UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 160


__ADS_3

“Aku bukan motivator apalagi inspirator. Aku hanya seorang narator tanpa indikator.”


_____________________________________________


“Pelan-pelan sayang.”


“Iya ini sudah pelan.”


“Jangan terlalu kencang. Kamu membuat aku sulit bernapas.”


“Sudah beres kok.”


Dinda mengikatkan gendongan bayi pada punggung Steve. Putranya di gendong di depan. Hari ini Steve ingin mengajak Dinda jalan-jalan sekalian berbelanja.


“Berangkat sekarang.”


Dinda menggeleng. “Kalau besok, sudah beda hal.”


“Aku kira kita berangkat besok.”


“Sekalian saja berangkat pas bumi berpelukan sama matahari. Jadi ada fenomena.”


“Nggak lucu ah. Yang ada kiamat.”


“Lagian. Masih di tanya.”


Mereka terlihat rapi pagi ini. Steve mengganti pakaian kerjanya menjadi pakaian kasual.


Siapa sangka, Bapak satu anak ini masih terlihat menawan. Tidak terlihat seperti seorang bapak-bapak, justru masih fresh layaknya perjaka hot.


“Kak Stevie sudah bangun belum?” tanya Steve.


Sudah sesiang ini, Steve ingat. Kakaknya itu selalu bangun pukul sembilan lebih. Steve tiap malam melihat kakaknya selalu terjaga. Bisa jadi, pukul empat lebih dia tidur selama bersembunyi di rumah ini bersama mereka.


“Belum,” balas Dinda. “Mungkin sebentar lagi.” Dinda menengok jam di dinding. Perkiraan Dinda, mungkin lima atau sepuluh menit lagi wanita itu akan bangun.


“Aku tahu. Tadi pagi dia baru tidur. Kadang aku merasa kasihan melihatnya yang selalu di paksa menikah.”


Dinda mengangkat kedua bahunya, dia juga bingung. Jalan pikiran Stevie sulit di tebak. “Haruskah kita ajak kak Stevie ikut ke mall?”


“Seratus persen dia akan menolak.”


°°°°°


Jam istirahat kantor baru saja tiba. Zico membawa Vanya makan di restoran seberang jalan kantor. Zico menggandeng tangan wanita itu, sementara Vanya merasa gugup. Masih sama seperti sebelumnya. Banyak orang hilir mudik di jalan ini, namun Zico tidak malau pacaran bak anak remaja.


“Baru pertama kali di perlakukan seperti ini. Aku merasa canggung.”


Memang rasanya tidak biasa bagi Vanya. Belum ada pria yang berani memegang tangannya seperti ini sebelumnya. Bahkan ketika bersama Johan, Vanya pun tak pernah mendapatkan kehangatan dari tangan pria itu.


Zico melirik Vanya, kekasihnya dari tadi diam saja saat Zico menggenggam tangannya.


Tidak tahu apakah Vanya nyaman atau tidak, aku harap aku tidak membuat Vanya merasa tertekan dengan sikap sok romantis ku ini.


“Vanya...” Zico memanggilnya agak ragu. Wanita itu menoleh, sesaat sebelumnya dia menunduk malu. “Apakah kamu merasa canggung?”


“Aku tidak berani mengakuinya.”


Zico tersenyum tipis, dia membalikkan badannya. Baru kali ini dia bertingkah aneh di depan wanita.


“Jangan takut. Ini mungkin makan siang pertama kita. Aku harap kamu mulai terbiasa kedepannya.”


“Aku ingin mencobanya. Tapi aku masih ragu.”


“Karena di perhatikan oleh orang-orang kantor?”


Vanya mengangguk lemah. “Aku takut mereka membuat gosip yang tidak-tidak tentang ku.


“Misalnya?”


“Seperti: Vanya mendekati Pak Zico, karena dia tampan dan mapan. Dan bla bla bla.... Begitulah mereka akan menggosipi aku nanti.”


“Kamu yakin mereka akan berkata seperti itu?” Zico memegang kedua bahu Vanya, dia ingin menatap wajah yang sendu itu.


“Aku sangat yakin kalau mereka akan berkata begitu.”


“Hus,” dengus Zico bersebrangan. “Kenapa harus memikirkan ucapan orang lain. Walau bon cabe pedas, bukan berarti setiap ucapan orang-orang akan pedas seperti bahan pabrikan itu. Tetapi cukup di nikmati. Nanti juga mereka akan diam sendiri. Sama seperti bon cabe, di jual karena ingin di nikmati walau rasanya pedas.”


“Sungguh. Aku belum kuat menerima kenyataan ini.”


“Bahwa kita akan di gosipkan berpacaran?”


Vanya mencebikkan bibirnya, memanyun lesu. “Aku masih memikirkannya.”

__ADS_1


Dasar wanita, suka memikirkan ucapan orang lain. Walau itu tidak benar. Berbeda dari pria, yang selalu cuek pada ucapan pedas.


“Lupakan itu, kita makan siang Sekarang. Jangan pikir hal lain.”


........


Zico dan Vanya sudah tiba di restoran tempat yang ingin mereka datangi. Suasana lumayan ramai, keduanya memilih duduk di meja dekat dengan pintu keluar masuk pelanggan.


Mereka memesan makanan yang terbilang mahal. Zico bukan pria yang pelit, walau tadi Vanya menolak makanan yang di pesan oleh pacarnya.


Vanya tahu, dia memang sudah terbiasa dengan makanan mahal. Hanya saja, semenjak keluarganya turun drajad. Vanya mencoba membiasakan lidahnya. Termasuk berusaha makan tempe dan tahu.


Ketika makanan sudah tiba, Zico memperlakukannya dengan romantis. Dia memotong daging untuk Vanya. Hal serupa yang sering di lakukan oleh Steve.


“Silahkan di makan,” kata Zico pada Vanya.


Walau agak malu, Vanya mencoba memakannya dengan anggun.


“Terima kasih.”


Ketika melihat Zico dengan wibawanya mengunyah daging. Vanya terkesima. Dia memang tampan, hanya saja Zico tidak pernah memperhatikannya.


Meskipun dia bukan pria usahawan atau keluarga konglomerat. Zico termasuk pria kaya, dan pekerja keras. Aku merasa beruntung ketika menjadi wanita pertama yang singgah di hatinya.


Aku tahu, aku dan Zico banyak perbedaan. Namun aku mencoba bersandar dan bersanding sejajar dengannya. Walau aku sadar, jarak antara aku dan Zico sangat jauh. Namun saat dia ada di sisi ku—entah kenapa aku merasa sepertinya dia adalah pria yang sudah lama memahami aku.


“Kenapa diam. Ayo di makan.” Zico menegurnya. Dia sadar, Vanya memperhatikannya sejak tadi.


“Oh. Iya. Maaf. Aku melamun.”


“Makanannya tidak enak?” tanya Zico. “Atau..... Kamu tidak suka dengan masakan di sini. Atau mungkin makanan di sini tidak sesuai dengan selera kamu. Kamu bisa bilang, kita bisa mencari tempat makan lain yang kamu inginkan.”


“Oh tidak, tidak.” dengan cepat Vanya mengehentikan Zico yang hendak mengajaknya pergi. Pria itu sudah berdiri. Rasanya bersalah kalau Vanya menolak makan siang ini. Padahal bukan itu yang dia pikirkan. “Aku sangat menyukai makanan di sini. Kita jangan pergi.”


“Lalu kenapa kamu melamun?”


Vanya mengulu* bibirnya. Dia kembali duduk di kursi, melanjutkan lagi makan mereka. Di ikuti oleh Zico, yang juga kembali duduk.


“Aku hanya memikirkan kamu. Itulah kenapa aku sedikit terhanyuk.”


Zico memegang tangan kanan Vanya. Di usapnya lembut punggung tangan Vanya, Zico mengerti maksud Vanya walau wanita itu tidak mengatakannya dengan jelas.


“Sudah aku bilang. Antara aku dan kamu tidak ada rahasia di masa lalu. Kamu dan aku sudah menatap masa depan. Untuk apa lagi memikirkan dan mengingat kejadian yang sudah berlalu. Aku tidak akan berpikir macam-macam tentang kamu dan juga masa lalu kamu.”


“Kamu sangat pengertian. Aku selalu terkungkung pada bagian itu.”


“Lupakan masa lalu. Mari kita lanjutkan makan siang hari ini.”


°°°°°°


Dinda dan Steve memasuki mall. Mereka melewati beberapa toko pakaian anak-anak. Tapi ada satu tempat yang menarik perhatian Steve. Toko pakaian di dekat restoran di lantai dua mall.


Mereka memang berniat membelikan Iqbal pakaian baru. Anak ini sudah makin berat dan gemuk. Semua pakaiannya hampir tidak ada lagi yang cocok dengan badannya.


“Pakaian di sini bagus-bagus. Kita beli saja semua untuk Iqbal.”


Mata Dinda yang jengah melihat semua pakaian di toko ini, mendadak membulat di ikuti sudut bibir kontra.


“Walau di sini pakaiannya bagus-bagus. Bukan berarti kita harus membeli semuanya. Pemborosan. Aku tidak suka.”


“Putra ku sangat cocok kalau semua pakaian ini di coba. Kenapa kamu terus-menerus menolak kalau aku ingin membeli semua baju-baju di sini.”


“Steve.....,” rengek Dinda. Sambil matanya menatap Steve dengan sorotan kesal. “Tubuh Iqbal makin hari makin besar. Pertumbuhannya akan terus meningkat. Kalau membeli semua pakaian di sini, nantinya sebagian tidak terpakai. Sayangkan kalau harus sia-sia. Buang-buang uang saja.”


“Dia putra ku. Semuanya haruslah serba bagus. Agar dia tampan seperti ayahnya.”


Dinda menggeleng, dia mengembuskan napas berat. “Tapi aku tidak suka kalau Iqbal sedari kecil di belikan pakaian mahal. Cukup pakaian sederhana dengan harga standar saja. Tidak perlu berlebihan.”


Steve juga ikut kesal sebenarnya. Dinda selalu menolak. Padahal uangnya tidak akan habis kalau membeli seisi toko. Tapi istrinya terlalu hemat, Steve tidak suka kalau seperti itu terus.


Steve melepaskan topinya, lalu menyematkannya di kepala manekin. Ya, toko yang mereka jajaki bukan hanya toko pakaian anak-anak. Tapi toko pakaian keluarga, lengkap.


“Kalau begitu. Aku tidak akan memakai topi ini. Biarkan wanita di luar sana melihat wajah ku. Sekalian masker ini, untuk apa aku menggunakannya.”


Beberapa karyawan wanita di toko ini terperangah kaget. Kala melihat Steve tanpa penutup wajah, mereka seakan terhipnotis. Dinda sengaja setiap kali keluar bersama Steve, harus memakaikan suaminya penutup wajah atau penutup kepala. Dia takut Steve akan di lirik wanita sembarangan.


“Kamu jangan melakukan itu.” Dinda mencoba meraih kembali topi dan masker yang di buang Steve. Namun Steve menolak saat Dinda mengembalikannya pada suami bebalnya ini.


“Aku dan Iqbal hari ini tidak akan bersembunyi di balik masker atau topi itu. Aku tidak akan melakukannya.”


Dinda melirik dua orang karyawan yang cengengesan kala melihat mereka bertengkar kecil. Karena malu di perhatikan, Dinda menarik lengan Steve, membawanya keluar dari toko.


“Kalian terlalu menonjol. Itulah kenapa aku tidak mau jika orang-orang melihat kalian.”

__ADS_1


“Alasan.”


“Sumpah. Aku tidak mau kalian seperti ini.” Dinda memasang wajah agak mengiba dan berkaca-kaca. Matanya yang berbinar membuat Steve hemat dalam Sulut emosi.


“Sudahlah. Lupakan baju Iqbal. Kita cari toko es krim. Aku ingin itu.”


Dinda mengangguk, wajahnya agak di tekuk. Suaminya itu hampir membuat perdebatan kecil.


“Kita ke toko es krim dekat kafe di sana. Di sana es krimnya enak dan segar.”


Syukurlah, Steve tidak begitu marah tadi. Hampir saja Steve membuat Dinda kalut. Pria ini jika sudah marah, segala sesuatu bagi Dinda adalah sebuah kengerian. Bisa-bisa dia tidak akan memberikan putranya lagi pada Dinda.


Ketika melewati beberapa tempat makanan di lantai dua mall. Ada beberapa crew potografi yang tengah lewat tepat di depan Dinda dan Steve. Mereka sibuk membawa properti.


Fokus Steve dan Dinda teralihkan, kala kesibukan orang-orang itu menghalangi jalan.


Namun tak sengaja, Steve menabrak salah satu crew yang membawa minuman. Hingga minuman itu membasahi celana Steve.


“Oh maaf. Aku tidak sengaja,” katanya lebih dahulu mengakui kesalahan.


“Dendy?” ketika Dinda melihatnya, Dinda sadar anak itu sedang di mall ini juga. “Kamu...”


“Loh. Kak dinda.”


Tidak kaget. Hanya saja matanya agak jengah kala melihat satu keluarga kecil itu ada di depannya.


“Kamu kenapa ada di sini.”


Dinda menengok kanan kiri, biasanya anak ini pergi bersama Miko atau Niko. Karena keakraban mereka, Dinda hapal siapa saja yang biasanya bersama Dendy.


“Anu kak. Aku........”


“Hoi Den. Kok bengong,” tegur Miko.


Ketika Dendy bingung harus berkata apa, Miko datang dari belakang. Dia menepuk pundak temannya, namun Miko belum sadar kalau ada Dinda di dekat Dendy.


“Miko.....”


Sudah terduga. Dinda tahu, Dendy dan Miko pasti bersama. Tidak heran, kedua anak itu sangat lengket.


“Loh. Kak Dinda....” Miko agak kaget, kakaknya juga ada di mall. Oh, kakaknya melihat Miko agak rapi, dengan jas hitam lengkap dengan pakaian senada. Miko tahu, kakaknya pasti akan bertanya-tanya kenapa dia ada di sini. Juga dengan pakaian rapi, ala pekerja kantoran.


“Kamu....” Dinda menatapnya dengan wajah interogasi, namun Miko menanggapinya dengan wajah mengkerut cemas.


“Iya kak.”


“Jadi model?”


Miko mengangguk seraya menggigit bibir bawahnya. Kadang juga melipat keluar bibirnya, wajahnya agak berkaca-kaca. “Miko pikir dari pada nggak ada pekerjaan di rumah. Kan ada baiknya berkegiatan di luar.”


Steve menyikut Dinda, dia membisik pelan. “Bukankah uang hasil bekerja jadi model di kantor ku di terima Miko cukup banyak. Kenapa dia masih bekerja lagi sebagai model.”


“Mungkin fashion—nya seperti itu,” balas Dinda membisik.


Tak ayal. Dinda paham, Miko memang sudah memiliki tubuh proposional, hal ini memungkinkan dia mudah menjadi model.


“Lalu. Jadi model apa kamu di sini. Di mana pemotretan-nya?” tanya Dinda dengan mata jengah. Menengok kanan kiri, mencari tempat lokasi potoshoot-nya.


Belum sempat Miko membalas, seorang remaja putri seumuran adik Dinda ini. Datang agak berlari kecil, sambil mengangkat gaun pengantin berwarna putih. Terlihat cantik, serasi dengan Miko.


“Maaf aku terlambat. Ayo kita menikah!”


Mendengar ucapan itu, Dinda terbelalak kaget. Dia memandangi wajah Steve, sesaat kemudian dia memandangi wajah ketiga anak itu.


“Kalian......”


“Oh. Bukan kak.” Miko paham, pasti Dinda akan menyangka kalau dia dan wanita di sebelahnya akan menikah. Dengan cepat Miko mencoba menjelaskan keadaannya. “Kita berdua......”


“Oh. Kita akan menjadi sepasang suami istri. Maaf kalau tidak mengundang.” Wanita ini menyambar ucapan Miko. Sedangkan Miko dan Dendy menepuk jidat, lantaran model wanita satu ini agak polos.


Dinda mana tahu kalau mereka adalah model pakaian pengantin. Itulah yang di pikirkan oleh Miko, pasti kakaknya akan berpikir kalau dia akan menikah muda.


“Kamu berpikir hal yang sama seperti aku?” bisik Steve pada Dinda.


Dinda mengangguk, wajahnya agak sendu. “Belum sampai dua tahun kita menikah. Dan kini Miko sudah mau menyusul menikah juga. Ini pencemaran identitas keluarga.”


“Bukan. Bukan seperti itu kak.”


Tidak tahu bagaimana menjelaskannya, Miko bingung. Si model wanita mengacaukan suasana. Miko menyikut Dendy, meminta temannya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dengan cepat temannya itu mengerti, Dendy sigap menjelaskan.


“Jadi gini kak. Miko dan Selena adalah model untuk baju pengantin. Dan hari ini ada pemotretan, itulah kenapa mereka berpakaian ala pengantin. Dan bukan akan menikah seperti yang di katakan oleh Selena. Iya kan Sel.”


Model wanita itu hanya cengengesan, sementara Miko berhasil mengerjap, menarik napas lega.

__ADS_1


“Aman.”


TO BE CONTINUE


__ADS_2