
"Terima kasih sudah mengantar ku," di depan gerbang rumah Dinda, keduanya berdiri.
Steve membalas tersenyum. "Dengan senang hati aku melayani mu Tuan putri," Steve berkata menggombal. "Aku akan merindukan wajah kamu malam ini."
Steve memegang tangan Dinda. Sebelum dirinya pergi, Steve ingin mencium harumnya telapak tangan Dinda. "Aku akan pulang," ucap Steve sayu seraya mengusap wajah Dinda. "Malam ini aku merasa keberatan meninggalkan kamu, aku ingin tetap di sini. Bersama kamu," Steve merengek, tingkah Steve semakin hari selalu ingin bermanja-manja-an.
"Ada Ibu, kamu mau di omelnya," Dinda berdalih.
Steve memukul kepalanya pelan. "Aku hampir lupa jika Ibu ada di sini," ucap Steve . "Sebaiknya aku pergi sekarang, nanti Ibu mengomel melihat putrinya di goda pria tampan ini," Steve mengedipkan matanya, dia berada di pintu mobil. "Sebelum tidur, kamu harus mengingat wajah ku. Aku akan benar-benar merindukan mu, camkan itu," Steve kembali mengedipkan matanya. Dia merayu, sementara Dinda hanya tertawa kecil melihat tingkah Steve yang menggelikan.
Usai menggombal, lalu dia kembali masuk ke dalam mobilnya, tancap gas berlalu meninggalkan Dinda.
Di depan pintu rumah, Ibu Yuri berdiri menanti kedatangan Dinda. "Sudah pulang?" tanya Ibunya.
"Iya Bu," Dinda terlihat agak lelah, dia bicara sekenanya saja.
Ibu Yuri memahami bagaimana rasanya lelah, dia berinisiatif mengambil tas Dinda, putri kesayangannya.
"Baru pulang kak?" Niko yang duduk di depan televisi berbasa-basi sambil mengunyah cemilan. "Terlihat lesu? Kakak di ganggu sama kak Steve?"
"Hus ngawur," jawab Dinda. Dia mengambil tempat duduk di sofa. Miko dan Niko duduk dekat dengan dirinya. "Acaranya nggak asik, makanya kakak agak lesu," Dinda berdalih.
"Kalau kamu capek, sebaiknya istirahat," Ibu Yuri menyahut. Dia datang dari dapur membawakan Dinda segelas teh hangat. "Minum dulu tehnya, biar pengar angin malamnya agak berkurang."
"Kak Dinda bukannya have fun jalan dengan kak Steve, pulang malah lesu," Miko berkata. Dia sibuk pada gaming-nya. "Memangnya kak Steve nggak memanjakan kak Dinda?" Miko berulah.
"Miko," Ibu Yuri menyebutnya. "Kak Dinda baru pulang, malah di ledek. Nggak baik, nggak boleh meledek kakak kalian seperti itu."
Dinda tidak begitu menghiraukan perkataan Miko, dia menganggapnya angin lalu sambil menikmati teh hijau buatan Ibunya.
"Lagian, tadi kak Dinda sebelum berangkat begitu semangat. Sekarang malah lesu, ya wajarlah kalau Miko menduga-duga, Bu!" Kilah Miko yang tak mau mengakui kesalahannya. "Pasti kak Dinda bertengkar sama kak Steve," tebaknya kembali.
Ibu Yuri men-decak, melihat anak-anak yang semakin dewasa, sulit di atur. Hal ini membuat Ibu Yuri selalu mengalah berkata, karena anak-anak sudah pandai berdalih.
"Ngomong-ngomong, kakak sudah dandan secantik ini, kenapa pulangnya terlihat sangat lesu," kini Niko yang berkata. Dia menyodorkan cemilannya pada Dinda, agar kakaknya tidak begitu lesu. "Apa benar apa yang di ucapkan kak Miko, kalau kak Dinda dan kak Steve bertengkar?" Niko penasaran, dia ingin tahu kenapa kakaknya terlihat begitu tak bersemangat.
"Bukan apa-apa, cuma lesu. Berjam-jam berdiri, kaki Dinda pegel Bu," keluh Dinda sambil ikut menikmati cemilan Niko.
Ibu Yuri tertawa. "Kalau hanya itu masalahnya, biarkan Ibu memijat kaki kamu."
"Nggak usah Bu, cuma pegel dikit," Dinda menolak, Ibu Yuri terlalu lemah untuk membantunya. "Besok juga baikan."
"Kalau nggak mau di urut, kamu pakai salep penghilang pegal. Biar kaki kamu nggak membesar," tukas Ibu Yuri memberitahu.
Dinda mengangguk kecil, matanya sayu terkantuk-kantuk.
Di depan pintu, bel listrik berbunyi. Ibu Yuri yang berinisiatif membukakan pintu, melihat siapa yang hendak bertamu di malam agak lumayan larut ini.
"Nak Johan?" Ibu Yuri tersentak kaget. "Ada apa datang kemari?"
"Selamat malam, Bu," balas Johan sopan. "Maaf jika mengganggu, saya hanya ingin bertemu Dinda."
Nyonya Yuri menilik lingkungan sekitar komplek. Wajah tuanya terlihat cemas.
"Sebaiknya Nak Johan tidak udah kesini lagi, kami tidak mau berurusan dengan keluarga Tama!" ucap Ibu Yuri mengusirnya paksa. "Tolong jangan berulah di rumah ini," Ibu Yuri dengan segera menutup pintu, dia malas berurusan dengan keluarga Johan.
"Bu, tolong izinkan saya bicara pada Dinda sebentar saja," Johan enggan meninggalkan pekarangan rumah, walau Ibu Yuri memintanya pergi. "Tolong Bu, izinkan saya bicara sebentar pada Dinda." Johan memohon sambil menahan pintu agar tidak tertutup.
__ADS_1
"Tolong Nak Johan turuti perintah ku," Ibu Yuri meminta. Di ambang pintu, dia berbicara seperti wanita yang berwibawa. "Ibu sudah mengatakan, jangan pernah ganggu Dinda. Tolong hargai Ibu."
"Tidak Bu," Johan memaksa. "Aku tidak akan pergi dari sini sebelum Ibu mengizinkan saya bicara pada Dinda sebentar saja," Johan memulai sikapnya. Dia mengambil tangan Ibu Yuri agar wanita tua ini luluh atas sikap sopan yang ia lakukan.
Namun Ibu Yuri dengan kasar menepis tangan kekar Johan. "Ibu sudah cukup menghadapi nak Johan. Tolong dengarkan Ibu, jangan pernah ganggu Dinda lagi!" tegas Ibu Yuri pada Johan.
Dari dalam, Dinda tertarik ingin melihat siapa orang yang hendak berkunjung ke rumah mereka. Terlebih suara gaduh dari luar, memancing Dinda untuk melihatnya.
"Kak Johan?" Dinda memanggilnya, Dari belakang punggung sang Ibu, Dinda menyebutnya. "Dari mana kak Johan tahu alamat rumah ku?" tanya Dinda. Dia penasaran, Johan dalam sekejap bisa tahu kediamannya yang baru.
"Dinda, aku perlu bicara pada kamu sebentar saja," Johan menarik tangan Dinda, dia nampak memohon. "Aku ingin menyampaikan hal penting!"
Dinda sama seperti Ibu Yuri, dia menepis tangan Johan. "Kita tidak ada hubungan apapun, mohon kak Johan pulang sekarang. Orang-orang akan melihat kak Johan nanti," Dinda mengusirnya keluar, berharap Johan tidak lagi memaksa.
"Tidak! Aku tidak akan pergi sebelum kamu mau berbicara pada ku sebentar saja!" Johan membantah, dia masih keras kepala.
"Nak Johan," Ibu Yuri menyela. "Mohon pergi dari sini sekarang, sebelum kami menelpon polisi!" gertak Ibu Yuri. "Tolong Nak Johan perhatikan sikap."
"Tidak Bu," Johan bersikeras. "Aku tidak akan pergi, sebelum bicara pada Dinda."
"Ibu tidak akan pernah mengizinkannya!"
"Bu, jangan terlalu kasar, perhatikan kesehatan Ibu," Dinda mengelus pundak Ibu Yuri, dia mengingatkan kesehatan sang Ibu yang rentan.
"Bu, izinkan saya bicara sebentar saja, hanya lima menit, lalu saya akan pergi," Johan memohon memaksa. Dia kembali membujuk Ibu Yuri.
Tepat di belakang Johan, seorang pria berbadan tinggi mendeham. Dia adalah Steve, dia kembali ke rumah Dinda.
"Steve," Dinda memanggilnya. "Kenapa kamu belum pulang?"
"Aku baru saja mau pulang, tapi di tengah perjalanan aku tidak sengaja melihat toko pizza yang masih buka. Aku iseng saja ingin membelikan oleh-oleh untuk Ibu," jelas Steve. Dia mendekati Ibu Yuri, lalu mengambil tangannya dan menciumnya ramah. "Ada sedikit oleh-oleh Bu, mohon di terima."
Melihat Ibunya Dinda diskriminatif terhadap dirinya, Johan merasa sangat murka dan geram.
Dia mengepal tangan, siap mem-bogem Steve.
Dadanya terasa ingin meledak saat melihat Steve ada di hadapannya.
"Sepertinya saya datang di waktu yang tidak tepat, sebaiknya saya pergi dulu Ibu, Dinda," Johan lebih memilih mengalah, walau sejujurnya dia ingin sekali menghajar Steve yang memprovokasi dirinya, memancing kemarahan.
Steve melirik punggung Johan, dia tertawa licik. Jangan pernah mencoba melawan ku, cecunguk tak berguna, Steve berkata pelan. Dia merasa menang karena berhasil mendapatkan hati Ibu Yuri.
"Ngomong-ngomong, nak Steve ada hal apa kembali lagi ke sini? Apakah ada sesuatu yang penting?" Ibu Yuri beralih berkata.
"Bukan apa-apa, Bu," balas Steve. "Saya hanya ingin bertemu Dinda. Sekalian, jika Ibu mengizinkan, saya ingin mengajak Dinda jalan-jalan sebentar. Keluar mencari angin."
"Ibu bisa mengizinkan nak Steve membawa Dinda, hanya saja, sekarang hampir larut, apa sebaiknya besok saja di lanjutkan?" Kata Ibu Yuri menolak halus.
Ibu Yuri menatap Dinda, wajahnya agak cemas.
"Jika ibu merasa keberatan untuk mengizinkan Dinda keluar malam, saya mengerti. Saya sebaiknya pulang sekarang," Steve berusaha memancing Ibu Yuri agar merasa tidak enak hati menolak permintaannya.
Ayo hentikan aku, Steve mengomel pelan. Dia menantikan rasa tidak enak dari Ibu Yuri.
Sesuai rencana Steve, Ibu Yuri luluh. "Kalian boleh berbicara," ucap Ibu Yuri. "Tapi Ibu hanya bisa mengizinkan kalian bicara di rooftop atas."
"Yes," Steve kegirangan. Walau Ibu Yuri tidak membiarkan Dinda di bawa pergi oleh ku keluar sebentar, setidaknya, bicara di rooftop lebih baik dari pada tidak sama sekali. Pikir Steve demikian.
__ADS_1
"Kenapa kamu kembali lagi?" Tanya Dinda. Steve dan Dinda sudah berada di rooftop rumah. Mereka duduk di kursi kayu yang entah sejak kapan sudah ada di atap rumah yang terbuka ini.
Steve memulai bicara, angin malam menerpa rambut Dinda. Dia merasa gugup saat akan berkata, walau sebenarnya respon Dinda akan positif.
"Kamu pasti terkejut pada tingkah kak Stevie," Steve memberanikan diri berbicara.
"Tentang kejadian tadi?" Dinda mengingat kembali.
"Sebenarnya, kak Stevie tidak akan menghadiri acara seperti ini. Tapi karena dia sangat membenci Vanya, dia ingin berulah pada acara tidak penting ini," Steve memberitahu.
"Sejujurnya, aku tidak terkejut pada kak Stevie," ungkap Dinda. "Karena kak Stevie wanita yang sempurna sebagai sosok wanita. Dia berkharisma, juga berwibawa, terkadang dia suka keras kepala, namun pengertian."
"Itu juga yang aku rasa," timpal Steve. "Kak Stevie sejak kecil menjadi seorang wanita yang tangguh. Dia sudah menanggung segala penderitaan yang aku perbuat. Saat aku terjatuh dari sepeda, jatuh dari pohon, memecahkan vas besar hingga mengotori dinding rumah. Semuanya aku lakukan ketika aku kecil. Aku sangat nakal, tapi dia yang menanggung segala kemarahan dari Papa karena tidak menjaga aku dengan baik," Steve mencurahkan kisah masa kecilnya pada Dinda. "Dia sudah melalui pengalaman yang sulit."
Dinda mendengar cerita Steve. Dinda tertarik mendengarnya, apalagi kisah masa kecil Steve yang penuh teka-teki.
"Kak Stevie beberapa tahun yang lalu pernah mengalami kecelakaan fatal. Aku hampir kehilangan kak Stevie, meskipun dia selalu bersikap semena-mena pada ku, tapi dia perhatian walau selalu memarahi ku," kata Steve melanjutkan ceritanya.
Dinda tertawa manis. "Masa kecil kalian sangat unik."
"Memang unik," Steve meracau. "Tapi karena kecelakaan itu, kak Stevie hampir kehilangan nyawanya. Aku sangat membenci siapa pelaku tabrak lari itu. Aku dendam padanya, wanita yang tidak bertanggung jawab yang tak lain adalah Vanya."
"Jadi kamu sudah mengenal dia sejak awal," Dinda menerka.
Steve mengangguk. "Itulah kenapa saat dia memperlakukan kamu kasar di restoran malam itu, aku sangat marah padanya. Aku ingin membalaskan rasa sakit yang di alami oleh kak Stevie, tapi kak Stevie meminta aku tidak perlu bertindak setelah dia tahu kebenarannya. Kebenaran bahwa wanita itulah pelaku tabrak lari."
Dinda memegang tangan Steve, dia melihat ekspresi wajah sayu yang tengah membutuhkan teman bicara. "Apa mungkin karena takut kehilangan kak Stevie, kamu menjadi takut padanya?" tebak Dinda.
Steve tertawa kecil, lalu dia berdiri di pagar tralis pembatas rooftop, melihat atap-atap rumah yang ada di hadapannya. "Itulah penyebabnya, kenapa aku takut pada kak Stevie yang garang. Dia wanita yang sulit di kendalikan," Steve memberitahu. "Sejak kecil, dia suka melimpahkan kesalahannya pada ku ketika dia di marah Papa. Tidak tahu kenapa, sejak saat itu, aku menjadi takut padanya. Bahkan meskipun aku memiliki tenaga yang kuat, rasa-rasanya akan lemah jika melawan dia."
Dinda ikut tertawa saat Steve menceritakan lelucon masa kecilnya. Dinda menyamai Steve, berdiri di pagar pembatas rooftop. "Tidak heran jika kak Stevie sangat galak. Ternyata sejak kecil kamu di perlakukan kasar, tapi tidak tahu kalau kamu yang terlihat kasar, bisa setakut pada kak Stevie yang terlihat lemah."
"Inilah alasan aku menyukai kamu," Steve membalik badannya, melihat Dinda, dan menyentuh lembut wajahnya. "Kamu sama seperti kak Stevie. Kalian berdua sama-sama tangguh, bahkan tidak menyerah walau hampir putus asa."
Dinda mendongak wajahnya, melihat sepasang mata hitam Steve. "Kamu adalah pria spesial," ucap Dinda. "Kamu mau mencintai ku yang bukan terlahir dari gadis kaya, juga tidak pernah merendahkan aku walau orang lain menganggap aku sebagai wanita penggoda."
"Ssst..." Steve menutup mulut Dinda. "Jangan pernah katakan itu. Kamu bukan wanita penggoda, aku benci mendengar orang lain merendahkan kamu."
Dinda menyentuh tubuh Steve, lalu memeluknya. "Bolehkah aku yang berinisiatif memeluk kamu."
"Kenapa tiba-tiba?"
"Aku rindu aroma tubuh kamu yang wangi," balas Dinda. "Tidak tahu kenapa, setiap kali aku memeluk kamu, aku merasa begitu nyaman dan tenang."
Steve mengelus punggung Dinda, dia menikmati kehangatan dari gadisnya. "Biarkan aku menjadi pria yang bisa di andalkan. Aku berjanji, kamu adalah wanita yang paling spesial yang pernah aku temui," Steve membisik.
Angin malam yang menerpa, membuyarkan rambut Steve yang semula rapi. Dinda suka menyentuh rambut hitam pria ini, dia sangat senang jika terus berada di dekat Steve.
"Steve....." Dinda berkata. "Kamu pria yang aneh."
Steve membesarkan matanya. "Kenapa?" tanyanya heran.
"Kamu dingin dan pemarah serta tidak sabaran. Tapi kamu pria yang perhatian," ucap Dinda. Dinda tidak melihat wajah Steve, dia melihat atap-atap rumah yang ada di depan rooftop rumahnya. "Entah kenapa, setiap ada di dekat kamu, aku merasa begitu nyaman. Kamu selalu membuat aku tersenyum, bahkan selalu memanjakan aku dengan sikap kamu yang pemaksa."
"Sudah aku bilang," sambar Steve. Dia memperhatikan wajah Dinda. "Aku tidak akan membiarkan kamu menangis apapun yang terjadi. Aku tidak mau setetes air mata kamu terjatuh. Jika itu perlu, aku siap menampung setiap air mata kamu."
BERSAMBUNG
__ADS_1
Jika berkenan, silahkan join di grup author. Terima kasih.