UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 118


__ADS_3

TERKENANG


Kata orang kalau kehilangan orang yang paling di cintai itu, hampir sama dengan raga tanpa jiwa. Dalam arti lain, hidup terasa kosong dan hampa. Apa-apa yang ingin di kerjakan sehari-hari, kini berubah menjadi lesu dan malas untuk di kerjakan. Karena pikiran kita selalu terbayangkan oleh orang yang kita cintai, meskipun jiwa dan raganya sudah tidak di sisi kita lagi. Mungkin, orang yang paling kita cintai adalah salah satu bentuk semangat tersendiri.


Dinda ingat, Steve pernah berkata kalau dia dan dirinya itu bagaikan satu jiwa dalam dua raga. Mereka saling melengkapi satu sama lain, saling menguatkan kala lemah, dan saling mengingatkan kala lupa.


Steve juga pernah bilang, kalau dia dan Dinda tidak mau di sebut aku dan kamu. Di mana di situ terasa agak ambigu. Titik di mana Steve merasa canggung jika menyebut gadisnya dengan sapaan KAMU. Steve lebih suka dengan sebutan KITA, saat dia bersama dengan Dinda. Panggilan itu membuatnya merasa kalau kebahagiaan yang di milikinya makin sempurna. Di mana, dia dan Dinda, akan membangun sebuah keluarga kecil yang indah. Menggantungkan bingkai yang di hiasi wajah kecil putra dan putrinya. Senyum itu merekah, membuat keluarga kecil yang di idamkan oleh Steve makin terasa hangat.


Hari-hari mereka amat menyenangkan, saat bangun tidur ada suara anak mereka yang memecahkan suasana pagi. Steve berangan, kala anaknya menangis, maka dia siap menjadi seorang ayah yang kompeten. Oh, sungguh, kata-kata dari Steve semakin membuat Dinda rindu akan kehangatan pria nakalnya itu.


Jujur, Dinda sangat mengakuinya dengan jelas. Dia bukan pria yang romantis, yang bisa di samakan dengan pria yang setiap saat menggoda wanita manapun. Dia pria yang berbeda, di mana hal-hal yang di lakukannya di luar dugaan.


Pria yang pergi membawa seluruh jiwa Dinda, setiap harinya membuat gadis itu terus terpikirkan bagaimana keadaannya saat ini di Jerman.


Dinda baru saja pulang dari kantor. Karena ada pekerjaan tambahan, dia pulang agak larut hingga pukul sembilan malam. Yah, selama berkerja, dia juga tidak konsentrasi karena pikirannya masih terus terbayang-bayang oleh wajah pria yang sulit di lupakan itu. Saat selesai bekerja, Dinda di antar pulang oleh Zico.


Tadi Zico juga ikut lembur, jadi pikir pria itu dia akan mengantar Dinda pulang. Zico ingat, Steve pernah berpesan agar dia menjaga wanitanya saat dia tidak ada. Zico bertanggung jawab, kini sudah memenuhi semua permintaan Steve.


Bahkan gadisnya pria galak itu sudah di antarkan hingga di depan gerbang rumahnya. Dia tidak mau kalau pria itu—Steve memarahinya lantaran menelantarkan kekasihnya yang membuatnya gila dalam cinta. Sungguh, Zico tidak berani menghadapi Steve yang jauh lebih cerewet dari Ibu-ibu pasar, Ibu-ibu gosip, dan Ibu-ibu arisan.


"Terima kasih ya Co, sudah mengantarkan aku pulang sampai kerumah," ucap Dinda seraya melambaikan tangannya pada pria itu.


Zico membalasnya dengan sebuah nada klakson mobil, lalu sesaat kemudian dia berlalu dari rumah Dinda. Sebenarnya, Zico menjaga jarak dengan Dinda. Pria mana yang akan tahan melihat kecantikan Dinda dan juga kebaikannya.


Walau Zico berpikir, dia tak kalah tampannya dengan tiga cecunguk yang berusaha mendapatkan Dinda, tapi dia tidak berani mengkhianati sahabatnya sendiri, Steve. Pria itu sudah memonopoli Dinda, mana berani Zico bertindak menyerobot gadis orang lain.


Walau, sebenarnya jalan mendapatkan Dinda sudah terbuka lebar. Namun Zico bukan pria seperti itu, pria yang memanfaatkan kesempatan di tengah orang lain sedang terpuruk.


Ah, pokoknya Zico hampir gila kalau terus memikirkan kekasih orang lain. Bahkan selama ini rasanya pada kekasih Steve itu netral. Sumpah, Zico ingin rasanya berhenti menjaga Dinda. Di tidak kuat menahan godaan kala harus terjerat cinta Dinda. Benih-benih cinta itu akan muncul seiringnya kenyamanan itu datang.


"Dinda pulang, Bu." Dinda membuka pegangan pintu, yang langsung mengarah ke ruang tamu. Di sana kedua adiknya dan juga sang Ibu terlihat santai duduk menonton TV. Kedua adiknya, sebenarnya sibuk main gawai masing-masing, jadi mereka hanya menemani sang Ibu saja.


"Tumben pulang malam?" kata Ibu berbasa-basi.


"Ada pekerjaaan tambahan Bu," balas Dinda seraya merebahkan bokongnya di sofa. Tepat di sebelah sang Ibu, tubuh lemas itu minta di keloni sang bunda.


"Kok lemas gitu? Udah makan kan tadi?" kali ini Ibu memperhatikan. Dia menyeka rambut anak gadisnya yang berantakan itu.


Di pangkuan sang Ibu, Dinda menikmati lembutnya tangan yang memijat kepalanya hingga merilekskan pikirannya dari penatnya pekerjaan. "Sudah makan kok Bu. Cuma nggak tahu kenapa, kaki Dinda terasa gemetaran. Mungkin Dinda lapar lagi, sepertinya."


"Kak Dinda bukan lapar, tapi masih kepikiran kak Steve," sahut Niko sambil asik nge-gaming.


"Hus. Kakak masih berkabung, kamu malah ngeledek," sambar Ibu Yuri menengahi perkataan Niko.


Ibu Yuri mengusap bahu putrinya, dia berharap kata-kata adiknya itu tidak membuatnya makin bersedih. Dia tahu, putrinya tegar di luar, rapuh di dalam.


"Kalian sudah makan?" tanya Dinda beralih ke perkataan lain.

__ADS_1


"Sudah kok kak. Tadi Ibu masak makanan kesukaan kakak," sahut Miko lebih dahulu.


"Kenapa? Putri Ibu lapar?" tanya Ibu Yuri perhatian pada Dinda.


Dinda menggeleng. "Nggak kok Bu. Cuma nanya doang. Takutnya kalian belum makan karena nungguin Dinda."


"Ooh.... Kalau Dinda mau makan, Ibu siapkan. Mau?" tawar Ibu Yuri. Dia tidak tega melihat putri satu-satunya itu harus terpuruk seperti ini gara-gara memikirkan Steve.


"Nggak Bu," jawab Dinda cepat. "Dinda masih kenyang. Dinda mau rebahan sebentar."


"Ya sudah. Kalau kamu mau makan, semuanya di dapur sudah Ibu siapkan," kata Ibu Yuri.


Di atas meja ada banyak cemilan, walau banyak, Dinda malas menyentuhnya. Sebenarnya cemilan itu buatan sang Ibu yang iseng di waktu senggang. Apalagi pasti pikir Dinda rasanya enak, sungguh dia ingin mencicipinya.


Namun, Dinda seperti tak ada daya. Jangankan menyentuhnya, melihat makanan di atas meja pun Dinda enggan. Sesekali tangan Dinda iseng mengambil remote TV, memindahkan saluran televisi secara acak. Mengurai Atik pesawat TV, mencari saluran yang bahkan tak tahu apa yang hendak Dinda tonton.


Dinda benar-benar bosan, sampai Ibu Yuri yang sedang asik menonton drama kesukaannya hanya mengalah. Maklumlah, putrinya itu benar-benar makin terlihat agak depresi.


"Oh, iya. Ibu tadi siang dapat kado dari siapa gitu. Ibu nggak kenal," ucap Ibu Yuri memberitahu.


Dinda mendongak, melihat wajah sang Ibu dari pangkuan. "Bingkisan dari siapa Bu!" tanya Dinda penasaran.


"Ibu juga kurang paham. Pas Ibu keluar, kado itu sudah ada di depan pintu. Ada buket bunganya sama surat gitu. Sebentar, Ibu ambilkan dulu." Ibu Yuri beranjak mengambil apa yang dia temukan tadi siang.


Tidak lama setelah itu, dia kembali dengan kado merah muda dan buket bunganya. "Nih kadonya."


"Buka saja sendiri," kata Ibu Yuri.


Dinda yang penasaran, langsung membuka kado yang di bungkus cantik itu. Di ikuti oleh kedua adiknya yang penasaran ingin tahu isinya apa.


"Baju pengantin?" ucap Dinda setelah melihat isinya. Dia ingat di mana pernah melihat gaun putih yang cantik itu. Tidak lama saat Dinda melihat gaun itu, Dinda menitikkan air matanya. "Ini baju pengantin yang hampir sebulan lalu aku dan Steve rancang di butik Bu."


Dinda menangis sesenggukan. Kenangan itu memang sulit di lupakan, apalagi baju pengantin yang sudah di rancang, bahkan Steve sendiri yang memesannya. Sungguh, Dinda tidak bisa melupakan begitu saja kenangan ini.


"Kamu yang sabar ya Nak," kata Ibu Yuri menenangkan. "Kamu berdoa saja. Semoga nak Steve baik-baik saja. Dan bisa pulang secepatnya ke Indonesia. Kamu yang kuat, ini semua bukan kehendak mu. Tapi takdir sudah mengatakan hal lain."


Sesekali Dinda menyeka air matanya. Dia berusaha kuat, tapi apalah daya. Ibu dan adiknya tahu kalau dia tidak sekuat itu. Dinda butuh bahu sebagai tempat menampung air mata dan kesedihannya.


Niko melirik kakaknya, Miko. Dia berpikiran lain menanggapi kesedihan sang kakak perempuan mereka. "Apa perlu kita berdandan mirip kak Steve biar kak Dinda nggak nangis lagi?" Niko berinisiatif menyuarakan ide konyolnya pada Miko.


Dan, yah. Alih-alih idenya akan di hargai oleh Miko, justru kepala Niko jadi sasaran empuk Miko. PLAK!! Miko memukulnya dengan keras, dia ingin menyadarkan Niko kalau ini bukan waktunya bercanda.


"Loh, kenapa kepala Niko di pukulin sih? Memang salah Niko apa?" tuntut Niko bertanya pada Miko.


"Orang lagi sedih, malah di jadiin bahan guyonan."


"Aku nggak bermaksud begitu!" tandas Niko berang. "Aku niatnya cuma mau menghibur kak Dinda. Bukan meledeknya dengan berdandan ala kak Steve sungguhan."

__ADS_1


"Hei, hei. Kalian berdua kok malah berkelahi." Ibu Yuri berusaha menengahi kegaduhan kecil kedua putranya yang overaktif. Mereka tidak mengenal tempat dan selalu bertengkar kecil.


"Kak Miko Bu yang mulai duluan," sambar Niko mengadu lebih dahulu. "Aku cuma memberikan saran biar bisa menghibur kak Dinda. Tapi kak Miko malah memukul ku."


"Huh, dia menjengkelkan," gumam Miko pelan. Sebenarnya tadi Miko tidak sengaja melakukannya, dia berniat memukul pelan. Siapa sangka, pukulan itu berakhir menjadi sebuah pukulan keras. Miko tahu arah perkataan Niko, memintanya berdandan ala Steve. Karena katanya wajahnya dan wajah Steve agak mirip, dan Miko juga tahu, wajahnya akan berakhir pada make-up.


Alih-alih menjadi Steve, nanti adiknya mengacau. Malah terlihat seperti badut saat Niko yang mendadani. Uh, diam-diam Miko menggerutu sebal.


"Dinda masuk ke kamar dulu deh, Bu." Dinda berkata, dia ingin melepaskan tangisannya di balik bantal.


"Kamu nggak apa-apa kan, Nak?" tanya Ibu Yuri mencemaskan. Dia takut, anak gadisnya itu melakukan hal-hal aneh di luar dugaan nantinya di kamar.


"Dinda nggak apa-apa, Bu. Ibu nggak perlu khawatirkan Dinda," jawabnya meyakini sang Ibu.


Dinda beranjak meninggalkan mereka bertiga, tadi Ibunya mencoba menenangkan Dinda agar tidak terus bersedih memikirkan Steve. Tapi—usahanya sia-sia. Dinda keburu masuk kamar, membawa air mata juga bingkisan yang di berikan Ibunya tadi.


Di dalam kamar, Dinda membuang kado itu di atas kasur. Seperti orang gila, Dinda membuka pintu lemarinya dengan kasar. Dia mencari—Oh, dia merogoh satu jas berwarna biru yang menggantung di lemarinya.


Jas biru dengan harum khas dari Steve ini, Dinda peluk sambil menangis. Dinda ingat, pria itu pernah bilang kalau Dinda merindukannya, cukup peluk jas itu, maka dia merasakan bahwa Steve ada di sisinya. Jas biru yang di berikan Steve kala malam itu hujan deras, sesekali Dinda menghirup aromanya yang wangi dalam-dalam.


"Kenapa kamu sampai saat ini nggak ada kabar. Apa kamu sudah melupakan aku?" ucap Dinda pelan sambil menatap jas biru itu.


Mungkin sudah berliter-liter air matanya yang keluar dengan sia-sia. Hanya demi menangisi pria itu.


Di saat dia menatap dalam-dalam jas biru itu, dia melirik ke buket bunga yang di dalamnya terselip secarik kertas bersampul biru muda.


TO DINDA FROM GERMANY saat tulisan di depan sampul itu di baca, dia ingat pada Steve. Seperti ada sesuatu di dalamnya, sampul surat itu di buka cepat-cepat. Dinda membacanya perlahan, sambil menahan Isak tangis.


Aku tahu kalau kamu menunggu ku. Memang pada dasarnya, mungkin aku tidak bisa kembali. Di sini, kemungkinan harapan ku untuk sembuh sangat kecil.


Dengan adanya surat yang aku kirim jauh-jauh dari Jerman. Aku harap kamu bisa tahu bahwa aku di sini tidak baik.


Aku tahu kamu saat ini sedang menangis membaca surat dari ku, tapi—air mata itu tidak bisa mengubah apapun—bahwa kita akan berpisah untuk selama-lamanya.


Asal kamu tahu, aku hanya ingin menyampaikan perpisahan terakhir kita melalui surat ini. Semoga, kedepannya kamu bisa menemukan pria yang jauh lebih baik dari ku. Yang paling kamu cintai, STEVE.


Di ujung surat itu tertanda, STEVE. Perasaan pertama yang Dinda rasakan adalah sesak di dada. "Nggak mungkin-kan kalau dia yang menulis surat ini?"


Batin Dinda bimbang. Apakah benar surat itu benar-benar dari Jerman. Karena yakin tidak yakin, Dinda mencoba menelpon Stevie, tapi sayang. Sejak sebulan terakhir sampai saat ini, tetap telepon wanita itu tidak pernah aktif. Dia sulit di hubungi.


Dinda makin merasa lemas, di ujung tempat tidurnya, Dinda duduk termangu. Menangis tanpa suara dan air mata. "Jika kamu ingin mengatakan berpisah, setidaknya kamu menghubungi ku sekali saja. Bukan berpisah seperti ini. Seberapa keras aku mencoba melupakan kamu, itu sangat berat bagi ku."


Walau dia mengadu, percuma saja. Tulisan itu jelas dari Jerman. Dan walau Dinda sempat bimbang, namun itulah kenyataannya yang baru saja dia terima. Steve memberikan sepucuk surat yang berisi sesuatu yang tidak pernah dia harapkan sebelumnya.


Mungkin, inilah akhir dari kisah cintanya.


BERSAMBUNG

__ADS_1



__ADS_2