UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 43


__ADS_3

Ini bukanlah terhitung sebagai sebuah kencan bagi Dinda. Tetapi Dinda menganggap ini sebagai makan formal menemani bosnya.


Sejak pagi, hingga malam hari Steve tanpa henti membawa Dinda ke tempat-tempat umum. Mungkin melepaskan penat karena di buru deadline, begitu yang di rasa oleh Dinda.


Lelah, tetapi tidak boleh membantah, itulah posisi yang di hadapi oleh Dinda yang malang. Setidaknya kertas perjanjian itu membuat Dinda tertahan dalam Kungkungan Steve. Bukan kejam, tetapi lebih pada pertanggungjawaban kejadian di malam hari itu.


Malam ini Steve membawa Dinda ke suatu tempat. Seusai mengunjungi beberapa tempat rekreasi seperti taman hiburan, wahana ekstrim, hingga pergi ke pantai mereka kunjungi sejak pagi. Alakadarnya, sebab tidak ada rencana untuk mengunjungi tempat-tempat itu.


Tadinya, Dinda bertanya kemana Steve akan membawa dirinya pergi setelah seharian menemani pria itu mendatangi beberapa tempat umum macam menemani anak kecil jalan-jalan. Tetapi, Steve tidak menjawab pertanyaan Dinda, justru dia memegang lengan Dinda dengan erat, wajahnya begitu serius dan fokus melangkah menuju ke suatu tempat.


Awalnya Dinda tidak tahu kemana pria itu akan membawanya pergi, namun kini dinda paham kemana tujuan mereka.


Kini, keduanya berada di tempat yang sangat tinggi. Tinggi, lebih tepatnya saat ini mereka ada pucuk atap gedung yang amat tinggi. Kira-kira tingginya enam ratus meteran, sebab dari semua gedung yang mereka lihat dari atas, hanya gedung ini, gedung yang mereka pijak-lah yang paling tinggi.


Dinda melihat kelap-kelip indahnya malam kota Jakarta dari pemandangan yang begitu luas nan tinggi. Lampu-lampu menyorot terang dan bisingnya suara kendaraan terdengar jelas. Suara sirine mobil di mana-mana.


"Wow...." Ucapan itu keluar dari mulut Dinda saat Steve membawanya ke tempat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Seakan Dinda sedang ada di atas puncak gunung Everest menyaksikan pemandangan di bawahnya.


Suasananya sederhana, hanya di temani oleh landscape kota yang sibuk oleh kendaraan bejibun yang berlalu lalang di bawahnya. Tetapi, sensasinya seakan sedang berlibur di kota new York. Sesekali segarnya udara malam menerpa mereka sehingga pakaian mereka berkibar berantakan.


Dinda memegang dan mengusap kedua bahunya, tanda bahwa ia sedang sedikit dingin. Steve melihat wanitanya merasakan apa yang ia rasakan. Dingin, kedua tangan Steve pun merasa bahwa denyut nadinya seakan membeku di udara yang tidak lebih dari setengahnya udara di Russia. Udara salju hingga berminus-minus derajat Celcius. Tetapi ini Jakarta, kota panas di siang hari dan dingin di malam hari, seperti sedang tinggal di daerah gurun.


Steve, pria yang tidak romantis ini paham jika Dinda butuh penghangat. Steve mengenakan pakaian tebal, sebab dia sudah terbiasa mengenakan baju semacam itu sejak kecil, alhasil kulitnya putih sangat, bebas bulu.


Ia melepaskan parlente-nya yang besar, lalu memakainya untuk Dinda. Di bahu Dinda, parlente cokelat milik Steve terpakai dengan nyaman.


"Cuaca malam ini sangat dingin, kamu pasti tidak kuat merasakannya," ucap Steve membisik di telinga Dinda.


"Tidak perlu repot-repot Pak. Aku nyaman dengan cuaca seperti ini." Dinda menolak dengan halus maksud Steve tersebut. Setidaknya Dinda mencoba bersikap realistis bukan mendramatisir.


Tetapi bukan Steve namanya jika di tolak oleh dinda lalu menyerah begitu saja. Dia tetap melakukan apa yang ingin ia lakukan. "Jangan menolaknya, atau rezeki mu akan berkurang hingga dua puluh persen." Steve kembali membisik penuh godaan.


Dinda tidak heran, karena ia tahu bahwa Steve akan melakukannya. Ucapannya seakan sedang dalam bernegosiasi.


Di tempat ini, suasana hati Steve terlihat seperti sedang tidak begitu semangat dan tidak dalam suasana yang baik pula. Dinda tak tahu mengapa? Namun yang pasti Dinda melihat bahwa Steve seperti sedang memikirkan sesuatu. Sendu, itu lah yang cocok dengan ekspresi wajahnya.


Seusai memakaikan parlente-nya yang hangat dan memegang bahu Dinda tadi, Steve langsung menuju ke pojokan gedung. Lebih tepatnya ia menyandarkan sikunya di atas dinding kaca pembatas atap gedung. Dia berprilaku aneh, tetapi rasional dan realistis di hadapan Dinda.


Tidak seperti biasanya, itulah yang Dinda rasakan. Biasanya Steve bertindak semaunya bahkan tadi pagi pun ia merasa bahwa pria itu sedang hangat-hangatnya bersikap.


Tapi kini dia berubah kembali seperti biasanya, Steve tanpa ekspresi. Hati Dinda terketuk ingin tahu mengapa pria itu sedikit terlihat murung.


Ia mendekati Steve, berharap jika Steve mau menceritakan apa yang suasana hatinya rasakan saat itu.


Dinda sedikit ragu, namun ia bertekad melakukannya. "Pak Steve. Apakah bapak sedang memiliki sebuah masalah?" Dinda bertanya membuka percakapan.


Dinda mencoba mengerti Steve walau pria itu terkadang membuatnya sebal.


Steve terdiam, sorot matanya yang tajam melirik ke arah Dinda yang sudah berdiri di sisi kanannya.


Tetapi tak lama, ia kembali fokus pada tatapan kedepan memandang indahnya malam kota Jakarta.


"Apakah kamu tahu apa tujuan ku membawa kamu kesini?" Kini mulut Steve mulai bicara santai.


"Tidak!" Jawab Dinda tidak tahu.


"Memangnya ada apa dengan tempat ini Pak?" Lanjut Dinda bicara sembari bertanya.

__ADS_1


Steve menarik nafas panjang. Dia seakan ingin mengambil intro sebelum bicara. "Sebenarnya, tempat ini adalah tempat rahasia ku. Tempat bagi ku sebagai pelarian ketika aku sedang dalam situasi sulit. Tetapi, hari ini, tepat malam ini, kamu setidaknya mengetahui tempat rahasia ini secara tidak langsung."


"Rahasia?" Ucap Dinda tak paham.


"Ya. Rahasia.... Rahasia bahwa aku sering kesini saat sedang dalam masa sulit." Steve mencoba menjelaskan.


Angin malam menderu kencang, mengibaskan rambut keduanya.


Dinda tertegun sejenak, hatinya bertanya-tanya apa maksud dari ucapan Steve. "Mungkinkah, Bapak sedang bernostalgia di sini?" Dinda mencoba menebak situasi.


Steve tersenyum seraya menatap wajah Dinda. "Lebih dari itu."


"Sebenarnya, ada begitu banyak yang tidak bisa di pahami akan dunia ini. Keji dan saling berdaya saing, mungkin semuanya akan terjadi dalam kehidupan kita. Tetapi, aku hanya ingin menyampaikan suatu hal pada mu." Tambah Steve.


"Suatu hal?"


Steve mulai bicara sedikit santai dan sesekali ia menunjukan ekspresi hangat pada Dinda.


"Iya.... Sesuatu yang mungkin tidak bisa aku tahan lagi." Ungkap Steve.


Dinda tidak paham pada ucapan Steve yang terkesan aneh. Dia tidak ingin berpura-pura bodoh hanya demi memahami situasi ini.


Steve mendekati Dinda perlahan. Wanita yang berdiri sisinya itu terlihat sedang tenang dalam kebingungan. Steve menatap matanya lalu memegang kedua bahunya dengan erat. Steve memulai bicara serius. "Dinda. Aku tahu ini mungkin terdengar aneh, tetapi aku ingin mengatakannya dengan jelas. Jadilah kekasih ku."


Steve memberanikan diri berbicara langsung pada intinya.


"Ke-ka-sih...." Dinda mengulangi ucapan Steve seakan tak percaya atas apa yang ia dengar.


"Iya menjadi kekasih ku. Aku tahu ini terkesan terburu-buru, tetapi aku sudah mengatakannya sebanyak tiga kali. Bahkan kamu sendiri sudah mendengarnya namun belum memberikan jawaban sama sekali." Ujar Steve merespon cepat.


Pupil mata Dinda bergetar dan berkedut sebab tak bisa ia menatap wajah Steve yang bercampur menjadi satu dalam satu ekspresi.


Dinda menggigit bibir bawahnya yang ranum. Dia mulai meragukan ucapan itu. "Apakah ini termasuk sebuah hal dalam melamar?" Tanya Dinda memastikan.


Steve membelalakkan matanya, karena ucapan itu sedikit lucu namun aneh. Ucapan yang terkesan memancing dirinya agar melakukan hal yang lebih luas lagi.


Steve bingung, sudah jelas itu. Dinda mengerti bahwa dirinya sedang bicara aneh padahal jelas-jelas ia sudah tahu jawabannya. Dalam kesalahan bicara, dinda mencoba memperbaiki suasana bicaranya yang kebablasan.


"Tidak.... Maksud ku, apakah hari ini kita sedang kencan sungguhan," tambah Dinda meralat ucapannya tadi.


Steve mengangguk, dia tersenyum sedikit ramah lalu kedua tangan yang sebelumnya berada di bahu, kini menyentuh bagian wajah Dinda. Ia mendongak wajah Dinda agar menatap wajahnya. Maklum saja, tubuh Steve yang tinggi mungkin membuat Dinda merasa sakit di leher jika melakukannya.


"Jadilah kekasihku dan aku berjanji akan melindungi mu jauh lebih dari diri ku sendiri." Ujar Steve kembali menggombal.


"Tetapi, melamar seseorang seperti ini..... Aku merasa kurang romantis." Dinda menghardik steve.


"Benar juga ya. Mengapa aku tidak memikirkan ini dari tadi. Seharusnya aku menyiapkan tempat romantis dulu tadi sebelum melakukannya. Akh..... Sial..... Aku ceroboh. Aku memang lelaki payah yang kurang romantis." Gumam Steve mengumpat dalam hati.


Mendengar kata-kata Dinda tadi, Steve merasa malu. Setidaknya ucapan itu benar, tetapi sudah terlanjur dikatakan. Mau tidak mau Steve harus melanjutkan apa yang sudah ia ucapkan.


"Menurut mu begitu..... Tetapi menurut ku, ini...... Jauh lebih romantis dari pada yang lain. Walau aku belum pernah menjadi budak cinta seumur hidupku." Steve bicara apa yang ia pikirkan di benaknya saat itu. Ucapan yang terlintas seperti meteor yang mengorbit bumi. Gamblang, karena tidak memikirkan lebih dahulu apa yang hendak di ucapkan.


"Kamu tahu, bahkan Eskabunadzer pendiri taman gantung di Babilonia beribu-ribu tahun yang lalu, saat melamar istrinya pun tidak bersikap romantis. Mungkin aku adalah Eskabunadzer di dunia modern yang tidak seromantis Shakespeare. Karena saling mencintai adalah pokok utama dalam suatu hubungan." lanjut Steve bicara sok membenarkan apa yang ia lakukan. Ia mengakuinya dan beralibi hebat dengan mengambinghitamkan raja Babilonia.


"Tapi Pak....." Dinda ingin berkilah, namun Steve langsung menyambar ucapan Dinda.


"Aku mengatakan ini, di atas gedung ini, semuanya karena aku tidak mau meniru pasangan lain. Dan aku merasa bahwa tempat ini adalah yang paling cocok untuk mengulangi perasaanku. Jadi, aku mohon jadilah kekasih ku."

__ADS_1


Dinda tidak tersentuh, sebab perlu waktu untuk menjawabnya. Ini soal hati, sehingga ia harus bertindak sesuai apa yang hatinya inginkan.


"Apakah kamu bisa mempertimbangkan aku?" Steve tak sabaran. Ia butuh jawaban yang pasti.


Dinda bingung harus mengatakan apa? Terlebih Steve bicara mendadak. Ia tahu Steve mengatakannya sebanyak tiga kali, tetapi entah mengapa hatinya masih bimbang. "Sebenarnya...... Aku...."


"Jangan di jawab sekarang. Aku tahu kamu butuh waktu untuk menjawabnya. Sebagai simulasi, bagaimana mulai besok aku akan bersikap ramah dan terbuka pada mu. Apa kamu setuju." Ujar Steve berusaha memenangkan hati Dinda.


Dinda memegang erat kerah bajunya. Ia sedikit memikirkan ucapan Steve, walau sedikit bingung baginya untuk memberikan jawaban. "Aku....... Aku tidak bisa memastikannya. Tetapi aku akan mencoba sebisa ku."


"Mengapa harus mencoba? Bukankah langsung berusaha lebih baik. Aku memaksa." Timpal Steve bersikap hedonis.


Dinda menarik nafas panjang. Ia tahu bahwa Steve adalah tipe pria yang ambisius. "Baiklah...... Aku akan mencoba berusaha."


"Berusaha apa?"


"Berusaha...... Aku berusaha...." Entah mengapa Dinda merasa sangat gugup untuk menjawab. Steve ahli dalam membuat dirinya mati kutu sehingga tak bisa berkata apa-apa.


"Tatap mata ku. Dan berusahalah agar mencintai diri ku yang kejam ini." Ucap Steve menggombal.


"Aku tidak bisa memastikannya, tetapi berusaha mencintai seseorang mungkin aku bisa melakukannya sebisa ku bagaimana pun caranya."


Steve tersenyum puas saat mendengar ucapan itu. Setidaknya ia akan melakukan yang terbaik kala ada harapan di wajah Dinda yang bingung. Takluk, mungkin Dinda saat ini sudah mulai menyadari ketulusannya.


"Bolehkah aku memeluk sebagai tanda bahwa aku benar-benar menyukai mu." Steve meminta.


"Aku.... Belum...."


Ucapan Dinda belum selesai, tetapi Steve sudah lebih dulu menarik Dinda kedalam pelukannya.


"Kamu belum siap dengan semua ini bukan," ucap Steve menebak.


Dinda tahu, pasti Steve akan mengetahui apa yang ia pikirkan.


Dinda mencoba berontak sedikit dan ingin keluar dari pelukan itu, tetapi Steve justru makin semangat memeluknya.


"Aku mohon, tetaplah dalam pelukan ku dan rasakan kehangatan ku."


Dinda tak bisa berkata apapun kecuali terdiam. Dinda mulai merasakan kehangatan seorang pria yang begitu sempurna di matanya. Dinda tenggelam dalam pelukan Steve, terlebih aroma tubuhnya memikat dan membuat Dinda hapal pada bau wangi yang begitu elegan.


Steve mengelus rambut Dinda yang lembut. Nyaman, itulah yang Steve rasakan terlebih inilah yang ia inginkan.


"Aku benar-benar menyukai mu, ku mohon pertimbangkan ucapan ku. Dan berikan aku jawaban yang memuaskan besok." Bisik Steve sekali lagi pada Dinda.


Dinda tidak berjanji, tetapi ia ingin memikirkan hal ini dengan matang.


Dalam pelukan Steve, Dinda menikmatinya. Detak jantung Steve ia rasakan. Sama seperti apa yang ia rasakan, jantungnya berdegup kencang. Detaknya dua kali lebih cepat dan memburu.


"Dia berbeda dari pria lainnya. Dia suka bertindak sesukanya, tetapi dia tidak pernah bersikap memaksa bahkan dia suka bertindak kasar namun dia juga kadang lembut." Dinda mulai memikirkan Steve.


Entah berapa lama lagi Dinda mencoba tidak ingin merasakan arti cinta, tetapi Steve datang dalam kehidupannya lalu menggoyahkan hati kecilnya akan cinta. Setelah empat tahun hatinya merasa kosong, kini sebuah warna datang mengisi organ itu.


Dinda berkecamuk dalam bimbang.


Seandainya waktu itu dia tidak bertemu dengan pria malang di taman tepat setelah hujan mengguyur, mungkin saja Dinda saat ini tidak akan merasakan apa itu artinya cinta. Namun Dinda tidak bisa menghindar dari hal ini. Dia tahu, badai drama akan segera menerpa entah kapan, namun Dinda sudah mulai mengikuti alurnya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2