
“Aku datang bukan membawa hikmah untuk kalian. Tapi aku datang untuk mengingatkan kalian, kalau aku akan mengacaukan kalian,” kata Corona.
_____________________________________________
“Aku baru saja memesan makanan cepat saji dari restoran di perempat jalan. Tolong antarkan keruangan ku sekarang, bilang kepada bagian resepsionis,” kata Steve pada suara di interkomnya.
Sesaat setelah berkata, dia langsung menutup panggilan suara itu. Namun tadi suara wanita di dalam interkom itu menjawab, “Baiklah Pak.” Steve mendengarnya sekilas, tapi tidak terlalu memperhatikannya dengan jelas.
“Sial. Kenapa aku sampai lupa membawa handphone hari ini.”
Karena terburu-buru, handphone Steve yang dia tinggalkan di atas kasur pada akhirnya lupa di masukan kedalam saku celananya. Walau sudah meraba berkali-kali seluruh pakaian yang dia kenakan, tetap hasilnya nihil. Benda pipih tak bernyawa itu memang lupa di bawa.
Walau handphone itu tidak terbawa, tapi pikiran Steve masih fokus pada layar komputer di depannya itu. Untuk apa mengkhawatirkan sesuatu yang tidak begitu penting. Pikir Steve demikian. Namun—
“Oh. Sial. Bagaimana jika istri ku menelpon. Ah. Seharusnya aku tadi menelpon kalau dia datang kesini agar membawa handphone ku. Tapi bodohnya aku, nomor telepon rumah saja aku tidak hapal. BullShit!”
Itu adalah kabar buruknya. Nomor rumah bukan sesuatu yang sulit di hapal, namun Steve malas mengingatnya.
Pintu yang terus terbuka itu, sesekali dia perhatikan. Steve menunggu Dinda, kali saja dia sudah tiba. Sekalian dengan makanan yang baru saja dia pesan.
Sebenarnya Steve tidak yakin Dinda akan datang. Tadi pagi dia sudah memberitahunya kalau Dinda tidak perlu lagi mengirimkan makanan untuknya. Tetapi, siapa tahu di luar dugaan. Seperti Minggu lalu, Dinda nyatanya tetap mengantarkannya makan siang walau Steve sudah mengatakan tidak perlu merepotkan diri.
“Permisi....”
Terdengar suara wanita yang masuk, segera mata Steve memicing ke arah pintu. Dan dia mendapati karyawan wanita masuk ke ruangannya. Bagian resepsionis. Aku kira istri ku yang datang.
“Maaf Pak. Saya datang mengganggu. Saya ingin mengantarkan makanan yang baru saja Bapak pesan.”
“Taruh di atas meja sana,” jawab Steve. Pandangannya tak berubah. Dia tetap pada layar komputernya. Walau tadi dia melihatnya sekilas, sebab pikirannya terpaku pada satu orang. Dinda.
“Permisi.”
“Tunggu,” Steve mengehentikan. Wanita itu hendak berlalu. “Apakah istri ku menelpon bagian resepsionis tadi? Atau nomor rumah yang menelpon.”
Karyawati ini menggeleng. “Tidak. Kami tidak mendapatkan panggilan apapun dari Bu Dinda,” katanya menjawab.
Steve melirik jam di tangannya. “Aneh. Biasanya Dinda sudah datang di jam seperti ini. Tapi kenapa sekarang dia belum datang,” katanya yang agak keheranan.
“Apakah ada lagi yang bisa saya bantu Pak?”
Wanita itu bertanya. Steve membalasnya dengan gelengan kepala. Karena Steve tidak lagi membutuhkan bantuannya, wanita ini pun berlalu.
“Permisi.”
Kenapa istri ku belum datang. Apakah dia benar-benar tidak datang hari ini?
Walau Steve memikirkan Dinda di rumah. Dia juga tidak begitu khawatir pada Dinda. Ada Stevie di rumah, dia juga sudah berpesan pada kakaknya itu agar menjaga Dinda.
Namun, interkomnya kali ini berbunyi, Steve mendial panggilan itu. Panggilan yang menyela pekerjaannya.
Seperti biasanya, panggilan dari interkom itu jarang Steve yang berkata memulai. Dan Steve tidak pernah bertanya dahulu kenapa mereka menelpon interkomnya.
Karena biasanya bagian resepsionis atau yang lainnya akan bicara lebih dahulu. Steve tidak suka kalau bertele-tele, jadi bicara pada intinya, itu yang Steve mau.
“Selamat siang Pak. Kami mendapatkan kabar dari Bu Stevie. Katanya Bu Dinda saat ini di rumah sakit, dia akan segera melahirkan.”
“Apa?” Steve terperangah kaget. Mendengar ucapan yang mendadak ini, jantungnya hampir copot. “Kapan itu terjadi.”
“Beberapa menit yang lalu.”
Whut. Aku nggak salah dengar kan?
Seketika Steve tak bisa berkata apa-apa, selain terkejut yang mendera. Sialnya, handphone Steve tidak di bawa. Pikirnya pasti Stevie menelponnya tadi.
“Katakan di rumah sakit mana istri ku di bawa?” tanya Steve lagi.
“Di rumah sakit Ibu dan anak Bunda asih.”
Usai mendapatkan jawaban dari interkom itu, Steve langsung mematikanya. Secara kasar, bahkan interkom kantor itu tidak menempel sempurna di tempatnya, justru terjatuh menggantung.
Steve mengambil jas yang dia sematkan di kursi kerjanya. Memakainya dengan kilat, lalu meraih kunci mobil yang dia gantung di dekat pintu.
“Dinda. Bertahanlah. Aku akan segera tiba sayang.”
Steve berlari kecil menuju ke lobi kantor. Perasaannya saat ini bercampur aduk. Senang dan khawatir, itulah yang mendominasi pikirannya.
“Jika ada laporan penting yang ingin kalian laporkan pada ku. Di keep, sampai aku masuk kembali ke kantor,” kata Steve pada dua wanita yang menjaga meja resepsionis.
Kedua wanita itu mengangguk, namun saling lempar pandang keheranan.
“Kenapa pak Steve tergesa-gesa begitu ya. Apa terjadi sesuatu. Tidak seperti biasanya.”
Salah satu karyawan resepsionis memperhatikan. Apalagi Steve langsung masuk mobilnya terburu-buru. Pasti menandakan dia sedang mengejar waktu. Sedangkan teman yang di sebelahnya hanya angkat bahu, dia tidak tahu apapun meski temannya bertanya.
“Bisa jadi ada sesuatu yang terjadi mendadak.”
......
Steve ingin memburu cepat. Dia ingin segera tiba di rumah sakit tepat waktu. Namun, tiba di depan pintu gerbang palang otomatis, Steve mengehentikan paksa mobilnya.
“Ada apa lagi ini!”
Steve mendongak kepalanya meninggi. Melihat apa yang terjadi di depan jalan keluar kantornya. Mobil hitamnya ini, terhalang oleh banyaknya pengganggu jalan.
__ADS_1
Banyak orang berkerumun, Steve berulang kali menekan klakson mobilnya agar orang-orang yang bergumul di satu tempat ini pergi.
Namun apalah daya. Mereka acuh tak acuh. Bukannya mereka minggir, uang ada mereka membentak pemilik mobil.
“Ah sial!” teriak Steve beringsut sebal. Dia mukul kemudinya, melampiaskan amarah pada orang-orang di depannya. Steve menekan kembali klakson mobil hingga berulang, namun tak ada ubahnya. “Ah. Kenapa orang-orang ini tuli sekali. Mereka mengganggu jalan ku.”
Steve tahu, di depannya sedang terjadi kecelakaan. Orang-orang itu pasti sedang menunggu ambulance, sementara para petugas kepolisian sedang mengalihkan lalu lintas yang padat karena kejadian kecelakaan ini.
Steve keluar dari mobilnya, membanting kasar pintu mobil itu. Steve kadang mengacak kasar rambutnya, sesekali dia menendang ban mobil.
“Kurang ajar! Kenapa orang-orang jni heboh sendiri. Seperti tidak pernah melihat orang kecelakaan sana,” umpatnya kesal mendalam.
Steve makin kesal, lantaran saat melirik jam di tangan. Dia sudah hampir sepuluh menit terjebak di jalan yang padat ini.
“Ah. Harus mencari cara bagaimana ini. Tidak mungkin kalau aku berlari ke rumah sakit.”
Ketika matanya berangsur menelisik sekeliling, dari dalam kantornya. Oh, pria pengantar makanan cepat saji baru saja ingin keluar. Dan dia tepat melintas di depan Steve yang sedang kebingungan.
“Tidak ada cara lain. Ini jalan satu-satunya.”
Bukan Steve namanya kalau menyerah. Pria yang membawa motor merah itu, dia hadang. Tidak mungkin dia menuju ke pinggir jalan mencari taksi. Tidak ada yang melintas, jalan sedang di blokade lantaran ada kecelakaan tepat di depan jalan kantornya.
“Antarkan aku ke rumah sakit sekarang.”
Steve menghadang pria itu. Dan raut wajah pria pengantar makanan cepat saji ini hanya terpasang bingung.
“Aku?” katanya mengulangi.
“Iya siapa lagi.”
Steve sudah duduk di jok belakang motor. Pria ini masih belum berjalan. Dia terpaku karena pria tak di kenalnya tanpa pamrih meminta bantuan.
“Apa yang kau pikirkan. Ayo berangkat sekarang. Kita tidak punya banyak waktu!” ucap Steve sambil menepuk pundaknya. Tanda harus jalan.
“Tapi anda tidak memakai helm.”
“Peduli apa. Aku akan membayar biaya denda tilang. Berangkat sekarang kerumah sakit. Istri ku akan melahirkan.”
“Oke, oke baiklah. Pegangan yang kuat, kita akan berangkat sekarang.”
Steve memaksa, dan pria ini langsung menarik pedal gas motor. Pakaian setelan jas hitam ini memang tidak cocok menumpangi motor. Dia CEO perusahaan besar, namun apa boleh buat. Hanya itu yang bisa membantu Steve. Meski hanya menumpangi motor, pesona calon Ayah satu ini tidak bisa di bantah.
Sebenarnya Steve tidak tahu caranya bermotor. Kalau dia tahu, pastinya sudah dia rampas motor ini. Lalu meninggalkan si bapak tukang antar makanan ini.
Dinda. Kamu bertahanlah sayang. Sebentar lagi aku akan tiba. Kamu harus kuat. Aku tidak akan membiarkan kamu bersalin tanpa aku.
“Lebih cepat lagi. Aku tidak mau istri ku menunggu ku terlalu lama!” teriak Steve memburu.
“Belok kanan. Rumah sakit Ibu dan Anak bunda asih!”
Motor yang di tumpangi Steve melaju kencang, hingga tiba di rumah sakit. Steve turun tergesa-gesa meninggalkan pria ini tanpa mengucapkan terima kasih.
Pria yang mengantarkannya, hanya bisa menggeleng kepala.
“Pria bebal.”
Sesaat setelah dia memperhatikan Steve yang menghilang di dalam gedung rumah sakit, pria ini pergi.
Tidak peduli apapun, Steve berlari kecil di lorong-lorong rumah sakit. Bahkan tidak mengucapkan terima kasih pada pria tadi.
“Di mana ruang bersalin?” tanya Steve pada perawat yang berpapasan dengannya di koridor. “Istri ku akan bersalin hari ini.”
“Silahkan tanya pada bagian administrasi.” Perawat menunjukkan, sementara dia sedang mendorong troli berisi alat bedah.
Steve tidak membuang waktunya, dia langsung menuju ke ruang administrasi sesuai anjuran perawat tadi.
“Di mana ruang bersalin. Seorang pasien akan melahirkan di rumah sakit ini. Dan dia baru saja akan bersalin di sini.”
Setibanya di ruang administrasi, wajah cemas dan peluh yang membanjiri wajah ini tak bisa mengontrol diri.
“Ikuti koridor ini. Belok kanan, di ujung lorong. Di sana ruangannya,” kata perawat menjawab.
“Terima kasih!”
Steve kembali berlari kecil, menuju ke ruangan bersalin. Dari ujung lorong, dia melihat Stevie, Ibu Yuri, juga ada Niko dan Miko sudah duduk di bangku lorong rumah sakit.
Ternyata mereka sudah tiba lebih dahulu dari dirinya.
Steve mengatur pelan napasnya yang tersengal. Dia mencoba menormalkan kadar oksigen yang di tarik meninggi ini.
Steve sudah pucat pasi. Apalagi keempat orang itu terlihat duduk bergetar. Stevie terlihat menggigit jarinya. Dan Steve hapal, biasanya Stevie sudah menegang kalau menggigit jari seperti ini.
“Bagaimana keadaannya kak. Apakah Dinda sudah melahirkan?”
Orang-orang yang ada di sana terdiam sejenak. Mereka juga belum tahu pasti bagaimana keadaan Dinda di dalam.
“Sudah berjam- jam Dinda di dalam. Dan belum ada kabarnya,” kata Stevie menyahut membalas.
Steve menggusar. Wajahnya kian tegang, dadanya berdegup kencang. Napas masih agak terengah-engah, sulit di tarik.
Tuhan. Aku mohon. Tolong selamatkan istri dan anak ku.
Aku tahu kalau aku tidak pernah memohon atau berdoa pada mu.
__ADS_1
Tapi kali ini. Aku hanya minta kau menyelamatkan orang-orang yang aku cintai. Aku tidak pernah meminta apapun. Meski aku sempat mengabaikan mu.
Namun kali ini. Hanya pada mu aku memohon. Tolong, selamatkan istri dan anak ku. Jangan biarkan mereka terluka sedikitpun. Tuhan, ku mohon, jaga istri ku.
Steve bolak balik seperti setrika di depan kakaknya. Sesekali dia menggigit Ibu jarinya. Gusar itu belum reda, bahkan Steve menggaruk kepalanya, tanda bahwa dia sedang tak bisa tenang. Stevie yang melihatnya, mendengus sebal, dia pusing melihat adiknya yang acak-acakan tak karuan ini.
“Kamu duduk dulu. Aku pusing melihat kamu bolak-balik seperti ini.”
“Bagaimana aku bisa diam kak. Istri ku di dalam belum ada kabar.”
“Sabar Nak Steve,” sahut Ibu Yuri yang duduk di kursi memanjang lainnya. “Ini kelahiran pertama Dinda. Berhubung kalian menikah muda, maka melahirkan anak pertama itu agak sulit. Dan juga, prosesnya agak lama. Karena jalan keluar melahirkan bayi pertama berbeda dengan melahirkan bayi kedua atau ketiga.”
Ya, Steve sudah mendengar mitos mengenai nikah muda. Dimana istri yang melahirkan anak pertama pasti agak kesulitan. Tapi ini hanya mitos yang di ceritakan dari mulut ke mulut. Steve kurang mempercayainya. Apapun bentuknya, Steve tidak percaya pada lelucon.
“Aku sangat khawatir Bu. Istri ku di dalam belum ada kabar sama sekali. Aku tidak bisa diam.”
“Kak Steve tenang saja dulu. Jangan khawatir berlebihan. Lagi pula dokter di dalam belum memberikan informasi, itu artinya mereka sedang berusaha.”
Miko mencoba mengembangkan suasana agar lebih kondusif. Setidaknya hanya itu yang bisa di lakukan olehnya.
“Suer. Karena kak Stevie yang menelpon ku, pada akhirnya pekerjaan ku terbengkalai.”
Miko mengomel pelan. Ucapannya itu terdengar oleh Niko. Dan adiknya ikut berkata.
“Sama kak. Pekerjaan ku juga tertinggal karena kak Stevie.”
Mereka senada. Dan itulah kenapa mereka selalu sama saja. Dalam segala hal.
Kesal karena Steve tak kunjung duduk walau sudah di perintah oleh Stevie, kakaknya itu menarik paksa Steve.
“Kamu harusnya tahu. Aku membawa Dinda kesini dalam keadaan malu,” ucap Stevie menginterogasinya.
Steve di lirik dengan tatapan tajam. Saat Stevie menginterupsinya, Steve hanya bisa diam. Dia takut, sorot matanya amat tajam.
“Dan satu lagi,” Stevie menambahkan. “Kamu seharusnya tahu. Aku kesini belum mandi. Belum cuci muka, hanya sikat gigi. Semua orang melihat ku sekarang. Terlebih, air ketuban istri mu itu membuat aku harus menurun ego. Aku kesal. Dan sebagai suaminya, kamu harus bertanggung jawab atas semua ini. Atas semua malu yang aku tanggung ini. Hiks.”
Steve mengernyitkan dahinya, berulang kali dia mengedipkan matanya. Bingung, entah apa yang ada di pikiran kakaknya ini.
“Kenapa harus aku?”
“Kenapa harus aku?” Stevie mengulangi kasar ucapan adiknya ini. Mulutnya komat Kamit meledek. “Karena kamu suaminya. Itulah kenapa kamu harus bertanggung jawab. Ketuban istri mu membuat aku nampak seperti pembantu gembelan.”
“Itu wajar kak. Lagian kak Stevie yang di rumah. Dan seharusnya kak Stevie membantu Dinda yang kesusahan.”
“Tapi sebagai suaminya kamu juga harus siap sedia dong. Kalau ada sesuatu yang genting seperti ini, handphone jangan dibiarkan on tapi tidak di jawab. Kamu harusnya tahu kalau seorang suami harus siap sedia.”
Stevie menjagal adiknya. Karena memang Steve tadi bersalah sebab tak menjawab telepon darinya.
“Aku lupa membawa handphone ku. Dan itu aku tinggalkan di atas kasur. Aku bukan sengaja tidak mengangkatnya. Sumpah, aku tadi pagi terburu-buru, makanya aku lupa membawa handphone ku.”
Steve menjawabnya begitu. Dan Steve sudah berkata jujur. Namun tidak di mata Stevie. Dia masih marah pada Steve.
“Alasan!”
“Sungguh kak. Aku tidak bohong.”
“Awas saja kamu membohongi ku. Aku patahkan tulang kaki mu!”
Glek. Rasanya sulit air liur itu di telan. Ancaman Stevie begitu kejam.
Ibu Yuri cengengesan melihat kedua anak itu bertengkar seperti anak kecil. Steve sudah di intimidasi oleh Stevie. Dan tak ada perlawanan sedikitpun darinya.
Walau di dalam tidak tahu bagaimana nasibnya, setidaknya Ibu Yuri yang sedang ikut tegang. Merasa terhibur lantaran kakak dan adik ini mengingatkan Dinda dengan kedua adiknya. Walau tidak kejam seperti ulah Stevie.
Dari ruang bersalin yang kedap suara, dokter yang menangani persalinan Dinda keluar. Kepalanya terbungkus plastik ala-ala wanita keramas. Tangannya terbalut sarung tangan medis, entah air apa yang membasahi sarung tangan itu. Steve tak paham. Ya, sudah berjam-jam Dinda di dalam sana, dan baru sekarang dokter itu keluar. Steve melirik jam di tangannya, saat ini menunjukkan hampir malam. Sejak siang tadi.
“Bagaimana dokter keadaan istri ku?” sambar Steve tak sabaran.
“Oh. Anda suaminya?” wanita gemuk berkacamata ini bertanya. Dia adalah dokter bersalin, wajahnya kontras dengan wajah wanita yang berpengalaman dalam menangani persalinan.
Steve mengangguk. “Iya. Aku suaminya.”
Sang dokter tersenyum sumringah. Pikirnya betapa beruntungnya Ibu melahirkan di dalam memiliki suami yang perhatian.
“Ibu dan anak dalam keadaan sehat. Bayinya laki-laki, tampan seperti ayahnya. Sebentar lagi akan di bawa keluar oleh suster, saat ini bayi anda sedang di mandikan.”
“Syukurlah.” Tadi sempat takut Steve. Ternyata mimpi buruk istrinya itu tidak terjadi.
“Kalau begitu, saya permisi,” kata dokter.
“Baik dok. Terima kasih atas bantuannya.”
Dokter tersenyum ramah, kemudian dia meninggalkan ruangan tempat Dinda bersalin.
Steve memburu, dia lebih dahulu masuk kedalam. Suara tangisan bayi memecah suasana kecemasan tadi.
“Dinda!”
BERSAMBUNG
HAPPY BEROJOLAN DAY.
__ADS_1