UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Bab 7 — Debar


__ADS_3


Bisakah Dinda marah sekarang? Kenapa bosnya itu mengikutinya sampai ke unit apartemen-nya. Sekarang bukan waktunya kesal. Dinda ingat, kalau apartemennya saat ini berantakan.


Tidak mau Steve tahu kalau dia sedang malas, Dinda menyuruhnya menunggu di depan pintu. Untuk sesaat, Steve menuruti kata wanita itu.


Bagai dikejar waktu, Dinda harus membereskan pakaian yang berserakan, bekas cemilan yang berantakan di mana-mana sampai kawanan semut amat bahagia mengangkut keripik jagung yang terbuang di lantai. Pakaian dalamnya ia taruh di sembarang tempat, serta pakaian kotor terkadang ia campur dengan pakaian bersih.


“Ah sialan, kenapa pria itu harus ikut ke apartemenku sih! Bagaimana ini, aku bahkan belum mencuci piring. Dan semua bekas cemilan ini berantakan ke mana-mana!”


Dinda mulai gelisah. Takut saja jika pria itu memergoki dirinya tengah dalam kemalasan meradang.


Hidupnya tidak terlalu malas, hanya sesekali saja ia bersih-bersih di apartemennya. Itupun bisa dihitung seminggu hanya tiga kali, termasuk saat moodnya bagus.


Setelah lima menit berlalu dan semuanya sudah siap, Dinda membuka kembali pintu apartemennya. Mempersilahkan pria yang sudah menunggu di luar masuk ke dalam. Dengan senyum sok manis Dinda membuka lebar pintu apartemennya.


Dinda membiarkan Steve masuk dan duduk di ruang tamunya sendirian. Sementara dirinya pergi ke dapur membuatkan Steve mi dan capuccino.


“Aku harap dia tidak mengacaukan semua barang-barang yang ada di sini. Semoga dia tidak memeriksa apapun barang yang dia lihat!”


Dinda cemas, sudah jelas. Sambil memasak, dirinya tidak kuasa membayangkan jika Steve melihat keadaan gubuk reyot-nya yang hampir usang. Sangat jauh berbeda dengan rumahnya yang besar.


“Oh tuhan, aku sangat berharap padamu. Semoga pria mesum itu tidak menghujat rumah reyotku ini!”


Dinda berdoa seakan Steve tipe pria yang akan mengolok orang lain. Apalagi setelah melihat rumahnya bagai emas yang terukir. Sangat ilfil bagi Dinda membawa masuk orang asing itu ke dalam unit sederhananya.


Dugaan Dinda memang benar, Steve melakukannya. Matanya yang tidak bisa berhenti melihat ruangan ke sana-kemari. Dia tertarik untuk menelaah dengan cermat apartemen hasil menyicil ini.


“Dia punya cukup uang. Perempuan ini banyak sekali rahasia!” kata Steve saat dirinya mendapati sebuah televisi besar di dalam ruangan tamu itu.


Meskipun bagi Steve gedung itu hampir ambruk, dirinya tak bisa menyangkal jika Dinda memiliki tipe yang sama dengannya.


“Bahkan dia mempunyai ruang baca buku sendiri. Jarang melihat wanita hobi membaca. Menarik!”

__ADS_1


Sebenarnya Steve tidak ingin makan mie atau pun kopi panas, tetapi dia hanya ingin tahu di lantai berapa dan nomor berapa Dinda tinggal. Steve adalah tipe manusia yang harus menuntaskan misinya. Atau jika tidak, mungkin dia akan mati menyesal dalam rasa penasaran. Dan kini rasa penasaran itu tuntas dan dirinya siap memainkan drama.


“Wanita ini sungguh memikat. Apakah aku sudah mulai terobsesi padanya?”


Steve tersenyum sedikit berseri berbeda dengan dirinya seperti biasa. Dia membayangkan wajah cantik Dinda meskipun bibir itu mengatakan Dinda jelek, namun hatinya tak bisa berbohong. Dinda cantik.


“Tidak mungkin aku suka padanya, dia hanya rubah kecil yang nakal. Lihat saja besok dia akan mengalami kehidupan yang menyenangkan setelah malam ini.”


Steve tahu jika dirinya mulai berdebar, namun ia masih bingung pada perasaannya. Apakah secepat ini dia menyukai seorang wanita?


Pikir Steve bahwa ia sedang dalam masa balas dendam, sehingga tak ada niat baginya untuk terobsesi pada Dinda.


“Ini terlalu dini gadis jelekku untuk jatuh cinta padamu. Aku masih ingin kamu melayani lku sampai kamu menyerah.”


Akhirnya apa yang ia harapkan bisa terkabul berkat id card Dinda. Berkat benda itu, Steve bisa menemukan dia. Tidak lain, adakah karyawan di perusahaannya sendiri.


Dari dapur, Steve mendengar langkah kaki Dinda. Steve tahu jika Dinda sudah selesai memasak, sehingga ia dengan cepat bergegas kembali ke tempatnya semula. Sofa.


“Syukurlah dirinya duduk dengan nyaman!” Tidak ada yang lebih nyaman saat ini, selain takut Steve mengobrak abrik rumahnya. “Pak Steve, ini makanan yang anda pesan. Semoga Anda menyukainya pak!”


Dinda sebenarnya kesal. Ulah pria itu dirinya harus bersusah payah menambah beban cuci piring yang menumpuk.


“Ehm ..., sebenarnya aku sudah tidak lapar lagi. Karena kamu begitu lama menyiapkan mie ini. Bisakah kamu yang memakannya untukku, setidaknya kamu mewakiliku?”


Lagi-lagi Steve memancing kemarahan Dinda.


Seketika mood wanita itu berubah bagai panci panas yang siap meledak.


“Pria berengsek, beraninya dia menjahiliku!”


Dan kembali lagi, Dinda ingin marah. Dalam hati Dinda, dengan mode tanduk di kepalanya sebagai imajinasi marah, Dinda ingin sekali menerkam Steve. Pria perut karet ini, selalu saja berulah.


“Bisakah Bapak tidak menolak masakanku. Bapak tahu, tubuh kecilku ini baru saja menyelesaikan diet ketat. Atau bisa saja Pak Steve membawanya pulang dan disantap di rumah Anda.”

__ADS_1


“Benarkah? Tapi aku rasa, aku harus pulang sekarang karena ada pekerjaan mendesak.” Steve mengalihkan pembicaraan. “Kamu tahu, Paman Lu tadi menghubungiku—bahwa ada dokumen yang harus ditanda tangani segera. Jadi maafkanlah aku karena telah menolak masakanmu yang amat lezat ini. Sungguh suatu penyesalan karena tak bisa mencicipinya.”


Dengan tingkah drama yang baik dia berhasil meyakinkan Dinda. Lalu ia pergi seenaknya meninggalkan makanan yang telah di buat oleh pelayan barunya itu.


“Pria ini sungguh menjengkelkan!”


Dinda rasanya ingin menjerit melihat tingkah pria sok keren itu. Kenapa orang-orang kaya dan sempurna, selalu saja menindas orang-orang yang lemah. Orang-orang yang tercipta dari kentang tidak berguna.


“Oh iya, besok pastikan kamu tetap sehat dan datang lagi ke rumahku. Masak yang enak dan yah berikan sedikit sentuhan rasa yang luar biasa. Agar aku sehat sehingga aku bisa berpikir jernih dan tidak mesum lagi seperti yang kamu ucapkan!”


Dibalik pintu, masih sempatnya dia menggoda Dinda juga membuat amarah gadis ini meningkat. Steve adalah satu-satunya, dan bahkan tidak akan lagi Dinda menemukannya di dunia ini. Satu-satunya pria paling menjengkelkan di dunia ini.


“Pria kurang ajar!” kata Dinda pelan dengan emosi tak tertahankan.


Tanpa sadar mulutnya menyeruput mie kuah yang telah dia hiasi dengan berbagai toping pelengkap.


“Dia pikir dia siapa beraninya memerintah orang seenaknya saja. Apa dia pikir dia anak sultan yang harus di layani.”


Dinda melampiaskan kekesalannya pada semangkuk mie. Meskipun mie yang ia santap masih amat panas, itu takkan lebih cukup panas dari emosinya yang berdebar.


Sementara Steve, pria itu sangat senang atas tindakannya tadi. Tahu tempat tinggalnya, tahu apartemennya, dan juga dia siap untuk memainkan tingkahnya esok.


“Wanita ini terus saja membuatku penasaran pada kehidupan pribadinya. Aku pastikan bahwa aku tak akan melepaskanmu wanita jelekku. Kita lihat, setelah ini akan aku buat kamu menyerah padaku!”


Dengan senang hati, Steve berandai-andai. Dia ingin, suatu hari wanita itu akan memohon padanya untuk lepas dari genggamannya yang dingin.


Dari semua wanita, hanya Dinda yang berani melakukan tindakan perlawanan padanya. Bahkan dari semua wanita yang mendekatinya kebanyakan dari mereka akan menuruti apa yang Steve inginkan. Namun Dinda? Wanita itu terbilang amat berani dan tak takut akan konsekuensi atas apa yang telah ia lakukan.


Sungguh Steve sangat menyukai permainan dan trik Dinda dalam memikat dirinya. Membuat Steve masuk ke dalam sisi lain kehidupan wanita itu, rasanya Steve tertantang.


“Dia bukan polos, tetapi cukup tangguh untuk dihadapi.”


Setidaknya, itu adalah pandangan Steve. Kenapa dia mulai gila? Karena Dinda adalah obsesi Steve sejak melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2