu.
Tuan Tama memikirkan dengan matang perkataan Vanya. Walau ragu, pria ini tidak berani langsung menolak begitu saja permintaan Vanya. Apalagi dulu keluarganya di bantu oleh keluarga Vanya. Tidak enak hati rasanya kalau menolak begitu saja.
"Memangnya butuh berapa dana untuk menutupi krisis keuangan perusahaan ayah mu?" Tanya Tuan Tama. Guratan wajah ragu menyelimuti ekspresi Tuan Tama.
"Tujuh ratus milyar," jawab Vanya. "Perusahaan mengalami defisit keuangan yang signifikan. Gaji karyawan banyak yang belum di bayar, saat ini mereka akan mengadakan demo besar di pabrik."
__ADS_1
Tuan Tama menggaruk caruk lehernya. Walau sebenarnya tidak gatal, dia hanya mengalihkan rasa tidak masuk akal atas perkataan Vanya. "Uang itu tidak sedikit. Apa mungkin hingga sebanyak itu kebutuhan keuangan perusahaan ayah mu?"
"Sebenarnya, uang itu masih kurang," Vanya mengakui. "Krisis keuangan perusahaan memaksa Papa harus menjual tiga asetnya di Birmingham dan Manchester. Banyak barang-barang gagal produksi. Karyawan kantor banyak yang mengundurkan diri. Jika tidak mendapatkan uang secepatnya, maka pabrik-pabrik Papa akan di tutup sampai Papa bisa mendapatkan dana untuk memproduksi kembali produk perusahaan."
Tuan Tama kali ini sangat bimbang. Dia dilema, membantu Vanya sama dengan bunuh diri bagi perusahaannya. Tidak menolong, maka dia akan di katakan sebagai pengusaha yang tidak bisa balas Budi.
Apa yang harus aku lakukan. Anak ini sudah datang ke sini, aku tidak mungkin mengusir dia pergi. Aku juga bingung bagaimana menjawabnya agar tidak membuatnya tersinggung.
Tuan Tama harus berpikir ulang. Dia memutar-mutarkan otak, memikirkan ide apa yang harusnya dia lakukan.
Johan yang di dalam mobil bosan menunggu. Dia menekan klakson mobil, walau sebenarnya ada sopir yang menekan, tapi Johan sudah berang menunggu pria itu berangkat kerja.
"Pa, sudah jam setengah sembilan. Nanti terlambat," tegur Johan. Dia membuka kaca mobil, setengah wajah.
Tuan Tama menengok ke arah Johan sekilas, lalu kembali pada Vanya. "Kita bahas hal ini lain kali. Om harus berangkat sekarang. Ada rapat penting di kantor."
"Oke om. Vanya akan menunggu kabar baik dari Om," jawab Vanya. Melihat Johan sekilas rasanya membuat Vanya agak senang. Pasalnya dia sudah merindukan wajah tunangannya itu. Untuk sesaat Vanya merasa bahagia, pria itu masih terlihat tampan.
Walau mobil yang di tumpangi Tuan Tama dan Johan sudah berlalu, Vanya masih berdiri menatap belakang mobil ini hingga menghilang di balik pagar bata.
Nyonya Diana pun pergi ikut berlalu masuk kedalam rumahnya. Tugasnya sudah beres, dia tidak mau berlama-lama di luar karena cuaca dingin. Sadar bahwa Vanya akan di tinggal sendiri di halaman rumah, dengan sigap dia langsung menghampiri Nyonya Diana.
"Tante. Apa Tante tidak akan membawa ku masuk kedalam?" ucap Vanya. Seingatnya dia masih berstatus menjadi tunangan Johan.
"Tante sibuk. Lain kali kalau Tante senggang, Tante ajak kamu masuk," jawab Nyonya Diana. Dia lalu menutup pintu serapat mungkin.
Buang-buang waktu ku saja melayani dia. Memangnya siapa dia? Beraninya ingin masuk di rumah ku. Di dalam pintu rumah, Nyonya Diana mengomel pelan.
Vanya yang ada di depan rumah agak heran. Kenapa Ibu Johan bersikap apatis padanya. "Apa yang salah dari ku? Kenapa dia menghindari ku hari ini?" Vanya bertanya pada diri sendiri. Walau agak heran pada perilaku Nyonya Diana yang berubah seperti ini, Vanya tidak terlalu memikirkannya.
Dia juga cuek, toh selama ini dia tahu kalau wanita itu tidak pernah menyukainya. "Dia pikir aku akan bersimpuh di kakinya. Cuih! Mimpi!" Sambil berjalan, Vanya menggerutu pelan. Terkadang mengumpat wanita yang akrab di sapa-nya nenek sihir itu.
****
Steve keluar dari mobilnya, terburu-buru berlari menghindar dari hujan.
Saat masuk kedalam kantor, banyak pegawai yang menyapanya hangat. Steve melemparkan senyum bahwa dia bos yang baik.
Sudah lebih dari seminggu ini desas desus mengenai teror ular dan bom yang pernah menjadi isu menggemparkan di kantornya menghilang. Para karyawan sudah bekerja kembali seperti biasanya.
Namun Steve memerintahkan kepada pihak keamanan di kantornya memperketat pengawasan dan penjagaan. Siapa saja yang masuk kedalam kantornya harus di periksa bahkan setiap karyawan yang hendak masuk ke perusahaan harus melewati serangkaian pemeriksaan ketat.
Seluruh cctv di larang mati. Semuanya kini berubah menjadi lebih ketat dari sebelumnya. Bahkan karyawan yang biasanya hilir mudik melewati folding gate bebas tidak ada hambatan. Tapi kini, sebelum melewati pintu kecil itu seluruhnya harus di periksa.
"Hari ini ada jadwal mengunjungi pabrik di Cikarang. Pukul satu siang nanti akan ada jadwal rapat launching produk terbaru." Dinda masuk kedalam ruangan, memberitahu jadwal yang akan di hadiri Steve. Dia berdiri di depan meja kerja Steve, memegang gawai besar di tangan.
"Setelah itu? Apalagi jadwal ku?" tanya Steve. Dia tidak memperhatikan Dinda berbicara, hanya fokus pada komputernya. "Apakah ada jadwal yang kosong?"
"Besoknya lagi ada jadwal makan malam bersama pengusaha sepatu asal Inggris dan setelahnya mengunjungi gim," jelas Dinda. "Untuk jadwal yang kosong. Sepertinya belum ada, aku akan me-reschedule ulang."
"Oke." Steve mengangguk, dia mengerti. Mengingat semua jadwal yang akan dia lakoni nanti. "Kalau jadwal makan siang ku kosong, nanti temani aku makan di rumah nenek yang baru saja datang dari solo."
"Jam berapa? Biar aku atur-kan dulu jadwal kamu. Takutnya akan mepet dengan jadwal mengunjungi pabrik nanti."
"Batalkan saja!" Jawab Steve cepat. "Nenek baru saja pulang dari Jerman. Dari solo dia langsung ke Jakarta. Kita hari ini harus ke rumah nenek, tunda semua jadwal ku hari ini."
Walau Steve fokus pada email yang terus masuk dari berbagai departemen, tetap saja, bicara pada Dinda adalah keharusan.
"Semua jadwal kamu hari ini di kosongkan. Kalau tidak ada lagi jadwal yang harus di atur, aku sebaiknya kembali bekerja."
Steve tidak berulah, kali ini dia sangat sibuk. Bahkan tidak fokus memperhatikan Dinda. Wajahnya terus memicing menatap layar komputer.
__ADS_1
Di luar ruangan Steve, Dinda diam-diam menggerutu. Ya, maklum saja. Dari sejak dia masuk bekerja, Steve tidak begitu berhenti untuk istirahat. Bahkan jam telah menunjukan setengah dua belas, itu artinya sebentar lagi jam makan siang.
Tapi dia mengabaikannya. Steve selain tipe introver juga workaholic sekali.
****
Malam itu pukul tujuh. Steve sengaja mengosongkan jadwalnya. Karena fokus pada pekerjaan yang menumpuk tadi siang. Alasannya ingin makan siang di rumah sang nenek di ganti menjadi makan malam.
Di rumah kaca sang nenek, terlihat wanita tua itu menata makanan di atas meja. Di bantu oleh pembantu rumahnya, saat melihat kedatangan Steve dan Dinda dia tersenyum sumringah.
"Kalian sudah datang?" tanyanya menyambut. Mendekati Steve lalu memeluknya. "Kalian akhirnya datang juga setelah lama menunggu."
"Itu karena nenek memaksa," jawab Steve.
Nenek memukul kaki Steve menggunakan tongkat kayunya. Cucunya itu mulai berulah. "Kalau nenek tidak memaksa, mana mungkin cucu nakal nenek mau datang."
Steve memang tidak mau datang. Tapi pikirnya, neneknya itu akan terus merengek tidak berhenti memaksa. Sama seperti Ibunya, nenek termasuk wanita yang mengiba kalau Steve tidak menuruti permintaannya.
"Ayo silahkan duduk. Mumpung makanan fresh from oven," tawar nenek. Melihat keduanya hanya terpaku berdiri, nenek hampir lupa menjamu mereka.
Ya, keduanya duduk. Memang yang terlihat di atas meja, makanan-makanan yang terbuat terhirup sangat lezat. Aromanya menggugah selera, Steve tak bisa menolak.
Dinda melayani Steve, dia menuangkan makan untuk pria itu. Sebenarnya Steve berulah. Dia bisa mengambil sendiri makanannya, tapi entah kenapa jika ada Dinda. Dia lebih suka membiarkan Dinda yang melakukannya untuk dirinya.
Nenek sampai geleng kepala melihat tingkah cucunya. "Kamu to le. Kalau iso mangan sendiri, yo kerjakan sendiri to. Yo jangan nyusahin orang lain," kata nenek menegur dengan logat jawanya yang khas.
"Cerewet," timpal Steve. Meskipun dia tidak mengerti bahasa sang nenek, cukup mendengar nada bicaranya saja Steve tahu kalau wanita itu mengomelinya. "Nenek selalu saja mengomel nggak jelas."
"Nggak masalah kok nek. Sudah biasa Dinda melakukannya," Dinda menyahut. Dinda sedikitnya paham maksud sang nenek.
"Ya sudah. Asal kamu nggak masalah, nenek tenang," katanya tidak lagi mengomel. "Memang benar. Orang timur paling sopan. Untung cucu nenek ini bertemu wanita yang menjunjung tinggi kesopanan, coba kalau Hassan bertemu wanita nggak jelas. Pasti nenek akan di abaikan."
Dia pasti akan mengomeli ku. Entah kapan nenek akan berhenti cerewet, aku mulai sebal padanya. Steve menggerutu, lebih tepatnya mengomel dalam hati.
Seluruh masakan sang nenek, Dinda tuangkan dalam piring makan Steve. Tidak dalam posisi nasi yang banyak, tapi lauknya yang memenuhi piring.
"Yang ini jangan. Yang itu juga jangan, dan dua mangkuk itu juga jangan," nenek kembali bicara.
Steve mengerutkan dahinya. Semula dia berpikir nenek yang menawarkan makan, kenapa saat akan makan, dia melarang sayur-sayur yang di hidang untuk di makan. "Maksud nenek apa?" tanya Steve bingung. "Aku nggak boleh makan sayur ini?"
Nenek menggeleng. Dinda yang melihat Steve agak marah, berusaha menenangkannya. "Kamu jangan marah dulu. Nenek nggak bermaksud begitu," ucap Dinda.
"Lalu? Tadi apa? Kalau semuanya jangan, terus kita makan apa?"
"Nenek hanya bilang kalau yang dia tunjuk tadi adalah sayur. Sayur bahasa jawanya jangan. Dan kita sering salah arti mengenai padanan kata ini," jelas Dinda.
Steve melirik neneknya, sang nenek tersenyum mendengar Dinda menjelaskannya pada Steve. "Nenek belum sempat mengatakannya. Tapi kamu sudah marah pada nenek," ucap wanita tua ini.
Steve agak malu, dia pikir neneknya tidak mengizinkan dia makan sayurnya. Steve tidak tahu jika sayur artinya jangan. Steve mendeham kecil, pura-pura minum karena menahan malu.
"Lain kali jangan marah-marah, nenek sebal pada cucu yabg pemarah seperti kamu," lanjut sang nenek mengomel.
Pada akhirnya aku yang kalah, sial!
BERSAMBUNG
Sampai bab ini. Apa pendapat kalian mengenai novel ini. Apa yang membuat kalian mampir ke novel ini. Berikan alasan kalian yah, agar author semangat dalam menulis.
Ngomong-ngomong, tidak perlu di vote novel ini. Cukup berkomentar jika kalian suka, karena itu merupakan dukungan bagi author.
Terima kasih sudah mengikuti jalan cerita novel author.
__ADS_1
Ilustrasi saat Dinda menangis di pinggir sungai Huangpu dekat Shenzen building di depan gedung Shanghai world trade finance.