UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 36


__ADS_3

UNINTENTIONAL / TAK DI SENGAJA


"DARI SEBUAH KETIDAK SENGAJAAN, KETIDAKTAHUAN DAN DALAM POLOS SERTA LUGU, CINTA HADIR DALAM BENTUK TAK BIASA. KETIKA ALUR CINTA HENDAK DI LAWAN, MAKA SEKUAT-KUATNYA INSAN TAK MAMPU MENAMPIKNYA. CINTA KADANG EGOIS, TETAPI BUKAN BERARTI CINTA TAK MEMILIKI HATI. CINTA MEMANG BODOH TETAPI CINTALAH YANG MEMBUAT KITA BERSAMA. BIARKAN CINTA YANG BICARA DAN LOVE UNINTENTIONAL ADALAH ALASANNYA."


____________________________________________



Ceklek...


Pintu apartemen kembali terbuka dan di ikuti dengan seseorang masuk. Samar-samar dia terlihat seperti bocah yang familiar untuk di ingat.


"Aku pulang," ucap Niko menyapa penghuni rumah.


"Uhuk...." Miko yang sedang minum dan duduk di meja besar bagai bar kelab malam di depan pintu masuk apartemen tiba-tiba tersedak kaget.


Ia menaruh gelas minumnya ke atas meja kabinet seraya memukul-mukul dadanya agar batuknya segera reda dan di selingi sedikit dehaman, "EHMMM..." Untuk mengurangi batuk sedakan itu.


"Kakak. Kakak kenapa?" tanya Miko perhatian melihat kakaknya batuk.


"Tidak.... Tidak apa-apa."


Niko yang memperhatikannya mencoba membantu. "Tapi kakak terbatuk tuh. Sebaiknya aku bantu kakak cari obat!"


"Kakak tidak apa-apa. Ini semua karena kamu mengagetkan kakak, sehingga kakak tersedak batuk!"


Sedikit kaget bagi Niko jika ia harus menjadi penanggung jawab atas batuk itu, sehingga wajahnya dengan ekspresi sewot tak ingin mengakuinya. "Ya aku pikir semenjak kakak menjadi model, tubuh kakak sudah tidak bisa di sentuh lagi seperti sebelumnya. Apalagi ketika tidur, kakak selalu tidak mau tidur di sebelah ku akhir-akhir ini. Huh.... Kakak sudah berubah dan aku akan mengatakannya pada kak Dinda saja kalau begitu."


"Hei. Sejak kapan aku melakukannya!"


"Sejak kapan?" Niko mengulangi ucapan Miko.


Lalu Niko dengan percaya dirinya melanjutkan ucapannya penuh gairah menggelora. "Sejak semalam. Bahkan kakak merelakan ranjang besar itu untuk ku seorang. Bukankah kakak mencoba sedang menghindari ku. Lalu kakak lebih memilih tidur di sofa dengan selimut putih semalam. Bukankah kakak mencoba ingin memutuskan hubungan dengan ku?"


"Tidak ada hubungannya dengan batuk, antara aku tidak tidur di ranjang dan tidak boleh di sentuh?" Miko berkilah dengan cepat.


"Bahkan aku tadi terbatuk di karena kan kamu yang datang secara tiba-tiba dan lalu mengagetkan aku."


"Terserah kakak saja. Intinya aku akan membocorkan rahasia ini pada kak Dinda saja!" seru Niko bersi tegang.


"Sial. Aku lupa kalau Niko menyimpan semua rahasia ku. Aku tidak akan membiarkan kak Dinda tahu. Aku harus menghentikan Niko yang bermulut seperti ibu-ibu ini!" tukas Miko bicara dalam hati.


"Kak Din.......... Da...." teriak Niko mengalun.


Teriakan konyol Niko membuat Miko langsung bertindak cepat menutup mulut adiknya seraya menariknya kembali berdiri di posisi sebelumnya sebab ia ingin memberi tahu kakaknya. "Haiyah......Sssssstttttt...."


Miko menutup mulutnya sendiri menggunakan jari telunjuknya seraya memegang bahu adiknya yang tak bisa diam itu. "Ssstttt.... Jangan katakan apapun pada kak Dinda. Aku akan membawa mu Hunting Fashion jika kamu tidak memberi tahu Kaka. Bagaimana kamu setuju."


Miko menyogok mulut manis adiknya dengan rayuan yang begitu berkesan.


"Tapi aku tidak butuh itu semua. Aku sudah cukup dengan sebuah kesederhanaan ini," balas Niko dengan ketus.


"Baiklah... Aku tahu mau mu apa?" Miko memancing adiknya dengan kejutan yang tak akan ia lupakan.


"Kejutan? kejutan apa yang ingin ia tunjukan pada ku?" batin Niko bertanya-tanya ingin tahu.


Niko sangat menantikan ucapan penuh teka teki itu. Namun ia menyembunyikan dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Ta.....Da...." Miko mengeluarkan sepatu dari kardus kecil. Sepatu itu sama persis dengan yang ia gunakan.


"Bukankah ini yang kamu inginkan?" rayu Miko dengan senyum sumringah.


Niko menyaksikan hal itu. Bahkan ia sedikit terkesima atas kejutan penuh aksi terselubung itu. Hatinya berbunga-bunga dan bahagia karena benda itu akan segera menjadi miliknya. "Kakak yakin ini sepatu BELAGIO yang original. Bukan imitasi kan?"

__ADS_1


Niko menyaksikan sepatu putih itu dengan seksama penuh pesona dan pandangan matanya tak bisa berpaling.


Miko dengan bangga mendongak wajahnya dan menyilang kedua tangannya di dada lalu menyandarkan bokongnya di meja besar itu. "Tentu saja asli dan harganya sangat mahal. Cukup untuk mu menabung selama sepuluh tahun agar bisa memiliki BELAGIO itu." Miko bicara narsis.


"Kak Miko benar-benar memang yang terbaik. Aku menyukai mu kak," ucap Niko berbunga-bunga.


Miko tersenyum ketus seraya melirik adiknya tak bahagia. "Aku sudah paham jika dia akan menerima sepatu mahal itu. Jika tidak? mana mungkin dia bisa menolak menikmati hasil dari semua ini." Pikir Miko menebak ekspresi Niko.


Namun belum selesai ucapan Miko dalam hati, Niko malah membantah dengan ucapan yang tak ia duga sebelumnya. "Tetapi sepatu ini saja tidak cukup. Aku butuh belanja pakaian hari ini. Kakak harus menurutinya." Niko berekspresi ketus tak berperasaan.


"Tidak!" balas Miko dengan bantahan yang tak kalah garang.


"Aku tidak akan menuruti kemauan mu itu. Ucapan ku tadi anggap saja sudah tak berlaku."


Miko membuang muka seolah tak peduli pada Niko.


"Oke! aku akan mengatakan semua ini pada kak Dinda sekarang juga." Niko mencoba menggertak.


"Kak Din........ Da......"


"Baiklah! aku setuju!" Miko berseru terpaksa.


"Aku akan membeli semua yang kamu inginkan. Puas!"


"Sangat puas," gumam Niko dalam hati, tersenyum licik bergelora.


Niko mengangguk setuju tanpa pikir panjang dengan raut wajah berubah menjadi begitu bahagia saat mendengar ucapan itu.


Namun, Dinda yang tak sengaja melintas dengan langkah santai menuju ke dapur mendengar dan melihat tingkah keduanya.


"Beritahu apa ini? kenapa kalian main bisik-bisik. Dan Miko, kenapa kamu begitu takut jika Niko ingin memberitahu aku? katakan saja Niko apa yang mau kamu katakan ke kakak." Dinda sedikit mendengar percakapan keduanya namun tak begitu jelas.


Miko mengedipkan matanya melirik ke arah Niko sebagai kode rahasia. Niko paham pada kedipan mata itu, sehingga ia bisa mengatasi masalah ini. "Aha-ha-ha-ha... Kakak. Kami hanya berdiskusi ingin mencari makan di luar ya kan kak Miko." Niko ahli dalam hal ini, sehingga ia menyikut Miko agar membantunya dalam berbohong.


Sakit tersikut oleh Niko, namun Miko pura-pura terlihat realistis di depan kakaknya sambil mengeluarkan senyuman kecut terpaksa. "Aha-ha-ha-ha..... Iya benar kak. Kita ingin mencari makan di luar." Timpal Miko ikut berbohong.


"Niko!!!" pekik Miko dalam hati sebal pada adiknya. Dia sebal karena menyikut perutnya dengan kasar tanpa aba-aba.


Tetapi sakitnya ia selipi dengan senyum kecut sehingga terlihat bahwa Miko seperti sedang tersenyum manis.


Niko terkekeh saat melihat ekspresi Miko yang kecut. "Salah siapa menyuruh ku selalu berbohong." Gumam Niko dalam hati.


Dinda yang sedang minum, menaruh kembali gelasnya seraya memikirkan ide cemerlang. "HMM.... Kakak punya ide. Bagaimana jika kita pergi ke mall sekarang. Setidaknya hari ini masih siang."


Dinda menengok jam di tangannya dan kebetulan saat itu ia sudah mengganti pakaiannya menjadi pakaian santai. "Sekarang jam tiga lebih lima belas menit. Bagaimana kalau kita makan dan berbelanja di Mall of Indonesia. Kakak ingin berbelanja baju diskonan sekalian membelikan kalian baju juga. Bagaimana? kalian setuju?"


"Ide yang bagus kak." Timpal Niko semangat sambil menyikut perut Miko untuk kedua kalinya agar ikutan ber-uforia.


"Ah iya. Aku rasa ide itu bagus. Aku setuju kak." Miko ikut menimpal antusias dengan terpaksa.


"Niko sialan. Sudah dua kali kamu menyikut perut ku. Jika bukan karena rahasia ku ada di tangan mu, maka aku tidak akan pernah mau menuruti perintah adik sialan seperti mu!" Miko berseru sewot.


"Baiklah kalau begitu tunggu kakak mengganti pakaian yang lebih bagus dulu ya. Dan sedikit menambah make up kakak karena tadi sempat di hapus menggunakan toner."


"Aku juga mau menggantikan pakaian ku dulu. Kak Miko tunggu disini dan jangan kabur," Niko memastikan itu seraya meninggalkan Miko sendiri.


"Sialan. Aku ini kakak Niko atau adiknya? mengapa dia selalu menekankan ku seperti ini." Miko menuntut kesal dalam hati.


Tak butuh waktu yang lama bagi keduanya untuk mengubah penampilan.


"Selesai!" seru Dinda.


"Aku juga selesai. Bagaimana? bisa berangkat sekarang?" Niko antusias.

__ADS_1


Miko yang menyaksikan tingkah keduanya mencoba bicara jujur menyakitkan. "Astaga. Pergi berbelanja sebentar saja, mengapa harus dandan berlebihan seperti itu. Kalian pikir kita akan menghadiri Jakarta fashion week," Miko merajuk dengan ekspresi jengkel.


Dinda dan Niko terkekeh melihat tingkah Miko yang merajuk seperti anak kecil itu.


Dinda mengenakan pakaian kasual sedangkan Niko dan Miko terlihat nampak tampan dengan pakaian masing-masing.


Meskipun mereka kembar bukan berarti seluruh pakaian termasuk fashion mereka harus sama. Niko dan Miko suka membedakan pakaian sebab orang-orang akan keliru jika salah mengenali mereka berdua.


Miko sore itu mengenakan pakaian putih polos tanpa gambar maupun tulisan di padu dengan celana slip jeans disertai dengan sepatu keren yang ia dapati dari bekerja. Sepatu putih trendi, baju putih polos dan slip jeans hitam sangat cocok dengan visual Miko yang terlihat maskulin.


Tak lupa ia menggunakan jas besar seperti yang di kenakan oleh orang-orang yang tinggal di suhu bersalju. Jas berwarna hijau lumut itu panjangnya hingga bagian tulang kaki. Sebagai penunjangnya, Miko menambahkan masker hitam dan kacamata besar di wajahnya. Sungguh ia nampak seperti seorang artis idola sungguhan.


Sedangkan Niko tak kalah garang. Dengan pakaian trendi, Niko mengenakan baju putih polos dan sepatu yang senada dengan kakaknya namun sebagai pembeda, ia tak mengenakan kaca mata serta ia mengenakan bawahan sejenis celana olahraga di sekolahnya yang berwarna biru bergaris putih vertikal di kedua sisi pahanya. Lazim di kenal sebagai celana training.


Niko menggunakan jas yang sama dengan kakaknya dan hanya beda warna. Ia mengenakan warna kuning yang tidak terlalu mencolok.


Pakaian Niko yang sok keren dan mencoba menyaingi ketampanan Miko membuat remaja itu mengomentari gaya adiknya sore itu. Padahal tak ada bedanya wajah mereka, namun Miko sebal karena merasa sedikit ada saingan dalam hal fashion.


Terang, Miko menjadi lebih cerewet di banding sesat sebelumnya. Dia ahli merajuk.


"Sudah! Sudah! mari kita berangkat sekarang dari pada merajuk tak jelas." Dinda menengahinya.


Ya, Miko memang selalu mengomentari setiap tindakan mereka. Sangat menyebalkan tetapi itulah Miko. Sesuatu yang tak ia sukai pasti akan ia ucapkan dengan gamblang. Dinda memakluminya.


Mereka melakukannya namun hanya Miko yang terlihat terpaksa. Jika bukan karena janjinya pada Niko, mana mungkin ia akan mengikuti kemauan adiknya itu pergi ke pusat perbelanjaan dan mentraktir adiknya sepuas hati.


Cukup kesal bagi Miko jika semua rahasianya di ketahui oleh Niko yang di kenalnya tak bisa tutup mulut, kecuali harus di sogok dengan Fashion hunting. Dengan begitu adiknya barulah bisa mendiamkan mulutnya yang cerewet dan heboh itu.


Mereka sudah tiba di tujuan, karena jaraknya yang dekat sehingga butuh waktu sepuluh menit jalan kaki untuk sampai di sana. Jam masih menunjukan pukul hampir empat sore, dan saat itu mereka berada di lobby mall.


"Miko!" seru Dinda di tengah perjalanan.


"Kenapa dari tadi kamu selalu merajuk saja. Apa kamu sedang tidak enak badan?" tanya Dinda mulai memperhatikan."


Mendengar ucapan kakaknya, Miko tersentak kaget sesaat dengan wajah manipulatif.


"Ah sial!! kak Dinda mengapa selalu memperhatikan aku. Bahkan kak Dinda tahu jika aku sedang merajuk. Ini semua karena Niko sialan ini. Ingin aku melempar Niko ke sungai eufrat agar mulut ibu-ibunya tak lagi mengancam ku." Niko dalam hatinya bergumam dongkol dan jengkel.


Miko menjawab sedikit ragu atas perhatian kakaknya yang terkesan sangat mendetail. "Akh..... Tidak..... A-a-aku hanya sedang...." Miko sedikit bingung untuk menjawab.


Dinda mengernyitkan dahinya karena bingung atas ucapan itu. "Sedang?" Dinda mengulangi ucapan Miko.


"Aku hanya sedang...... Sebenarnya aku ingin segera memilih baju yang keren kak. Tapi bingung baju apa yang akan aku pilih dan sesuai dengan passion ku." Miko beralibi sedikit terdengar tak konsisten.


"Oh. Kakak pikir kamu sedang sakit. Mungkinkah kamu sedang memikirkan sesuatu yang mendesak."


"Ah... Tidak! Tidak. Aku tidak memikirkan apapun. Kakak tidak perlu memikirkannya. Aku hanya butuh referensi untuk pakaian ku yang akan ku beli." Miko berkilah dengan cepat.


"Kalau begitu, jangan cemas memikirkan pakaian yang keren untuk di kenakan. Selama ada kakak, maka biarkan kakak membantu mu mencari pakaian keren hari ini." Dinda menawarkan diri.


Miko memegang kepalanya seraya tersenyum masam tak enak. "Ah, iya. Aku pikir kakak memang bisa karena kakak ahli dalam fashion." Tukas Miko ingin menutup pembicaraan.


Dengan ekspresi semangat, Dinda dengan senang hati membantu adiknya yang bingung pada masalah sepele ini.


"Yakin kak Miko mencari baju hari ini? atau kakak sedang mengumpat ku sepanjang jalan." Niko menggoda kakaknya seraya menyikut dan menempel di tubuh kakaknya.


Niko ahli menebak.


"Bocah sialan ini selalu menggoda ku begitu." Miko menggeram sebal.


Dengan wajah sok bersikap dewasa, Miko mencoba sedikit berbahasa dengan gaya berwibawa. "Jangan berpikir aku akan melakukannya. Aku tahu jika bibir Niko yang manis tak bisa diam bagai ember pecah yang di jual oleh tukang rombengan. Tidak mungkin bagi ku mengumpat adik seperti diri mu. Setidaknya buang-buang tenaga dan pikiran saja!" pungkas Miko pura-pura tak tergoda oleh ucapan Niko.


Niko kembali terkekeh dan melihat ekspresi wajah Miko yang ekspresif. "Ya kak Miko memang ahli dalam berbohong."

__ADS_1


Niko paham siapa itu Miko. Kembarannya yang paling mudah di kendalikan olehnya dengan sikap jahil yang tak bisa di hentikan untuk sejenak.


BERSAMBUNG


__ADS_2