UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 30


__ADS_3

Jam makan telah tiba. Waktu menunjukkan pukul dua belas tepat, dan saat itu tiba para karyawan sibuk mencari makan.


Termasuk Dinda dan Eva yang baru saja menyelesaikan pekerjaan mereka. Walau tak semuanya beres tetapi setidaknya sebagian telah selesai. Tubuh perlu di isi tenaga, setidaknya itulah yang keduanya inginkan.


"Din jam makan sudah tiba, ayo kita cari makan." Ucap Eva mengajak keluar mencari makan.


Seraya mengakhiri kerjanya dengan menutup komputer perusahaan karena tak ia pakai lagi.


"Oke!" balas Dinda semangat.


"Aku matikan komputer ku dulu," lanjutnya memberi tahu Eva.


"Hmmm...." Eva hanya mendeham tanda mengiyakan ucapan Dinda dengan singkat.


"Oke, done," ucap Dinda selesai mematikan komputer yang ia gunakan sebagai bagian dari tugasnya.


"Let's berangkat!!" ujar Eva dengan antusias penuh semangat.


Dinda setuju pada ucapan itu, seakan makan adalah satu-satunya cara yang paling tepat untuk membahagiakan diri yang sedang lesu dan letih.


Keduanya beranjak mencari makan di luar kantor.


"Kita mau makan di mana?" Dinda bertanya di tengah perjalanan mereka.


"Bagaimana kalau kita makan di...."


"Di restoran Jepang oke juga kalau mencari makan jenis hot plate." Seringai Dinda memotong ucapan Eva.


"Ah aku sudah bosan dengan makanan Asia. Aku ingin makan makanan bergaya eropa atau timur tengah. Karena lagi ingin mencicipi sesuatu yang berbeda," celetuk Eva mencari ide yang lain.


"Memangnya makanan jenis apa yang kamu cari?" tanya Dinda.


"Aku.... Hmmmm." Eva masih nampak bingung menentukan makanan apa yang hendak ia makan siang ini.


"Pizza, daging berbeque, pasta Olio gio, atau ayam saus italia?" Dinda menebak.


"Ya... Itu dia yang aku pikirkan. Pizza!"


"Yakin ingin makan pizza siang hari begini?"


"Tentu saja. Sudah beberapa bulan ini aku tidak memakan timbunan lemak seperti ini, sehingga aku ingin sekali makan pizza hari ini." Eva memelas manja.


"Baiklah!" seru Dinda terpaksa menuruti ucapan Eva.


"Kamu yakin." Respon Eva dengan cepat.


"Tentu saja aku yakin. Tapi kamu yang carikan tempat ya," lanjutnya bicara dengan santai.


"No worry," celetuk Eva girang.

__ADS_1


Dalam perjalanan keduanya hanya membahas makan apa yang akan di konsumsi siang ini.


Kaki keduanya menyimpulkan untuk masuk kedalam mall yang tak jauh dari kantor mereka.


Tempat ini sangat ramai bahkan menjadi mall terbesar di wilayah kota Jakarta.


Riuh suara apapun bercampur aduk di pusat perbelanjaan modern ini. Suara manusia, suara langkah kaki, suara wahana permainan hingga suara bunyi-bunyian tak jelas melengkapi tempat yang di juluki 'CENTRAL OF PEOPLE' oleh manusia kontemporer ini.


"Din. Stan di sana banyak makanan lezat. Kita beli makan di sana saja!" seru Eva mengajak Dinda dengan antusias.


"Terserah mu saja. Aku pada ikut arus," jawab Dinda tak begitu antusias saat memasuki time square mall ini.


Dinda hanya mengikuti ajakan Eva yang memaksa. Hatinya berat jika mencari makan ke mall, karena ia tahu bahwa sifatnya yang borosnya akan terkulik jika melihat segerombolan pakaian yang bertuliskan 'DISKON 70%'. Sungguh tak kuasa bagi Dinda jika harus melihat label-label mewah itu terpajang cantik di etalase toko mall.


Mereka memilih makan di salah satu STAN yang tidak terlalu ramai. Dan hanya beberapa saja yang sedang menikmati makan di tempat.


"Kamu duduk di sini dulu tunggu aku. Aku yang akan memesan makanan di kasir," ucap Eva memanjakan dinda.


"Kamu memang yang terbaik." bala Dinda sekenanya namun tidak girang.


"Oh iya, kamu mau makan apa?" tanya Eva memastikan sebelum dirinya benar-benar pergi memesan makanan.


"Terserah kau sajalah, aku ikut!"


"Oke, kalau minum?" Eva memastikan sekali lagi.


"Cukup kopi jahe full krim," balas Dinda singkat.


Meja identitas pengunjung di stan tersebut.


Dinda duduk manis menunggu Eva yang sedang meninggalkannya. Seraya membuang waktu suntuk ia mengeluarkan gadgetnya dari saku celananya.


Ia menggulir layar handphonenya seakan dirinya adalah orang paling sibuk, nyatanya tak ada seorang yang menghubungi dirinya. Inilah fakta yang harus ia terima karena bukan termasuk orang yang penting kecuali sang ibu yang menelpon menanyakan kabarnya dan adik-adik serta Eva dan beberapa kolega lainnya yang menghubungi dirinya di saat-saat ada perlunya.


Namun sekonyong-konyong, seorang pria bertubuh tinggi dengan pakaian rapi, bersih menghampiri dirinya dengan wajah yang begitu antusias mempesona. Pria itu membawa nampan makanan di tangannya.


"Hei Dinda," sapa seorang pria menghampiri dinda yang tengah duduk santai menunggu Eva membeli makan. Dia adalah dokter Rendy, pria yang pernah berjumpa dengan dirinya beberapa hari yang lalu.


"Kamu di sini juga ternyata?" tanya Rendy dengan senyum sumringah.


"Oh iya hei Ren, aku disini bersama sahabat ku Eva." Balas Dinda sedikit terkejut karena di hampiri oleh Rendy.


"Oh ternyata kamu bersama teman ya. Aku pikir kamu sendiri."


"Tidak. Aku kesini bersama sahabat ku. Kalau kamu sendiri? apakah ingin belanja atau sedang mengantarkan seseorang?" Dinda balik bertanya. Padahal jelas bahwa Rendy membawa makanan di tangan, namun Dinda pura-pura tidak tahu sebagai bentuk ucapan random.


Rendy memberikan senyum terbaiknya kala Dinda bertanya, seakan senjata pamungkasnya mulai keluar.


"Emm...... Aku sebenarnya sedang mencari tempat untuk makan juga. Sekalian refreshing, aku mencari makan di mall agar terlihat trendi," celetuk Rendy dengan nada bicara santai.

__ADS_1


"Oh mencari tempat makan juga. Kalau begitu kebetulan kita disini makan. Lebih baik makan bersama saja dengan kami." Tawar dinda pada Rendy.


"Maaf ya Ren, aku tidak melihat kalau kamu membawa baki makanan." Ucap Dinda sedikit terkekeh atas perilakunya yang tak melihat Rendy datang bersama baki di tangan.


"Iya tak masalah. Butuh waktu untuk memahami situasi seperti ini," jawab Rendy bicara ramah dan merendah.


"Kalau begitu duduk saja di sini Ren, tak masalah jika makan bertiga." Dinda menarik kursi untuk rendy.


"Benarkah? apakah aku tidak terlalu mengganggu?" Rendy mulai antusias.


"Tidak. Kami malah senang jika kamu ingin bergabung makan bersama dengan kami," balas Dinda dengan menambahkan sedikit senyum.


"Baiklah. Terima kasih atas tawarannya," Rendy tak menolak, dan ia mengambil satu kursi dari empat kursi yang mengitari meja makan.


Kursi yang di tawarkan Dinda adalah kursi pilihan terbaik menurutnya karena ia beranggapan mendapatkan kursi dari wanita cantik bisa membawa keberuntungan.


Di lantai dua mall itu, Eva tiba dengan makanannya yang ia pesan tadi. Dinda duduk dengan manis sementara dirinya kelelahan berdiri menunggu pesanan tadi.


"Maaf ya Din agak lama. Antri panjang dan aku tidak sanggup untuk menerobos," ucap Eva sedikit mengeluh karena mengantri.


Dan ia sedikit terkejut ada tamu yang datang menghampiri keduanya. Ia menyadarinya, pria tampan dengan sejuta pesona.


"Eh ada orang lain ya disini?" tanya Eva random.


"Ah iya. Dia Rendy teman semasa sekolah menengah ku," Dinda membalas Eva lebih dulu seraya memperkenalkan Rendy pada Eva.


"Ayo Ren, kenalan dengan eva!" seru dinda.


Eva sedikit malu-malu tak berani berkenalan terlebih pria di hadapannya sangat tampan. Ia merasa seperti sebongkah upil di hidung paus karena bertemu dengan pria yang begitu tampan. Tak kalah tampan dari pria yang pernah ia temui, Zico dan Steve. Bagi Eva berkenalan dengan pria tampan adalah sebuah berkah tersendiri untuknya. Sehingga Eva tak berani menerima saran perkenalan dari Dinda. Tetapi Rendy, dengan ramah dan senyum sumringahnya lebih dulu memperkenalkan diri dengan berani.


"Hai. Nama ku Rendy aku dokter klinik yang bekerja tidak jauh disini," ucap Rendy mencoba memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangannya tanda ingin berkenalan.


"Hai. A - A - aku Eva. Aku teman Dinda, kebetulan aku temannya sejak SMA. Salam kenal ya mas Rendy," balas Eva menyambut hangat uluran tangan Rendy. Sedikit gugup namun semua itu berlalu jika ia sudah menyentuh tangan pria tampan.


"Ya sudah. Kalau begitu kita lanjut saja makannya. Sebentar lagi jam kerja kita mulai Va!" seru Dinda menengahi keduanya sambil mengingatkan Eva.


"Oh iya Din. Mas Rendy ayo di makan nanti keburu dingin loh," tegur Eva pada Rendy. Rendy sudah memesan makan sebelumnya sehingga ia tak perlu memesan makan lagi dan hanya sedang kebingungan melihat keduanya yang begitu manis dan cantik.


Dan bersyukur bagi dirinya karena tak sengaja melihat Dinda yang duduk sendiri sehingga ia berniat untuk gabung makan bersamanya.


Tetapi ternyata Dinda datang bersama temannya, tetapi tak masalah bagi Rendy. Ini hanya makan siang bukan makan formal ala kantor.


Ia sedikit canggung, tetapi semua berlalu setelah Rendy tak memikirkan hal itu. Santai dan rileks yang ingin Rendy rasakan saat itu.


Ketiganya makan bersama dalam satu meja siang itu.


BERSAMBUNG


Jangan lupa like + komentarnya ya.

__ADS_1


TERIMA KASIH


Jika ada typo mohon maafkan ya, karena itu sebuah kelalaian penulis.


__ADS_2