UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 60


__ADS_3

Seharian ini Dinda pergi menemani Steve jalan-jalan mengelilingi tempat-tempat yang belum pernah di kunjungi oleh Steve.


Steve mengakuinya, bahwa dia belum pernah mencoba makan di pinggir jalan seumur hidupnya. Makan di restoran berbintang bagi Steve sudah membosankan. Dia ingin mencicipi rasanya makan di restoran kaki lima yang tersedia di jalanan.


Mencoba wahana di arena taman bermain, mengunjungi rumah hantu bahkan berjalan-jalan di sekitar taman yang ramai pun belum pernah ia lakukan sebelumnya.


Selama sepuluh tahun dia tinggal di Jerman, Steve ingin sesekali mencicipi rasanya menaiki roller coaster, banana boat, hingga permainan kora-kora yang selalu di impikannya sejak kecil.


Sebenarnya Steve sudah tinggal di Indonesia sejak lahir hingga usia sepuluh tahun. Dia sudah terbiasa membaur dengan teman-teman yang berdarah Indonesia asli.


Steve juga ingin merasakan bagaimana rasanya bermain di lumpur, turun di sawah hingga main layang-layang seperti anak-anak pada umumnya. Namun dia tidak ada kesempatan itu, karena orang tuanya melarang Steve tidak boleh bermain sembarangan.


Jadilah Steve yang malang, dengan masa kecil yang kurang bahagia. Dulu, ketika kecil, Steve selalu di ikuti oleh dua pria bertubuh tegap kemanapun dia pergi.


Saat kecil Steve menganggap bahwa kedua pria itu adalah malaikat yang senantiasa menjaganya. Namun setelah di pikir-pikir ternyata selama ini ibunya membohonginya, bukan malaikat yang Steve temui, tetapi bodyguard berwajah seram.


Steve kecil terlalu polos, jadi dia tidak tahu bahwa selama itu dia selalu di ikuti oleh bodyguard. Kata ibunya, demi keselamatannya. Bahkan untuk berteman dengan temannya saja harus di filter.


Bukan masalah status sosial, sekali lagi ibu Steve mengatakan demi keamanannya. Ibunya melakukan semua itu bahkan melarang teman-temannya bermain ke rumah karena ada beberapa alasan selain keamanan.


Begitu sulitnya jadi Steve. Namun ketika usianya yang sudah memasuki masa kuliah, dia pindah ke Jerman mengikuti Stevie yang sudah lebih dahulu menempuh pendidikan di sana.


Alih-alih Steve sekolah di Jerman, rasa-rasanya kurang bagi Steve jika tidak mencicipi berbagai masa kecil yang belum pernah dia lalui.


Namun hari ini, dia merasa spesial. Sebab Dinda mengajaknya menikmati apa yang belum pernah ia nikmati sebelumnya.


Dinda menemani Steve kemana pun yang dia inginkan. Dan satu hal yang Steve ingat saat kecil, yaitu ingin pergi ke pasar malam.


Dan malam itu Dinda mengajaknya ke pasar malam hanya demi menikmati permainan anak-anak. Tingkah Steve yang tak malu, bahkan beberapa anak kecil meledeknya dia tidak peduli.


Hingga larut malam, mereka pergi ke berbagai tempat, melupakan kehidupan mereka yang di penuhi dengan tuntutan pekerjaan.


Satu hal yang di kenang oleh Dinda saat itu adalah saat Steve mencoba wahana kincir ria di atas gedung yang tinggi.


Ekspresi wajahnya sangat lucu. Steve belum terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Alhasil, walau Steve terlihat garang dengan imagenya sebagai tuan pemarah, Steve tak bisa menahannya. Steve muntah.


Steve tak bisa menahan unek-unek dari dalam perutnya yang ingin keluar. Sebelum pergi menaiki kincir ria yang terbilang sebagai wahana paling sederhana ini, Steve dan Dinda makan sejenak di restoran.


Mereka makan spageti lima menit sebelum menaiki biang Lala itu. Namun, Steve tak menyangka jika spageti itu akan kembali keluar dari mulutnya.


Benar-benar memalukan bagi Steve. Otaknya terasa ikut berputar, bahkan bumi tempatnya berpijak juga berputar di mata Steve. Dia nampak berkunang-kunang, berpegangan erat di tiang bangunan.


Dinda yang menyaksikannya, hanya bisa menahan gelak tawa.


Seroang pria yang di katakan sempurna itu, nyatanya adalah pria yang tak lepas dari kata takut.


Malam itu pukul sembilan malam. Kejadian saat Steve muntah itu terus teringat dalam pikiran Dinda. Sehingga tanpa sadar Dinda terbawa suasana bahagia.


Dia tersenyum mengenang spageti yang keluar dari mulut kekasihnya itu. Di dalam mobilnya, Steve menengok Dinda yang sedari tadi menyengir tanpa henti.


Steve tertarik ingin tahu apa yang Dinda pikirkan. "Apa yang kamu tertawakan, sepertinya lucu."


Sambil mengemudi, Steve mencuri-curi perhatian Dinda.


"Bukan apa-apa," jawab Dinda. "Hanya sedang ingin tertawa saja."


Steve mengerutkan alisnya, dia penasaran apa yang membuat Dinda sebegitunya terlihat bahagia. Tapi dia tidak memaksanya untuk mengatakan apa yang dia pikirkan. Steve cukup mengerti saja, dia bukan pria yang suka merampas kebahagian orang lain.


"Sudah sampai," seringai Steve. Kini mobil Steve sudah ada di parkiran apartemen Dinda.


"Terima kasih atas waktunya hari ini. Aku masuk dulu," ucap Dinda. Dia ingin berlalu, masuk kedalam apartemen bersama dengan tas-tas berisi baju hadiah dari Steve.


Sebelum Dinda keluar dari mobil Steve, pria itu menariknya. Dia menghentikan Dinda sebentar.


"Ada apa?" tanya Dinda.


"Sudah lupa dengan pacar sendiri," sindir Steve.


Dinda membesarkan matanya, dia tidak paham maksud Steve. "Tentu saja aku ingat kalau kita pacaran," Dinda berkata sedikit lugu. "Mengapa? Apa aku melupakan sesuatu?"


"Ya."


"Apa?" tanya Dinda tak paham.

__ADS_1


Steve mengedipkan matanya, sambil mengisyaratkan pipinya. Dia bersikap sok manis saat ada di dalam mobilnya.


Dinda tak mengerti maksud Steve. Dia membesarkan bola matanya, meminta Steve berkata dan tidak mengisyaratkan apapun padanya.


"Apa?" kata Dinda. Dia benar-benar tidak mengerti pada kode Steve yang aneh ini.


Steve mendengus, sebab Dinda tidak paham maksud dari isyaratnya itu. Dia menarik Dinda agar mendekat padanya.


"Kamu lupa mencium ku," ucap Steve kaku. "Aku ingin kamu mencium ku sebelum pergi," Steve membisik malu-malu.


"Apa," kata Dinda kaget. "Mencium!"


Steve mengangguk. "Iya," dia meminta Dinda agar menciumnya sebelum pergi. "Sekali saja," Steve berkata pelan.


"Memangnya harus," Dinda pura-pura menolak. "Aku tidak mau, nanti orang lain melihat."


"Sudah. Nggak perlu memikirkan perkataan orang lain," Steve meyakinkan Dinda sambil menyodorkan pipi kirinya. "Cium aku sekali, maka aku akan bahagia."


Dinda sedikit ragu untuk mencium Steve, dia menengok kanan kiri, berharap tak ada yang melihatnya.


"Baiklah, tapi hanya ciuman saja," Dinda berusaha memberanikan dirinya. Dia sempat takut, namun tak ada salahnya hanya mencium.


Dia mengecup pipi kiri Steve. Sekilas saja kecupan itu mendarat, namun Steve menarik kepalanya agar Dinda menciumnya lama.


Dinda terpaku, dia berpikir bahwa Steve semakin narsis.


"Terima kasih atas ciuman malam ini," ucap Steve mengakhiri. "Aku akan pulang, kamu tidur jangan larut," saran Steve.


Dinda hanya mengangguk sambil keluar dari mobil Steve. Dia jalan masuk ke gedung apartemen, sementara Steve melambaikan tangannya pada Dinda dari mobilnya.


Steve tidak akan beranjak dari parkiran sebelum memastikan Dinda benar-benar masuk kedalam gedung apartemen.


Bahkan Steve tak lupa mengirimkan Dinda pesan singkat yang berisi kekhawatiran. Takut-takut Dinda tidak sampai di apartemennya. Steve juga selalu menanyakan detailnya, sekarang ada dimana dia, sudah sampai di rumah belum. Dan begitu seterusnya, Steve begitu mencemaskan Dinda.


Dinda tersenyum-senyum sendiri saat membaca pesan singkat Steve yang terlalu berlebihan. Senyum Dinda saat itu sebenarnya di padukan dengan senyum sumringah saat mengenang kejadian tadi siang. Terutama mengingat wajah Steve yang menggemaskan.


Di lorong apartemen yang ia lalui, dengan tangan yang penuh menenteng tas-tas kertas, Dinda nampak repot dengan barang bawaannya.


Namun itu tak masalah baginya, Dinda hanya bisa membayangkan wajah Steve di sepanjang jalan yang ia lalui.


"Kakak kenapa?" tanya Niko. Saat itu Dinda sedang melepaskan high heels-nya. Tepat di depan pintu, Niko menegurnya. "Kakak senyum-senyum sendiri? Kakak gajian hari ini?"


"Eh... Enggak kok," jawab Dinda. Dia mulai sadar, ternyata dia sudah sampai di rumahnya. Dia hampir lupa kalau di apartemennya ada Niko dan Miko.


"Yakin," ucap Niko meragukan Dinda. "Kakak sepertinya sedang dalam suasana bahagia, bilang dong ke Niko, kakak senang kenapa," Niko merengek. Dia bertingkah seperti bocah kecil.


"Hus... Anak kecil nggak boleh tahu," seringai Dinda. Dia berlalu, meninggalkan pintu bersama dengan Niko.


"Eh tunggu..." Niko menyela. "Barang-barang kakak ketinggalan," Niko mengambil tas-tas Dinda yang tertinggal di lantai dekat rak sepatu.


Dia memberikan tas-tas itu pada Dinda. Tapi, mata jahil Niko tak bisa membohonginya.


Miko melihat dari dalam tas itu ada baju-baju mahal. Niko mulai curiga pada Dinda.


"Ngomong-ngomong, kak Dinda dapat baju mahal seperti ini dari mana?" tanya Niko penasaran.


Dengan cepat Dinda mengambil semua tas kertas yang ada di tangan Niko. Dia Seperti tak rela jika Niko menyentuhnya.


"Oh... Ini, kakak dapat dari arisan kantor," Dinda mengelak. Dia berkata bohong pada Niko. "Kalau nggak ada pertanyaan lain, kakak masuk kamar dulu ya, kakak ngantuk," tukas Dinda buru-buru.


Dia berlalu meninggalkan adiknya yang masih ingin bertanya banyak padanya. "Aneh," Niko sedikit curiga.


Niko juga beranjak, usai menutup pintu, Niko ingin menuju ke kamarnya. Namun saat melewati pintu dapur, dia tidak sengaja berpapasan dengan Miko. Kebetulan saat itu Miko baru saja keluar dari kamar mandi.


Miko mengenakan piyama putih di sertakan menggunakan bandana merah muda bertelinga-kan kelinci imut di kepalanya. Tak lupa Miko juga sedang memakai masker berwarna putih tebal. Sontak Niko terkejut bukan kepalang. Suaranya melengking melejit tak karuan.


"Setan!" Pekik Niko. Dia hampir mati berdiri. "Setan.... Tolong!!" Dia berteriak sambil menutup matanya se-erat mungkin.


Mendengar teriakan Niko, Miko yang baru saja hendak keluar dari kamar mandi ikut kaget. Mug putih yang ia pegang sebagai wadah sikat giginya langsung terjatuh karena pekikan si Niko.


"Sssssttt..." Miko menutup mulut Niko yang melengking itu. Dia terlalu berlebihan dalam kaget. "Jangan berisik," pinta Miko.


Niko melepaskan paksa tangan kakaknya itu, dia menggerutu. "Cih..... Asin kali tangan kau, makan bangke berapa kilo," kata Niko berlagak sok berkata seperti orang Batak.

__ADS_1


Sempurna, Niko meniru gaya bicara khas orang Batak dengan baik. Sampai-sampai Miko saja berpikir apakah kembarannya itu adik kandungnya atau anak pungut yang di temukan dari tanah Toba.


"Ssttt.... Makanya diam."


"Lagian kenapa juga kakak pakai masker malam-malam gini, seperti nggak ada waktu lain saja," Niko merajuk. Dia sedikit sebal karena menyangka bertemu dengan setan.


"Huuuuuh..." Miko Ingin menggertak Niko yang semena-mena padanya. "Kamu jangan terlalu berisik. Nanti masker ku pecah, kamu mau menggantikannya kalau dia rusak."


"Loh kenapa nyalahin Niko?" tuntut Niko. "Kakak yang lebih dahulu mengagetkan aku, kenapa kakak yang marah pada ku."


"Ya karena suara kamu," Miko berkilah. Dia tidak ingin kalah dalam perdebatan kecil ini. "Jangan berisik. Nanti kak Dinda tahu kalau aku pakai maskernya," bisik Miko. Dia berkata sangat pelan.


Di depan pintu kamar mandi, keduanya berbincang-bincang pelan agar tak di ketahui oleh Dinda.


"Eh.... Memangnya ada perlu apa kamu ke kamar mandi?" tanya Miko.


"Aku!"


"Iya siapa lagi," tandas Miko sebal.


"Oh... Aku ke mari karena ku lihat lampu kamar mandi masih menyala, jadi aku ingin mematikan'nya," Niko menjawab sesuai apa yang terjadi. "Aku tidak tahu kalau kak Miko ada di dalam."


Miko mendercit sambil memperbaiki maskernya yang mulai perlahan merosot dari wajahnya. Masker wajah yang sedikit tebal ini, tidak merata menempel di kulit wajahnya, kerutan dari tisu maskernya di sana-sini membuat Miko terlihat seperti hantu legendaris.


Niko menarik nafas panjang, dia ingin tertawa melihat tingkah polah kakaknya. Niko mendeham, "Ehm.... Sebenarnya, kakak pakai masker buat apa?" tanya Niko ingin tahu. "Lagi pula kakak juga bukan perempuan yang harus mengencangkan kulit. Kakak mau ngedate, makanya pakai masker malam-malam begini."


Miko membungkam mulut Niko. Dia berbisik pelan. "Suara kamu terlalu besar, nanti kedengaran kak Dinda," Miko terlihat sedikit waspada. "Intinya, aku hanya perawatan. Nggak ada hubungannya sama ngedate," Miko berdalih.


"Perawatan? Memangnya kakak masih ada pemotretan lagi?" tanya Niko lugu.


"Hanya perawatan. Aku tadi bilang begitu, hanya perawatan," tukas Miko.


Miko lalu meninggalkan Niko yang menatapnya aneh. Miko tertawa saat wajah polos adiknya bisa di tipu.


Di tengah ruangan menuju ke kamarnya, Miko tak sadar jika kakaknya Dinda juga melintas di ruangan itu.


Mereka berpapasan. Seketika Miko langsung melepaskan masker putihnya yang tebal lalu membuangnya di tempat sampah. "Gawat," ucap Miko yang hampir ketahuan.


Dia memberikan senyuman manisnya yang palsu pada kakaknya. Dia bersikap sok menggemaskan.


"Kenapa kamu tersenyum begitu," tegur Dinda. "Dapat duit?" Dinda menebak.


"Nggak," jawab Miko. " Aku hanya.... Hanya rindu pada kakak ku yang manis ini," kata Miko sambil mengedipkan matanya berulang kali.


Dinda menyunggingkan bibirnya, dia merasa jijik melihat tingkah adiknya itu. "Kamu aneh hari ini," tandas Dinda sambil melangkah perlahan meninggalkan Miko.


Dia sedikit merinding saat Miko berkata sok manis.


Miko mengangkat kedua bahunya, seraya berkata, "Siapa peduli," lalu dia masuk ke kamarnya.


Tapi Dinda sadar, ada yang berbeda dari Miko saat itu. "Miko," Dinda memanggilnya.


Miko menengok. "Ada apa kak?" tanya Miko.


Dinda mendekati Miko, memperhatikan sejenak seluruh detail tubuh adiknya. "Hmmm... Kakak merasa ada yang berubah dari kamu hari ini," kata Dinda curiga.


"Apa?" Miko pura-pura lugu.


Dinda mengurut dagunya, mengernyitkan dahinya sambil mencari apa yang berubah dari adiknya itu.


"Ada yang aneh saja," Dinda berkata curiga. "Kakak perhatikan, sepertinya wajah kamu hari ini kinclong, nggak seperti biasanya!" Seru Dinda hanya berkata menebak.


"Hus... Kakak, mana mungkin wajah Miko kinclong," kilah Miko. "Memang dari sananya kalau Miko ganteng, kakak nggak usah terpana," Miko berkata narsis. "Dan lagi pula, kakak orang yang ke sepuluh ribu yang bilang Miko ganteng. Miko paham itu," celetuk Miko menyombongkan diri.


Dinda mengerutkan kedua alisnya. "Yang aneh bukan karena kamu ganteng, tapi kulit wajah kamu agak cerah hari ini," Dinda mulai sadar. Tangan jahilnya kontras dengan rasa penasarannya. Dinda menyentuh kulit wajah Miko, "Lembut benget, pakai lotion?"


"Nggak kok," Miko menggeleng. "cuma cuci muka pakai sabun deodorant biasa," jawab Miko sekenanya.


"Oh... Ya sudahlah," Dinda mengalah. "Mungkin memang kamu hari ini memang lagi ganteng," tukas Dinda yang tak lagi peduli pada wajah Miko.


Niko sedari tadi ada di dekat mereka. Dia menyaksikan perbincangan keduanya sambil mendekap tangan di dada. Dia men-decak sambil menggelengkan kepalanya.


Niko takjub pada akting sang kakak yang mulai pandai memerankan karakter pendusta.

__ADS_1


Dia tertawa saat melihat Miko di interogasi. Melihat Niko mentertawakan dirinya, Miko mengepal tangannya, dia ingin memukul Niko.


BERSAMBUNG


__ADS_2