
Sedari pagi Dinda yang tidak masuk ke kantor, membuat Steve yang menunggu kedatangannya di landa perasaan yang tidak biasa.
Wajah Dinda belum nampak sedikit pun di kantor Steve. Hingga pukul satu siang, Steve tidak melihat wajah kekasihnya.
Kenapa dia tidak masuk hari ini? Steve gusar di dalam ruangannya. Dia mondar-mandir kesana kemari memikirkan Dinda. Apa mungkin dia izin hari ini?
Steve menghubungi Dinda, tapi teleponnya tidak kunjung di jawab.
"Teleponnya di luar jangkauan? Nggak mungkin kalau sinyal handphone sedang gangguan."
Steve melihat-lihat ruang kerja Dinda, dia bingung tidak biasanya Dinda tidak masuk kerja. Padahal Dinda yang paling giat dalam bekerja, tetapi hari ini dia tidak ada kabar.
Steve mendatangi ruang kerja Dinda, memang yang di lihat Steve hanya ada beberapa karyawan, Dinda tidak ada di tempatnya.
"Bapak mencari siapa, Pak?" Tegur Mira yang merampingkan diri masuk ke dalam ruangannya. Steve berdiri di depan pintu, segan bagi Mira memintanya menjauh dari kusen pintu. "Bapak ada perlu? Atau Bapak ingin sesuatu yang perlu kami siapkan?"
"Tidak! Tidak! Aku hanya ingin melihat performa kerja kalian saja," kilah Steve. "Kalian bisa melanjutkan pekerjaan kalian," Steve pergi meninggalkan ruangan tempat Dinda bekerja.
"Aneh!" tukas Mira merasa janggal pada bosnya.
"Memangnya kenapa Pak Steve, Mbak?" tanya karyawan lain pada Mira. "Dia ngomong apa?"
Mira menarik kursi kerjanya lalu mendudukinya. "Nggak tahu juga, sepertinya dia sedang mencari sesuatu, tapi nggak tahu apa?" jawab Mira. "Ngomong-ngomong, Dinda kemana. Sudah jam satu siang begini dia tidak terlihat?" tanya Mira pada yang lainnya sambil sibuk memeriksa berkas keuangan.
"Entah," sahut teman sejawatnya. "Dari pagi dia tidak masuk. Terus nggak kirim surat izin pula. Apa dia nggak takut di beri surat SP!"
"Sssttt!" Mira mendesis menarik perhatian kawan-kawan sejawatnya. "Mungkin saja pak Steve gusar karena Dinda tidak masuk?" Mira menggosip.
Kolega Mira yang duduk di sebelah kiri Dinda mendorong kursinya mendekati Mira yang berwajah serius. "Nggak usah buat gosip Mbak Mir, ketahuan bos kamu di depaknya nanti dari grup wong. Mau?" celetuk koleganya memperingati.
"Tapi-kan mereka begini," Mira mengkode bahwa keduanya pacaran.
"What!" seluruh kolega Dinda tersentak kaget.
"Seriusan mereka pacaran?" tebak karyawan lainnya.
"Ishh... Karena gosipan Mbak Mira, baju ku akhirnya ketumpahan kopi," sahut kolega lainnya yang menyalahkan Mira.
Kebetulan Steve melintas di depan ruangan kerja Dinda. Mira yang melihatnya, dengan segera meminta teman-teman kerjanya menghentikan gosip.
Mereka menatap Steve takut. Maklum saja, jika sampai dia tahu bahwa Mira menggosip, dia akan berakhir menjadi pemulung kelas satu alias pemulung newbie atau pemulung pemula.
Di ruangan kantor Steve, dia semakin gusar. Dia mulai merindukan wajah kekasihnya walau beberapa jam tidak bertemu.
Steve mulai mengkhawatirkan Dinda. Cinta Steve mulai di uji dengan tidak ada kabarnya Dinda hampir seharian ini.
Steve menghubungi Zico, mungkin saja pria itu tahu keberadaan Dinda. Mengingat sahabat seperjuangan Dinda sebagian besar ada di sana.
"Hah?" Sentak Steve pada layar handphonenya. "Yakin dia tidak ada di sana?" Steve berkata pada Zico.
"Yakin lah," jawab Zico dari balik layar. "Kamu pikir aku buta sampai-sampai nggak bisa membedakan Dinda dan wanita lainnya."
"Bagaimana dengan teman-teman lainnya? Apakah mereka tahu di mana Dinda berada?" tanya Steve.
"Nggak," balas Zico. "Mereka nggak ada yang tahu. Lagi pula, semenjak dia di pindahkan ke kantor pusat, Dinda tidak pernah lagi mendatangi kantor reyot ini."
"Oke, bertanya sama kamu nggak ada gunanya," gerutu Steve. "Sebaiknya kamu kerja yang baik. Kalau aku dalam keadaan mood bagus, akan aku naikkan gaji kamu," singgung Steve.
Steve ingin mematikan panggilan teleponnya. Tapi Zico dengan cepat menyahut. "Jangan dulu di matikan," teriak Zico gaduh.
"Ada apa lagi!"
"Bisakah kamu membiarkan aku bekerja satu perusahaan dengan Dinda," Zico mengutarakan niatnya dari suara tanpa rupa di balik benda pipih ini. "Tolong pertimbangkan aku untuk bergabung di kantor pusat bersama Dinda. Anggap saja aku adalah karyawan rekomendasi kamu."
"Pertimbangkan?" Steve melahai tertawa jahat. "Aku pikirkan itu nanti, tunggu suasana hati ku baik. Maka aku akan berpikir jernih untuk memasukan kamu dalam perusahaan ini."
__ADS_1
"Ayolah, aku mohon. Biarkan aku bergabung bersama Dinda," Zico mengiba.
Alih-alih mempertimbangkan Zico bergabung bersamanya dalam satu kantor, Steve secara sepihak memutuskan panggilan teleponnya.
"Mencari kesempatan dalam kesempitan dia," umpat Steve.
Steve terus kepikiran Dinda, ini kali pertamanya wanita itu tidak bisa di hubungi. Rasa rindu pada Dinda yang tak bisa di bendung terutama pada kabarnya yang menghilang tanpa suara, Steve bergegas menemui Dinda di apartemennya.
Di dalam mobilnya, Steve menggigit jarinya sambil memikirkan Dinda yang tak tahu sedang apa di apartemennya.
Apa dia sakit? Pikir Steve. Kalau pun dia sakit, biasanya ada Niko atau Miko yang menghubungi. Tetapi hari ini mereka bertiga malah tidak bisa di hubungi seperti ini.
Seluruh handphone mereka tidak ada satupun yang terhubung dalam jaringan. Kenapa mereka mendadak hilang tanpa kabar seperti ini. Steve memulai kegaduhan kecil.
Karena terus kepikiran Dinda, tanpa sadar mobil Steve telah tiba di parkiran apartemen.
Steve mendongak kepalanya menatap gedung apartemen yang menjulang tinggi. Hanya ada satu yang menjadi perhatian Steve, yaitu apartemen Dinda.
Steve menarik nafas canggungnya, dia sebenarnya tidak mau menganggu apalagi menemui Dinda saat itu.
Steve berpikiran bahwa Dinda sedang istirahat atau semacamnya.
Steve takut jika Dinda akan marah padanya karena tidak memberikan dia ruang dan waktu untuk menikmati kehidupannya sendiri.
Tapi rasa kerinduan pada Dinda membawa Steve menuju ke apartemen Dinda. Steve memikirkan konsekuensi itu di belakang, karena mencemaskan Dinda jauh lebih penting.
Cuaca di Shanghai sangat dingin, jadi wajar kalau dia sakit karena perubahan cuaca, tebak Steve. Di sepanjang lorong gedung apartemen menuju ke hunian Dinda, Steve tidak bisa berpaling dari wajahnya walau hanya sesaat.
Hingga di depan pintu apartemen, bahkan bel listrik yang Steve tekan berulang kali tak ada jawaban sama sekali dari empunya rumah.
"Kemana dia?" Steve penasaran. "Mungkinkah dia sedang tidur?" Steve mengernyitkan dahinya.
Steve melihat jam tangannya, tepat jam dua. Kemungkinan Dinda sedang sakit atau dia sedang istirahat, sebaiknya aku membiarkan dia istirahat. Mungkin karena tidak ada waktu untuk menelpon ku, dia lupa mengabarkan bagaimana keadaannya. Pikir saja begitu Steve, pikir yang baik-baik saja! Steve menenangkan dirinya dari pikiran anehnya.
Steve meninggalkan apartemen Dinda, walau singkat, setidaknya Steve tidak ingin mengganggu kualitas istirahat kekasihnya itu.
Oh, aku lupa, Steve teringat sesuatu di tengah jalan pulangnya. Niko dan Miko hari ini sekolah, mereka pulang sekitar jam tiga sore. Wajar saja jika sepi, kenapa aku malah berpikiran dia akan meninggalkan aku? Steve menggeleng, dia malu pada kelakuannya yang begitu takut kehilangan.
Sedangkan di rumah sakit, Dinda yang terburu-buru pergi ke Kota Bandar Lampung semalam, tiba-tiba ingat bahwa dia lupa membawa handphonenya. "Astaga!" teriak Dinda.
"Kenapa kak?" Sahut Niko. "Kenapa kakak terlihat kaget begitu?"
"Kakak lupa bawa handphone hari ini?" Dinda panik. "Karena memburu waktu, jadinya kakak nggak memikirkan handphone kakak."
Miko yang duduk di kursi tidak jauh dari bangsal Ibunya, mengeluarkan handphonenya dari saku jaketnya. "Hubungi dia," perintah Miko. "Dia pasti galau seharian ini nggak melihat wajah kakak biarpun sedetik," Miko paham pada ekspresi kaget wajah kakaknya. Steve-lah yang membuat Dinda begitu tak bisa jauh dari handphone akhir-akhir ini, mengingat sebelum-sebelumnya Dinda jarang memegang handphone.
"Dia siapa kak?" Niko menyikut Kakaknya, Miko. Hanya Niko yang tidak paham pada isyarat si Miko.
"Dia siapa lagi kalau bukan pria sinting budak cintanya kak Dinda itu," ledek Miko. Dia bersikap introver dan cuek.
Niko tertawa terbahak-bahak. "Niko mengerti sekarang, ternyata pria sinting yang mengaku-ngaku pacar kak Dinda waktu di Shanghai itu," gelitik Niko.
"His," Dinda sebal. "Jangan kencang-kencang gosip kalian, nanti Ibu dengar," Dinda melirik Ibunya yang tengah terpejam, dia mengkode. "Kalian berisik," ujar Dinda ketus seraya menarik handphone Miko.
"Pulsa ku itu isinya lima ratus ribu, telepon hingga seratus jam pun, tak masalah. Kalian lepaskan temu kangen kalian seharian ini, aku rela jika pulsa ku yang menjadi korban!" Ledek Miko dengan ekspresi sok cuek dan cool.
Dinda menyunggingkan bibirnya. "Cih! Kakak terpaksa pakai handphone kamu, karena handphone kakak tinggal di kamar kalian. Kalau kakak nggak lupa bawa handphone, mana mungkin kakak mau pakai handphone butut ini," Dinda bersikap apatis. Dia malu mengakui sebenarnya dia sangat bersyukur bisa di beri tumpangan handphone gratis.
"Handphone ku itu mereknya jeruk sepotong. Type handphone ku pun orange sebelas pro. Layarnya lebar dan enak di genggam. Aku belinya seharga dua puluh juta, mana ada handphone butut. Yang ada handphone kakak itu yang butut, mana ada gambar Barbie pula di belakangnya," Miko membalas mengejek. Miko ahli dalam membuat Dinda kesal.
"Iya! Iya! Kakak ngalah," ucap Dinda mengakui. "Mentang-mentang sudah menjadi model dengan gaji fantastis, kamu sekarang meledek kakak, wah, kakak merasa tersaingi."
"Mau menelepon, atau handphonenya aku ambil lagi?" Miko bersabda.
"Kakak pakai dulu deh, walau terpaksa," Dinda meninggalkan mereka berdua bersama sang ibu yang tengah beristirahat.
__ADS_1
Dinda membawa handphone Miko menuju taman rumah sakit. Dia menelpon Steve, ingin memberikan kabar kepadanya.
Steve yang kini berada di jalan, agak kaget karena mendapat panggilan dari Miko. Handphone yang ia tempatkan di dashboard mobil, berdering memuncak.
"Kenapa anak ini menelpon? Tumben?" Steve penasaran.
Steve menjawab panggilannya, tadi dia menghubungi Miko tapi tidak terhubung. Sekarang Miko yang berinisiatif, maka sesegera mungkin Steve menjawabnya.
"Halo," jawab Steve garang sambil menempelkan handphonenya di telinga.
"Halo, Steve, ini aku, Dinda."
"Dinda!" Steve memuncak kaget. Steve melihat kembali layar handphonenya, tertera nama Miko, tapi suara Dinda di dalamnya. Mendengar Dinda yang bicara, seketika Steve langsung antusias.
"Ini benar-benar Dinda?" Steve memastikan.
"Iya, ini aku Dinda," balas Dinda.
"Tunggu! Tunggu! Aku menepikan dulu mobil ku," Steve tidak ingin meninggalkan suara lembut gadisnya begitu saja.
Steve menepi di bahu jalan di bawah pohon yang rindang. Steve keluar dari mobilnya, lalu menyandarkan bokongnya di kap bagian depan mobil.
"Halo, Dinda," Steve melanjutkan bicaranya. "Kamu di mana sekarang, kenapa kamu nggak ada kabar seharian ini," Steve merasa panik.
"Jangan gugup gitu dong," Dinda merasakannya, Steve gemetaran dari balik layar. "Aku baik-baik saja kok. Hanya saja, kemungkinan kita tidak akan bisa bertemu dalam waktu dekat ini. Karena aku butuh waktu untuk menenangkan diri!"
"Kenapa? Apa kamu menghindar dari ku?" Steve gaduh. "Apakah aku menyakiti kamu karena aku selalu berkata kasar? Sampai-sampai kamu menghindar dan menghilang tanpa jejak."
Dinda yang ada di seberang pulau tertawa mendengar kekhawatiran Steve padanya. "Kamu ini yah, kenapa berpikiran seperti itu," Dinda terkekeh. "Aku bukan menghindari kamu, tapi sekarang aku ada di seberang pulau. Ibu jatuh sakit, nggak ada yang jaga ibu. Makanya aku secepatnya pergi ke rumah sakit tempat ibu di rawat, dan belum sempat kabarin kamu. Maaf ya sudah buat kamu khawatir," Dinda menjelaskan.
"Kamu hampir membuat aku mati berdiri," ucap Steve sedikit agak lega mendengar kabar dari Dinda. "Aku pikir kamu menghindar dari ku yang selalu bermanja-manja-an dan meminta di cium. Aku takut kamu akan bosan pada ku yang seperti kekanak-kanakan ini. Aku takut kamu pergi meninggalkan aku, aku takut kamu benar-benar menghilang dan tidak akan kembali. Aku tidak mau itu terjadi, aku masih ingin kamu berada di sisi ku," Steve memohon dari balik benda pipih ini.
"Steve," Dinda berkata lembut. "Aku tidak akan pernah melakukan itu, walau maut memisahkan kita, aku tidak akan pernah melupakan kamu walau sedetik," Dinda berjanji.
"Aku percaya pada kamu," balas Steve. "Aku berjanji, aku tidak akan meminta kamu mencium ku lagi, bermanja-manja-an seperti anak-anak dan tidak akan bersikap kasar. Aku janji, aku akan memperlakukan kamu layak wanita yang paling spesial. Jadi aku mohon, jangan pernah sedetikpun untuk berpaling dari ku walau kamu sudah jenuh."
"Aku tersentuh," ungkap Dinda. "Aku tersentuh dengan kata-kata kamu yang puitis, Tuan roman picisan," hibur Dinda. "Tidak peduli kamu Tuan pemarah atau Tuan kekanakan, aku akan tetap menyukai kamu apa adanya."
"Terima kasih Dinda," Steve mengiba. "Terima kasih sudah mau memahami dan mengerti aku selama ini."
"Jangan khawatir tentang ini, aku akan selalu tetap menyukai kamu apapun dan bagaimana kamu bersikap," kata-kata lembut Dinda semakin membuat Steve tak bisa jauh dari dia.
"Dinda," steve merengek. "Baru beberapa jam kita berpisah, rasanya aku tidak rela kalau kamu meninggalkan aku," Steve mengungkap isi hatinya.
"Kamu nggak perlu berpikiran aku akan meninggalkan kamu," Dinda menghibur kembali. "Ibu akan keluar dari rumah sakit dalam waktu sepekan lebih cepat, tergantung kondisi kesehatan ibu. Setelah itu, kami akan kembali ke Jakarta, secepatnya."
"Seminggu itu waktu yang lama," Steve berkata sayu dan lemas.
"Kamu ini," hardik Dinda. "Seminggu itu cepat. Memangnya kamu pikir seminggu itu setahun."
"Ya, aku menunggu," Steve menahan hasratnya. "Tapi, janji ya, setelah kembali ke Jakarta, aku minta di layani dengan puas," goda Steve.
Dinda tertawa, Steve benar-benar kekanakan sekali. "Tadi kamu bilang kalau kamu nggak mau bersikap kekanakan lagi. Tapi sekarang malah minta di manjakan," sindir Dinda.
"Ya itu karena kamu pergi terlalu lama, wajar kalau aku minta di berikan hadiah," gombal Steve.
"Oke, aku akan memberikan hadiah untuk kamu," ujar Dinda menuruti kemauan Steve. "Kalau begitu, aku matikan dulu ya telepon hari ini, jam makan sore ibu sudah tiba, kamu jangan terlalu memikirkan aku," Dinda mengingatkan.
"Dinda," Steve kembali merengek-rengek. "Bagaimana kalau aku kesana, menemui kalian," Steve menyuarakan idenya.
"Nggak perlu," sambar Dinda. "Kamu fokus saja pada pekerjaan kamu. Jangan khawatirkan kami. Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan, aku matikan dulu ya telepon ini," Dinda pamit.
"Baiklah," balas Steve sayu.
Dinda mematikan panggilan suaranya. Mendengar suara Dinda ada rasa lega namun ada rasa tidak lega juga bagi Steve. Di bawah pohon yang rindang dia terlihat tak bersemangat dan lesu, dia harus menahan diri tidak melihat Dinda.
__ADS_1
BERSAMBUNG