
Ucapan Steve semalam melarang dinda untuk bekerja tak di indahkan oleh wanita keras kepala ini.
Dia masih masuk bekerja dan tak mau mendengarkan ucapan Steve apapun bentuk ucapan itu karena ia merasa tidak dalam masa sakit ataupun demam seperti yang ia ucapkan.
Pagi-pagi di kantornya, Dinda mengoceh sebal karena memikirkan kejadian semalam. Kejadian yang di anggapnya sebagai mopeng.
"Untung saja dia bukan seperti pria yang kebanyakan dalam komik. Dimana ada seorang wanita jatuh sakit langsung terburu-buru di bawa ke rumah sakit. Setidaknya Pak Steve masih sedikit punya pikiran untuk tidak membawa ku pergi kerumah sakit. Jika tidak maka adegan dalam komik pasti akan menjadi nyata. Huh sungguh menyebalkan!" Dinda menggerutu lesu di depan meja kerjanya. Ia berpikir bahwa jika adegan di dalam komik itu menjadi nyata mungkin ia akan merasa sedikit malu untuk mengingatnya.
"Hei Din. Pagi-pagi kok lesu?" Eva menyapa sambil megambil tempat duduknya.
"Entahlah," Dinda menjawab makin lemas sambil membuang pulpen yang ia jepit kan dan ia mainkan di antara bibir atas dan hidungnya.
"Pagi-pagi kenapa lemas? apakah kamu belum sarapan?" tanya Eva sedikit ingin tahu.
"Lupakan sajalah. Aku sedang tidak ingin membahas makan pagi ini." Dinda melakonis tingkah lesunya lagi itu.
Eva tidak bisa berbuat apa pun selain menurutinya. Ia tak mau memaksa Dinda untuk berdongen di pagi hari ini terlebih jam kerja telah di mulai. Dan ia tak bertanya apapun lagi, selain mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk di meja.
Tetapi pagi itu beberapa karyawan yang satu ruangan dengan Dinda dan Eva sedikit berbisik-bisik kecil di tangah pekerjaan yang sedang sibuk-sibuknya.
Mereka menggosip kabar mengenai kejadian kemarin sore di kantor pusat tepat di saat Dinda ikut Steve di kantor itu.
"Aku dengar di kantor pusat ada keributan. Katanya sih dua wanita galak dari keluarga Tama yang membuat kacau."
"Aku tahu itu. Aku juga dengar kalau Pak Steve mendepak pembuat rusuh kemarin ketempat sampah. Sungguh mengerikan jika berurusan dengan bos galak. Bisa-bisa kita juga di depak ke tempat sampah jika membuat masalah dengannya. Jangan sampai aku seperti itu."
"Aku juga dengar bahwa pak Steve terkenal kejam dan bengis. Pantas saja wajah garangnya itu sesuai dengan imagenya. Dia bukan pria yang ideal dengan prilaku kejiwaannya."
"Lagi pula tidak ada wanita manapun yang bisa bersanding dengan Pak Steve dalam waktu yang lama tlebih citra sombong dan angkuhnya itu terus melekat. Aku pun tidak Sudi jika punya suami yang over introvert."
"Aku pun tidak berharap jika memiliki suami semacam itu kelak. Hanya akan membuat batin sakit hati dan menderita. Meskipun dia tampan dan kaya, tinggi dan sempurna. Aku akan menganggapnya sebagai aib dalam hidup ku."
Beberapa wanita menggosipi Steve dengan kata kasar penuh penilaian negatif. Imajinasi mereka menggambarkan sosok Steve memang nyata pikir Dinda yang mendengarnya. Namun mereka terlalu berlebihan menanggapi image buruk pria itu, seakan image itu tak bisa di negosiasikan.
Karena se-kasar apapun Steve, ia tidak menunjukkan hal ini secara langsung pada orang lain dan Dinda sendiri sedikit bertolak belakang pada gosipan para koleganya itu. Walau Dinda tak menyukai karakter Steve, tetapi setelah melihat ramahnya Steve di kantor pusat, membuat Dinda tahu sisi lain pria itu.
Gosipan ini tak hanya Dinda yang menikmati tetapi eva juga mendengar umpatan dan gosip kecil itu sekilas sehingga dirinya tertarik untuk ikut alur menggosip.
"Apa yang di katakan mereka beneran Din?" tanya Eva penasaran pada kebenaran gosip kecil ini.
"Beneran seperti apa?" Dinda pura-pura tak tahu dan bersikap polos.
"Nggak usah sok polos deh. Kamu pasti tahu sesuatu kan. Apalagi kamu kemarin ikut Pak Steve ke kantor pusat pasti kamu tahu sesuatu?"
Dinda tertegun sejenak memperhatikan wajah penasaran Eva yang tak terbendung. Di sisi lain dirinya juga tak bisa menceritakan kejadian sebenarnya pada Eva.
"Apakah harus aku katakan kejadian sebenarnya pada Eva bahwa kejadian kemarin adalah antara aku dan Tante Diana?" Batin Dinda sedang dalam ragu untuk menceritakan hal ini atau tidak.
"Sebenarnya aku..."
"Sudah! sudah! sudah! jam kerja sudah di mulai dari tadi, jangan mengumpat lagi jika tidak kita akan mendapatkan surat peringatan. Lain kali kamu ceritakan, aku siap mendengarnya!" potong Eva pada bicara Dinda. Lalu ia melanjutkan pekerjaannya.
"Ya seharusnya aku pikir Eva tidak perlu tahu akan hal ini," pikir Dinda dalam hati lega, setidaknya Eva akan melupakan hal ini sejenak.
"Baiklah kalau begitu. Aku ingin menyerahkan hasil laporan bulan lalu ke kantor pak Steve."
Dinda beranjak dari tempat kerjanya meninggalkan eva.
"Hmm," jawab Eva mengangguk saja karena ia sedang fokus pada planning point' nya di Microsoft.
Dinda mengantarkan berkas-berkas yang ia selesaikan sebelumnya ke ruangan Steve. Di depan ruangan Steve ia berhenti sejenak di depan pintu kaca seraya menarik nafas dalam-dalam dan dirinya siap menarik gagang pintu yang akan menuntunnya kedalam menemui pria introver berprilaku kasar.
"Permisi." ucap Dinda dengan sopan santun. Jika tidak mengucapkan hal ini, maka pria itu akan menjadikan ini suatu kesalahan lagi untuk dirinya. Tidak tahu berapa banyak hutang yang akan Dinda bayarkan jika sedikit-sedikit harus terkena pinalti. Habis sudah gajinya jika harus menutupi kesalahannya hanya untuk perkara kecil.
Tetapi sangat di disayangka, sebab dinda tak mendapati siapa pun didalamnya. Bahkan ruangan itu bersih dari kegiatan sejak awal masuk dan masih tertata rapi.
"Tidak seperti biasanya Pak Steve tidak di kantor. Apakah dia sudah tidak di kantor kecil ini lagi?" Dinda bertanya-tanya ada apa ini. Mengapa pak Steve sudah siang seperti ini belum datang.
__ADS_1
"Mungkinkah dia sudah pindah ke kantor pusat?" Dinda menerka sedikit mengapa bos ini belum juga datang di kantor ini.
"Ataukah Pak Steve jatuh sakit ya semalam? sehingga sampai sekarang dia belum tiba di kantor." Tambah Dinda menebak apa yang terjadi pada tuannya saat ini.
Matanya menyapu bersih ke seluruh sudut ruangan Steve. Mata gadis ini membelalak melihat sana sini. Dan ya, yang Dinda dapati hanya sebuah ruangan kosong tanpa penghuni.
Dinda tidak ingin berlama-lama dalam ruangan sepi ini. Sehingga dirinya meninggalkan laporan di atas meja kerja Steve begitu saja.
Karena Steve tak masuk bekerja membuat Dinda takut jika terus berlama-lama di dalam ruangannya. Takut pada kesunyian ruangan yang lebih dingin dari pemiliknya.
Namun ia ingat bahwa Steve semalam mengatakan bahwa ia harus datang kerumahnya seperti sebelumnya.
"Ya mungkin saja dia sedang sakit," pikir Dinda menebak terlebih semalam Steve sedikit bersin. Flu meradang.
"Mengapa aku menjadi khawatir dengan pria itu? entah dia sakit atau tidak? aku tidak peduli padanya."
Ucap Dinda sedikit tidak mempedulikan kesehatan pria itu.
"Sebaiknya aku pergi dari sini. Tempat ini sangat angker!" Dinda bergidik merinding.
Jam istirahat kantor adalah yang paling di tunggu oleh semua karyawan. Perut yang sudah meng-keruyuk bergoyang hebat meminta empunya lambung mengisi bahan makanan.
Di saat Dinda keluar dari kantor Steve, Eva yang sudah menantikan kedatangan sahabatnya itu langsung menghampiri Dinda seakan inilah yang ia nantikan.
"Kamu lama sekali. Aku sudah menunggu dari tadi." Eva bersikap manja dan menggoda seakan dia sangat perhatian pada Dinda.
"Ayo kita ke restoran di depan. Aku sudah sangat lapar!" tukas Eva sambil merangkul tangan Dinda dan membawa wanita itu keluar mencari makan.
"Iya baiklah. Aku tahu kalau perut kecil mu itu sudah meronta-ronta minta makan. Mari kita meluncur mencari makan," jawab Dinda antusias dan bersemangat.
Mereka memilih makan di Restoran cepat saji khas Jepang dan memesan makanan nikmat. Shushi, daging bakar berbeque, teobboki dan makan iga panggang pedas. Para gadis itu menikmati makan-makan mereka yang terlihat lezat.
Makanan-makanan itu sudah tersedia di atas meja santap. Penampilannya saja sangat meyakinkan dan menggugah selera. Sungguh sebuah kenikmatan yang tak bisa di tolak oleh perut yang menggigil meminta makan.
Di atas meja makan mereka menikmati semua makanan penuh dengan nafsu membara khas mukbang Korea.
"Sangat nikmat," balas Dinda tak bisa menahan liur. Sungguh dirinya tak kuasa jika harus menahan rasa nikmat ini.
"Kalau begitu, maka kita harus menghabiskan semua ini!" seru Eva penuh semangat menyantap makanan.
Mereka makan dengan puas hingga makan di siang hari itu bersih, bahkan makanan berbumbu pedas itu bebas dari sayur dan daging di dalamnya.
"Aku kekenyangan Sekarang." Eva berujar lemas tak sanggup menahan bobot makanan yang masuk.
Eva yang paling antusias memangsa makanan lezat ini, alhasil dia merasa paling penuh isi perutnya.
Ia menenggelamkan kepalanya di kursi agar perutnya cepat mencerna makanan yang masuk.
Dinda melihat eva kesulitan bernafas, dan membuatnya terkekeh karena tingkahnya amat imut dan lucu.
"Aku yang akan mentraktir makan hari ini!" Dinda menawarkan pembayaran gratis pada Eva dan menanggung semua biaya makan hari itu. Sayang melihat wanita imut itu harus bergerak kesulitan.
"Kamu memang yang terbaik sayang ku." Eva membalas manja sambil tangan wanita itu mengelus-elus perutnya tanda bahwa ia merasa sangat kekenyangan saat ini.
Dinda tersenyum manis. Ia tahu eva tak akan menolak jika berhubungan dengan kata gratis.
"Kamu memang selalu mengatakan hal itu. Sampai bosan telinga ku mendengarnya," Dinda berujar bercanda sambil meledek halus sahabatnya.
"Iya. Lain kali aku akan mentraktir mu jika ada kesempatan!" seru Eva lesu menahan perutnya yang mengeras kekenyangan seakan perut kecil membuncit itu ingin meledak. Mengeluarkan semua isi di dalamnya.
Sedangkan Dinda beranjak dari kursinya menuju ke meja kasir untuk membayar semua makan yang di pesan sebelumnya.
Semuanya ia bayar menggunakan kartu kredit pribadinya.
Sempat Dinda berpikir bahwa kartunya akan di tolak oleh kasir dengan alasan saldo kurang atau kartu telah terblokir. Seperti yang pernah ia lihat dalam sebuah drama dimana seorang wanita ketiban sial saat akan mentraktir sahabatnya berbelanja dan makan.
Sungguh Dinda akan merasa sangat malu jika hal itu terjadi.
__ADS_1
Namun bersyukur bagi Dinda, karena apa yang ia pikirkan tidak terjadi. Jika hal itu terjadi mungkin dinda akan mengatakan hal ini adalah akibat dari korban sinetron.
"Terima kasih atas kunjungan anda di restoran kami!" ucap kasir wanita dengan ramah sambil mengembalikan kartu kredit Dinda.
Dinda membalas wanita itu tersenyum seraya meninggalkan meja kasir restoran.
Ia kembali menuju ke meja di mana ia dan Eva makan bersama.
Namun nahas, teman yang datang bersama Dinda tidak ia temukan di mejanya.
"Kemana Eva pergi. Biasanya ia akan menunggu ku jika aku sedang pergi ke meja kasir. Apakah dia sedang ke kamar mandi ya?" Dinda berujar menebak dimana eva berada.
"Sebaiknya aku tunggu saja dia di depan restoran," tambah Dinda mengambil ide yang baik.
Dinda memutuskan mengikuti nalurinya untuk menunggu eva di depan restoran yang dekat dengan parkir.
Ia berdiri di sana sambil tangannya sibuk memainkan handphone menunggu Eva kembali.
Kebetulan di parkiran, Johan yang keluar dari mobil hitamnya, melirik ke arah restoran tepat dimana Dinda sedang berdiri menunduk memainkan handphone.
"Dinda!" ucap Johan sediki kaget karena kembali bertemu dengan kekasih di masa kuliah untuk kesekian kalinya.
Tanpa pikir panjang pria ini menghampiri Dinda yang sedang sendirian. Pikir johan tak ada salahnya jika mendekati kembali Dinda.
"Dinda!" sahut Johan dengan girang.
"Kak Johan!" kali ini Dinda yang kaget dan menghindar tak ingin mendekati Johan lagi. Pria itu berdiri tepat di hadapannya dengan sikap manis bahkan ekspresi wajahnya terlihat sumringah bahagia.
"Sedang apa kak Johan disini?" tanya Dinda sambil menghindari kontak fisik dengan Johan.
Namun Johan tak membiarkan Dinda menghindari dirinya. Secepat kilat ia menarik lengan Dinda yang mencoba kabur meninggalkan dirinya dengan sengaja.
"Lepaskan aku kak Johan!" pekik Dinda memberontak kasar.
Namun Johan tak mengindahkan ucapan itu justru dirinya makin nekat memegang tangan Dinda.
"Dinda! mengapa kamu selalu menghindari ku. Mengapa kamu tidak suka pada ku jika aku ingin berada di samping mu!" Johan memulai bicara kasualnya.
"Kita tidak memiliki hubungan apa pun kak Johan. Jadi ku mohon lepaskan pegangan tangan kak Johan dan biarkan aku pergi!"
"Tidak Dinda. Aku tidak akan melepaskan mu sebelum kamu mengatakan bahwa pria itu bukan tunangan mu. Katakan bahwa semua itu bohong Dinda."
"Kak Johan. Tidak ada yang perlu di jelaskan. Aku harap kakak pergi menjauh dari kehidupan ku. Aku tidak mau menjadi inang dalam kehidupan kakak. Dan kakak tidak perlu tahu kehidupan pribadiku!" dengan kasar Dinda mencoba melepaskan pegangan tangan Johan yang erat dan ingin berlalu meninggalkan Johan.
"Tidak! aku tidak akan melepaskan diri mu Dinda. Aku sangat mencintaimu. Aku ingin kita menjalin hubungan seperti dulu!" ucap johan tegas seraya ia menarik kembali lengan Dinda, tak ingin wanita itu pergi dari lagi.
"Lepaskan kak Johan. Aku bukanlah Dinda yang seperti dulu yang selalu percaya pada ucapan kak Johan?" Dinda memberontak melepaskan tangan Johan dengan paksa.
Hingga ada seorang wanita yang tak tahu dari mana asalnya tiba-tiba menghampiri keduanya lalu menampar muka Johan dengan kasar.
PLAK
Wanita yang Dinda lihat itu sungguh berani menampar wajah seseorang tanpa ada rasa takut sama sekali.
"Apa kamu tidak punya malu. Memegang tangan seorang wanita di depan muka umum dengan paksa. Apa kamu pikir tindakan mu itu baik." Wanita itu berbicara sejenak seraya mengibaskan tangannya karena efek domino dari menampar wajah seseorang memberikan sedikit reaksi sakit di tangan.
"Kau!" pekik Johan marah usai di tampar oleh wanita tak di kenalnya.
"Iya aku. Aku katakan sekali lagi, jangan pernah mengganggu wanita dimana pun itu. Jika tidak aku akan menghajar mu sampai babak belur. Kau mengerti!" wanita itu berteriak dengan nada tinggi khas wanita yang sedang emosional. Sambil jari telunjuknya mengacung di wajah Johan dan akan mengingat wajah mesum ini.
"Ayo kita pergi!" tukas wanita itu membawa Dinda menjauh dari Johan yang pemaksa.
Keduanya pergi meninggalkan Johan yang sedang bingung pada tingkah wanita yang tiba-tiba memukul wajahnya hingga memerah. Ia memegang wajahnya yang memar dengan sentuhan pelan sebab sedikit sakit bahkan hingga ke gusi dan giginya sedikit ngilu.
"Sial!"teriak Johan menggerutu sambil menendang tempat sampah hingga terjatuh.
BERSAMBUNG
__ADS_1