
Selang tiga puluh menit. Akhirnya, rapat penting yang di lakukan tadi selesai sudah.
Kesepakatan kerja sama sudah di lakukan penandatanganan MOU di kedua belah pihak antar perusahaan beda negara itu.
Steve mengajak Dinda merapatkan hasil diskusi diruangan kantornya. Ruangan yang luas. Bahkan jauh lebih luas dari kantor bobrok dimana tempat Dinda bekerja.
Lelah bagi Dinda selama tiga puluh menit harus menopang berat tubuhnya dan bertumpu pada kedua kaki.
Steve duduk di kursi kerjanya yang memiliki roda di bagian kaki, meskipun kecil tapi roda itu cukup asik untuk diputar dan di mainkan saat suntuk.
Suasana meskipun sedang hujan, ditambah ruangan kantor Steve di pasang pendingin ruangan ganda, tetap saja membuat tubuh Steve gerah. Sehingga memaksa Steve menarik kerah bajunya lalu melepaskan dasi hitamnya.
Tak lupa, kedua kaki jenjangnya itu ia naikan di atas meja. Cukup tahu saja bagi Dinda bahwa itulah dia, selalu melakukan seenaknya saja. Pria yang sok sempurna bahkan terlalu percaya diri mengatakan bahwa dirinya paling tampan. Ingin rasanya bagi Dinda menendang pria yang ada dihadapannya itu dari lantai atas gedung yang tinggi ini, dan berharap tak akan bertemu dengannya lagi hingga di kehidupan selanjutnya. Namun itu hanya keinginan yang tak akan pernah terwujud karena dalam hati Dinda masih tersimpan rasa iba dan tak tega. Wajah sinisnya menunjukan bahwa ia sebegitunya tak menyukai tingkah Steve yang keterlaluan.
"Apa yang kamu tuliskan tadi, cepat katakan!" seru Steve memulai bicara dengan anda santai.
Dinda yang berdiri di jarak satu meter dari meja Steve, merapatkan diri dengan laporan hasil rapat tadi.
"Hasil rapat tadi, penjualan perusahaan meningkat drastis setiap bulannya. Dan saran dari beberapa vendor agar pak Steve mengambil langkah promosi publik. Seperti yang kita ketahui bahwa tanpa iklan pun produk belagio milik perusahaan wong tetap terjual dengan laris. Namun dengan adanya promosi publik, setidaknya bisa menambah daya pikat dan bisa membuat kalangan milenial makin mencintai produk dalam negeri.
Jadi saran yang di ajukan oleh beberapa vendor sekaligus penyalur produk dari luar negeri agar memakai jasa seorang model asli Indonesia adalah sebuah langkah awal pengenalan produk. Karena sesuai dengan identitas produk yang di buat di Indonesia maka penggunaan model asli dalam negeri menambah daya saing produk belagio.
Dan dari hasil penjualan BELAGIO COLLECTION, setidaknya sudah menyumbangkan pendapatan negara sebanyak 5% dari hasil ekspor. Dengan kata lain grup wong adalah perusahaan yang sangat membantu menaikkan nilai ekspor pemerintah."
"Lalu? Bagaimana seharusnya menurut mu?" tanya Steve ingin tahu kelanjutannya.
"Menurut ku, bapak seharusnya mengadakan promosi untuk memikat hati pelanggan agar penjualan produk fashion makin meningkat. Ditambah, semua produk belagio caolection satu-satunya perusahaan yang bergerak di bidang garment dengan kualitas terbaik. Seharusnya dengan adanya promosi publik ini, maka penjualan akan meningkat." dengan kemampuannya dalam berbicara, Dinda mencoba meyakinkan Steve. Steve memperhatikan setiap detail bibir wanita itu bicara dan telinganya amat peka menanggapi saran dan kritik itu.
"Dan menurut data statistik kependudukan, kebanyakan dari penduduk di Indonesia sedang dalam masa produktifitas dalam kata lain, sebagian besar masyarakat Indonesia di huni oleh kaum milenial. Dengan merekrut model muda, mungkin bisa membuat identitas belagio makin di kenal publik.
Dan juga sesuai dengan model produk belagio, target penjualan memang tertuju pada remaja belasan tahun hingga mahasiswa dan anak-anak selebgram serta kalangan selebriti. Jadi bukankah dengan adanya iklan ini sangat menguntungkan perusahaan.
Dan menurut laporan penjualan terakhir, pangsa pasar di Tiongkok sangat memuaskan karena kebanyakan dari kaum muda disana sangat menyukai desainnya yang trendi. Diikuti oleh remaja di Jepang, Korea dan Hongkong dimana produk ini sangat di minati." Ujar Dinda melanjutkan bicaranya.
Steve melihat wajah serius Dinda dengan mata piciknya. Kedua tangannya menyandar di dagu seraya melihat kemampuan personal Dinda yang me-mumpuni. Pikir Steve Dinda tak hanya mahir dalam mengelola keuangan, namun ia juga mahir dalam ide marketing dan ahli dalam berbicara. "Sungguh mengesankan," pikir Steve dengan bangga.
"Baiklah. Bukan Ide yang buruk, aku menyukai saran mu!" Seru Steve setuju.
__ADS_1
Melalui interkom dan jaringan LAN di kantornya ia menghubungi bagian pemasaran dan tak sabar menantikan kabar baik ini. Di atas meja kerjanya ia mengambil telepon kantor dan mulutnya mulai berbicara khas dirinya yang tegas.
"Segera siapkan pengumuman perekrutan model untuk peluncuran iklan. Aku mau kalian memilih model yang masih muda berusia belasan tahun atau setidaknya bocah pelajar. Aku ingin perekrutan model ini dalam dua hari selesai," tukas Steve seraya mematikan telepon. Seperti biasanya Steve paling anti jika dirinya mendengar saran dan kritik orang lain, apalagi berbasa-basi tak jelas.
Steve bisa menebak jika bagian pemasaran akan bertanya-tanya mengenai hal ini yang secara tiba-tiba tanpa ada diskusi terlebih dahulu, mengingat perusahaan ini tak pernah melakukan syuting iklan atau sebagainya.
"Selesai bukan? apakah kamu suka dengan cara ku yang menyetujui saran mu tanpa berpikir ulang?" tanya Steve menggoda.
"Tentu saja aku akan menyukai apa yang bapak suka," balas Dinda dengan wajah tersenyum paksa.
"Tapi, mengapa bapak tak memikirkan hal ini terlebih dahulu dan langsung menyetujuinya. Apa bapak tidak takut jika ini akan merugikan pengeluaran perusahaan?" Dinda bertanya sedikit ragu.
Namun Steve dengan bangga tertawa puas entah apa yang membuatnya tertawa dengan penuh kemenangan.
"Tentu saja aku tidak akan mengalami kerugian, selama ada kamu yang membantu ku!" ucap Steve dengan ekspresi wajah menggoda licik.
"Pria ini selalu saja memasang ekspresi wajah yang menyebalkan." Tukas Dinda kesal dalam hati.
"Kalau begitu mari kita cari makan," Steve beranjak dari kursinya lalu mendekati Dinda. Tangan nakalnya kembali membelai dagu Dinda seraya menatap wajah dengan rayuan.
"Aku tahu pasti kamu sudah lapar. Benar bukan apa yang aku katakan?" lirih Steve dengan gaya bicara penuh gombalan.
"Sebenarnya aku tidak lapar pak. Jika bapak berkenan bapak bisa makan sendiri tanpa aku. Aku hanya karyawan biasa dan tak pantas mendampingi bos besar seperti bapak makan." Ujar Dinda menolak dengan halus. Dirinya merendah seakan dia adalah wanita paling anggun.
Senyum pahit Steve menggeliat di wajah, saat itu ia tahu jika Dinda tak mau mendekatinya karena takut pada rumor yang beredar, sehingga membuatnya akan di kucilkan oleh karyawan lain. Steve telah memikirkan hal ini sejak tadi, sehingga ia sudah menyiapkan rencana yang tak akan Dinda duga. Ini adalah kesempatan bagi Steve untuk membuat semua orang tahu bahwa dirinya kini tengah memiliki gadis kecil yang licik di sisinya.
"Ide yang bagus," ucap Steve dalam hati. Wajahnya berseri-seri kala mendapati ide yang sangat menarik. Steve tak memikirkan hal lain. Ia hanya menarik berkas yang ada di tangan Dinda lalu membuang berkas itu dengan gaya kepuasan di pojok ruangan.
Wajahnya memberikan pesona yang tak akan dinda pikirkan sebelumnya.
Steve tanpa canggung menarik tangan Dinda dan membawanya keluar dari ruangan.
"Pak! apa yang anda lakukan." Pekik Dinda memberontak.
Namun Steve tak menggubris ucapan Dinda.
Ia hanya melakukan apa yang ia anggap benar dan tak mau mendengarkan bantahan siapa pun itu. Baginya dirinyalah yang paling benar diantara orang-orang yang benar.
__ADS_1
Suasana kantor tidak sepi karena bukan jam kerja, tetapi sedang dalam jam makan dan istirahat.
Semua karyawan baik pria maupun wanita, tua maupun muda semuanya menyaksikan pegangan tangan yang dilakukan Steve.
Mereka menyaksikan bos galaknya itu sedang dalam masa kasmaran karena telah menemukan wanitanya.
Para karyawan di buat suka cita menyaksikan pemandangan indah siang itu.
"Kurang ajar! semua orang melihat ku sekarang. Pasti mereka berpikiran bahwa aku ada apanya dengan pak Steve. Pasti mereka akan menyebarkan rumor-rumor aneh sekarang. Oh tuhan aku sedang dalam masalah," gumam Dinda dalam hati.
Kali ini ia tak bisa membantah maupun memberontak di depan muka umum. Jika tidak itu akan mempermalukan dirinya sendiri. Dirinya sungguh dilema saat itu.
"Pak Steve. Bisakah anda melepaskan pegangan tangan anda," sela Dinda tak nyaman berbisik kecil.
Mendengar keluhan Dinda yang tak nyaman membuat Steve menghentikan langkahnya Sejenak tepat di lobby perusahaan dimana para karyawannya berlalu lalang keluar masuk kantor dan dapat menyaksikan tingkahnya.
"Apa kamu merasa malu hanya berpegangan tangan dengan bos mu yang tampan ini?" tanya Steve percaya diri.
"Pria ini. Apa yang sedang dia pikirkan. Bahkan aku sendiri tak menyukai tingkah pria ini, tapi mengapa dia selalu membuat aku merasa tak nyaman dan canggung atas tingkahnya. Pria pengidap sakit jiwa," sekali lagi Dinda mengumpat steve.
"Pasti wanita ini sedang mengumpat ku dari dalam lubuk hatinya." Tebak Steve melihat ekspresi wajah Dinda, namun Steve tak peduli akan hal itu.
Steve tak mau melepaskan pegangan tangan itu, malah sebaliknya dia merasa pegangannya harus lebih kuat lagi agar semua orang melihat ikatan ini.
Ia tak peduli pada ucapan dinda, baginya berontak yang ia lakukan adalah awal dari kebiasaan yang harus ia hadapi saat bersama dengan dirinya kemana pun mereka pergi.
"Aku tak akan melepaskannya. Apakah kamu keberatan?" tanya Steve seakan tak peduli pada perasaan orang-orang yang melihatnya. Ia melakukan hal itu semaunya saja.
Dinda tak lagi membantah, karena hal itu akan membuat dirinya makin di persulit oleh Steve yang gusar setiap saat.
Kali ini Dinda hanya akan menuruti semua kemauan steve apa pun itu selagi bisa memuaskan pria tak peka pada lingkungan ini.
Karena Dinda sudah tak lagi memiliki keberanian untuk melawan, maka Steve dengan senang membawa wanita itu pergi keluar kantor demi mendapatkan sepiring makanan walau rintik hujan melanda.
BERSAMBUNG
Kali ini hanya satu bab, karena ada gangguan teknis pada sistem.
__ADS_1
Terima kasih atas pengertiannya.