UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 94


__ADS_3

"Masih pagi buta Bu," ucap Dinda menyambangi ibunya yang sedang menjemur pakaian di atap rumah. "Ibu nggak pakai baju tebal. Memangnya Ibu nggak merasa kedinginan?" kata Dinda seraya membantu Ibunya menjemur sekeranjang pakaian basah.


"Ibu sudah terbiasa bangun pagi," jawab Ibu Yuri. "Nggak enak rasanya kalau bangun pagi hanya termangu melamun," Ibu Yuri bicara sambil memeras baju dan menyepi-nya di tali penjemuran.


"Ibu selalu bilang begitu," Dinda agak jengkel. "Selalu bilang nggak mau termangu kalau sudah bangun pagi. Memangnya Ibu wonder women yang selalu kuat, sampai-sampai menghiraukan kesehatan diri sendiri," Dinda mengomel, dia sebal pada Ibunya yang bertingkah acuh tak acuh pada kesehatannya.


"Ibu kan juga butuh ruang gerak, biar tulang-tulang sendi Ibu nggak kaku," Ibu Yuri melihat Dinda yang membantunya menjemur pakaian. "Kamu terlalu berlebihan pada ibu," kata Ibu Yuri bertingkah seolah-olah dia kuat. "Ibu nggak suka berdiam diri, apalagi kalau nggak ngapa-ngapain."


Dinda menggeleng, dia menyerah untuk mengomeli ibunya yang keras kepala.


Dinda duduk di kursi setelah membantu Ibunya. Dia masih mengenakan baju tidur berbunga-bunga. "Hari ini Dinda libur kerja Bu. Mau jalan-jalan keliling Jakarta?" Dinda beralih bicara. "Sekalian refreshing, siapa tahu Ibu penat di rumah setiap hari."


"Ibu sudah tua. Nanti Ibu akan kelelahan kalau jalan-jalan. Nafas ibu saja sudah tidak kuat untuk di tarik," ujar Ibu Yuri menampik ide Dinda. "Ibu mau menyibukkan diri di rumah saja."


"Ibu yakin nggak mau keliling Jakarta walau sebentar?"


"Ibu bukan anak muda lagi yang harus jalan-jalan ke seluruh pelosok kota," jawab Ibu Yuri mengelak. "Kamu nggak perlu repot-repot membawa itu keluar jalan-jalan."


Dinda mengangguk kecil. Wacananya tidak terlaksanakan membawa Ibunya pergi menelusuri kota Jakarta seperti yang pernah ia janjikan beberapa waktu lalu.


Niko juga ada di rooftop tempat Ibu Yuri dan Dinda berbicara pagi.


"Tumben olahraga?" tegur Dinda. Niko berlalu di hadapannya, menuju ke tengah rooftop bersama dengan alat-alat olahraga.


"Lagi ingin saja kak, memangnya nggak boleh kalau berolahraga?" tandas Niko.


"Nggak masalah sih. Cuma terlalu nyentrik saja pakaian olahraga kamu pagi ini," Dinda menatap Niko mendetail. "Mana pakai bandana, pakai skiping pula. Kamu mau olahraga apa mau menjadi model Victoria secret?" katanya meledek.


"Biar.... Ganteng Niko, nggak luntur kak...." Niko menjawab meloncat-loncat sambil memutarkan tali skipingnya, nafasnya mulai tersengal-sengal. "Kalau Niko nggak ganteng, nanti nggak ada yang mau sama Niko."


Dinda meledeknya dengan wajah jelek. "Kalau mencintai seseorang hanya karena melihat fisiknya saja, itu bukan mencintai namanya. Hanya sekedar menganggumi, dan suatu saat pasangan kamu akan bosan melihat wajah kamu yang mulai terlihat tua," Dinda sedikit menyombongkan diri. Dia mengutip kata-kata Steve pada dirinya saat ada di pesawat.


"Bicara kakak sudah bijak, kenapa nggak sekalian saja kakak jadi motivator. Di jamin acara kakak bisa trending," celetuk Niko membual.


"Hush.." Dinda mengibaskan tangannya, menampik bicara Niko. "Kata-kata itu bukan motivasi. Kakak hanya mengutip dari seseorang."


"Pasti Steve," sambar Niko. "Pria itu sudah membuat otak kakak jadi konslet."


Miko tidak begitu menghiraukan bicara Dinda, dia hanya fokus pada lompat talinya yang telah menguras tenaga.


Hingga Miko juga datang ke rooftop menghampiri Ibu Yuri. "Bu, Miko keluar main sebentar ya dengan teman-teman," Miko mengambil tangan Ibunya yang basah lalu menciumnya. "Bau sabun tangan Ibu."


Ibu Yuri mengusap rambut Miko. "Ibu baru saja menjemur pakaian kalian, pastilah bau sabunnya masih menempel."


"OOO... gitu," Miko mengangguk. "Ya sudah, Miko berangkat sekarang ya Bu," Miko beranjak. Saat itu pagi hari pukul enam. Miko sudah terlihat sangat rapi dan wangi, khas anak muda jaman sekarang.


"Rapi banget," Dinda menyela langkah adiknya. "Jangan bilang mau pemotretan."


"Sssssttt....." Miko mendesis menutup mulutnya dan mengisyaratkan pada Dinda bahwa ada Ibu mereka. Miko memanyunkan bibirnya sambil mengedipkan matanya ke arah sang Ibu. "Miko ada pelajaran kelompok, makanya harus datang pagi," Miko berdalih, lalu pergi.


"Ck...." Dinda men-decak melihat tingkah Miko yang sudah berani berbohong.


Ibu Yuri mengekori Miko yang meninggalkan rooftop. Pekerjaannya di pagi itu sudah selesai, Dinda juga mengikuti Ibunya.


Yang tertinggal di rooftop hanya Niko, mereka mengabaikannya.


"Masak apa pagi ini Bu?" tanya Dinda. Dia berdiri di meja dapur, sedangkan Ibu Yuri memilah sayuran di lemari pendingin.

__ADS_1


"Masak seperti biasanya saja," balas Ibunya. "Sayang, sayur dari kemarin nggak di masak. Sudah pada layu."


Dinda amat lelah melihat ibunya yang selalu menyayangkan sayur layu. "Nanti kalau sayurannya rusak, tinggal beli yang baru Bu. Kenapa harus menganggap bahwa kita kekurangan bahan makanan."


Ibu Yuri mengeluarkan semua sayuran dari kulkas, lalu meletakkannya di atas meja. "Kalau semua manusia berpikir begitu, berpikir sehemat yang kamu ucapkan, mungkin Ibu tidak akan belajar dari kehidupan anak-anak panti yang selalu bersyukur karena memiliki tempat tinggal dan makan. Itulah prinsip dasar kita yang selalu hidup sederhana, jangan membuang-buang sesuatu yang sangat di butuhkan."


"Tsk," Dinda men-decak. Dinda mendekati ibunya, lalu menatap wajah sang ibu yang terlihat murung. "Ibu merindukan anak-anak panti?"


Ibu Yuri mengembuskan napas panjang. "Setiap kali Ibu melihat sayur-sayur layu ini. Ibu selalu teringat pada anak-anak yatim piatu itu," ucap Ibu Yuri. "Tidak tahu apakah mereka hari ini sudah makan atau belum. Apakah makanan yang mereka makan lezat atau tidak. Apakah mereka di perlakukan dengan baik oleh kepala panti atau tidak, Ibu tidak tahu."


Wajah tua Ibu Yuri mengkhawatirkan anak-anak panti itu sangat jelas terlihat muram. Dinda memegang pundak Ibunya, dia merasa bersalah karena tidak memahami Ibunya. "Maafkan Dinda Bu," Dinda berkata sayu. "Maafkan Dinda yang tidak bisa mengerti Ibu. Ibu sudah melakukan banyak hal, tapi Dinda dengan entengnya menyuruh membuang sayur yang masih terlihat segar," Dinda mengaku. "Sekali lagi maafkan Dinda Bu," katanya mengiba.


Ibu Yuri membalikan badannya, dia memegang tangan Dinda. Wajah putrinya ikut murung karena membahas kisah haru ini.


"Kamu tidak salah," kata Ibu Yuri berusaha berkata tegar. "Ibu hanya memberitahu bahwa hidup sederhana tidak harus melihat kehidupan orang-orang yang berada di atas kita, tapi kita harus melihat kehidupan orang-orang yang ada di bawah kita. Agar kelak kita tidak mawas diri lalu menyamakan kehidupan kita dengan orang-orang yang hidup bergelimangan harta."


Dinda mengerti maksud Ibunya, dia merasa di berikan pencerahan oleh sang Ibu di pagi hari. "Terima kasih Bu," Dinda memeluk Ibunya. "Terima kasih telah mengingatkan Dinda."


Ibu Yuri tersenyum, dia membelai rambut lembut Dinda. "Ibu tidak mau kalau anak-anak Ibu sukses dan kedepannya menjadi sombong menghamburkan harta. Ibu akan bahagia jika anak-anak Ibu sukses namun sederhana!" tukas Ibu Yuri menasehati.


Dinda makin terharu, dia tidak bisa menolak nasihat Ibunya. "Ibu benar, Dinda harus bersikap bijak sekarang."


Niko yang masih berolahraga di atas rooftop, tidak sengaja melihat mobil hitam terparkir di depan rumah mereka. Dia melihat, penasaran siapa yang hendak bertamu di rumah mereka.


"Kak Steve," Niko tidak terkejut tidak juga kaget. Dia tahu bahwa pria itu tidak bisa jauh dari kakaknya. "Pria itu tidak ada bosan-bosannya main kerumah."


Niko melihat jam tangannya, matahari sudah agak meninggi. "Pantas saja dia datang, sekarang sudah jam tujuh!"


Niko meninggalkan rooftop, dia menghampiri Ibu Yuri dan kakaknya yang sedang memasak.


"Ada kak Steve tuh di depan gerbang," ucap Niko sambil mencuci tangan di wastafel. "Dia rindu pada kekasihnya yang cantik," Niko bertingkah.


Niko mengendus ketiaknya, bahkan sangat dalam dia menghisap aroma tubuhnya sendiri. "Kakak kalau ngomong suka ngelantur," tandas Niko. "Aku pakai deodoran, mana mungkin bau. Ngada-ngada saja!"


"Niko," Ibu Yuri memanggilnya. "Jangan ganggu kakak mu, biarkan dia bebas dulu hari ini," ibu Yuri menyela Niko yang jahil.


"Niko tidak mengganggunya Bu," jawab Niko acuh tak acuh. "Niko hanya memberitahu kak Dinda, kalau pria kolot itu ada di depan."


"Iya kakak dengar kalau kamu bilang dia ada di depan," sahut Dinda. "Nggak perlu mengulanginya hingga dua kali."


Niko menggeleng, dia mulai kesal pada Dinda. "Sudah di beritahu, bukannya bilang terima kasih, malah di omelin," Niko menggerutu, lalu meninggalkan keduanya begitu saja. "Nasib menjadi anak bungsu, selalu di salahkan," Niko menambahkan gerutunya.


"Samperin dulu Nak Steve, biarkan Ibu yang melanjutkannya," perintah Ibu Yuri pada Dinda.


Dinda menuruti Ibunya, dia meninggalkan dapur.


Suara bel listrik rumahnya terus berbunyi, Steve mulai bertingkah sepagi ini. "Steve," di depan pintu, Dinda menyapanya dengan senyum hangat. "Kamu...."


"Apakah aku menggangu kamu sepagi ini?" tanya Steve.


Dinda menggeleng. "Tidak sama sekali," jawabnya santai. "Memangnya ada perlu apa datang sepagi ini? Bukannya hari ini libur?"


Tangan Steve yang berada di belakang punggungnya, ia keluarkan di ikuti sebuah buket bunga cantik berwarna merah terang.


"Apa ini?" tanya Dinda tak paham.


"Ini bunga pertama yang aku berikan untuk kamu sejak kita resmi pacaran," jelas Steve. "Aku membelinya spesial untuk kamu."

__ADS_1


"Kenapa harus repot-repot seperti ini," Dinda tersipu. "Aku sebenarnya tidak begitu membutuhkan bunga seperti ini. Aku sudah senang dengan sikap kamu, jadi bunga ini sebenarnya aku tidak menyukainya."


"Kita bicara di depan pintu, apa kamu tidak mau mengizinkan aku masuk?" Steve menegur Dinda, wanitanya mulai lupa bagaimana menyambut tamu.


"Oh, iya, maaf," karena melihat Steve datang sepagi ini, Dinda menjadi gugup. Bahkan melupakan hal lainnya termasuk meminta Steve masuk ke dalam rumahnya. "Ayo masuk dulu, kita bicara di dalam," pungkas Dinda berbasa-basi.


Duh, kenapa aku lupa. Jangan sampai Steve menganggap aku tidak sopan, tuhan selamatkan aku dari kata-katanya nanti, ungkap Dinda. Dia mengekori Steve yang masuk kedalam rumah kecilnya.


"Aku membawakan Niko sepasang sepatu baru, tidak tahu apakah dia suka atau tidak. Aku memberikannya khusus untuk dia," Steve memberikan sebuah kotak sepatu pada Dinda, dia duduk dengan manis.


Niko yang tak sengaja melintas, mendengar ucapan Steve. Dengan cepat dia menyambar kotak sepatu yang ada di tangan Dinda. "Ini serius untuk Niko kak?" Niko berkata takjub. Ekspresi wajahnya nampak girang. "Kak Steve beneran membelikan aku sepatu, mana mahal pula."


Mata Niko tak bisa menahan rasa senangnya karena di berikan sepatu mahal oleh Steve. Sepatu yang paling dia inginkan. "Kalau begini, semua koleksi sepatu BELAGIO Niko akhirnya lengkap!"


Steve tersenyum melihat adik Dinda yang kegirangan itu. "Sepatu BELAGIO ini produksinya terbatas. Hanya memproduksi sebanyak lima puluh dua buah, dan itu sudah terbagi-bagi ke beberapa negara untuk di jual. Kakak ingat kamu, jadi kakak memberikannya satu pasang untuk kamu," jelas Steve. "Kakak nggak lupa kalau kamu penggemar Belagio," lirih Steve berkata manis pada Niko.


"Wah," Niko ternganga dan merasa tersanjung karena mendapatkan sepatu impiannya dengan mudah. "Kak Steve memberikan aku sepatu semahal ini. Apa kak Steve nggak merasa rugi. Harganya saja hampir menyentuh angka enam puluh juta loh," singgung Niko. "Kak Steve memang pria yang berbeda dari pacar kak Dinda yang lainnya."


"Apa? pacar?" Steve tersentak kaget. Dia menatap Dinda, membesarkan matanya, meminta penjelasan dari Dinda.


Dinda mengerti maksud lirikan tajam Steve. Dengan cepat dia menjelaskan. "Maksud Niko, kamu adalah pria yang paling baik, makanya dia sering berkata ceplas-ceplos."


Steve mengernyitkan dahinya, tidak tahu Dinda berkata benar atau tidak. Yang jelas Steve tidak mau jika di masa lalu Dinda dia memiliki banyak kekasih.


Niko memberikan Perhatiannya yang tidak lepas dari sepatu yang sedang ia coba. Bahkan pas, Steve pandai dalam memilih ukuran sepatu untuknya. "Sepatu semahal ini, aku tidak percaya bisa memilikinya dengan mudah," Niko bergumam takjub.


Steve mendengus, harga sepatu yang di berikan kepada Niko tidak ada apa-apanya bagi Steve. "Hanya hadiah kecil, aku senang jika memberikan kamu sepatu ini."


"Terima kasih kak," Niko berkata lada Steve. "Sebaiknya aku pergi dulu, kak Steve ingin membawa kak Dinda, silahkan saja. Aku mengizinkan mewakili ibu," tukas Niko, meninggalkan keduanya.


Dia tidak peduli pada yang lain, selain sepatu mahal yang sudah ia idamkan sejak dulu.


Niko bersiul girang menuju kamarnya. Dia mencium dan menghirup aroma sepatu yang masih terbungkus kotak.


"Kotaknya saja di buat seharga satu juta, tidak salah kalau pengguna sepatu ini kelas atas," Ucap Niko. Dia mengenakan sepatunya, berdiri di depan kaca besar, menyentak sepatu yang menyelimuti kakinya. "Kak Steve memang yang terbaik," di dalam kamarnya, Niko memuji Steve.


"Dia memang seperti itu," Dinda menyela Steve yang tertawa geli melihat tingkah Niko. "Kamu jangan heran melihat tingkah adik-adik ku!"


"Adik kamu, adik ku juga," timpal Steve. "Jangan terlalu sungkan pada ku. Aku juga menyukai mereka, Niko dan Miko mengingatkan aku pada masa remaja ku," ungkapnya.


Dinda duduk di hadapannya, pria ini sudah rapi sedari pagi. Wangi tubuhnya menyibak seisi ruangan. "Pagi ini rapi sekali, memangnya kamu mau kemana?" tanya Dinda, dia penasaran.


Steve memicingkan matanya, lalu tersenyum. "Aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat. Kebetulan hari ini libur nasional, aku memiliki waktu untuk berlibur," jelas Steve.


"Kemana?"


Steve tidak menjawabnya, dia hanya melemparkan senyum penuh tanda tanya.


Ibu Yuri yang sudah selesai memasak di dapur, datang mengganggu perbincangan mereka berdua sejenak.


"Sarapan pagi sudah siap, mari ikut makan," ucapnya dengan ramah. "Nak Steve, jangan terlalu sungkan pada Ibu. Anggap saja Nak Steve sedang makan di rumah sendiri," katanya berkata akrab.


"Tenang saja, Bu," balas Steve. "Aku tidak pernah menganggap rumah ku maupun rumah Ibu berbeda. Tidak ada perbedaan kontras antara kita. Aku sudah menganggap Ibu seperti orang tua ku sendiri," Steve berkata ramah, meninggalkan kesan wajahnya yang garang.


Dinda terkekeh melihat gaya bicara Steve yang berbeda dari biasanya.


"Kenapa kamu tertawa," Steve berkata pelan. Dia menyadari bahwa Dinda mentertawakan dirinya.

__ADS_1


"Aku tidak tertawa," kilah Dinda. "Kamu saja yang terlalu sensitif."


Steve mendengus, wanita ini mulai berbohong padanya.


__ADS_2