
RESIGN
Sudah pukul sembilan pagi, Dinda belum masuk kerja. Meja kerjanya saja masih kosong. Dua kali Mira menghampiri meja kerjanya, tetap saja Dinda belum muncul.
Zico juga sudah beberapa kali datang ke meja kerja Dinda karena butuh beberapa berkas penting. Sama seperti Mira tadi, Zico masih melihat meja kerja itu kosong. Dinda belum muncul di kantor.
"Kalau Dinda sudah datang, katakan padanya langsung ke ruangan ku sekarang. Juga bawa file laporan penjualan bulan lalu," ucap Zico pada Mira. Dari interkom kantornya, Zico menghubungi Mira, kepala devisi bagian keuangan.
Setelah berkata pada Mira, dia langsung menutup interkomnya. Kembali bekerja, menyibukkan diri dengan beberapa berkas yang menumpuk sejak kemarin.
"Nggak seperti biasanya Dinda seperti ini. Biasanya masuk tepat waktu, tapi pagi ini kok nggak datang yah. Apa mungkin dia nggak masuk?"
Semalam Dinda baik-baik saja saat lembur bersamanya. Namun pagi ini dia tidak muncul di kantor, membuat beberapa pekerjaan terbengkalai—yang harus di tangani oleh Dinda. Pusing rasanya kepala Mira jika gadis itu tidak menampakan diri di kantor.
****
Di rumah Dinda, Ibu Yuri agak mencemaskan anaknya itu. Sudah pukul sembilan pagi, dia belum keluar dari kamarnya.
Karena sejak semalam Dinda tidak keluar dari kamar, Ibu Yuri makin mencemaskan Dinda. Walau setiap Ibu Yuri mengetuk pintu kamarnya, Dinda selalu menyahut. Tetap saja, ketakutan itu pasti ada.
"Dinda. Sudah jam sembilan. Ayo keluar, sarapan bersama Ibu." Dari luar pintu, Ibu Yuri memanggilnya lagi sambil menguping suara anaknya itu. "Dinda....."
"Dinda nggak lapar Bu," jawabnya dari dalam kamar. "Ibu kalau mau sarapan. Sarapan saja sendiri. Nggak perlu nungguin Dinda."
"Kamu nggak keluar dari kamar sejak semalam. Ibu takut kalau kamu kenapa-kenapa," sahut Ibu Yuri. Dia masih menempelkan daun telinganya di pintu kamar Dinda.
"Dinda nggak apa-apa kok Bu. Jangan pikirin Dinda," balasnya lagi dari kamar.
CK, anak ini keras kepala sekali. Kapan dia bisa memikirkan diri sendiri kalau seperti ini terus. Ibu Yuri mengomel pelan di depan pintu kamar putrinya itu. Karena insiden dengan Steve malam itu yang terjadi hampir sebulan ini, sejak saat itu juga Dinda berubah menjadi pemurung.
Semangat kerjanya, semangat hidup dan semangat dalam kegiatan sehari-hari saja sudah tidak nampak lagi di dalam diri Dinda. Biasanya dia selalu ceria, kini berubah menjadi sebuah duka yang tiada henti. Ibu Yuri, adalah sosok Ibu yang peka pada perubahan sikap anaknya, sehingga apa saja yang Dinda lakukan, tak luput dari perhatian sang Ibu.
Beberapa kali Ibu Yuri memanggil Dinda agar keluar dari kamar, tetap saja dia tidak bergeming. Ibu Yuri sudah bolak balik di depan pintu kamar itu, namun Dinda tidak memutarkan gagang pintunya sama sekali.
Miko saja sudah dua kali pulang kerumah. Karena baju olahraga dan bola basketnya ketinggalan. Tapi, Dinda tidak sekalipun melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu. Kekhawatirannya ada apa di balik kamar itu membuat Ibu Yuri benar-benar tak bisa tenang.
Setelah setengah jam berlalu, Ibu Yuri yang duduk di ruang keluarga, menoleh ke pintu kamar Dinda lantaran terdengar suara putrinya membuka pintu. Tapi kali ini beda, Dinda terlihat sudah segar dan rapi walau matanya terlihat agak sembab.
"Loh. Mau kemana? Rapi begini?" tanya Ibu Yuri seraya menghampiri anak gadisnya itu. Kini kekhawatiran itu berubah menjadi sebuah kelegaan. Dinda terlihat baik-baik saja, walau raut wajah itu tergambar jelas menutupi kesedihan.
"Dinda mau ke kantor Bu," jawabnya. "Ada urusan sebentar di sana."
"Tapi-kan ini sudah hampir siang. Memangnya kamu nggak takut di usir dari kantor?"
"Maksud Ibu di SP?"
"Apa itu SP?" tanya Ibu Yuri lagi yang tak paham.
"SP itu surat peringatan. Mungkin maksud Ibu seperti itu?" Dinda menebak. Karena pada dasarnya, sang Ibu tidak mengerti bahasa prokem atau bahasa slang.
__ADS_1
"Yah, pokoknya gitu deh. Emang Dinda nggak takut di..... apa...... tadi, espa, espe. Kan sekarang sudah siang," ujar Ibunya dengan polos.
"Nggak kok Bu," jawab Dinda lagi. Kali ini Dinda sedikit tersenyum agak memaksa walau berat bagi bibir itu menyungging. "Dinda nggak akan di SP kok. Ini kali pertamanya bagi Dinda, kantor akan memakluminya."
Ibu Yuri mengernyitkan dahinya, agak aneh baginya karena mendadak Dinda berubah terlihat seperti biasanya. Apalagi melihat Dinda yang sepertinya sejak semalam menangis lalu tiba-tiba keluar kamar bersikap natural menyembunyikan kesedihannya.
Terus, dia juga terlihat memaksa tersenyum di tengah kesedihan yang menderu. Ibu Yuri makin memikirkan Dinda, takut kalau dia tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Dinda mau RESIGN Bu!"
"Hah? Resin?" Ibu Yuri agak kaget, entah apa yang putrinya katakan itu. Dia tidak mengerti. "Apa itu resin. Kok Ibu baru dengar?"
Dinda terkekeh, Ibunya sangat polos. "Resign, Bu. Bukan resin," ucapnya mengulangi lagi perkataan tentang resign.
"Ya, apa itu. Resin. Kamu mau ke resin, terus ke kantor. Gitu?" kata Ibunya menebak.
Dinda menggeleng. "Dinda mau ke kantor karena ingin mengajukan surat pengunduran diri sebagai karyawan. Biasanya kami menyebutnya dengan kata resign, yang artinya mengundurkan diri atau berhenti dan semacamnya."
"Tunggu," Ibunya mengernyitkan alisnya. Dia seperti salah mendengar apa yang anaknya itu ucap tadi. "Berhenti?"
"Iya Bu." Dinda mengangguk, dia sudah memutuskan ini sejak semalam. Mungkin, inilah keputusan yang tidak bisa di ganggu gugat oleh siapapun. "Dinda akan berhenti bekerja."
"Kenapa ingin berhenti tiba-tiba seperti ini?" tanya Ibu Yuri. "Mendadak seperti ini, rasanya agak aneh." Ibu Yuri ingin tahu alasan putrinya mengundurkan diri dari kantor tempatnya bekerja. Sejak lulus kuliah, Dinda belum pernah ada niat meninggalkan satu pekerjaan pun, apalagi pekerjaaan yang dia tekuni ini sudah menjadikan putrinya karyawan tetap. Keputusan Dinda pagi itu membuat Ibu Yuri sangat terkejut.
"Dinda sudah memutuskannya sejak semalam. Jadi, pagi ini Dinda sudah dengan pikiran yang bulat, ingin pergi ke kantor, mengajukan surat pengunduran diri ini," jelas Dinda.
"Kalau keputusan kamu ingin berhenti bekerja sudah menjadi keputusan mutlak. Ibu bisa apa? Toh bukan Ibu yang bekerja." Ibu Yuri mencoba memahami anaknya itu. Walau terkesan terburu-buru, Dinda tidak akan mengubah apa yang sudah dia ucapkan. "Asal Dinda berpikir kalau keputusan ini yang terbaik buat putri Ibu. Ibu akan mendukung kamu agar terus tetap bersemangat. Jadilah Dinda yang seperti dulu. Jadi, mulai sekarang Dinda kesayangan Ibu harus tetap tersenyum, jangan biarkan wajah cantiknya hilang karena murung terus." Ibu Yuri mencubit pelan pipi Dinda, memaksa anaknya agar tetap bahagia.
Kala Dinda menatapnya dengan tatapan agak sumringah, Ibu Yuri menyeka poni rambut putrinya yang agak berantakan itu. "Jangan karena nak Steve, kamu harus murung terus. Kamu harus buktikan kalau kamu. Bisa bertahan demi dia saat ini," ucap Ibu pelan. Di rapikannya rambut sang anak, sungguh, Ibu Yuri ingin Dinda tetap semangat.
Dinda mengangguk pelan, walau Ibu Yuri terus mengomelinya dengan nasihat, tetap saja Dinda tidak bisa melakukannya. Bersemangat di tengah kesedihan, rasanya seperti berjuang di Medan tempur tapi harus mati di hujan seribu anak panah. Membual—pikir Dinda.
"Ya sudah Bu. Dinda berangkat sekarang ya," ucapnya ingin berlalu. Tak lupa bagi Dinda mencium tangan sang Ibu, yang sudah menjadi kebiasaan bagi dia dan adik-adiknya.
"Hati-hati di jalan," teriak Ibu Yuri. Dia menengadahkan tangannya pada sang putri yang sudah meninggalkan pekarangan rumah.
Anak ini membuat aku khawatir saja. Semoga dia bisa menyelesaikan tugasnya. Hanya doa yang bisa Ibu lakukan untuk anak ku.
Usai melihat kepergian sang putri, Ibu Yuri juga masuk kedalam.
Kalau sudah seperti ini, semua orang pasti akan berada dalam situasi ingin melupakan masa lalu. Menata masa depan, yang terjadi kemarin anggap saja mimpi buruk yang sudah berlalu.
Dinda sebenarnya tidak ingin seperti ini, tapi, ini sudah menjadi takdirnya—mungkin. Dia harus menguburkan semua hari-hari yang indah bersama pria itu. Semua kini berubah menjadi kenangan di masa lalu.
Di perjalanan yang biasa Dinda lalui, menaiki busway, turun halte. Bisa jadi, dia harus membiasakan diri lagi untuk naik kendaraan umum. Sebelumnya, selama ada Steve—pria itu tidak akan membiarkan dia pulang tanpa dirinya.
Tapi, sejak beberapa bulan ini Dinda tidak lagi menaiki kendaraan umum. Agak canggung, apalagi orang-orang dalam busway memperhatikannya. Suwer, Dinda makin merasa asing kala tatapan orang-orang itu mengarah padanya.
Walau agak risih, Dinda mencoba bersikap biasa saja. Lagi pula, pikirnya kantor sudah dekat. Saat turun dari halte, tepat di depan kantornya, Dinda memandangi bangunan tinggi itu.
__ADS_1
"Mungkin ini menjadi hari terakhir ku di sini. Kedepannya, entah aku punya umur yang panjang atau tidak, aku harap aku bisa kembali ke kantor ini lagi."
Selama berdiri di depan bangunan kantor tempatnya bekerja itu, Dinda harus merelakan masa lalunya berakhir tidak bahagia. Keputusan itu sudah di buat, dia harus resign dari tempat ini. Atau Dinda akan merasa selalu di bayang-bayangi oleh wajah Steve.
Hingga tiba di kantornya, mungkin karena semua karyawan sedang sibuk bekerja, jadi mereka tidak melihat kedatangan Dinda di meja kerjanya. Satu persatu barang-barang Dinda di rapikan, di masuk ke dalam kardus, tak ada yang luput dari perhatian.
Sesekali Dinda menatap ke ruangan Steve. Kenangan itu tidak mudah membuat Dinda melupakannya. Semoga kamu baik-baik saja. Aku harap surat yang aku baca di malam itu, hanya sebuah mimpi buruk. Walau kamu tidak ada di sini, aku akan tetap mencintaimu. Kepergian ku dari sini bukan karena aku ingin menghindar atau melupakan kamu. Tapi sedang berusaha—
Saat membuka laci kerjanya, Dinda menemukan dua bandana kelinci yang pernah dia beli di Korea kala liburan di musim dingin. Saat mengambil bandana yang ada di laci itu, Dinda tersenyum. Bandana ini masih di sini. Walau hanya sebuah benda kecil tak berarti, tapi kamu sudah menjadi bagian dari kenangan indah ku.
Kenangan itu masih teringat dalam benaknya. Pria yang dulu menolak keras tidak ingin memakai bandana karena menjaga image di depan anak-anak remaja. Oh, sungguh, Dinda rindu masa itu. Tapi, seberapa kerasnya dia mengenang masa itu, Dinda tetap teguh untuk melupakan kisah ini. Bandana merah muda itu, dia masukkan kedalam kardus. Dan kemungkinan akan berakhir menjadi barang yang terbuang.
Saat dia sedang mengemas semua barang-barangnya, Mira datang menghampiri Dinda.
"Dinda!" seru Mira yang kebetulan sejak tadi menunggu kedatangannya. "Kamu sudah masuk?"
Dinda mengangguk, mulutnya terasa agak berat untuk berkata. Saat Mira menghampirinya, wanita itu terkejut. Barang-barang Dinda sudah di kemas dalam kardus.
"Kamu mau kemana? Kok barang-barang kamu di kemas semua?" tanya Mira ingin tahu.
"Aku ingin resign," jawab Dinda singkat. Tubuh lemasnya itu tidak sanggup berkata panjang lebar.
"Mendadak seperti ini?"
Dinda mengangguk, sudut bibirnya sedikit menyungging. "Aku sudah memutuskan sejak kemarin. Dan aku harus resign."
"Tapi kenapa Din? Kok secepat ini?"
"Nggak apa-apa kok Mbak," jawab dinda. "Aku akan bekerja di tempat baru. Atau aku akan keluar kota. Aku hanya ingin mencari suasana yang baru. Hanya seperti itu, bukan karena sesuatu yang aneh."
"Masa Din, kamu harus resign. Kemarin Eva, sekarang kamu. Kenapa kalian seperti ini sih." Mira agak berat saat mendengar kata resign keluar dari mulut Dinda. Ah, keputusan yang tiba-tiba ini membuat Mira setidaknya agak memikirkannya.
Padahal sebelumnya Dinda tidak apa-apa. Juga, kemarin dia agak tegar menunggu kabar dari Steve. Tapi saat ini, ah—sungguh, Mira sebal harus kehilangan dua rekan sejawatnya.
Mira tahu, keputusan mendadak ini di sebabkan oleh Steve, bosnya itu sudah merusakkan semua masa depan Dinda.
"Aku mau ke ruangan Pak Zico dulu. Aku ingin menyerahkan surat resign ku padanya. Aku tinggalkan mbak Mira dulu, ya," ucap Dinda ingin berlalu.
"Dinda." Sebelum wanita itu pergi, Mira memeluknya hangat. "Semoga kamu sukses yah dengan karir baru kamu. Jangan lupa, kalau kamu ada waktu, hubungi aku. Aku tahu kalau kita nggak terlalu dekat, tapi bagi ku kamu sudah seperti saudari ku sendiri. Jadi jaga diri baik-baik yah. Jaga kesehatan, jangan terlalu banyak begadang lagi, nanti jerawat kamu muncul lagi."
Dinda memberikannya senyum manis, saat Mira berhenti memeluknya. "Mbak Mira juga yang baik-baik yah di sini. Aku harap mbak Mira menjadi kepala keuangan yang jujur, kompeten dan bertanggung jawab. Mbak Mira juga sudah aku anggap seperti saudara ku sendiri kok. Jadi, lain kali, kalau aku ada waktu, aku akan menghubungi mbak Mira."
"Ommo..." Ucap Mira terharu. Lalu memeluk Dinda lagi. "Kamu membuat aku merasa seperti kehilangan saudara sendiri tahu nggak."
Dinda mendengus, mengelus punggung Mira seraya tersenyum memaksa. Kemudian mengakhiri pelukannya pada Mira. "Aku keruangan Pak Zico sekarang. Juga, aku titip salam buat teman-teman di bagian keuangan. Maaf kalau aku langsung pulang, nggak sempat memberitahu mereka."
"Oke, kamu tenang saja. Akan aku sampaikan."
Sebenarnya, apa yang Dinda putuskan hari ini, agak berat bagi Mira. Dinda satu-satunya teman sejawat yang baik bahkan ramah. Walau semuanya patuh pada Mira selaku kepala keuangan, tapi Mira merasa, Dinda—lah yang paling menarik di antara semuanya. Apalagi saat ada Eva, keduanya amat cocok, sehingga Mira merasa menemukan kecocokan dalam berteman di lingkungan kerja.
__ADS_1
Tapi kini dia harus merelakan dua teman sejawatnya itu resign. Oh, malangnya nasib ku.
BERSAMBUNG