
Istri ku adalah nafas ku. Saat dia tidur aku lega. Karena nafas ku bisa menikmati malamnya penuh dengan mimpi indah.
Ketika dia di luar rumah. Aku takut—dia akan di lirik oleh penjual cendol.
—STEVE—
_____________________________________________
Suara berisik itu mengusik telinga Dinda. Dia kesal lantaran malam ini Steve menghabiskan waktu hanya dengan game konsol bersama Miko.
Tak ayal, acap kali Dinda mengomel pada suaminya. Bukan karena dia tidak suka kalau Steve bermain layaknya anak kecil. Tapi dia saat ini harus istirahat.
“Besok kerja. Nanti bangun kesiangan.”
Dinda menegur suaminya. Sesekali dia melirik jam di handphone. Waktu sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam.
Dinda tidak bisa tidur, karena suara ricuh dari sound system' menggelegar hingga masuk ke kamarnya. Tadi Dinda mencoba tidur seraya menyembunyikan kepalanya di balik bantal. Namun sayang, itu tidak membuahkan hasil sama sekali. Yang ada, justru Dinda makin insomnia.
“Nanggung. Bentar lagi.”
Meskipun menjawab Dinda. Namun perhatian Steve masih terpatri untuk layar game 3D ini.
“Oh tuhan. Kenapa aku harus menghadapi suami seperti ini.”
“Kamu ngomel?” sahut Steve.
Dia mendengar suara istrinya agak kesal. Steve menoleh, istrinya terlihat menopang kepala. Pasti agak berat.
“Nggak,” balas Dinda singkat.
“Terus. Tadi itu apa kalau bukan ngomel.”
“Sudah tahu nanya.” Umpat Dinda pelan.
Miko juga ikut melirik kakaknya yang mendengus kesal. Miko mendengar hal yang sama seperti Steve. Sesaat kemudian, Steve melirik Miko. Di sana pasti ada penjelasan—Di balik wajah remaja polos-polos nakal ini.
“Biasanya kak Dinda butuh perhatian kalau sudah mengomel. Siapa tahu karena kak Steve nggak memperhatikan kak Dinda. Itulah kenapa Kak Dinda jadi sensitif,” Miko memberitahu.
Steve memang bukan suami yang peka. Meskipun dia terlihat sempurna di luar, tapi dia tidak seromantis itu. Yah, kadang romantisnya dadakan. Itu pun Dinda tahu, pasti ada motif terselubung dari balik sikap manisnya ini.
“Mau kita akhiri game malam ini?” tanya Steve pada Miko.
Miko mengangguk. “Jauh lebih baik kak Steve menemani kak Dinda malam ini. Aku takut dia akan mencakar-cakar dinding nanti.”
“Tidak perlu. Kalian lanjutkan saja game kalian. Sudah lama kan nggak main begituan.”
Belum usai mereka saling membisik, Miko dan Steve langsung dapat tamparan dari ucapan tajam Dinda. Dia sudah menahan kesal karena kelakuan mereka.
“Ya sudah. Kita lanjut.”
"Ikh."
Dengan polosnya Steve menjawab santai. Dan Dinda terlihat menggeram lantaran sebal.
Aku tadi hanya menyinggung mereka. Dan sialnya, suami ku hanya menjawab seperti itu. Jingan.
Handphone Dinda yang tadinya di letakan di dekat meja telepon rumah, berdering. Dinda kalau lagi marah, biasanya malas mau bicara lagi.
Dan lagi pula, belum Dinda semarah ini pada siapapun. Kecuali pada suaminya ini. Dulu dia sangat takut pada Steve, apalagi melihat wajah garangnya itu. Tapi sekarang, alih-alih takut. Justru Dinda terus mengomelinya.
“Hallo.” Dengan sembarang Dinda menjawab panggilan telepon.
[“Hei Din. Apa kabar?”]
Tunggu. Dinda hapal pada suara itu. Tadi Dinda menggeser tombol hijau asalan, tapi tidak memperhatikan nama si penelpon. Dinda melihat layar handphonenya, di sana tertera nama wanita yang sempat dia dan Steve permasalahkan semalam.
“Vanya?”
Mungkin suara di balik benda pipih ini mengangguk saat Dinda menyebut namanya.
[Iya Din. Lama nggak bersua.”]
Oh. Suara lembut Vanya memang mudah teringat.
Steve tadi mendengar Dinda menyebut nama itu. Sebagai seorang suami, dia peka pada setiap panggilan telepon sang istri.
“Siapa yang menelpon?” tanya Steve di sela-sela memainkan gamenya.
Dinda menyungging bibirnya. Suaminya itu terlalu ingin tahu.
“Bukan siapa-siapa. Hanya...... Oh, ini. Yang menelpon bibi jamu yang sering lewat di depan rumah,” jawab Dinda.
Berbohong. Itu jauh lebih singkat dari pada mengatakan sejujurnya. Atau Steve akan membuang handphone Dinda kalau dia tahu Vanya yang menghubungi istrinya.
“Aku ke kamar dulu. Jangan lupa tidur. Besok kerja.”
Dinda beranjak. Steve terus memperhatikannya, saat Dinda berbincang dengan Vanya di balik telepon.
“Itu kak Vanya yang menelpon. Wajar kalau kak Dinda sok sibuk,” bisik Miko memberitahu.
Steve juga tahu kalau itu Vanya. Tadi suara istrinya cukup keras mengatakan nama wanita itu.
“Kita akhiri saja game malam ini. Kita lanjut besok malam saja.”
Miko mengangguk. Sedangkan Steve sudah meninggalkan tempat di mana mereka bermain.
__ADS_1
Steve menuju ke kamarnya. Menyusul Dinda yang sudah pergi lebih dahulu. Steve bukannya tidak suka kalau istrinya berteman dengan Vanya. Hanya saja, dia masih belum menerima hatinya terbuka untuk wanita itu.
[“Dinda. Maaf ya kalau pernikahan kamu aku tidak hadir. Kamu tahu, aku sekarang sudah sibuk di Surabaya. Jadi waktu ku untuk bertolak ke Jakarta tidak ada. Itulah kenapa aku baru bisa mengucapkan selamat atas pernikahan kalian. Sekali lagi, maaf ya kalau aku mengatakannya hanya dari telepon.”]
Dinda duduk di pinggir ranjang. Sambil menyematkan handphonenya di antara telinga dan pundak, kepalanya memiring.
“Nggak masalah kok Van. Terima kasih atas ucapannya.”
Steve mendadak masuk kamar tanpa mengetuk. Hal itu membuat Dinda kaget. Karena terkejut, handphone Dinda langsung jatuh ke lantai ke sembarang arah. Tidak tahu kemana arahnya terpental, tapi suaranya cukup keras. Antara rusak parah, atau hanya remuk biasa. Dinda tidak bisa memprediksi nasib benda pipihnya itu.
“Kamu kok nggak ngetuk pintu dulu?”
“Ini kan kamar ku. Kenapa harus mengetuk.”
Jleb. Dinda selalu lupa. Di kiranya dia masih lajang.
"Oh. Maaf. Aku selalu berpikir kalau kita...."
“Masih pacaran.” Steve tahu Dinda ingin bilang begitu.
“Maaf. Suwer. Aku lupa.”
Steve menyentik kening Dinda. Gemas kalau dia lupa pada suaminya sendiri. Tak ubah, Steve tadi mendengar suara wanita itu. Walau sekilas.
“Vanya yang nelpon tadi?” tanya Steve.
Dinda mengangguk pelan. Dia tidak membohongi suaminya kali ini. “Maaf kalau tadi membohongi kamu.”
Steve tersenyum. Lalu memeluk Dinda. “Kamu pasti takut kalau aku marah kan.”
“Iya.”
Steve mencubit gemas pipi Dinda. Dia merendahkan punggungnya. Di tatapnya wajah yang takut melihatnya ini.
“Kamu itu istri ku. Kenapa kamu takut kalau aku marah.”
“Habisnya kamu seperti pertama kali kita bertemu. Serem.”
“Serem.” Seketika Steve tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan Dinda. “Sebegitu takutnya kah kamu pada Steve yang dulu.”
Dinda mengangguk, sambil memanyunkan bibirnya. “Kamu dulu menakutkan. Dingin, nggak pernah tersenyum dan garang. Sumpah.”
“Kalau sekarang?”
“Ee...”
Dinda ragu harus mengakui seperti apa suaminya saat ini. Tapi, sudah banyak berubah walau masih agak seram kalau dia sedang merajuk.
“Sedikit berbeda dari saat kita pertama kali bertemu.”
“Hemp....”
Steve memanggilnya hanya agar Dinda mendongakkan kepalanya. Entah sejak kapan Steve sudah meraup bibirnya, Dinda sendiri bingung.
Steve ******* habis bibirnya. Dinda juga tak bisa menyangkalnya.
Steve mendorong Dinda hingga kaki Dinda terdesak di ranjang tidur. Sementara Steve sambil meraup bibir istrinya, dia membuka baju kaos yang ia kenakan.
Dinda meraba dada bidang Steve. Sambil membantu suaminya membuka baju. Napas keduanya terengah-engah memburu. Tubuh Steve sudah memerah, lantaran darahnya sedang bergairah saat ini.
Semua nafsu sedang bergumul di satu tempat. Di bawah perut.
“Dinda....... Apakah malam ini boleh aku melakukannya.”
Dinda mengangguk. “Kamu adalah suami ku. Kamu berhak atas segalanya.”
Suaminya sudah tak berbaju lagi. Sudah terjadi, tidak mungkin Dinda akan menolaknya. Steve kembali ******* bibir Dinda. Istrinya sudah mengizinkannya mengacak-acak malamnya.
Sambil ******* habis bibir istrinya, Steve meraba puding yang selama beberapa hari ini sudah menjadi tempat favoritnya.
Setiap hari. Entah itu saat bangun tidur atau saat akan tidur. Di dapur atau di taman. Steve selalu ingin memegang jelly kenyal itu.
Perlahan Steve menuruni tali baju tidur istrinya, dari tepian pengait. Sungguh. Steve tidak bisa menahan diri kalau sudah seperti ini.
Suara desahan saat Steve terus melancarkan aksinya, membuat orang yang ada di balik telepon terkekeh geli mendengarnya.
Suara distruktif yang tercipta itu membuat penguping di balik layar pipih ini mematikan panggilan teleponnya. Dia tidak mau mengganggu hubungan suami istri itu.
Dan, malam ini adalah malam yang indah. Steve menghabiskan malamnya, dengan bermain bersama istrinya. Hingga beberapa sesi. Steve menikmati setiap apa yang Dinda berikan.
Tangan-tangan nakal itu terus berulah. Usai bercinta, Steve tidak mengizinkan Dinda menggunakan kembali pakaiannya. Steve hanya ingin mereka dalam satu selimut, tanpa sehelai sutra pun.
“Kamu selalu wangi. Entah kenapa. Setiap kali aku mencium harumnya rambut istri ku. Aku selalu ingin terus memeluknya.”
“Kamu mencoba merayu ku lagi?”
Dinda menoleh sekilas. Memang Dinda memunggungi Steve, lantaran Steve memeluknya dari belakang sambil asik memainkan puding milik Dinda.
Deru nafas Steve yang menyentuh bulu kuduk di bagian belakang leher Dinda—membuat gadis ini menahan gelinya.
"Aku berkata jujur. Kamu memang wanita yang sulit membuat pria manapun berpaling."
CK. Gombalan itu basi di dengar Dinda. Dulu sebelum menikah, Steve selalu mengucapkannya. Wajar kalau Dinda bosan. Namun......
“Astaga!”
__ADS_1
Dinda memaksakan diri terbangun. Dia ingin meraih handphonenya yang jatuh di bawah tempat tidur tadi.
“Ada apa sayang?” tanya Steve yang ikut merasakan kepanikan istrinya ini.
“Aku lupa mematikan panggilan telepon dari Vanya tadi.”
Steve membelalak. Matanya membesar saat Dinda mengatakan itu. “Jadi. Dari tadi apa yang kita lakukan terdengar oleh dia?”
Dinda mengangkat kedua bahunya. “Entahlah. Tapi sepertinya langsung mati deh. Nih, handphonenya juga mati.”
“Oh. Syukurlah.” Steve mengurut dadanya lega. “Aku kira kita tadi.....”
"Ketahuan."
Steve menjentikkan jarinya. “Meskipun hal lazim di lakukan suami istri. Tapi malu kalau dia tahu.”
“Hihi....” Dinda terkekeh saat melihat Steve yang agak panik sejenak tadi. “Walau dia tahu. Nggak mungkin dia akan mengumbarnya. Lagi pula dia jauh sekarang. Di Surabaya. Jadi buat apa pusing memikirkan dia dengar atau tidak.”
Ah. Itu yang di pikirkan Steve. Bebas. Saat Dinda mengatakan hal baik-baik saja, Steve menepuk-nepuk kasur. Memintanya kembali masuk dalam selimut.
Dinda mengikuti kemauan suaminya. Dia kembali ke pelukan Steve. Dan pria ini kembali memulai aksi mesumnya.
“Sekali lagi ya. Aku ingin melakukannya lagi,” bisik Steve sambil menggigit gemas telinga Dinda.
“Miko tidur di kamar sebelah. Nanti dia dengar. Sekarang juga sudah jam dua malam.”
“Sekali ini lagi saja. Setelah itu kita tidur. Miko nggak akan dengar. Dia aku suruh tidur di kamar kak Stevie di bawah.”
Dinda melirik suaminya yang sudah menegang. Stamina mereka memang masih kuat. Dan ya, Dinda menurutinya.
“Baiklah. Kamu boleh melakukannya.”
****
Karena aktifitas semalam hingga jam tiga pagi. Dinda sudah mendapati dirinya bangun siang lagi. Suaminya juga begitu. Terlihat dia terus memeluk Dinda, bahkan tangannya tak beranjak dari puding istrinya.
Suami sontoloyo.
“Sayang. Bangun. Sudah siang.”
Hemp.....
Dan Steve masih dalam mode malas. Dia tidak menggeliat pun dari tidurnya.
Dinda menyibak kedua korden ke masing-masing sisi. Saat silau matahari menusuk retina mata Steve. Dia malah makin lelap—membenamkan kepalanya di balik bantal.
Lelah semalam membuatnya malas bekerja atau bangun. Semua menghilang lantaran rasa kantuk masih menguasai pikirannya.
“Sayang. Bangun. Sudah siang. Kamu mau kerja. Hei. Ayo bangun.”
Kembali Dinda mencoba membangunkan Steve. Tapi dia tetap tak kuasa berdiri. Steve hanya mau berkutat di tempat tidur saja.
“Lagi pingin di kasur saja. Jangan ganggu.....” Katanya menjawab setengah sadar.
“Ya sudah deh. Aku masak dulu buat sarapan kamu. Kalau sudah bangun, langsung mandi ya. Jangan tidur lagi.”
Dan jawaban Steve hanya sebatas 'Hm'. Tak ada yang lain.
*****
Miko sebenarnya sudah bangun sejak pagi tadi. Karena memang libur, Miko memang berencana tinggal lebih lama bersama Steve. Menemani waktu luangnya di rumah main konsol.
Saat Dinda turun dari lantai atas, Miko sudah duduk manis di meja makan dekat dapur. Dia sudah membuat tehnya sendiri.
“Sudah lama bangun.”
“Sejak jam lima tadi.”
Dinda percaya. Memang biasanya mereka bangun pukul empat atau pukul lima. Tergantung situasi.
Dinda bolak balik seperti setrika di depan Miko. Dia seperti mencari sesuatu. Ah, Dinda mencari pisau untuk memotong. Miko memperhatikannya.
“Cari apa kak?” tanya Miko.
“Pisau.”
“Tuh, di wastafel.” Tunjuk Miko. Dinda ber-oh kecil, mengambil pisau. Lalu, Miko. Matanya mengamati lagi kelainan dari Dinda. Aneh. “Di leher kakak. Kok merah-merah. Kakak kenapa?”
Jleb. Miko pemerhati yang handal nan polos. Mengetahui ada bekas merah di lehernya, Dinda tahu penyebabnya itu. Pasti kejadian semalam.
“Oh. Ini. Karena banyak nyamuk di kamar kakak.”
“Nyamuk?”
Dinda mengangguk. “Semalam nggak bisa tidur. Nyamuknya banyak.”
“Sepertinya nggak deh,” sambar Miko. “Di kamar kak Stevie saja bebas nyamuk. Mana ada di ruangan kak Dinda ada semacam begituan. Mungkin nyamuk besar.”
Sial... Miko paham.
Oh, menyesalnya semalam Steve menggigit lehernya. Jadilah Miko tahu kalau itu semua akibat..... Suaminya.
“Kamu berpikir terlalu jauh.”
BERSAMBUNG
__ADS_1