UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 164


__ADS_3

“Hik. Hiks. Hiks. Aku di bilang belum meninggal. Dasar pria bodoh. Hiks. Aku resign juga karena dia.”


Mira berjalan keluar dari ruangan Zico dalam keadaan kesal. Ucapan Zico mengatakannya belum mati, seakan menusuk jantungnya. Matanya mulai sembab, lantaran di singgung kasar oleh Zico.


“Jika bukan karena tunggakan ku banyak. Mana mungkin aku akan bertahan di sini. Kenapa semua pria itu tidak ada yang peka. Kenapa Zico malah menyukai wanita lain. Hiks.”


Dari balik pintu kacanya, Zico mengintip suara isak tangis wanita itu. Kemudian Zico cengingisan menahan kekeh.


“Aku tahu kalau Mira menyukai ku. Hanya saja aku tidak bisa membalas cintanya. Aku tidak mau memaksakan diri untuk menyukai orang lain. Aku benci terkungkung.”


Zico kembali ke meja kerjanya, dia mencoba melupakan kisah tadi.


“Maaf jika aku menolak kejam dan tidak menghargai perasaan mu Mira. Semoga kedepannya kamu bisa menemukan pria yang jauh lebih baik dari ku.”


Zico memang pria ideal bagi Mira. Walau sudah lama memendam perasaannya pada Zico, namun tetap saja. Di mata Zico, Mira hanya teman sejawat biasa. Tidak lebih. Zico tidak Meu membalas perasaan seorang wanita yang sudah di anggapnya saudara sendiri.


Jalan Mira agak berat, seiring sakit hatinya di katakan oleh Zico. “Belum meninggal,” kata-kata itu seakan membuat Mira makin tidak berani melihat Zico lagi.


“Ah. Salah besar aku mencintainya. Salah besar mengenal Zico. Hiks.”


Zico sudah memiliki seorang tunangan pagi ini. Jadi tak ada harapan untuk Mira. Kecuali harus mencari penggantinya.


Barang-barang kantor yang sudah dia kemas, kembali di bongkar kasar oleh Mira. Semua di kembalikan ke tempatnya semula.


Pikirannya masih berputar pada dua kejadian. Yaitu di mana dia tanpa sengaja melihat makan malam romantis Zico. Dan kedua, kejadian hari ini. Dia belum meninggal. Ah, Mira merasa dunia tidak adil baginya. Zico mengatakannya dengan kasar. Itu bukanlah Zico yang dia kenal.


“Tuhan. Aku salah apa pada mu.”


Ketika Mira sedang gundah, teman-teman sejawatnya terkekeh melihat penderitaannya. Kemudian mereka bisik membisik.


“Baru di tolak Pak Zico. Jadi galau Mbak Mira. Hihi.”


Ah, bisikan mereka terdengar oleh Mira. Dia tidak marah, hanya bisa menahan malu.


“Mereka semua tahu kalau aku suka pada Zico. Sial,” gerutu Mira pelan.


°°°°°°°°°°°°°°


Miko menggenggam erat tangan Selena. Dia membawanya ke taman, yang mana sangat cocok untuk rekreasi di tengah kosongnya kegiatan mereka. Ada banyak orang di sana, tempat ini memang asik untuk berkencan.


“Ko,”


Miko menengok, kala suara dari tangan yang dia pegang bersuara amat lembut memanggilnya.


“Ada apa?”


Selena mengulu* tersenyum, satu tangannya yang bebas berkeliaran menarik kerah baju Miko.


“Aku rindu,” bisiknya pelan.


Miko merendahkan lehernya, namun tak sampai sejajar dengan kepala Selena. Wajahnya amat masam, dengan menaikkan kedua alisnya.


“Kamu jangan mencoba mencari keuntungan dari kencan pertama kita. Ini ambigu.”


“Aku jujur Ko. Aku rindu!”


Mata Selena menyapu sekeliling tempat, sementara tempat yang akan mereka tuju masih ada di ujung taman.


Aman. Walau banyak pengunjung, namun tak banyak yang memperhatikan mereka.


Selena menarik lebih kencang lagi kerah baju Miko, hingga badan tinggi itu makin mendekat di wajah Selena.


“Apa ini maksudnya, Selena?” tanya Miko agak gugup.


Selena mendekati bibirnya, dia berusaha meraih bibir merah Miko. “Maaf.” Hanya kata itu, tapi sedetik setelahnya wanita ini benar-benar mencumbui bibir Miko.


Sial. Miko belum siap. Gadis ini sudah melakukannya. Miko mencoba mendorong badan Selena agar mereka menjauh. Tapi wanita ini mengunci caruk leher Miko, sampai Miko tak bisa menghindar dari ciuman itu.


Bibir Miko mulai basah oleh bibir merah Selena. Bahkan bibir Miko mulai tertular lipstik yang di gunakan oleh wanita ini.


Kurang ajar. Ini di tempat umum. Bagaimana kalau orang-orang melihat ku. Pasti mereka akan berkata aku model mesum. Selena. Wanita sialan. Wanita setan. Apa yang kamu lakukan pada bibir ku.


Miko mengumpat kesal dalam benaknya, namun tak urung dia tidak bisa menolak bibir gadis yang sudah menghabisi bibirnya.


Gadis itu tidak berhenti melakukan ciumannya. Sementara Miko makin merona dan berdebar, sebab dia belum terbiasa. Degup jantungnya makin kencang, sementara bibirnya yang di Raup lembut oleh Selena, menahan rasa aneh yang belum pernah di bayangkan sebelumnya.


Oh, tuhan, usia ku masih enam belas tahun, belum juga memasuki tujuh belas tahun. Tapi wanita ini sudah mengajari ku berbuat mesum. Buruknya, aku tidak bisa menghindar dari ciuman ini. Jir. Selena, kamu akan aku cekik jika aku punya kesempatan.


“Hah. Lega rasanya.”


Sialnya bagi Miko. Ini ciuman terlama yang pernah dia rasakan. Walau ciuman sudah berakhir, namun Miko tetap mamatung bak manekin. Napas yang memburu perlahan kembali normal.


Selena mengusap lembut bibirnya, karena dia menghisap habis liur Miko. Pria di hadapannya tak berdaya, sedangkan Selena menyeringai tersenyum puas.


“Napas pacar ku sangat segar. Aku makin cinta.”


Selena mungkin bisa tersenyum bangga, sebab sudah mencium Miko. Tapi Miko, dia tidak biasa. Suer, Miko merasa seperti sedang di ajarkan cara menjadi pria ******** oleh wanita ini.


“Selena,” ucap Miko dengan pandangan kosong.


“Kenapa? Mau lagi?”

__ADS_1


Tanpa berpikir sepuluh kali, Selena melakukan ciumannya lagi. Di tariknya leher Miko, seperti sebelumnya, gadis ini masih sangat perkasa untuk ciuman pagi ini.


Miko membesarkan matanya, kelembutan dari bibir Selena telah membiusnya hingga tak mampu berbuat apa-apa. Ciuman kedua ini, membuat Miko justru makin tak berdaya.


Apa-apaan ini. Kenapa dia melakukannya lagi. Oh tuhan, aku remaja yang polos. Kenapa aku tidak bisa menghindar dari perlakuan kejam ini. Aku tidak mau menjadi pria nakal. Aku mohon, seseorang selamatkan aku. Bibir ku tidak perjaka lagi.


“Ini ciuman kita yang ketiga,” kata Selena mengakhiri ciumannya.


Miko menelan ludah pahitnya susah payah, suer. Dia tidak mau seperti ini. Dia tidak mau menjadi pria nakal dan jingan. Tetapi Selena, dengan entengnya malah menjerumuskannya dalam jurang jingan.


“Kamu......”


Selena mengangguk. “Aku tidak mau, bibir pacar ku di miliki wanita manapun.”


Miko memaksa terduduk lemas di atas anak tangga taman yang membentuk lingkaran. Dia merasa shock berat.


Selena ikut terduduk di sebelah Miko. Tidak peduli kalau Miko akan kesal karena ulahnya, yang terpenting Selena sudah melakukannya. Ciuman terindah yang pernah di rasakan oleh Selena.


“Kamu memberikan kesan yang tidak baik untuk remaja seusia kita.”


Miko berkata, tapi tidak menatap Selena. Dan wanita ini tahu, Miko belum terbiasa dengan ciuman seperti ini.


“Kamu takut kalau anak-anak atau remaja yang sedang kasmaran juga akan meniru perbuatan kita?” tanya Selena.


“Hem.....” balas Miko mencoba berhemat bicara.


Selena menyandarkan kepalanya di bahu Miko, mereka menatap tugu yang ada di depan mereka.


“Jangan takut Ko. Aku tahu batasan ku. Ciuman ini tidak terlalu liar, jika di bandingkan dengan mode pacaran anak jaman sekarang yang terbiasa free sex.”


“Usia kita masih muda Sel. Kenapa kamu tidak takut kalau kita akan berbuat yang tidak-tidak,” Miko berdelik. Melirik sekilas wajah Selena, kemudian kembali mengalihkan pandangannya. “Aku seorang pria. Bisa jadi kalau aku khilaf, kita akan berbuat lebih jauh lagi. Aku tidak mau menjadi ayah muda.”


Selena cengengesan terkekeh. Miko benar-benar polos. Rasanya Selena bangga, karena bisa mengambil keperjakaan pria yang sudah berwajah memerah ini. Apalagi telinga Miko tadi panas memerah, itu tandanya Miko benar-benar masih perjaka tulen. Tak ada yang menyentuhnya sedikit pun. Kecuali Selena. Hihi.


“Aku tahu kamu pasti takut kalau kita akan berbuat free sex. Yang awalnya berawal dari ciuman, kemudian menjamah lebih dalam lagi hingga tanpa di sadari kita sudah berbuat dosa. Lalu aku hamil, kemudian aku melahirkan anak dan kita nikah di usia muda. Aku tahu kamu memikirkan itu.”


“Uhm......”


“Ko,” rengek Selena. Dia melihat rahang tegas Miko dengan lirikan mata jengah. “Aku tahu kamu pria yang baik. Kamu tidak akan berbuat kasar atau kamu akan melakukan hal-hal mesum yang merusak anak gadis orang. Aku tahu, kamu. Kamu adalah pria baik-baik. Dan itulah kenapa, sejak saat melihat kamu. Aku bisa menilai, kalau kamu adalah pria yang pas. Pria yang bisa di andalkan.”


Glek. Menyesalnya aku menjadi pria baik. Tahu begitu, sejak awal aku menjadi pria b*jingan sekalian. Aku bastard, apakah orang-orang akan menyukai ku. Ah, sial.


Miko mengembuskan napas, sesekali dia menatap matahari yang menyinari mereka.


“Aku hanya tidak mau kalau kita berada di fase menjijikan itu. Aku hanya mau, wanita yang menjadi kekasih ku, berasal dari karakter yang baik.”


Karakter baik. Hihi.


Selena terkekeh. Bukan karena ucapan Miko tadi, tapi karena Miko berpikiran terlalu jauh tentangnya.


Demi apa, Miko tidak tersentuh.


“Lalu?”


“Jika kamu tidak keberatan. Bisakah aku mencium pacar ku lagi.”


Miko mengelak, dia mencoba menghindar dari Selena. Ngeri. Di cium gadis ini, bisa mati Miko kalau Selena terus melakukannya.


“Nggak mau. Aku masih polos.”


“Ko.....”


Selena sangat aktif, Miko yang sudah menjauhkan wajahnya dari wajah Selena, masih saja dia kejar.


Hingga Miko terjatuh pun demi menghindar dari bibir Selena—tetap saja. Anak setan ini masih kasar.


“Sel. Aku tidak mau orang-orang melihat kita.”


“Biarin.”


“Selena!”


Tidak tahu, Miko malah menjadi lemah di depan wanita ini. Dia seperti pesumo. Hebat, tenaganya kuat. Miko saja tidak bisa menghindar dari Selena.


“Sel... Hemph.......”


Sial. Wanita itu lagi-lagi berhasil mendapatkan bibir Miko. Ibu, bibir anak mu tak perjaka lagi.


°°°°°°°°°


Dinda, Steve dan si kecil baru tiba dari rumah sakit. Rasanya lega, si kecil sudah kembali normal. Dia kembali aktif. Kini anak dan bapak itu sedang ada di balkon kamar, sedangkan Dinda baru saja hendak turun ke bawah.


“Anak Ayah. Kedepannya jangan sakit lagi ya. Ayah nggak mau, Iqbal di suntik lagi. Ayah takut, Ayah tidak mau kalau Iqbal menangis.”


Di cium berkali-kali si kecil, rasanya tidak bisa lepas perhatian Steve pada putranya itu. Walau sedetik, rasanya dia tidak berani lengah dari wajah manis buah hatinya.


“Ehe.”


Si kecil terlihat riang, saat Steve mengembang kempiskan pipinya.


“Anak Ayah menggemaskan.”

__ADS_1



Kebiasaan Steve, dia suka menghirup napas anaknya sendiri. Katanya napas Iqbal kecil lebih harum, segar dan nikmat. Steve menimang-nimang si kecil, bolak balik seperti seterika di balkon kamarnya. Dia pria introver pertama yang tidak bisa lepas dari putranya.


Dari belakang, Stevie datang sambil membawa dua gelas jus jeruk. Tumben. Setidaknya dia baik pagi ini.


“Minum dulu jusnya. Biarkan Iqbal aku yang menggendong.” Stevie mengambil si kecil, sementara sang Ayah memberikan putranya pada Stevie.


“Hati-hati. Aku tidak mau anak ku terluka atau kulitnya lecet,” kata Steve memperingati. Tak ubahnya dia tetap memberikan si kecil pada Stevie.


Memang, si wanita ini sangat menyukai anak kecil. Steve tidak keberatan, karena Stevie terlihat agak ahli di banding dirinya.


“Sayang kecil Tante. Sudah sembuh yah.” Saat melihat mata indah Iqbal, Stevie ikut gemas. Sama seperti Steve tadi, wajah Iqbal kecil tak bisa tenang dari ciuman orang-orang itu.


Steve duduk di kursi, sedangkan Stevie bergantian menimang-nimang si kecil, menggendongnya dalam pelukan.


“Iqbal sekarang sudah berusia sembilan bulan. Tidak lama lagi dia akan memasuki usia setahun. Kapan kalian akan membawanya ke Shanghai.” Stevie mengingatkan, manik-manik matanya melirik Steve.


Steve mendesah, menyandarkan punggungnya di kursi memanjang di balkon kamarnya ini.


“Mungkin belum genap setahun, kami akan ke shanghai.”


“Secepat itu?” Stevie mengerutkan keningnya. Wajah itu sudah mulai nampak panik dan khawatir.


“Jika kakak tidak mau ikut kami ke Shanghai. Kakak bisa lebih lama tinggal di sini bersama asisten rumah tangga.”


Inilah yang paling Stevie takutkan. Dia tidak berharap Steve akan kembali ke Shanghai. Namun sudah keputusan akhir, dia tidak bisa mengganggu gugatnya lagi.


“Kakak sebenarnya enggan kembali kesana. Tapi......”


“Kakak takut?”


Stevie mengangguk. “Jauh lebih buruk dari mimpi.”


Stevie menghela napas lelah. Ketakutan itu membuatnya harus bersiap menghadapi situasi ini.


“Menurut ku. Sebaiknya kakak terima saja keputusan Papa. Jauh lebih baik kalau kakak menerima jackson.”


Mungkin hanya saran yang Steve katakan. Selebihnya, keputusan ada di tangan Stevie. Namun—


“Bukan seperti itu Steve yang aku inginkan,” kata Stevie berkilah. “Aku belum siap menjadi seorang istri.”


“Oke. Aku memang tidak tahu keputusan kakak. Hanya saja, aku tidak bisa memaksa kakak untuk ikut kami ke Shanghai. Kakak yang menentukan jalan hidup kakak, dan aku hanya sebagai seorang pemberi saran, bukan orang yang akan mengatur hidup kakak.”


“Ya. Aku tahu itu.”


“Setidaknya kakak memikirkan diri kakak juga.”


Ketika sedang berbincang, handphone Steve yang dia letakkan di atas meja, berdering. Stevie memanjangkan lehernya, ingin tahu siapa yang menghubungi Steve.


Mata kecil Steve memicing. Dugaannya benar, si Papa yang menghubungi Steve.


“Papa video call,” kata Steve pada kakaknya.


“Kam jawab, tapi katakan aku tidak ada di rumah,” balas Stevie tidak berharap.


“Tapi Kak.......”


“Ssstttt.......” Stevie tidak membiarkan Steve memberitahu keadaanya pada sang Ayah. Oleh karena itu, Stevie lebih memilih menghindar. Iqbal kecil di kembalikan pada Steve, dan wanita itu langsung pergi. “Katakan aku sedang liburan di bali.” Sebelum meninggalkan balkon, Stevie memperingati.


“Huh.... Harus buat alasan lagi.”


Steve menjawab panggilan video call itu, walau berat namun Steve memaksanya untuk menjawab.


“Hallo Pa.”


°°°°°°°°°°


Matahari tengah terik-teriknya bersinar. Rasanya, kulit putih Niko terbakar jika terus berada di bawah sinar ultraviolet ini.


Hampir setengah dua belas, dia belum menemukan alamat yang di tuju. Niko memandangi sekali lagi kartu nama tempat yang akan dia tuju. Bunga-bunga yang di bawanya sudah terlihat layu, Niko juga sudah lesu kebingungan mencari alamat ini.


“Sial. Dari tadi sudah berputar hingga empat kali di komplek ini. Masih saja belum ketemu alamatnya. Sebenarnya yang pesan bunga ini, manusia atau setan sih. Kenapa sulit sekali menemukan alamatnya.”


Di gazebo taman tepat di depan komplek perumahan, Niko duduk sebentar. Rasanya ingin mengeluh sebab dari tadi dia tidak menemukan alamat yang di tuju.


“Oh tuhan. Bunga-bunga itu sudah layu. Pasti pemilik bunga akan komplain kalau begini akhirnya. Ah, ****.”


Jika Niko bisa menangis, mungkin dia akan menangis kesal saat itu juga. Namun tidak bisa, dia bukan pria yang mudah mewek.


Batu-batu krikil yang ada di depannya, dia lempar di kolam kecil. Mencoba menghilangkan kegilaan siang ini, mungkin jauh lebih baik.


Tapi, matanya tak sengaja melihat dua orang yang amat dia kenal. Seketika Niko beranjak berdiri, saat dua orang itu berpegangan tangan.


“Mereka......”


Ide buruk kalau melihat sepasang dara sedang kasmaran melintas di hadapannya. Percaya tak percaya, namun kenyataannya mereka terlihat intim.


“Kak Vanya dan kak Zico. Nggak mungkin kan......... Pacaran.”


Aku nggak salah lihatkan. Itu kak Vanya dan kak Zico. Masa iya mereka pacaran. Secepat ini.

__ADS_1


Niko mengerjapkan matanya, mencoba mengikuti dua orang di hadapannya itu. Entah mereka melihat atau tidak, Niko membuntuti keduanya. Mereka menuju ke taman, kebetulan di sana ada stan makanan pinggir jalan.


“Bangke. Mereka pacaran.”


__ADS_2