UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 116


__ADS_3

Hari-hari berikutnya, Dinda sudah kembali bekerja di kantor. Semua kembali ke semula, Dinda yang seakan tidak pernah bertemu dengan Steve.


Di meja kerjanya, tak ada sesuatu yang dia kerjakan selain menunggu kebosanan, melimpahkannya pada ballpoint yang dia pelintir-pelintir. Walau sebenarnya banyak sekali pekerjaan yang menumpuk, suwer, Dinda tidak berani menyentuhnya. Bukan karena takut atau phobia dan semacamnya, tapi mood bekerjanya belum stabil sejak pria itu belum ada kabarnya.


Di tatapinya ruangan kerja Steve, biasanya dia tersenyum saat melihat Steve kegirangan ketika mendapatkan ciuman darinya. Dari pintu kaca itu, terlihat juga Steve yang sedang serius pada pekerjaan. Oh, kadang juga dia tanpa pamrih langsung memeluk Dinda. Itulah kebiasaannya, pria yang selalu ingin bermanja-manja di depannya.


Namun Dinda sadar, semua itu hanya ilusi. Tidak ada Steve di tempat ini. Agak damai, seperti itulah Dinda saat pertama kali tidak bertemu Steve. Tapi kedamaian itu hilang seiring perginya Steve. Kedamaian hidup tanpa Steve, justru membuat Dinda semakin gundah Gundala. Seluruh hidupnya kini di bawa pergi oleh pria itu.


"Aku akan membawa Steve berobat ke Jerman. Aku harap kamu akan baik-baik saja. Tetap bekerja seperti biasa, jangan mengkhawatirkan apapun mengenai Steve."


Teringat di telinga Dinda, kata-kata ini.


Inilah kata-kata Stevie, saat dia menepuk pundak Dinda kala di rumah sakit. Niatnya untuk membawa Steve ke Jerman tak bisa di ganggu gugat. Hati kecil Dinda merasa sangat sedih, terutama bagai di sayat oleh sembilu. Tapi mau bagaimana lagi? Toh Stevie adalah kakaknya, seberapa keras Dinda menahan pria itu agar tetap di rawat di Jakarta tak akan mengubah apapun kalau dia koma.


Dinda tidak mau egois, lantaran cintanya yang besar, dia harus menahan pria itu di sisinya. Justru Dinda rela melepaskan kepergiannya berobat ke Jerman, bahkan tanpa dirinya sekalipun.


Kepergiannya membuat dunia Dinda semakin tak ada daya menjalankan hati-harinya. Dinda teringat saat prianya itu bersemangat di butik penjual baju pengantin. Di sana dia yang paling antusias melakukan pitting, dan semacamnya.


Semua sudah menjadi kenangan hari kemarin. Walau Dinda mencoba untuk melupakan kejadian nahas ini, tetap saja semua tak bisa hilang semudah yang dia pikirkan.


Sejak pagi Dinda hanya termangu. Hidupnya sudah tak ada semangat, semuanya sudah di bawa pergi oleh pria itu.


Angin darat berlalu, jam makan siang sudah tiba. Mira, kepala devisi bagian keuangan menghampirinya di meja kerja. Mengajak wanita itu pergi mencari angin segar sekalian membesarkan usus di luar.


"Hei, mau makan siang bareng?" tanyanya pada Dinda. "Mau makan tteokbokki."


Awalnya Dinda lesu, tidak ingin melakukan apa-apa. Semua terasa malas untuk di kerjakan. Berhubung Dinda teringat pada kata-kata Steve, Dinda pada akhirnya mau tak mau harus bersemangat menjalankan kehidupannya tanpa Steve.


Meskipun tanpa diri ku di sisi mu. Kamu harus tetap bersemangat menjalani kehidupan mu seperti sebelumnya. Ingat! Jangan biarkan air mata mu keluar tanpa persetujuan ku.


Oh, sungguh kata-kata itu sulit di lupakan. Jujur, kata-kata itu selalu berhasil membuat Dinda tetap semangat walau dia lesu. Kata yang di barengi dengan cubitan lembut di pipinya, itulah khas Steve. Kadang kala dia juga mencubit hidungnya, pria itu memang luar biasa.


Dinda mengangguk saat Mira mengajaknya pergi. Walau terpaksa baginya mencari makan siang. Dia tidak lapar, tidak ingin makan apapun. Hanya sekedar ikut alur saja, makan alakadarnya agar tubuhnya tidak drop sakit.


Ketika berjalan di lorong menuju keluar kantor, ada Eva yang tak sengaja berpapasan dengan Dinda dan Mira.


"Eva?" ucap Dinda pelan.


Pikir Dinda ilusi saat melihat karibnya itu di kantor. Tapi itu semua nyata, karena awalnya dia berpikir bahwa Eva masih di rumah sakit. "Kamu di sini?" tanya Dinda seraya menghampirinya. "Kamu sudah sehat? Mau bekerja?"


"Ish!" Eva mendesis. "Teman baru sembuh juga, bukannya di peluk, malah di tanya segala macam."

__ADS_1


"Oh, iya. Maaf, aku hampir lupa." Dinda memeluknya, melepaskan kerinduan setelah sekian lama tak bertemu. "Maaf jika aku jarang menjenguk kamu. Bahkan kamu keluar rumah sakit pun aku tidak tahu."


"Sudahlah!" Ucap Eva santai. "Toh sekarang aku sehat-sehat saja. Kamu lihat-kan, aku sudah sembuh." Eva memutar-mutarkan badannya, memamerkan pada Dinda bahwa dia sudah sembuh total.


"Kamu yakin sudah sembuh?" Mira menyahut. Dia yakin tak yakin saat teman sejawatnya itu memamerkan diri bahwa dia sudah sembuh. Kadang ekspresi Mira melihat Eva berubah-ubah. Seperti tidak percaya, kadang mengerenyitkan dahinya, kadang juga dia bersikap disgiusting.


"Aku benar-benar sembuh kok, mbak Mir," balas Eva. "Nggak perlu khawatir tentang kejadian ini."


Dinda melihat memang dia sudah sehat, kecuali tangannya yang masih di perban. Ada rasa syukur saat temannya itu terbebas dari maut.


"Oke deh kalau begitu," ucap Mira. "Ngomong-ngomong, ada apa kamu datang ke kantor se-siang ini?" tanya Mira lain lagi.


Eva tersenyum, dia hampir lupa maksud dan tujuannya datang kekantor. "Cuma mau mengambil barang-barang ku saja kok mbak Mir," ucapnya.


"Memangnya mau kemana?"


"Mulai hari ini aku sudah resign dari kantor Wong?" balas Eva sumringah.


"Hah, resign?" Sahut Dinda ternganga. "Kamu yakin berhenti kerja?"


"Yakin," angguk Eva. "Makanya aku datang ke sini. Aku ingin mengambil semua barang-barang ku."


Eva sekali lagi mengangguk. "Aku sudah memutuskan untuk resign dari kantor ini setelah sembuh. Kebetulan juga tunangan ku meminta ku berhenti bekerja. Setelah ini kami akan menikah, makanya aku resign."


"Ommo," Dinda memeluk Eva lagi. Kali ini dia terharu, harus berpisah dengan sahabatnya itu. "Kamu jahat. Membiarkan aku sendiri di sini."


"Sudah, jangan sedih," ucap Eva sembari mengelus punggung Dinda. "Aku harap kamu akan baik-baik saja. Nanti kalau ada kesempatan, aku akan main ke rumah kamu, sekalian mengantar undangan untuk kamu juga untuk mbak Mira," katanya menghibur.


"Good luck ya, Va," kata Mira. "Semoga kamu kedepannya sukses. Dan pernikahan kalian harmonis, everybody should be happy." Jujur, Mira agak kaget mendengar kabar baik dari Eva. Belum usai kabar sedih datang dari bos mereka, kini datang kebahagiaan lain dari teman sejawatnya.


"Terima kasih Mbak Mira," ujar Eva seraya tersenyum sedikit. Lalu, dia kembali berkata menatap kedua teman kerjanya itu. "Dinda, Mbak Mira, aku ke atas dulu ya mengemaskan barang-barang ku. Sampai ketemu lain kali!"


"Perlu aku bantu?" Dinda menawarkan diri.


"Nggak perlu. Aku bisa sendiri kok," jawabnya santai.


"Oke deh kalau gitu," balas Dinda. "Kamu juga harus bahagia. Jangan bertengkar dengan mas Dani." teriak dinda. Dinda melihat bahwa jalan Eva yang agak terpincang-pincang.


Saat dia berkata seperti itu, Eva melambaikan tangannya. Sebagai kode bahwa dia mendengarkan perkataannya. Kini sudah terlihat sangat berbeda jauh dari sebelumnya. Selama empat Minggu tidak bertemu, Eva makin berubah.


Terakhir kali Dinda ingat saat menjenguknya ketika Minggu lalu. Tidak di sangka, selama sebulan ini perubahannya makin drastis. Eva memangkas rambutnya menjadi lebih pendek.

__ADS_1


Dia agak kurus di banding beberapa waktu yang lalu.


Jika di pikir-pikir, sudah beberapa minggu ini tidak ada kabar dari Steve. Entah dia sudah sembuh atau belum, aku tidak tahu. Semoga dia sudah pulih, hanya itu harapan ku.


Walau sebentar, Dinda hanya ingin tahu kabar prianya itu. Setiap saat dia memandangi layar teleponnya. Berharap akan ada yang menghubunginya, memberitahukan prihal keadaan Steve. Tapi, hampir tiga Minggu ini tidak ada panggilan masuk darinya, kecuali—oh, Rendy. Pekan lalu dia bertanya mengenai kabarnya. Mungkin pria itu agak mengkhawatirkan keadaan Dinda pasca di tinggal Steve pergi.


Sejak pria itu tidak lagi di Indonesia, perusahaannya di limpahkan pada Zico. Dia yang mengurus semua ini, walau kadang Dinda melihat dia acak-acakan seperti orang frustasi.


Dinda tak sengaja saat melintas di depan ruangannya, Zico terlihat seperti orang yang hampir menyerah. "Jika ada tempat kerja lain, tolong beritahu aku. Aku ingin resign dari perusahaan ini."


Dia mengomel, kemarin Dinda melihat teman karib Steve itu agak berantakan. Yah, biasanya ada Steve dia agak santai, kali ini dia justru ketar ketir menangani perusahaan besar.


Dinda ingat betul ucapan Zico. Saat itu dia mengantarkan berkas laporan keuangan kepada Zico sebagai penanggung jawab kantor. Siapa sangka, pria yang di pikir Dinda anti menyerah ini, ternyata memiliki sisi lucu.


Memang pekerjaan kantor itu sulit, apalagi mengenai keuangan. Salah input data maka akan berakhir di jalur hukum. Dinda ingin terkekeh-kekeh saat mengenang kejadian beberapa waktu lalu.


Lingkungan kerja sudah kembali normal. Tidak ada lagi teror ular, teror bom atau kekacauan lainnya. Suasana kerja sudah kondusif sebulan belakangan. Walau ada saja hambatan, seperti barang logistik yang datang terlambat. Karyawan makin indisipliner, terkadang juga berkas carut marut berantakan hingga seminggu lebih tidak di tangani, bahkan menumpuk di meja Dinda. Bagaimana tidak, siapa tempatnya menaruh semua berkas itu. Apakah Steve? Oh jelas, itu tidaklah mungkin. Pria itu tidak di sini, atau..... Zico? Oh, sungguh. Kemarin saja pria itu hampir gila karena di buru waktu.


Tapi semua bisa di atasi. "Nothing is perfect!" Walau agak keteteran. Dulu semua berjalan lancar, tapi kini berubah mencekam.


Dinda dan Mira kini berada di restoran cepat saji yang tidak jauh dari kantor. Jalan sebentar, lalu tiba di sana, tidak susah menemukan tempat ini.


"Semangkuk mie ayam bakso dan jus buah all variant," kata Mira pada pelayan restoran.


Ya, karena tempat ini menjual apapun jenis makanan Indonesia, semuanya tersedia. "Kamu makan apa Dinda?" Mira menyikut-nya.


"Apa saja deh, asal enak."


"Ya sudah. Mbak, dua mangkuk mie ayam bakso-nya plus jus buahnya di banyakin es-nya," kata Mira pada pelayan.


Mira melihat Dinda terus melamun. Dia menopang dagu di tangan. Pandangannya tak lepas, menatap keluar jendela kaca restoran. "Lesu amat, sih? Kamu nggak enak badan?" tanya Mira.


Dinda menggeleng. "Cuma kepikiran sesuatu mbak."


Mira menebak, sebenarnya yang dia pikirkan adalah Steve. Mira paham, apalagi Steve sudah hampir beberapa Minggu ini tidak ada kabar. "Kamu yang sabar. Tunggu kabarnya saja. Toh kita tidak tahu dimana dia di rawat. Rumah sakit di Jerman banyak, apalagi kita belum pernah keluar negeri."


"Aku paham mbak. Mungkin memang sudah takdirnya harus seperti ini."


"Jangan nyerah dong. Kamu pasti bisa," Mira menyemangati. Terlebih, hidupnya makin suram. Tidak tega melihat Dinda seakan tanpa raga itu.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2