UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 55


__ADS_3

Sinar mentari pagi masuk menyeruak menyibak di balik tirai penutup jendela.


Dinda terbangun dari tidurnya, sesaat di ikuti rasa sakit kepala yang mengiang.


Bahkan matanya sembab karena tangisan semalam. Kemudian Dinda teringat apa yang telah ia perbuat.


Dia menangis di pelukan Steve malam itu, namun setelahnya dia tidak tahu apa-apa lagi akhir dari tangisannya itu.


"Apa ini mimpi?" Dinda berteriak panik setelah matanya mulai menyadari kejadian yang sudah diingatnya itu.


"Ini bukan mimpi. Ini nyata." Steve duduk di sofa yang dekat dengan tempat Dinda berbaring.


Dia menyahut saat Dinda mulai tersadar dari tidurnya yang panjang semalaman.


"Pak Steve! Bagaimana bisa Bapak ada di kamar ku." Dinda merasa kaget saja saat pria itu duduk tepat di sebelahnya.


Steve mengernyitkan dahinya. Ia menaikan kedua alisnya dan bersikap sedikit sok tidak paham. Kemudian dia bersua ketus.


"Coba perhatikan ini dimana."


Dinda merasa bahwa dia sedang tidur di kamarnya. Tetapi karena ada Steve dikamar ini, Dinda melirik sekeliling, menyapu ruangan dengan sekali lihat. Ternyata memang bukan kamarnya yang ia temui, tetapi entah kamar siapa? Dia tidak tahu. Dinda berpikir awalnya dia tidur di kamarnya. Ternyata ia salah mengira.


"Bagaimana aku bisa di sini Pak? Ini di mana? Pak Steve tidak menodai ku kan?" Dinda bertanya berekspresi makin panik karena dia masih merasa asing pada kamar yang ia tumpang tidur itu.


"Kamu ada di rumah ku. Semalam kamu pingsan setelah menangis tersedu-sedu. Mungkin kamu kelelahan karena menangis, sehingga kamu membanjiri jas ku tadi malam." Balas Steve menjelaskan detail yang terjadi semalam.


"Dan satu lagi! Aku tidak menodai mu. Kamu bisa cek sendiri kamu masih suci atau tidak. Kalau aku sih seratus persen masih perjaka tulen. Mana mungkin aku akan menyerahkan keperjakaan ku pada gadis jelek seperti kamu. Kalau kamu suci atau tidaknya? Hanya kamu yang tahu. Kecuali kamu mengizinkan aku membuat anak bersama mu, dengan senang hati aku menerimanya." lanjut Steve menambah bicara terselubung seraya menggodanya. Dia mendekati Dinda seraya merayu dan membisik di telinga wanita itu.


"Tidak! Tidak! Tidak! Mana mungkin aku mengizinkan Pak Steve menodai ku, membuat anak bahkan mengetahui aku suci atau tidak. Ini privasi ku." Balas Dinda mengelak sengit.


Steve mengernyitkan kembali dahinya sembari mendengus dan memijat otaknya. Maklum saja, pagi itu Dinda sangat protektif padanya.


Dinda menengok kedalam selimut, memastikan bahwa ia masih terbungkus dalam keadaan berpakaian lengkap atau tidak.


"Syukurlah," timpal Dinda setelah melihat dirinya utuh dengan pakaian bersih.


"Tetapi? Siapa yang menggantikan pakaian ku?" Dinda sadar bahwa pagi itu dia tidak lagi mengenakan pakaiannya semalam.


"Bibi Yan yang menggantikan pakaian mu. Nggak usah sok polos, mana mungkin aku mengintip barang pribadi mu." Lagi-lagi Steve menjawabnya sedikit arogan.


Dinda kembali memperisaikan diri bersikap proteksi menutup dadanya dengan Silangan tangan.


Dinda kemudian ingat jika semalam pasti jijik bagi Steve karena menampung air matanya yang membanjiri jas mahal pria itu.


"Itu.... Tadi malam... Maafkan aku, Pak." Ucap Dinda bersikap polos bagai anak kucing yang sedang mengiba.


"Tidak apa-apa. Hanya saja air mata mu bercampur ingus tadi malam. Makanya aku hanya memaafkan mu sebatas Air mata. Kalau untuk lendir yang keluar dari hidung mu itu? Aku sepertinya butuh sebuah kompensasi yang lumayan besar." Tukas Steve berlagak memalak.


Dinda tahu jika dia sudah berbuat salah. Dia tidak akan membantahnya apalagi menghindar dari kejadian ini. Dia pasrah pada keadaan. "Aku akan membayar ganti rugi jas Pak Steve. Tapi tidak sekarang. Nanti, ketika aku sudah kaya. Aku mohon pak Steve tidak menambahkan beban yang sangat besar pada ku."


Mendengar ucapan Dinda yang lucu ini sebenarnya membuat Steve ingin tertawa terbahak-bahak. Dia terlalu berpikir entah berantah, padahal ucapan Steve hanya lelucon belaka. Tetapi image lemah lembutnya tidak mungkin ia keluarkan pagi itu apalagi dia terkenal dengan wajah garangnya. Sehingga untuk menutupi bahwa dia sedang ingin terbahak-bahak, Steve menjawabnya sok jaim. "Ehm.... Oke. Nanti kalau kamu sudah kaya, bayar semua kerugian ku yang semuanya sudah aku total kan sebesar sembilan puluh enam milyar. Plus bunga selama empat tahun."


"Hah... Sembilan puluh enam milyar plus bunga empat tahun? Hanya untuk jas semalam?" Balas Dinda bersua kaget. Siapa yang akan percaya pada kerugian seperti itu.


Ucapan steve ini terlalu mengada-ada, tetapi dengan santainya Steve mendekati wajah Dinda seraya berkata kebenaran atas dirinya. "Bukan jas yang di permasalahkan? Tetapi ingus mu itu yang aku maksud." Balas Steve menakuti Dinda.


Dinda ingat betul apa yang telah di lakukannya semalam. Walau dia tidak ingat dengan jelas jika ada ingus yang menempel di jas Steve, Dinda tidak menyangkalnya. Kemungkinan besar memang iya dia beringus. Karena sangking merasa tidak enaknya atas perbuatannya yang menangis bahkan membanjiri jas pria itu, membuat wanita ini tidak mau membahas lagi permasalahan semalam karena dia sudah tersipu malu.


"Baiklah. Aku mengerti bahwa ingus ku adalah dampak jahat dari karir ku. Aku akan membayar semuanya plus bunganya. Tapi aku akan membayar saat aku menjadi istri CEO sombong. Kalau sekarang aku masih miskin, tidak ada yang bisa Pak Steve sita dari ku."


Melihat ekspresi Dinda yang polos dan lugu ini membuat Steve sedikit tertawa puas. Senyum sumringah mengembang di wajahnya yang nampak berseri.

__ADS_1


"Perlukah kita membuat perjanjian kontrak lagi? Siapa tahu kamu akan mengingkari nya suatu saat nanti. Aku takut rugi sewaktu-waktu saat kamu kabur dengan semua uang ku itu."


"Tidak. Tidak perlu ada perjanjian lagi. Aku akan mengingatnya dan aku berjanji tidak akan kabur." Timpal Dinda lugas meyakinkan Steve.


"Baguslah. Kita sama-sama di untungkan kalau begini kesepakatan nya." Ujar Steve bergidik puas.


Dinda menghela nafas panjang. Lega akhirnya mendengar kesepakatan konyol ini. Kemudian Dinda teringat pada adiknya Miko. Tadi malam dia bersama adiknya, tetapi pagi ini dia justru tidak melihatnya?


"Lalu Miko? Kemana dia?" Dinda bertanya meninggalkan masalah ingus tadi.


"Dia sudah berangkat ke sekolah tadi pagi. Kamu gak usah khawatir tentang dia. Dia sudah di antar oleh Zico." Steve menjawab Dinda santai.


Dia duduk di sofa dengan menyilang kedua tangan di dada. Dia sedari semalam menikmati wajah indah Dinda dalam tidurnya. Tetapi Steve tidak akan mengakui itu dengan mudah pada Dinda. Sejak wanita itu pingsan karena kelelahan menangis, Steve duduk semalaman terjaga menatap gadis itu. Saat tidur dia mengigau tentang kisah kecil itu.


Dinda teringat kisah semalam. Sebelum dirinya melupakan semua kejadian itu, Dinda sempat melihat Poto dirinya di masa kecil bersama dengan bocah lelaki penyelamatnya itu.


"Semalam. Apakah benar jika semua nyata. Pak Steve adalah anak lelaki yang menyelamatkan aku saat itu. Benarkan itu nyata." Dinda bertanya penasaran. Sebab dia telah melupakan begitu saja apa yang telah terjadi. Sepagi ini dia kembali menyinggung kisah kecil itu.


Steve tidak berkata sepatah kata apapun. Dia yakin jika Dinda akan menyadarinya. Dia hanya menatap wajah Dinda yang penuh keraguan dan menaiki kedua alisnya. Wajah Steve saat itu penuh intrik saat melihat Dinda.


Begitu banyak pertanyaan dalam benak Dinda. Dirinya sedikit mengingat bahwa semalam dalam pelukan Steve, pria itu mengakuinya. Dia mengaku bahwa anak itu adalah dia. Anak yang ada dalam Poto bersamanya saat itu. Melihat ekspresi Steve yang seakan mengatakan kebenarannya membuat Dinda bergidik sedikit terharu. Dinda mulai menyadarinya.


"Maafkan aku Pak. Aku benar-benar tidak menyadari bahwa selama ini Pak Steve adalah anak itu. Aku memang bodoh untuk mengenali Bapak saat itu dengan sekarang."


"Kamu tidak bersalah. Aku memang sengaja ingin menutupi semua ini dari mu. Maafkan aku karena selama ini aku bersikap keras pada mu. Itu semua aku lakukan karena aku tidak ingin kamu menyadari bahwa diam-diam aku memperhatikan diri mu selama ini." Steve makin mendekati Dinda. Dia bicara lembut pagi itu sambil memegang kedua bahu Dinda yang masih berpegang teguh pada selimut sutra.


"Tetapi, kenapa Pak Steve menggunakan nama Johan saat itu. Karena nama itu aku akhirnya salah mengira bahwa anak yang selama ini menolong ku adalah kak Johan. Apa yang membuat Bapak berbohong pada ku dengan menyembunyikan identitas Bapak." Dinda menuntut Steve sembari matanya kembali mulai sayup menangis tersedu-sedu.


Dia mengulangi kisah semalam dengan kisah yang tak kalah jauh mendramatisir.


Steve tanpa pikir panjang langsung memeluk Dinda. Dia sedikit malu mengakuinya bahwa selama ini Dinda merasa di bohongi oleh sikapnya.


"Sebenarnya saat itu aku terdesak. Kebetulan sebelum bertemu dengan mu, aku sempat berkelahi dengan bocah bernama Johan. Johan yang sekarang selalu mengganggu mu. Sepanjang aku memikirkan nama anak itu, aku tidak sengaja melihat kamu tenggelam. Aku membantu mu, lalu saat kamu bertanya siapa nama ku? Entah mengapa justru nama anak itu yang melintas dalam otak ku.


Percayalah pada ku, aku tidak pernah ingin membohongi mu selama ini." Bisik Steve menyakinkan Dinda sembari mengelus rambut lembut wanita itu.


Dia memeluk Dinda dengan perasaan dan membelai wanita itu penuh kehangatan.


"Pak Steve, apa Bapak tahu. Karena janji saat itu, aku rela datang ke Jakarta hanya untuk bertemu dengan mu. Semua itu aku lakukan karena aku teringat pada janji kita. Tapi, malah yang aku dapat Johan yang sesungguhnya. Bukan Johan kecil yang ternyata adalah Pak Steve. Kenapa Bapak melakukan semua ini kepada ku? Apakah Bapak menguji perkataan ku." Dalam pelukan Steve Dinda masih menangis meminta penjelasan.


Steve memang merasa bersalah. Sejujurnya dia selama ini cukup memperhatikan Dinda dari jauh tetapi sayang dia tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk mendekatinya.


"Aku tahu, kamu pasti merasa bahwa aku adalah pria yang egois. Tetapi aku masih mengingat janji kita saat itu. Kamu tidak perlu lagi meragukan semua ini. Aku menggunakan nama Johan bukan karena ingin membohongi mu, tetapi aku saat itu memang benar-benar membenci nama anak itu."


"Tapi kenapa Bapak melakukan semua ini. Aku dulu memang tidak mengerti apa itu menikah seperti yang Pak steve janjikan. Tidak. Maksud ku janji kita.


Tetapi setelah aku berpikir di saat umur ku sudah cukup. Barulah aku mengerti sebenarnya ucapan saat itu adalah ucapan polos anak kecil yang tak mengerti apa arti dunia saat ini." Dinda masih dengan nada yang sama, menangis tersedu-sedu dalam pelukan Steve.


"Aku mencari Bapak bukan karena aku benar-benar ingin menikah. Tetapi aku hanya ingin... Hanya ingin."


Steve tahu jika semua ini akan sulit di terima. Tapi dia memahami situasi ini. Dia menyeka air mata Dinda yang sudah tidak bisa di bendung itu.


Kemudian Steve memeluknya kembali seerat mungkin. Steve melakukannya semata-mata dia merasa bersalah karena selama ini tidak mengakui kebenaran bahwa dia sebenarnya tahu kisah ini.


"Sudahlah jangan menangis. Aku sudah tahu semua ini akan terjadi cepat atau lambat. Sekarang kita sudah mengetahui sisi kebenarannya. Tidak ada yang perlu lagi kita bahas." Steve berbicara menenangkan Dinda. Dalam pelukannya dia membelai gadis itu dengan lembut.


Dinda masih menangis tersedu-sedu. Dia menikmati kenyamanan dari tubuh Steve yang hangat. Ini untuk kesekian kalinya pria itu membuatnya nyaman. Seakan dia sedang di peluk oleh ayahnya, Dinda menikmati tindakan Steve ini. Dinda akhirnya tahu arti sebenarnya dari sebuah ketidak sengajaan ini.


Mungkin Tuhan sedang menguji mereka dengan cara yang tak biasa. Dinda selama ini tidak menyadari bahwa semua itu adalah hasil dari takdir yang kelam.


Takdir yang menyatukan mereka. Takdir jugalah yang mempertemukan mereka hingga keduanya terikat dalam hubungan yang monoton ini. Dinda sedikit lega setelah mengetahui semua ini terkuak. Jadi bebannya pada Johan sudah lepas. Dinda berpikir bahwa pantas saja selama ini Johan tidak pernah mengingat janji itu. Mengingat masa kecil mereka. Ternyata memang bukan Johan itu yang menyelamatkan dirinya.

__ADS_1


"Kamu jangan menangis lagi. Aku janji, mulai saat ini aku tidak akan membiarkan kamu menangis lagi. Apapun yang akan terjadi, aku akan bersedia menampung semua kesedihan mu. Aku bersedia menjadi wadah mu ketika menangis. Asal kamu bahagia, aku rela melakukan semuanya. Aku rela memberikan bahu ku pada mu untuk bersandar. Semuanya rela aku berikan pada mu asal kamu tidak menangis lagi." Steve menenangkan Dinda. Tangannya membelai Kembali rambut wanita itu.


Dinda kini mulai tersentuh atas semua ucapan manis Steve. Awalnya dia merasa bahwa Steve tidak pernah serius pada ucapannya. Seperti kebanyakan pria di luar sana yang hanya mempermainkan wanita, lalu setelah bosan mereka akan mencampakkan nya. Tapi, setelah dia mengatakannya berulang kali barulah Dinda mulai memahami bahwa Steve tulus menyukainya.


"Pak. Aku juga mencintai Pak Steve." Dalam pelukan itu Dinda masih sempat mengatakan isi hatinya. Dinda mengakuinya sedikit lebih berani.


Steve tidak terkejut sebab dia sebenarnya sudah tahu bahwa Dinda akan mengatakan hal ini.


"Aku tahu itu. Aku tahu kamu menyukai ku. Tetapi, bisa gak kamu tidak lagi memanggil aku Pak. Aku sedikit kesal mendengar itu."


Dinda mendongak wajahnya melihat mata Steve. Binar mata itu membuat Dinda semakin terpesona. "Lalu, aku harus memanggil Pak Steve seperti apa?" Tanya Dinda meminta saran.


"Steve. Kamu bisa memanggil ku dengan sebutan Steve saja. Aku tidak mau ada panggilan formalitas diantara kita berdua." Steve membalas ucapan Dinda lugas.


Memanggil Steve sebenarnya bagi Dinda tidak terbiasa.


Dinda sebenarnya sudah terbiasa memanggil seseorang dengan panggilan formal Pak dan semacamnya. Dia merasa canggung kalau harus memanggil Steve saja tanpa ada gelar di belakangnya.


"Steve?! Apa tidak terlalu aneh?"


Steve tersenyum saat wanita itu mengucapkan namanya seolah tidak terbiasa. "Terserah kamu mau memanggil ku apa? Asal jangan memanggil aku Pak. Aku tidak menyukainya."


"Bagaimana kalau aku memanggil Steve dengan sebutan Koko. Bukankah Pak Steve bagus jika di panggil Koko apalagi Pak Steve orang Tiongkok. Jadi sedikit imut dan menggemaskan saat aku memanggilnya." Entah dari mana pemikiran ini, Steve yang mendengar panggilan Koko sedikit geli saat Dinda mengucapkannya.


Steve menelan ludah pahitnya. Tidak disangka Dinda akan memanggilnya dengan sebutan Koko. "Sebenarnya aku tidak menyukai panggilan ini."


"Kenapa? Apa terlalu jelek untuk Koko?" Dinda menjawab kilat perkataan Steve.


"Sebenarnya aku memiliki nama Indonesia ku. Maksud ku, aku memiliki panggilan khusus dari nenek." Steve sedikit malu-malu ingin mengungkap nama panggilannya.


Dinda penasaran sebenarnya apa nama itu. Dinda menebak kalau namanya pasti sangat bagus sampai-sampai mulut Steve sedikit tertahan untuk mengatakannya.


"Panggilan khusus dari nenek?" Dinda mengulanginya sambil menatap penasaran wajah pria itu.


Steve mengangguk membenarkan ucapan Dinda. "Iya. Panggilan khusus dari nenek!" Steve menegaskan sekali lagi.


"Ayo bilang. Apa nama Indonesia Koko." Dinda memancing Steve agar jujur. Dinda mulai penasaran pada panggilan ini. Dia menanggapinya sedikit ceria dan antusias.


"Tapi kamu janji tidak mentertawakan aku. Oke."


"Iya aku janji. Aku tidak akan mentertawakan Koko sedikit pun." Dinda membalas tersenyum sedikit sok imut.


Steve mendeham membatuk. Sebenarnya dia tidak tega ingin mengatakannya, tetapi gadis itu terlanjur ingin tahu nama itu. "Sebenarnya nenek memanggil ku dengan sebutan HASSANUDIN. Aku tahu nama ini agak kuno, tapi nenek terus saja memanggil ku dengan sebutan HASSANUDIN. Inilah nama Indonesia ku, tetapi aku menyukainya walau banyak orang yang bilang nama ku kuno dan tidak sesuai dengan wajah tampan ku."


Dinda terkekeh kecil setelah mendengar nama ini. Apalagi sikap kenarsisan Steve dalam memuji dirinya sendiri dengan mengatakan kata 'Tampan.'


Dinda berusaha bersikap rasional walau mulutnya tidak bisa menahan gelak tawa. Dia menaturalisasi ekspresi wajahnya saat menanggapi ucapan Steve agar pria itu tidak memarahinya.


"Sebenarnya nama HASSANUDIN bukan nama yang jelek. Hanya saja orang-orang yang menanggapinya yang tidak bisa menghargai nama orang lain. Aku menyukainya kok Kak Hassan."


"Kak Hassan." Steve sedikit kaget, karena Dinda memanggilnya dengan sebutan Kak.


Steve mendeham manja pada Dinda yang masih menggantung dalam pelukannya itu.


"Kamu boleh memanggil ku dengan sebutan HASSANUDIN. Aku menyukainya saat kamu memanggil ku dengan sebutan kak Hassan. Apapun panggilan mu aku akan menyukainya." Steve membalas panggilan Dinda itu tidak membantah. Tidak seperti biasanya, kali ini Steve lumayan hangat.


Dinda tersenyum menyipitkan matanya. Dia senang mengetahui sisi ini.


"Oh iya, kenapa kak Hassan kemarin menghilang dari jamuan keluarga Tama. Kemana kak Hassan ku ini pergi." Dinda bertanya hal ini karena pertanyaan ini mulai melintas di otaknya.


Steve mencubit pipi Dinda. Dan dia mulai mengingat kejadian kemarin. Kejadian kemana dia pergi dan meninggalkan mereka berdua tanpa memberi tahu lebih dahulu.

__ADS_1


"Sebenarnya aku...."


BERSAMBUNG


__ADS_2