UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 29


__ADS_3

Hari ini adalah hari Sabtu. Hari akhir pekan yang seharusnya pekerja kantoran di liburkan. Tetapi tidak untuk kantor ini. Kantor Steve masih membutuhkan pegawainya untuk bekerja di hari sabtu.


Semua pegawai tetap bekerja namun jam kerja di kurangi tidak seperti hari biasanya. Dimana bekerja di hari Sabtu pulang kerja lebih awal dari jam kerja di hari-hari umum. Namun terkadang juga pegawai kantor disini bekerja hingga larut malam dan ada jam kerja tambahan. Dalam arti lain adalah lembur. Tetapi gaji yang di bayar sesuai dengan apa yang di kerjakan. Timbal balik yang sepadan.


Sepagi ini suara riuh kantor sungguh luar biasa bagai pasar. Hentakan pantopel dan suara hak tinggi terdengar amat berisik.


Suara manusia begitu ramai bagai penjaja buah di pasar apung. Sedikit mengganggu tetapi inilah manusia. Makhluk yang berinteraksi sosial dengan sesama sejawatnya.


Jam kerja belum masuk, sehingga banyak pekerja yang sedang berlalu lalang di lobby kantor.


Dinda masuk ke lobby kantor dengan suasana biasa saja. Tak ada yang spesial hari ini kecuali ia sedikit memikirkan adik-adiknya yang entah bagaimana hari ini keadaannya.


Di lobby kantor, Dinda menyusuri lantai keramik menuju lift kantor untuk meraih dirinya agar tiba di lantai tempat di mana ia bekerja.


Dari belakang tubuhnya terdengar suara seseorang sedang memanggilnya dengan nada semangat pagi yang penuh antusias.


"Hei dindin!" seru suara itu. Jelas Dinda tahu bahwa pemilik suara cempreng ini seorang wanita yang cerewet.


Dinda menengok ke sumber suara karena masih belum jelas siapa yang memanggil dirinya walau ia mengenal suara yang familiar ini.


"Eva!" gumamnya dalam hati.


"Ku pikir siapa yang memanggil ku. Ternyata hanya Eva," Dinda menduganya namun tak berani menyebut, takut salah mengira.


Jarak keduanya berada di lingkaran lima meter jauhnya. Eva menghampiri temannya yang ada di depan matanya. Ekspresi pagi yang ceria nan gembira menghiasi wajah Eva yang terlihat segar dan wajah yang mulai di lakukan peremajaan kulit.


"Astaga! kamu cantik sekali hari ini din." Eva memuji.


"Kamu juga cantik hari ini? apalagi riasan mu hari ini fresh natural. Cocok dengan gaya mu yang trendi," balas Dinda ikut memuji kembali sahabatnya.


Ia tahu Eva sudah melakukan perawatan kulit, timbal baliknya adalah ia ingin di puji bagaimana riasan yang ia gunakan hari ini. Apakah cantik atau tidak? maka sesuai dengan apa yang Dinda lihat, ia mengatakannya walaupun benar adanya. Dinda paham pada tingkah Eva yang centil kemanjaan.


"Mulai meledek!" Eva menggerutu pura-pura tak senang.


Sesungguhnya ini yang ia harapkan. Pujian akan kecantikan dirinya yang tiada Tara dan paripurna bagai putri kecantikan dunia. Namun ia berusaha realistis agar tak nampak bahwa ia mengharapkan sebuah pujian dari Dinda yang berkata jujur.


"Hei pagi-pagi sudah berpikir negatif saja. Aku serius Lo kalau kamu hari ini cantik. Cantik banget malah." Lanjut Dinda memuji.


"Memang hari-hari biasanya aku nggak cantik gitu?" Eva mulai sewot-sewot manja.


"Sudah kuduga pasti dia akan mengatakan bahwa aku cantik. Untung wajah ku secantik Emma Watson sehingga tunangan ku tidak akan berpaling dari ku. Sungguh Dinda ku yang luar biasa baik." Ucap Eva narsis pada diri sendiri. Batinnya bicara seakan dia memiliki kelebihan di atas rata-rata wajar untuk kaum wanita.


Dinda terkekeh melihat tingkah sahabat seperjuangannya ini yang begitu centil ingin di perhatikan lebih.


"Bentar-bentar!! ada sesuatu yang menyangkut di sepatu ku," ucap Vanya menyela." Ia berhenti sejenak untuk memeriksa apa yang terjadi di sepatu heels hitamnya.

__ADS_1


Eva mendapatkan benda itu. Sebuah kertas masuk kedalam heels- nya.


Dinda berlalu dan meninggalkan Eva yang berjalan seimbang dengannya tadi. Ya karena Eva selalu bertindak manja membuat Dinda sedikit jahil. Ia tak menghiraukan Eva yang sedang mengalami kesulitan dengan heels- nya.


"Hei. Kenapa malah meninggalkan aku sendirian sih," teriak eva tak terima di tinggalkan.


PLOTAK PLOTOK...... PLOTAK PLOTOK.......


Suara sepatunya yang amat berisik mengejar Dinda yang telah mendahuluinya. Ia sedikit berlari demi mendapatkan langkah kaki yang seimbang.


Dinda sudah dalam lift, sementara Eva hampir saja tertinggal sehingga Eva berlari secepat kilat agar bisa kebagian tempat oleh tuas pengangkut ini.


"Kamu selalu saja bertindak begitu. Aku makin sebal dengan mu!" Eva pura-pura ngambek dan sewot membuang muka tanda bahwa ia sedang sebal.


Di dalam lift itu hanya ada mereka berdua dan lucu bagi Dinda melihat Eva sedang ngambek seperti kekanakan.


Namun Dinda tak menggubris tingkah Eva, justru ia terkekeh melihat adegan pagi ini yang di buat oleh wanita super bawel.


TINGG........


Hingga pintu lift terbuka, Dinda tak mengucapkan sepatah kata pun dari mulutnya.


"Kurang ajar!! aku tidak di perhatikan lagi," sebal Eva menjadi saat Dinda kembali melangkahkan kakinya lebih cepat keluar dari lift. Langkah kaki yang tak ingin di samai oleh Eva.


Dengan terpaksa Eva kembali mengejar langkah kaki Dinda untuk kesekian kalinya. Lelah, tetapi itulah eva dia tidak akan menyerah dan selalu berusaha agar apa yang ia inginkan tercapai.


"Pak Steve hari ini tidak masuk. Apa kamu tahu itu?" sela Eva di tengah tugas mereka.


"Tidak? kenapa memangnya?" jawab Dinda tidak tahu. Ia tetap fokus pada pekerjaannya.


"Aku pikir kamu tahu. Dari kemarin dia sudah tidak masuk. Apa dia sedang sakit?" Eva mencoba memancing Dinda untuk bicara atas apa yang ia ketahui.


"Mungkin saja. Tetapi di kantor pusat aku dengar ada pekerjaan dadakan yang harus di selesaikan. Mungkin saja dia sedang melaksanakan sesuatu yang sangat penting di kantor pusat. Pikir saja begitu!" seru Dinda berpikir positif.


"Oh jadi begitu. Mungkin saja begitu ya. Tetapi dengar-dengar dari karyawan kantor pusat kalau Pak Steve kedatangan wanita cantik di sampingnya. Apa benar rumor itu?" Eva memulai gosip pagi.


"Wanita cantik? siapa?" respon Dinda cepat dengan ekspresi ingin tahu.


"Itu dia masalahnya. Aku kurang tahu siapa wanita itu. Tapi aku dengar-dengar namanya Stelly - Stelly begitu. Dia cantik, putih, segar dan sedap untuk di pandang."


"Stelly?" Dinda mengulangi ucapan Eva.


"Iya Stelly jika tidak salah aku mendengarnya. Aku dengar dia datang dari luar negeri, dan semenjak kedatangannya para karyawan wanita di kantor pusat menjadi iri pada kecantikan wanita itu. Bahkan aku saja penasaran pada rupa Stelly yang cantik itu," balas Eva cepat.


"Apakah kak Stevie yang di maksud dengan Eva?" ucap Dinda dalam hati bertanya-tanya memastikan apakah maksudnya Stelly adalah Stevie. Nama mereka samar-samar serupa namun tak sama.

__ADS_1


"Lalu selanjutnya apa?" tanya Dinda. Kali ini ia penasaran pada kelanjutan cerita Eva yang terkesan menggantung.


"Yang aku dengar sih kalau si Stelly ini tunangan Pak Steve dari rumor yang beredar. Para pegawai wanita sedang membicarakan hal ini di kator pusat. Bahkan jika di jadikan tagar di Twitter, maka tagar ini pasti menjadi trending topik di seluruh dunia."


"Terlalu mengada-ada ucapan mu va, dan terlalu berlebihan. Memangnya kamu sebegitu yakinnya jika dia tunangan Pak Steve." Dinda mencoba memastikan ucapan Eva yang suka mengambil persepsi sepihak.


"Tentu saja aku yakin. Memangnya ada apa? apa kamu cemburu pada wanita itu karena berhasil menggaet hati Pak Steve?"


"Dasar tukang ngawur. Kamu pikir aku mengharapkan hal ini terjadi. Aku masih sadar diri untuk bersanding dengan dia, karena selera ku tidak terlalu tinggi seperti kamu," balas Dinda bicara santai.


"Ku pikir Pak Steve adalah tipe Dinda ku yang manis ini. Ternyata aku salah," ucap Eva memelas iba dengan mata terbelalak berkaca-kaca bagai mata anak kucing yang menggemaskan.


"Dasar Eva. Suka sekali mendengar ucapan dari rumor yang beredar," gumam Dinda dalam hati. Dinda setidaknya memahami jika Eva adalah wanita yang suka mendengar dan percaya ucapan orang lain ketimbang memastikannya secara langsung.


"Kalau begitu lanjut saja kita bekerja. Jangan pikir yang macam-macam jika tidak Pak Zico akan memarahi kita lagi." Dinda menengahi ucapan mereka.


"Iya deh, iya." Tukas Eva menutup pembicaraan.


Disaat bersamaan Zico melintas di depan ruangan mereka. Mereka bisa melihatnya karena dinding ruangan mereka terbuat dari kaca tebal transparan. Oleh karena itu siapa pun yang berlaku lalang pasti akan nampak oleh orang-orang yang ada di ruangan Dinda.


"Tuh kan! apa yang aku bilang. Untung saja kita cepat-cepat berhenti bicara. Jika tidak, maka kita akan di juluki tukang gosip oleh pak Zico." Ucap Dinda memperingati Eva.


"Iya aku tahu itu." Eva balas Eva ketus.


Dinda hanya melihat kelakuan Eva yang menjengkelkan dengan wajah konyol. Ia melanjutkan pekerjaannya dan tak ingin teralihkan oleh siapa pun.


Tetapi Eva? dia kembali melakukannya. Kembali mengajaknya bergosip karena hasrat bicaranya yang luar biasa menggelora sehingga memaksa mulutnya tak bisa diam untuk menggosip.


"Kamu lihat. Pak Zico gak kalah tampannya dengan Pak Steve. Jadi ingin deh punya pacar semanis Pak Zico." Bisik Eva pelan pada Dinda seraya menghayal tak jelas.


"Aku rasa dia sedang dalam fantasi liar sekarang. Otaknya pasti sudah di penuhi oleh bayang-bayang roti sobek karena melihat Pak Zico yang silau oleh ketampanan itu. Dasar pemuja pria tampan. Tidak bisa sekalipun dia membiasakan diri untuk tenang saat melihat pria tampan." ucap Dinda dalam hati.


"Jika aku belum bertunangan saja. Aku yakin pasti aku aku menjadi kekasih pak menejer. Ukh senangnya punya pacar seperti Pak zico," lanjut Eva bicara menghayal.


Namun Dinda tak ingin mendengar ucapan penuh fantasi liar itu. Dia hanya fokus pada pekerjaannya yang sedang menunggu dalam daftar antrian.


"Lebih baik bekerja, dari pada mengkhayal. Kalau terus mengkhayal kapan kita akan dapat hasilnya. Dan lagi pula cinta tak bisa di makan kecuali mengumpulkan banyak uang." Dinda menegur koleganya.


Eva dengan wajah sewotnya, jengkel pada Dinda karena mengganggu pikiran indahnya. Ia sebal dan seraya berkata, "Iya aku mengerti!" ucapnya menutup pembicaraan.


Itulah Eva, seorang wanita yang suka larut dan tenggelam dalam khayalan absurd tak berfaedahnya.


BERSAMBUNG


Jangan lupa like dan komentar kalian ya.

__ADS_1


TERIMA KASIH.


__ADS_2