UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 105


__ADS_3

AKIBAT ROKOK


PERHATIAN.


Mengandung masalah perbucinan. Kalau Ndak kuat, Yo jangan di boco to!


Ora gelem Yo wes, Yo ora oppo-oppo.


Steve mengajak Dinda keluar sebentar dari rumah sakit. Keduanya duduk di taman belakang rumah sakit.


Banyak orang yang hilir mudik berjalan-jalan santai menikmati udara. Salah satunya pasien yang masih membawa infus kemana-mana walau di papah oleh orang lain.


"Pegang handphone ku sebentar," kata Steve pada Dinda. Dia lalu merogoh saku celananya, mengeluarkan sebungkus rokok bersama dengan korek gas. Steve menyalakannya, dan berniat menghisap sepuntung rokok yang menyala itu.


"Kamu mau ngapain?" tegur Dinda. Agak kaget saja, ini kali pertama baginya melihat pria itu menghisap asap berbahaya.


"Mau merokok," jawabnya santai. Menatap gadis itu perhatian, lalu mengembuskan asap mengepul yang baru saja keluar dari hidung dan mulutnya. "Kenapa memangnya?"


Dinda mengambil paksa rokok yang masih menyala di mulut Steve. Membuangnya, bahkan menginjak-injaknya menggunakan heels. "Kamu seharusnya tahu. Rokok itu berbahaya," ucap Dinda. "Malah santai mengisapnya."


Steve mengerutkan alisnya, mengedipkan matanya berulang kali. Dia agak terkejut karena Dinda mendadak berbuat seperti itu. "Ini kali pertamanya aku merokok loh, sejak kita pacaran."


"Nggak peduli ini pertama atau kedua. Tetap saja rokok itu berbahaya, aku nggak akan mengizinkan kamu merokok di depan ku." Dinda agak sebal, Steve berani melakukan hal ini di hadapannya.


Mungkin satu kali Steve di perlakukan seperti ini oleh Dinda adalah hal wajar, karena dia belum tahu seperti apa dirinya. Steve mengulangi lagi apa yang dia lakukan, menyalakan puntung rokok untuk kedua kalinya. Dia ingin menghisap kembali, karena yang pertama pikirnya hanya sebuah refleksi kaget Dinda.


Dan ini bukanlah kali pertama pria ini merokok, di Jerman pun dia sudah terbiasa merokok. Tidak ada yang menghalangi dia untuk melakukan hal ini. Karena pikirnya merokok bisa membuatnya tenang.


Tapi, Dinda kembali berulah. Dinda kembali mengambil rokok yang sudah menepi di bibir merah Steve. Dinda mengulangi apa yang dia lakukan tadi. Kali ini Dinda mengambil sebungkus rokok yang mahal dari tangan Steve. Menyitanya, bahkan bersama korek gas di tangan pria ini.


"Kamu jangan melakukan ini di hadapan ku. Aku benci rokok," dengan sembarang Dinda membuang sebungkus rokok mahal Steve di tempat sampah yang ada di depannya itu. "Di Amerika, rokok dia kategorikan sebagai obat-obatan terlarang karena mengandung lebih dari empat ratus zat berbahaya," ucap Dinda memberitahu.


"Aku sudah hampir setahun ini tidak merokok. Kenapa kamu melarang ku melakukannya?" Walau Steve agak kesal, tapi dia tidak berani memarahi Dinda lagi. Atau gadis itu akan menangis, mana di tempat umum pula.


"Bagus dong," jawab Dinda. "Sekalian saja nggak usah merokok. Kan biar sehat, menjaga paru-paru, menyelamatkan orang-orang di sekitar."


"Tapi kekasih mu ini sudah lama tidak menikmatinya!" Kata Steve merengek. "Sejak kita berpacaran, selama ini aku tidak merokok. Aku merindukan aromanya yang menyenangkan itu!"


"Steve," Dinda menatapnya serius. "Kamu tahu nggak. Kamu jauh lebih gagah tidak merokok dari pada kamu merusak diri seperti ini." Seakan seperti seorang Ibu, Dinda menasehati Steve melalui mulut manisnya itu. "Jangan pernah mengulangi lagi untuk merokok. Atau aku akan marah jika kamu mengulanginya lagi!"


"Kamu mencemaskan aku?"


"Lebih dari itu," balas Dinda. "Karena begitu mencintai kamu. Aku sampai-sampai nggak rela kalau kamu tidak hidup dengan pola yang tidak sehat."


Kata-kata yang terucap dari mulut Dinda ini membuat Steve hampir terkekeh bersuara besar.


Pria mana yang tidak akan meleleh jika di perhatikan oleh kekasihnya. Karena begitu senangnya di perhatikan oleh Dinda, diam-diam Steve kegirangan. Namun dia tidak menunjukan sikap bahagianya itu, dia bersikap natural, bahkan berekspresi seperti biasanya.


"Ehm," Steve mendeham kecil. "Aku hanya ingin merokok kali ini saja. Kenapa kamu sampai begitunya melarang ku," Steve memang ahli dalam berakting. Dia terus memancing wanitanya agar selalu mencemaskan-nya.


"Karena aku nggak suka pria yang tidak memperhatikan kesehatannya sendiri!" Dinda menjawabnya agak ketus. Mengingat Steve selalu saja membuat dirinya menahan kesal, Dinda harus berulang kali mengingatkan pria itu.


Melihat Dinda makin kesal padanya, Steve terus saja berulah. "Aku mohon, kali ini saja aku merokok. Setelah itu, tidak lagi. Aku janji," katanya mengiba.


"Nggak boleh. Aku benci rokok!" Dinda melipat tangannya di dada, mungkin dia merajuk pada Steve.


Bukan Steve namanya jika tidak membuat orang lain kesal. Dia seakan mengabaikan kecemasan Dinda, berjalan menuju tempat sampah kemudian memungut apa yang sudah di buang tadi.


"Maafkan aku sayang. Aku kali ini tidak bisa menahan diri." Di dekat tempat sampah, Steve berkata pelan.

__ADS_1


Dinda yang melihatnya, memasang ekspresi kesal mendalam. Steve tidak bisa di toleransi terhadap rokok. Secepat mungkin Dinda mengambil kembali toko di tangannya, dia benar-benar di buat marah oleh perilaku Steve.


"Kamu keras kepala banget sih. Aku nggak suka pria yang nggak menerapkan pola hidup sehat!" Sentak Dinda berang. "Tapi kamu mengulanginya!"


Walau Dinda sebal, entah kenapa Steve merasa senang kegirangan. Sekali lagi, Steve merasa seperti pria paling beruntung karena mendapatkan cinta wanita yang di anggapnya sempurna ini.


Wanita cantik berbudi luhur dan pantang menyerah. Wanita yang sejak kecil dia impikan.


Dinda membelakangi Steve, bagaimanapun, Dinda harus bersikap begitu. Atau Steve akan terus keras kepala. Steve sudah puas dengan permainannya, kali ini dia benar-benar tidak tega melihat wanitanya menahan kesal karena ulahnya.


Steve memeluknya dari belakang, ini adalah rayuan mautnya membuat Dinda tidak marah padanya. "Kalau kamu nggak mau aku merokok. Bagaimana, sebagai gantinya, kamu mencium ku."


Bisikan di telinga Dinda, membuat gadis ini makin kesal. "Aku nggak akan melakukan hal itu. Cukup hari ini kamu berulah," Dinda menjawab sekenanya. Dia ingin membalas pria pembangkang itu dengan perilaku wanita yang selalu benar.


Sejatinya Dinda tidak pernah yang tidak marah berkepanjangan pada Steve, namun kali ini Dinda berusaha mengikuti alur pria itu.


"Kamu tidak mau melakukannya. Oke," Steve bertindak. "Jangan salahkan aku jika aku menghisap rokok itu. Kamu yang memaksanya."


Dinda sudah menduganya, pria itu pasti akan mengatakan ancaman kecil ini. "Kamu kenapa selalu begitu pada ku?" Dinda membalikan badannya, tidak ada wanita manapun yang bisa menolak pesona Steve. "Kamu memang ahli membuat aku marah, juga ahli dalam membuat aku berhenti tidak bertindak apapun lagi."


"Karena kamu wanita yang spesial," jawab Steve. "Oleh karena itu, puas rasanya bagi ku melihat kamu terus menerus mengkhawatirkan aku."


Dinda menatap Steve cemberut, memang hanya Steve yang bisa membuatnya begitu. "Pria yang menyebalkan," tukasnya mengomel.


"Jika kamu marah pada ku seperti ini. Kapan kamu akan mencium ku." Steve mengingatkan, dia tidak mau lupa pada kebiasaan lamanya ini.


"Nggak ada ciuman. Kalau mau ciuman, sama rokok sana. Sudah puas kamu membuat aku kesal hari ini."


Steve mencubit Dinda pelan, lalu membawanya duduk kembali di bangku taman. "Jangan karena rokok, kamu marah pada ku." Steve membelai rambut Dinda, dia menyandarkan Dinda di bahunya. "Kamu adalah wanita satu-satunya yang membuat aku ingin melakukan hal-hal konyol. Tangisan kamu adalah kesedihan bagi ku. Tertawa kamu adalah tertawa ku, oleh karena itu, membuat kamu sebal hanya pada ku. Aku merasa seakan aku adalah pria paling beruntung karena mendapatkan cinta wanita yang spesial seperti kmu."


"Membuat aku selalu mencemaskan kamu, apakah itu termasuk spesial?" tuntut Dinda. Dia melihat wajah Steve sekilas, seperti apa rupa pria yang membuatnya kesal ini.


"Karena aku ingin di perhatikan oleh kekasih ku. Aku tidak mau jika hari-hari mu kosong tanpa memikirkan aku," jawab Steve santai. Dia adalah pria paling lembut yang pernah Dinda temui di balik sisi kasarnya.


"Itu harus," timpal Steve. "Ingat, selain aku. Masih ada dua cecunguk itu yang menunggu kamu. Aku tidak rela berbagi cinta wanita jelek ku ini dengan kedua cecunguk sialan itu."


"Maksudnya kak Johan dan Rendy?" tebak Dinda.


"Ssst,,," Steve menutup mulut Dinda menggunakan jarinya. "Jangan sebut nama kedua cecunguk itu. Aku benci mendengarnya!"


Dinda yang ada di pelukan Steve, mengerti perasaan pria itu. Dia pasti cemburu pada kedua pria yang di sebutkan-nya tadi. "Steve," Dinda bertingkah manja. Dia meraba wajah Steve, bahkan jari jemarinya yang lembut menyentuh lembut bibir merah Steve. "Aroma tubuh kamu selalu aku rindukan. Wangi dan segar, setiap kali aku memeluk kamu, rasanya selalu hangat dan tenang.".


Jari jemari Dinda yang bersih, meraba bibir Steve. Tanpa rasa jijik, Steve menjilatinya. Jilatan lidah Steve terasa lembut, Dinda merasakan bahwa Steve menginginkan hal yang sama.


"Kalau begitu, mari menikah," ucap Steve bernada serius. "Aku siap menafkahi kamu. Aku berjanji akan menjadi suami yang baik, tidak akan membuat kamu menangis lagi. Akan merubah sifat ku demi kamu, dan membuat kamu menjadi milikku seorang." Steve berkata pelan di telinga Dinda.


Dinda yang merasa berdebar, menghitung perkataan Steve ini sebagai sebuah lamaran yang kesekian kali. Dinda mengelus dada Steve yang bidang, lalu berkata. "Itu semua tergantung restu Ibu. Dia yang bisa memutuskan apakah aku boleh menikah dengan kamu atau tidak."


"Aku yakin Ibu pasti akan merestui kita. Aku akan melamar kamu, secepatnya," jawab Steve meyakinkan.


****


Vanya baru saja tiba di Indonesia. Mungkin sudah seminggu dia tidak bertemu sang Ibu. Bukan karena dia melupakan Ibunya, tapi dia bagai di kejar waktu. Mendadak perusahaan sang ayah terancam krisis keuangan. Mau tak mau dia harus mementingkan usaha sang ayah, alih-alih membesuk sang Ibu.


Tapi kini dia sudah berada di penjara tempat sang Ibu di tahan.


"Mama," Vanya merengek. Di ruang besuk ini, Vanya memegang kedua tangan sang ibu yang kian hari terlihat makin kurus. "Apa yang harus kita lakukan."


"Mama juga bingung, apa yang harus kita lakukan di saat-saat seperti ini." Wajahnya terlihat lesu, maklum saja, makanan di rumah tahanan rasanya hambar. Dia hampir menolak makan.

__ADS_1


"Perusahaan Papa di London, akhir-akhir ini krisis keuangan." Vanya memberitahu sang Ibu. Pada awalnya dia ragu, tapi keberanian mengatakan hal ini harus di ungkap. Atau Ibunya akan shock jika tidak mendapati kabar ini sesegera mungkin. "Tidak tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba keuangan menurun drastis, bahkan masuk kategori terancam bangkrut. Semua karyawan di PHK, pegawai dari berbagai devisi banyak yang mengundurkan diri. Juga pengelolaan penjualan menurun sangat signifikan."


"Dia mulai berulah," kata Nyonya Dwi. Dia paham, tidak kaget mendengar berita ini. "Seminggu yang lalu dia menemui Mama di sini."


"Steve?" Vanya menerka. "Apa yang dia katakan pada Mama?"


"Tidak ada. Hanya ingin meminta penjelasan mengenai bom," wanita itu mengenang.


"Aku sudah mendengar desas desus mengenai bom ini," sahut Vanya. "Walau belum terungkap siapa pelakunya. Tapi kenapa dia mendatangi Mama? Apakah dia menuduh Mama yang melakukan hal ini?"


Jika di ingat-ingat, Nyonya Dwi sebenarnya tidak tahu siapa pelakunya. Tapi ada benarnya juga jika Steve menuduh dirinya yang melakukan hal ini. Apalagi rekaman cctv yang memperlihatkan dirinya dengan pria tua itu sedang bertransaksi. Terlebih karung ular yang di berikan pada Jajang, jelas jika Steve mencurigai dirinya.


"Datang ke perusahaannya," Nyonya Dwi beralih berkata. "Temui dia. Memohonkan padanya agar mengampuni usaha Papa mu," perintah nyonya Dwi pada Vanya.


"Apa maksud Mama?" Vanya bertanya. Dia benar-benar tidak paham pemikiran sang Ibu.


"Bersimpuh-lah di hadapannya. Memintanya agar membebaskan cengkeramannya dari usaha Papa mu," perintah Nyonya Dwi. Kali ini tak ada pilihan lain bagi wanita tua ini selain menurunkan egonya.


"Mama jangan bercanda deh," bantah Vanya. "Aku tidak akan melakukannya. Memalukan."


"Lebih memalukan lagi jika kita hidup dalam kehinaan dan bangkrut." Vanya yang tidak mengindahkan permintaannya, membuat Nyonya Dwi menangis. Dia menitikkan air mata haru, tak ada pilihan lain selain menyembah di kaki pria itu.


"Aku tidak mau Ma," sentak Vanya pada sang Ibu. "Aku akan mencari jalan ku sendiri. Aku akan membawa kembali usaha Papa menuju ke puncak, tanpa harus menjadi kacung pria sombong itu!" Vanya melipatkan tangannya di dada, agak memalingkan wajahnya dari pandangan sang Ibu.


"Jalan?" Nyonya Dwi mengulangi. Dia agak tertawa memaksa mendengar kata-kata putrinya itu. "Jalan apa yang mau kamu tempuh. Bahkan hingga saat ini saja, menaklukan hati Johan kamu tidak bisa. Kamu masih bertingkah seperti anak-anak, tidak ada usaha kamu yang tidak berhasil tanpa bantuan Mama!"


"Aku tidak Sudi jika harus mengikuti perintah Mama," Vanya menyambar. "Aku akan tetap pada prinsip ku."


"Jika bukan kamu, siapa lagi yang harus Mama suruh? Kakak mu Arka? Pria yang tidak tahu di untung itu?" Nyonya Dwi menyinggung. Seharusnya di situasi seperti ini, Vanya menuruti permintaannya.


Tapi, anak itu malah membangkang. Tangisan seorang Ibu membuat Nyonya Dwi tak bisa berhenti menitikkan air mata. "Ayo, katakan!! Apa Mama harus meminta anak durhaka itu yang memohon, bersujud di kaki pria kejam itu? Katakan!!" Kata Nyonya Dwi meninggikan suaranya di ikuti dengan tangisan yang menderu.


Vanya menyapa sekeliling. Ada dua polisi wanita yang memperhatikan tingkah sang Ibu yang memelas Iba. "Ma," rengek Vanya. "Aku mohon, hentikan tangisan Mama?!" Pintanya.


Merasa malu, itulah yang di rasa Vanya. Terutama dua polisi yang melihat sang Ibu menangis.


"Bagaimana Mama akan berhenti menangis kalau anak Mama satu-satunya membangkang."


Vanya paling benci jika harus di katakan sebagai anak pembangkang. Meskipun dia sangat membenci Steve, namun dia tak bisa menutup kemungkinan. Dirinya mau tak mau harus menurunkan egonya, menemui Steve dan memohon sesuai perintah sang Ibu.


"Oke! Oke! Mama, Oke!" ucap Vanya mengalah. "Vanya akan menuruti permintaan Mama. Tapi, tolong! Mama berhenti menangis!" pinta Vanya. Dia kesal karena sang Ibu mengiba seperti ini.


BERSAMBUNG


Spoiler alert.


Vanya memiliki saudara lelaki bernama Arka. Dia anak tertua, namun sudah di buang oleh keluarganya karena membangkang.


Putra tertua keluarga Heri ini melunturkan tradisi keluarga. Dia menikah dengan seorang wanita yang bukan dari kelas atas atau setara dengan keluarga mereka. Jelas Ibu dan Ayah Vanya murka. Karena begitu mencintai sang istri, Arka lebih memutuskan mengundurkan diri dari ahli waris sang ayah.


Kini Vanya yang menggantikan posisi sang kakak. Walaupun Arka dan keluarganya sudah tidak lagi ada hubungan. Namun Vanya tetap berkomunikasi dengan baik pada sang Kakak. Juga menyayangi sang keponakan, putra kakaknya.


Arka menikahi wanita yang dulunya adalah teman satu kampus ketika sekolah di Inggris. Wanita itu terlahir dari keluarga sederhana. Wanita yang kini menjadi istrinya adalah seorang dokter bedah, Arka dan istri berserta sang anak tinggal di Surabaya.


Ngomong-ngomong, Arka tidak termasuk dalam cerita ini. Ini hanya sekedar informasi kenapa mereka sangat menjaga tradisi keluarga yang hanya memperbolehkan putra-putri keluarga Heri menikah dengan menantu yang setingkat.


Status sosial menjadi alasannya.


Agar cerita di bilang tidak masuk akal, author memberikan penjelasan ini. Takut saja di hujad, tahu-tahu di Komentar julid. Terlalu banyak pemeran, alur bertele-tele, nggak nyambung, terlalu lama dan sebagainya.

__ADS_1


Karena cerita dari bab sebelumnya tidak pernah di baca ulang atau di edit. Jika terdapat typo, alur tidak nyambung bahkan ada kesalahan, tolong jangan di hujat. Sejatinya kesalahan adalah bagian dari hidup.


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar yah. ^^


__ADS_2