
"Tidak bisa kak. Sudah cukup bagi keluarga ini menghina kita. Kita tidak bisa tinggal diam terus begini." Pungkas Miko bicara kebenaran.
Nyonya Diana dan Vanya beserta tuan Tama dan semua orang menatap mereka yang sedang membuat onar. Terlebih Dinda dan Miko, nyonya Diana menanggapinya dengan wajah sinis.
"Kalian memang keluarga pembuat onar, keluarga miskin tak tahu malu." Pekik nyonya Diana emosional.
"Jaga ucapan Tante. Kami memang miskin, tetapi kami tidak pernah mengemis pada keluarga kalian untuk bertahan hidup." Balas Miko tak kalah sengit.
Wajah Miko juga memar, tetapi dia kuat dalam menahannya. Miko sudah terbiasa pada hal ini.
Nyonya Diana semakin geram di bantah oleh Miko. Sangking geramnya nyonya Diana tidak bisa menahan amarahnya.
Tangannya menjadi ringan saat itu. Karena ringannya sehingga membuat nyonya Diana menampar wajah Miko seperti menampar samsak hidup.
PLAK.......
Tamparan itu cukup keras terdengar. Nyonya Diana melakukan hal ini tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Miko menikmati tamparan ini. Dia tidak merasa sakit tetapi cukup geram baginya karena ibu dari orang yang di hajarnya berani menyentuh kulitnya.
"Nyonya Diana!" Pekik Dinda tidak terima atas tindakan wanita tua ini.
"Kenapa? Tidak terima atas perlakuan ku?" Nyonya Diana memancing pertengkaran.
"Jelas aku tidak terima. Jangan anda pikir bahwa anda adalah nyonya besar keluarga Tama, membuat anda semena-mena pada kami." Dinda memekikkan suaranya dengan nada tinggi. Dia cukup emosi menghadapi nyonya Diana.
"Justru itu. Karena aku kaya makanya aku bisa melakukan apapun yang aku mau."
Balas nyonya Diana berbangga hati.
Semua orang memperhatikan mereka yang bertengkar bahkan menjadi buah bibir, namun tak di gubris oleh nyonya Diana. Baginya mencela Dinda adalah hal yang lebih membanggakan.
"Kau!" Dinda kembali memekik menggeram. Dinda ingin membalas nyonya Diana dengan sebuah tamparan, tetapi Miko menahan amarah kakaknya.
"Kak... Sudah... Jangan di tanggapi..." Ujar Miko menengahi.
"Kenapa mau menampar wajah ku? Silahkan... Aku tidak takut.... Asal kamu tahu ya, sekali kamu menyentuh kulit ku se-inchi pun, maka aku pastikan penjara tempat terakhir mu berlabuh." Nyonya Diana menantang. Dia tahu bahwa kekuasaan jauh lebih segan menghadapinya.
Dinda benar-benar di buat ingin menghancurkan mulut pedas nyonya Diana saat itu. Hatinya jauh lebih panas, tetapi Miko sudah memadamkan bara api yang berkecamuk itu.
"Panggil petugas keamanan dan buang dua orang miskin ini dari sini." Teriak nyonya Diana memerintah sok berkuasa.
Tidak butuh waktu lama para petugas keamanan suruhan nyonya Diana tiba.
Mereka memegang paksa tangan Dinda dan Miko. Para pengaman ini berjumlah tiga orang dengan pakaian hitam dan tubuh kekar.
"Tidak perlu menyentuh kami. Kami bisa pergi tanpa kalian usir." Dinda memberontak kasar sembari menatap wajah nyonya Diana mendendam.
Nyonya Diana tersenyum mencengir, dia merasa sangat puas saat itu apalagi Dinda menantangnya. Sungguh drama yang elok untuk di tanggapi dengan emosional baginya.
"Ayo Miko kita pergi!" Dinda menarik tangan adiknya. Dia membawa Miko pergi dari acara yang telah di rusak oleh pemandangan tak biasa ini.
Miko menuruti ucapan kakaknya. Mereka berlalu meninggalkan ballroom hotel ini dengan suasana hari yang larut dalam emosi.
*******
Dinda dan Miko sudah menjauh dari semua mata yang sempat melirik mereka tadi. Semua orang pastinya akan mencibir mereka.
Apalagi ulah kelakuan Johan. Dinda yang selama ini tidak pernah membenci Johan sedikitpun bahkan saat dia memilih keluarganya dari pada cinta yang telah mereka janjikan. Janji yang sedari kecil itu di buat tetap saja membuatnya teguh.
Dinda tetap bersikeras menganggap Johan pahlawan walaupun janji yang pernah mereka buat empat belas tahun yang lalu sudah sirna empat tahun terakhir dengan ending yang tragis. Tetapi, kali ini rasa sikap menghormati Johan yang ramah saat kecil, membuat Dinda tanpa sungkan untuk bersikap membencinya apalagi tingkah Johan yang terus-menerus mengganggu dirinya.
"Kalau kita sudah dewasa nanti, aku janji akan menikah dengan mu dan kita akan tinggal di istana yang besar." Itulah sepenggal ucapan yang masih teringat dari mulut manis Johan kecil.
Bocah yang selama ini Dinda anggap sebagai penyelamat dirinya. Di bawah terik matahari, Johan memberikan dan mengikat Dinda dengan janji dari jari kelingking sebagai tanda bahwa mereka suatu saat akan kembali bertemu. Semuanya menjadi nyata, namun tak seindah apa yang ia bayangkan. Semua masa kecil itu kini telah berlalu menjadi sebuah kengerian yang buruk.
Berlalu begitu saja seiring menghilangnya kisah masa kecil itu. Dinda merasa bahwa hanya dirinya sajalah yang mengingat janji itu. Sementara Johan tidak pernah mengingat hal kecil itu. Ada keraguan dalam diri Dinda setiap kali bertanya pada Johan apakah dirinya ingat janji itu atau sudah melupakannya begitu saja.
****
Kini Dinda dan Miko sudah menaiki busway tepat di halte harmoni. Halte terdekat yang ada di sekitar mereka. Dinda dan Miko duduk dengan nyaman sebab suasana busway tidak terlalu ramai.
__ADS_1
"Memar wajah mu harus di obati. Nanti nambah bengkak," Dinda membersihkan wajah adiknya yang terluka sembari melupakan kisah lamanya bersama Johan.
Dia sedikit khawatir pada wajah adiknya yang sedikit memar dan terluka akibat perkelahian dengan johan.
"Sssshhhh.... Aaaahhh..."
Miko sedikit mendesah kesakitan. Kapas yang di baluri obat tetes Betadine sedikit perih saat mendarat di luka lebamnya.
"Pelan-pelan kak!" Miko bersua menahan sakit.
"Iya... Kakak sudah pelan-pelan ini mengobati nya."
Dinda menempelkan kapas berisi obat merah sedikit pelan pada luka Miko. Dia tahu rasanya pasti sakit. Dia melakukannya sedikit penuh kehati-hatian.
Beberapa peron busway sedikit bergoyang karena jalur berbelok. Maklum saja, busway yang di tumpangi mereka adalah jenis busway rapid.
Tidak jauh dari tempat duduk Dinda dan Miko, terlihat dua gadis remaja menatap keduanya dengan ekspresi sedikit mencurigakan.
Sesekali kedua gadis yang berpakaian seragam SMA itu menunjuk adik kakak itu sembari menatap layar handphone yang menyala terang.
"Dia kan yang ada di iklan itu." Gadis berambut pendek menyebut Miko.
"Iya bener. Kya... Gantengnya...." Sahut teman di sebelahnya.
Miko dan kakaknya tidak menyadari bahwa sedari tadi kedua gadis SMA yang berdiri di dekat peron busway memperhatikan mereka berdua.
Dinda hanya fokus pada adiknya, tentu saja Dinda tidak perduli orang-orang di sekitarnya. Sementara Miko masih dengan ekspresi yang sama, dia menahan sakit akibat perihnya luka yang terkena Sambaran obat merah itu.
"Anu..... Kakak..... Boleh gak kita Poto sama kakak." Tiba-tiba kedua gadis yang berdiri di peron tadi mendekati Miko sedikit gugup.
"Iya kak.... Bolehkah kami minta Poto kakak." Sambar temannya yang berdiri di sebelahnya.
Miko dan Dinda tidak paham maksud kedua gadis kecil yang seumuran dengan Miko ini.
Miko menatap wajah kakaknya dengan tatapan heran penuh tanda tanya.
Dia tidak tahu apa yang terjadi sehingga ada dua gadis yang tidak di kenal mendekati dirinya bahkan meminta Poto.
"Ada apa ini kak!" Miko bertanya pelan pada Dinda.
"Anu..... Kakak yang jadi model sepatu ini kan?" Gadis di itu bicara sekali lagi. Dia tahu Miko sedikit gagap dan tidak mengerti maksud keduanya, sehingga dia menjelaskan hal ini pada Miko.
"Sepatu?"
"Iya... Sepatu...." Ia menjawab dengan yakin bahwa model itu adalah Miko, Sembari gadis SMA ini menunjukkan Poto yang di maksud kepada Miko.
"Oh.... Ini ya...." Miko tidak terkejut saat melihat Poto yang di maksud oleh kedua gadis itu. Karena memang benar yang di maksud keduanya adalah dia. Miko tidak menyangkal hal ini.
Miko sedikit memberikan senyum manis, mengkode bahwa apa yang dua wanita kecil itu tanyakan benar.
"Kalau begitu boleh ya kak kami Poto bareng kakak!" Pinta kedua gadis SMA ini sedikit memelas.
Miko sedikit malu karena dia merasa sedikit seperti artis papan atas saat di minta Poto. Tetapi Miko menyetujuinya walau sedikit merasa canggung.
"Oke boleh..." Balas Miko setuju.
Kedua gadis itu sangat antusias mengambil Poto bersama Miko.
Sepuasnya, mungkinkan jika tidak ada Dinda bisa saja mereka meminta nomor telepon Miko. Tetapi ekspresi wajah Miko berkata lain. Dia bersikap seolah seperti sedang di terkam oleh dua makhluk buas.
Dinda terkekeh melihat adiknya jadi bahan lelucon tetapi dia berusaha bertindak profesional membantu adiknya terbebas dari penggemar fanatiknya.
"Sudah! Sudah! Sepertinya kalian sudah cukup mengganggu waktu artis ku?" Dinda menengahi seakan dia adalah manajer Miko.
"Iya kak... Maaf ya sudah mengganggu waktunya. Kami permisi dulu ya kak."
Balas gadis yang entah dari mana asalnya tetiba meminta Poto pada Miko.
Kedua gadis itu meninggalkan Miko dan Dinda usai mendapatkan Poto Miko secara langsung dan ekslusif. Raut wajah mereka nampak jelas jika mereka sedang senang karena mendapatkan tanda wajah Miko.
Dinda sedikit terkekeh saat melihat adiknya jadi bahan pengambilan gambar.
__ADS_1
"Baru pertama kali ini juga jadi model abal-abal. Masa iya sih ada yang langsung mengenali muka ku di sini." Miko menggerutu sedikit sebal.
Raut wajahnya sedikit teracak karena dua gadis tadi.
"Jangan gitu donk. Kamu sendiri kan yang kepingin jadi artis. Maka terima resiko dari keputusan mu itu." Dinda mencoba meledek halus.
Miko memasang wajah jutek. Dia menanggapi kakaknya dengan ekspresi sinis dan mengesampingkan rasa sakit lukanya tadi.
"Tapi kan kak! Bagaimana bisa mereka tahu kalau aku seorang model amatiran? Apa iya perusahaan secepat itu mengunggah iklan itu? Coba aku chek dulu!" Timpal Miko sembari membuka layar teleponnya.
"Wah.... Ini beneran. Secepat ini." Miko bergidik tak percaya apa yang ia lihat.
"Kenapa?"
"Ehm..... Itu... Sebaiknya kakak lihat sendiri." Miko menyodorkan handphonenya pada dinda.
Dinda melihat apa yang hendak di tunjukan Miko padanya. Dia mengernyitkan dahinya saat melihat apa yang ia lihat dari telepon Miko.
"Waduh. Sebentar lagi Miko bakalan jadi artis terkenal nih." Pungkas Dinda kembali meledek.
"Ya kecuali ibu mengizinkannya." Miko membalas sedikit lesu.
Dinda kembali terkekeh melihat tingkah Miko.
"Sebenarnya, kenapa kamu nggak ikutan mendaftar menjadi artis Bollywood? Kan sekarang lagi booming tuh acara atau drama India di Indonesia. Siapa tahu Miko yang tampan, jadi artis India." Dinda menggoda Miko sembari menyikut adiknya penuh sensasi ledekan.
Miko menatap wajah kakaknya. Dia melihat dengan seksama mata dinda penuh intrik. "Kakak tahu? Kenapa drama India membuat aku anti untuk menyaksikannya?"
"Kenapa?"
"Itu semua karena....." Miko membuat tebak-tebakan yang sedikit menjengkelkan.
"Karena?"
"Karena, rata-rata penonton drama India suka sesuatu yang memancing emosi."
"Emosi? Emosi seperti apa?" Dinda sedikit penasaran akan kelanjutan cerita Miko.
"Emosi. Dimana rata-rata pemain pria drama India lebih cenderung di perebutkan oleh karakter wanita. Coba kakak bayangkan hanya ada di drama India aktor utamanya di perebutkan oleh lebih dari tiga wanita. Bahkan lebih banyak.
Dan yang lebih parahnya adalah drama India lebih condong ke konflik tanpa ujung?"
"Konflik tanpa ujung? Kalau ngomong jangan suka nanggung. Ayo apa kelanjutannya." Dinda setidaknya sudah ikut dalam alur pembicaraan Miko yang sedikit mengarah pada rasa penasaran.
Miko sedikit mendeham. Dia puas ternyata kakaknya sudah mulai panas pada kata-kata yang ia ucapakan.
"Oke... Aku lanjutkan ceritanya. Jadi konflik tanpa ujung adalah di mana dramanya setiap tokoh yang sudah mati pasti akan ada tokoh lain sebagai pengganti yang mana akan membuat konflik baru untuk tokoh utama. Akh... Pokoknya menonton drama India sama seperti sedang menyaksikan drama azab. Sama-sama membuat penonton kesal. Itulah alasannya kenapa aku lebih suka dengan drama wuxia atau kolosal China. Karena tidak terlalu mendramatisir."
"Lalu kesimpulannya apa?" Dinda ingin tahu kelanjutan argumentasi adiknya itu.
"Tidak ada kesimpulan apapun. Hanya saja aku tidak suka pada setiap karakter pemain drama India. Kesannya terlalu memaksa, apalagi pemainnya tidak ada yang tampan. Lalu pemain pria sangat lemah dalam mengambil keputusan. Mendramatisir, semua nama pemain rata-rata nama pasaran misalnya Rahul, Raj, anjali, Dev, dan lain-lain bahkan pemain prianya sering di perebutkan hingga tiga wanita lebih lalu sedikit-sedikit menari. Episode setiap drama India begitu panjang bagai kereta dari Mumbai ke Delhi. Akh... Pokoknya drama India aku tidak menyukainya." Miko sedikit memprotes.
"Aha-ha-ha-ha.... Tetapi sinetron Indonesia juga ada tuh yang banyak. Bahkan sampai ribuan episode. Jadi imbangkan antara drama India dan sinetron Indonesia." Dinda mulai ikut alur Miko yang suka menggosip.
Orang-orang di busway memperhatikan mereka yang sedang bergosip. Beberapa bahkan terkekeh melihat keduanya saat berargumentasi mengarah pada protes kecil.
"Makanya itu kak. Kesal gak nonton drama yang endingnya tidak jelas." Miko bergidik bicara kritik.
"Kesel sih. Tapi itu semua adalah ciri khas suatu negara. Kita harus menghormatinya."
"Pokoknya aku anti drama India maupun Indonesia. Aku pecinta drama wuxia dan kolosal China. Titik. Nggak ada yang lain." Pungkas Miko bicara membantah.
"Iya deh yang mukanya mirip artis Korea. Kakak mingkem aja dari pada julid pada drama negara lain. Karena setiap negara punya selera masing-masing dalam memilih drama." Dinda mencoba bersikap netral alih-alih membicarakan kejelekan drama negara lain yang tayang di televisi Indonesia.
"Jelas dong kalau mirip Korea, kan kita ras Mongoloid. Sementara orang India rasnya kaukosoid. Kakak harus membintangi ucapan ku ini!" Pungkas Miko sok tahu.
"Nggak boleh gitu. Kita sebagai orang Indonesia terlebih semboyan negara kita adalah bhineka tunggal Ika yang berarti berbeda namun satu jua. Maknanya dalam, kita harus saling menghargai perbedaan. Jangan menggosip lagi, orang-orang pada ngeliatin tuh." Timpal Dinda kembali menengahi.
"Oke.... Tapi aku bicara jujur kita bahwa lebih unggul dari ras orang barat." Miko tidak bisa diam bersikap membandingkan suatu hal.
Sementara orang-orang yang ada di dalam busway memperhatikan tingkah keduanya yang menggosip heboh.
__ADS_1
Dinda tidak menjawab apapun dari sikap narsisme Miko selain menjadi pendengar yang baik.
BERSAMBUNG