
Aku memang bukan orang hebat, tapi aku sedang berusaha menjadi yang terhebat.
Aku memang bukan orang yang baik, tapi aku sedang berusaha menjadi yang terbaik.
Walau aku tidak berbakat, namun aku sedang berusaha menonjol, agar kelak aku menjadi bagian orang-orang di hargai.
Loves, care and share.
_____________________________________________
ILUSTRASI
°°°°°°°
°°°°°°°°°°°°
°°°°°°°°°°°°
°°°°°°°°°°°°°°
Suara gemercik air di kamar mandi, membuat mata Dinda jengah melihatnya hingga beberapa kali. Dua orang di dalam sana belum selesai mandi, padahal sudah hampir lima belas menit berlalu.
“Sayang. Mandinya sudah belum?” teriak Dinda dari kamar.
Putra dan suaminya itu mandi air hangat sepagi ini. Dan itu sudah terbiasa, Steve biasa mandi air hangat dengan Iqbal sejak anak itu sudah bisa merangkak.
“Lama sekali mereka mandi.”
Karena tidak ada sahutan sama sekali dari dalam sana, Dinda memaksakan diri masuk ke dalam kamar mandi.
“Astaga!”
“Nggak usah kaget. Kita masih asik mandi,” kata Steve santai.
Ah, Dinda merasa ingin menangis melihat putranya mengikuti jejak Ayahnya. Di dalam kolam kecil di dalam kamar mandi, Ayah dan anak itu mandi telanjang. Sementara si kecil asik memainkan bebek-bebek kecilnya. Kadang menggigitnya. Menggemaskan sih, tapi ulah Ayahnya, anak itu terlihat amat melakonis.
“Kamu apakan anak ku!”
Steve mengulu* tersenyum. Wajah licik itu membuat Dinda jengkel. “Dia sedang menikmati hari-hari indahnya bersama sang Ayah. Kenapa harus menginterupsi ku seperti ini.”
“Ikh. Menyebalkan.”
Dinda memukul pelan bahu Steve. Pria ini memang jingan. Bisa-bisanya dia santai, bahkan membuat si kecil asik mandi sendiri. Walau Steve mengawasinya, namun Dinda masih takut.
“Sudah dari tadi lho kalian mandi. Kenapa nggak kelar-kelar.”
“Biarin bersih.”
“Tapi nggak harus lama seperti ini kan?”
Oh, no. Mandi saja harus memakan waktu selama ini. Jika di akumulasikan total waktunya, Dinda sudah menyiapkan pakaian kerja Steve puluhan menit yang lalu. Steve memang pria paling menjengkelkan. Apa-apa, semuanya harus bersih.
Si kecil juga terlihat asik, dia tidak merasa kedinginan. Karena memang airnya hangat, jadi si kecil sesuka hati mengobok-obok air. Dan dia sesekali menjerit girang, mencipratkan air sembarang hingga wajah Dinda ikut basah ulahnya.
“Ayo sudahan. Nanti masuk angin.”
Ketika Dinda ingin mengambil putranya keluar dari air. Steve memegang tangan Dinda, raut wajah itu mulai nampak licik.
“Ayah dan anaknya belum mendapatkan layanan dari Bundanya,” kata Steve memancing isyarat. “Jangan harap bisa pergi dari sini.”
Dinda tahu, Steve mulai berulah.
“Kalian sudah lama di kamar mandi. Ayo keluar, nanti masuk angin. Tidak akan ada layanan apapun!”
Steve menggeleng keras, lalu mengambil putranya yang duduk di hadapannya. Dia tidak membiarkan Dinda mengambil si kecil darinya sebelum sang istri menuruti kemauannya. Steve memang tengah duduk santai di kolam kecil, bak sedang rileks di kolam spa.
“Aku tidak akan keluar. Sebelum istri ku membersihkan aku dan putra ku dengan sabun.”
“Memangnya itu harus di lakukan?”
Steve mengangguk. “Mau di marah tuhan!”
Ckckck. Terpaksa. Ingat terpaksa. Dinda terpaksa melakukannya. Dia tidak mengatakan langsung menolak permintaan suaminya.
Tapi dari raut wajahnya, cukup menjelaskan gambaran hati yang sedang kesal ulah Steve. Sementara pria si pemerintah, hanya cengengesan tersenyum puas. Bahkan si kecil pun terlihat senang, anak dan bapak sama saja. Tertawa atas penderitaan sang Bunda.
Dinda meraih botol sabun, lalu mengusapnya di punggung kekar Steve.
“Bagaimana kalau menjalar ke bawah,” lirih Steve pada Dinda.
“Nggak usah berpikir yang aneh-aneh. Waktunya kerja.”
__ADS_1
Glek. Padahal Steve masih ingin berlama-lama mandi dengan putranya di air hangat ini. Apalagi di temani Dinda, itulah yang Steve rasakan. Tapi istrinya menyinggung masalah pekerjaan. Seketika semangat pagi itu menciut.
Mereka mandi air hangat yang tidak terlalu panas. Oh, airnya masih di atas batas wajar, dan itu bisa di toleransi oleh tubuh Iqbal.
Tetapi tidak cukup hangat untuk Steve. Namun dia mencoba terbiasa dengan air hangat yang tak terlalu ini.
“Bagaimana kalau istri ku mandi bersama Ayah dan anaknya. Barulah aku akan keluar dari sini.”
Steve mengedutkan alisnya berulang kali. Setinggi-tingginya, Steve menaiki kedua bulu tebal di atas matanya ini. Kode kalau idenya terlampau baik.
“Bukan waktunya bermain. Aku sudah siapkan pakaian kerja kamu. Ini waktunya berangkat kerja.”
Selalu di ingatkan pada pekerjaan. Steve belum puas sebenarnya bermain dengan Iqbal di kamar mandi. Tapi, ya sudahlah. Madam Steve sudah mendengus kesal.
“Ok. Aku akan berhenti sekarang.”
Steve menuruti perintah istrinya. Di raihnya handuk yang dia gantung di belakang Dinda. Setelah selesai memakai handuk, Steve menggendong putranya keluar dari kolam kecil ini.
“Ayo nak. Bunda sudah marah,” katanya pada si kecil. “Jangan sampai kita cari masalah. Bisa-bisa kita tidak di beri jatah.”
°°°°°°°°°°°°
“Aku harus berangkat dengan pakaian rapi mulai sekarang. Demi pacar, aku harus terlihat menawan.”
Di depan kaca yang tingginya hampir sama dengan tinggi tubuhnya. Zico menimang-nimang wajahnya. Oh, Zico merasa kalau dia juga terlihat agak tampan.
“Baru aku sadari kalau aku menawan,” katanya cengengesan. Dia terpekik tertawa sambil mengikat dasi di lehernya.
Namun, kejadian kemarin saat dia mengatakan cintanya pada Vanya. Rasanya Zico amat malu mengingatnya kembali. Dia membuka kembali baju yang sudah rapi ini. Di depan kaca, Zico meraba perut kerasnya yang pernah di raba oleh Vanya.
“Oh sial. Kenapa aku tidak romantis. Kenapa aku malah mengungkapkan perasaan ku di toilet. Pasti Vanya merasa ini agak aneh. Sialnya!”
Zico mengacak kesal rambutnya. Kejadian itu membuatnya malu sendiri kala mengingatnya. Karena moodnya berantakan akibat ucapan konyolnya pada Vanya, dasi yang sudah terikat rapi ini, Zico acak-acak kembali.
“Sh^t. Kenapa bisa aku mengucapkannya sembarang. Kalau tahu dia akan membalas perasaan ku. Seharusnya aku mengatakannya di tempat yang romantis.”
Zico duduk di pinggir tempat tidurnya dengan perasaan kesal yang menyelimuti emosinya. Sumpah, jika waktu bisa di undur ke tempat di mana Zico mengucapkan kata-kata itu, maka Zico tidak akan melakukannya di toilet.
Bisa jadi dia akan mengucapkannya di bawah menara Eiffel atau di Namsan tower di Korea. Sh°t.
Zico meremat pahanya kesal. Sesekali memijat kepalanya, berharap pusing memikirkan kejadian kemarin agar cepat berlalu dari ingatannya.
Saat dia tengah gundah akibat tersulut emosi sendiri. Handphone yang ada di sebelahnya, bergetar. Ketika di lirik, di layar handphone tertera pesan dari Vanya.
[“Semoga pagi mu menyenangkan.”]
Pesan dari Vanya. Melihat pesan itu Zico langsung beranjak semangat.
Di pandangi-nya hingga berkali-kali pesan itu. Tidak tahu harus membalasnya dengan kata apa. Hati kecil Zico tak bisa mengatakannya.
“Oh. Sepagi ini kamu sudah membuat ku semangat. Ku pikir aku tidak akan mendapatkan kata-kata ini dari pacar ku sendiri.”
Zico akhirnya membalas pesan dari Vanya dengan kata-kata tak romantis. Hanya pesan—
[“Nanti aku akan menjemput mu. Tunggu aku lima belas menit lagi.”]
Di akhir mengirimkan balasan pesan, Zico mencium kembali benda pipihnya.
“Aku memang sudah berumur. Maaf kalau gaya pacaran ku seperti anak remaja. Kedepannya aku berusaha lebih dewasa lagi ketika kencan dengan mu.”
Kembali Zico merapikan pakaiannya. Semangat kembali terukir, di kala gadisnya memberikan kata-kata yang tak biasa.
°°°°°°
“Kapan kebiasaan memakai sendiri dasi kamu ini kembali. Kamu makin manja setiap saat.”
Sambil mengikatkan dasi di kerah baju Steve, Dinda menikmati napas suaminya ini.
Tubuh tinggi ini membuat Dinda terus menjinjing setiap kali melakukannya.
“Itu tidak akan terjadi. Karena istri ku sudah fokus pada si kecil sekarang.”
“Ehm...... Sebenarnya......”
Steve memanyunkan bibirnya, kemudian dia merendahkan sedikit badannya yang tinggi.
“Kamu tahu. Dulu sebelum menikah, kamu tidak pernah memperhatikan aku layaknya pria yang kamu cintai. Kamu selalu menganggap aku sebagai pria paling di hindari. Jadi, inilah balasannya. Kamu harus selalu menerima sikap manja suami tampan mu.”
“Apakah ini sebagai bentuk balas dendam?”
Steve tak ubahnya menggeleng. “Karena suka mengabaikan suami setampan diri ku. Itulah balasannya.”
Oke. Dinda mengakui kalau dulu dia sangat bersalah. Dengan membenci pria yang kini menjadi suaminya. Jika dulu dia tahu Steve adalah anak kecil yang pernah menyelamatkan dirinya, pastinya Dinda tidak akan menghindar dari Steve.
“Si kecil sudah di beri makan belum?” Steve beralih berkata. Setelah Dinda memasangkan dasinya, dia sudah berfokus pada putranya yang asik bermain di atas kasur.
°°°°°°°°°
__ADS_1
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
°°°°
“Aku menyiapkan sarapan untuk kamu dulu. Nanti aku berikan Iqbal makan.”
Dinda memutar tubuhnya, ingin ke bawah membawakan makanan untuk Steve. Tapi Steve lebih dahulu menarik lengan Dinda.
“Biarkan aku yang menyuapi putra ku. Kamu siapkan saja makanan untukku.”
“Memangnya suami ku ini bisa melakukannya?”
Dinda yakin tak yakin. Apalagi bayi kecilnya itu sangat aktif. Bisa-bisa Steve akan kesal sendiri menghadapi bayinya yang mulai gemuk dan berat.
“Percayalah pada ku.”
“Tapi jangan sampai membuat Iqbal berantakan ya!"
Steve mengangguk. “Sumpah. Itu tidak akan terjadi,” katanya berjanji.
Oke. Dinda beralih ke bawah. Meninggalkan Ayah dan anak di kamarnya. Sementara Steve memulai bagaimana caranya menjadi seorang ayah yang sempurna.
“Putra ayah sekarang mulai aktif. Mari kita makan dulu.”
Dalam piring kecil, Steve memasukkan sesendok makan di mulut imut putranya. Dia agak telaten, tidak mau membuat putranya berantakan seperti tuduhan Dinda tadi.
“Benar kata bunda Nak. Mata, bulu mata, hidung dan semua yang kamu miliki berasal dari Ayah. Ayah merasa kalau kamu sekarang sudah menjadi saingan Ayah. Kamu sudah merebut bunda dari Ayah sekarang. Hiks.”
Steve memandangi wajah putranya. Semua orang yang melihat Iqbal, memang benar-benar mengatakan kalau anak itu adalah Steve versi kecil.
Bulu matanya panjang. Bibirnya merah merekah. Senyumnya amat manis. Hanya bedanya, Iqbal terlalu menggemaskan. Berbeda dari Steve, orang-orang tidak yakin kalau anak itu adalah putra Steve. Walau mereka identik miripnya, tapi sikap garang Steve tak bisa di pungkiri kalau Steve akan memiliki seorang putra.
“Jika kamu besar nanti. Kita akan kembali ke Indonesia. Kamu harus mendapatkan identitas Indonesia nanti.”
Steve sudah memikirkan hal ini sejak lama. Dia tidak mau kalau putranya nanti memiliki identitas warga negara asing. Atau mengikuti jejak sang nenek—Ibu Diah menjadi warga negara Tiongkok.
Steve lebih memilih asik tinggal di Indonesia jika dia bisa menolak kemauan sang Papa. Namun tak ubahnya, tinggal di sana tetapi identitas warga negara Indonesia.
Steve dengan lembut menyuapi putranya makan. Walau dia terlihat pemarah dengan wajah dinginnya itu, namun hatinya terpatri untuk putranya.
“Makanan sudah siap.”
Dinda datang dari bawah membawakan makanan. Steve tidak begitu peduli pada ucapan Dinda. Justru dia amat asik dengan mainan kecil yang sudah beberapa kali menendang wajahnya ini.
“Sayang. Makanannya sudah siap. Ayo di makan. Nanti dingin,” kata Dinda pada Steve.
Dinda mengambil posisi duduk di sebelah Steve. Suaminya ini lagi-lagi asik pada putranya.
“Bagaimana kalau hari ini aku tidak bekerja. Aku masih ingin bermain dengan jagoan ku.”
“Nggak,” jawab Dinda kilat. Steve sudah mengiba di depannya. Pria ini memang pintar dalam merayu Dinda. “Dua hari yang lalu kamu absen kerja. Masa sekarang mau absen lagi.”
“Habisnya aku tidak tega meninggalkan si kecil.”
Dan ya. Memang Iqbal mengerat pada Steve. Dia menarik dasinya, bahkan menggigit dasi itu hingga berlumuran air liurnya.
“Aku ada di dekat si kecil. Pokoknya kamu harus kerja. Aku tidak mau kalau kamu absen lagi bekerja.”
“Aku kan pemilik perusahaan. Bukankah hal wajar kalau aku absen bekerja.”
Steve menatapnya dengan senyum membantah puas. Sementara Dinda terlihat kehilangan kata-kata untuk mengomeli suaminya ini.
“Aku tahu itu, tapi—”
“Kamu mengizinkan?” dengan cepat Steve mengambil kedua tangan istrinya. Lalu menciumnya. “Kamu memang istri yang baik.”
Oh. Bukan itu yang ingin aku katakan. Kenapa suami ku saat ini sudah malas bekerja. Dulu sebelum menikah, dia sangat giat. Ah, dosa apa yang aku perbuat, sampai-sampai seminggu ini sudah empat kali absen bekerja.
“Terus. Kalau tidak bekerja, apa yang mau kamu lakukan di rumah?” tanya Dinda meminta alasannya.
Sebenarnya sederhana saja jawaban dari Steve. Fokusnya tertuju pada si kecil yang menggemaskan ini.
Dinda baru sadar, kalau si kecil sudah di pakaikan mantel berbulu yang kemarin di beli Steve dari mall. Kala melihat itu, seluruh perasaan bercampur aduk. Sungguh, hati kecilnya ingin menangis saat si kecil di perlakukan seperti bak mainan oleh Ayahnya sendiri.
“Ini musim panas. Kenapa pakai mantel bulu segala.”
Tingkah Steve membuat si kecil memang makin menggemaskan. Tapi Dinda khawatir, kalau mantel itu merusak kulit putranya. Bahkan menjadi iritasi.
“Dia terlihat seperti kelinci kalau memakai mantel bulu ini. Sumpah.”
Dengan santainya Steve berkata bahwa itu sebuah hal yang lucu. Namun Dinda menahan kesal, bukan itu yang dia pikirkan. Si kecil juga terlihat santai-santai saja atas ulah Ayahnya.
Dasi Steve dari tadi juga asik di gigit-gigit sampai basah. Anak itu mengerang, ketenangannya membuat Steve tak bisa berhenti untuk mengganggunya.
“Hiks. Hiks. Kenapa kamu berbuat seperti ini pada putra ku.”
__ADS_1
“Bunda menangis nak. Hihi”