
Dunia itu aneh. Dunia itu gila. Dunia itu penuh misteri. Dan..... Dunia itu penuh keraguan.
Ada begitu banyak wanita cantik dan lebih baik dari pada Dinda yang ada di sisi ku saat ini. Tapi, entah kenapa justru aku masih menggilainya.
Aku sadar, aku gila karena cintanya. Hanya saja, sesuatu yang harus aku miliki, tetap harus menjadi milik ku.
Aku, kalian bisa memanggil ku Johan, si pria ambisius. Mungkin aku adalah pria paling gila dari semua pria di muka bumi ini. Itulah sebabnya, mengapa kegilaan ku membawa aku hingga titik ini.
Titik di mana aku berpikiran absurd, gila, dan tak berperasaan. Karena aku benci menyerah dan kalah dalam permainan ku sendiri.
JOHAN
_____________________________________________
_____________________________________________
Ceklek.....
Pintu bercat putih bak salju itu terdengar terbuka melebar. Dinda melihat dari balik kaca di depannya. Oh, Johan. Pria itu kini sudah siap dengan jas hitam dan ada dasi berbentuk pita di lehernya.
"Apakah kamu sudah siap?" tanya Johan pada Dinda. "Waktu kita tidak banyak sekarang."
Sebelumnya Dinda baru saja selesai di rias oleh orang-orang suruhan Johan. Dan, Johan melihatnya makin cantik. Sungguh, demi apapun. Dinda makin memikat sepasang kornea mata berlensa cokelat itu.
Akhirnya apa yang tidak terbayangkan oleh Dinda, kini terjadi tanpa dia sadari. Waktu telah mengubah segalanya tanpa di sengaja.
Saat Johan mendekatinya, Dinda beranjak dari meja rias itu bersama sebuah buket bunga putih di tangan.
"Aku sudah siap!" seru Dinda dengan ucapan terpaksa.
Ah, malas bagi Dinda harus berkata banyak atau panjang lebar. Dia malas menggerakkan rahangnya lantaran dia ingin irit bicara. Karena sebenarnya Dinda menahan diri untuk tidak menangis di hadapan pria itu.
Gaun putih itu menjuntai di lantai. Lekuk tubuh yang indah di padukan dengan gaun yang di rancang tepat jahitannya, kini menambah cantik sempurnanya bentuk tubuh Dinda.
"Ayo," kata Johan sambil mengulurkan sikunya untuk Dinda. "Penghulu sudah menunggu kita di aula pernikahan."
****
Note. Maksud si Johan penghulu—adalah orang yang menikahkan pengantin di Ethiopia. Sejenis pendeta di gereja begitu. Anggap saja pendeta, karena author bingung harus menyebut apa nama penghulu yang akan menikahkan pengantin di Ethiopia. Semoga tidak salah menanggapi.
Aula pernikahan maksud Johan adalah tempat di belakang rumahnya yang mirip altar.
****
Dinda dengan terpaksa memasukkan tangannya di siku Johan yang sudah menyepit. Setelah itu, Johan berjalan beriringan dengan Dinda keluar dari kamar itu.
Tahan Dinda. Jangan menangis. Ini hanya sebuah pernikahan, bukan sesuatu yang harus di sesali.
Anggap saja ini mimpi buruk yang akan segera berlalu. Apapun yang terjadi, semua adalah pilihan.
Johan melihat pelupuk mata Dinda. Dia tahu Dinda terpaksa melakukan ini. Mata itu sembap hampir menangis menitikkan air mata. Namun siapa peduli, pernikahan ini sudah hampir terjadi. Tidak ada yang perlu di sesali. Lagi pula, keinginannya sudah tercapai. Johan tidak mungkin membatalkannya atau melepaskan Dinda lagi saat ini.
"Ini bukan mimpi buruk Dinda, sungguh. Ini adalah awal bagi kita untuk membangun kembali kisah lama kita. Aku pastikan kamu bahagia saat bersama ku. Itu janji ku," lirihnya berkata pelan.
Walau dia berkata seakan itu adalah keyakinannya, namun Dinda ingin terkekeh tak bisa menahan kisah lucu ini. Naif rasanya bagi Dinda, dia harus tunduk pada perintah Johan. Tapi itulah kehendak, Dinda saja tidak bisa membantah.
Seandainya jika aku tahu sejak awal dia melakukan hal ini karena di latari oleh sebuah ambisi. Tak akan pernah terjadi pernikahan yang tidak di dasari oleh cinta ini. Tidak akan pernah aku terjerat dalam permainan kotornya ini.
Ketika sampai di luar rumahnya yang besar. Di depan. Ah, lebih tepatnya di samping taman rumah Johan ada gazebo putih berdiri megah. Ada jalan satu lorong menuju ke gazebo itu.
Sementara di ujung gazebo ada jalan lagi menuju ke sebuah bangunan. Mungkin itu maksudnya Johan, aula pernikahan keluarga.
Ada taman di semua sisi gazebo yang mengiringi langkah mereka. Ada juga kolam yang kadang kala ada ikan kecil melompat girang.
"Semoga kak Johan bahagia dengan pernikahan ini," bisik Dinda pelan. Sambil berjalan, Dinda berusaha kuat menegakkan kepalanya.
"Tentu aku akan senang dan bahagia Dinda. Menikah dengan kamu adalah impian ku. Kamu harusnya tahu itu." Tidak perlu di tanya seberapa girangnya Johan saat ini. Jawabannya sangat girang, bahkan belum pernah Johan merasakan sebahagia ini dalam hidupnya.
Tampan, memang Johan sangat tampan dengan pakaian serba hitamnya itu. Apalagi ada bagian dalam kemeja putih itu, Johan makin terlihat berbeda. Wajah Johan memang tidak kalah tampannya dengan Steve, Zico, Rendy atau yang lainnya. Tapi Dinda tidak pernah memperhatikan lagi wajah itu meskipun menawan.
Dinda mengakuinya. Beberapa kali Dinda melirik wajah itu. Sungguh, Johan berbeda dari biasanya.
Hanya saja, dia bukan Steve. Dinda merasa tidak bahagia sama sekali menikah dengan pria yang datang dari masa lalunya itu.
"Apakah pengantin pria dan wanita sudah siap?" tanya pendeta (anggap saja begitu) pada Johan dan Dinda.
Saat tiba di depan bangunan yang mereka tuju, pendeta berkulit legam ini langsung menyambut dengan pertanyaan.
__ADS_1
Johan mengangguk cepat. "Sudah siap. Dan bisa di mulai upacara pernikahan ini," katanya yang tak sabaran.
Di aula besar itu (altar berkarpet merah) hanya ada pendeta kulit hitam, namun tidak terlalu gelap. Dan Dinda bersama Johan. Hanya mereka yang ada di sana. Johan melarang orang-orang ada di sekitar pernikahan mereka. Bisa di bilang, Johan ingin menutupi segala kegiatan upacara pernikahannya ini.
Entahlah. Dinda bingung. Apa maksud dari pernikahan yang hanya di saksikan oleh seorang pendeta pernikahan. Mungkin hanya Johan yang tahu rencana di balik semua ini. Bisa jadi, tuhan ikut mengamini rencana Johan ini.
"Kalau sudah siap, ayo kita mulai menuju pemujaan," kata pendeta. Pria tua itu sedikit membuat Dinda ngeri.
Ya, pasalnya baru kali ini Dinda melihat orang berkulit hitam seperti ini. Namun Dinda memakluminya. Sebab dia tahu, bahwa orang-orang Afrika sama seperti orang Papua. Dinda tidak keberatan saat kulit hitam legam itu berkata padanya. Tapi Dinda takut pada rupa pria ini. Sungguh.
Entah dari mana Johan mencomot pendeta ini. Dari tampangnya, memang dia sangat nampak berpengalaman dalam menikahkan para pengantin. Tapi, tetap saja. Dinda bergidik ngeri padanya.
Sebenarnya gedung berserta rumah ini di beli keluarga Johan beberapa tahun yang lalu milik pengusaha lokal. Dimana sebelumnya pemilik rumah ini adalah orang Addis Ababa asli. Dia sengaja menjual kediamannya pada keluarga Johan, lantaran pengusaha itu pindah rumah ke Guetamala. Rumah ini di desain sendiri oleh empunya rumah. Dan karena ada aula pernikahan. Maka Johan memakainya sebagai tempat untuk melangsungkan pernikahan yang hanya di hadiri oleh pendeta.
Pernikahan macam apa ini? Aneh. Pernikahan yang hanya di saksikan oleh seorang pendeta, rasanya tak lazim.
Memang aneh rasanya bagi Dinda. Pernikahan tidak masuk akal, hanya ada pendeta sebagai saksi. Tidak ada yang lain. Entah sejak kapan Johan menyiapkan semua ini, Dinda tidak mengerti.
Aku memegang buket bunga, tentu aku akan melemparnya nanti setelah acara selesai. Lalu siapa yang akan menyambut bunga ini kemudian. Bahkan tak ada satu orang pun di sini yang menjadi saksi pernikahan resmi ini selain pendeta ini.
Kak Johan, semoga kamu sadar. Sebenarnya ini semua salah. Ini semua seharusnya tidak terjadi.
"Pengantin wanita. Apakah sudah siap ingin mengikat janji suci ini?" tanya sang pendeta.
Setidaknya dia mengganggu Dinda yang terdiam penuh pertanyaan.
Aku? Bagaimana aku akan siap menerima kenyataan ini. Aku saja bingung harus menjawab apa.
Dinda mengernyitkan dahinya, kadang dia menutup matanya. Kadang pula dia membukanya terpaksa. Bingung, jelas Dinda bingung, tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat itu.
Saat Dinda hening tak berkata, Johan mengisyaratkan Dinda melalui kedipan mata. Gadis itu hampir membuat Johan kesal lantaran menahan batas sabarnya. Dinda di nilai Johan menghalang-halangi resepsi pernikahan ini. "Cepat katakan iya," bisik Johan pelan. "Pendeta sudah menunggu jawabannya."
"Ah, iya. kenapa" balas Dinda cepat.
"Katakan pada pendeta kalau kamu sudah siap."
"Oh, iya. Aku siap," katanya sambil menyadarkan diri dari lamunan sejenak.
Setelah mendapatkan teguran dari Johan, Dinda terpaksa mengucapkannya.
"Baiklah kalau pengantin wanita sudah siap. Mari kita mulai," kata pendeta. Sesaat kemudian, dia memulai aksinya.
"Pada siang ini. Di aula pernikahan, akan di ucapkan ikatan janji menikah oleh sepasang kekasih yang saling mencintai, melengkapi, juga mengasihi di bawah keagungan-nya. Maka, sepasang burung merpati akan menjadi lambang kesetiaan dalam pernikahan ini."
Pendeta itu tengah membaca janji suci pernikahan. Mungkin akulturasi negara setempat. Dinda saja tidak tahu upacara pernikahan macam apa ini.
"Pengantin wanita di minta memasangkan cincin di jari pengantin pria sambil mengikuti ucapan janji suci pernikahan." Pendeta itu berkata, setelah mulutnya tadi sibuk berujar, kini dia memandangi kedua pengantin itu.
Dalam sebuah baki yang ada di tangan pendeta lengkap dengan lilinnya. Dinda mengambil cincin itu, lalu menyematkannya di jari Johan.
"Pengantin wanita, ikuti kata-kata ku." Ketika cincin kuning berlapis berlian itu terkait di jari jemari Johan. Pendeta lalu mengucapkan kata-katanya lagi yang kemudian harus di ikuti oleh Dinda berucap. "Aku bersedia menikah dengan pria yang ada di hadapan ku. Dalam suka maupun duka, aku akan tetap berada di sisinya. Tidak peduli maut yang memisahkan, kami akan tetap bersama hingga surga menyatukan kami kembali."
Dinda termangu, ketika pendeta itu mengucapkan kata-kata janji pernikahan mereka. Secara tidak sadar, Dinda tidak mengikuti ucapan itu.
Aku...... Tidak. Aku tidak sanggup jika harus menjalankan upacara pernikahan aneh ini. Kenapa rasanya sesak dada ku kala ingin mengucapkan semua ini.
Oh, sungguh. Apa yang harus aku lakukan saat ini. Aku mohon tuhan, berikan aku sebuah cara agar pernikahan ini tidak terjadi.
Walau Dinda masih memegang tangan Johan, menyepikan cincin di jari pria ini. Tapi entah kenapa, Dinda merasa tidak sanggup mengulangi kata-kata pendeta itu.
"Dinda," ucap Johan pelan. "Ayo katakan."
Johan tidak sabaran menunggu mulut Dinda berkata. Gadis itu mematung, seolah dia adalah manekin kaku.
"Dinda," ucap Johan lagi. "Cepatlah katakan. Pendeta itu sudah menunggu." Suara Johan amat pelan, tapi Dinda sadar kalau pria itu berkata padanya.
"Oh, maaf," balas Dinda. Di ikuti kesadaran sesaat setelah dia melamun tadi. "Pak pendeta bisa mengulanginya lagi," pinta Dinda.
Entah berapa kali Dinda melamun hari itu. Johan semakin lelah harus berulang kali mengingatkannya.
Pendeta itu kembali mengucapkan janji pernikahan. Setelah selesai dia berkata, Dinda mengikutinya. "A—aku bersedia menikah dengan pria di hadapan ku. Dalam suka maupun duka, tidak peduli maut—
"TUNGGU!!"
Belum usai Dinda mengucapkan sepenuhnya janji pernikahan itu, tiba-tiba seseorang datang menyela. Seorang pria dari pintu luar altar, datang menghampiri Dinda dan Johan yang sedang berdiri di dekat mimbar besar.
"Jangan pernah ucapkan janji pernikahan itu."
Suara itu terdengar tak asing bagi Dinda. Karena di luar agak silau di mata Dinda, samar-samar pria yang berjalan mendekati mereka itu tak begitu jelas di pelupuk matanya.
__ADS_1
Tapi—
"Pernikahan ini tidak akan pernah terjadi. Jangan pernah melakukannya tanpa diri ku."
Dinda memandangi pantofel hitam yang berukuran besar itu. Pantofel panjang empat puluh dua centi itu, Dinda amat mengenalnya. Bahkan Dinda hafal, pria pemilik pantofel ini selalu hilir mudik dalam ingatannya.
"Steve!!" Ya, pria itu kini ada di hadapan Dinda. Terkejut bukan kepalang, itulah yang Dinda rasakan saat dia ada di hadapannya. "Steve, itukah kamu?" tanya Dinda memastikan.
Berulang kali Dinda memejamkan matanya. Sungguh, Dinda merasa itu bagaikan mimpi.
Nggak mungkin. Itu pasti bukan dia. Itu pasti bukan Steve. Ini pasti hanya mimpi. Ini tidak nyata. Ini semua palsu.
Dinda membuka kembali matanya yang sempat dia tutup rapat. Karena Dinda sebelumnya berharap kalau ada yang akan menyelamatkan. Tapi dia tidak menyangka saja, harapan itu berubah menjadi kenyataan. Lalu, yang muncul pun seorang yang tak pernah dia harapkan sebelumnya.
"Jangan harap pernikahan ini akan terjadi. Pernikahan ini harus di batalkan," ucap Steve dengan nada ancaman. Steve bersama Zico, kini sudah di hadapan Johan dan pendeta.
Ketika kedua orang itu datang tak diundang, Johan dengan segera menarik Dinda. Pria ini menyembunyikan Dinda di balik bahunya.
"Pendeta. Kau bisa pergi dulu sekarang," perintah Johan padanya.
"Tapi upacara ini belum selesai."
"Aku katakan keluar sekarang!" bentak Johan geram. Dia benci kalau harus di bantah.
Kata-kata Johan mungkin menyakiti pendeta itu. Sehingga dia pergi tanpa berpamitan pada mereka yang ada di dalam aula.
"Kenapa harus batal. Bahkan pernikahan ini sudah hampir selesai," kata Johan seraya menyungging licik. Johan takut tadi pendeta itu menggangu, itulah sebabnya dia mengusir pendeta. Johan tidak mau ada orang lain masuk dalam alur ini.
"Ckckck," Steve menggeleng hebat. Johan seperti pria gila, karena mengklaim wanita miliknya. "Kata siapa pernikahan ini hampir selesai," ucap Steve mengadu. Di liriknya Johan dengan tatapan sinis, sesaat kemudian Steve membalas Johan dengan senyum melicik pula.
"Apa maksud mu?" tanya Johan. "Kau datang mengganggu upacara pernikahan ku. Apa yang kau inginkan sekarang."
"Kembalikan gadis ku," balas Steve cepat. "Pernikahan ini tidak akan terjadi. Karena kau menikahi wanita ku."
Saat Steve dengan santainya berkata sok berkuasa di hadapan Johan. Alih-alih takut, justru Johan mendengus, kadang kala menyungging tersenyum melicik hingga berkali-kali.
"Kau pikir sedang bernegosiasi dengan ku kah?" katanya memancing emosi Steve. "Kau pikir, pernikahan ku dengan Dinda ini di dasari paksaan semata. Itukah yabg sedang ingin kau interupsi pada ku?"
Tidak mengerti apa yang di katakan Johan, Steve mengerutkan keningnya. Walau Steve tahu Johan sedang mencoba memanipulasi keadaan, namun Steve masih bersikap santai padanya.
"Tanya pada Dinda. Apakah aku memaksanya untuk menikah dengan ku?" perintah Johan pada Steve.
Dengan senang hati Steve ingin melakukannya. Melalui lirikannya yang tajam, Steve menatap Dinda yang tengah bersembunyi di balik punggung Johan.
Dinda melihat wajah garang itu sesekali. Tak lama, Dinda merunduk takut menatap matanya.
Dia benar-benar Steve. Dia kembali. Dia di hadapan ku. Tapi kenapa dia bisa sampai di sini. Apa yang harus aku katakan padanya.
"Dinda, katakan sebenarnya. Apakah Johan memaksa kamu untuk menikah dengannya?" Sahut Zico.
Karena Steve tidak perlu berkata, menanyai kebenaran ini pada Dinda. Jadilah Zico yang bertindak. Sebab Steve tahu, kalau Dinda pasti tidak mungkin melakukan hal ini.
"Aku...... Aku....." Jujur, bagi Dinda saat itu. Berkata sangat berat untuk di ucapkan. Apalagi Steve ada di hadapannya, bahkan Dinda bingung harus seperti apa menjelaskan semua ini padanya.
Uang itu. Balas Budi. Aku bingung harus bagaimana sekarang.
Jika Dinda bisa mengakui semua kejadian ini. Bisa saja Steve akan berusaha menyelamatkan Dinda dari cengkraman Steve. Tapi masalahnya saat ini sudah berbeda. Johan mengancamnya. Itulah yang membuat Dinda takut mengakui semua ini.
Sebelumnya, Johan sempat berkata dengan ancaman pada Dinda. Beberapa saat yang lalu, sebelum Dinda masuk di altar ini, Johan tadi berkata kalau Dinda harus melupakan Steve.
Saat ini Dinda harus tunduk padanya. Atau Dinda merasa bersalah kalau melanggar permintaan Johan tadi.
"Dinda, ayo katakan. Apakah aku memaksa kamu tadi untuk menikah dengan ku." Melihat Dinda yang tak bisa berkata apapun akibat rencana Johan sebelumnya. Pria ini merasa kata-kata yang di ucapkan sebelumnya berhasil menekan Dinda masuk dalam rencana liarnya itu.
Pikiran Dinda masih terpaku di ucapan Johan sebelumnya. Saat mereka berjalan menuju ke gazebo, Johan membisik di telinga Dinda.
Johan tahu kalau Steve akan tiba di acara pernikahan mereka. Oleh karena itu Johan menyiapkan rencana jebakan tanpa opsi ini. Johan sengaja membuat jebakan ini, agar Dinda tidak bisa memilih.
"Di aula pernikahan sudah aku pasangkan cairan berisi gas beracun. Jika ada yang menggangu pernikahan kita, atau Steve datang mengacau. Aku harap kamu tetap pada keputusan pernikahan ini. Jika kamu melanggarnya, maka aku pastikan kamu, aku, dan semua yang ada di dalam aula meninggal bersama-sama. Tak lupa, kedua adik kamu, juga Ibu akan bersama-sama mendapatkan balasan atas semua ini. Apa kamu mengerti."
Saat Johan mengatakan hal ini, Dinda langsung paham. Sebenarnya Steve sudah pulih. Jadi, Dinda mengangguk saja tadi. Walau Johan sekilas menyinggung nama Steve, Dinda yakin, kalau pria itu akan datang padanya.
Tetapi tetap saja. Ancaman itu membuat Dinda takut—kalau mereka akan celaka. Ah, Dinda bingung harus bagaimana sekarang.
"Dinda, ayo katakan. Apakah aku memaksa kamu menikah dengan ku?" ucap Johan lagi pada Dinda yang masih tertegun.
"A—aku......"
BERSAMBUNG
__ADS_1
Author selalu mengingatkan teman-teman agar selalu menjaga kesehatan. Semoga kita bebas dari penyebaran covid-19. Amin.