UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 125


__ADS_3

INIKAH PILIHANNYA


Ketika sedang berbelanja, tiba-tiba dering telepon genggam Dinda berbunyi dari balik tas merah mudanya itu.


Dinda melihat, di layar handphonenya tertulis nama Johan. Sebenarnya Dinda malas menjawabnya, jadi Dinda mengabaikannya begitu saja.


Tapi telepon itu terus berdering hingga beberapa kali.


"Kenapa nggak di angkat. Dari siapa—siapa tahu penting," ujar Ibu Yuri. Anaknya itu dari tadi hanya mengikutinya saja, tapi telepon itu agak mengganggu konsentrasinya dalam berbelanja.


"Nggak penting kok Bu. Lagi pula bukan siapa-siapa, orang nggak jelas." Dinda tidak mau menjawabnya. Oh, sejak saat dia tidak berhubungan lagi dengan Johan. Sejak saat itu juga Dinda tidak pernah mau menjawab telepon pria ini.


Minggu lalu sudah bertemu, lalu sekarang ingin menelpon lagi. Dinda sangat menjaga jarak pada Johan. Mungkin saja pria itu masih saja ingin mengatakan kebenarannya kalau Steve sudah tidak mau bertemu dengannya lagi seperti Minggu lalu yang dia katakan.


Dinda sampai kapan pun tidak akan mempercayai Johan. Karena baginya, apa yang di katakan Johan hanya sebuah bualan tak berdasar. Lagi pula, Johan hanya pria yang pernah singgah saja di hati Dinda, dan itu sudah berakhir bertahun-tahun lalu.


Saat memasuki rak-rak belanja, telepon itu tak bisa diam untuk terus berdering. Dinda lelah karena berulang kali Johan melakukannya. Di lihat Dinda panggilan telepon itu tetap atas nama Johan. Sebanyak tujuh kali pria ini memanggil, namun terus terabaikan. Dinda berusaha rasionalitas, apapun yang ingin Johan perbuat, dia tidak mau terkait sama sekali.


"Jawab saja teleponnya. Mungkin itu penting," kata Ibu Yuri lagi. Melihat Dinda ragu, Ibu Yuri mencoba meyakinkannya.


"Malas Bu. Palingan juga dari nomor nggak jelas," jawab Dinda.


"Siapa tahu itu dari nak Steve. coba kamu angkat saja," kata Ibunya lagi memaksa.


Ibu Yuri tidak tahu siapa yang menelpon Dinda, jadilah dia memaksa putrinya menjawab panggilan itu.


"Baiklah. Dinda jawab." Mau tak mau Dinda menjawabnya—walau terpaksa. "Dinda jawab dulu ya Bu panggilan telepon ini. Ibu tunggu saja di sini sebentar. Jangan kemana-mana."


Ibu Yuri mengangguk, melihat putrinya agak menjauh, bisa jadi ada hal penting yang ingin di katakan si penelpon.


"Halo. Dinda!" dari balik telepon itu, Johan lebih dahulu berkata.


"Iya. Ada apa kak Johan menelpon."


"Kamu di mana? Apa kita bisa bertemu sekarang?" katanya yang langsung berkata pada intinya.


Tebakan Dinda ternyata benar. Pasti Johan mau bertemu lagi dengannya. Oh, jujur, Dinda malas ingin bertemu dengan Johan lagi. Dia berusaha menghindarinya, tapi dia tetap saja hilir mudik di kehidupannya pasca ketiadaan Steve.


"Aku di rumah sekarang," balas Dinda agak lesu. "Memangnya ada apa kak Johan ingin bertemu dengan ku. Apakah ada sesuatu yang penting?"


"Iya. Ini sangat penting. Aku ingin bicara dengan kamu."


"Oh...... Tentang apa?" tanya Dinda lagi. Seakan bertemu dengan Johan adalah sesuatu yang paling di takuti, Dinda pelan-pelan mengeluarkan keringat cemas.


"Aku akan menceritakannya nanti. Kamu datang saja ke restoran tempat terakhir kali kita bertemu. Aku tunggu ya." Sesudah dia berkata, Johan langsung memutuskan panggilan teleponnya.


"Tapi kak—" belum usai Dinda menjawab, dia sudah...... Memutuskan teleponnya. "Ya. Kali ini aku nggak bisa menghindarinya."


Jujur, bertemu dengan Johan bagi Dinda adalah sebuah malapetaka. Di mana setiap kali pria itu bertemu dengannya, Nyonya Diana pasti akan tahu hal ini. Bisa jadi dia akan melabrak dirinya lagi seperti sebelum-sebelumnya. Sudah cukup bagi Dinda menikmati drama dari Ibunya itu.


Wajah lelah di torehkan oleh Dinda. Johan adalah musuh hatinya saat ini, bukan karena perlakuannya, tapi karena Johan kerap kali memprovokasi dirinya dan Steve. Ironisnya, Dinda selalu tidak bisa berdaya setiap Johan meminta bertemu walau Dinda beralasan hingga ribuan kali.


Dinda tidak pernah berniat membenci Johan dan keluarganya. Karena Dinda percaya, membenci hanya akan membuat dirinya tidak tenang.

__ADS_1


Justru berlapang dada dan memaafkan mereka jauh lebih baik dari pada mendendam. Terpaksa, mau tak kau Dinda harus menemuinya. Kali ini dia berharap semoga Johan tidak bersikap aneh padanya.


"Bagaimana? Sudah selesai menjawab teleponnya." Ibu Yuri yang menunggu Dinda sedari tadi, berdiri di belakang putrinya. Sambil mendorong troli belanja, wanita setengah baya ini menghampiri putrinya.


"Sudah Bu," jawab Dinda.


"Kalau sudah nelpon. Kok wajah putri Ibu kelihatan lesu gitu. Apa yang terjadi? Siapa yang menelpon tadi. Nak Steve?"


Dinda menggeleng. "Bukan kok Bu. Cuma........"


"Cuma apa?"


"Dinda sepertinya ada keperluan di tempat lain deh Bu. Ibu pulang sendiri nggak apa-apa kan?"


"Iya. Nggak apa-apa," Ibunya mengangguk. "Ada apa? Sepertinya terburu-buru."


"Oh—Dinda mau........ Ke rumah Eva sebentar." Dinda terpaksa berbohong, dia tidak mau kalau sang Ibu tahu bahwa dia bertemu Johan. Pasalnya, sang Ibu saat ini tidak menyukai kehadiran Johan apapun bentuknya.


"Dinda pergi sekarang ya Bu. Ibu hati-hati di jalan."


Saat putrinya sudah ada di dekat pintu keluar supermarket, Ibu Yuri melihatnya agak tergesa-gesa. "Semoga tidak terjadi apapun," ucapnya pelan.


****


Dari luar pintu restoran, Dinda tahu kalau pria itu tidak pernah yang tidak memilih meja di dekat dinding kaca. Dia selalu ada di sana setiap kali menunggu Dinda.


Johan memang suka memilih duduk di tempat itu, lantaran di sana dia bisa melihat pemandangan di luar. Bahkan ketika Dinda bersamanya kala itu, setiap kali Johan mengajaknya makan, tentu pria ini mengambil tempat duduk itu.


"Tidak pernah berubah."


Bahkan ketika Dinda sampai, Johan terlihat manis memperlakukan dirinya. Juga membukakan kursi untuk Dinda, memperlakukannya bak putri raja.


Dinda memberikan Johan senyum tipis, sebagai bentuk terima kasih karena sudah memberikannya pelayanan bak raja siang itu.


"Maaf jika kau terlambat. Jalan sedikit macet tadi," ujar Dinda sedikit berbasa-basi.


Dinda terlihat cantik siang itu, Johan sampai-sampai tak bisa melepaskan pandangannya dari wajah ayu Dinda.


Johan tersenyum saat Dinda berkata manis padanya. Johan juga tidak mempermasalahkan hal ini. "Tidak ada yang indah bagi ku selain kamu mau datang menemui ku," katanya dengan ucapan manis bak janji-janji penuh bualan.


Pikir Dinda, kalau bukan dia yang memaksa, mana mau Dinda menemui Johan lagi. Ah, dia benar-benar menyebalkan bagi Dinda. Kenapa dia terus saja ada di kehidupannya.


"Jadi... Dinda," Johan memulai perkataannya. Dinda memperhatikan dengan jelas sudut bibir yang sedang bergerak ragu itu. "Aku mengajak kamu datang bertemu siang ini. Sebenarnya aku......"


"Kak Johan ingin menyampaikan apa?" Dinda kembali memperhatikan raut wajah yang berkata seakan penuh keraguan itu. Johan agak bimbang, lalu sedikit salah tingkah. Aneh saja rasanya kalau Johan yang selama ini tidak pernah ragu, kini bersikap implusif. "Katakan saja kak Johan ingin mengatakan apa. Aku akan mendengarkannya."


Johan mengambil tangan Dinda, walau tadi agak canggung, namun kali ini dia mulai memberanikan diri berkata. "Mengenai itu. Apakah kamu mau kembali bersama ku."


Mendengar kata-kata Johan, Dinda menarik paksa tangannya dengan ekspresi wajah terkejut tergambar di wajahnya. "Maksud kak Johan?"


"Maksud ku. Maukah kamu kembali pada kak Johan," katanya mengulangi. "Menjadi kekasih ku. Dan kita bisa kembali seperti dulu."


Kenapa tiba-tiba dia berkata seperti itu? Bukankah dia tahu kalau aku berhubungan dengannya, maka satu keluarganya akan mencari perkara dengan ku.

__ADS_1


"Aku tahu kamu pasti terkejut. Tapi kali ini situasinya beda. Mama mulai merestui hubungan kita, dan....... Aku janji, tidak akan bertingkah kasar pada siapapun, asal kamu mau kembali pada ku," ujar Johan kembali dengan nada sedikit meyakinkan.


Dinda—merasa kata-kata ini seharusnya dia ucapkan pada wanita yang benar-benar pantas sebagai pendamping Johan. Tidak ada keraguan di dalam hati Dinda untuk menolak Johan. Karena cintanya pada Johan sebenarnya adalah Steve. Bukan Johan ini—tapi Johan kecil itu.


"Maaf kak Johan," Dinda menjawab. "Aku rasa, kak Johan sudah tahu apa jawaban ku. Kita sudah tidak mungkin bisa bersama lagi walau Tante Diana merestui hubungan kita. Karena bagi ku, masa lalu kita sudah berakhir. Tidak ada masa di mana kita bisa kembali lagi seperti dulu, lalu mengulanginya kembali. Aku sudah melupakan kisah-kisah itu bersama kak Johan, seiring berjalannya waktu."


"Maksud kamu—"


Dinda mengangguk, Johan paham apa yang di maksud olehnya. "Sejak saat kak Johan lebih memilih berada di bawah kekangan orang tua. Sejak saat itu juga aku sudah tidak berniat lagi berhubungan dengan kak Johan, apalagi memperjuangkan cinta kita. Karena bagi ku, perjuangan kita hanya berakhir pada kesia-siaan semata. Kak Johan tentu ingat, di mana saat kita ada perpustakaan kampus, Vanya dan Tante Diana melabrak ku di depan muka umum. Aku tidak bisa melupakan kejadian itu begitu saja, walau aku sendiri tidak bisa mendendam pada siapapun. Aku tidak bisa membohongi diri ku kalau aku benar-benar tidak bisa bersama kak Johan lagi. Ku mohon kak Johan mengerti apa yang aku inginkan."


"Tapi Dinda. Semua itu bisa kita perbaiki. Dan aku janji, hal semacam itu tidak akan terjadi lagi!" kembali Johan meyakinkan. Dia tidak mau kalau kesempatan baik ini, tidak di manfaatkan dengan betul. Atau dia akan menyesal seumur hidup jika tidak memenuhi ambisinya agar mendapatkan Dinda.


Dinda terus menggeleng, dia tidak mau mengambil keputusan yang salah. "Kisah diantara kita sudah berakhir. Aku harap kak Johan bisa mengerti dengan baik keputusan ku. Sekali lagi aku katakan, kita sudah tidak bisa bersama seperti dulu lagi. Aku harap kak Johan bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari pada aku. Wanita miskin tidak berguna seperti ku ini, tidak pantas berdiri di sisi putra grup Tama." Usai berkata, Dinda berdiri, kemudian meninggalkan Johan. Namun—


"Apa ini semua karena pria sekarat itu?" teriak Johan yang mulai sebal. Dia menyinggung Steve, baginya menjengkelkan kalau selalu ada pria itu yang membayang-bayangi kisah mereka.


Pria sekarat! Dinda tahu kalau Johan mengaitkan hal ini dengan Steve. Saat Dinda ingin meninggalkan Johan tadi, rasa ingin berlalunya tertahankan.


"Pertama memang karena dia. Kedua, karena aku sudah tidak mau menjalin hubungan apapun dengan kak Johan. Semoga kak Johan tidak terus keras kepala mendekati ku!" Dinda menjelaskan keadaannya, jauh lebih baik kalau dia tidak terus menerus berkata manis di depan Johan. Atau pria ini merasa masih ada tempat di hatinya.


Johan mendengus, lalu berdiri menyamai Dinda. Sementara orang-orang di sekitar restoran memperhatikan mereka berdua yang terlihat seperti sedang bertengkar. "Kamu pikir, selama tiga bulan ini dia tidak menghubungi kamu, maka dia tetap sama seperti pria itu. Kamu jangan lupa, pria China itu hanya memanfaatkan kecantikan dan kebaikan kamu saja Dinda. Setelah dia menikmati keuntungan dari tubuh kamu, maka dia akan meninggalkan kamu. Contohnya sekarang. Coba kamu pikirkan, lihat. Lihatlah sekarang. Dia saja tidak ada kabar. Bagaimana bisa kamu berharap kalau dia bisa membuat kamu bahagia. Pikirkan itu dengan baik-baik Dinda."


"Setidaknya dia jauh lebih baik dari kak Johan!" timpal Dinda.


"Apanya yang baik," sentak Johan. "Aku di banding pria tak berbudaya dan bermoral itu, tak ada apa-apanya dia. Hanya bermodalkan kekayaan..... Cuih, aku juga bisa memberikannya untuk kamu. Bahkan aku bisa membahagiakan kamu lebih dari yang dia lakukan."


"Kak Johan!" bentak Dinda. "Sebaiknya lupakan masalah kita mengenai dia sampai di sini. Aku harap kedepannya kita bertemu hanya sebagai sahabat, bukan musuh."


Dinda malas ingin berdebat dengan Johan yang agak menyebalkan siang itu. Bagi Dinda, mengalah jauh lebih baik dari pada membantah.


Saat Dinda ingin pergi, Johan menarik lengan Dinda. Dia memutarkan tubuh Dinda, hingga tubuh gadis itu menghadap di wajahnya. "Apakah tidak bisa bagi kamu kembali dan mempertimbangkan aku lagi. Apakah kamu benar-benar sudah tidak mau menjadi wanita satu-satunya dalam hidup ku?"


Naif sekali, pikir Dinda. Mengenal Johan baginya adalah sebuah kesalahan terbesar yang pernah dia lakukan selama hidupnya.


Karena geram Johan terus memaksanya, Dinda menampar wajah Johan hingga memerah.


PLAK!


Tamparan itu cukup keras, sudah cukup bagi Dinda menahan kesalnya atas sikap Johan. "Maaf, mungkin tamparan ku tidak seberapa sakit bagi kak Johan. Tapi, aku harap semoga tamparan ini bisa menyadarkan kak Johan—kalau di dunia ini bukan hanya aku saja wanita yang bisa kak Johan miliki. Di luar sana, banyak wanita yang menanti kak Johan sebagai suami mereka, bukan aku. Jadi lupakan aku, mari kita pandang masa depan kita masing-masing."


"Aku tidak butuh wanita manapun!" tandas Johan, seraya mencengkram kedua bahu Dinda. "Aku hanya butuh kamu. Hanya kamu! Tidak ada yang lain"


PLAK!


Dinda menampar wajah Johan untuk yang kedua kali. Sama seperti sebelumnya, tamparan ini membuat wajah putih Johan memerah. "Tamparan ini sebagai bentuk kepedulian ku—bahwa kak Johan bukan jodoh ku. Aku mohon, jangan bertindak memaksa."


Johan tidak merasa sakit di tampar oleh Dinda, justru dia mendengus, sedikit menyungging tersenyum. "Kamu pikir aku akan menyerah begitu saja kah atas tamparan ini?"


Tidak peduli apa yang Johan inginkan, Dinda melepas dengan kasar tangan itu, lalu meninggalkannya sendiri. Entah itu Johan malu di perhatikan orang banyak atau tidak, yang jelas, Dinda hanya berharap dia bisa sadar secepatnya.


"Kamu pikir, dengan memberikan tamparan ini akan membuat niat ku untuk memiliki berubah menjadi suatu kata menyerah kah? Kamu naif Dinda. Justru, dengan adanya tamparan ini, kamu telah meninggalkan bekas kalau hanya aku pria kamu. Camkan itu, sebentar lagi kamu akan menikah dengan ku!"


Johan sudah merasa gila karena di bayang-bayangi oleh cinta butanya. Dia merasa kalau cintanya bukan cinta yang bertepuk sebelah tangan atau cinta yang di tolak. Tapi—cintanya di rebut oleh orang lain. Maka, barang yang menjadi miliknya harus tetap kembali menjadi miliknya. Bagaimanapun juga Steve hanyalah pria ketiga dalam hubungan mereka.

__ADS_1


Inilah pilihannya, menyingkirkan Steve adalah sebuah keharusan.


BERSAMBUNG


__ADS_2