
"Berengsek...... Benar-benar berengsek." Teriak Inggrid marah besar.
Di depan kaca toilet restoran dia menatap wajahnya dengan seksama sembari membersihkan kue yang menutupi riasannya itu.
Nafasnya terengah-engah memburu. Terkadang ia menarik nafas panjang karena emosi jiwanya yang menggebu-gebu. Inggrid menggigit bibir bagian bawahnya menahan kesalnya pada perilaku Dinda dan adiknya tadi.
Ia mendendam, mengepal sekeras mungkin tangannya penuh kebencian.
Kesal bahkan ingin membunuh Dinda beserta adiknya saat itu juga rasanya bisa membuat Inggrid setidaknya bisa membalaskan dendamnya pada kedua kakak adik ini.
Tetapi kali ini dia sudah terlanjur malu. Dia tidak bisa berbuat apapun.
"Beneran keluarga pembawa sial. Awas saja mereka, lain kali aku akan membalasnya." Gerutu Inggrid bicara di depan kaca kamar mandi.
*****
Kehadiran Miko di dekat Dinda setidaknya menggantikan posisi Steve yang garang. Walau Miko bukan pribadi yang introver seperti Steve tetapi Miko bisa di andalkan dalam keadaan genting semacam tadi.
Namun Steve yang sedari pergi ke toilet belum juga menampakkan dirinya.
Sesekali Dinda menengok jam tangannya bahkan Dinda menghitung berapa lama pria itu pergi kamar mandi.
Sudah lima belas menit namun dia belum kunjung kembali menemui mereka.
"CK....." Dinda mendercit sebab menunggu terlalu lama.
Dinda tidak sabar ingin cepat-cepat pergi dari hotel ini. Tetapi Steve juga belum datang.
Dinda di buat bingung olehnya. Jika dia pergi tanpa mengatakan apapun pada Steve, pasti pria ini akan memarahinya. Tetapi jika menunggu Steve tidak kembali, justru dirinya makin gelisah tak sabar ingin cepat-cepat pergi. Di lema, mungkin itu yang Dinda rasakan.
"Sabar kak. Toh kita belum menikmati pesta ini dengan senang-senang." Miko menyela.
Miko tahu jika kakaknya sedang gelisah menunggu Steve kembali.
"Bagaimana kakak bisa sabar. Pak Steve dari tadi belum juga datang." Balas Dinda makin gelisah. Kakinya makin gemetaran saat pria itu belum kembali.
"Mungkin dia sedang ada suatu urusan kak. Bersikap biasa saja dan jangan terlalu berlebihan." Ujar Miko sedikit mengoceh.
"Iya! Iya! Kakak akan tenang."
Namun di tengah acara yang sedang berlangsung ini. Mungkin seumur-umur Dinda hanya akan mengalaminya dalam hidup. Mungkin sejarah akan mencatat kisah kelam ini jika berhasil di abadikan.
Mungkin pepatah yang mengatakan "LEPAS DARI MULUT HARIMAU KINI MASUK KE MULUT BUAYA" ada benarnya.
Terlepas dari cibiran Nyonya Diana yang sok sosialita di tambah mulut pedas Inggrid seakan sudah cukup membuat telinga Dinda panas mendengarnya.
Kini Dinda di hampiri oleh seorang pria yang berbahagia meriah di tengah acara pertunangannya. Jelas-jelas pria ini ingin memancing keributan. Siapa lagi jika bukan Johan cs.
Entah mungkin di tubuh Dinda di pasang sejenis GPS atau semacamnya, Johan bisa saja tahu keberadaan wanita ini kemanapun dia berada.
"Hai Dinda!"
Johan menyapa dengan senyum sumringah. Dinda yang sedang berdiri tidak jauh dari dirinya bisa di lihatnya karena wanita ini mencuri perhatian semua orang.
Sebenarnya Dinda malas ingin hadir di acara seperti ini. Bukan apa-apa, hanya saja gosip yang mengatakan dia sebagai wanita penggoda masih melekat dalam imagenya.
Dinda sebisa mungkin ingin bersikap tidak mau menanggapi ucapan Sampah seperti itu. Karena orang-orang sudah terlanjur menanggapinya begitu Dinda pada akhirnya pun tidak ingin terlalu memikirkan perkataan orang tanpa alasan.
Tetapi karena Tuan Tama sendiri yang mengundang langsung, mau tak mau Dinda harus hadir. Terlebih tadi Steve mengatakan bahwa dirinya adalah tunangannya.
Dinda ingin membantah ucapan itu, namun Steve telah mengkode dirinya agar ikut alur permainan yang telah ia buat.
Sapaan Johan tadi, Dinda tanggapi biasa saja. Tidak ada yang spesial bahkan Dinda berusaha menghindar perlahan.
Miko yang ada di dekat kakaknya itu sedikit teringat pada Johan. Mantan kekasih kakaknya di masa silam. Miko hanya memperhatikan gelagat Johan.
Miko tidak ingin bertindak tetapi jika ada hal lain yang memungkinkan, bisa saja dia jauh lebih berguna di saat yang sedang genting.
Melihat dinda tidak begitu menanggapinya membuat Johan paham.
__ADS_1
Paham jika Dinda sudah tidak sudi melihat mukanya lagi. Terlebih kejadian waktu itu saat di eskalator mall.
Johan berusaha bicara menjelaskan situasi sulit ini.
"Dinda...... Aku tahu kamu tidak ingin bertemu lagi dengan ku. Tetapi aku ingin menjelaskan kejadian waktu itu saat di mall saban hari itu. A-aku......
Aku tahu kamu pasti membenci ku, tetapi itu terjadi tidak di sengaja. Kamu pasti memahami situasi itu kan."
"Sudahlah kak Johan. Lupakan masalah itu. Aku tidak mengingatnya lagi." Pungkas dinda memotong ucapan Johan.
"Iya aku tahu kamu tidak ingin mengingatkan kejadian itu. Tetapi aku benar-benar ingin meminta maaf atas kejadian itu. Aku merasa bersalah jika tidak kamu maafkan."
"Aku sudah memaafkan kak Johan. Sebagai gantinya jangan pernah mendekati maupun mengganggu hidup ku lagi. Hanya itu yang aku inginkan." Tukas Dinda bicara ketus.
"Aku mengerti. Dan terima kasih sudah hadir di acara sialan ini. Kamu pasti tahu, aku tidak pernah menyukai Vanya sampai kapan pun. Dan kamu masih menjadi wanita yang paling kak Johan cintai. Sekali lagi terima kasih sudah datang dan menjadi penyemangat ku!" Ucap Johan sedikit merasa sedih bercampur lega. Seolah dia melakukan semua ini dengan terpaksa.
Johan sedih karena dia mengikuti alur pernikahan politik keluarga Tama dan keluarga Vanya. Sementara dia lega karena Dinda datang di acara penuh paksaan ini.
"Maaf kak Johan. Aku datang kesini bukan karena sengaja atau ingin mengucapkan selamat kepada kakak. Tetapi aku kesini karena tidak sengaja bertemu dengan Tuan Tama di lobby hotel. Dia sengaja mengundang ku sebagai tamu kehormatan karena aku datang bersama tunangan ku. Jadi aku harap kak Johan jangan terlalu berpikir berlebihan melihat kedatangan ku kemari."
"Tunangan!" Ucap Johan mengulangi bicara Dinda.
Ekspresi wajah Johan berubah nampak jelas seperti sedang galau, stres dan frustasi. Semuanya berpadu menjadi satu.
Johan memegang kepalanya erat-erat sementara matanya membelalak tajam seakan tidak terima atas ucapan Dinda. Johan tidak mudah mempercayai semua ini.
"Tunangan..... Tunangan..... Siapa tunangan Dinda!" Johan bertanya pada dirinya sendiri.
Perasaannya saat itu berkecamuk saat mendengar kata tunangan.
Dia tidak rela jika wanitanya di miliki orang lain. Dan sejujurnya Johan masih menginginkan Dinda seorang disisinya. Tidak ada wanita lain dalam hidupnya selain Dinda.
Otak Johan berpikir keras. Dia berusaha menebak siapa tunangan Dinda. Terlintas dalam pikirannya wajah Steve yang di sebut sebagai tunangan.
"Mungkinkah dia...." Ucap Johan menebak.
Sesungguhnya Johan menebak dengan benar. Tidak ada yang lain yang berani mengaku tunangan Dinda selain Steve. Saat Steve mengaku sebagai tunangannya saat itu, Johan sejujurnya tidak mempercayai ucapan pria itu.
Raut wajahnya terlihat sangat frustasi. Sembari tangannya yang kekar memegang kedua bahu Dinda, Johan bicara ingin memastikan kebenarannya.
"Katakan..... Apakah pria bernama Steve itu adalah tunangan mu. Katakan Dinda...." Ucap Johan terlihat marah besar.
Dia mengguncang tubuh Dinda demi meminta kejelasan.
"Tidak ada hubungannya dengan kak Johan siapa dia. Yang pasti aku sudah bahagia sekarang!" Jawab Dinda kembali bersikap ketus.
"Kenapa.... Kenapa ..... Kenapa harus dia. Kamu tahu kan bahwa aku tetap mencintai Dinda. Seumur hidup akan aku lakukan apapun untuk mu. Tetapi Mengapa kamu harus bertunangan dengan dia!"
Johan bertindak sarkasme. Orang-orang yang ada di sekelilingnya tidak ia pedulikan walau semua mata tertuju pada mereka berdua.
"Kak Johan!" Pekik Dinda emosional.
"Kakak sudah bertunangan dengan Vanya. Aku mohon perhatikan tunangan kakak."
"Aku tidak pernah menganggap dia sebagai tunangan ku. Selamanya Dinda lah yang kakak cintai. Ku mohon kembali bersama kakak seperti dulu!" Seru Johan bicara membantah.
Johan bertindak seakan tidak ada lagi urat malu. Semua tamu undangan memperhatikan mereka tetapi dia tidak menggubris bahkan memperdulikan mereka.
Urusannya dengan Dinda jauh lebih penting di banding cibiran orang yang penuh tanda tanya. Mereka bertanya-tanya mengapa dirinya yang sudah bertunangan tetapi masih mengganggu wanita lain?
Jujur semua orang ingin tahu seperti apa hubungan mereka.
"Dinda! Aku mohon kembalilah bersama kak Johan. Aku bersedia melakukan apapun untuk mu. Aku bersumpah atas nama diriku sendiri, jadilah istriku!" Seru Johan sedikit memaksa.
Dinda berusaha melepaskan genggaman tangannya. Dia tidak nyaman saat itu. "Kak Johan! Lepaskan aku! Orang-orang melihat kita!"
"Aku tidak mau melepaskan genggaman ku sebelum kamu mau menjadi istri ku."
Melihat tindakan pemaksaan yang di lakukan oleh Johan kepada kakaknya. Miko benar-benar sudah naik pitam terlebih dia benar-benar geram membabi buta saat itu.
__ADS_1
Miko kali ini tidak tinggal diam melihat tindakan Johan yang sudah di atas ambang wajar. Dengan sigap dan ingin melindungi kakaknya, Miko menjagal dan menarik paksa cengkraman tangan Johan di bahu kakaknya. Miko melepaskan pegangan itu dengan paksa memuncaki amarah.
"Jangan bertindak sembrono. Kakak ku sudah mengatakan bahwa dia tidak ada hubungannya lagi dengan anda. Jangan bersikap sok mendramatisir." Pungkas Miko membela Dinda.
"Kamu bocah kecil. Tidak usah ikut campur pada urusan ku." Balas Johan menanggapi Miko dengan kasar.
Johan tidak peduli siapa Miko, baginya tidak penting meladeni cecunguk kecil ini.
Miko, jelas dia tidak terima di perlakukan begitu. Walau dia patuh kepada orang yang lebih tua darinya bukan berarti dia tidak pandai berkelahi.
Miko geram pada tindakan Johan yang monopoli kakaknya dan menganggap remeh dirinya.
Tanpa pikir panjang Miko langsung menarik kerah baju Johan dan memukul wajahnya dengan Bogeman keras.
BUGH...... BUGH... BUGH.....
Miko memukul wajah Johan dengan kekuatan penuh.
"Dasar pria berengsek. Jangan harap Lo bisa deketin lagi kakak gue. *** Lo. Anji** lo." Pekik Miko marah menggebu sembari memukul Johan membabi buta.
Seketika tubuh Johan langsung tersungkur di lantai saat pukulan mentah Miko mendarat di wajahnya yang tirus itu.
Johan, dia menganggap dirinya pria dewasa. Mana mungkin dia bisa kalah oleh anak kecil. Sehingga sikap kejam naluriahnya mulai keluar secara natural.
"Lo itu bocah kecil gak usah sok-sokan ikut campur. Berani Lo sama gue. Cari mati Lo!" Teriak Johan membalas pukulan pada Miko penuh amarah.
Johan membalas pukulan Miko sama kerasnya seperti yang di lakukan anak itu tadi. Tetapi Miko juga bukan tipe yang lemah. Justru Miko semakin membabi buta brutal membalas setiap pukulan yang di berikan oleh Johan.
"Anji** Lo. Ba*i Lo." Teriak Miko mengoceh sembari memukul Johan dengan ganas.
Mereka adu gulat dan saling adu jotos. Semua orang melihat kejadian ini. Mereka ternganga melihat keduanya adu jantan.
Dinda sebagai kakak Miko tidak tinggal diam. Dia berusaha menghentikan perkelahian keduanya.
"Miko.... Kakak bilang hentikan..." Ucap Dinda sembari memeluk punggung adiknya.
Apalagi Miko dari jumlah kekuatan dan pukulan menang telak dan berhasil memukul wajah Johan hingga babak belur.
"Tidak kak. Aku sudah lama menginginkan hal ini. Dan ini waktu yang pas untuk membalas pria bajingan ini kak. Lepaskan aku kak..... Aku akan menghajar pria berengsek ini." Balas Miko memberontak.
"Sudah cukup Miko. Jangan melakukan hal ini lagi!" Seru Dinda kembali menyeringai keganasan adiknya.
Wajah Miko sudah sedikit memar tetapi dia tidak merasa sakit. Miko merasa puas melakukan semua ini.
Sementara Johan justru yang menjadi korban kebrutalan Miko. Bibirnya berdarah, wajahnya memar bahkan sedikit terasa perih bagi Johan menerima kenyataan bahwa dia di kalahkan anak kecil.
Acara mereka kacau. Semua tamu undangan mengerumuni mereka.
Nyonya Diana dengan wajah paniknya menghampiri kejadian ini di ikuti oleh Vanya.
"Johan.... Johan sayang..... Apa yang terjadi." Tanya nyonya Diana. Sembari dia memegang wajah Johan yang memar, nyonya Diana berusaha membantu anaknya itu bangkit dari lantai.
Nyonya Diana menatap wajah kakak dan adik itu. Tatapan benci menghiasi penglihatannya pada Dinda dan Miko.
"Kalian berdua belum juga puas sudah merusak dan mengacaukan acara keluarga Tama." Tuntut nyonya Diana bicara mengoceh emosi.
"Yang mengacaukan acara kalian bukan kami. Tetapi anak anda yang memulainya. Tanyakan apa yang sudah dia lakukan pada kakak ku." Balas Miko ikut emosi.
"Kamu ini bocah cecunguk. Sudah berani bicara tidak sopan pada orang tua. Seperti apa ibu mu mengajarkan kalian bertata Krama. Sok bertindak bagai vandal. Cari masalah kalian dengan keluarga Tama!"
Miko sembari menahan perih di bibirnya sedikit kesal pada ucapan nyonya Diana yang menyalahkan dia dan kakaknya.
"Jangan pernah membawa ibu ku dalam masalah ini. Bahkan ibu ku jauh lebih baik dalam mengajarkan anak-anaknya cara memanusiakan orang lain dengan benar. Bukan seperti anak anda yang masih menggoda wanita lain di tengah acaranya. Tolong anda ajarkan lebih dulu anak anda bicara bertata Krama dengan baik sebelum mengatakan orang lain!" Miko berbicara sarkasme.
Dinda berdiri di belakang adiknya itu. Dia memegang bahu adiknya dari belakang. Dia mencoba menengahi emosi adiknya.
"Miko. Sudah jangan di perpanjang. Sebaiknya kita pergi dari sini." Ujar Dinda menenangkan adiknya.
"Tidak bisa kak. Sudah cukup bagi keluarga ini menghina kita. Kita tidak bisa tinggal diam terus begini." Pungkas Miko bicara kebenaran.
__ADS_1
Semua orang yang memperhatikan mereka cukup terkesan melihat Miko yang berani menentang keluarga Tama. Semua orang mengerumuni mereka demi mendapat informasi apa sebenarnya yang terjadi diantara mereka.
BERSAMBUNG.