
"Sebenarnya aku..." Steve teringat pada kejadian kemarin. Dia mencoba menjelaskan apa yang terjadi sebelumnya.
Saat dia pergi ke kamar mandi hotel. Steve menerima panggilan telepon dari ibunya. Sebenarnya Steve tidak mau mengangkatnya karena dia tahu pasti ibunya akan mengatakan kata-kata yang tidak enak di dengar.
Berkali-kali telepon itu berdering, berkali-kali pula Steve mematikan panggilan telepon ibunya itu.
"Huh. Kenapa Mama menelpon di jam yang tidak penting seperti ini." Gerutu Steve sok menyewot.
Steve terus-menerus menghindari panggilan telepon dari ibunya. Baginya menjawab telepon ibunya sama seperti ikut program reality show. Dalam alurnya akan ada kisah haru dan salah satu tokoh akan menangis menceritakan penderitaan hidupnya selama berbincang-bincang.
Steve benci bagian ini. Dia bukan tipe pria yang mudah mewek melihat apa lagi mendengar kata-kata haru. Hanya saja dia malas mendengar penderitaan orang lain yang sering mengeluh tanpa ada usaha dalam dirinya. Tak terkecuali ibunya yang sering merengek-rengek memintanya kembali ke Shanghai.
Hingga usai dari kamar mandi, telepon itu masih berdering. Sesekali Steve mengintip layar handphonenya, siapa tahu pikir Steve bukan lagi ibunya yang menelpon. Tetapi kali ini yang ia temui, orang yang menghubungi dia adalah Stevie, kakaknya yang bar-bar itu.
Steve memasang wajah juteknya saat melihat layar telepon itu berdering atas nama Stevie. Malas untuk menjawabnya, tetapi Steve berpikir bahwa wanita ini tidak akan berhenti sebelum dia menjawab teleponnya.
"Perempuan penyihir ini." Umpat Steve kesal. Terpaksa baginya menerima telepon kakaknya itu.
"Halo,"
"Hoi. Ini panggilan video. Kenapa di taruh di telinga." Pekik Stevie langsung marah-marah tidak jelas yang di anggap Steve kurang ajar.
Steve membalikan teleponnya dan dia sadar memang benar itu panggilan video bukan panggilan telinga. Bahkan dalam layar handphonenya seluruh monitor handphone itu di penuhi oleh wajah Stevie. Dia mengumpat di dalam selebar layar handphonenya hingga menutupi latar belakang tempat kakaknya menelepon.
Steve mengernyitkan dahinya, dia sedikit kaget saja saat melihat satu layar penuh di hiasi oleh wajah kakaknya. Tidak habis pikir bagi Steve saat melihat bahwa handphonenya saja bisa di penuhi oleh wajah kakaknya yang terlihat menyeramkan. Tidak sampai di situ saja. Steve bahkan memasang wajah bebek saat seluruh layar handphonenya di penuhi oleh bibir merah kakaknya.
"Ada apa menelpon." Tanya Steve singkat dan ketus.
"CK.. CK... Baru mengangkat telepon ku saja sudah belagu. Nggak senang kalau kakak yang menelpon."
Sial bagi Steve. Kakaknya pasti akan bersikap begitu saat mereka bicara. Wajah juteknya tidak ingin berlama-lama untuk berdebat. Nanti akan membuang waktunya saja. "Bukan begitu. Maksud ku ada apa kakak menelpon? Aku sedang sibuk. Aku matikan dulu kalau tidak ada hal yang penting untuk di bicarakan."
"Jangan di matikan dulu, Mama mau bicara. Ini penting." Stevie menyela ucapan adiknya sambil memalingkan kepalanya memanggil sang ibu.
"Ma. Ini Steve, mau bicara gak. Mumpung si bekicot ini mau bicara." Teriak Stevie memanggil ibunya.
Dari layar telepon, ibunya menyambar pembicaraan mereka. Dia terlihat sangat semangat saat mengetahui Steve menjawab telepon Stevie.
"Steve. Mama rindu pada mu. Kapan pulang ke Shanghai nak."
Suara ibunya mengiba dari balik layar. Steve tahu ini akan terjadi jika dia bicara pada ibunya.
"Ma. Steve disini bekerja! Bukan liburan. Mana ada waktu Steve pulang ke Shanghai."
"Mama sudah menduganya kalau kamu pasti akan bilang begitu. Seharusnya tadi mama tidak menelpon. Kamu memang selalu sibuk pada pekerjaan." Ibunya kembali bicara memelas iba. Kali ini ibunya jauh lebih mengiba dari biasanya.
Steve mengernyitkan dahinya. Dia memegang kepalanya seolah sedang pening melanda. "Bukan begitu ma. Pokoknya lain kali jika aku ada waktu, aku akan kembali ke Shanghai. Kalian sehat-sehat di sana. Katakan pada Papa kalau aku baik-baik di sini."
Semenjak di Indonesia Steve tidak pernah menelpon atau mengabari ibu dan ayahnya yang hidup berdua bersama sanak saudaranya di Tiongkok. Steve lebih suka sibuk pada pekerjaannya ketimbang membahas kisah haru seperti ini.
Ibunya yang bicara di dalam layar telepon hanya bisa pasrah saat anak lelakinya itu bicara singkat tanpa berbasa-basi lebih dahulu padanya.
"Mama mengerti. Kalau begitu mama tidak akan menggangu lagi. Kamu makan yang kenyang di sana. Kalau ada waktu, kembali dulu ke Shanghai, ibu akan menunggumu disini." Tukas ibunya berekspresi murung. Dia memberikan handphone pada Stevie dan berlalu meninggalkan layar telepon.
"Mama pasti akan bicara begitu." Gumam Steve sedikit kesal pada ucapan ibunya. Steve tahu bahwa dia sudah tidak patuh pada ibunya. Tidak peduli dia sudah menyakiti perasaan sang ibu, Steve hanya bisa menjanjikan kata-kata kiasan pada orang tua itu.
"Oi. Anak durhaka. Mama baru kali ini nelpon, kenapa di jawab sinis. Nggak ada basa basi kek menjawab sapaan ibu mu. Dia mama kandung mu bukan mama angkat. Setidaknya bicara panjang kek agar kesannya kamu berbakti. Dasar anak *****." Stevie mengomelinya kasar sembari mengutuk adiknya itu.
Tetapi siapa yang peduli? Steve bahkan tidak menggubris dan bersikap masa bodoh pada ucapan kakaknya.
"Oi... Kamu dengarkan kata-kata kakak gak sih?"
__ADS_1
"Iya aku dengar. Kalau tidak ada lagi yang perlu di bicarakan, aku matikan dulu. Aku sibuk." Tukas Steve kembali ingin cepat-cepat mengakhiri panggilan video bersama saudarinya itu.
Langkah kakinya tadi yang ada di kamar mandi, kini membawanya ke taman hotel. Saat dia akan menjawab panggilan kakaknya, suara dalam teleponnya tadi tidak begitu jelas karena ramainya suara pengunjung hotel berbincang tidak bisa mengontrol mulut mereka. Sehingga Steve membawa handphonenya menuju ke tempat yang hening.
Steve duduk di bangku taman hotel. Di taman ini, Steve ingin mengakhiri teleponnya dari panggilan sang kakak. Tetapi Stevie menghentikannya. Dia menyadari sesuatu.
"Jangan di matikan dulu. Aku melihat sesuatu di belakang mu." Ujar Stevie berwajah serius. Dia makin mendekati layar handphonenya menyoroti latar belakang tempat di mana Steve duduk.
Ucapan kakaknya membuat Steve sedikit curiga. Mula-mula tangannya yang hendak menekan tombol 'matikan telepon,' kini tidak jadi karena perkataan kakaknya tadi.
"Kakak melihat apa?" Tanya steve penasaran. Dari layar teleponnya terlihat tidak ada apapun di belakang Steve. Dalam panggilan video itu semuanya tampak normal. Kecuali kakaknya lah yang membuat drama menyeramkan ini.
"Ada yang aneh di belakang mu." Ucap Stevie sekali lagi. Kakaknya makin membuat Steve sedikit menaikan kedua alisnya.
Steve menengok kebelakang seperti yang di maksud kakaknya. Memang tidak ada apapun, semuanya normal. Lalu steve kembali bertanya penasaran.
"Aneh seperti apa yang Kakak maksud? Kakak jangan membuat drama baru di sini. Jangan coba-coba membohongiku."
Mata Steve tidak buta dan memang saat itu tidak ada apapun di belakangnya kecuali bunga-bunga dan pepohonan yang menghiasi taman. Dan sebuah air mancur dengan keras menyembulkan air dari bawah. Semua di lihat Steve normal. Tetapi wajah kakaknya dari balik telepon itu menunjukan ekspresi yang membuatnya kebingungan mengundang tanda curiga.
"Apa sih yang di lihatnya. Sampai-sampai sebegitunya berekspresi keheranan." Batin Steve bertanya-tanya? Apa yang di maksud kakaknya.
Steve menghela nafas panjang, kemudian dia menolehkan kembali kepalanya kebelakang.
Dia memperhatikannya dengan seksama apa yang aneh? Pikir Steve kakaknya melihat hantu.
Steve menyapu sekeliling bahkan ia melirik gedung yang berdiri di belakangnya. Tidak ada yang aneh sedikit pun dari latar belakang tempat dia berada. "Apa sih yang kakak lihat. Sampai mata kakak hampir copot begitu melihatnya."
"Pokoknya latar belakang kamu itu mencurigakan. Kamu masih tidak mau mengakuinya."
"Apa yang harus aku akui? Kakak sepertinya harus chek in di rumah sakit jiwa. Siapa tahu salah satu saraf mata kakak ada yang putus." Timpal Steve meledek.
Sekali lagi Steve menengok ke belakang seperti yang di maksud kakaknya. Matanya melihat sekeliling, tidak ada apapun kecuali gedung hotel yang jadi latar belakangnya.
"Hotel!" Gumam Steve yang kemudian sadar saat di belakangnya bertuliskan The Sevens hotel.
Steve mulai paham maksud kakaknya. Dari balik layar kakaknya sudah berekspresi serius. "Kamu nggak lagi melakukan hubungan seksual kan di hotel." Ucap Stevie tanpa sensor langsung menebak.
Steve sudah menduga pasti kakaknya akan berpikir negatif. "Akh... Bukan apa-apa. Aku hanya ada urusan di sini. Kalau gitu aku akan mematikan telepon sekarang." Seketika Steve mematikan telepon.
Dia tidak habis pikir, hanya melihat tulisan itu kakaknya langsung berpikir jauh. Steve menebak bahwa kakaknya akan berpikir bahwa dia sedang pesta **** terlebih dia ingat nama Dinda.
"Sial!" Steve berteriak ketus.
Sebenarnya itu kejadian kemarin. Steve bahkan malu jika ingin menceritakan semua ini pada Dinda. Steve benar-benar tidak berani mengatakan kisah sebenarnya pada Dinda.
Tetapi untunglah saat itu, terlintas dalam pikirannya teringat bahwa karyawannya menelpon kemarin malam. Sehingga Steve' menganggap inilah jalan untuknya berbohong. Mungkin dengan menceritakan ini Dinda akan percaya.
"Sebenarnya yang terjadi kemarin kakak menelpon ku."
"Kak Stevie maksudnya?" Dinda menebak. Siapa lagi kakak Steve kecuali Stevie.
Steve bicara kelepasan. Mulutnya mangap tidak bisa mengerem apa yang sedang di pikirkan.
"Kenapa aku malah bicara seperti ini." Gumam Steve salah bicara. Dia mengutuk dirinya karena berbicara *****.
Steve lalu mengubah pembicaraan.
"Maksud ku, kemarin ada keadaan mendesak. Karyawan kantor kemarin menghubungi ku. Mereka mengatakan kalau belagio sport kembali mendapatkan proposal."
"Proposal? Tadi bilangnya kak Stevie yang menelpon. Ini yang benar yang mana? Proposal atau kak Stevie?"
__ADS_1
"Proposal!" Balas Steve singkat.
"Proposal?"
Mendengar kata ini, Dinda bisa menebak ada kabar baik di belakangnya. Dan dia melupakan kisah Stevie tadi.
"Iya proposal. Pihak penyelenggara Asian games ke-30 di Philipina mengirimkan grup wong proposal menjadi sponsor utama acara dua tahunan itu.
Seperti kamu ketahui selama ini belagio sport menjadi produk olahraga paling kompetitif di seluruh dunia. Tiga tahun yang lalu belagio sport sukses menjadi sponsor utama dalam penyelenggaraan olimpiade di Brazil. Bahkan tahun lalu juga Asian games di Jakarta-palembang sukses karena ada dukungan dari pihak wong.
Jadi aku sedikit bergegas saat proposal ini turun. Keadaannya mendadak sebab pengiriman proposal di terima dua hari sebelum acara pembukaan. Semuanya di lakukan secara mendadak, sehingga aku pergi dari acara Tama tanpa sempat memberi tahu kalian.
Aku tahu jika aku salah, tapi sungguh aku meminta maaf karena aku ingat jika aku meninggalkan kalian berdua di hotel sesaat setelah aku sampai di perusahaan. Aku terkadang pikun di saat-saat seperti itu." Steve merasa sedikit bersalah, tetapi semua sudah terjadi. Pikirnya mereka sehat-sehat saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan.
Mendengar penjelasan Steve Dinda bisa memahami hal ini. Dinda bersikap dewasa saat menanggapi penjelasan Steve yang membawa kabar baik ini.
"Aku mengerti kalau Tuan Steve sangat sibuk. Aku merasa senang karena Pak Steve sangat bertanggung jawab pada perusahaan."
"Apa ini pujian terselubung?" Sambil menggaruk kepalanya, Steve merasa sedikit tersipu malu.
"Bukan terselubung, tapi ini kenyataannya."
Steve senang saat Dinda tidak marah atau pun kecewa padanya karena di tinggalkan begitu saja di acara pertunangan Johan. Walau Dinda sempat sebal, tetapi dia memakluminya.
"Oh iya, Sebenarnya sejak kapan Steve yang tampan mengetahui bahwa aku adalah
gadis kecil itu? Apa Steve mulai jadi penguntit ku selama ini?" Dinda bertanya sebab pertanyaan ini masih hangat melintas di pikirannya saat itu.
"Aku."
"Iya. Sejak kapan Steve tahu jika aku adalah gadis kecil itu? Dan juga aku akan membiasakan memanggil Steve mulai saat ini." Senyum Dinda saat bicara membuatnya tampak mempesona.
Sampai-sampai Steve tidak bisa berpaling dari wajah yang merona itu. Dia merasa berdebar saat Dinda merayunya dengan lembut.
"Ehm.." Steve mendeham. Dia tidak bisa begini. Dia tidak mau menjadi berdebar hanya saat gadis yang ia sukai itu menggodanya dengan tingkah menggemaskan.
"Sebenarnya, aku menyadarinya saat di hotel."
"Di hotel? Bukan kah saat itu pertemuan pertama kita terlibat kesalah pahaman?" Dinda bersua meninggikan suaranya.
"Iya di hotel. Tapi ekspresi kamu jangan terlalu panik gitu dong. Aku kaget mendengarnya." Steve menuntut sewot.
"Iya deh maafkan aku tuan pemarah. Silahkan lanjutkan ceritanya."
"Sebenarnya saat kamu meninggalkan hotel waktu itu. Paman lu tidak sengaja menemui Id card mu. Secara tidak langsung aku mengenalinya. Kamu sangat mirip dengan gadis kecil itu. Aku yakin jika itu adalah kamu. Gadis kecil itu, tetapi aku takut salah mengenalinya makanya aku perlahan menyelidiki semua ini."
"Jadi selama ini?"
"Itulah kenyataannya. Setelah aku mengetahui semua ini, aku diam-diam sudah menyukai mu sejak pertama kali kita bertemu. Kamu harus memaknai kata-kata ku ini." Steve menjelaskan semua ini. Dia mengakui perasaannya entah berapa kali dia melakukannya.
Lagi-lagi Dinda terharu, dia kembali mulai memahami sisi lain Steve yang memperhatikan dirinya dalam diam.
Di atas kasur lembut, Steve dan Dinda amat intim dalam bernostalgia di masa lalu. Steve tersenyum sesaat setelah dia melihat ekspresi gadisnya yang mulai memberikan hatinya pada Steve.
"Aku juga mencintai Steve sejak saat kita bertemu. Bahkan aku tidak bisa melupakan wajah anak kecil itu sampai saat ini." Timpal Dinda yang juga mengakui perasaannya.
Mendengar ucapan Dinda yang sehati dengan dirinya, Steve kembali memeluk gadis itu. "Mulai sekarang jadilah kekasih ku. Berjanjilah bahwa kamu akan selalu ada di sisi ku." Ucap Steve melepaskan kelegaan dalam dirinya.
Dinda menerima semua ucapan Steve. Dia menerima pernyataan cinta Steve dan perlahan dia juga sudah mengakuinya. "Aku berjanji akan selalu mencinta Steve. Tidak peduli apapun yang terjadi, aku pasti akan tetapi ada sisi mu." Balas Dinda memulai kata-kata yang romantis dan puitis.
BERSAMBUNG
__ADS_1