UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 163


__ADS_3

Oek.....


Ah, suara lengkingan Iqbal membuat Steve tak mampu menahan dirinya. Dia tidak kuat, saat melihat putranya harus di suntik imunisasi. Mungkin, rasanya dia ingin ikut menangis haru, kala melihat putranya meringis kesakitan.


“Bapak, lain kali kalau tidak kuat melihat anaknya di suntik. Bapak bisa menunggu di luar,” kata dokter pada Steve.


Belum hangat anaknya menangis, dokter wanita setengah baya ini berkata seperti meledeknya. Steve memang tidak berani melihat jarum suntik, sebab belum pernah dia merasakan tusukan dari benda tajam itu.


“Apakah penting dok, anak ku di suntik imunisasi? Bukankah dia masih kecil?”


Pada dasarnya Steve polos. Dia tidak paham mengenai medis dan sesuatu yang berkaitan dengan rumah sakit. Steve tidak pernah sakit selama ini, itulah kenapa dia tidak pernah merasakan tajamnya Jarum suntik.


Kecuali bersin-bersin dan batuk pilek. Hanya itu yang pernah Steve rasakan. Selebihnya, dia belum pernah mencobanya walau sudah terpaksa.


“Suntik imunitas ini sangat penting Pak,” dokter menjelaskan. “Mengingat usia putra Bapak dan Ibu sudah memasuki usia sembilan bulan. Maka ini menjadi suntik imunisasi pertama baginya. Agar kekebalan tubuhnya terjaga dan terhindar dari penyakit menular lainnya sebab daya imunnya sudah terpenuhi,” kata dokter wanita setengah baya ini. Wanita yang semalam menangani Iqbal ini, nampak agak telaten melaksanakan tugasnya.


“Tetapi tidak harus menyuntiknya dengan itu kan dok.”


Dokter terkekeh-kekeh, sebenarnya siapa yang dokter di sini pikirnya. Kenapa bisa Ayah dari anak itu melakukan tawar menawar padanya. Namun sang dokter memberikan senyum manisnya pada Steve yang terlihat cemas lantaran anaknya menangis di suntik.


“Bapak tidak perlu memikirkan efek samping dari suntik imunisasi. Itu tidak berbahaya. Dan cukup sekali selama setahun ini, dan akan di suntik lagi ketika dia sudah berusia dua puluh empat bulan. Semua itu bertujuan agar bayi Bapak, bisa terus sehat.”


Memang setelah di suntik, Iqbal sudah tidak lagi menangis. Dia sudah tenang saat ini di pelukan Dinda. Dan putranya di jadwalkan akan pulang dari rumah sakit hari ini. Sepagi ini, sejak pukul dua malam mereka tidak tidur demi menjaga si buah hati.


“Yakin dok kalau anak ku tidak akan kenapa-kenapa setelah di suntik.”


Dokter mengangguk. “Suntik imunisasi bukan sesuatu yang berbahaya kok. Jangan terlalu mencemaskan.”


Oh, syukurlah. Steve bisa menarik napas lega kalau sudah mendengarnya. Namun tadi keraguan itu, membuat Steve menggila. Putra satu-satunya itu, ini kali pertama baginya demam.


“Kalau Bapak dan Ibu tidak ada lagi pertanyaan. Saya keluar dulu. Jangan lupa, untuk terus mengontrol kesehatannya ke rumah sakit minimal seminggu kedepan.”


“Oh. Baiklah dok. Terima kasih atas bantuannya.”


Dokter berlalu, tak lupa Steve memberikannya ungkapan terima kasih. Yah, walau tadi Steve sebal, sebab putranya di buat menangis oleh jarum suntik yang menusuk bagian bahunya.


Setelah dokter dan suster berlalu, Steve dengan cepat memeriksa bagian putranya yang baru saja selesai di suntik.


“Ah. Putra Ayah di suntik. Pasti sakit ya nak.”


Steve mengusap lembut bekas suntikkan itu, walau sudah tidak berbekas. Namun meninggalkan bintik merah kecil, yang hampir hilang. Kemudian Steve mencium puas putranya yang terlihat tenang, tidak membiarkan dia menangis lagi.


“Setelah di suntik imunisasi. Iqbal akan kembali sehat. Ayah jangan khawatir.”


Seakan Iqbal kecil yang berkata, Dinda mewakili ucapan putranya untuk Steve. Sumpah, Steve tipe Ayah protektif. Hanya di suntik saja, dia hampir meringis terisak meratapi nasib putranya yang di perlakukan semena-mena oleh dokter tadi.


Dinda ingin terkekeh, sekaligus terharu melihat ayah satu ini.


“Kedepannya. Aku tidak mau putra ku di suntik lagi. Aku tidak mau dia menangis seperti hari ini.” Steve menatap tajam istrinya, sorot mata itu membuat Dinda makin cengengesan.


“Usia Iqbal sudah memasuki sembilan bulan. Wajib kalau dia di suntik imunisasi.”


“Pokoknya nggak boleh. Kedepannya nggak boleh lagi dia di suntik seperti ini lagi.”


Wajah tuan pemarah itu nampak garang, namun itu tidak cukup untuk membuat Dinda takut.


“Terserahlah,” kata Dinda mengalah. Di liriknya jam di dinding rumah sakit, ini waktunya mereka pulang. “Si kecil sudah sembuh. Ayo kita pulang sekarang. Kak Stevie dari tadi sudah menunggu di rumah.”


“Oke.”


°°°°°°°°°°°°°°°


Vanya masuk ke ruangan Zico. Dia membawakan segelas teh hangat untuk pria yang tengah sibuk itu, sedangkan Zico tidak meliriknya. Matanya tertancap pada banyaknya berkas yang menumpuk di meja.


“Pak Steve hari ini tidak masuk. Katanya Iqbal semalam demam.” Vanya meninggalkan teh hangat itu di atas meja, Zico meliriknya usai dia berkata.


“Bagaimana keadaan si kecil?”


Vanya memutar badannya, sempat dia ingin keluar jika tidak di tahan oleh ucapan Zico.


“Ehm..... Aku dengar, katanya sudah membaik. Iqbal sudah boleh keluar rumah sakit pagi ini.”


“Baguslah.”


Vanya mengerutkan alisnya, heran. Sungguh. Pria ini tidak biasanya berkata singkat.


Kenapa dia berkata hemat pagi ini. Bahkan menanyakan kabar ku tidak sama sekali. Apakah dia lupa kalau aku adalah ke kasihnya saat ini.


“Ehm. Kalau tidak ada yang di butuhkan. Aku keluar dulu,” kata Vanya yang ingin cepat-cepat berlalu. Dia malas, Zico tidak memperhatikannya pagi ini.


“Tunggu!”


Tepat di pintu yang hendak dia tarik gagangnya, Zico menghentikan Vanya. Gadis ini menoleh, dengan tatapan penuh harapan untuk di lirik.


“Ada apa?” tanya Vanya.


Zico berjalan mendekatinya. Vanya tahu Zico adalah pria yang sangat perhatian. Pasti dia akan menggodanya pagi ini. Itu pasti. Vanya menebaknya begitu.


“Kamu pikir aku melupakan kekasih ku,” lirih Zico membisik pelan di daun telinga Vanya. Rasanya itu geli, membuat Vanya merinding. Satu tangan Zico meraba tengkuk leher Vanya, satu lagi meraba bokongnya.


“Kamu mau ngapain Co. Ini di kantor.”


Pintu yang hampir terbuka itu, kembali di tutup rapat oleh Zico. Mungkin dia tidak mau membiarkan Vanya keluar.


“Hari ini ruangan ku sepi.”


“Maksudnya?”


Vanya ingin kembalikan badannya, namun Zico dengan cepat menempatkan posisi badan Vanya ke tempat semula. Dia tidak mau, Vanya berbalik badan menghadapnya.


“Resleting rok kekasih ku terbuka. Apakah kamu tidak menyadarinya.”


“Hah.....”


Ah. Vanya tidak sadar. Sungguh. Tangan lembut Zico lebih dahulu meraba bokongnya, sekaligus mengerek kembali resleting yang sudah melorot.


Vanya sudah ngeri, bagaimana jika Zico melakukan itu padanya. Meski sudah merona dan berdebar. Vanya tak bisa menyangkal, belaian dari Zico amat enak di rasa.

__ADS_1


“Maaf. Jika aku tiba-tiba melakukannya.” Zico kembali membisik, sambil bibirnya mencoba menerkam telinga Vanya yang sudah memanas dan memerah.


“Co,.....”


Vanya membalikan badannya, sesaat kemudian Zico langsung meraup bibirnya.


Sepagi ini. Gila. Vanya di buat berdebar oleh pesona Zico. Harumnya membuat Vanya tak bisa menolak tubuh perkasa ini.


Vanya mencoba menahan napas, sementara Zico terus mendorong badan Vanya hingga terpojok di pintu. Tubuh Zico makin menempel dan terus menempel, hingga membuat Vanya mulai tegang menerima rangsangan motorik dari pria ini.


Zico terus mendesak Vanya, hingga gadis itu kikuk tak bisa berontak. Zico makin bergairah menggigit pelan bibir yang ranum itu.


Tangan-tangan terampil Zico melingkar di caruk leher Vanya, membuat gadis itu tak bisa menghindar dari ciuman pria ini. Sesekali Vanya menggigit gemas jari-jari Zico yang meraba bibirnya.


Terpaksa bagi Vanya, dia menerimanya. Dia berbalik badan, tangan-tangan Vanya meremat erat punggung jas Zico, demi membalas ciuman itu.


“Van.”


Suara lembut itu, menarik Vanya untuk melihatnya. Tangan Zico mendongak dagu Vanya, sehingga kedua mata itu saling bertatap.


“Menikahlah dengan ku.”


“Hah.....”


“Menikahlah dengan ku,” bisik Zico sekali lagi.


“Tapi Co.......”


“Memang terburu-buru. Tapi aku tidak mau menundanya lagi.”


Deg. Perasaan Vanya tak karuan. Dia bingung harus menjawabnya apa. Namun dalam otaknya, hampir seratus persen mengatakan iya. Rangsangan sistem motorik itu, memaksa mulut Vanya ingin menjawab secepatnya.


“Van.” Zico mengambil satu tangan Vanya, lalu menyematkan sesuatu di jarinya. “Ini cincin lamaran yang aku buat khusus dan aku pesan dari Dubai. Terimalah aku, sebagai suami mu.”


“Co,”


“Ya atau tidak,” dengan cepat Zico langsung menyergap ucapan Vanya sehingga tak ada pilihan untuk Vanya. Kecuali...


“Ya.”


“Ucap sekali lagi Van,” lirih Zico mendesah.


Walau ragu dan malu, Vanya mengulanginya lagi. “Ya.”


“Kamu yakin menjawab ku seperti itu?”


Vanya mengangguk pelan. Zico mendekati telinga Vanya, kemudian dia berbisik pelan. “Desahin nama ku Van.”


“Co.... Hemph......”


Zico menghabisi lagi bibir merah Vanya, sampai wanita ini benar-benar tak bisa bergerak leluasa. Yang benar saja pikir Vanya. Di ruangannya dia melakukan ciuman sampai tiga kali.


Zico mulai handal melakukan romantic kissing-nya pada Vanya. Satu tangannya terus membuat gaya-gaya sensual di leher Vanya. Dan satu lagi memegang tangan Vanya, menuntunnya agar meraba dada Zico.


Memang sudah menjadi kebiasaan Zico, dia tidak pernah memakai baju dalam. Sehingga kancing baju yang terbuka itu, dengan mudahnya di masuki oleh tangan lembut Vanya.


“Van. Desahin nama ku Van,” bisik Zico pelan.


“Tapi Co....”


“Desahin Van.”


“Zico.....” Dan suara lembut itu akhirnya terucap. Lega. Bagi Zico. “Apakah itu cukup?” tanya Vanya.


Zico tersenyum puas, itulah yang dia inginkan. “Ucapkan sekali lagi van.”


“Mengenai?”


“Lamaran yang aku ungkapkan tadi.”


“Ya atau tidak itu?”


Zico mengangguk. “Katakan Ya sekali lagi Van. Aku ingin tahu jawaban itu dengan jelas.”


“Tapi tadi aku sudah mengucapkannya dua kali.”


“Sekali lagi Van. Aku ingin mendengarnya.”


Tanpa pikir panjang, Vanya kembali mengucapkan kata 'YES' yang sesaat kemudian Zico menyeringai.


Zico mengepal tangannya dengan semangat, kata 'YES' terucap dari mulutnya. Vanya tak bisa menahan rasa senang, Zico pun demikian.


Zico langsung memeluk Vanya, dan itu membuat Vanya makin menikmati kehangatan dari pria ini.


“Terima kasih. Walau hubungan kita baru berjalan beberapa bulan. Namun aku yakin, kita bisa menjalaninya dengan baik kedepannya.”


Bisikan dari setiap kata itu, terasa bagai sebuah kebahagian bagi Vanya. Napas dari pria ini, seakan mengorek perasaan Vanya.


“Aku akan berusaha menjadi pasangan yang sempurna untuk mu.”


°°°°°°°


“Selena. Sudah belum. Kita hampir terlambat nih!”


Dari teras, Miko berteriak. Membuat seisi rumah menjadi gaduh. Menunggu wanita itu dandan saja, hampir menghabiskan waktu setengah bulan.


“Iya sabar. Bawel.” Dari dalam rumah, Selena menyahut. Agak ribet, dia membawa tas yang membuat Miko ngeri melihatnya.


“Kamu dandan seperti ini?” tegur Miko. Namun ekspresi wajahnya terlihat agak jijik melihat dandanan wanita yang berusia belasan ini—nampak seperti dandanan waria yang sering mangkal tiap malam. “Seriusan?”


Selena mengangguk, dia sudah siap untuk jalan. “Memangnya kenapa. Ada yang salah dengan riasan ku?”


“Mirip badut.”


“Hah.” Selena membesarkan matanya. Teganya Miko berkata seperti itu pada Selena. “Ko. Beneran mirip badut.”


Selena ingin kembali kedalam, Miko menebaknya pasti anak itu ingin berkaca lagi. Namun Miko menarik lengannya lebih dahulu.

__ADS_1


“Kamu lihat sekarang jam berapa. Kita bisa terlambat nanti!”


“Dandanan ku jelek Ko. Aku harus memperbaikinya.”


“Kata siapa?”


“Kamu tadi baru saja mengatakannya.”


Huh. Wanita ini tidak punya otak. Padahal aku hanya berkata sesumbar. Uh, ingin rasanya aku membuang wanita ini ke tempat sampah di Bantar gebang. Biar sekalian saja seperti gembel.


Miko memijat kepalanya. Sakit rasanya menghadapi wanita yang tak bisa jauh-jauh dari riasan ini.


“Ko. Kok diam!” tegur Selena atas tak bergemingnya Miko.


“Sudahlah. Ayo kita berangkat sekarang. Aku tidak mau membuang-buang waktu ku.”


“Ko. Aku hari ini berdandan cantik demi kamu Lo. Masa nggak ada sedikit pun kejujuran dari kamu atas riasan ku. Selain komentar mirip badut.” Mata Selena sudah berkaca-kaca.


Memang salah bagi Miko kalau harus belajar membalas perasaan Selena. Menyesal sih tidak bagi Miko karena terlanjur membalas perasaannya, namun Selena membuat Miko harus menahan kesal setiap saat.


“Selena.” Miko menatapnya dengan tatapan penuh cinta, kedua tangannya memegang bahu Selena, sementara wanita itu hampir sembap menangis. “Kamu itu adalah wanita paling cantik yang pernah aku temui. Bahkan kambing Wak Doyok pun kalah cantiknya sama kamu. Kamu wanita spesial, yang di produksi terbatas. Suer, kamu wanita paling cantik walau riasan kamu mirip badut.” Di ujung bicaranya, Miko ingn tertawa terbahak-bahak usai meledeknya.


Ledekan itu membuat Selena menarik dalam ingus yang hampir merosot. Miko tidak begitu peduli. Mau dia menangis atas ledekannya atau tidak, Miko cuek.


“Jahat.”


“Aku berkata jujur.”


“Hiks. Tapi kenapa aku di banding-bandingkan dengan kambing Wak Doyok. Aku ini model cantik tahu. Hiks.”


Miko terkekeh geli. Sumpah. Dia memang cantik, tapi kalau urusan ledek meledek, Miko jagonya. Miko mengusap air mata Selena, kalau sampai Ibunya tahu Miko membuat Selena menangis, bisa habis dia di omeli.


“Sudah. Jangan menangis. Aku hanya bercanda.”


“Tapi kamu jahat. Masa aku di bandingin sama kambing Wak Doyok. Nggak sekalian saja kamu pacaran sama para bandot itu. Biar kamu puas, punya pacar secantik kambing-kambing itu.”


Hihi. Miko makin sumringah, bodoh kalau dia harus pacaran dengan para bandot itu. Gila aja, masa iya Miko yang tampan di suruh pacaran sama kambing.


“Sudahlah, jangan nangis lagi. Ayo kita jalan sekarang. Aku takut riasan kamu luntur.”


“Memangnya aku cabe-cabean.”


“Hihi.... Nggak jauh beda sih.”


Jleb. Ucapan terakhir Miko, membuatnya menerima pukulan dari Selena.


°°°°°°°


Semangat kerja Zico hari ini bertambah. Dia berhasil mengikat Vanya menjadi tunangannya. Rasanya itu seperti memenangkan jackpot tujuh milliar.


Saat tengah mengurus banyak berkas, Mira masuk keruangan Zico. Matanya melirik tajam, wanita yang sudah berdiri di depan meja kerjanya itu.


“Ada apa datang sepagi ini?” tanya Zico.


“Aku ingin menyampaikan surat ini?”


Mira menyodorkan surat beramplop cokelat itu, Zico menerimanya.


“Surat apa ini?”


“Surat resign.”


“Hah.”


Baru saja matanya hendak fokus pada surat yang di berikan oleh Mira tadi. Siap matanya akan membaca, namun urung saat Mira mengatakan hal yang paling lazim di dengar.


“Kamu ingin resign?” tanya Zico dengan nada interupsi.


Mira mengangguk. “Keputusan final.”


Zico berdiri dari kursinya. Kemudian dia menyandarkan bokongnya di meja kerjanya. Lalu memasukkan kedua tangannya di saku celana.


“Apa alasan kamu ingin resign?”


“Bosan,” balas Mira cepat.


Zico mendengus, sebegitu entengnya dia menjawab. “Bosan?” Zico menaikkan kedua alisnya, sorot matanya mulai sinis menanggapi hal bodoh dari bibir Mira.


“Aku kira, sepertinya jelas alasan ku keluar dari kantor.”


“Gajinya kecil.”


Mira menggeleng lagi, dengan bibir mengulu* tak enak di lihat. “Tak ada alasan khusus.”


“Bagaimana kalau aku tidak mengizinkan kamu resign,” kata Zico kontra. Manik-manik mata Zico sudah mengerut, raut wajahnya juga terlihat garang.


“Pak......”


“Kamu belum meninggal,” sambar Zico menutup ucapan Mira. “Harus tetap bekerja di sini. Apapun yang terjadi.”


Sial. Mira lupa. Jika dia berhenti, maka cicilan mobil, cicilan rumah, cicilan kulkas, mesin cuci, TV LED, cicilan arisan dan uang kebersihan yang menunggak tidak akan terbayar.


Ingatan Mira akan kebutuhannya yang banyak, membuat Mira terdiam tak bergeming.


“Kenapa diam?” lirih Zico memandang sinis raut wajah Mira. “Masih mau berniat resign?”


Mira memanyunkan bibirnya. Inilah yang paling dia benci. Harus mati langkah akibat ulahnya sendiri.


“Aku rasa. Ucapan ku tadi salah. Maaf pak, aku sebaiknya kembali.”


Mira pergi, meninggalkan ruangan Zico. Malu, itu sudah pasti. Rasanya Mira ingin segera mengakhiri rasa sebalnya hari ini dengan menenggak sebotol minuman keras. Hiks.


Zico tidak heran, sebab Mira dalam masalah. Zico sedikit hapal pada wanita yang satu ini.


“Setidaknya. Dia akan dewasa nanti.”


JANGAN LUPA LIKE DAN RATE NYA YAH. MAKSIMAL BINTANG LIMA 💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2