UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 64


__ADS_3

Malam sudah semakin larut, terlebih malam sudah menunjukan lebih dari jam dua belas malam.


Steve mengantar Dinda pulang ke apartemennya hingga di depan pintu.


Steve sengaja melakukannya demi menjamin keamanan Dinda, atau Steve merasa sangat tidak tenang jika tidak melihat Dinda pulang sampai kedalam rumahnya.


"Terima kasih sudah mengantar," ucap Dinda sambil memberikan kembali jas Steve.


"Tidak perlu di kembalikan, ambil saja," tolak Steve. "Anggap saja jas itu adalah aku. Dan ketika kamu merindukan aku, maka peluklah jas itu, maka kamu akan selalu mengingat wajah ku yang tampan," Steve berkata narsis.


Dinda terkekeh. "Itu menggombal."


"Bukan gombal, tapi aku berkata serius."


"Serius," Dinda mengulanginya. "Jas hitam kamu saja masih ada di kamar ku yang kamu berikan waktu itu dan sekarang kamu memberikan aku jas lagi. Lemari ku nanti penuh setiap kali kamu memberikan aku jas," celetuk Dinda.


Steve ingat waktu itu juga dia pernah memberikan Dinda jas hitamnya. "Itu artinya aku sudah memberikan kamu dua buah jas," Steve mengenang.


Dinda mengangguk. "Iya," dia membenarkan kata Steve. "Kadang aku ingin mengembalikannya, tapi aku sering lupa."


"Tenang saja, jika lemari kamu penuh, aku akan membelikan kamu lemari yang jauh lebih besar. Agar suatu saat nanti ketika aku memberikan jas lagi, maka kamu tidak perlu sungkan menolaknya."


Dinda kembali tertawa, bicara Steve saat ini sudah berbeda dari sebelumnya. "Ingat identitas sebagai bos galak, atau karyawan lain akan meledek Steve yang lembut," celetuk Dinda. Dia mengingatkan Steve.


"Aku tidak akan marah pada kamu lagi, seperti dulu," Steve berkata. "Itu aku lakukan karena aku ingin mendapatkan perhatian kamu."


"Sekarang? Nggak marah lagi?"


"Nggak, karena kamu sekarang menjadi milik ku, kenapa aku harus marah pada pacar ku yang cantik ini," goda Steve. "Kamu harus tahu, kalau kamu paling manis," tambah Steve merayu.


"Aku tahu itu," timpal Dinda tersenyum. "Sudah larut, sebaiknya pulang sekarang atau hujan makin deras," Dinda mengingatkan Steve kembali.


Steve mengangguk dia akan pergi. "Sebelum pergi, aku mau melihat wajah pacarku sebentar saja, boleh kan!" Steve mengedipkan matanya, dia merayu dengan cara sok imut.


Dinda menggeleng, sambil tersenyum. "Untuk apa menatapku begitu, bukannya setiap hari akan bertemu."


"Rasanya kurang jika tidak melihat wajah kamu, aku menyukainya," bisik Steve.


"Sudah sana," usir Dinda secara halus. "Nanti makin deras hujan ini."


Mata Steve berkaca-kaca, dia tidak bisa pergi begitu saja. "Tapi aku minta sesuatu."


"Apa?"


"Jaga baju ini untuk ku. Karena spesial," pinta Steve.


"Akan aku jaga," Dinda berjanji.


Steve pada akhirnya akan pergi, dia tidak bisa berlama-lama di apartemen Dinda, sudah malam. Dia menghargai waktu.


Dress yang beli oleh Steve beberapa waktu yang lalu memang bagus. Hanya saja jenisnya terbuka dan saat di kenakan oleh Dinda dia memang cantik.


Pakaian yang di kenakan Dinda malam itu terbuka hanya menutupi badan sebatas dada. Suasana di luar juga sedang gerimis. Steve sedikit memperlakukannya dengan romantis.


Dia berinisiatif melakukannya, Steve tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang pria, melindungi wanita termasuk hanya memakaikan jasnya pada Dinda.


Dia menutupi dingin nya tubuh Dinda menggunakan jasnya yang sedikit tebal. Untuk urusan ini, Steve agak peka.


Di depan pintu apartemen Steve sebenarnya enggan melepaskan tangannya pada Dinda.


Wajah Steve sedikit sayu saat akan pergi. Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak bisa melakukan ini.


Steve harus berpisah dengan Dinda walau hanya semalam. Tapi berat rasanya bagi Steve, terasa setahun jika tidak melihat wajahnya dalam waktu semalam.


"Hati-hati di jalan, ingat jangan sampai ngebut-ngebutan," dinda mengingatkan.


Steve yang hendak pergi, kembali lagi mendekati Dinda yang masih di depan pintu apartemennya. Mendengar kata-kata Dinda, Steve merasa di tarik, seakan ucapan Dinda itu menginginkannya jangan pergi.


"Kenapa lagi?" tanya Dinda. "Ada yang ketinggalan?"


"Iya," jawab Steve. "Aku meninggalkan sesuatu."


"Sesuatu? Apa? Handphone? Dompet? Uang? Kunci mobil atau apa?" Dinda menebak.


"Bukan semuanya," Steve menggeleng. "Sebenarnya bukan aku yang melupakan sesuatu, tapi kamu," dia berkata, mulutnya terlihat manis saat bicara.


"Aku lupa sesuatu?" Dinda mengingat-ingat, apa yang dia lupakan. "Sepertinya nggak ada deh."


"Kamu lupa, kalau kamu punya pacar," Steve mengingatkan.

__ADS_1


"Pacar!" Dinda menirukan. Dinda mencoba menebak, apa yang dia lupakan. Namun dia ingat, kebiasaan Steve. Dia meminta di cium di pipinya, Steve suka mengkode bagian ini.


Dinda lumayan memahami perasaan Steve, tanpa pikir dua kali Dinda langsung memberikan kecupan di pipi Steve.


CUP! Dinda melakukannya, dia mungkin harus terbiasa pada kode keras Steve. "Sudah ya," kata Dinda mengakhiri.


"Terima kasih sayang," ucap Steve kegirangan. "Kalau begitu aku pulang dulu yah," Steve berpamitan.


"Iya. Hati-hati di jalan," Dinda melambaikan tangannya. "Jangan ngebut," peringat Dinda.


Steve menolehnya untuk yang terakhir kali. Dia melemparkan senyumannya.


Steve pergi sudah lumayan jauh menghilang di balik lorong.


Dinda pun begitu, dia masuk ke dalam.


Di depan pintu dia melepaskan heelsnya. Dinda ingin langsung masuk ke kamar, tapi bel kembali berbunyi.


Dinda melirik jam tangannya, waktu telah menunjukan hampir masuk jam satu. Pikir Dinda siapa yang hendak bertamu malam-malam begini.


Dia membuka pintu, melihat siapa yang menekan bel pintu apartemennya.


"Steve," sebut Dinda terkejut. "Kenapa belum pulang?"


Steve menggeleng. "Kamu lupa lagi," kembali Steve mengingatkan.


"Lupa apa?" Dinda benar-benar tidak paham kali ini pada kode Steve.


"Kamu lupa memeluk ku," kata Steve narsis. Dia tidak malu mengatakannya. Di depan pintu, Dinda hanya termangu mendengar ucapan Steve.


"Sekarang sudah malam," kilah Dinda. "Niko ada di depan tv, nanti dia melihat," Dinda memberi tahu.


Tapi Steve tidak peduli, justru tanpa persetujuan Dinda dia memeluknya. "Sebentar saja seperti ini, aku merasa sangat tenang."


Dinda terpaku, tidak tahu apa yang harus dia katakan. Steve telah memeluknya, mana mungkin Dinda meminta pria itu melepaskannya.


Di pelukan gadis itu, Steve membelai rambut Dinda penuh kehangatan. Aroma rambutnya sungguh memikat, beberapa kali Steve menelan ludahnya, tak kuat menghirup aroma tubuh Dinda.


"Aku ingin seperti ini setiap hari, memeluk kamu dan juga membelai kamu penuh perhatian."


"Steve, aku mengerti kalau kamu narsis, tapi ini sudah malam, aku harus istirahat, besok pekerjaan ku menumpuk di kantor," Dinda berdalih. Dia melepaskan pelukan Steve perlahan.


"Lupakan masalah kantor, aku hanya ingin seperti ini sebentar saja," Steve memeluk Dinda makin erat. "Jangan terburu-buru melepaskannya."


Namun, Steve tiba-tiba saja menghentikan pelukannya. Mendengar ada suara dari dapur Steve langsung bersikap normal.


"Sebaiknya aku pulang sekarang," kata Steve terburu ingin bergidik pergi.


"Ada apa," Dinda penasaran.


"Sepertinya Niko melihat kita."


"Oh... Oke."


"Aku pulang dulu," Steve bicara pelan sambil memburu langkahnya keluar dari apartemen Dinda. "Tidur jangan terlalu malam, sampai bertemu besok," Steve berlalu.


Tak lupa dia mengedip matanya, menggoda Dinda. Dinda hanya tersenyum, lucu rasanya melihat tingkah Steve yang sedikit kekanakan.


Dinda kembali menutup pintu setelah Steve pergi dari apartemennya, tapi sebelum dia masuk lebih dalam lagi ke kamarnya, suara bel listriknya kembali berbunyi.


Dinda yang masih ada di sekitar pintu kembali membukakan pintu. Dinda menebaknya Steve lagi, dia memang pria kurang kerjaan.


"Nggak ada lagi yang di lupakan,aku sudah ingat semuanya," kata Dinda langsung bicara. "Ciuman, pelukan, semuanya sudah cukup malam ini."


Awalnya Dinda berpikir bahwa itu Steve. Tapi nyatanya bukan pria itu yang ia temui, melainkan Johan.


"Kak Johan!" Dinda tersentak kaget. "Kakak ngapain di sini?" tanya Dinda ingin tahu.


Di depan pintu itu, Johan berdiri agak sempoyongan dengan pakaian basah serta wajah pucat pasi.


Johan tidak menjawab pertanyaan Dinda dengan kata-kata, melainkan dengan sebuah pelukan.


Johan pingsan di pelukan Dinda dalam keadaan badan panas.


"Kak Johan, ada apa dengan kakak;" Dinda mulai khawatir.


"Kak Johan! Kak Johan, sadarlah," Dinda berusaha membangunkan Johan, tapi pria itu benar-benar tidak berdaya dan tak ada tenaga.


Badannya sangat panas, Dinda tidak tega membiarkan dia begitu saja.

__ADS_1


"Niko," panggil Dinda. "Kamu bisa bantu kakak nggak."


Dari depan pintu, Dinda melirik kedalam. Niko belum tidur, Dinda memanggil adiknya agar membantunya memapah tubuh Johan yang berat ini.


"Iya, iya. Niko akan kesana." Saat Niko menghampiri kakaknya, dia terkejut karena Dinda menyeret seorang pria.


Mana pakaiannya basah. Niko melihatnya bukan Steve tapi orang lain. Orang yang baru pertama kali ini dia lihat.


"Dia siapa kak?" tanya Niko. "Dan kenapa dia basah seperti ini."


"Udah, bantu aja dulu bawa ke kamar kalian, badannya panas," Dinda tidak menghiraukan pertanyaan adiknya. Dia sedikit mencemaskan keadaan Johan.


Mereka memapah tubuh Johan yang terasa berat. Bahkan Niko harus menyeret pria itu agar bisa sampai ke kamarnya.


Bahkan lantai terasa seperti di pel karena begitu basahnya pakaian yang di kenakan Johan.


Di atas kasur putih milik anak kembar itu, Niko merebahkan seraya membanting tubuh Johan. Tepat di sebelah Johan, Miko yang sedang asik bermain game langsung terkaget.


"Siapa dia?" tanya Miko sambil melompat dari kasurnya.


"Nggak tahu," jawab Niko. "Aku baru pertama kali ini melihatnya."


Miko sadar kalau itu Johan, dia kaget mengapa bisa pria itu mendatangi rumah mereka. "Dia Johan, anak Tama grup! Kenapa bisa ada di rumah kita," Miko ingin tahu.


"Nggak tahu, Niko saja nggak kenal siapa dia," tandas Niko.


"Huh, kamu memang selalu tertinggal info," gerutu Miko. "Kak Dinda mana? Apa dia tahu Johan ada disini," fokus Miko kini teralih pada kakaknya. Dia mengkhawatirkan Dinda, takut saja suasana makin runyam jika Dinda melihatnya.


"Tenang saja, kak Dinda kok yang membawa dia kesini. Kak Dinda sedang mengambil air hangat dan alat kompres untuknya," Niko menjelaskan.


Miko mengurut dada, dia sedikit lega. "Syukur deh."


Dinda yang tadi sedang mengambil air hangat untuk Johan, membawa wadah air hangat itu dengan ekspresi sedikit khawatir.


Dinda sebenarnya tidak mau lagi berurusan dengan Johan, tapi hatinya tidak tega melihat dia terpuruk begitu.


Mau tak mau dia harus memperlakukan Johan seperti memperlakukan keluarga sendiri.


"Tolong kalian gantikan pakaiannya, kakak akan tunggu diluar," perintah Dinda.


"Aku!" Niko dan Miko menyebut bersama.


"Iya," Dinda mengangguk. "Siapa lagi."


"Kan kakak bisa, kenapa harus kami," Miko bersikap seolah anti Johan. "Lagi pula kenapa kakak mau menolong orang yang sudah jelas keluarganya menghina kita."


"Eh... Nggak boleh begitu, walau keluarganya jahat, tapi kita tidak boleh mendendam, ingat itu," Dinda berkata sok bijak.


"Memangnya ada apa dengan dia? Menghina apa yang kalian maksud?" Miko tidak paham pada perbincangan keduanya.


"Sudah. Jangan di bahas dulu masalah itu," tampik Dinda. "Cepat bantu dia ganti baju dulu, kasihan, tubuhnya sangat panas."


"Nggak," Miko merespon acuh tak acuh. "Aku nggak akan menolong dia."


Dinda tahu Miko keras kepala, sulit memaksa anak itu membantunya. "Jangan seperti itu, walau keluarganya yang sombong tapi kan dia tidak seperti itu," Dinda mencoba meraih perhatian Miko.


Agak sulit menaklukkan sifat Miko yang sedikit introver.


"Kalau kak Miko nggak mau menolongnya, nanti aku saja yang menggantikan pakaiannya," Niko berinsiatif. Dia sedikit bersikap dewasa.


"Terima kasih Niko, kamu memang yang terbaik," kata Dinda bersua senang.


Melihat Niko di puji oleh Dinda, Miko sedikit ingin juga di perhatikan. Kali ini dia mengalah. "Baiklah," Miko menurunkan egonya. "Aku akan membantu, tapi ini yang terakhir, awas kalau dia nyusahin Miko, akan aku buang dia dari lantai atas," ancam Miko membual.


Dinda mengangguk, dia suka pada sikap mereka. "Kalau begitu, kakak keluar dulu. Kalian bantu dia mengganti pakaiannya yang basah," Dinda berlalu. Dia tidak mau melihat masa depan yang suram itu.


"Tunggu kak," Niko bertanya. "Baju apa yang akan di pakaikan untuk dia."


"Masa harus pakai daster," celetuk Dinda.


Keduanya memasang wajah masam sambil menyunggingkan bibir jutek.


"Karena kalian berdua badannya sama tinggi dengan Johan, jadi pakaikan saja pakaian kalian," Dinda menyarankan.


Miko melirik adiknya, dia mengisyaratkan. "Jangan menggunakan pakaianku, aku takut tertular virus," kata Miko bersikap anti jorok. "Celana dalam ku juga, semuanya sedang basah. Pakaikan saja celana dalam Niko, kalian nampak cocok."


Dinda mengernyitkan dahinya. Dia tak bisa menahan kebingungan atas perkataan adiknya yang takut kuman.


"Mereka orang kaya kelas atas, piring saja minimal di bersihkan dengan desinfektan anti bakteri sampai lima kali. Mana mungkin di tubuhnya ada virus, ngawur," Dinda menggerutu.

__ADS_1


Hanya Niko yang bisa memahami situasi ini. Dia yang berinisiatif, walau sebenarnya Niko juga tidak mau membantunya.


BERSAMBUNG


__ADS_2