
Steve yang sudah terduduk manis di kursi kerjanya, menatap baik-baik laporan keuangan yang kemarin diberikan secara langsung oleh wanita jeleknya itu.
Ia melihat dengan seksama laporan demi laporan di atas meja itu dengan teliti.
Ekspresi wajahnya amat serius menatap kertas putih bertuliskan angka yang memenuhi kertas-kertas A4 itu. Bahkan dia tidak mengubah sedikitpun ekspresi wajah pada kertas dihadapannya.
Wajahnya yang tidak pernah tersenyum itu, kini untuk kesekian kalinya menunjukan ekspresi bahagia saat segala sesuatu berhubungan dengan Dinda.
“Wanita ini sungguh kompeten dan bertalenta. Bahkan laporan yang dia buat amat sistematis, mudah dipahami dan juga alurnya dalam menulisan begitu rapi. Tidak sia-sia dia bekerja di perusahaan kecil ini.”
Apakah Steve sedang memujinya? Tentu saja. Tapi dia sendiri yang tahu. Orang lain tidak perlu tahu, kalau dia sudah menggilai Dinda sekarang.
“Aku penasaran, berapa IQ yang dia miliki sehingga amat pandai menyusun keuangan perusahaan dengan teliti begini!”
Steve sedikit menaikan salah satu sudut alisnya. Ucapannya barusan, rupanya di dengar oleh Zico. Pemuda itu menyahut dari pintu ruangan Steve.
“Aku bertaruh dia sepintar Albert Einstein!”
Tiba-tiba masuk ke ruangan Steve, entah kapan dia ada di situ. Menenteng sebuah berkas berwarna merah darah. File jenis folding.
“Apakah kamu tidak ada sopan santun sebelum masuk ke ruanganku?” tuntut Steve kesal.
Zico tersenyum bahagia memergoki Steve yang sedang membayangkan wajah cantik karyawannya. Dia sudah menduganya bahwa ada sesuatu dari Steve terhadap Dinda.
“Kisah yang menarik!” ucap Zico pelan. Sebelum dia berani mengajukan ucapan santai pada karibnya itu. “Mengapa kamu selalu menatapku dengan bad image setiap aku datang keruanganmu? Begitu mengganggukah aku di matamu!”
Steve ingin sekali marah pada Zico. Tapi, entah kenapa, malah tidak bisa. Steve justru menahannya amarah.
“Ada apa kamu datang kemari?” tanya Steve tidak senang.
Zico sangat menikmati wajah Tuan pemarah itu. Bahkan dia sangat menyukai tingkah itu, tingkah kekanakan.
“Pfft!” Zico terkekeh melihat wajah Steve yang emosional pagi ini. Steve menatapnya dengan sorot mata tajam sebagai hadiah tak senang atas kehadirannya.
“Pagi-pagi kamu selalu marah padaku. Aku datang ke sini hanya untuk memberikan ini.”
“Apa ini!” tanya Steve spontan.
“Neraca. Tentu saja berkas perusahaan yang kamu perintahkan semalam,” balas Zico.
Steve tidak melanjutkan pertanyaan apapun lagi, karena ia langsung mengerti isi berkas itu. Berkas laporan keuangan dan pajak perusahaan.
“Bolehkah aku bertanya?” kata Zico, memberanikan diri.
__ADS_1
“Apa?”
“Kamu menyukai Dinda?”
Steve melirik Zico sinis. “Sejak kapan kamu mulai menyukai isi benakku? Aakah kau6 selama ini memperhatikan tingkahku?”
Ucapan itu sungguh menusuk hati Zico. Seakan Steve memojokkan Zico, bahwa dia adalah pria mesum yang menyukai seorang pria. Sangat menyakitkan mendengarnya, padahal Zico hanya bertanya. Lantaran dia penasaran.
Tak peduli apapun pada ucapan Steve, Zico masih bersikap biasa saja seakan dia tidak merasa sedang dalam ucapan berisi sindiran itu. Ucapan bagai panah itu amat menusuk jantung jika di telaah dengan benar.
“Hei bung sejak kapan kamu berpikir aku begitu. Aku masih normal untuk memikirkan hal-hal positif. lebih baik aku pergi dulu kalau begitu! aku masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.”
Zico meninggalkan ruangan pria arogan itu. Steve masih acuh dan cuek. Menghujat Zico, adalah keahlian Steve.
Steve tertawa kecil melihat tingkah zico yang ambigu. “Sebenarnya aku tidak berani memarahimu, tetapi sudah menjadi kebiasaanku untuk bersikap dingin. Ya setidaknya aku tidak mau orang lain mengakui bahwa aku kejam!”
Jam istirahat tiba. Entah kenapa, tiba-tiba saja Steve teringat nama gadis itu. Dirinya berniat mengerjai Dinda kembali dengan ulah konyolnya.
“Haruskah aku melakukannya?” kata Steve bimbang. Antara menjahilinya atau tidak. Dia sangat kekanakan kalau seperti ini. “Aku rasa sesekali melihatnya terpapar panas matahari bukanlah ide yang buruk. Ya aku harus melakukannya!”
Entah ide gila apa lagi yang diperbuat oleh Steve. Rasanya, hanya dia seorang yang tahu, apa yang akan terjadi pada Dinda.
Melalui interkom kantor, Steve menghubungi bagian keuangan, memerintahkan Dinda menghadap ke ruangannya sesegera mungkin.
Ia ingin melihat wajah gadis itu seperti apa di siang hari seperti ini. Terlebih sejak pagi dirinya belum melihat wajah jelek itu dihadapannya.
“Dinda, CEO menelpon agar kamu segera menghadap ke ruangannya sekarang!” ucap salah seorang staf bagian keuangan yang merupakan kolega Dinda.
“Aku?” balas Dinda memastikan ucapan itu.
“Iya, sekarang juga. Jika tidak bos akan marah. Sudah cukup bagi karyawan malang sepertiku ini menghadapinya!”
Wanita itu mengacau dengan kisah pilu.
Dinda tak peduli pada kisah menyedihkan itu. Baginya, melakukan yang terbaik saja sudah cukup mengusir pengaruh jahat bosnya itu.
“Hei Din, kenapa pak bos dari kemarin meminta kamu datang keruangannya. Apakah telah terjadi sesuatu pada kalian?” tanya Eva. Memulai bicara, Eva menyela langkah Dinda yang hendak ke ruangan bosnya itu.
Dinda angkat bahu. “Entahlah. Aku rasa dia sedang butuh bantuan.”
“Begitu rupanya!”
“Aku pergi dulu. Kalian bisa pergi makan lebih dulu tanpa menungguku!” kaya Dinda, kemudian menuju ke ruangan Steve.
__ADS_1
“Gadis itu selalu saja semangat bekerja, kapan dia akan dapat jodoh jika terusan workaholic!” gerutu Eva mengumpat baik sahabatnya itu.
Di ruangan Steve yang besar, dirinya seperti biasa. Duduk disudut meja kerjanya.
Dia amat menantikan tubuh itu menghampiri pintu berkaca tebal sehingga matanya yang jeli bisa melihat lekuk tubuh wanita yang sedang menarik gerendel pintu.
Hingga bayangan tubuh yang ia tunggu pun menampakan wujudnya.
Dinda masuk dengan bentuk tubuh yang ramping senada dengan pakaian yang ia kenakan.
"Dia sangat cantik. Kenapa dia begitu berbeda dengan wanita yang pernah aku kencani?”
Steve tak luput dari pandangan melihat bentuk tubuh wanita itu mulai dari kepala hingga ujung kaki. Bukan hal yang buruk. Tanpa sadar Steve terhanyut dalam lamunannya.
“Pak Steve, apakah anda butuh sesuatu?” tanya Dinda pada Steve yang sedang memperhatikan dirinya.
“Oh tentu saja. Aku butuh makan siang hari ini, dan aku ingin kamu membelikan makanan siap saji dari restoran di depan kantor.”
Steve tersadar dari lamunan dan langsung bicara ke intinya.
“Baiklah Pak Steve, makanan siap saji seperti apa yang Anda inginkan?”
“Aku ingin capuccino late cream full cokelat, pizza dengan toping daging keju mozzarella serta sedikit manisan!”
“Baik Pak, aku akan membelikannya sekarang!”
Dinda menjawab dengan manis tanpa ada bantahan yang keluar dari mulutnya.
“Oh iya, jangan tambahkan MSG di dalamnya!” teriak Steve pada Dinda yang telah menjauh darinya.
Inilah yang Steve benci. Dia pasti akan tergoda kalau sudah melihat tubuh ramping wanita itu.
“Begitu anggun!” tanpa menyadarinya, Steve sudah terbuai oleh pesona Dinda.
Steve memang sudah terobsesi untuk terus menyusahkan Dinda. Salah satu keinginannya untuk membuat wanita itu mengakui kehebatannya agak sulit dihentikan. Sikap dan egonya harus terus berada di atas angan, sehingga Dinda harus tahu batasannya.
Di balik wajah dinginnya, Steve tak bisa melupakan wajah Dinda. Sungguh ini sebuah teka teki hati yang sulit di tebak oleh Steve.
Semua ini karena kejadian malam itu yang memaksa Steve harus meminta keadilan padanya.
“Dia terus saja mempermainkan aku. Kejutan apalagi yang akan dia tunjukkan padaku. Boneka kecilku ini, aku harus mendapatkannya. Apapun yang terjadi, aku harus bisa memilikinya!”
Untuk urusan hati, Steve tidak bisa berbohong. Setiap kali melihat Dinda, napsu Steve selalu meningkat. Dan hanya pada wanita ini, dia seperti ini. Wanita di luar sana, belum pernah membuat Steve bisa berkeringat dingin seperti sekarang.
__ADS_1