
Pagi-pagi sekitar pukul kurang dari jam tujuh, Dinda yang masih mengantuk dengan mata yang masih menempel, terbata-bata untuk membuka matanya.
Ia mengucek mata agar mata yang menempel itu cepat terbuka. Dan ya, matanya memang terbuka walaupun sepenuhnya tidak seperti yang ia inginkan.
Ia bangun pagi karena merasa sangat haus. Ia memegang tenggorokannya yang sudah kering dan serak. Tak bisa tenggorokan kering itu menahan untuk tak meminta air walau hanya semenit.
Hal ini memaksa Dinda untuk membangunkan badannya lalu menuju ke dapur untuk mendapatkan seteguk air yang bisa memuaskan dahaganya.
Di meja makan, tepat depan meja itu kulkas besar berdiri dengan kokoh berwarna silver. Ia mengambil sebotol air lalu menuangkan secangkir air dingin itu kedalam mug besar berwarna biru.
Ia meminum air itu hingga habis. Lega dan nikmat rasanya karena ia bisa menikmati mantapnya air yang mengalir masuk kedalam kerongkongan. Tetapi di pagi itu matanya melihat sekelibat bayangan punggung seseorang yang tanpa sengaja melintas di hadapannya.
"Miko!" teriak Dinda kaget melihat adiknya pagi-pagi sudah berpakaian rapi.
"Mau kemana pagi-pagi sudah rapi?" tanya Dinda penasaran.
Miko yang tak tahu jika kakaknya sudah bangun, terpaksa menghampirinya karena pertanyaan itu. Kakaknya terlalu banyak pertanyaan jika ia tak menggubris bicara wanita ini.
"A - A - aku mau ke....." Dia terbata-bata menjawab pertanyaan kakaknya.
"Kemana?" Dinda menyambar cepat.
Untuk sesaat Miko kehilangan ide untuk berbohong, karena sepagi ini otaknya belum seutuhnya menyatu sehingga pikirannya masih belum terkoneksi.
Tetapi ide untuk mengelabui kakaknya terlintas kala ia teringat satu nama.
Dani. Dan dengan cepat ia menjawab, "Aku mau ke rumah Dani kak. Kami janjian untuk main basket bersama hari ini!" seru Miko mendapatkan ide bagus untuk mengelabui kakaknya.
"Sepagi ini?"
"Iya kak. Karena olahraga pagi maka kami sepakat bertemu sepagi ini." Miko meyakinkan kakaknya Dinda.
"Biasanya kalian latihan hari Minggu sore? apa jadwalnya sudah berubah sehingga kamu berangkat pagi sekali. Terlebih kamu biasanya pakai baju basket langsung dari rumah. Tumben hari ini pakai baju rapi mana wangi lagi. Kamu mau kencan ya?" Dinda mencoba menebak namun ada rasa curiga atas adiknya Miko.
Miko tertawa manis seraya berkata dengan ramah.
"Ya begitulah kak. Terkadang segala sesuatu sering berubah mendadak," Miko lagi-lagi meyakinkan kakaknya.
Dinda berpikir sejenak atas apa yang adiknya ucapkan.
"Lalu Niko? biasanya kalian pergi bersama. Apakah kamu tidak membawanya juga?"
"Tidak kak." Jawab Miko cepat.
__ADS_1
"Maksud ku, Niko sangat lelah. Jadi aku pikir sebaiknya membiarkan dia tidur pulas." Miko kembali berkilah dengan tipuan ekspresi yang meyakini.
Dinda tahu adiknya sedang bertingkah aneh, tidak seperti biasanya. Namun ia tidak berpikiran aneh-aneh. Ia hanya menebak bahwa adiknya ini sedang kasmaran jadi ia ingin berkencan buta dengan kekasihnya. mungkin saja begitu pikir Dinda, sehingga Miko tak berani mengatakan sejujurnya.
"Kak, kalau begitu aku berangkat sekarang ya. Aku takut terlambat." Miko melihat jam di tangannya. Lalu ia berpamitan dengan sopan sambil melambaikan tangannya meninggalkan Dinda.
Dinda hanya menghela nafas dan mengangkat kedua bahunya karena terheran-heran.
"Kakak masih terlalu banyak pertanyaan. Untung saja dia tidak terlalu mencurigai ku pergi sepagi ini. Jika tidak dia pasti sudah melarang ku." Di depan apartemen kakaknya, Miko berujar lega. Lega dari pertanyaan kakaknya yang seakan seperti sedang mengintrogasi penjahat.
Miko mengenakan pakaian super rapi dan bersih di pagi itu, di tambah bau harum aroma parfumnya menyerbak wangi. Ia mengenakan ransel merah di punggungnya. Mengenakan kaus putih bersih dan celana hitam polos serta di balut sepatu sneakers hitam makin membuatnya terlihat tampan.
Hal ini yang membuat Dinda sedikit bertanya-tanya kenapa adiknya bertingkah seperti seorang yang sedang kasmaran.
Tak lupa adiknya ini mengenakan masker hitam menutupi sebagian wajahnya. Sehingga yang nampak ialah alis matanya yang tebal serta bulu matanya yang lentik bagai wanita. Ya Miko dan Niko memang memiliki wajah rupawan nan tampan, tetapi image yang terlintas dari keduanya adalah wajah mereka yang terlihat girly perpaduan antara pria dan wanita sehingga nampak seperti pria cantik.
Bahkan jika wajah keduanya di aplikasikan dengan make up maka kecantikannya bisa menyaingi Dinda atau bahkan mereka bisa menyamar menjadi seorang finalis kontes kecantikan.
Melihat adiknya tadi yang sedikit aneh walau tidak terlalu kentara, membuat Dinda bergidik teringat adiknya yang lain.
"Niko!" itulah yang Dinda pikirkan.
Dinda menuju ke kamar adiknya Niko yang sedang pulas. Ia ingin bertanya suatu hal tentang kakaknya Miko yang terlihat aneh pagi ini. Tebakannya adalah ia akan segera mendapatkan adik ipar, namun siapa? itulah yang hendak ia ketahui.
Di dalam kamar adiknya, dinda mencoba membangunkan adiknya dengan paksa.
"Ehm," Niko hanya mendengus. Ngantuk masih menyelimuti dirinya.
Kebiasaan adik-adiknya jika tidur tidak menggunakan baju sementara pendingin ruangan telah sampai di level maksimal. Sangat dingin, tetapi tidak bagi mereka.
"Niko!" seru Dinda sekali lagi membangunkan adiknya sambil mengguncang tubuh itu dengan paksa.
"Ehmm.."
"Bangun. Kamu tahu kemana kak mu Miko pergi? kakak khawatir dengan dia." ucap dinda pura-pura takut.
Niko? mendengar perkataan kakaknya yang khawatir, ia memaksakan diri untuk bangun.
"Ada apa kak? siapa yang kakak khawatir kan?" Niko memulai. Sambil mengucek mata ia bicara sekenanya saja.
"Kakak mu, pergi kemana? itu yang kakak tanyakan?" Dinda mengulangi pertanyaannya.
"Oh kak Miko. Dia hari ini ada janjian dengan Rio untuk mengerjakan tugas kelompok. Memangnya ada apa sih kak?"
__ADS_1
"Rio? kamu yakin pergi kerumah Rio untuk ngerjain tugas?"
"Iya kak. memangnya ada yang aneh?"
"Tentu saja aneh. Kalian sekarang mulai berbohong rupanya dengan kakak." Dinda menuntut adik-adiknya dengan ekspresi sok kecewa.
"Berbohong? berbohong seperti apa kak?" Niko bertanya serius.
"Miko tadi mengatakan bahwa dia akan pergi ke rumah Dani karena janjian mau main basket bareng dari pagi. Sementara kamu bilang dia mau ke rumah Rio karena ingin mengerjakan tugas kelompok. Katakan yang mana yang benar. Atau kalian sedang menyembunyikan sesuatu dari kakak."
"Sial. Kenapa kak Miko gak bilang-bilang kalau berbohong pergi ke rumah Dani. Kakak pasti mulai curiga." Ucap Niko dalam hati. Untuk sesaat Niko terdiam sejenak karena dia tak bisa berkata apapun kecuali ingin mengeluarkan jurusan andalannya, yakni berkilah.
"Kenapa melamun? coba jelaskan pada kakak apa yang kalian sembunyikan dari kakak?" tanya Dinda seraya membangun adiknya dari lamunan.
"Oh itu ya kak..... Ehm ....
Aku pikir ada miss comunication di sini. Iya aku baru saja ingat kalau kak Miko bilang mau ke rumah Dani main basket. Semalam kita membahasnya." Niko berkilah dan mencoba meyakinkan kakaknya.
"Yakin seperti itu?" Dinda bertanya sekali lagi dengan ekspresi yang kurang yakin pada adiknya ini.
"Tentu saja kak. Aku mana mungkin berbohong pada kakak. Aku bicara jujur!" seru Niko dengan ekspresi khasnya. Ekspresi yang mampu meyakinkan seseorang dengan mulut manisnya.
"Baiklah kalau kamu bilang begitu. Kakak percaya."
"Syukurlah kakak percaya pada ku." ucap Niko lega seraya mengelus dadanya.
"Hampir saja aku ketahuan. Kakak terlalu sensitif. Kurasa dia sepertinya mulai curiga pada kak Miko padahal biasanya tidak." Tambah Niko membatin lega.
"Ya sudah.. Kakak mau mandi dan berangkat kerja dulu. Kakak hari ini pulang pukul empat sore. Kalau kakak ada waktu, nanti kakak akan mampir ke perpustakaan. Sudah lama kakak tidak kesana, sekalian kakak mau membayar gaji kak Rina dua bulan ini." Ucap Dinda seraya ia beranjak dari kamar tidur adiknya.
"Baiklah kak. Aku juga akan ke perpustakaan hari ini kebetulan aku tidak ada kegiatan jadi aku ingin membantu kak Dinda menjaga perpustakaan," balas Niko dengan nada santai.
"Ya nanti kakak secepatnya langsung ke perpustakaan kalau sudah pulang." Tukas Dinda menutup bicara.
"Oh ya tuhan. Maafkanlah kami yang telah membohongi kakak." Ucap Niko di atas kasurnya. Ia lalu beranjak juga dari kasur empuknya mengekori kakaknya.
Ia sedikit merasa bersalah karena terlalu banyak berdalih. Namun inilah yang mereka inginkan, dalih yang sempurna untuk di lakoni bahkan menempati kata sempurna.
Inilah Niko dan Miko, si kembar yang pandai men-drama sebuah naskah.
BERSAMBUNG
Jangan lupa like + komen ya.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca novel ini.
Salam manis; UNINTENTIONAL