UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 79


__ADS_3

Seoul, Korea Selatan.


Setelah tiga hari Steve tinggal di Shanghai, Steve mengajak Dinda liburan ke korea.


Liburan di negara ini merupakan kali pertamanya bagi Steve. Sama halnya seperti yang di rasakan oleh Steve, ini kali pertama bagi Dinda menginjakan kaki di pelataran jalan kota Seoul yang lebar. Dinda juga menikmati liburan pertamanya di Korea.


"Steve," Dinda memanggilnya. "Kenapa kamu mau liburan ke Korea?"


"Tidak ada yang spesial," jawab Steve.


"Kenapa?"


"Hanya ingin liburan saja," Steve mengakuinya. "Sebenarnya, karena penerbangan dari Shanghai ke Seoul lumayan dekat, mengapa tidak sekalian saja kita liburan saja kesini," lirih Steve. "Kan sekali mendayung empat pulau terlampaui."


"Dua pulau!" Dinda menyusut. "Sejak kapan pepatahnya berganti menjadi empat pulau?"


"Iya, itu maksudnya," balas Steve.


"Oh, jadi, karena dekat ya," Dinda menggaruk dagunya. "Aku pikir karena kamu ada alasan khusus."


Steve merendahkan lehernya. "Sebenarnya, aku mendengar pembicaraan karyawan wanita beberapa lalu," ucap Steve. "Mereka berkata bahwa jika semua wanita menginginkan liburan di Korea. Bertemu idola dan ber-swapoto di beberapa tempat unik di Korea."


"Jadi kamu sekarang beralih menjadi seorang penguping," Dinda tertawa. "Sejak kapan?"


"Hei, aku tidak pernah berkata bahwa aku menjadi penguping tahu," balas Steve sewot.


"Jangan marah, aku kan hanya bercanda," Dinda menggoda.


Steve memang tidak pernah bisa marah pada Dinda. Dia berhenti sewot, gadis itu selalu membuatnya menjadi lemah. "Aku nggak marah, cuma sedikit ingin di manjakan," ujar Steve melucu.


Dinda memanyunkan bibirnya, dia suka pada Steve yang selalu ingin membuatnya marah.


Sebenarnya ide liburan ke Korea terinspirasi dari perbincangan Dinda dan Eva beberapa waktu lalu saat mereka menggosip. Saat itu Steve belum begitu mengenal Dinda, namun setelah berpacaran, ide liburan ini terlintas begitu saja di otak Steve.


Steve yang tidak sengaja mendengarnya diam-diam tertarik ingin ke Korea. Apalagi Dinda saat itu tidak terlalu menghiraukan rencana Eva ini, jadi Steve yang berinisiatif melakukan perjalan ke negara ginseng ini.


Mereka berdua kini tengah berada di jalan di sekitaran distrik Gangnam. Lalu lintas lumayan padat oleh pejalan kaki, dan Steve ingin mengajak Dinda mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Korea.


"Mau memakai hanbok?" Steve menawarkan. Mereka melintas di ruko yang menyewakan pakaian tradisional Korea.


"Buat apa?"


"Aku lihat di situs web Korea, kalau liburan ke sini harus dan wajib memakai hanbok," jawab Steve menjelaskan. "Tertarik memakainya?"


"Aku rasa nggak perlu deh," tolak Dinda. "Kita cari tempat liburan lain saja, aku kurang terbiasa menggunakan Handbook seperti itu," lirih Dinda.


Steve menarik hidung Dinda. "Hanbok, bukan handbook," Steve membenarkan pengejaan Dinda yang salah. "Kamu pikir kita sedang rapat, pakai nama handbook segala."


"Iya, hanbok," Dinda mengakui kesalahannya. "Aku kan bukan orang Korea, jadi wajar kalau salah menyebutnya," gerutu Dinda.


Di jalan distrik Gangnam, Steve mulai merasa perutnya mulai meminta bagian. Terlebih bau makanan khas daerah setempat menyeruak menggelayut di hidung.


Aroma masakan yang lezat membuat Steve tertarik ingin memasuki kedai di sepanjang jalan beralaskan paping abu-abu.


"Apa kamu lapar?" tanya Steve.


"Sangat lapar," angguk Dinda.


Steve melihat jam di tangannya, terlihat pukul sembilan, jam makan pagi. Pantas saja perutnya sudah meringkuk ingin meminta bagian.


"Bagaimana kalau kita makan ramen?" Steve menyuarakan idenya.


Dinda menggeleng. "Di Gangnam sulit menemukan makanan yang lezat, bagaimana kalau kita ke Myeongdong. Di sana pusat perbelanjaan dan street food terbesar dan terlengkap di Seoul," ajak Dinda.


"Dari mana kamu tahu meong! Meong apa tadi?"


"Myeongdong," Dinda membenarkan.


"Iya, itu," timpal Steve.


"Jelas tahu, aku kan lihat di internet," Dinda menunjukan handphonenya pada Steve sambil berwajah tersenyum.


Steve memanyunkan bibirnya. "Aku pikir kamu paham tentang Korea," gerutunya.


"Hehehehe," Dinda tertawa kecil. "Sekarangkan jaman modern, seenggaknya tahulah sedikit tentang Korea dari internet," Dinda menginformasikan. "Pergi ke Myeongdong sekarang atau mau makan di Gangnam?" Dinda memastikan.


Steve berpikir sejenak, Myeongdong membuat Steve berimajinasi bahwa tempat itu pasti unik. "Baiklah, kita kesana sekarang," Steve menyetujui ajakan Dinda.


Mereka memilih meninggalkan distrik Gangnam dan menuju ke pusat street food terbesar di Korea. Myeongdong, namanya saja unik, pasti tempat itu ramai.


Hingga sampai di jalan sekitar pusat Myeongdong, mereka bingung harus memilih panganan apa yang akan mereka pilih.


Suara, aroma bahkan bentuk makanan yang di jajakan sangat banyak dan lengkap. Sesuai yang di katakan Dinda, tempat ini sangat ramai oleh pengunjung.


"Mau makan tteokbokki atau kimbap?" kali ini Dinda yang menjadi pemandu Steve.


"Makanan jenis apa itu?" tanya Steve. "Aku belum pernah mendengarnya," wajah Steve sangat serius.


Dia mengerutkan alisnya, sangking tidak pernah mendengarnya sebelumnya, Steve di buat kebingungan.


Dinda tertawa melihat Steve yang berwajah serius. "Kamu itu lucu," ucap Dinda menahan tawa.


"Lucu? Memangnya ada yang salah dari ku?"


"Kamu nggak salah, hanya wajah tampan kamu yang selalu membuat orang takut," jelas Dinda. "Masa di situasi tidak mengerti pun, wajah kamu terlihat seperti pemarah. Untung saja kamu tampan, atau kalau kamu berwajah jelek, mungkin akan kontras dengan sikap pemarah kamu," celetuk Dinda mengejek.


"Tapi kamu menyukainya kan?" Alih-alih marah, Steve malah merayu Dinda. "Ayo katakan, kamu pasti menyukai aku yang tampan ini."


Dinda makin terbahak-bahak mendengar Steve yang narsis. "Kalau aku nggak menyukai kamu, manalah mungkin kita akan pacaran," Dinda memelet-kan lidahnya menjulur meledek Steve.


"Lupakan kalau kita sedang bergurau," Steve beralih. "Ayo kita makan toboki dan apa itu tadi, gimbal. Aku tidak mengerti makanan jenis apa itu."

__ADS_1


"Tteokbokki dan kimbap," Dinda menyahut. "Kamu yang sempurna dalam segala hal, ternyata bisa salah juga," Dinda terkekeh kembali. "Nggak menyangka, kalau Tuan pemarah memiliki sisi ramahnya juga," ledek Dinda.


Melihat Dinda yang terus-menerus meledeknya, Steve memutarkan tubuh Dinda lalu mendorongnya masuk kedalam komplek bangunan Myeongdong.


"Kita cari makan dulu, nanti kamu meledek kembali kalau sudah kenyang," ucap Steve sambil menggiring Dinda menyusuri jalan setapak di pasar Myeongdong.


Banyaknya penjual di sekitaran Myeongdong, yang sebelumnya membuat Steve kebingungan ingin makan yang mana, kini mendapatkan ide menarik.


Dia mengajak Dinda mencicipi seluruh makanan khas Korea yang di jajakan di street food Myeongdong.


"Sebagai pembuka, mari kita makan cheesecake dulu," Steve menunjuk kedai pertama yang menarik perhatiannya.


"Itu terlalu manis, nanti gula darah kamu naik," dalih Dinda.


Steve menyahut. "Kamu pikir aku pria tua yang banyak penyakit."


Steve menyunggingkan bibirnya.


"Oke, kita makan cheesecake dulu sebagai pembuka makan siang ini, mari kita coba," Dinda mengalah. "Demi kamu!"


Sepanjangan jalur makanan pinggir jalan khas Korea, Steve dan Dinda sudah menyicipi setidaknya lebih dari lima makanan khas Korea.


Tteokbokki, Kimbab, Cheesecake, Gyeran ppang, Bbopgi, Bungeoppang, Jipangyi, Eomuk Kkochi dan Ice cream wafle.


Mereka mencicipi makanan khas Korea hingga larut malam. Hingga perut keduanya merasa kekenyangan.


Perjalanan menyusuri seluruh tempat di Myeongdong hingga larut malam membuat suasana liburan keduanya nampak berbeda.


Di malam hari, komplek Myeongdong semakin ramai dengan banyaknya pengunjung memenuhi tempat ini.


Dance street hingga hiburan di sini semuanya tersaji. Steve mengajak Dinda menjaja semua barang-barang yang di jual di tempat ini.


Dan harganya yang luar biasa, semua yang di jual di Myeongdong berbeda dengan di tempat lain. Di sini semua di jual di atas rata-rata.


Hingga niat Steve membelikan Dinda sebuah pernak-pernik tidak terlaksana karena harga yang di tawarkan sangat mahal.


Sampai perjalan Steve dan Dinda berhenti di sebuah stan yang menjual bandana lengkap.


Tempat ramai yang di penuhi oleh banyak remaja pria dan wanita. Mereka tidak malu membelikan pasangan masing-masing bandana imut-imut.


Remaja-remaja yang tengah mengenakan seragam sekolah mengenakan bandana aneka ragam lalu ber-swapoto.


Dinda tertarik melihat keramaian di toko bandana ini. "Mari mampir kesana," ajak Dinda.


"Nggak mau," Steve menolak. Apalagi dia melihat banyaknya remaja belasan tahun yang membeli bandana. Steve merasa risih.


"Ayolah," Dinda merengek. "Aku ingin membeli bandana, mereka imut, cantik dan berkarakter," Dinda memelas dan memanja di lengan Steve. "Ayo, aku ingin membeli bandana sebagai kenangan-kenangan setelah pergi ke Korea."


"Nggak mau," Steve melepaskan tangan Dinda yang mengerat di tangannya. "Aku risih dengan anak-anak itu."


"Nggak apa-apa, lupakan mereka, kita tetap membeli bandana kan!" Dinda bersikap baik.


"Nggak mau," kembali Steve menolak. "Sekali enggak, ya enggak. Jangan seperti anak kecil deh, beli bandana nggak penting segala."


Steve menatapnya nanar, dia tidak suka Dinda yang kekanakan. "Kita pergi saja dari sini saja, nggak usah membeli barang-barang nggak penting begitu," kata Steve mengakhiri pembicaraan ini.


Dinda balik marah pada Steve, dia melepaskan pegangan tangannya pada lengan Steve. "Ayo kita pergi," ajak Dinda ketus. "Nggak usah sekalian ke sini lagi, ayo kita pulang saja."


Dinda mendahului langkahnya, dia meninggalkan Steve dengan jalan beberapa langkah di depannya.


Kenapa dia yang marah? Seharusnya aku yang marah. Steve mengerutkan keningnya, tingkah Dinda pada Steve memang tidak bisa di gugat.


Steve merasa bersalah, seharusnya menuruti Dinda tidak masalah baginya. "Gara-gara bandana, aku harus menurunkan image ku," ucap Steve menggerutu.


Steve mengejar Dinda yang mendahului langkahnya beberapa meter. "Ayo kita beli bandana," ujar Steve menurunkan egonya. "Kamu boleh beli semua yang kamu mau!"


"Sudah nggak mood lagi," jawab Dinda. "Ayo kita pulang saja, bisa beli bandana di tanah Abang, nggak perlu jauh-jauh beli bandana murahan di Korea."


"Kamu ngambek?" Steve membalikan tubuh Dinda.


"Nggak,"


"Yakin," Steve berulah. "Pulang sekarang kalau kamu nggak ngambek."


"Ih, kok kamu nggak peka sih," hardik Dinda.


"Tadi katanya nggak ngambek," tandas Steve. "Kenapa sekarang marah lagi?"


Dinda mengepal tangannya, dia ingin memukul Steve, namun dia tidak berani melakukannya. "Ih," Dinda geram.


Steve memberikan wajahnya, berharap Dinda akan memukulnya. Tapi karena wajah Steve yang menakutkan untuk di lihat, Dinda akhirnya berhenti marah pada Steve.


"Ayo kita beli bandana, atau kamu nggak akan dapat lagi kesempatan ini," tawar Steve. "Jangan ngambek, kamu jelek kalau ngambek," celetuk Steve.


Awalnya Dinda menolak, tapi karena Steve mengancamnya dengan kata-kata itu, Dinda mau tak mau harus memanfaatkan kesempatan ini.


"Iya, iya, kita beli bandana."


Pada akhirnya Steve dan Dinda pergi ke toko penjual bandana. Steve malu karena harus menurunkan egonya. Image Steve sangat tidak sesuai dengan bandana yang hendak Dinda beli.


Terlihat di dalam toko, bandana yang di pajang di etalase di dominasi oleh warna merah muda. Steve benci warna itu.


Warna yang mengingatkannya pada kegenitan. Warna khas wanita yang suka bermanja-manja-an dan kekanak-kanakan.


Belum reda malu Steve, kini anak-anak remaja yang mengerumuni toko bandana ini melirik Dinda dan dirinya.


Steve canggung, mengapa mereka menatapnya dengan tatapan dalam. Steve mendeham, berharap mereka mengerti maksud sindirannya agar tak lagi menatapnya.


Alih-alih pergi, justru remaja belia yang lebih dari sepuluh orang itu memberikan jalan pada keduanya.


Remaja Pria dan wanita sama saja, mereka tak memberikan Steve ruang untuk tak menutup diri dari perhatian mereka.

__ADS_1


"Annyeong," sapa pemilik toko. Pria tua yang ramah dengan pakaian putih bersih tersenyum ramah menyambut pelanggan.


"Kamu mengerti apa yang dia katakan," Steve membisik.


"Nggak," Dinda menggeleng. "Aku kan bukan orang Korea apalagi pecinta K-Pop. Mana mungkin aku tahu apa yang dia katakan."


"Ku pikir kamu akan paham!" tukas Steve.


"Excuse me sir, we want to buy of pair bandana's," Dinda menunjuk bandana berbentuk telinga kelinci berwarna merah muda yang tergantung di belakang pria pemilik toko.


(Permisi Pak, kami ingin membeli sepasang bandana yang itu.)


Pria itu memberikan permintaan Dinda. Dia sedikit mengerti maksud Dinda walau dia tidak bisa bahasa Inggris.


"Kenapa kamu membeli sepasang," sikut Steve.


"Karena kita berdua, maka bandana pun harus berdua," jawab Dinda.


"How much is it, Sir?" Dinda ingin membayar. (Berapa harganya ini Pak?)


Pria itu memberi tahu Dinda harga yang harus di bayar adalah sebesar lima ribu won untuk satu bandana atau tiga puluh lima ribu dalam mata uang Rupiah.


Usai membayar, Dinda ingin memasangkan Steve bandana.


Jelas Steve menolak, apalagi banyak orang yang melihatnya.


"Aku nggak mau, nanti merusak rambut ku," Steve berdalih. "Kekanakan banget," ujar Steve bertingkah cuek.


"Steve," Dinda bersabda. "Cowok di Korea, pakai bandana seperti ini, itu adalah hal wajar. Itu artinya pasangan mereka sangat peduli pada kekasihnya. Kamu nggak boleh menolak apa yang aku berikan," jelas Dinda.


Steve menelan ludah pahitnya, kenapa bisa dia harus melintas di toko bandana sialan ini.


"Jangan menolak yah, atau aku nggak akan segan-segan memaksa," ancam Dinda senada dengan apa yang pernah Steve ucapkan padanya.


"Ayo sayang, menunduk," Dinda menarik kerah baju Steve. Dinda memaksa, hingga kepala Steve merunduk sebatas hidungnya.


Dinda memasangkan Steve bandana telinga kelinci berwarna merah muda. Warna yang paling dia benci.


Steve tidak bisa menolaknya, terlebih anak-anak di sisi belakang Dinda terlihat antusias melihatnya menderita dengan bandana yang di katakan dengan nama bunny oleh Dinda.


"Nah, kalau kamu seperti ini kan sangat tampan," puji Dinda. "Sangat lucu, mirip kelinci," celetuk Dinda dengan pemikirannya yang menganggap Steve imut. "Lain kali, aku panggil kamu si bunny. Pasti keren," pungkas Dinda bahagia.


Apanya yang keren. Yang ada aku terlihat seperti badut, alih-alih menjaga image ku, wanita ini justru merusak citra ku, Steve berkata pelan.


"Kenapa melamun? Kamu nggak suka dengan bandana ini?" Dinda menyela Steve yang termangu.


"Suka sekali," Steve memaksakan diri untuk tersenyum. "Demi kamu aku akan melakukannya," Steve menyewot pelan.


Remaja-remaja belia yang berdiri di belakang Dinda berkata, namun Steve tidak mengerti apa yang mereka maksud.


*Bahasa Korea*


Hyung, kamu sangat tampan.


Hyung, kamu mirip dengan idol, dari agensi mana kamu Hyung.


*Kya, pasangan yang sempurna.


Mereka tampan dan cantik, aku ingin mengambil gambar mereka.


Mereka bukan ulzzang kan?


Mirip artis C*** *** ***.


Anak-anak itu entah apa yang mereka katakan, Steve tak mengerti tapi mereka sangat meributkan penampilan Steve. Steve bisa merasakan bahwa mereka sedang mengumpatnya. Aura mereka mengatakan bahwa mereka sedang mengumpat namun dengan wajah tersenyum.


"Apa kamu mengerti mereka bilang apa?" Steve berkata pada Dinda.


"Aku sudah bilang tadi, aku bukan orang Korea, mana ada aku bisa mengerti bahasa mereka," jawab Dinda jujur.


"Oh, iya, aku lupa pada hal ini, bahwa gadis ku bodoh," Steve menyentil dahi Dinda.


Entah kenapa yang antusias menerima sentilan Steve justru gadis-gadis yang tengah berseragam sekolah itu, bukan Dinda yang ceria.


Steve mengernyitkan dahinya, kenapa bisa mereka yang kegirangan saat dirinya menyentil Dinda.


Entah kenapa, Steve merasa bahwa mereka seperti terbawa suasana saat melihatnya memperlakukan Dinda. Romantis.


Hingga ide jahil Steve keluar. Steve menarik pinggang Dinda agar menempel di tubuhnya.


"Kamu mau apa?" Dinda kaget. "Kenapa tiba-tiba begini."


Steve tidak menjawab Dinda. Dia mengeluarkan handphonenya lalu mengambil Poto mereka berdua.


Sontak beberapa gadis belia yang memperhatikannya merasa seperti cemburu.


Steve mengakhiri tingkahnya dengan meninggalkan toko bandana dan anak-anak yang masih di bawah umur itu.


Langkah kaki mereka kini membawa Steve dan Dinda menuju sungai Han. Di pinggiran sungai, Steve mengajak Dinda melihat-lihat view kota dari sisi sungai Han.


"Ini dimana?" tanya Dinda.


"Sungai Han," jawab Steve. "Tempat di mana menjadi latar berbagai film terkenal di Korea."


"Wow," Dinda takjub." Kamu tahu tentang sungai ini, apa kamu pernah menonton drama Korea?"


"Mana mungkin pria suka menonton drama," jawab Steve menampik. "Aku tahu dari website, oleh karena itu aku tahu mengenai tempat ini walau sekilas," jelas Steve. "Makanya banyak membaca, biar nggak ketinggalan info."


"Iya, tahu. Tahu kalau kamu pandai dalam segala hal," timpal Dinda.


Semilir angin di pinggir sungai Han sangat dingin. Steve dan Dinda duduk saling menyandarkan diri. Menatap sudut-sudut kota melalui celah sungai Han.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2