
KESEDIHAN MENDALAM.
Dinda kini berada di rumah sakit. Setelah polisi tiba di lokasi kejadian, Steve langsung di bawa ke rumah sakit. Darah segar yang mengalir cukup banyak.
Dia memang tidak sadarkan diri, tapi nafasnya masih terdengar dan masih bisa di rasakan. Walau tubuhnya sudah pucat, Steve masih bisa di kenali.
Sejak Steve tidak menyadarkan diri, Dinda terus menangis tanpa henti. Baju kuyupnya tak di hiraukan asal Steve tak terjadi apa-apa.
Seluruh tubuh rasanya bergetar saat melihat Steve tak kunjung membukakan matanya.
Dinda duduk tepat di bangku lorong menuju ke ruang operasi gawat darurat. Sesekali di pandangi-nya pintu tempat Steve di larikan tadi. Dinda berharap secepatnya para ahli bedah di dalam sana memberikan kabar padanya.
Dinda tak bisa tenang saat belum ada tanda-tanda proses operasi Steve yang berhasil. Dari ujung koridor bangsal, Stevie yang di temani paman lu jalan tergesa-gesa mendatangi ruang tempat Steve di rawat.
Jalannya yang cepat membuat Dinda merasa teralihkan.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Stevie pada Dinda. "Apa dia baik-baik saja?"
Stevie duduk di sebelah Dinda, karena dia yang bersama Steve tadi, pasti Dinda tahu bagaimana kondisinya.
Saat Stevie datang, justru Dinda semakin menangis tiada henti. Lalu memeluk Stevie erat, dia butuh orang yang bisa menenangkan dirinya.
"Ini semua salah Dinda kak," kata Dinda tersedu-sedu. "Dinda nggak bisa menahan Steve untuk keluar dari mobil. Dinda yang terlalu lemah nggak bisa mengontrol Steve. Pada akhirnya kejadian ini menimpa Steve."
Stevie mengelus punggung Dinda, dia paham betul seperti apa posisi Dinda saat itu. "Kamu jangan menyalahkan diri sendiri. Ini semua bukan salah kamu, tapi memang takdirnya sudah seperti ini."
"Nggak kak," sambar Dinda. "Ini semua salah ku. Aku yang tidak bisa menahan Steve. Aku penyebab segala kekacauan ini."
"Sudah! Sudah!" ucap Stevie menenangkan. "Kamu nggak salah. Kamu hanya saksi saja dalam hal ini. Kamu jangan menyalahkan diri sendiri seperti ini. Hentikan air mata kamu." Kemudian Stevie menyeka air mata Dinda yang menitik itu.
"Paman Lu sebaiknya pulang saja malam ini. Biarkan aku yang menjaga Steve, tidak perlu mengkhawatirkan dia," kata Stevie pada Paman Lu yang berdiri di hadapannya.
"Baik Nona. Paman akan pulang sekarang jika tidak ada yang bisa di bantu di sini?" Jawab Paman Lu sederhana.
Karena Stevie yang meminta dia untuk pulang, maka Paman Lu menurutinya.
"Oh, iya, Paman Lu," Stevie memanggilnya. "Rahasiakan semua kejadian ini pada siapa pun termasuk Mama dan Papa. Jangan biarkan mereka tahu jika Steve kritis di rumah sakit."
Paman Lu menoleh saat Stevie berkata. Dia mengangguk saja, tak ada perintah yang harus dia kerjakan dengan berat. Hanya menutup mulut dari Tuan Michele Wong dan Nyonya Diah. Tidak berkata apapun, setelah itu Stevie yang akan memikirkan ide selanjutnya.
"Apakah ada perintah terakhir yang bisa Paman lakukan, Nona?" tanya Paman Lu lagi sebelum dia benar-benar pergi.
"Tak ada," jawab Stevie singkat. "Paman bisa pulang sekarang."
Saat bayangan punggung si tua Luong menghilang, Stevie kembali memeluk Dinda yang terisak. "Pria itu sudah merencanakan semua ini. Dia sudah mengincar Steve sejak lama," ujar Stevie pada Dinda.
"Mereka sebenarnya siapa kak?" tanya Dinda merengek. "Kenapa mereka sebegitu kejamnya melakukan hal ini pada Steve. Apa yang Steve perbuat sehingga tanpa ampun melukainya."
Stevie menatap wajah penuh haru itu, di pandangi-nya dengan jelas wajah yang takut kehilangan itu. "Pria itu bernama Tony Kim, putra dari Hery Kim. Mereka adalah orang-orang yang sangat membenci keluarga wong. Oleh karena itu mereka membidik Steve sebagai misi balas dendam."
Stevie memberitahu Dinda. Entah kenapa saat memberitahu hal ini pada Dinda, tiba-tiba kisah lama mulai terkorek kembali.
KEJADIAN BEBERAPA TAHUN YANG LALU.
Frankfurt, Jerman.
Di usianya yang ke delapan belas tahun, Steve sudah banyak membantu bisnis Ayahnya. Dia memang jenius, sejak masih muda Steve sudah pandai berbisnis.
Namun, setiap ada kebahagiaan pasti ada kesengsaraan yang akan menimpa. Begitulah kehidupan, seimbang antara karma baik dan karma buruk.
Saat kuliah di Jerman, lebih tepatnya acara perayaan kelulusan Stevie. Ibu dan ayah Steve datang sekedar melihat putri mereka yang sudah menyelesaikan studinya.
Pagi itu di rumah keluarga wong di pusat kota Frankfurt. Steve menuruni anak tangga sambil mengancingkan kerah lengan bajunya. "Mama sudah siap belum kak?" tanyanya pada Stevie yang berpapasan dengan dia di anak tangga.
"Sudah tuh, sepertinya masih pakai makeup di kamar," jawab Stevie sambil mengeringkan rambutnya.
Steve ingin hadir dalam acara kelulusan kakaknya bersama sang ayah dan juga Ibu. Tuan wong juga terlihat rapi dengan mengenakan Tuksedo mahal berwarna hitam.
__ADS_1
"Mama kalian sudah siap atau belum. Kenapa lama sekali hanya sekedar merias wajah saja," kata Tuan Wong yang tak sabaran.
"Sebentar lagi sepertinya Pa," sahut Steve. "Tahu saja Mama. Kalau sudah merias diri, bisa berjam-jam."
Tuan wong duduk sebentar di sofa sembari menunggu Ibu Diah selesai bermake-up. Sesekali Tuan Wong melihat jam tangannya, dia sudah menunggu selama lima belas menit.
"Kok lama banget ya Mama kalian pakai make-up. Nggak seperti biasanya?" kata Tuan Wong pada Steve dan Stevie yang duduk di depannya.
"Sabar Pa," jawab Stevie. "Yang wisuda-kan Stevie. Toh acaranya masih ada beberapa jam lagi. Mungkin Mama bingung mau pakai baju yang mana."
"Papa datangi saja kali ya, Mama kalian?" kata Tuan wong berinisiatif.
"Terserah Papa saja?"
Karena lamanya Ibu Diah tak keluar dari kamar. Tuan Wong yang menunggu sang istri mulai agak gusar. Pikirnya dandan secantik apa istrinya itu hingga melupakan mereka bertiga.
Wajah sumringah di keluarkan oleh Tuan wong saat ingin menangkap basah sang istri yang sedang bermake-up. Pikirnya Ibu Diah sedang memberikan kejutan padanya, secara Tuan Wong tidak bisa melupakan wajah cantik sang istri.
Namun saat masuk kedalam kamar, tidak ada sang istri yang dia temui. Melainkan hanya kamar yang berantakan. Seluruh alat-alat makeup sang istri sudah berserakan kemana-mana di lantai.
"Haizimen, guolai," teriak Tuan wong dari kamar. (Anak-anak, kemari)
Stevie dan Steve saling lempar pandangan. Pikir keduanya ada apa, tumben sang ayah berteriak garang seperti itu.
Steve lari lebih dahulu menghampiri ayah, di depan pintu dia melihat sang ayah duduk lemas.
"Ada apa Pa?" tanya Steve. "Apa yang terjadi?"
"Mama kalian menghilang," jawab Tuan Wong lesu. Dia duduk di ranjang, meratapi kehilangan sang istri.
"Siapa yang melakukan ini, Pa?" tanya Steve lagi. "Beraninya mereka menculik Mama!"
Di telisiknya seluruh ruangan, yang dia dapati sepanjang menelisik kamar ini hanya sebuah keberantakan bukan khas Ibu Diah.
Steve agak berang, di carinya beberapa petunjuk mengenai kehilangan sang Ibu. Tuan Wong yang tertunduk lesu itu, menghentikan Steve yang ikut panik. "Tenangkan diri mu," ucapnya. "Mereka pasti yang sudah melakukan ini?"
Tuan Wong sedikitnya menitikkan air mata, di sekanya air yang sudah berlinang itu. Dia ingin berusaha tegar, walau sebenarnya dia tidak kuasa.
Karena melihat Steve, Tuan Wong harus menunjukan sisi terkuat dalam dirinya, agar sang putra tidak melow.
Dari bawah, Stevie berlari menuju ke kamar sang Ibu. Kali ini Stevie membawa sebuah kotak sedang. "Aku menemukan ini di depan rumah," ucap Stevie. "Tidak tahu apa isinya, orang yang mengantarkan kotak ini langsung pergi begitu saja saat aku membuka pintu."
Steve yang penasaran pada kotak yang di bawa Stevie, langsung menyambar kotak itu lalu membukanya.
Di dalam kotak berisi sebuah surat di sertai Bom yang sudah di pasang waktu. Tidak ada waktu yang terpasang, kemungkinan besar, bom itu bisa di kendalikan dari jarak jauh. Bisa saja meledak sewaktu-waktu.
Dalam surat itu tertulis perintah agar Tuan Wong sendiri yang harus menemui istrinya jika dia ingin sang istri itu selamat. Saat Steve membaca isi kertas berisi ancaman itu, mendadak ekspresi Steve berubah menjadi ganas.
Di remat-remat-nya kertas itu hingga membentuk bola kecil, membuangnya secara acak. "Kurang ajar. Mereka beraninya melakukan ini pada Mama."
Kegarangan Steve membawanya ingin menemui para penculik Ibunya itu. Tapi, Tuan Wong sesegera mungkin menghentikan tindakan anaknya itu.
"Jangan kesana sendirian?" kata Tuan wong. "Akan berbahaya jika kamu kesana."
"Lalu bagaimana dengan Mama, Pa?"
"Steve tenangkan diri kamu dulu!" sahut Stevie. "Jangan bertindak ceroboh dalam situasi seperti ini."
"Bagaimana aku bisa tenang, Kak?" sergap Steve. "Mama di culik. Mereka pasti akan melukai Mama jika kita tidak datang."
Di situasi seperti ini, Steve tidak bisa mengendalikan diri juga air matanya. Walau Stevie menahannya untuk pergi, keras kepala membawanya tetap pada keteguhan untuk menyelamatkan sang Ibu.
Melihat Steve yang nekat, Tuan Wong secepatnya menangkap tubuh Steve, memeluknya erat. "Jangan lakukan hal-hal bodoh. Papa tidak mau kamu terluka. Jangan buat Papa harus kehilangan kalian berdua," katanya sambil menangis.
"Steve tidak bisa tenang Pa, sebelum Mama kembali."
"Papa tahu itu. Kita pikirkan cara lain. Papa tidak mau kamu mengambil resiko besar seperti ini."
__ADS_1
Anak dan Ayah itu menangis bersama dalam satu pelukan. Hanya Stevie yang masih menahan air mata. Bukan karena dia tidak sedih Ibunya menghilang, tidak ada gunanya juga kalau menangis. Tidak akan mengembalikan sang Ibu seberapa lamanya menangis, bahkan ribuan tahun menitikkan air mata pun, tak ada ubahnya.
Tua wong mengajak Steve duduk di ranjang, menenangkan anaknya itu. Tuan wong kemudian menceritakan sebuah kisah pada Steve dan Stevie.
"Sejujurnya, yang menculik Mama kalian adalah pria yang sudah lama mengincarnya."
Steve dan Stevie mendengarkan rahasia di balik penculikan ini.
Tuan wong agak berat menceritakan kisah ini, tapi mau tak mau keduanya harus tahu kejadian sebenarnya.
"Dulu, saat bertemu dengan Mama kalian Papa merasa sangat bahagia. Mama adalah wanita yang paling cantik. Bahkan banyak pria yang meliriknya. Salah satunya Papa, yang diam-diam menyukai Mama kalian. Lambat laun karena butuh perhatian dari Mama kalian, Papa sering melakukan hal-hal konyol agar Mama kalian melihat Papa sebagai pria yang baik.
Mama kalian dulunya adalah pegawai kantor Papa di Taiwan. Dulu dia berada di bagian perencanaan. Karena semakin hari cinta Papa pada Mama kalian semakin dalam. Entah kenapa Papa tidak rela dia menjadi milik orang lain.
Papa terus berupaya agar cinta Papa tidak di tolak Mama kalian. Papa melakukan berbagai cara walau berkali-kali di tolak olehnya. Tanpa di sadari, Mama kalian mulai luluh atas perjuangan Papa. Mama kalian perlahan membuka hatinya untuk Papa sejak saat Papa mengatakan ketulusan pada Mama kalian.
Akhirnya cinta Papa yang ambisius membawa Papa pada hasil yang memuaskan. Mama kalian menerima cinta Papa sepenuh hati. Bahkan tidak lama saat Papa mengatakan cinta, kami berjanji akan menikah.
Tapi Mama kalian masih mau mengenal Papa lebih dahulu. Mengingat Papa adalah pria yang sering menyusahkannya. Seringnya Papa usil pada Mama kalian, hingga menjadi barometer sebagai penilaian. Sikap jahil Papa membuat Mama kalian tahu jika Papa bukan pria yang baik bahkan tidak bertanggungjawab. Mama menilai Papa seperti itu. Walaupun begitu, Mama kalian akhirnya tidak lagi mengulur-ulur waktu untuk menjadi tunangan papa.
Papa sempat di tolak oleh keluarga Mama lantaran budaya China Papa yang kental. Tapi tidak menutup kemungkinan akhirnya keluarga Mama kalian mau menerima Papa apalagi melihat kesungguhan Papa dalam mengejar cinta Mama kalian.
Pada akhirnya Mama dan Papa bertunangan lebih dahulu sebelum menikahi Mama kalian.
Hingga pada kejadian tengah malam saat itu, semuanya merubah keadaan. Mama tidak sengaja membantu seorang pria yang ternyata adalah buronan kepolisian Taiwan.
Dia bernama Hery Kim, pengusaha kasino terbesar di daratan Taiwan, Hongkong dan Macau. Yang ternyata juga adalah buronan atas kasus sindikat pengedar narkoba internasional dan perdagangan manusia.
Pria itu menyelundupkan berbagai macam narkotika dari Taiwan, Hongkong, Macau menuju ke Asia tenggara masuk ke Malaysia barulah ke Indonesia. Dia sengaja menjadikan Indonesia sebagai sasaran empuk usaha yang di rintisnya itu.
Hery Kim sendiri adalah pria Korea yang menikah dengan wanita Indonesia. Bahkan Ibunya juga di ketahui berasal dari Sumatera. Dia adalah warga negara Indonesia, identitasnya masih sebagai warganegara ini.
Berhubung dia adalah pengusaha yang masuk kedalam dunia mafia apalagi tergabung bersama mafia asal Jepang. Hery Kim mulai merasa tidak cocok dengan lingkungan Indonesia.
Dia kemudian mengganti seluruh identitasnya, beralih menjadi warga Taiwan. Di sana dia mengelola bisnis kasino-nya. Polisi Taiwan dan Macau tidak tahu jika dalam industri perjudiannya, di selipi perdagangan orang dan juga narkotika.
Sejak saat itu semua berubah.
Mama kalian yang semula hanya ingin membantu dia terbebas dari tangkapan polisi Taiwan, menyembunyikannya di apartemen. Tanpa di sadari, ternyata sudah dua Minggu Mama kalian menyembunyikan Hery Kim di apartemennya seorang diri tanpa ada yang tahu.
Karena merasa dekat dan senang di layani Mama kalian. Apalagi Mama kalian ramah. Hery Kim diam-diam menaruh hati pada Mama. Walau dia sudah berpisah dengan istrinya saat melahirkan putra semata wayangnya akibat kontraksi hebat. Tidak menutup kemungkinan kalau dia masih menginginkan istrinya kembali ke sisinya.
Hery Kim ternyata merindukan sosok istri yang pengertian dan baik seperti Mama kalian. Setelah beberapa bulan tinggal bersama Mama, dia memberanikan diri menyatakan cintanya. Apalagi dia melihat adanya kecocokan antara Mama dan dirinya. Dia berpikir kalau Mama kalian akan menerima cintanya, namun siapa sangka.
Mama menolaknya. Mama sudah menjadi milik Papa, bahkan tidak akan mengkhianati janji kami. Karena dia merasa sangat malu apalagi di tolak oleh Mama, Hery Kim mengancam Mama.
Dia harus meninggalkan Papa dan menikah dengannya. Karena ketidak sengajaan ini, pada akhirnya membawa kami kedalam sebuah cinta yang rumit.
Papa dan Mama harus berjuang mati-matian agar bisa bersama.
Apalagi Hery Kim yang ambisius. Dia sudah cinta mati pada tunangan Papa. Namun karena dia lengah, akhirnya polisi Taiwan mengendus keberadaannya.
Dia sempat ingin membunuh Mama agar ikut mati bersamanya. Dia atas rooftop gedung tinggi, dia tak segan mengancam siapapun yang berani mendekatinya. Jika ada yang coba-coba untuk menyelamatkan Mama kalian, maka dia bersumpah akan melompat ke bawah. Karena polisi Taiwan lebih dahulu melumpuhkan dia, barulah Hery Kim bisa di tangkap. Selama delapan belas tahun dia di penjara di Taiwan, terhitung lebih dari lima kali dia membobol dinding sel tahanan agar bisa meloloskan diri.
Hery Kim meninggalkan seorang putra yang diam-diam juga ternyata sudah tinggal lama bersama Mama kalian. Putra Hery Kim itu bernama Tony Kim yang dulunya adalah teman bermain kalian saat kecil. Saat kalian masih balita, anak itu sangat menyayangi kalian layaknya saudara kandung kalian sendiri.
Dulu dia menganggap Mama kalian adalah Ibu kandungnya. Karena sudah akrab pada Mama kalian, Tony Kim tidak rela jika di tinggalkan Mama.
Mama juga tidak tega meninggalkan anak tanpa orang tua itu. Karena Mama juga merasa Tony Kim adalah anak yang baik, Mama kalian akhirnya membawa anak itu masuk kedalam keluarga Wong.
Saat tahu kalau ayahnya di penjara oleh Papa. Tony Kim menaruh dendam pada Papa. Sejak saat itu dia meninggalkan rumah. Tidak di sangka, setelah sekian lama tidak bertemu dengannya, anak itu sudah memulai misi balas dendam-nya.
Setelah delapan belas tahun berlalu, kini mereka datang. Pria itu pasti tidak akan melepaskan Ibu kalian lagi kali ini. Tony Kim diam-diam membantu ayahnya kabur dari penjara."
Tuan Wong mengakhiri ceritanya. Walau singkat, namun dia yakin kalau anak-anaknya mengerti alur ceritanya ini.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Sorry jika percakapannya panjang. Hanya seperti itu yang author bisa ceritakan dari sudut pandang sang Ayah. Thanks, semoga nggak jenuh dengan cerita ku. Walau pada kenyataannya novel ini pelit jempol.