
Dalam cinta harus ada kata TEGA. Jika tidak ingin membalas perasaannya yang sudah banyak berjuang untuk mu, maka katakan dengan tegas kalau kau tidak akan merubah keputusan itu.
Jangan bertindak dan bersikap layaknya Roro Jonggrang. Yang terlalu berbelit-belit dengan keputusannya sendiri. Tapi— hasilnya tetap sama. Dia tetap menderita di akhir kisahnya.
Ambillah sikap seperti Dayang Sumbi. Sekali menolak dengan tegas, maka dia tidak akan merubah apa yang sudah dia ucapkan.
_____________________________________________
_____________________________________________
Perasaan gugup itu perlahan mereda seiring Steve melangkahkan kaki menuruni anak tangga.
Ada banyak pasang bola mata yang menatapnya haus. Menatap seorang pria yang menggandeng tangan sang pengantin wanita.
Rasa gugup itu akhirnya bisa di kalahkan oleh Steve meskipun perlahan. Jujur, ini kali pertamanya bagi Steve gugup hebat. Semua itu bukan karena takut atau semacamnya, tetapi Steve bahagia lantaran semua itu sudah terwujud hari ini.
Selama aku hidup. Tak akan aku biarkan wanita yang ada di sebelah ku ini. Menangis atau menghilang dari pandangan ku.
Dialah penyemangat hidup ku, dia mentari pagi yang menghangatkan hati yang dingin ini. Dia adalah wanita yang selalu membuat aku nyaman.
Seribu kali aku melirik wajah cantik itu. Rasanya tidak pernah bosan mata ku menikmati panorama ini. Dia telah memikat hati ku. Entah bagaimana dia melakukannya, aku saja sulit mendeskripsikannya dengan teliti.
Dia menjadi wanita yang paling penting dalam hidup ku. Selamanya aku selalu mencintainya. Tidak peduli ada begitu banyak ujian yang akan menerpa. Aku yakin pada apa yang aku lakukan.
****
"Hoi, Steve." Terdengar suara itu mengusik telinga pria ini. Suara dari bawah anak tangga yang terpasang karpet merah terang. "Selamat ya bro. Kamu akhirnya menikah juga," ujar salah seorang teman Steve.
Dia menjabat tangan Steve, sementara senyum pria ini ikut girang lantaran melihat Steve gembira.
"Terima kasih ya Jackson sudah mau datang ke acara pernikahan ku."
Jackson mengedipkan matanya, sesaat kemudian dia melirik Dinda. "Suwer. Istri kamu seperti bidadari. Cantik banget."
Dinda membalas tersenyum, namun mulutnya ikut menjawab. "Anda terlalu memuji," katanya merona.
Steve tahu kalau pilihannya itu memang secantik bidadari. Hanya saja Steve tidak suka kalau miliknya di lirik oleh orang lain. Tapi dia menahan kesalnya. Bagaimanapun juga, ini hari kebahagiaannya. Biarkan orang menatap wajah pengantinnya. Tapi nanti, itu tidak akan terjadi lagi kalau acara sudah selesai. Miliknya tidak boleh di lirik orang lain, selain suami posesifnya ini.
"Steve, Dinda. Ayo ke pelaminan. Para tamu sudah menantikan kalian."
Eva memanggil. Mereka berdua terpaku di atas anak tangga, sebab Jackson berbincang dengan mereka tadi.
"Baik. Kami akan turun sekarang," Dinda membalas dengan senyum manis. Oh, pesona pengantin wanita memang bersinar sombong di acara pernikahan sendiri.
Steve menghargai kedatangan teman spesialnya itu. Jackson adalah seniornya di kampus. Dia satu angkatan dengan Stevie, sekaligus anak konglomerat di China.
Stevie yang mengundangnya kemari. Datang ke Indonesia.
Sebenarnya Jackson bukan hanya teman kampus Stevie dan juga karib Steve saja. Tapi pria yang lebih tua beberapa tahun dari Steve ini juga relasi teman baik Papanya. Terlebih, Jackson menaruh hati pada Stevie dari dulu.
Tapi sayang, Stevie masih belum memperhatikan perasaan Jackson. Dia masih asik pada dunianya. Asik menghabiskan uang hunting ke luar negeri. Dan itu yang membuat Steve lega kalau ada Jackson di dekat kakaknya itu.
"Maaf harus meninggalkan kamu seorang diri. Silahkan di nikmati semua makanan di sini. Rasanya sangat enak, kamu akan kepincut dengan cita rasa tangan-tangan Indonesia yang membuatnya."
Bisikkan Steve di telinga Jackson, membuat pria ini terkekeh geli. "Pantas saja dia terobsesi dengan wanita itu. Tidak bapak tidak anak. Semuanya kepincut wanita Indonesia."
Ini kali pertama Jackson mampir ke Indonesia. Dan di luar dugaan, dulu dia kira tempat ini seperti tidak ada kehidupan. Tapi ternyata, dia baru tahu. Ternyata negara ini menepati urutan ke empat negara dengan jumlah populasi terbesar di Dunia.
Bukan. Jika kalian pikir dia kuno dan ketinggalan berita, itu sebenarnya salah. Jackson hanya tidak suka membahas Indonesia. Karena dia belum tertarik membuka bisnis di sini, oleh karena itu dia buta Indonesia.
Ada banyak pasang lampu kamera yang menjepret dan menangkap wajah Steve. Tak ayal, acap kali Steve merasa silau. Tapi apa boleh buat, dia harus pasrah. Dia pusat gravitasi saat ini.
"Steve," ucap Dinda pelan. "Bagaimana perasaan kamu sekarang."
"Jauh lebih baik. Karena ada kamu di sini." Steve memberikannya senyuman kecil. Tangannya itu tidak lepas dari lembutnya jari jemari Dinda.
Acara memang lancar. Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya tiba di mana Dinda dan Steve harus melempar buket bunga pada para tamu yang masih lajang. Dari atas pelaminan, kedua pasangan ini melempar bunga secara bersamaan.
Sementara banyak pria dan wanita lajang di bawah pelaminan menantikan buket yang melayang sesaat ini.
Yang datang memang bukan hanya orang-orang dari Indonesia saja. Tapi kerabat ayahnya dari Shanghai, teman-teman kampus Steve di Jerman dan beberapa teman kakaknya.
"Vie. Adik kamu nikah sama perempuan lain. Sakit rasanya hati ku melihat kebahagiaannya bersama orang lain."
Steve mendengar, kalau ada beberapa teman Stevie mengadu pada kakaknya. Ya, Steve tahu kalau teman-teman kakaknya itu memang menggilainya sejak kuliah di Jerman kala itu.
Kadang juga Stevie menjodoh-jodohkan adiknya pada temannya. Sesekali Stevie menyuruh Steve memilih wanita cantik mana yang Steve sukai. Tapi, nyatanya itu tidak membuat Steve bertindak pada hal yang sama.
Steve tetap mencintai satu orang. Yaitu gadis kecil di masa lalunya. Gadis yang telah berjanji akan bersamanya ini, saat ini sudah menjadi bagian terpenting dalam hidup Steve.
"Ah..... Steve. Dia harus bahagia bersama gadis itu."
"Jahat sih. Dia mengabaikan perasaan kita karena wanita yang kini menjadi istrinya itu. Dia pria paling kejam."
"Iyes. Dia pria yang tidak punya hati. Padahal kan dia tampan. Bisakan kalau dia jadikan kita selir-selirnya. Tapi dia tidak mau melakukan itu. Sakit hati ku kalau terus di tolak adik mu Vie."
Steve ingin terkekeh saat kumpulan para wanita sahabat kakaknya itu mengadu. Ya, Steve mendengar mereka sebab para gadis itu duduk di dekat pelaminannya.
Sudah biasa bagi Steve kalau mereka suka menggodanya. Walau sekalipun Steve tidak pernah membalas perasaan mereka.
__ADS_1
Tapi Stevie kadang marah juga pada teman-temannya. Mereka selalu menggoda adiknya. Stevie bukan tidak mau adiknya tega pada perasaan wanita-wanita genit ini. Hanya saja, Steve keras kepala.
Mereka bukan selera Steve. Jadi itulah kenapa Steve bersikap dingin pada teman-teman Stevie.
Usai melempar buket bunga. Steve mencium puncak kening Dinda. Semua orang yang menyaksikannya, sungguh iri dengan pasangan ini.
Suwer, walau para sahabat Stevie yang pernah menaruh perhatian pada Steve berusaha melupakan pria ini. Tapi rasanya sulit deh. Apalagi ciuman mesra itu. Oh, sungguh, rasanya rahim mereka bergetar menggeliat kesal.
"Aku cinta kamu Dinda."
Di sela mencium mulusnya kening Dinda, Steve mengucapkan kata-kata itu. Dinda tersenyum, seharusnya Steve tidak terus mengatakan hal itu. Dinda tahu, hatinya akan terpatri untuk Dinda.
"Aku juga mencintai kamu. Sampai kapan pun."
Tepuk tangan para tamu undangan membuat suasana makin riuh gembira. Ibu Yuri datang ke atas pelaminan, hanya sekedar melihat putrinya.
"Dinda."
Oh, Ibunya tidak kuat harus melepaskan putrinya pada orang lain. Rasanya, berat kalau harus membiarkan Dinda kini di ambil Steve.
"Ibu. Maafkan Dinda ya kalau selama ini Dinda belum bisa bahagiakan Ibu," ucapnya lebih dahulu.
Ibu Yuri membalas pelukan putrinya. Dan, ini mungkin menjadi pelukan terakhir antara Ibu dan anak.
"Kamu sudah membahagiakan Ibu selama ini. Kamu patut bahagia sekarang. Putri Ibu saat ini sudah menjadi milik nak Steve. Ibu yakin, nak Steve mampu membahagiakan Dinda kesayangan Ibu."
"Aku berjanji Bu." Ah, mulut manis Steve terus saja berkata manipulatif. Dia memang pandai bagaimana caranya mengambil hati wanita tua yang sudah sepuh ini. "Ibu tidak perlu khawatir. Dinda akan bahagia bersama ku. Aku jamin. Ibu akan melihat Dinda gemuk kalau terus bersama ku."
Dinda menyikut Steve. "Terlalu berlebihan," katanya pelan.
Ibu Yuri tersenyum kecil. Lalu di belakang Ibunya, kedua bocah yang memakai tuksedo hitam itu juga tidak mau ketinggalan drama ini.
"Kakak."
Dinda dengan cepat memeluk keduanya.
Sabar. Kedua bocah itu adiknya. Kamu harus sabar Steve. Jika bukan hari ini adalah hari pernikahan, kamu bisa menendang mereka.
"Kalian harus jaga Ibu ya. Kalian nggak boleh nakal. Kalian harus bertanggung jawab sekarang."
"Di kira kita anak kecil," bisik Miko pada adiknya. Dan bisikan itu di angguk oleh Niko.
"Kakak memang kadang over protektif," celoteh Niko menimpali.
"Karena kalian nakal. Makanya kakak nggak bisa bayangin gimana jadinya kalau Ibu tinggal bersama kalian." Dinda mendengar ocehan kecil keduanya.
Ya iyalah dia mendengar, Miko berkata di daun telinganya. Jelas ucapan itu masuk lebih dahulu kedalam telinganya. Baru sampai ke telinga Niko.
"Ya, ya, ya. Kakak memang benar. Kami memang nakal." Miko memang tidak menyangkal kalau dia nakal di luar tapi jadi anak penurut di rumah. Dia tahu, konsekuensinya kalau membantah kakaknya yang sudah membiayai kehidupan mereka. Bersihkan toilet. Tapi agak kasar. Miko benci bagian bau ternganga itu. "Oke. Miko janji. Ibu akan selalu sehat kalau ada Miko. Kak Dinda nggak perlu risau."
"Siap bunda ratu!"
Niko berulah. Seakan sedang bersikap hormat pada prajurit TNI, dia membual. Dinda terkekeh, kemudian mengusap lembut rambut kedua adiknya.
Sesaat setelah Dinda melepaskan pelukannya pada Miko dan Niko. Kini, dari balik tubuh tinggi kedua adiknya itu, ada Dendy yang nampaknya menantikan hal yang sama.
Aku tahu kalau suami kak Dinda cemburuan. Aku akan mengerjakannya. Terima kasih Niko dan Miko atas informasinya tadi.
Memang tadi Miko dan Niko meminta Dendy menjalankan rencana memancing amarah Steve. Kedua bocah itu meminta teman mereka memeluk Dinda.
"Kak Dinda. Aku juga pingin di peluk seperti Miko dan Niko."
Dinda terkekeh. Anak itu berani mengatakannya pada Dinda. Tapi tak ubah, Dinda tetap memeluknya.
"Kamu ini ya. Dasar tukang iri," ucap Dinda. Di ikuti pelukan hangat dari Dinda, Dendy menikmatinya. Suwer, kapan lagi di peluk pengantin secantik Dinda. Terlebih, dulu Dendy berharap kalau Dinda akan menjadi iparnya. Tapi itu tidak terjadi, si pemarah sudah mengambilnya duluan.
Anak itu. Siapa lagi dia. Berani-beraninya Dinda memeluk orang sembarangan di depan ku. Ah, sial. Tahu gitu, nggak usah sekalian buat acara pernikahan.
Seperti dugaan Dendy, Steve memang terlihat kesal. Wajah itu kian memerah padam. Rasanya dia ingin menelan orang.
"Ingat. Jangan nakal. Kamu harus bisa jadi anak yang teladan. Biar kamu bisa mencapai prestasi lebih tinggi dari kakak kamu. Si Rendy. Kamu nggak boleh salah bergaul."
Amanat itu di pegang teguh oleh Dendy. Tapi kalau menyangkut mamasnya si Rendy. Dendy selalu sebal. Karena Dendy berhutang dendam pada kakaknya lantaran Rendy suka membual janji padanya. Termasuk mendapatkan Dinda.
"Kak Rendy datang kan ke sini?" tanya Dinda pada Dendy. Wajah tampan itu di tekuk, Dinda tahu Dendy sebal karena di banding-bandingkan dengan Rendy. Tapi Dendy mengangguk walau dia sebal.
"Dia di sana. Sembunyi dari kak Dinda," katanya sambil menunjuk ke arah kerumunan para tamu.
Mata Dinda berputar mengusut, menelisik sekeliling para tamu. Dan..... Dapat!
"Aku disini."
Oh, Dinda hapal. Rendy memang hadir dalam acara pernikahannya. Lambaian tangan itu membuat Dinda sadar kalau Rendy dari tadi berdiri di antara kerumunan tamu undangan.
"Jadi mereka kakak adik?" bisik Steve bertanya.
"Mereka tiga bersaudara. Yang satu perempuan. Sekarang jadi dokter ahli di Jerman. Yang kedua Rendy, dia teman di masa SMP ku. Dan yang ketiga Dendy. Dia teman Miko dan Niko."
Steve mengangguk hingga beberapa kali. Dia mulai paham pada alur keluarga bencana ini.
"Dinda. Selamat ya sudah menjadi istri orang. Aku bahagia kamu menikah sekarang. Walau aku sebenarnya tidak mau datang ke sini. Tapi kata Dendy tadi, dia mau melihat ku menjadi barisan para jomblo yang sakit hati. Hiks."
__ADS_1
Rendy ikut berulah. Dia juga ingin memeluk Dinda. Tapi Steve lebih dahulu menarik lengan Dinda. Dia tidak rela kalau Rendy memeluk gadisnya.
"Tidak ada pelukan. Jika kamu berani melakukannya. Kamu akan aku lempar keluar."
Rendy mengernyitkan dahinya. Serem ah ancamannya. Sementara Dendy, Miko dan Niko terkekeh kala melihat Rendy di perlakukan sarkas oleh Steve.
"Ckckck," Rendy men-decak sambil menggeleng. "Aku ini teman kampus mu loh di Jerman. Apakah kamu nggak punya hati untuk ku sedikit saja agar bisa memeluk Dinda. Apakah sebegitunya kamu benci pada ku yang tidak bisa hilang dari bayang-bayang kemurkaan mu."
"Kamu laknat. Tidak pantas memeluk Dinda."
Dan ya. Memang Steve selalu memperlakukannya tidak adil. Tapi Dinda terkekeh. Setidaknya Steve menghibur melalui perilaku garangnya ini.
"Dinda. Sepertinya kita tidak bisa berpelukan saat ini. Ada jarak di antara kita. Kamu sudah menjadi istri orang. Hiks."
"Syukurin," sahut Dendy bahagia atas penderitaan kakaknya itu. "Makanya mas Rendy, di bilang cepat tembak kak Dinda. Karena keleletan mas Rendy, akhirnya kak Dinda jadi milik orang lain. Syukurin. Aku mau mencak jingkrak-jingkrak."
Dasar adik durhaka. Kakaknya lagi patah hati, dia malah menambahkan beban. Di kutuk jadi Upil dan Upil nanti.
Sesi Rendy berakhir. Kini datang sesi Zico. Si pria tak berpasangan ini harus melepaskan kekasihnya si Steve menikah dengan Dinda.
Bukan karena dia homo atau menyukai Steve, tapi sering kali teman-teman kampus mengatakan mereka layaknya pacaran. Kemana-mana selalu nempel. Tapi bank Zico normal kok. Cuma belum ada jodoh yang pas saja. Kalau kata orang-orang jodoh itu akan datang dengan sendirinya.
Tapi sampai saat ini, usianya sudah memasuki usai bangkotan. Belum juga ada wanita yang namplok di pelukan Zico. Kurang apa coba Zico. Ganteng iye, tinggi iye, manis juga iye. Kerjaan sudah tetap, gaji gede. Tapi nggak ada yang bisa nempel lama di sisinya.
"Selamat yah Steve. Bentar lagi gendong anak. Walau aku belum siap jadi sosok paman. Tapi....... Demi kamu tak mengapa aku mengalah. Aku akan menjadi seorang paman. Yang mana akan menandakan kalau aku sudah tua."
Zico tidak memeluknya. Karena dia tahu, Steve benci di sentuh orang lain. Kecuali—ya, Steve merangkul Dinda. Dia memeluk Dinda, sebagai alibi kalau saat ini dia sudah beristri.
Kejam.
"Terima kasih atas kesedihannya Co. Besok aku doa kan kamu dapat jodoh."
"Zico akan selalu menjadi pria terbaik di kantor. Aku akan doakan yang terbaik agar jodoh mu makin mendekat." Dinda menyahut senada dengan Steve.
Meskipun hanya sebatas ucapan, setidaknya ada basa basi yang di ucapkan oleh kedua pengantin ini.
"Terima kasih atas doa—nya."
Melihat semua orang sudah menyalami Steve. Kini giliran Tuan dan Nyonya keluarga besar Steve. Sepasang wajah orang tuanya itu hampir menginterupsi putranya.
"Ingat tanggung jawab mu. Jangan menganggap kalau pernikahan ini akan membuat tanggung jawab mu berkurang. Tapi tanggung jawab mu makin besar. Papa akan selalu mengingatkan apa saja yang harus kamu kerjakan di kantor setelah menjadi suami nanti."
Bukan ucapan selamat yang di ucapkan. Ayahnya justru mencecar Steve dengan ingatan masalah pekerjaan.
Tapi tak ayal, Steve menuruti kata-kata itu. "Pastinya Pa. Steve akan melakukannya lebih giat lagi untuk Papa."
"Itu harus." Tuan Michele Wong menepuk pelan beberapa kali pundak anaknya. Dan itu menandakan adanya keseriusan dalam berbicara.
"Nah. Cucu nenek sudah makin dewasa." Sikut wanita tua berkaca mata itu.
Pasti dia akan berulah.
"Si Hasan makin tampan nek hari ini dengan pengantin wanitanya." Stevie menimpali. Ah, seharusnya nama kuno Steve itu tidak lagi di umbar pada orang lain.
"Stevie......" Ibu Diah menyikut putrinya. Dia masih berulah.
"Ampun Ma. Aku cuma bercanda."
"Tapi kamu berulang kali mengganggu adik mu," timpal nenek seraya memukul lutut Stevie dengan tongkatnya.
"Tukang kerupuk si Udin itu enak di goda nek. Sumpah."
Kekanakan. Tapi Stevie suka melakukannya. Sementara Steve malah acuh tak acuh. Dia memang suka bersikap dewasa menghadapi kakaknya yang childish.
"Berbahagialah Nak. Papa senang kalau kamu mulai merubah tingkah mu perlahan." Tuan Wong menepuk bahu Steve pelan untuk kesekian kalinya, seraya mengulu* tersenyum. Putranya terlihat sumringah atas pernikahan ini.
"Terima kasih Pa atas pengertiannya." Steve membalasnya dengan pelukan.
Tapi rasanya kurang kalau Tuan Michael Wong tak membalas pelukan putranya itu.
"Kamu putra Papa satu-satunya. Sejak kecil Papa selalu menyayangimu. Papa pasti akan mendahului kebahagian putra Papa."
Haru. Siapa yang naro bawang di mata Stevie.
BERAKHIR—MAAF SAMPAI SINI SAJA :(
Aku tidak percaya. Hanya karena Dinda aku berubah. Dan bodohnya, dulu aku benci Shanghai. Tapi sekarang, desakan orang tua ku agar kembali kesana justru aku setujui tanpa syarat.
Ya, semua itu karena Dinda. Pada akhirnya aku sudah siap membawa istri ku memasuki dunia ku sesungguhnya. Aku yang selalu bersembunyi, tidak ingin menyela dunia manapun. Akhir saat ini sudah bertekad ingin mengenal seluruh muka alam.
Shanghai. Mungkin akan menjadi tempat baru ku. Walau aku hampir lupa seperti apa rupanya. Karena sudah lama aku tak tinggal di sana. Waktu ku hanya habis di Jerman. Setelah itu tidak ada tempat lain, kecuali—
Tidur di pangkuan nenek di solo. Tinggal di Jakarta. Dan hanya itu yang membuat aku berkutat di satu tempat.
Mama. Papa. Nenek. Kak Stevie. Mereka adalah orang-orang yang selalu mendukung keputusan ku yang kadang arogan dan kekanakan.
Aku memang keras kepala. Tapi aku tidak berani menentang Papa yang keras pada ku. Tetapi satu hal yang aku tidak suka. Jika Papa mencampuri urusan pribadi ku, maka aku siap membelot.
Tapi, syukurlah. Aku kira diri ku akan berakhir seperti di film-film. Aku akan berakhir di jodohkan pada teman masa kecil ku, si Peni. Namun aku salah. Kedua orang tua ku punya rencananya sendiri.
Terutama Mama. Dia paling mengerti aku. Sejak kecil dia tidak pernah membiarkan aku menangis ketika Papa memarahi ku. Namun saat ini berbeda. Aku bukanlah anak kecil lagi yang harus di atur.
__ADS_1
Kini jalan ku sudah berbeda. Aku sudah memiliki hidup ku sendiri. Semua itu tidak lepas dari dukungan semua orang yang mencintai ku. Mereka yang menyayangi ku penuh kehangatan.
Hingga aku berhasil menaklukan hati gadis kecil ku. Aku merasa dunia sangat mendukung ku. Terima kasih untuk kalian yang mencintai ku.