UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 90


__ADS_3

"Kamu kenapa bisa tiba-tiba datang?" tanya Dinda. Mereka berdua kini tengah berada di trotoar jalan di sekitar pusat perkantoran dan pusat perbelanjaan. "Kamu nggak lagi jadi menguntit-kan?"


Steve membalik badannya, Dinda mulai berulah baru di hari pertama bekerja pasca liburan. "Kamu kenapa bisa bertemu dengan si brengsek itu!"


Dinda berlagak polos, dia memaniskan wajahnya agar Steve tidak menghakiminya. "Bukan apa-apa, hanya tidak sengaja bertemu!" jelas Dinda. "Lagi pula dia- kan hanya ingin ikut makan bersama, itu saja, tidak lebih!"


"Aku tidak suka jika kamu dekat-dekat orang lain," Steve mengingatkan. "Begitu susahnya mendapatkan kamu, tiba-tiba datang pria lain lalu ingin mengklaim kamu sepihak. Sehebat apa mereka beraninya melawan ku!"


"Kamu cemburu?"


Steve memegang kedua bahu Dinda. "Kamu pikir aku ini pria macam apa yang akan tinggal diam jika ada pria lain mendekati kekasihnya," Steve meninggikan suaranya. "Biarpun aku suka marah-marah dan kasar, aku juga tidak rela jika barang ku di sentuh oleh orang lain!"


Dinda terkekeh. "Kenapa orang seperti kamu ada di dunia ini?" Ujar Dinda berkata lembut. "Kamu selalu datang di saat yang tidak terduga."


"Huh," Steve memalingkan wajahnya. Dia sedang marah karena cemburu pada Rendy, tapi Dinda malah meledeknya. "Seharusnya aku menghajarnya tadi!" Steve menggerutu.


"Kamu jangan marah dong," rengek Dinda. "Kamu semakin tampan kalau bersikap seperti ini," Dinda menggoda. "Aku berkata jujur, kamu makin tampan saat marah."


"Jangan menggoda ku," kata Steve sebal. "Aku tidak mudah di rayu di saat-saat seperti ini," Steve memalingkan wajahnya, dia merajuk cemburu.


"Aku nggak menggoda, memang kenyataannya kamu tampan saat marah," lirih Dinda merayu. "Aku tulus mengatakan ini, dari lubuk hati ku yang paling dalam."


Steve membalikan badannya, mendengar kata-kata Dinda, dia tidak jadi marah berkepanjangan. "Kamu yakin jika aku tampan saat marah," Steve memulai aksinya. "Ayo katakan sekali lagi, apa kamu menyukai pria pemarah seperti ku?"


"Selalu menyukai, lebih dari apapun," jawab Dinda. "Perlu bukti?"


"Itu sangat di perlukan," Steve tersenyum, dia menantikan hal ini.


Dinda menjinjit, dia mencium pipi Steve. "Apakah itu sebuah bukti?"


Steve tersenyum senang, Dinda membuktikan bahwa dia benar-benar mencintai Steve. "Terima kasih," ucap Steve terlihat bahagia. "Ciuman ini bukan hanya bukti saja, tapi sebuah tanda bahwa kamu benar-benar menyukai pria kasar seperti ku," Steve tersenyum puas. Dia merasa senang, Dinda berinisiatif menciumnya.


"Kalau nggak marah lagi, ayo kita kembali ke kantor. Jam kerja sudah di mulai," Dinda mengingatkan.


"Masalah kantor ada Zico yang menanganinya, mari kita jalan-jalan sejenak," elak Steve. "Aku bosan kerja setiap hari."


"Memangnya kamu mau membawa ku kemana?"


Steve tidak menjawab, dia menarik Dinda, membawa gadis itu mengikuti kemauannya. Steve menuntun Dinda menyusuri trotoar jalan yang ramai pedestrian-nya.


Semua orang berlalu lalang, mereka berada di pinggir bangunan di sepanjang toko-toko yang menjual berbagai macam barang di pusat kota.


Di bawah pohon besar di bahu jalan, Dinda berhenti sebentar. Dia hampir melupakan bagian terpenting yang pernah dia ingat.


"Besok adalah perayaan Imlek, kamu nggak berniat untuk merayakannya?" Ucap Dinda. "Apa kamu lupa pada perayaan Imlek tahun ini?"


"Untuk apa aku merayakan hal-hal semacam itu," jawab Steve. "Nggak ada yang penting dari acara semacam itu, hanya buang-buang waktu ku saja."


"Kenapa kamu selalu bertindak kontra dengan apa yang kamu miliki," Dinda memahami Steve. "Apa nggak sebaiknya kamu sesekali mengikuti festival Imlek ini?"


"Nggak mau!" bantah Steve. "Kecuali kamu temani aku, baru aku mau ikut acara nggak penting seperti ini," rengek Steve seperti anak kecil. "Kalau kamu enggan, tidak masalah. Tapi jangan bahas kebudayaan negara lain di sini."


Dinda menggeleng, Steve makin kekanakan semenjak mereka pacaran. "Dari pada kamu manja-manjaan seperti anak kecil, lebih baik kita kembali bekerja saja," saran Dinda. "Kita lupakan masalah Imlek, lebih baik fokus pada pekerjaan ketimbang membahas hal-hal yang nggak kamu suka."


Steve men-decak sebal, Dinda selalu mengingatkannya dengan hal-hal yang membosankan. "Kita bahas masalah kantor nanti, mari ikut aku," ajak Steve. Dia membawa Dinda ke suatu tempat. "Jangan tanya kita akan kemana, aku benci menjawab," peringat Steve.


Langkah kakinya membawa Dinda memasuki sebuah toko besar yang bertuliskan aksara China di bagian luar toko.


Toko yang menjual perlengkapan pakaian dan hiasan khas China.


Bangunan yang berdiri di tengah pusat kota dengan gedung-gedung tinggi mengapit toko khas China ini.

__ADS_1


"Kita kenapa masuk ke sini?" tanya Dinda. "Apa yang di cari di sini?"


"Karena kamu ingin aku mengikuti hari Imlek, maka aku putuskan untuk merayakannya bersama kamu!" jawab Steve. "Aku bersedia melakukannya demi kamu."


Dinda mengerutkan alisnya, pria ini tidak labil dalam mengambil keputusan.


Ketika masuk kedalam ruko ini, pemilik toko berkacamata ini menyambut hangat. "Nihao," ujarnya. "Mencari barang apa? Mungkin kami bisa membantu anda."


"Tolong berikan calon istri ku QIPAO yang cantik di toko ini," perintah Steve pada pemilik toko. Mereka berdiri di dekat meja kasir yang tingginya sebatas pusar. "Ingat! Yang paling cantik dan paling mahal. Aku ingin QIPAO terbaik yang pernah di miliki toko ini, di berikan pada calon istri ku!" tegas Steve sekali lagi.


"Tenang saja Tuan," jawab pemilik toko. "QIPAO di toko kami adalah kualitas terbaik yang pernah ada. Tidak ada toko lain yang menjual busana serupa dengan toko kami, bahkan di seluruh Indonesia, hanya toko ini yang memiliki QIPAO terbaik," jelas pemilik toko.


"QIPAO itu apa?" tanya Dinda pelan.


"QIPAO itu adalah baju tradisional Tiongkok Nona," jawab pemilik toko kilat. "Baju ini biasa di gunakan oleh gadis-gadis China di jaman pra-modern," jelasnya.


"Benar apa yang di katakan oleh Nyonya pemilik toko," Steve menjentikkan jarinya, dia setuju dengan Nyonya toko. "Aku ingin istri ku terlihat cantik mengenakan QIPAO hari ini!"


Pemilik toko terkekeh melihat aksi Steve. "Sungguh pasangan yang romantis," pujinya.


Dinda ber-oh pelan, dia sedikit tahu tentang kultur China. Tentang QIPAO, walau pertama kali baginya mendengar tentang busana ini, Dinda harus memahami karakter dari baju tradisional China ini.


"Tuan dan Nyonya ingin memesan QIPAO berwarna apa?" tanyanya lagi. "Jika saran kami, QIPAO yang sering di pakai dan di gemari oleh wanita Tionghoa biasanya berwarna merah cerah atau berwarna biru terang. Hampir seluruh gadis di tanah Tiongkok menyukai kedua warna ini," jelas pemilik toko sekali lagi.


Steve melirik bentuk tubuh Dinda. Dia mengurut dagu, bingung karena Dinda terlalu cantik sehingga sulit memilih warna QIPAO yang cocok untuk gadisnya.


"Bagaimana kalau menggunakan QIPAO biru, aku rasa kamu cocok dengan warna ini?" Steve menyarankan.


"Pilihan yang sangat cantik," sahut wanita pemilik toko sambil tersenyum. Matanya menghilang saat dia memaksa tersenyum ramah. "Itu adalah warna kesukaan dan juga warna cantik yang sesuai dengan tubuh Nona."


"Saran anda bagus," sambar Steve senada pada Nyonya toko.


"Bagaimana? Apakah kamu mau menggunakan QIPAO biru, atau kamu memiliki selera warna yang lain?" Steve memastikan, dia tidak bisa memaksa kehendak Dinda dalam memilih busana.


"Uh, benar-benar pasangan yang sempurna," timpal empunya toko takjub. "Pilihan warna yang cantik di padukan dengan kulit yang indah dan lekuk tubuh yang manis. Di jamin suami anda pasti tak akan melirik wanita manapun."


"Anda terlalu memuji Nyonya," Dinda tersipu. Wanita toko ini sangat cocok dengan karakternya yang ramah.


Bahkan kami belum menikah. Steve dengan gampangnya berkata lelucon, mengakui kepada semua orang tentang hal-hal konyol ini, gerutu Dinda pelan


Dinda dan Steve menunggu pakaian QIPAO tiba, mungkin karyawan di toko ini sedang mencari QIPAO yang pas untuk Dinda.


"Ngomong-ngomong, kalian ini apakah ada keturunan China?" Nyonya toko berbasa-basi.


"Tidak," Steve merespon cepat. "Kami asli Indonesia. Kebetulan besok adalah perayaan Imlek, jadi kami ingin mencoba sesuatu yang berbeda dari perayaan tahunan ini," jelas Steve.


"Oh, berusaha mempelajari akulturasi kebudayaan negara lain rupanya," pemilik toko mengangguk, dia paham maksud Steve. "Aku pikir salah satu dari kalian ada yang berdarah China," pungkasnya menerka.


"Kami tidak ada darah China sedikit pun," Steve kembali menjawab. "Mungkin Nyonya hanya menelaah dari segi fisik dan salah mengira."


Dinda menyikut Steve, dia bingung kenapa pria itu berbohong tidak mengakui identitasnya.


Steve hanya menyungging bibirnya, Dinda terlalu polos jika harus mengakui darah apa yang mengalir dalam dirinya.


"Oo, aku pikir kalian beretnis Tionghoa," pemilik toko berdecak kagum. "Sedikit jarang melihat pria tampan dan wanita cantik seperti kalian datang ke toko ini. Apalagi kalian agak terlihat mirip Chinese, aku hampir salah mengira," dia memberitahu.


Steve tak begitu menghiraukan gaya bicara wanita Tionghoa ini. Sementara Dinda memberikan senyum ramah atas apresiasinya dalam memuji.


Hingga tiba pakaian yang di beli, QIPAO berwarna biru terang dengan modifikasi renda bunga-bunga menghiasi kain polos ini.


Di toko ini, Steve meminta Dinda mengganti pakaiannya dengan pakaian QIPAO.

__ADS_1


Setelah Dinda menggunakannya, memang pesona Dinda tak bisa di lepas oleh sepasang mata yang melirik.


"Nah, sangat cantik dan cocok dengan penggunanya," puji pemilik toko. "Perpaduan yang sempurna, perfecto."


Steve termangu, perhatiannya pada Dinda tak bisa di lepaskan. Kulit putih bersihnya sangat nyata indahnya dengan QIPAO yang cantik.


Berkat bantuan pemilik toko, Dinda di dandan ala wanita China sungguhan walau sebenarnya Dinda tidak mengerti budaya negeri asal QIPAO ini.


"Terima kasih nyonya atas bantuan anda," Dinda dan Steve beranjak, meninggalkan toko beserta pemiliknya yang sedang terpukau.


"Xie Xie," balas empunya toko. "Have a nice day," teriaknya pada Dinda dan Steve yang sudah berlalu meninggalkan daun pintu kaca yang tebal.


"Pasangan yang membuat orang lain iri," ungkap pemilik toko yang diam-diam memperhatikan gelagat Dinda dan Steve yang mempesona.


Tepat di depan toko, mereka menuruni anak tangga beberapa langkah. Steve dengan matanya yang tak bisa menolak pesona Dinda, sekali lagi melihat betapa cantiknya Dinda menggunakan QIPAO ini.


"Jangan melirik aku terus," kata Dinda menegur. " Aku malu kalau kamu menatap ku dengan tatapan tajam seperti itu."


"Aku akui," Steve berkata. "Selain cantik, kamu juga sangat indah. Bahkan mata ku saja tak bisa menipu ku untuk tidak bisa melirik kamu walau hanya sedetik," rayu steve.


Dinda mendengus. "Kamu terlalu berlebihan dalam menilai ku," ucap Dinda merendah. "Kamu pernah bilang, kalau mencintai seseorang tidak harus dari fisiknya. Tapi dari hatinya, itu yang selalu aku ingat dari kata-kata yang terucap dari mulut kamu," Dinda mengingatkan.


Steve tersenyum, gadis ini memiliki hal-hal tak terduga dalam kehidupannya. "Mari kita makan," Steve melirik jam tangan di balik jas hitamnya. "Aku ingin makan dengan gadis manis ku hari ini."


"Tapi aku baru saja makan bersama Eva," kilah Dinda.


"Temani saja aku makan," Steve memegang lembut tangan Dinda. "Aku akan senang jika makan di temani oleh kekasih ku yang paling manis," Steve mengedip matanya sambil menarik lembut dagu Dinda.


Kata-kata manis Steve, memang sulit untuk di tolak. Dia ahli membuat Dinda sulit menerima kenyataan bahwa Dinda diam-diam makin mencintainya.


Steve membawa Dinda menuju ke restoran khas China. Dia mengajak Dinda makan mie dandan yang terkenal pedas.


Di restoran ini, mereka di sambut layaknya pengunjung dari China apalagi Dinda mengenakan QIPAO, orang-orang terpesona.


Steve menyiapkan kursi untuk Dinda, dia sangat romantis.


"Aku kurang nyaman dengan orang-orang yang melihat ku," ucap Dinda pelan. "Aku sedikit risih melihatnya."


Steve yang duduk di hadapannya, memegang tangan lembut Dinda. Steve mencoba menyakinkan dirinya bahwa dia memang cantik meskipun tak patut untuk di lihat oleh semua orang di dalam restoran. "Jangan pikirkan tentang mereka. Anggap saja hanya ada kita berdua disini."


"Tapi,"


"Jangan bahas hal seperti ini," potong Steve berbicara. " Kamu memang cantik, aku sampai sulit melihat celah kebosanan untuk menatap wajah kamu."


"Kenapa? Memangnya aku terlalu bosan untuk di lihat?"


"Kamu bukan bosan untuk di lihat," balas Steve. "Tapi kecantikan kamu sungguh tidak bisa di tolak!"


Dinda memandang wajah Steve yang sedang makan. Dinda tersenyum dikit ketika bibir merah Steve makin memerah saat memakan mie dandan yang pedas.


"Bahkan ketika kamu makan pun, terlihat sangat tampan," puji Dinda yang terhanyut dalam perasaan yang mendalam.


"Jika kamu terus menatap ku seperti itu, aku takut kamu tidak bisa berpaling dari wajah ini," celetuk Steve menggombal.


Dinda tertawa. "Itulah yang aku inginkan, tidak bisa melupakan wajah kamu," balas Dinda. "Bahkan tidak ada kata bosan saat aku melihat kamu tidak tertawa sedikit pun."


"Dari pada kamu terus menatap calon suami mu, sebaiknya kamu mencicipi mie dandan ini," kata Steve seraya menyodorkan garpu yang di selimuti mie penuh dengan cabai.


"Aku tidak kuat makan yang pedas," tolak Dinda. "Kamu saja cukup!"


"Ya sudahlah," Steve berhenti bersikap. "Kamu tatap wajah ku sepuasnya tak masalah, asal kamu menyukainya."

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2