UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 147


__ADS_3

Jangan marah kalau aku mencium mu. Karena tandanya aku mencintai mu. Tapi marahlah jika aku tidak mencium mu. Bisa saja aku selingkuh dengan penjual jamu.


—STEVE—


DELAPAN BULAN BERLALU


_____________________________________________


Delapan bulan berlalu. Selama menjalani pernikahan, ada banyak kejadian yang aku alami. Semuanya terjadi amat indah. Tidak seperti yang aku bayangkan.


Dan kalian tahu, aku merasa seperti wanita paling bahagia di dunia ini. Karena bisa bertemu dengan pria yang sangat pengertian dan perhatian.


Hari-hari ku menjalani kehidupan, rasanya semuanya di lalui dengan cinta. Aku merasa, apa yang ada di dunia ini. Tak sebanding dengan kebahagian yang aku miliki.


Seharusnya akhir tahun ini aku dan suami ku sudah tinggal di Shanghai. Apalagi di sana sudah mulai musim semi. Katanya taman belakang rumah di Shanghai sudah di penuhi bunga-bunga cantik.


Rasanya tidak sabaran aku ingin menikmati harumnya bunga-bunga itu. Apalagi bunga sakura. Suami ku bilang, ada sepuluh pohon bunga sakura yang di tanam Mama di pekarangan rumah.


Bunga-bunga itu aku menyukainya. Katanya sih, bunga sakura itu pemberian dari ayah Jackson. Pria yang selalu mendekati kak Stevie dan di amini keluarga jika sampai mereka menjadi suami istri.


Mama mertua yang menanamnya. Steve bilang, Mama tidak hanya menanam satu bunga favorit ku saja. Tapi dia juga banyak menanam bunga-bunga cantik lainnya. Dan aku tipe wanita yang menyukai semua jenis bunga, asal tidak di petik —Seperti buket bunga yang memakai bunga hidup. Aku benci pada mereka yang menjual bunga hidup, kemudian akan rusak jika tidak di gunakan lagi. Romantisnya sehari, sejatinya dia sudah berjasa, namun di lupakan.


Kepergian kami menuju ke Shanghai, pada akhirnya di tunda. Semua itu urung kami lakukan. Kami tidak jadi bertolak ke Shanghai, lantaran saat ini kondisi ku tidak memungkinkan. Jangankan mau terbang naik pesawat menuju ke Shanghai. Naik mobil saja, perut ku saat ini terasa semakin berat. Napas ku mulai ngap-ngapan. Segala sesuatu yang aku lakukan, rasanya malas untuk di kerjakan.


Ya. Kalian tahu. Sebagai seorang Ibu yang sedang mengandung, aku tentu belum bisa kesana kemari.


Suami ku terlalu protektif. Bahkan aku kemana-mana harus memberitahunya. Dia sangat tidak mengizinkan aku jika melakukan sesuatu yang berat, mengingat dia bersusah payah membujuk ku agar segera memiliki anak.


Ah, suami ku memang benar-benar terlalu berlebihan. Walau sebenarnya aku sedang tidak ingin mengandung. Apalagi di awal pernikahan, namun dia memaksa. Pada akhirnya aku menikmati diri ku sendiri sebagai seorang Ibu hamil. Suami ku selalu menuruti apa yang aku mau, juga memanjakan aku. Itu semua karena anak yang aku kandung ini. Berat, tapi aku menyukainya. Aku bahagia memiliki bayi, walau sempat di paksa.


Usia kandungan ku sudah memasuki usia delapan bulan. Dan itu rasanya sangat berat bagi ku saat menggendong balon yang muncul dari perut ku sendiri.


Pada awal kehamilan, aku dan suami ku chek USG. Di sana suami ku terlihat agak kecewa. Suami ku sangat berharap kalau aku bisa melahirkan bayi kembar laki-laki seperti yang dia harapkan. Namun nyatanya. Ekspektasi suami ku harus terkubur dalam-dalam.


Sebab, dokter kandungan bilang kalau aku tidak bisa mengandung bayi kembar. Alasannya sederhana. Indung telur ku tidak seperti Ibu ku. Di mana Ibu bisa melahirkan dua putra kembar identik. Sementara aku tidak. Itulah, kenapa suami ku sangat kecewa setelah mengetahui kabar gembira ini.


Dokter bilang, kemungkinan gen garis keturunan melahirkan bayi kembar terjadi pada Miko atau Niko. Mereka yang menuruni gen kembar itu. Faktanya, mendapatkan bayi kembar itu sulit. Dan aku kadang heran pada novel yang sering aku baca. Kenapa begitu mudahnya para penulis, menuliskan kelahiran bayi kembar—Tanpa meriset terlebih dahulu mengenai kelahiran bayi kembar.


Yah, bisa di bilang, mereka asal tulis. Asal seru, nggak perlu buat riset bayi kembar. Pembaca novelnya baper, beres. Dan itu terjadi, tanpa di sadari sebenarnya bayi kembar sulit di dapatkan. Termasuk aku, yang sudah baper menjadi salah satu pembaca novel itu.


Intinya bayi kembar dalam novel yang aku baca, kebanyakan mereka tampan. Sampai aku iri ingin seperti wanita-wanita yang ada dalam novel yang aku baca. Sosok yang di gambarkan sangat sempurna, sehingga aku minder. Rasanya aku tidak ingin hidup, saat terbawa perasaan membaca karakter wanita melahirkan bayi kembar—plus suaminya super romantis.


Aku tidak bisa membayangkan kehidupan di dalam novel. Mereka sangat menggemaskan. Aku ingin seperti wanita-wanita itu. Hiks.


Meskipun tidak mengandung anak kembar. Namun suami ku bersyukur. Aku masih bisa sehat hingga detik ini dengan mengandung bayi laki-laki.


Dia bahagia karena tahu dari hasil pemeriksaan kalau bayi ini kelaminnya sudah terbentuk. Steve ku sangat takut kalau aku mengandung bayi perempuan.


Bukan apa-apa, dia takut saja kalau bayi perempuan ku nanti mirip Stevie. Dia mewanti-wanti hal ini. Namun sayang, itu tidak terjadi. Entahlah, sepertinya Steve anti dengan bayi perempuan yang nantinya mirip Kakaknya sendiri. Padahal menurutku, Stevie adalah wanita yang baik dan lembut, juga wanita tangguh.


Pada awal masa kehamilan ku. Ketika dia tahu aku hamil. Kalian tentu tahu bagaimana girangnya dia. Suami ku memang tidak mau menunda-nunda kehamilan.


Karena dia ingin menjadi sosok ayah muda. Dia sudah siap dengan tanggung jawabnya.


Begitu girangnya, dia sampai meloncat-loncat di depan muka umum. Itu dia lakukan saat kami makan malam romantis di restoran termahal di Paris dengan latar menara Eiffel . Begitu girangnya, dia bahkan sampai mencium perut ku beberapa kali. Dia tidak malu, memang pada dasarnya Steve tidak peduli pada orang-orang sekitar.


Oh, aku juga ingat. Pada awal usia kandungan ku dulu. Steve ku pernah di bohongi Zico. Katanya, jika menjadi seorang ayah, siap-siap biasanya anaknya akan mirip dengan orang yang di benci.


Kalian tahu. Suami ku tidak pernah benci pada siapapun. Tapi Zico memancingnya dengan mengatakan kalau Johan adalah kebencian terbesar dalam hidupnya.


Alhasil. Jika bukan aku yang menenangkan suami ku. Bisa jadi Zico akan di lemparnya ke bawah. Ah, suami ku itu sangat posesif. Zico juga pecundang yang manipulatif.


Selama mengandung ini, banyak sekali drama yang suami ku ini perbuat. Dia selalu bilang kalau aku sudah tidak perhatian lagi. Masakan ku sudah tidak enak lagi seperti dulu. Dan masih banyak lagi drama yang dia buat.


Aku kadang kesal padanya. Tapi syukurlah. Ternyata itu hanya akal-akalan nya saja. Dia tidak mau perhatian ku hanya tertuju pada bayi kecil ku saja.


Dan dia merasa cemburu setiap kali aku selalu mengelus perut ku sendiri, tidak lagi mengelus dada, perutnya atau rambutnya.


Dia agak kekanakan kalau sudah berkaitan dengan bayi ku. Tapi terlihat garang di depan orang lain. Semua orang tahu itu, dia si pemarah. Namun tidak di rumah, dia sangat kompeten menjadi seorang ayah.

__ADS_1


°°°°°°°°°


“Sayang. Aku bawakan makanan. Ayo di makanan. Selagi hangat.”


Sudah menjadi rutinitas Dinda mengantarkan makan siang untuk suaminya.


Sejak awal pernikahan, Steve tidak mau lagi membeli makan atau makan di luar. Dia hanya mau masakan yang di buat Dinda seorang. Dia benci masakan orang lain saat ini.


Seperti biasanya. Steve bertingkah menjadi bayi besar Dinda. Dia hanya mau makan kalau di suapi oleh Dinda. Atau dia tidak akan menyentuh apalagi meliriknya. Tidak akan itu terjadi.


Walau di lihat oleh karyawannya saat dia bertingkah manja, Steve tidak ambil pusing. Dia suka memamerkan kemesraannya pada karyawan kantor yang tak sengaja melihat adegan ini.


“Masakan kamu hari ini enak banget. Tapi sayang, kamu bawa sedikit.”


Dinda tidak kaget atas pujian itu. Tapi nafsu makan suaminya kini semakin besar. Biasanya Steve tidak pernah nambah porsi kalau makan. Tapi akhir-akhir ini, dia selalu ingin porsi makannya di tambah dari biasanya.


“Itu porsinya sudah tiga piring loh. Dan kamu masih kurang.”


Dinda men-decak sambil menggeleng. Setan apa yang ada di diri suaminya ini. Kenapa bisa nafsunya berubah secepat ini. Hampir sekarung beras di rumah, dia sendiri yang menghabiskan.


“Habisnya. Masakan istri ku selalu lezat. Aku merasa selalu lapar kalau tidak menghabiskannya semua. Istriku memang paling bisa membahagiakan suaminya.”


Dasar... Dinda selalu senang kalau suaminya bahagia atas masakannya. Meskipun sudah berbadan dua, namun perhatian Dinda tidak pernah luput untuknya sama sekali. Dinda tidak mau kalau suaminya jenuh padanya, apalagi perhatiannya akan hilang. Dinda tidak akan membiarkan suaminya bosan padanya.


“Kamu selalu berantakan kalau makan.”


Ketika mereka sedang duduk, Dinda merapikan dasi suaminya yang agak berantakan. Oh, tadi juga jas hitam suaminya ketumpahan air putih. Sedikit, tapi Dinda langsung membersihkannya—agar tidak mencibir kemana-mana basahnya.


“Maaf Pak. Saya ingin menyerahkan berkas laporan keuangan Minggu lalu. Bapak bisa langsung mengeceknya.” Seorang karyawan wanita datang menyela. Memergoki keduanya yang lagi duduk berduaan. Dia pegawai baru, lumayan cantik.


“Tinggalkan saja di atas meja ku,” ucap Steve singkat. Dia apatis kalau ada yang mengganggu mereka.


Wanita berjas biru Dongker ini, meninggalkannya sesuai permintaan Steve. Setelah itu dia meninggalkan ruangannya.


“Permisi.”


Pintu memang tidak di tutup. Dinda sengaja melakukannya. Karena pintu ruangan suaminya ini sudah rusak pengaitnya. Jika di tutup, maka akan sulit untuk membukanya.


“Gila. Pak Steve dan Bu Dinda memang benar-benar suami istri idaman. Aku tadi tidak sengaja melihat Bu Dinda menyuapi suaminya makan. Mereka buat aku meleleh.”


Memang, seisi kantor tahu keromantisan dan kesetiaan Steve pada istrinya seperti apa. Tak ayal, sering kali banyak karyawan wanita di kantor ini sering menggosipi Steve dan Dinda.


Banyak dari mereka yang iri pada Steve dan Dinda.


“Bu Dinda ke sini bawa makanan lagi buat suaminya?" tanya karyawan yang lain. Mereka mulai bergumul, dan siap bergosip ringan ala selebriti. Pertanyaannya tadi di tujukan pada karyawan yang baru saja masuk keruangan Steve. “Serius? Pasti enak masakan Bu Dinda. Uh, benar-benar istri idaman.”


Wanita itu mengangguk. “Bu Dinda memang istri paling sempurna. Selain cantik, aroma masakannya pun nggak bisa di ragukan. Pokoknya iri banget deh sama Bu Dinda. Mana aroma masakannya menyerbak di seisi ruangan Pak Steve. Dan itu rasanya aku lapar saat menghirup aromanya.”


“Haish,” yang lain ikut berkata. “Itu karena kamu bekerja di sini baru dua bulan. Coba kalau kamu bekerja lebih lama. Kamu bakal tahu seperti apa keromantisan Bu Dinda dan pak Steve.”


“Hilih. Seperti yang paling ngerti saja mas Pur,” sahut yang lain sambil melempar ballpoint pada pria yang baru saja berkata ini.


“Dari pada kalian menggosipi Pak Steve dan Bu Dinda seperti ini. Sebaiknya kerja yang giat. Ingat. Nggak lama lagi Pak Steve bakal pindah ke Shanghai. Kita harus memberikan kesan yang baik selama bekerja di bawah kepemimpinan Pak Steve.” Mira merogoh, menyahut sok bijak.


Dia sebenarnya tertarik ingin menggosipi mengenai kehamilan serta hubungan keromantisan kedua orang itu. Tapi, sebagai karyawan senior, dia harus bersikap dewasa walau sebenarnya hati Mira melow. Di ikuti oleh sahutan karyawan wanita yang lain.


“Iya deh Mbak Mira. Tapi asik sih sebenarnya kalau ketemu jodoh seperti Pak Steve. Apalagi istrinya Bu Dinda. Waduh, cocok banget.”


****


Steve mengelus perut besar istrinya. Sesekali dia mencium, juga mendengar pergerakan bayi di dalam perut sang istri. Macam orang yang paling paham mengenai kehamilan.


“Dia menendang,” ucap Steve girang.


Dinda tersenyum. Suaminya itu menikmati gerakan dari perutnya yang besar bak balon. “Dia suka mendengarkan musik sepertinya. Akhir-akhir ini dia selalu tenang kalau aku pasangkan lagu.”


“Banyak sekali perubahan yang terjadi pada kamu dan si bayi. Maafin Ayah ya Nak. Ayah tidak memperhatikan Bunda dan kamu si kecil.”


Dinda mengelus rambut Steve sampai teracak. Suaminya itu memang masih terpaku di perutnya. Itu tidak berubah, setiap kali Dinda ke kantornya. Steve selalu ingin mengelus perut istrinya.

__ADS_1


Dinda juga tahu kalau banyak karyawan yang sengaja ingin melihat Steve mengelus dan mencium perutnya. Dinda tahu semua itu, namun dia acuh. Hal wajar bukan kalau suami mencium perut buncit istrinya sendiri.


“Kamu kan sangat sibuk. Pasti adik bayi di dalam perut mengerti. Ya kan sayang.”


“Kamu memang sosok wanita yang pengertian.”


Steve memperhatikan lagi wajah sang istri. Steve tahu betapa susahnya dia mengandung putranya saat ini.


“Sayang. Kamu di dalam sana jangan menyusahkan Bunda ya. Cepat keluar. Ayah sudah tidak tidak sabaran untuk bermain bersama kamu. Kamu jagoan ayah yang sudah ayah tunggu. Cepetan keluar ya, Ayah sudah menunggu kamu sekarang,” ucap Steve pada perut Dinda.


Dinda cekikikan. Steve membuatnya makin terhibur. “Memangnya dia akan mendengar kalau Ayahnya berkata begitu.”


“Harus. Kalau bisa, dia harus keluar sekarang. Biar tidak menyusahkan Bundanya lagi.”


Dinda melongos. Suaminya ini berkelakuan aneh. “Aku sudah punya nama untuk anak kita,” katanya memberitahu.


“Oh ya!!”


Steve mendongakkan kepalanya. Ya, dia memang sedang jongkok di depan Dinda. Tangannya memang tidak bisa diam mengelus si balon besar.


“Siapa?” tanya Steve.


“Joseph Al-Iqbal.”


“Ha?”


“Joseph Al-Iqbal,” ucap Dinda mengulangi.


Steve memposisikan dirinya. Duduk di sebelah Dinda, sambil memegang kedua tangan istrinya.


“Kenapa? Kamu nggak suka dengan nama itu?” tanya Dinda lagi. “Atau.....”


Steve menggeleng. “Bagus. Hanya saja aku ingin menambahkan nama Marga di belakangnya.”


“Marga Papa?” Dinda menebak.


Steve mengangguk lagi. “Joseph Al-Iqbal Wong. Bagus namanya.”


Dinda mendengus tersenyum. Tangannya ikut mengelus perutnya. Dan Steve menuntun tangan Dinda ikut merasakan hal yang sama.


“Aku harap. Joseph akan setampan Ayahnya nanti kalau dia sudah lahir. Dia putra pertama kita, aku akan membuatnya sekuat diri ku.”


“Kamu terlalu terburu-buru.”


Steve menatap siluet mata Dinda. Lalu berkata lagi. “Apakah kita tidak punya panggilan untuk si kecil nantinya.”


“Ada.”


“Joseph saja atau....”


Dinda menggeleng. “Iqbal,” katanya menjelaskan. “Kita akan memanggilnya dengan sebutan Iqbal. Dan teman-temannya kelak akan memanggil si kecil, Joe.”


“Bagus,” timpal Steve. “Aku suka nama yang di berikan oleh istri ku.”


“Syukurlah. Aku kira, suami ku tidak menyukai nama ini.”


“Apapun nama putra kita. Aku akan menyukainya.”


Dari luar kaca jendela. Beberapa karyawan wanita asik mengintip tingkah romantis Steve pada Dinda. Mereka merasa terhanyuk saat Steve membelai istrinya lembut.


“Ommo. Suami idaman. Enak banget sih Bu Dinda.”


“Pingin deh punya suami seperti itu.”


“Selain tampan, Pak Steve kompeten. Dia tipe Ayah yang ideal.”


Pemandangan seperti ini sudah biasa. Zico kerap kali melihat banyak karyawan wanita yang dengan sengaja mengintip ruangan Steve.


Bahkan sesekali Zico harus membuang napas payah, lantaran bosan melihat orang-orang itu hilir mudik di depan ruangannya.

__ADS_1


“Dasar Steve. Karena sudah mau mempunya anak, apa-apa harus di perhatikan oleh karyawan. Cckck.”


°°°°°


__ADS_2