UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 95


__ADS_3

Miko bersama ke-empat temannya melalui pelataran trotoar jalan di sekitar jalan Thamrin.


Miko mengenakan pakaian kasual celana pendek dan membawa bola basket berwarna biru.


Tidak sengaja, Miko melihat Johan keluar dari hotel tepat berada di depannya. Dia berjalan agak sempoyongan, tertatih-tatih menyeimbangkan badannya.


Johan, gumam Miko. Kenapa dia ada di sini?


Miko penasaran, setelah beberapa Minggu tidak bertemu dengan pria itu, dia terlihat seperti pria gembel. Pakaiannya urak-urakan. Dia agak lusuh, tampilannya saat itu tak seperti biasanya yang terlihat rapi dan segar.


Salah satu teman Miko yang asik berbicara sambil berjalan, tidak sengaja menabrak bahu Johan hingga Johan sedikit terdorong.


"Maaf kak, aku tidak melihat," ujar teman Miko mengakui kesalahannya.


Namun Johan tidak terima, dia justru marah karena merasa seperti di lecehkan. "Kalau punya mata itu di pakai untuk melihat, punya mata-kan!" bentak Johan. "Apa perlu aku pinjamkan mata biar bisa melihat!" katanya emosi.


"Aku sudah meminta maaf, tolong kakak jangan mencari masalah," jawab teman Miko.


"Apa kamu bilang?" Johan meninggikan suaranya. "Jangan cari masalah? Apa nggak salah kamu bicara pada ku?" Kata Johan menantang.


Johan mendorong sahabat Miko hingga terjatuh di trotoar bahkan membuat siku tangannya terluka. "Semudah itu kamu berkata, memangnya siapa kamu?"


Anak ini merasa tidak terima di perlakukan kasar oleh Johan. Dia bangkit, tanpa pikir dua kali, dia langsung memukul wajah Johan.


"B*rengse** kau!" teriaknya sangat emosi. "Kamu pikir kamu siapa beraninya mendorong ku seperti itu."


Dandi memukul dan membenturkan kepala Johan di aspal jalan, berulang kali dia melakukannya.


Johan dan sahabat Miko bernama Dandi ini berkelahi, sementara ketiga temannya melerai tapi mereka tak mampu membendung pertikaian hebat keduanya.


Suara pukulan keras Dandi melucuti wajah mulus Johan hingga memar membiru. Dia tidak mengampuni Johan, sedikit pun.


"Ck," Miko men-decak melihat pertikaian mereka. Dengan sigap Miko melerai Dandi yang tengah menindih Johan dan memukul wajahnya hingga babak belur. Dia tidak tega melihat Johan yang lemah harus kalah melawan remaja belia.


"Dan..... Dan, sudah Dan," ujar Miko menarik pundak temannya dengan paksa. "Mungkin dia mabuk, kamu jangan terpancing olehnya."


"Tapi dia duluan yang mulai, Ko," Dandi meninggikan nada bicaranya. "Aku sudah meminta maaf padanya tadi. Tapi dia justru mendorong ku!" Dandi mengadu.


"Iya, iya, aku tahu kalau dia yang memulai," jawab Miko. "Cuma kamu lihat keadaannya, dia sepertinya mabuk. Jangan mudah terpancing karena dia yang memulai berkelahi. Tenangkan diri kamu," sentak Miko padanya.


Dandi mendengus, dia sebal karena Miko melerainya. "Kali ini kamu bebas, lain kali kalau berulah, aku akan menghajar kamu lebih dari ini," Dandi mengancam Johan yang tergeletak di trotoar.


Pria itu menahan rasa sakit di wajahnya bahkan darah keluar dari mulutnya.


"Tolong maafkan teman ku, kak Johan," Miko mengalah. Dia bicara, walau sebenarnya dia malas berhubungan dengan Johan. "Mohon kejadian hari ini di lupakan dan anggap saja tidak pernah terjadi apapun," kata Miko sambil mengulurkan tangannya.


Dia ingin membantu Johan berdiri, tapi Johan menampik uluran tangan Miko. "Nggak usah sok peduli," ucap Johan ketus. Dia memegang pipinya lalu berdiri terhuyung-huyung, menyeimbangkan badannya agar tidak sempoyongan.


Johan tidak berkata apa-apa lagi setelah berkata beberapa patah kata pada Miko. Dia lebih memilih pergi, berjalan tertatih-tatih, menyusuri bahu jalan.


"Ck," Miko kembali men-decak melihat Johan yang malang pagi ini. "Dia memang seperti itu, jangan terlalu di hiraukan," Miko beralih bicara, meminta semua teman-temannya melupakan kejadian barusan.


"Memangnya kamu kenal dengan dia?" tanya Dandi sambil berjalan.


"Nggak terlalu kenal," jawab Miko. "Hanya kebetulan saja mengenal dia, tapi tidak terlalu dekat," Miko berkata, sambil memantul-mantulkan bola basketnya di trotoar jalan. "Dia memang kadang seperti itu, walau terlihat normal."


"Dia pria sakit jiwa sepertinya," sahut teman Miko yang lainnya. "Masa sudah minta maaf, tapi dia masih berulah ngajak ribut, apa mungkin dia sakit jiwa."


"Mungkin?" Miko merespon, dia memelet-kan bibirnya keluar. "Bisa saja dia memang sakit jiwa, atau kemungkinan dia adalah salah satu pasien rumah sakit jiwa sumber waras?" Miko menebak asal-asalan.


"Wah pantas saja dia seperti itu, otaknya nggak waras rupanya," timpal teman Miko yang lainnya.


"Memangnya kalian nggak mencium bau alkohol tadi di bajunya?" Dandi menambahkan. "Dia minum alkohol jenis amber kualitas premium. Cuma lupa nama alkoholnya, yang jelas dia pasti mabuk berat semalam," tebak Dandi.


Miko tidak begitu peduli. "Mau dia mabuk atau tidak, kenapa kita harus membahasnya?" ucap Miko apatis. "Lagu pula itu urusannya dia mabuk atau tidak," Miko berkata sembari fokus men-drible bola basketnya.


"Iya tuh, bener kata Miko," sahut yang lainnya. "Ngapain juga bahas orang gila seperti itu. Nggak penting dan buang-buang waktu saja," katanya sependapat dengan pemikiran Miko.

__ADS_1


Teman-teman Miko sependapat, mereka tidak membahas kejadian ini lagi. Yang terjadi tadi sudah mereka lupakan.


>>>>


Steve membawa Dinda ke rumahnya, tidak tahu kenapa, tepat di depan pintu rumah Steve, Dinda berpapasan dengan Stevie yang memapah wanita tua beruban putih dengan rambut pendek seleher.


Wanita yang terlihat tua tapi nampak agak awet muda. Mungkin dia rajin merawat diri sedari muda. Pikir Dinda demikian.


Stevie dan wanita tua berhenti sebentar saat Steve membawa Dinda kerumahnya. "Hei Dinda," sapanya ramah.


"Kak Stevie mau kemana, cantik sekali pagi ini," Dinda membalasnya tersenyum.


"Aku mau mengantar nenek ke rumah sakit chek kesehatan sekalian chek jantung," jawab Stevie. "Karena Paman Lu cuti hari ini, kalian jaga rumah ya," ucapnya menyuruh.


"Sejak kapan dia pergi?" Steve menyambar bertanya. "Bukankah sebelum aku pergi tadi dia masih di rumah?"


"Baru saja," kata Stevie. "Mungkin lima belas atau dua puluh menit yang lalu," Stevie melirik jam tangannya, dia berkata menebak. "Bisa jadi dia sekarang masih di jalan."


"Ooo," Steve menganggukkan kepalanya. "Aku baru saja mau mengenalkan Dinda pada nenek, tapi kalian sudah mau berangkat," Steve pura-pura sayu.


Stevie memukul kepala Steve agak keras, lalu menghardiknya. "Kamu bilang saja kalau kamu bersyukur karena di rumah berdua dengan Dinda. Nggak usah sok jual mahal," Stevie tahu jalan pikiran adiknya itu.


Steve membesarkan mata sambil memanyunkan bibirnya. Dia sebal pada wanita kasar ini karena memperlakukannya tidak baik di hadapan Dinda.


"Sudah! Sudah," nenek menengahi. "Steve, nenek kerumah sakit dulu. Jangan berulah," nenek berkata seakan dia sedang menasehati Steve kecil.


Steve mengorek telinganya, bosan mendengar ocehen wanita tua ini yang selalu memperlakukannya seperti anak kecil yang suka memecahkan vas bunganya. Terkadang Steve kesal pada sang nenek karena memperlakukannya seperti bocah umur enam tahunan yang nakal dan selalu menasehatinya. Dia tidak suka pada neneknya yang tidak bisa membedakan Steve kecil dan Steve dewasa.


"Benar kata Stevie, kalau pacar cucu nenek, si Hassan ternyata cantik," nenek memuji Dinda, dia memegang lembut tangan Dinda. "Siapa nama mu nak?" tanyanya.


"Dia Dinda nek," sahut Steve. "Dia kekasih ku, nenek jangan coba-coba menganggapnya sebagai tamu. Dia kekasih ku, nenek harus mengingatnya!" tegas Steve mengingatkan nenek yang sering di anggapnya pikun.


Nenek menggeleng. "Dari kecil hingga besar, kamu memang tidak ada berubahnya."


"Karena nenek selalu memperlakukan aku seperti anak kecil," jawab Steve. "Lagi pula, aku tidak suka jika nenek memanggil ku HASSANUDIN. Aku punya nama China ku sendiri. Steve Wang Lei wong. Ingat, itu nama ku, bukan Hassan. Aku benci nama itu," gerutunya sewot.


"Nama mu sangat sulit, lidah nenek terasa patah saat mengejanya," ucap nenek. "Sudah bagus nenek memanggil kamu Hassan, karena nenek teringat pada kakek mu," katanya mengakui. "Atau kamu mau nenek memanggil kamu dengan sebutan Udin?"


"Mana mungkin cucu tampan nenek di samakan dengan Udin si tukang kebun itu," nenek berkata. "Nenek hanya bisa memanggil nama Indonesia mu saja. Nama asing mu terlalu sulit di ucapkan untuk nenek yang lahir di jaman pra-modern ini."


"Tadi nenek bisa mengucapkan nama Steve. Bahkan nenek bisa memanggil nama kak Stevie dengan lancar. Kenapa menyebutkan nama ku begitu sulit bagi nenek, apakah aku bukan cucu kandung nenek. Nenek pilih kasih," kata Steve merajuk sebal. "Bukankah nama ku dan nama kak Stevie tidak jauh berbeda," tambah Steve kesal pada sang nenek.


"Kamu marah pun tidak akan merubah keadaan bahwa nenek memang tidak bisa menyebut nama cucu nenek secara gamblang," nenek mengakui. "Kamu harus bersyukur nenek memanggil kamu dengan sebutan Hassan. Nama itu memilki makna bagi nenek," wanita tua ini memberitahu, sembari mengenang.


Stevi terkekeh mendengar pengakuan sang nenek. "Terimalah kenyataan jika nama HASSANUDIN sangat kuno. Kalau aku menjadi Steve, mungkin aku sudah bunuh diri karena di panggil dengan sebutan jelek seperti itu," Stevie meledek, dia merasa puas dengan hiburan dari sang nenek dan Steve pagi itu.


Nenek memukul bokong Stevie. "Jangan buat adik ku marah," peringatnya. "Nanti dia berulah."


"Ya sudah-lah Nek," Stevie mengakhiri cerita. "Ayo berangkat ke rumah sakit sekarang. Nanti dokter prakteknya keburu pulang."


Mereka meninggalkan Steve dan Dinda berdua saja di depan rumah. Steve memanfaatkan kesempatan ini, dia memeluk Dinda dari belakang dengan dalih melihat sang nenek yang sudah renta menaiki mobil hitam Stevie.


"Kamu lihat, nenek ingin sekali berkenalan dengan kamu, tapi dia tidak ada waktu," di pundak Dinda, Steve berkata di daun telinganya.


Dinda merasa geli, pria ini selalu mengerat seperti gurita. "Apakah sudah menjadi kebiasaan kamu selalu menempel di tubuh ku," hardik Dinda. "Kamu selalu membuat aku geli setiap kali kamu bicara di telinga ku," Dinda mulai mengeluh.


Dengan santai Steve hanya berkata sekenanya. "Karena wangi tubuh kamu, siapa yang berani menolaknya."


"Kalau kamu terus bersikap begitu, akan aku laporkan kamu pada kak Stevie?" Ancam Dinda, lalu membalikkan badannya, melepaskan pelukan Steve dari punggungnya. "Kamu harus ingat, kak Stevie saat ini adalah pelindung ku."


Steve mendengus, dia tertawa kecil nan picik. "Kamu pikir dia akan membantu kamu kalau aku si tampan nan mempesona ini membuat gadisnya menderita," kata Steve narsis. Steve merunduk, menatap wajah Dinda. "Kamu dengar ya, Stevie tidak akan ikut campur jika aku menyiksa gadis kecil ku," Steve menyentil pelan hidung Dinda.


Dinda menyilangkan tangan di dada, dia sebal, Steve selalu saja tidak pernah mau mendengarkan perkataannya.


"Dari pada gadis ku marah-marah nggak jelas, sebaiknya kamu temani aku berenang," Steve mengalah. Dia mendorong punggung Dinda, menggiringnya masuk kedalam rumah.


"Jadi kamu mengajak ku karena mau di temani berenang," Dinda menoleh sekilas melihat Steve yang berulah padanya. Di ruang utama rumah Steve, Dinda berhenti. Dia tidak mau melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Steve memutarkan tubuh Dinda, wanita ini pikirnya makin cerewet. "Sebenarnya semalam nenek bertanya tentang kamu. Dia juga ingin bertemu kamu, makanya aku membawa kamu ke rumahku pagi ini," Steve menjelaskan. "Berhubung nenek dan kak Stevie sedang ke rumah sakit, ada baiknya kalau kamu menemani ku berenang."


"Kenapa aku harus menemani kamu berenang," respon Dinda. "Aku nggak mau menemani pria yang suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan."


Dinda memalingkan wajahnya, dia sebal karena Steve membual dan selalu membohonginya.


"Kamu marah?" tanya Steve.


"Nggak!"


"Kamu pasti marah-kan karena aku selalu menipu kamu," Steve memahami. "Ayo katakan, apa kamu marah pada pacar kamu yang suka menipu seperti aku!" Steve menebarkan pesonanya pada Dinda melalui mulut seksinya itu.


"Iya aku marah," Dinda mengakui. "Kamu selalu berbohong. Di Shanghai saat itu kamu menipu ku, katanya ada perjalan bisnis. Tapi nyatanya, kamu justru ingin memamerkan kepada ku kalau kamu akan menikahi wanita lain. Huh, aku sebal."


"Silahkan kamu marah pada ku," Steve tidak peduli. "Aku tidak akan mendengarkan keluhan kamu, sedikitpun," Steve membelakangi Dinda, lalu terkekeh. "Kamu pikir aku akan memperhatikan keluhan kamu?" Kata Steve membalikan badan, merunduk sebatas kepala Dinda dan mencubit pipinya lembut.


"Memangnya kamu berani marah pada ku?" tanya Steve memastikan Dinda bahwa wanita ini hanya sesumbar. "Ayo, katakan. Apa kamu berani marah pada pria tertampan sedunia ini. Atau kamu mencoba menggertak ku agar kamu meminta sesuatu dari ku," goda Steve dengan rayuan pamungkasnya.


Dinda tidak bisa menolak marah, walau mulutnya berkata sebal, tapi hatinya berlawanan. Dinda menggigit bibirnya, dia takut Steve akan berulah.


"Iya! Iya, aku nggak jadi marah," Dinda kembali mengalah, untuk kesekian kalinya. "Kamu benar, aku tidak akan pernah bisa marah pada pria yang selalu mengancam ku."


"Tapi kamu menyukainya-kan?" Steve memainkan alisnya. "Kamu suka pada ancaman ku yang menggoda ini."


Dinda mendercit, memanyunkan bibirnya. "Iya, aku suka ancama Tuan," celetuknya mengiyakan kata Steve.


Steve tertawa puas, dia berpikir tidak ada satu wanita manapun di muka bumi ini yang mampu menahan pesona dan godaannya.


Melihat wajah Dinda yang menggemaskan, Steve terpaksa tidak bisa menahan diri untuk tidak melakukan tingkah jahilnya.


Dia dengan cepat menggendong paksa Dinda, membawanya menuju ke kolam renang.


"Ih, kamu kenapa berulah lagi sih," gerutu Dinda memberontak. "Cepat turunkan aku."


"Hei, dengar. Tidak akan ada yang bisa membantu kamu saat ini," kata Steve lembut. "Kamu seharusnya menurut saja apa yang aku lakukan. Atau kamu tidak akan lolos dari cengkraman ku."


Di dekat kolam Steve iseng ingin menjatuhkan Dinda ke kolam. Dia ingin menguji seperti apa Dinda saat berenang bersamanya.


Tetapi bukan kesenangan yang Steve dapatkan, justru Dinda memberontak kasar dan berteriak. Dia tidak mau masuk kolam, bahkan Dinda mencengkeram erat baju Steve, dia tidak mau menyentuh air.


"Kenapa? Kamu takut?" Steve membisik. Dia tidak tega menjatuhkan Dinda ke kolam. Wanita ini memejamkan matanya, seolah dia phobia pada air.


"Aku tidak bisa berenang," balas Dinda.


Mendengar jawabannya, Steve teringat pada masa kecil mereka. Dinda memang tidak bisa berenang walau dia menyukai pantai.


"Maafkan aku," Steve menghentikan tingkah konyolnya. "Aku hampir lupa kalau kamu tidak bisa berenang."


Steve menurunkan Dinda dari gendongannya.


Di pinggir kolam, dia mendudukan Dinda di kursi dengan aman dan selamat.


"Jika kamu tidak mau berenang bersama ku, maka kamu lihat saja aku berenang. Aku melakukannya untuk kamu."


Steve membuka bajunya, pemandangan indah Dinda rasakan. Perut kerasnya yang menggoda membuat Dinda menahan diri untuk tidak melihatnya. Dia menutup matanya, malu bagi Dinda jika ketahuan mendebar saat melihat tubuh Steve yang indah.


"Kamu sudah menyentuhnya berkali-kali juga sudah melihatnya hingga puas. Kenapa kamu menutup wajah begitu," hardik Steve. Dia ingin tertawa pada tingkah polos Dinda.


Steve membuka mata Dinda. "Bukankah kamu juga pemilik tubuh indah ini," ucap Steve mengingatkan. Dia memamerkan bentuk tubuhnya yang kekar pada Dinda.


"Aku nggak bisa melihatnya," tolak Dinda. "Aku takut akan mimisan jika melihat tubuh kamu," Dinda bersikap naif walau sejujurnya dia ingin melihatnya.


"Cih," Steve menyeringai tertawa puas. "Nanti kamu juga akan terbiasa dengan pemandangan seperti ini. Aku jamin, kamu tidak akan bosan melihatnya," Steve mencubit pipi Dinda pelan. Lalu dia masuk kedalam kolam, puas baginya menggoda Dinda yang polos dan lugu.


Dinda termangu, Steve penuh daya pesona. Di dalam kolam renang, Dinda melihat Steve sangat seksi.


Dan selama ini Dinda tidak menyadari jika Steve memiliki tato di belakang punggungnya.

__ADS_1


Dan ada sedikit guratan bekas luka memenuhi punggung.


BERSAMBUNG


__ADS_2