
Di ballroom hotel, ruangan yang begitu besar ini sudah di penuhi oleh para tamu undangan.
Dinda, Miko dan Steve memasuki tempat ini. Suasana acara sangat megah khas orang kaya.
Piring, gelas, bucket bunga hingga semua hidangan tersusun rapi. Kursi dan meja tamu tak lupa di pasang sprei putih.
Harum aroma masakan menyeruak sedap. Masakan penyuguh untuk para hadirin yang datang nampak jelas masakan mewah bintang lima yang lezat nan tertata rapi.
Semua orang berpakaian baik dan terlihat elok di pandang.
"Padahal hanya acara pertunangan, kenapa harus heboh seperti ini acaranya," ucap Dinda sedikit mengumpat tema acara Johan.
Yang hadir pun jelas terlihat seperti konglomerat, artis, orang-orang terpandang dan entrepreneur.
Tangan Dinda iseng mengambil segelas jus segar yang ada di dekatnya.
"Aku ingin ke toilet sebentar. Kalian berdua tetap di sini." Steve menyela Dinda dan Miko yang sedang asik menyapu pandangan mereka di seisi ruangan yang terhias rapi.
"Siap kak." Balas Miko mendengar ucapan Steve.
Kini Dinda dan Miko tertinggal berdua. Mereka berdiri dekat dengan gelas-gelas yang tersusun rapi.
"Kak, acaranya keren sekali ya." Ujar Miko sedikit takjub.
"Keren dari mananya. Menurut kakak biasa saja tuh," balas dinda kontra pada ucapan Miko.
"Benarkah. Tetapi menurut Miko sedikit keren dan agak kekinian."
"Itu menurut mu! Tapi menurut kakak tidak." Balas Dinda ketus.
"Lupakanlah. Tidak ada gunanya memuji acara orang lain."
"Oke! Oke! Miko mengerti," pungkas Miko menghentikan bicaranya.
Semua tamu asik menikmati alunan musik sebagai pengiring acara pertunangan Johan.
Dinda dan Miko tidak begitu antusias karena tidak ada gunanya bersenang-senang di acara orang yang tidak begitu di kenal. Pikir keduanya begitu.
Tidak ada hikmah yang bisa di ambil dari acara Johan ini selain ajang pamer harta dan pamer riasan yang tebal macam waria yang sering mangkal di taman Lawang. Hanya itu yang di perlihatkan oleh beberapa kalangan atas nan elit.
Tetapi sekonyong-konyong mereka berdiri menunggu Steve. Inggrid, sahabat Vanya yang selalu mendukung tindakan Vanya menghampiri mereka berdua.
Wanita itu bagai ada magnet seakan tertarik untuk menjamu Kaka adik ini.
"Wah! Wah! Wah!" Ucap Inggrid berujar bak artis peran yang melakoni tindakan jahat yang kontra pada pemeran utama.
Dinda tahu bahwa inggrid pasti akan berada di tempat ini. Jelas saja, karena dia adalah ajudan setia Vanya kemanapun dia melangkahkan pasti Inggrid ada di dekatnya.
Dinda tidak terlalu menanggapinya. Dinda bersikap cuek dan biasa saja. Tidak ada sapaan hangat untuk Inggrid yang datang menemui mereka.
"Masih punya muka juga rupanya Dinda ku ini datang ke acara kak Johan," Ucap inggrid memulai bicara. Sembari mulutnya sok meminum seteguk jus seakan minuman yang ada di tangannya adalah minuman surga. Dia ahli dalam berpamer.
"Datang kesini sebagai tamu kah? Atau datang sebagai perusak kebahagian orang?" Sindir Inggrid dengan keras.
Dinda tidak terlalu mendengar ucapan Inggrid. Justru Dinda bertindak seakan tidak melihatnya. Dengan tingkah santai, Dinda menikmati minuman bak artis peran antagonis mengikuti gaya Inggrid yang pamer.
Setiap tegukan minuman yang masuk kedalam tenggorokannya ia nikmati dengan seksama.
"Hum...... Rupa-rupanya Dinda yang malang pura-pura tidak perduli dengan kehadiran ku sepertinya. Sangat di sayangkan sekali padahal aku hanya ingin menyapa tetapi malah di tanggapi dengan sikap cuek oleh Dinda." Inggrid bersikap membangkitkan perang yang berkecamuk diantara mereka.
Inggrid memutarkan rambutnya menggunakan jari jemarinya seolah dia sedang mengeriting rambut menggunakan catokan. Wajahnya licik saat itu kala mencari sensasi di hadapan Dinda.
Dinda santai. Dia tidak mau ikut dalam arus permainan Inggrid. Hanya buang-buang waktu saja pikir Dinda jika menanggapi tingkah Inggrid.
"Kurang ajar! Dia rupanya berusaha tidak mau berurusan lagi dengan ku rupanya," hardik Inggrid kesal tidak di gubris oleh Dinda.
Matanya melirik Miko. Dia tahu Dinda datang bersama pria yang kali ini jauh lebih muda darinya. Terlebih Miko berpakaian ala anak pengusaha.
Gaya Miko cukup keren. Tangan kirinya ia masukan kedalam saku celana sementara tangan kanan memegang gelas cantik seakan sedang meminum wine terbaik yang di impor dari Italia.
Sembari dia berdiri tegap tak memperhatikan Inggrid.
Lebih-lebih Miko yang tampan mengenakan jas mewah, jelas terpikirkan oleh Inggrid bahwa Miko adalah anak seorang konglomerat. Setidaknya Miko adalah tuan muda di hadapan Inggrid saat itu.
Terlintas dalam benaknya bahwa Miko telah mem-booking Dinda setelah melihat gelagat Miko yang rupawan nampak dari kelas atas.
__ADS_1
"Ehm..... Sepertinya sudah ganti pasangan hari ini." Ujar Inggrid kembali mencoba memancing suasana keributan.
Dinda sebegitunya tidak ingin peduli apa pun atas ucapan Inggrid. Tetapi wanita ini selalu saja ada ide untuk membuat Dinda tak bisa diam untuk menghajar mulut pedasnya itu.
"Sayang sekali, kacung Vanya hari ini salah mengira." Timpal Dinda bicara sarkasme.
"Kacung?....... Seharusnya penggoda pria oranglah yang harus di sebut kacung. Nampaknya ucapan Dinda salah penempatan."
Sekali lagi Dinda tersenyum licik ala Steve. Sebenarnya Dinda malas berdebat dengan Inggrid tetapi wanita ini selalu saja ingin mengganggu dirinya.
"Sebaiknya sebelum bicara dan mengatakan bahwa aku adalah wanita penggoda, coba perhatikan lebih dahulu seperti apa diri Nona Inggrid yang katanya berasal dari keluarga bangsawan." Timpal Dinda kembali bersikap sarkasme.
"Apa yang ingin di katakan oleh wanita ****** ini?" Batin Inggrid penasaran atas ucapan Dinda.
"Aku! Jelas aku berasal dari keluarga terpandang. Ayah ku terkenal di penjuru negeri ini. Siapa yang tidak mengenal Inggrid putri pengusaha kaya raya se-Indonesia." Ungkap Inggrid bersikap narsistik. Dengan bangga ia berusaha memamerkan seperti apa posisinya. Senyum pahit menghiasi wajahnya yang licik.
"Termasuk Irfan!" Timpal Dinda bicara skak mat.
"Irfan!"
"Ya Irfan. Kamu pasti mengenal Irfan kan? Pria yang pernah kamu ajak tidur malam itu," bisik Dinda membuka kisah lama.
Sontak inggrid kaget mendengar ucapan Dinda. Terlebih saat nama Irfan di sebut.
Namun inggrid berusaha bersikap natural menanggapi pernyataan Dinda seolah dirinya tidak mengenal siapa itu Irfan.
"Siapa itu Irfan? Simpanan baru mu kah?" Ujar Inggrid mengubah suasana diantara mereka. Dia berusaha bicara sewajarnya saja. Dia memutar kata seakan Irfan adalah pria Dinda.
"Nampaknya Nona Inggrid dari golongan konglomerat menolak lupa kejadian malam itu!" Dinda berusaha kembali memancing ingatan Inggrid.
"Sial. Dia sepertinya sengaja ingin mengorek kejadian malam itu. Aku harus mencari ide lain." Gumam Inggrid dalam hati.
Dirinya mulai risau saat Dinda memantik kisah lama ini.
Inggrid belum siap untuk menerima kenyataan jika kisah ini terkuak. Sebisa mungkin dia harus bersikap biasa-biasa saja agar Dinda tidak bicara lebih.
Dinda tahu Inggrid pura-pura bersikap rasional di hadapannya. Namun, inilah permainan. Dinda harus menghadapi situasi ini terlebih kesabaran Dinda sudah di ambang batas.
"Huh...... Beginilah jika orang miskin dari kelas bawah bicara. Terkadang suka memutar balikan fakta. Sangat miris jika hidup dalam zona kekurangan uang. Terkadang mereka mengemis pada kaum konglomerat agar di beri berkah oleh kami para kaum berada."
"Sangat di sayangkan sekali. Selama ini yang hidup bagai parasit, numpang berkah di kehidupan orang lain adalah Nona Inggrid. Tetapi dia mengatas namakan orang lain. Aku benar-benar di buat tidak berdaya untuk membantah perkataan Nona Inggrid ini." Balas Dinda bicara tak kalah sengit.
"Bha-ha-ha-ha-ha...... Apakah tidak salah ucapan itu."
Inggrid kembali bertindak. Tetapi Dinda menanggapinya dengan sikap tenang. Dia memperhatikan wajah Inggrid dengan seksama.
Dalam batin Dinda cukup prihatin saat melihat senyum terpaksa yang di tunjukan oleh Inggrid.
"Seharusnya sebelum Dinda yang ****** bicara, sebaiknya di perhatikan dulu. Kemarin datang bersama pria tampan lainnya. Kini datang kembali dengan pria tampan lain. Bahkan kini jauh lebih muda dari diri mu. Apakah pria satunya sudah kehabisan uang sehingga Dinda yang malang ganti pria lagi hari ini. Hati-hati loh terkena HIV-AIDS karena sering gonta-ganti pasangan." Lanjut Inggrid bicara meledek sembari melirik wajah Miko.
Dinda menggeleng kepala. Dia tidak habis pikir pada ucapan Inggrid yang ia anggap lucu itu. Dinda mengernyitkan dahinya. Ekspresi wajah Dinda di penuhi oleh kebingungan yang hakiki bagaimana caranya menanggapi ucapan Inggrid yang terbilang unik ini.
"Oh iya. Adik ganteng. Berapa kamu mem-booking Dinda sekali menemani kamu bersenang-senang? Satu M, dua M, atau lima M." Inggrid kini mencoba menggoda dan mengalihkan bicaranya pada Miko sembari meledek keduanya.
Miko juga tidak menanggapinya. Dia menanggapi hal ini biasa saja. Dan dalam ingatan Miko masih segar jika Inggrid juga pernah ia temui beberapa tahun lalu. Lebih tepatnya saat dia membantu Vanya melabrak kakaknya. Miko ada disana dan dia melihat kejadian itu. Kejadian saat mereka memaki kakaknya tanpa henti.
Namun saat itu dia masih berusia sangat kecil sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa selain melihat kakaknya di perlakukan keji oleh mereka.
Miko mendendam pada Inggrid. Dia mengepalkan tangannya sekeras mungkin karena geram pada ulah wanita ini.
Namun Miko menutupi kekerasan yang ingin ia lakukan pada Inggrid dengan tenang.
"Oh iya. Sudah sejauh mana kalian berhubungan intim? Apakah sudah sampai di atas wajar atau sudah bermain kasar di atas ranjang?" Lanjut Inggrid bicara sesukanya.
"Hati-hati loh adik kecil. Kamu masih di bawah umur tetapi sudah berani bermain mesra dengan wanita dewasa. Takut-takutnya nanti kamu terkena penyakit kelamin." Inggrid kembali berbicara seperti sedang menggoda di selingi dengan ucapan nasehat serta ledekan.
Inggrid benar-benar ahli dalam memantik api kemarahan.
"Sepertinya kakak salah paham pada aku dan kak Dinda. Mungkin pemikiran kakak terlalu dangkal sehingga setiap pokok pembicaraan mengarah pada adegan dewasa. Dan aku tidak mengatakan bahwa kakak wanita *****, hanya saja kata itu pas mewakili ucapan kakak yang begitu tidak bisa di kontrol." Miko membalas ucapan Inggrid dengan kata-kata menusuk.
"Tunggu! Apa maksud ucapan mu itu bocah kecil." Tanya Inggrid tak paham.
"Ya, seperti aku katakan tadi. *****. Rupanya kakak ini hanya terlihat cantik saja yang bisa di unggulkan dalam hidupnya. Tetapi dalam nilai berpikir secara logika kakak mungkin tertinggal dari para monyet yang di sebut oleh Charles Darwin sebagai evolusinya. Dalam arti, kecerdasan intelektual kakak termasuk ***** menyamai mutan monyet." Ucap Miko ahli dalam berbicara menohok dan mencibir.
"Bocah sialan. Beraninya kamu mengatakan aku seperti monyet." Tukas Inggrid marah mengganas.
__ADS_1
"Aku tidak mengatakan kakak monyet. Hanya saja, kecerdasan kakak lebih mendekati sifat monyet."
"Beraninya kamu mengatakan aku monyet!"
"Oh iya. Sebenarnya monyet evolusi yang di anggap oleh Charles Darwin sebagai nenek moyangnya jauh lebih mulia di bandingkan kakak yang selalu berpikiran penuh sensasi adegan dua puluh satu plus plus. Aku tidak mengatakan kakak monyet, tetapi kakak sendiri yang mengakui jika kakak adalah monyet." Tukas Miko meledek.
"Mulut mu sungguh pedas rupanya dari yang aku kira."
Miko tersenyum licik saat Inggrid sudah mulai merasa kesal pada ucapannya. Miko tahu jika Inggrid paling tidak bisa di katakan jelek orang lain.
Bukan karena dia sok tahu, tetapi cukup melihat wanita dengan riasan tebal dapat di pastikan jika dia paling tidak bisa di katakan jelek oleh orang lain.
Miko sudah cukup bertemu dengan wanita-wanita semacam Inggrid. Wanita yang haus akan pujian di setiap riasan yang di kenakan.
"Begitulah manusia. Terkadang wajah berbeda dengan ucapan." Miko sok bijak
"Riasan kakak terlalu menor. Takut orang salah mengira saat melihat kakak dengan penampilan begini. Bukan apa-apa soalnya riasaan kakak terlihat mirip hantu valak film box office the Nun." Lanjut Miko sekali lagi meledek.
Inggrid makin menggeram marah tak terkendali. Dia tidak terima atas ucapan Miko. Dia adalah wanita paling cantik, tetapi mengapa di depan Miko dia di anggap seekor monyet bahkan riasannya pun ikut di komentari oleh bocah belasan tahun ini.
Benar-benar memalukan bagi Inggrid karena di perlakukan begini. Sehingga dengan sikap anarkisnya dia mencoba menyiram Miko dengan jus yang ada di hadapannya.
"Kamu rasakan ini." Pekik Inggrid sembari menyirami Miko dengan jus yang mungkin adalah jus jeruk. Karena warnanya kuning segar.
Tetapi Miko berhasil menghindari serangan manja inggrid. Miko tersenyum manis karena berhasil mengelak dari tindakan Inggrid.
"Kakak yang memancing emosi dan kakak juga yang kesal sendiri. Lucu sekali melihat kakak seperti orang gila di pasaran," Miko kembali meledek dengan ucapan yang begitu menyakitkan.
Dinda tersenyum kecil saat melihat adiknya bertindak lucu. Dinda menggeleng kepala dan tak kuat baginya menyaksikan peristiwa ini.
Miko menghampiri kakaknya. Sudah puas baginya membalas Inggrid dengan gaya yang setimpal.
"Miko. Kenapa kamu bisa melakukan ini. Tidak baik untuk kondisi mentalnya nanti." Ucap Dinda sok menasehati adiknya.
Tawa penuh kepuasan menyeringai di wajah Dinda. Dia tidak menyangka jika Miko jauh lebih cerewet dari ibu-ibu yang ketumpahan beras.
"Sudahlah kak. Jangan di tanggapi. Dia sepertinya kurang piknik. Sebaiknya kita mencari tempat lain saja." Timpal Miko sedikit ikut puas membalas kelakuan inggrid.
Mereka mencoba meninggalkan Inggrid sendirian. Siapa peduli pada Inggrid. Miko tidak mengenalnya sehingga buang-buang waktu bagi Miko jika menanggapi wanita ini sepanjang pertemuan mereka.
"Oh iya. Aku ingin mengatakan kalau aku dan adik tampan ini adalah kakak adik. Mohon lain kali jika melihat adik ku yang tampan ini di jalan tolong jangan di goda. Takut-takut kamu akan khilaf dan siapa tahu terkena penyakit HIV-AIDS." Ujar Dinda berbicara menohok sebelum dirinya dan Miko meninggalkan Inggrid sendirian.
"Adik." Ucap Inggrid bicara pelan.
Dia tidak tahu jika mereka kakak adik. Mendengar ucapan ini semakin membuatnya marah. Dia geram bahkan sampai-sampai kedua tangannya mengepal keras mendendam.
Inggrid berpikir pantas saja mereka kompak menyerangnya. Ternyata karena mereka kakak adik.
Inggrid menghardik keduanya. Kekesalan harus tuntas terbalaskan kala keduanya telah meledek dirinya. Sehingga cup cake yang ada di dekatnya ia jadikan batu loncatan untuk membalas keduanya.
Terlintas dalam benak Inggrid untuk membalas keduanya dengan lemparan kue yang ada di tangannya itu.
"Kalian. Sebelum pergi, sebaiknya terima lebih dahulu hadiah dari ku." Teriak Inggrid pada Dinda dan Miko.
Inggrid berusaha mengejar keduanya dan ingin melemparkan kue lembut ini. Tetapi sayangnya, justru gaun yang ia kenakan tersangkut di paku meja makan.
Hingga tanpa sadar dia tergelincir terbelit oleh gaunnya sendiri.
"AKH......." Teriak Inggrid terjatuh.
Kue yang ia pegang tadi mencomot mukanya hingga tidak nampak wajahnya yang cantik.
Semua orang yang ada di seisi ruangan itu memperhatikan Inggrid. Dan sontak saja semua tertawa terbahak-bahak saat melihat Inggrid penuh kesialan.
Termasuk Dinda dan Miko, mereka terkekeh melihat Inggrid terkena batunya sendiri.
"UPS...."
Dinda sedikit paham bagaimana rasanya di permalukan di depan muka umum.
Inggrid menjadi pusat perhatian saat itu. Seisi ballroom mentertawakan dirinya dengan malang.
Sangking kesalnya Inggrid sampai-sampai tangannya memukul lantai melampiaskan kemarahannya.
BERSAMBUNG
__ADS_1