UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 137


__ADS_3

"BERHENTI MEMBENCI ORANG LAIN. KARENA ITU AKAN MEMBUAT MU TERUS MEMIKIRKANNYA."


(DINDA NURSHABRINA)


______________________________________________



_____________________________________________


"A—aku......"


"Kalian lihat. Dinda mengakuinya, kalau aku tidak memaksanya," sambar Johan cepat.


Kebimbangan Dinda di manfaatkan dengan baik oleh Johan. Tidak menyangka saja bagi Johan kalau Dinda akan termakan oleh ancamannya tadi.


Walau Johan mengatakan hal-hal konyol itu pada Steve. Alih-alih percaya, justru Steve menyinggungnya dengan senyuman kecut.


"Kau yakin Dinda akan melakukannya?" tanya Steve. "Apa kau benar-benar sudah bertanya dengan sungguh-sungguh apakah Dinda mau menikahi pria yang tidak dia cintai. Seyakin itukah kau percaya kalau Dinda mau hidup bersama mu?"


Satu hal yang Steve sangat pahami dari seorang Dinda. Dia benci pada masa lalunya sendiri. Steve tahu, masa lalu Dinda bersama Johan dulu adalah kisah lama. Oleh karena itu, walau Johan berusaha memanipulasinya, Steve merasa kebohongan itu nyata.


Keraguan Dinda membuat Steve yakin—kalau Dinda di ancam oleh Johan. Wajah itu mengatakannya.


"Apa maksud mu?" tanya Johan kebingungan. Steve di mata Johan bukanlah tipe pria yang mudah percaya pada rumor. Johan tahu, Steve pasti sudah menyadarinya. Sadar kalau semua ini bukan kemauan Dinda. Tapi itu hanya pemikirannya saja, belum tentu itu ada benarnya.


Apakah dia sudah menyadari semua ini. Apakah dia tahu kalau aku sudah mempengaruhi Dinda melalui ancaman tadi.


Steve, pria introver ini dengan santainya membelakangi Johan yang sedang bertanya penasaran. Sekilas Steve menoleh kearah Johan, setelah itu dia mengedipkan matanya pada Zico.


Zico paham maksud Steve, dia dengan cepat mengeluarkan tablet lebar dari balik parlente cokelatnya.


"Mungkin kau belum tahu berita yang baru saja terjadi akhir-akhir ini. Sebaiknya, aku langsung katakan saja berita ini padamu," kata Zico pada Johan.


"Berita?" Johan mengulangi ucapan Zico. Mata itu sedikit memicing, menginterupsi wajah Zico yang agak serius. "Berita apa yang membuat mu begitu semangat ingin membahasnya."


"Sesuatu yang mungkin agak membuat kau terkejut."


Sesuatu yang membuat aku terkejut. Apa?


Johan tidak tahu apa berita itu. Tapi wajah Zico amat melakonis. Sampai-sampai Johan seakan tidak sanggup mendengarnya. "Katakan!" seru Johan yang menantikan kabar itu.


"Saat ini Tuan Tama shock berat mendengar kabar kalau kau membawa Dinda kabur ke Ethiopia. Di tambah, semua perusahaan grup Tama sudah di akuisisi oleh grup Wong. Kejadian ini membuat penyakit Ayah mu semakin parah. Gagal jantungnya membuat Tuan Tama harus segera di operasi. Dan dalam keadaan darurat seperti ini, keluarga kalian sudah tidak memiliki apapun sebagai jaminan rumah sakit. Kecuali menunggu putranya datang, sebelum Tuan Tama berisitirahat dengan tenang di pusaranya."


Zico menjelaskan, dari tablet itu dia memutarkan sebuah video singkat dan sebuah artikel berita mengenai kebangkrutan keluarga Johan.


Bukan bangkrut, hanya berita kemunduran usaha Tama grup secara perlahan. Tidak sekejam itu Steve melakukannya. Menjatuhkan usaha musuh dalam waktu singkat, sungguh Steve bukan tipe itu. Dia lebih suka bermain-main dahulu sebelum benar-benar menghancurkan musuh-musuhnya.


Usai melihat video itu, di tambah ucapan Zico yang menjelaskan detail orang tuanya saat ini—membuat Johan sedikit agak ragu.


"Apakah tadi itu Mama ku yang menangis?" tanya Johan yang percaya tak percaya pada berita ini. Berita yang di sampaikan itu membawa sebuah keraguan di benak Johan.


"Saat kau membawa kabur Dinda ke Ethiopia. Nyonya Diana bersimpuh di kaki ku, berharap kalau aku akan mengampuni usaha keluarga Tama. Tapi sayang, mengakuisisi perusahaan kalian tidak bisa lagi di batalkan. Jika aku tidak melakukannya, maka perusahaan kalian akan bangkrut. Bisa jadi akan musnah dari daftar pengusaha kaya raya," kata Steve menyahut.


Steve tidak punya hati. Oh, sungguh dia memang pantas di sebut sebagai pria macam itu. Namun, Steve bukan orang gila yang akan merampas kekayaan orang lain tanpa sebab. Jika tidak ada api, maka asap mungkin tidak akan muncul. Itulah kenapa Steve bertindak lebih jauh selama ini.


"Ha-ha-ha," sambar Johan. "Kalian pikir aku akan percaya begitu saja pada ucapan kalian!" tandas Johan kontra. "Aku tidak akan mempercayainya. Aku tahu, ini pasti akal-akalan kalian agar aku melepaskan Dinda."


"Kau sepenuhnya yakin tidak mempercayai apa yang aku katakan?"


"Tidak!" jawab Johan cepat. "Selamanya aku tidak akan pernah percaya pada apa yang kalian katakan!"


Entah bagaimana caranya membuat Johan yakin kalau berita itu benar-benar sungguhan. Steve sulit membuat pria ini memahami keadaanya sekarang. Dia pria batu, keras kepala membuatnya bebal menerima kenyataan.


"Oke. Kalau kau tidak mempercayainya. Mungkin ucapan ku tadi adalah angin lalu di telinga mu. Tapi bagaimana dengan ini—"


Jika melalui ucapan Johan sulit mempercayainya. Maka, Steve dengan senang hati menunjukkan keadaan sang Ibu melalui layar gawainya.


Tuan Tama di rawat di ruang VIP rumah sakit. Steve yang membiayai pengobatan itu. Di sana ada cctv yang langsung terhubung di dengan ponselnya. Tidak tahu apakah Johan akan percaya saat melihat sang Ibu sesenggukan dari balik benda pipih itu. Yang pasti Steve tidak memanipulasi video secara langsung itu.


"Apakah rekaman ini aku buat-buat?"


Ketika Johan melihat pengakuan Steve mengenai kejadian ini. Johan merasa terpuruk. Walau dia selalu kesal pada sang Ayah, namun Johan masih memandangi wajah sang Ibu. Hanya dia yang mengerti Johan saat ini.

__ADS_1


Apalagi sang ibu terlihat dengan setia menunggu ayahnya bangun. Di temani air mata, Ibunya sesenggukan menatap sang ayah penuh kesedihan.


"Tidak mungkin. Kalian pasti mencoba menipu ku, kan." Entah bagaimana Johan harus menanggapi berita ini. Dia sendiri bingung apakah percaya atau tidak. Semua rasanya sakit bagi Johan. Tapi video itu jelas adalah kebenarannya. Johan—dia memegang erat kepalanya. Oh, menanggapi kejadian ini, rasanya kepala Johan tak sanggup membayangkan hal yang terjadi di sana.


"Percaya atau tidak, semua itu ada di tangan mu. Hanya kau yang bisa memikirkan ini dengan baik-baik," balas Steve.


Sumpah, Johan baru kali ini merasa cemas kala tahu kebenaran ini. Ibunya, dia saat ini mengemis-ngemis pada Steve. Dia berharap sang suami bisa selamat melalui bantuan Steve.


Johan bisa membayangkan kalau Ibunya memang saat ini sedang dalam masa sulit. Juga, ayahnya terlihat sekarat. Ah, bimbang.


Mama. Apakah benar semua ini terjadi. Apa benar keluarga kita bangkrut. Apakah Papa benar-benar sekarat saat ini. Ah, kenapa aku bisa seperti ini. Kenapa aku tidak memikirkan kalian.


Melihat Johan yang sedang di lema berat akibat memikirkan berita dari mulut Steve. Pria ini dengan cepat memanfaatkan waktu yang berharga ini.


Tanpa pikir panjang, Steve menarik Dinda yang ada di belakang Johan itu, masuk kedalam pelukannya. Steve tidak mau mengambil resiko kalau Dinda masih ada di sisi Johan.


"Sebelum bertindak, kamu harus tahu dulu bagaimana caranya berempati," kata Steve pada Johan.


Salah satu poin penting bagi Steve adalah, menyelamatkan Dinda dahulu. Sebab Steve tahu, jika Johan terdesak, maka dia akan memakai Dinda sebagai cadangannya.


Dinda adalah tameng Johan, oleh karena itu Steve gerak cepat dengan menarik Dinda lebih dahulu sebelum Johan melakukan hal-hal gila. Hal-hal yang hanya akan menyakiti orang lain. Tapi gaun yang di pakai Dinda itu membuat Steve agak jijik. Gaun yang seharusnya di kenakan oleh Dinda, hanya boleh berasal dari Steve.


"Jadi bagaimana. Apakah kau yakin ingin menikah dengan Dinda."


Tidak peduli pada perkataan Steve, Johan hanya termangu memikirkan Ibunya. Bayang-bayang orang tua itu membuat Johan lupa pada niatnya menikahi Dinda.


Saat Steve mendekap Dinda yang sudah di balut baju pengantin. Dinda, gadis ini menatap lancipnya hidung pria ini. Hanya itu yang Dinda saat ini, bukan yang lain.


Dinda sama seperti Johan. Dia termangu, tidak percaya atas apa yang dia lihat saat ini.


"Apakah kamu benar-benar Steve?" tanya Dinda memastikan. Di sentuhnya wajah Steve, dan.... Benar, Dinda menyentuh kulit itu dengan nyata. "Steve....... Kamu—"


"Iya, ini aku." Steve membalas pandangan Dinda. Steve senang, sebab dia bisa kembali melihat wajah wanitanya itu. "Aku sudah kembali."


Senang rasanya bisa melihat Steve kembali. Namun, sesaat setelah melihat wajah Steve, mata Dinda mendadak berkunang-kunang. Tak lama kemudian, Dinda yang baru saja melihat prianya—itu pingsan.


Tubuhnya lemah tak berdaya.


"Dinda. Dinda. Dinda, kamu kenapa?" tanya Steve. Pria ini mengguncangkan tubuh Dinda, dia mencoba membangunkan Dinda. Karena Dinda tidak kunjung bangun, Steve melirik sinis Johan yang berdiri di belakangnya. Lalu Steve berkata introver. "Kau apakan Dinda tadi?" tanya Steve padanya.


Johan pura-pura polos, dia seakan tidak tahu menahu kenapa Dinda tiba-tiba pingsan. Tapi Johan ingat, dua hari ini Dinda tidak di beri-nya asupan gizi. Melainkan memberikan obat bius dua hari berturut-turut.


Mungkin itulah penyebabnya kenapa Dinda pingsan. Bisa jadi dia kelelahan akibat efek obat, dan tubuhnya sudah tak mampu lagi berdiri dalam waktu yang lama. Di tambah tak ada satu sendok pun makanan masuk kedalam mulut Dinda selama dua hari ini.


"Aku tidak tahu. Aku tidak melakukan apapun pada Dinda," ucap Johan. Dia tidak mau mengakui kebenaran—bahwa Dinda tersiksa karena tak makan.


Steve sebenarnya menahan diri untuk tidak bertindak. Tapi, karena Johan berkata sok polos dan hanya berdiam diri tak mau mengakui apa yang telah dia perbuat pada Dinda. Steve terpaksa ingin memberikan Johan Bogeman mentah.


Wajah berang itu perlahan berdiri, tatapannya pada Johan amat sinis. Steve tidak bisa mentoleransi Johan lagi saat ini. Kecuali—


"Mati kau!" pekik Steve sambil tangan kerasnya mengayun di wajah Johan.


BUGH!!


Kerasnya pukulan itu membuat Johan tersungkur jatuh. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Sakit, namun Johan berusaha menahannya.


"Kau telah melakukan kesalahan dengan memancing kemarahan ku!" seru Steve garang. Pantofel hitamnya itu tidak tahan lagi untuk menginjak-injak Johan.


Saat Steve ingin menganiaya Johan, Zico menjadi penengah. Secepatnya dia menahan Steve agar tidak terlalu berlebihan bertindak menganiaya Johan.


"Steve. Kamu tidak boleh melakukannya," kata Zico menengahi.


Di dorongnya dada Steve menjauhi Johan, agar pria ini tidak melakukan kekejaman. "Jangan bertindak konyol Steve."


Akibat Zico yang menahannya, Steve pada akhirnya menuruti kata-kata Zico. Dia tidak melakukan tindakan kejamnya pada Johan. Karena Zico menyadarkannya dari kebrutalan ini, Steve mengurungkan niatnya.


"Ingat. Jika terjadi sesuatu pada Dinda. Maka aku pastikan kau akan lenyap di tangan ku!" ancam Steve pada Johan. Jari telunjuk itu sudah menunjuk Johan dengan kasar.


Sementara itu, pendeta sudah kabur sejak tadi saat Steve tiba. Entah kemana penghulu itu pergi, dia terlihat gusar. Ya, akibat Johan berkata kasar padanya, apalagi mengusirnya secara tidak terhormat. Mungkin telah membuat pria tua itu sakit hati.


Steve tidak membuang-buang waktunya lagi. Dia menggendong Dinda dalam pelukannya, ingin membawa Dinda ke rumah sakit. Kondisi Dinda terlihat sangat menyedihkan. Tubuhnya saja ringan. Terakhir kali Steve menggendong Dinda, tubuh itu rasanya agak berat. Namun saat ini jauh lebih ringan. Steve makin curiga kalau Johan sudah berbuat sesuatu padanya.


Johan yang merasa di lecehkan oleh Steve, berdiri dengan wajah dendam. "Jangan kau pikir kau bisa keluar dari sini dengan selamat!" seru Johan seraya tangannya menodongkan senjata pada Steve.

__ADS_1


Punggung lebar Steve amat enak di bidik. Johan memastikan bahwa pistolnya tidak akan melesat jika menancap di punggung Steve.


Steve menoleh sebentar, walau Johan mengancamnya, Steve merasa tidak takut. "Saat ini nyawa Ayah mu ada di tangan ku. Jika aku tidak memberikan pertolongan padanya melalui uang ku. Maka aku pastikan dalam satu kali dua puluh empat jam pria tua tidak berguna itu akan mati."


Steve tidak mengancamnya. Tetapi membalas Johan dengan sikap yang sama seperti yang dia lakukan, rasanya setimpal.


Sebelum Steve datang ke gedung dimana Tony Kim berada. Steve lebih dahulu menyambangi kantor Tuan Tama. Itu terjadi beberapa hari yang lalu, Steve menemuinya lantaran ingin mengatakan bahwa perusahaannya sudah di akuisisi.


"Papa." Saat mendengar berita Ayahnya. Entah kenapa Johan terpikirkan oleh Ayahnya itu. Jujur bagi Johan, walau dia membenci sang ayah, namun Johan juga masih punya hati untuknya. "Kau pasti sedang mengancam ku bukan?"


Steve menggeleng. "Jika tidak yakin. Bisa hubungi Ibu mu sekarang juga."


"Mama!" mata itu membelalak terkejut. Johan lupa kalau saat ini hidup sang ayah ada di tangan Steve.


Jika Johan menembaknya, itu sama saja baginya membunuh Ayahnya sendiri. Tapi jika tidak menembak Steve, maka itu adalah sebuah penyesalan terbesar dalam hidupnya.


Namun Johan memilih opsi ketiga. Terduduk lemas, pasrah menerima keadaan.


Malang bagi Johan karena akhir dari apa yang dia perbuat justru menjadi kacau seperti ini. Johan terpuruk. Dia menurunkan pistolnya, tertunduk lemas tak berdaya.


Papa. Apa yang telah aku perbuat saat ini benar-benar kejam. Seharusnya aku tidak ceroboh. Aku telah melakukan sebuah kesalahan dengan mengabaikan kalian, Pa, Ma.


Mungkin pepatah mengatakan kalau nasi sudah menjadi bubur itu ada benarnya. Seandainya Johan memiliki daya untuk bangkit, mungkin waktu yang terjadi sebelumnya ini ingin di ulanginya.


Jika saja aku bisa lebih dewasa memikirkan dengan matang akibat dari semua ini. Mungkin aku tidak akan melakukannya. Tapi semua sudah terjadi. Aku sudah membuat Papa ku sendiri sekarat. Aku yang menyebabkan semua kekacauan besar ini. Aku sudah melakukan kesalahan besar.


Apalah daya bagi Johan. Semua itu tak berarti saat ini. Kecuali semuanya berubah menjadi sebuah penyesalan.


"Tunggu!" kata Johan menghentikan Steve yang hendak pergi meninggalkan altar. "Jika aku tidak bisa memiliki Dinda untuk kehidupan ini. Bahkan walau aku hanya menjadi nafasnya di masa lalu. Aku hanya meminta satu pada mu."


"Katakan," sahut Steve cepat.


Johan berhenti sebentar pada kata-katanya tadi. Dia mengambil nafas panjang, berat baginya harus mengatakan semua ini.


Dinda. Aku benar-benar sangat mencintai kamu. Tidak peduli waktu yang memisahkan kita. Aku hanya berharap kelak di hari tua bisa bersama mu. Semua itu aku impikan dan ingin aku wujudkan bersama kamu.


Tapi sayang. Semua itu hanya angan ku yang berpihak sebelah mata. Nyatanya aku hanya bagian dari masa lalu mu yang sudah terlupakan.


Jika waktu bisa di ulangi, mungkin penyesalan ini tidak akan berakhir menjadi sebuah penderitaan. Karena diriku dan juga ego ku yang keras. Pada akhirnya aku sendiri yang menyebabkan kekacauan ini.


Jika takdir menginginkan kita tidak bisa bersama selama-lamanya, maka aku harap kita bisa bertemu di masa depan. Bukan sebagai seseorang yang saling mencinta. Tapi menjadi orang lain yang saling tidak kenal di kehidupan sebelumnya. Aku harap, waktu tidak lagi mempertemukan kita sebagai sesosok merpati yang kasmaran.


Di ujung senja seperti yang kita janjikan ingin hidup bersama. Menatap masa depan dalam keadaan ria. Aku berharap kamu melupakan janji-janji itu. Semuanya hanyalah mimpi yang tak berwujud. Semua itu pada akhirnya berubah menjadi malapetaka.


Maafkan aku Dinda. Maafkan aku yang sudah menyulitkan mu selama ini. Karena ambisi ku ingin mendapatkan kamu kembali. Rasanya entah kenapa aku menjadi pria paling egois. Wanita manapun tak layak mendapatkan cinta ku. Entah di kehidupan ini, atau di masa depan.


Sekali lagi, aku ingin mengubah garis takdir kita. Aku ingin kamu hidup dalam jalan yang bahagia bersama dia. Selamat tinggal Dinda. Kita mungkin di takdir-kan tidak bisa bersama, selamanya.


Steve menantikannya. Dia menunggu Johan yang hendak mengatakan sesuatu untuknya.


"Aku hanya meminta satu pada mu," kata Johan lagi. Dia kembali mengatakan keinginannya pada Steve. Mendongak kepalanya, menatap tubuh yang tinggi menjulang di depannya.


"Katakan. Aku tidak banyak waktu untuk menunggu ucapan terakhir mu," balas Steve. Seolah dia malas mendengar ucapan Johan ini.


"A—aku. Aku hanya minta. Kamu bahagiakan Dinda. Manjakan dia. Jangan pernah kamu membuat dia menangis. Aku harap, kamu adalah pria terbaik untuknya saat ini. Juga—jangan biarkan dia menangis sendirian di balik selimutnya. Jangan biarkan dia tertawa di tengah kesedihannya. Karena....... Aku percaya kalau kamu adalah pria yang bertanggung jawab saat ini."


Tidak perlu kau katakan. Aku mengerti apa yang harus aku lakukan untuknya.


Melihat bibir itu berkata, Steve mendengus seraya menyungging tersenyum tipis. Di balik senyumnya itu, tersimpan banyak keyakinan yang tidak perlu di ragukan lagi.


"Apakah hanya itu saja permintaan terakhir mu?" tanya Steve kembali. Mungkin, berat rasanya menahan tubuh Dinda di pelukannya. Namun Steve tidak merasakan hal itu sama sekali.


"Aku....... Aku harap. Jika aku punya waktu banyak, aku ingin melihat dia bahagia. Tapi sayang. Bahagianya kali ini bukan bersama ku. Tetapi bersama pria lain yang benar-benar sudah mengisi hatinya."


Walau perih rasanya bagi Johan melepaskan Dinda. Namun Johan tak mau lagi bersikap egois, dengan memaksa kehendak orang lain.


Zico menggeleng saat melihat kata-kata Johan. Dia tak habis pikir, penyesalan itu datang begitu saja. "Dasar, manusia batu," gerutu Zico pelan.


"Kalau itu permintaan mu. Maka aku akan memenuhinya. Semua keinginan mu akan aku ingat dalam pikiran ku." Setelah berkata begitu, Steve meninggalkan altar ini.


Di ikuti oleh Zico, sementara Johan ada di belakang mereka.


Selamat tinggal Dinda.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2