
Di rumah sakit yang tidak jauh dari kantor Steve, Dinda yang ada di koridor rumah sakit duduk tak tenang. Tubuhnya lemas dan bergetar karena mengkhawatirkan Eva. Dinda amat tegang, dia belum pernah menghadapi situasi macam ini.
Steve berdiri tidak jauh dari Dinda karena dia sedang menanti kabar mengenai teror ular berbahaya di kantornya.
Stevie ikut ke rumah sakit bersama dengan Miko dan juga Zico yang nampak gusar. Entah apa yang terjadi pada Eva kedepannya, mereka tidak bisa memastikan.
Dari ujung lorong, ada tiga pria berbadan sedang dan tegap berjaket kulit hitam menghampiri Steve. Mereka agak pendek dari Steve.
"Selamat siang?" ucap salah seorang pria dari ketiganya. "Kami dari tim penyidik ingin bicara dengan Pak Steve."
"Dengan saya sendiri," jawab Steve. Kebetulan sekali ketiga pria itu menemuinya.
"Kami ingin menyampaikan laporan mengenai penyidikan kami terkait adanya laporan teror ular di kantor anda," polisi ini berkata. "Sebelumnya perkenalkan saya Opsir Rian, kepala penyidik kasus teror ular ini."
"Saya Steve, pemilik perusahaan," balas Steve bersahabat.
"Jadi begini Pak," opsir Rian memulai inti bicaranya. "Berdasarkan pengamatan kami dan juga adanya bukti dari cctv, ular sebesar empat setengah meter ini sengaja di tempatkan di ruangan anda. Mengingat belum pernah ada ular yang mampu menaiki gedung kantor yang besar berlantai dua puluh lima ini, kami menyimpulkan bahwa ular ini bukan karena tidak sengaja masuk kedalam ruangan anda tapi di sengaja. Ada oknum tertentu yang diam-diam menyelinap masuk ke ruangan anda lalu menaruh king cobra di dalam laci kerja anda."
"Maksud anda?"
Opsir Rian melanjutkan perkataannya. "Ular yang anda bunuh itu sengaja di tempatkan di laci kerja anda. Ketika ada orang yang membuka laci kerja yang pengap, ular itu akan menyerang karena merasa frustasi di tempatkan di dalam ruangan yang sempit. Kemungkinan ular ini akan menyerang bagian wajah dan tangan siapapun yang membuka laci itu. Dan di lihat dari keterangan beberapa saksi, korban yang sedang mencari file flashdisk di meja kerja Anda tidak sengaja membuka laci dan tanpa sadar dia terkena gigitan ular ini," jelasnya.
"Jadi maksud anda ular ini sengaja di tempatkan di ruangan Steve karena ada konspirasi? Begitu-kah menurut anda, opsir?" Stevie yang berusaha menenangkan Dinda menyahut, dia mulai penasaran pada bagian ini.
"Benar Bu," jawab opsir Rian. "Ular ini sengaja di tempatkan di ruangan Pak Steve karena dia yang di targetkan sebagai korban."
"Tapi siapa yang berani melakukan hal ini pada perusahaan wong?" Stevie geram, dia mulai berang pada pelaku yang tanpa nurani melakukan hal ini.
"Untuk hal ini, kami akan kembali ke perusahaan Pak Steve mengecek seluruh cvtv. Dan kami pastikan sebelum berakhir satu kali dua puluh empat jam pelaku sudah di tangkap," balas opsir Rian sekali lagi. "Untuk flashdisk dan proposal ini kami tidak akan menjadikannya barang bukti, mengingat ini file penting, jadi kami akan menyerahkan pada Pak Steve," katanya, lalu memberikan file yang sempat Eva cari di ruangan kerja Steve.
Pihak keamanan itu menempatkan file penting itu dalam sebuah kantung plastik transparan. Mereka akan menggunakannya sebagai barang bukti, tapi mengingat itu hal yang sensitif, mereka tidak mau mengambil resiko.
Dari ruang UGD tempat Eva di tangani, dokter berjubah putih mengenakan kaca mata dan stetoskop di leher keluar dengan raut wajah yang terlihat lelah.
"Dokter bagaimana keadaannya?" Dinda merengek menuntut penjelasan.
"Tolong tenang Nona," jawab dokter. "Korban sudah di tangani. Kami sudah memberikan serum antibisa. Beruntung pasien cepat di larikan ke rumah sakit, dan juga pasien nampaknya masih di berikan umur yang panjang karena gigitan ular bukan di tangan kiri melainkan di tangan kanannya. Jika sampai itu terjadi pada tangan kiri, melihat adanya cincin yang tidak bisa di lepaskan kemungkinan akan terjadi pembengkakan. Selain itu, syukur puji Tuhan, orang yang membawa pasien kerumah sakit tahu caranya agar tidak immobilisasi tangan yang tergigit ular. Sehingga racunnya tidak terlalu menyebar ke seluruh tubuh walau kami tadi sempat menyerah untuk menanganinya," kata sang dokter menjelaskan.
Wajah lelah sang dokter akhirnya mampu menyelamatkan nyawa Eva. Dinda yang mendengarnya agak lega walau sempat tadi dia berpikir yang tidak-tidak, takut kehilangan sahabatnya itu.
"Lalu berapa lama dia akan sembuh dok?" tanya Dinda kembali mencemaskan.
"Butuh waktu dua hingga tiga Minggu untuk sembuh. Mengingat orang dewasa lebih rentan sembuh dari anak-anak yang biasanya butuh waktu satu sampai dua minggu. Tergantung jenis ular yang menggigit," balas sang dokter. "Beruntung saat tergigit ular pasien langsung pingsanarena panik dan takut. Jika pasien gusar kemungkinan tadi bisa ular dapat dengan cepat menyebar keseluruh tubuh, bersyukur dia tidak melakukannya," jelas dokter kemudian dia berlalu.
Dinda yang sempat menangisi Eva, kini bisa bernafas lega, sebab kekhawatirannya sudah berlalu. Sedangkan tunangan Eva, datang ke rumah sakit dalam keadaan tergesa-gesa panik. Dia menghampiri ruangan tempat Eva di rawat, namun Dinda memberitahu bahwa dia baik-baik saja.
"Mas Dani nggak perlu khawatir, Eva sudah di tangani," sela Dinda pada pria yang sedang berduka itu.
"Bagaimana bisa di kantor sebesar grup wong bisa ada teror ular? Kantor seperti apa itu yang tidak ada keamanan sedikit pun?" tuntut Dani marah. Dia tidak terima jika Eva yang harus menjadi korban.
"Mas Dani tenangkan dulu pikiran mas," ujar Dinda. "Yang terpenting adalah saat ini Eva sudah di selamatkan. Untuk pelakunya, pihak penyidik sedang melakukan investigasi mereka."
"Bagaiman bisa tenang, Dinda," Dani berkata. "Perusahan macam apa yang keamanan saja masih ada celah di masuki hewan melata? Hanya perusahaan abal-abal yang tidak bisa bertanggung jawab atas masuknya ular besar di kantor mereka."
Steve yang mendengar bahwa pria itu menyalahkan perusahaannya atas kejadian ini agak berang, pria itu berusaha memancing emosinya. "Masalah teror ular ini tidak ada kaitannya dengan perusahaan wong, tolong jangan kaitkan kejadian ini dengan kredibilitas kantor ku," kata Steve menjawab sembari menahan emosinya.
Dani tersenyum memaksa melihat Steve yang angkuh bicara padanya. "Lantas? Siapa yang harus di salahkan atas kejadian ini?" Sentak Dani. "Apakah Pak presiden yang harus bertanggung jawab? Atau gubernur Jakarta?"
Steve mengepal tangannya, dia makin geram pada pria yang sok tahu itu. "Kau!" teriaknya ingin memukul Dani.
__ADS_1
Zico menahan amarah Steve, dia menarik lengan pria itu. "Ini di rumah sakit Steve," Zico mengingatkan. "Jaga batasan kita di sini, kita harus menghargai pasien-pasien lain di rumah sakit ini."
Steve menampik tangan Zico, walau dia geram, Steve tetap menjaga batasannya. "Aku ingatkan sekali lagi, kejadian ini tidak ada hubungannya dengan kredibilitas perusahaan. Dan ini murni kelalaian dia sendiri, jadi Anda tak perlu khawatir mengenai biaya. Aku yang akan menanggungnya jika kamu kekurangan uang!" Tegas Steve dengan kemarahan yang menggebu.
"Di situasi seperti ini kamu masih berani menyombongkan kekayaan kamu?" Dani kembali berulah. "Jangan sok kamu di sini. Kamu pikir aku miskin tidak bisa membayar biaya rumah sakit?" katanya terus mencecar emosi Steve.
Kali ini Steve benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak berlaku kasar. Dia ingin memukul wajah Dani hingga babak belur karena berani berkata meninggikan suara di hadapannya.
Dinda yang duduk di kursi besi, berdiri dengan cepat melerai Steve. Dia memeluk dada pria itu seraya mendorongnya menjauh dari Dani. "Ku mohon Steve jangan lakukan ini di rumah sakit," ujar Dinda meminta. Dinda merasakan nafasnya yang tak karuan karena emosi sudah tak terbendung, bahkan urat-uratnya hampir keluar dari kulit sebab mengepal tangan dengan keras.
Stevie yang menyilangkan tangan di dada, mengembuskan napasnya. Bosan melihat adiknya itu selalu berkelahi, pemandangan biasa terjadi baginya saat melihat Steve yang berang kalau terpancing.
Dinda membawa Steve pergi meninggalkan koridor rumah sakit, dia mengajaknya menjauh menenangkan diri dari emosi yang menggebu.
"Kita tetap di sini," ucap Stevie pada Miko. Dia tahu anak itu pasti akan pergi, tapi Stevie tidak mau di sebut sebagai orang yang tidak bertanggung jawab atas kecelakaan Eva kalau ikut pergi meninggalkan rumah sakit. "Kalau kamu nggak keberatan, temani kak Stevie menunggu Eva hingga nanti malam. Kita tunggu perkembangannya, jika dia sudah membaik maka kita pulang."
"Aku akan menemani kak Stevie di sini jika itu perlu," balas Miko setuju.
Zico yang berdiri, menyandarkan punggungnya di dinding dan hanya menopang satu kaki. Kaki kanan, dia tempelkan di dinding seraya menggigit ibu jarinya. Zico ikut tidak tenang saat melihat teman sejawatnya mengalami kejadian nahas ini.
Kebetulan hari itu Rendy sedang bertugas. Pria itu melintas di koridor tempat Zico dan lainnya menunggu. Dia agak heran saja kenapa bisa ada orang-orang yang dia kenal bisa ada di rumah sakit tempat dia bekerja.
"Ada apa ini?" Rendy penasaran. "Kenapa kalian ada di sini, Zico, kak Stevie?" katanya agak terkejut.
"Bukan apa-apa, hanya ada kecelakaan kecil saja," jawab Stevie menyantai-kan keadaan.
"Kecelakaan kecil?" Rendy mengerutkan keningnya. "Memangnya siapa yang terjadi kecelakaan kak?" tanyanya kembali penasaran. Pikirnya adalah Steve.
"Eva di gigit ular tadi," Zico menyambar. "Saat ada meeting dia tidak sengaja di patuk ular."
"Bagaimana bisa?" sentak Rendy yang ikut khawatir pada keadaan Eva. "Lalu, bagaimana keadaannya sekarang? Apa dia baik-baik saja?"
Rendy mengurut dada, dia sedikit lega mendengarnya. "Syukurlah," katanya mengembuskan nafas panjang. "Aku baru tahu kejadian ini. Lalu Dinda, bagaimana keadaannya sekarang?"
"Dia baik-baik saja," kali ini Stevie yang menjawab. "Dia baru saja keluar."
Pasti dengan Steve, tebak Rendy. Pria itu selalu menjadi nomor satu soal Dinda, gerutu Rendy sewot jika ada Steve di sebelah Dinda. Sebelumnya dia sangat berharap bahwa yang di gigit ular adalah Steve, namun sayang bukan pria itu yang terkena musibah ini, melainkan Eva.
"Ya sudah, kalau begitu. Kak Stevie, Zico, aku pergi bekerja dulu," ucap Rendy berkata berlalu. "Kalau kalian ada perlu atau butuh bantuan, kalian bisa menghubungi ku atau datang saja ke ruangan ku di ujung koridor," katanya memberitahu.
Stevie dan Zico mengangguk, mereka menghargai niat baik Rendy.
Di taman rumah sakit, Dinda mengajak Steve duduk di bangku taman khusus bagi pasien yang bosan termangu di bangsal.
Dinda mengusap bahu Steve yang lebar, memintanya agar mengendalikan emosi. "Aku mohon kamu jangan marah-marah lagi ya," ujar Dinda berkata lembut. "Aku nggak mau kamu terbawa emosi sesaat."
"Bagaimana aku tidak emosi kalau dia yang memancing pertikaian duluan?" Balas Steve yang masih tidak bisa menahan emosinya mengingat Dani berkata memojokkan perusahaannya. "Memangnya siapa dia yang berani berkata seperti itu pada ku?"
"Tapi kamu harus bisa jaga emosi, jangan sampai kamu terpancing marah hanya karena hal-hal kecil seperti ini," kata Dinda yang terus berusaha menenangkan pria pemarah ini.
"Jadi kamu menyalahkan aku atas kejadian ini?"
"Aku nggak bermaksud menyalahkan kamu," jawab Dinda. "Aku hanya ingin kamu lebih bersabar sedikit dalam situasi seperti ini!"
"Itu sama saja kamu memojokan aku," timpal Steve sewot. "Seakan-akan kamu tidak memihak ku, tapi memihak pria brengsek itu!"
"Kenapa kamu melimpahkan semua kesalahan pada ku?" tuntut Dinda. "Aku hanya tidak mau kamu berkelahi, tapi kenapa kamu malah membalikan keadaan?"
"Karena kamu dari tadi membela dia, apa bagusnya membela dia. Kenapa kamu tidak membela aku kekasih kamu, justru malah memihak pria lain?" bentak Steve. Dia tidak peduli kalau Dinda kekasihnya yang ia cintai itu menerima bentakannya.
__ADS_1
Dinda merasa sakit hati karena di bentak oleh Steve. Dia tidak berniat membela Dani tunangan Eva. Dia hanya berusaha mendamaikan Steve, tapi pria itu justru menyalahkan dirinya.
Dinda seketika menitikkan air mata, dia berusaha menahan agar tidak menangis, tapi air matanya berkata lain.
"Kalau kamu marah-marah seperti ini, sebaiknya aku pulang dulu. Sepertinya suasana hati kamu belum baik," Ucap Dinda berdiri lalu meninggalkan Steve yang ada di bangku taman. "Aku akan menghubungi kamu kalau aku sudah sampai di rumah," katanya. Dinda tahu kalau Steve tidak berniat membentaknya begitu, tapi rasanya sangat sakit jika mulut Steve secara langsung mengatakan ucapan kasar seperti itu.
Steve awalnya bersikap masa bodoh. Suasana hatinya sedang kacau sehingga dia sulit berpikir dengan jernih. Dinda sudah pergi meninggalkannya, Steve berpikir kalau gadis itu hanya akan membual, nyatanya dia tidak kembali setelah mengucapkan kata pulang.
"Apa yang aku lakukan?" Steve mendadak sadar kalau dia sudah menyakiti Dinda. Apalagi gadis itu sudah meninggalkan dirinya sendiri di bangku taman sambil membawa air mata yang berlinang.
Argh! Steve mengerang lalu memukul kepalanya sekeras mungkin. Aku bodoh, kenapa aku malah menyalahkan dia. Pria tolol, kata Steve mengumpat dirinya sendiri.
Steve tidak mau gadis itu larut dalam kesedihan karena ulahnya yang bar-bar. Steve tidak menurunkan egonya, tapi sudah menjadi kewajibannya kalau dia yang harus meminta maaf lebih dahulu pada Dinda. Steve mengejarnya, tidak peduli sejauh mana dia sudah pergi.
Aku nggak menyangka. Dia tega membentak ku hanya karena aku tidak memihaknya, di tengah jalan yang ia susuri, Dinda menangisi kejadian Steve memarahinya tadi.
Memangnya kenapa kalau aku hanya bersikap netral, gerutu Dinda seraya menangis bersedih. Mengapa dia harus memarahi ku dengan kata-kata kasar? Memangnya salah kalau seorang wanita menginginkan sesuatu yang damai dan tentram.
Di pelataran jalan, Dinda tidak peduli orang-orang melihatnya menangis cengeng seperti anak kecil. Dia bukan tipe wanita yang hanya akan memendam rasa sakit di hati.
Steve mengejar Dinda, dia ingin meminta maaf pada wanitanya itu. Dari kejauhan Steve melihat bayangan punggung wanitanya. Dengan cepat Steve meraih tubuhnya lalu memeluk wanita itu dari belakang walau orang-orang berlalu lalang di sekitar trotoar melihat tingkahnya, Steve mengabaikannya. Steve akhirnya menemukan Dinda, beruntung dia belum pergi terlalu jauh.
"Maafkan aku," kata Steve mengiba. "Maafkan aku sudah membentak kamu tadi. Aku benar-benar tidak bisa menahan emosi ku tadi, sehingga kamu menjadi sasaran kemarahan tidak jelas ku. Aku mohon, kamu tidak marah lagi pada ku, kan?" Steve berkata dengan tulus, dia tidak mau Dinda sebal padanya dalam jangka waktu berkepanjangan.
"Aku memaafkan," jawabnya, dia membalikkan badannya menatap wajah Steve. "Tapi aku bingung mas, siapa ya?"
Steve kaget bukan kepalang, bagaimana mungkin wanita yang dia peluk bukan Dinda melainkan wanita entah dari mana, bahkan rupanya menyakiti retina Steve untuk di lihat.
"Kamu siapa?" Steve bergidik ngeri saat wanita itu tersenyum. Terlebih giginya besar dan lebih mancung dari bibirnya. Moncongnya sangat menakutkan, bahkan dia menggunakan riasan begitu menor dengan bulu mata tebal berwarna-warni.
"Aku wanita yang memaafkan kamu," katanya kembali tersenyum sambil mengedipkan mata menggoda. Wanita ini memamerkan gigi-gigi besarnya pada Steve. "Kamu aku maafkan, mari peluk aku lagi, sayang," katanya yang sudah ketagihan apalagi di peluk pria tampan, wanita itu makin bergairah.
"Aku tidak kenal siapa kamu," jawab Steve. "Maaf, aku sepertinya salah orang," tukas Steve yang merinding melihat wanita itu.
Walau dia terlihat tua, tapi penampilannya sangat modis bahkan Steve tertipu karena dia menyangka itu adalah Dinda. Apalagi pakaian yang di kenakan-nya sama seperti yang di pakai Dinda.
Steve pergi secepat mungkin menghindari mimpi buruknya di siang hari itu. Ketika Steve menoleh, tak sengaja Dinda melihat adegan pelukan ini. Dinda makin sebal pada pria mesum itu, di depan keramaian orang dia berani memeluk wanita lain.
Dinda untuk kedua kalinya harus menahan sakit hati atas kelakuan pria itu.
Ku kira dia akan mengejar ku lalu meminta maaf, tapi siapa sangka. Dia ternyata tega melakukan itu di hadapan ku, Dinda makin tak bisa menahan rasa sakit hatinya atas perlakuan Steve ini.
Sial! Steve berang, sebab Dinda melihatnya memeluk wanita lain tepat di depan matanya. Kenapa dia harus melihat sih. Hari ini kenapa hidup ku sangat sial, brengsek!
Steve mengejar Dinda untuk kedua kalinya, hingga dia benar-benar mendapatkan lengan Dinda yang sebenarnya.
"Dinda.... Dinda.... Dinda..." Ucap Steve menarik paksa lengan wanita yang sedang merana itu. "Kamu salah paham, aku tidak mungkin melakukan itu. Aku bisa menjelaskan situasi yang sebenarnya."
Dinda menampik tangan Steve. "Sebelumnya kamu memarahi ku, sekarang kamu memamerkan pada ku kalau kamu punya kekasih baru yang jauh lebih cantik dariku, wah," Dinda berusaha menguatkan diri menghadapi situasi seperti ini.
Tapi Steve, dia bersikap masa bodoh saat ini yang terpenting baginya adalah wanita-nya itu tidak lepas dari genggamannya.
"Kamu salah paham. Dengarkan aku!"
"Aku nggak mau dengar apapun. Kamu tega," jawab Dinda agak emosi. "Aku pikir kamu akan mengejar ku lalu meminta maaf, nyatanya yang kamu lakukan apa? Memeluk gadis lain tepat di hadapan ku. Kamu jahat tahu gak?" Sentak Dinda, menampik tangan Steve lalu meninggalkannya.
Steve mendercit, dia menarik kembali lengan Dinda. "Kamu dengarkan aku dulu! Oke!"
BERSAMBUNG.
__ADS_1