UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 52


__ADS_3

Suara telepon berdering dari dalam tas kulit Dinda yang berwarna merah muda. Tas yang ia pangku di pahanya, sedikit terlihat bermerek walau sebenarnya adalah tas tiruan kelas satu.


Dinda menggenggam teleponnya itu. Tertulis "Pak Steve" memanggil.


Dinda sebenarnya masih penasaran kemana pria itu tadi menghilang. Di saat di cari, dirinya menghilang tetapi di saat tidak di cari justru dirinya on time terlihat dua kali dua puluh empat jam.


Dinda menghela nafas lesu. Dia tidak tahan untuk menjawab panggilan telepon Steve. Dinda hanya menatap layar teleponnya, tetapi Miko meliriknya penasaran.


"Kenapa gak di angkat? Siapa tahu penting!" Miko memberi sedikit saran.


"Bukan apa-apa sih sebenarnya, hanya Pak steve. Nggak penting."


"Yakin? Siapa tahu penting. Kakak kan tahu dia paling tidak suka kalau di cuekin. Nanti dia baper gimana?" Miko mencecar bicara fakta.


Sedangkan handphone Dinda terus bergetar dengan nada yang makin menggema.


Dinda mempertimbangkan ucapan Miko. "Benar juga sih." Gumam Dinda setuju pada perkataan Miko.


"Iya deh kakak angkat." Dinda memelas sedikit terpaksa.


"Iya hallo..."


"Aku ada sedikit pekerjaan di rumah, jadi aku butuh bantuan mu sekarang. Datang kerumah secepatnya, karena ini mendesak." Steve memotong pembicaraan tanpa membiarkan Dinda bicara terlebih dahulu.


"Tapi Pak ini kan sudah malam." Jawab Dinda sembari menatap jam tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul sembilan lebih tiga belas menit. Dia berpikir apakah akan terburu jika dia kesana sesegera mungkin.


"Aku bilang sekarang. Aku butuh bantuan. Ini mendesak. Pokoknya sekarang sudah jalan menuju kerumah ku. Jangan membantah dan mencari alasan apapun." Tukas Steve lalu secara sepihak memutuskan panggilan teleponnya.


Tut..... Tut......Tut....


"Lah.... Kenapa di matiin sih. Yang butuh bantuan siapa? Yang harus repot siapa? Aneh!" Dinda menggerutu sedikit sebal.


"Kenapa kak? Dia bilang apa?" Miko bertanya sedikit penasaran. Dia tidak mendengar percakapan keduanya sebab suara busway mengatakan, "Halte selanjutnya, Matraman." Ya itu mengganggu pendengaran Miko sehingga tidak mendengar apa yang di katakan oleh Steve tadi.


"Dia meminta ke rumahnya sekarang. Katanya ada pekerjaan mendesak." Balas Dinda singkat.


"Jadi Kaka mau kesana?" Miko menebak.


"Malas sekali mau kesana. Tapi katanya mendesak."


"Menurut Miko sih siapa tahu memang benar dia butuh karyawan dadakan sekarang. Sebaiknya kakak kesana mungkin dia berharap, karena kakak kan sedang leisur time Sekarang." Dengan sikap sok bijak Miko memberi saran.


"Adik kakak memang yang terbaik dalam hal menjerumuskan kakak menuju jurang penderitaan." Dinda tersenyum sok manis sembari mengelus tengkuk kepala Miko.


"Jurang penderitaan? Maksudnya" Miko tidak paham pada perkataan kakaknya. Sehingga dia mengulangi ucapan itu di selingi dengan pertanyaan terselubung.


"Bukan apa-apa." Jawab Dinda singkat.


Mungkin Miko menanggapi ucapan kakaknya dengan nada bingung. Bingung bagaimana mencerna ucapan penderitaan. Pikir Miko kakaknya sedang phobia pada suatu hal.


"Eh kita sekarang ada di halte mana ini. Kita sudah sampai di AEON mall belum?" Tanya Dinda mengubah pembicaraan. Dia baru sadar bahwa dia tidak memperhatikan rute perjalanan mereka. Lehernya menengok kanan kiri melihat tanda di mana mereka sekarang. Sedikit panik karena Dinda berpikir mereka akan tersesat.


Miko dengan santai menunjukkan jarinya ke arah pintu peron busway. "Tuh penunjuk digital mengatakan kita sedang ada di halte Matraman."


"Oh... bagus deh. Kaka pikir kita sudah ko tersesat hingga kampung rambutan. Kan repot nanti kalau kita kelewatan rute." Dinda menghirup udara segar melepaskan kelegaannya.


"Mana mungkin kita bisa sampai di halte kampung rambutan. Kakak kira aku tidak memperhatikan rute. Memangnya kenapa kak? Ada perlu apa di AEON mall?" Tanya Miko ingin tahu.


"Bukan apa-apa. Sebaiknya kita mendatangi rumah Pak Steve. Benar kata kamu tadi, mungkin dia sedang membutuhkan bantuan sekarang." Dinda berubah pikiran setelah mencerna dengan benar ucapan Miko tadi.


Miko mengernyitkan dahi seraya memasang ekspresi begitu aneh. Aneh menanggapi ucapan kakaknya yang labil. "Tadi bilangnya gak mau kesana. Sekarang tiba-tiba berubah pikiran. Semua cewek emang sama ya, pada labil."

__ADS_1


"Itu tadi. Sekarang beda hal. Udah pokoknya kita turun sekarang dan kamu temani kakak kesana." Dinda memaksa. Dia menarik tangan Miko dengan paksa keluar dari busway dengan langkah seribu bak penjahat yang sedang melarikan diri.


"Iya! Iya.... Aku akan menemani kakak." Miko menuruti permintaan kakaknya. Mereka kini pergi menuju kerumah Steve walau malam telah menunjuk waktunya untuk istirahat.


"Eh kak.... Tadi bukannya Pak Steve ada di hotel bareng kita kan. Terus tadi dia kemana ya, kok menghilang? Katanya ke toilet sebentar, tapi sampai selarut ini dia hilang gitu aja." Di tengah perjalanan mereka Miko bertanya.


Dia ingin tahu di mana pria itu tadi pergi.


"Entah? Mungkin dia ada urusan lain. Positif thinking saja, siapa tahu dia sedang ada keadaan yang mendesak." Dinda bicara lugas dan logis menjawab pertanyaan Miko saat itu.


"Iya sih. Benar kata orang. Kalau di butuhkan pasti dia tidak akan datang. Tetapi disaat tidak di butuhkan bisa seharian bertatap muka. Anehnya realita kehidupan. Terkadang lucu saat kita butuh seseorang tetapi orang itu justru tidak ada."


"Yah, intinya Pak Steve tidak melihat kejadian tadi. Kamu tahu kan, kalau dia melihat kejadian tadi pasti sikap kasarnya akan keluar. Pokoknya jangan bahas dia lagi." Dinda mengakhiri pertanyaan rancu Miko.


Miko menuruti saja apa yang di ucapkan kakaknya.


"Iya. Kita akhiri percakapan menggosip Pak Steve. Siapa tahu sekarang dia sedang bersin-bersin karena sedang di bicarakan."


"Nah itu paham." Timpal Dinda setuju.


Mereka jalan kaki menuju rumah Steve, melewati trotoar yang lumayan ramai pejalan kaki. Rumah Steve tidak jauh dari halte bus, sehingga menjangkaunya lebih mudah saat keluar dari busway.


****


Pemikiran Dinda untuk mendatangi rumah Steve terbesit tidak teratur. Namu dia berpikir dengan matang sepertinya Steve memang butuh bantuan. Tidak tahu apa? Mungkin minta bantu memasak.


Dinda menebak jauh meninggalkan ekspektasinya.


Mereka tiba di depan rumah Steve.


Miko memandang bagian depan rumah Steve yang sangat besar dan tinggi. Miko takjub pada rumah yang berdiri dengan gaya sedikit ada khas china-nya. Di atas atap rumah Steve di pasang beberapa patung naga yang di cat berwarna kuning emas.


"Rumahnya besar amat sih kak!" Miko sedikit berbicara terkesima melihat rumah Steve.


"Iya dia sangat kaya. Sampai-sampai rumahnya saja sudah seperti istana di atas awan." Pungkas Miko sembari matanya menyapu setiap sudut rumah Steve yang begitu besar dan megah.


"Bahkan rumahnya saja ada yang terbuat dari kaca. Tamannya pun bersih dan sejuk. Air mancur pun keren. Benar-benar orang kaya milenial." Miko bergumam takjub saat matanya melihat bangunan yang terlihat mirip paviliun. Tetapi sekilas mirip dengan museum leuvre di Perancis. Bangunan putih bersih yang berdiri tepat di dekat taman dan berdinding serta beratap kan kaca.


"Tahu gak kemarin juara berapa kekayaannya versi Forbes?" Dinda membisik memberi celetukan pada Miko.


"Berapa?"


"Sedikit lebih kaya dari Mukesh ambani." Bisik Dinda pelan.


"Seriusan kak?" Miko bertanya memastikan kebenarannya.


Sedangkan Dinda mengangguk kan kepalanya membenarkan kekaguman adiknya itu.


"Oh... Muslim terkaya sedunia yang rumahnya saja bertingkat itu kan! Pengusaha kaya raya dari india itu kan kak!" Miko membalas sedikit takjub.


"Hmmm..." Angguk Dinda sekali lagi membenarkan ucapan Miko.


Mulut Miko ternganga lebar. Dia sedikit takjub dan di tambah sedikit tidak percaya. "Inilah faktanya!" Pungkas Dinda yang paham pada pemikiran adiknya.


"Ck... Benar-benar the real of Sultan di kehidupan nyata. Seandainya aku terlahir menjadi seorang wanita, mungkin aku akan mengejar Pak Steve. Ck... Luar biasa kaya." Miko mendercit tak bisa diam. Dia terus saja terpesona pada kehidupan mewah Steve.


"Walau kamu terlahir sebagai perempuan, itu tidak akan menjamin kalau dia bakalan suka sama kamu. Karena dia punya kriteria tersendiri." Dinda berusaha mematahkan pemikiran adiknya yang polos itu.


"Aku tahu itu. Tetapi kakak pernah mikir gak sih kalau pak Steve ini seperti cerita dalam sebuah novel. Kaya, ganteng, tinggi, perpeksionis, dan tiada tandingannya. Apa aku beralih jadi novelis saja ya terus menceritakan kisah hidup Pak Steve dalam sebuah novel. Kira-kira para pecinta novel bucin pasti akan jatuh hati pada kisah ini. Menurut kakak gimana? Oke gak ide ku ini." Celetuk Miko bicara aneh-aneh.


Dinda menanggapinya sedikit tertawa penuh olokan. Dia tidak pernah berpikir sebelumnya jika Miko punya pemikiran seperti itu. "Jangan terlalu mengkhayal. Nanti kalau novel yang kamu buat booming terus gak sengaja di baca Pak Steve, terus dia tahu kalau itu adalah kisahnya. Mungkin dia akan minta royalti bahkan jauh lebih besar dari pendapatan penulis. Kamu emangnya sanggup kasih dia royalti delapan puluh berbanding dua puluh. Dia itu lebih licik dari yang kamu pikirkan."

__ADS_1


"Iya juga ya." Gumam Miko sepemikiran dengan kakaknya.


"Tapi dia memang beneran perpeksionis kak. Seperti perpaduan antara ratusan ras. Pokoknya dia paling sempurna deh kalau menurut ku." Miko melanjutkan bicaranya yang penuh pujian itu.


Dinda melirik Miko meledek. Dia terkekeh mendengar pengakuan adiknya itu. "Dia memang sempurna, tapi permainannya kasar. Hati-hati kamu nanti di terkamnya."


Dinda berlalu meninggalkan adiknya yang masih sedikit terpaku di depan gerbang rumah Steve. Sementara Miko masih melihat kesana kemari rumah Steve yang megah ini.


"Luar biasa kaya. Aku pikir hanya ada di novel atau drama saja yang ada pria sempurna macam Pak Steve. Tetapi kini dia jauh lebih keren ketimbang yang ada di drama." Miko bergumam makin takjub.


Tampak luar saja rumah Steve sangat megah, apalagi di dalam.


Pikir Miko dia sedang ada di istana Cordova di Spanyol saat melihat ornamen rumah Steve.


"Kak ini rumah apa istana? Megah amat." Bisik Miko dengan celetuk terkesan takjub.


"Ini istana. Istana megah milik king of Solomon di Jerusalem." Jawab Dinda melucu.


"Kak. Apa Pak Steve sudah pernah bertemu dengan bill gates?" Miko kembali membisik.


"Sssttt... Dia bahkan sudah pernah bertemu dengan ratu Inggris ke dua."


"Ratu Elizabeth ya kak?" Tanya Miko kembali yang masih penasaran.


"Sudah jangan tanya apapun lagi. Nanti dia tahu kalau kita menggosip." Pungkas Dinda menutup pembicaraan.


Miko patuh, dan dia tidak bertanya apapun setelah ini. "Iya... Oke... Aku akan diam!"


Mereka berdua berdiri tepat di ruang utama Steve. Paman lu, dengan pakaian rapi seperti biasanya bahkan kumis tebal menggantung di bibir bagian atasnya menyambut kedua kakak beradik itu dengan ramah.


"Selamat malam Nona. Tuan Steve sudah menunggu di ruangan kerjanya." Ujar paman lu.


Seperti biasa, baik pelayan maupun atasan mereka seolah tahu kapan Dinda akan datang.


"Terima kasih paman lu atas sambutan paman." Balas Dinda sedikit merendahkan diri.


Paman lu sedikit memberikan senyum terbaiknya. Dia tidak biasa berbasa-basi tetapi dia ahli dalam bicara lemah lembut.


"Oh iya. Ngomong-ngomong dia siapanya anda Nona?" Paman lu sedikit terpaling pandangan pada Miko yang ada di sebelah Dinda.


"Dia adik ku, kebetulan dia menemaniku kesini malam ini." Dinda menjawab lugas. Dia menyikut Miko agar memperkenalkan dirinya pada paman lu.


Miko paham. Dan dengan segera dia langsung mengeluarkan kata-kata manis dari mulutnya. "Perkenalkan paman. Nama ku Miko," ucap Miko bicara lembut sembari membungkukkan badannya pada paman lu.


"Miko. Nama yang bagus dan juga sesuai dengan karakter mu. Tampan, bahkan kamu juga lembut." Puji paman lu.


"Terima kasih paman atas ucapannya."


Paman lu mengangguk sembari tersenyum. "Kalian memang kakak adik yang manis," lanjut paman lu memuji.


Dinda tersenyum saat pria tua itu memuji merekam. Sementara tongkat kecil di tangan paman lu kini ingin menuntun Dinda menuju ke ruangan Steve.


"Nak Miko! Tunggu di sini saja. Aku akan segera kembali setelah mengantar Nona Dinda ke ruangan tuan Steve." Pesan Pama lu pada Miko. Dia meminta Miko duduk dengan nyaman di sofa empuk tuan rumah.


Miko menyetujuinya dan dia selaku tamu menuruti perintah empunya rumah. Mata Miko menyapa seluruh ruangan yang ada. Tak satu pun dari ornamen bahkan penghias ruangan yang tak ia lihat.


Matanya jeli menangkap semua hiasan yang ada di dalam rumah Steve. Semuanya di tafsir oleh Miko berjumlah triliunan jika di jual di tempat pengepul barang-barang mewah.


Dinda dan paman lu kini benar-benar telah meninggalkan Miko sendirian. Mereka hilang di balik pintu yang terlihat mengarah ke kolam dan taman yang mengarah ke sebuah bangunan.


Bangunan yang terbuat dari kaca dan terlihat dengan jelas di dalamnya berisi seperti rak buku besar dengan deretan buku berjejeran rapi.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2