
[“Tetaplah berbuat baik, walau itu tidak adil untuk mu.”]
____________________________________________
Selepas pulang dari rumah Ibu, Dinda dan Steve langsung menuju ke kamar. Lelah, sungguh.
Rasanya Dinda ingin segera pergi ke spa kalau begini.
Steve memeluk Dinda dari belakang, karena Dinda tidur menyerong ke kanan. Katanya posisi tidur seperti itu sangat di anjurkan untuk Ibu hamil.
“Sayang. Kamu pasti lelah dengan semua ini kan?”
Satu mata Dinda melirik ke belakang, namun tak sampai melihat sang suami.
“Tidak. Justru aku senang atas kehadiran bayi ini,” kata Dinda membalas.
Steve selalu membahas hal itu terus. Sampai bosan Dinda mendengarkannya. Steve terlihat merasa tidak enak hati, kala melihat istrinya mengandung besar seperti ini.
Rasa senang Steve sebenarnya tak bisa terbayangkan. Punya istri yang sangat sabar menghadapinya, rasanya Steve sangat beruntung. Di tambah Dinda sangat menurut, setiap Steve meminta segala sesuatu. Dia pasti menurutinya.
“Kamu tahu. Di luar sana begitu banyak pasangan muda yang ingin dapat segera memiliki anak. Tapi mereka tidak bisa, lantaran ada sebab dan akibat. Dan aku beruntung, tuhan mempercayakan kita untuk memiliki putra ini.” Dinda melanjutkan kembali ucapannya, dan Steve terdiam sejenak mendengar kata-kata istrinya.
Steve mencium tengkuk leher Dinda. Sambil kedua tangannya menggenggam dada besar Dinda. Tempat terbaik yang pernah dia pegang.
“Kalau begitu, aku tidak perlu merasa bersalah karena sudah memberikan istri ku seorang bayi kecil. Benarkan.”
Karena mata Dinda belum ingin terpejam. Sementara Steve mengajaknya bicara, maka Dinda mengganti posisinya. Dia memilih untuk duduk di kasur, menyandar. Dan Steve membantunya duduk perlahan.
“Apakah Ayah dari bayi ini sudah merasa bersalah karena membuat Ibu bayi kesulitan selama ini?” celetuk Dinda membual. Dan Steve terlihat terkekeh malu.
Sebenarnya Steve yang memaksa Dinda agar segera hamil. Steve tidak mau menunda-nunda ingin segera memiliki anak. Dinda mengejutkan Steve ketika mereka liburan ke Paris kala itu. Ah, bayi ini makin membuat Steve bahagia walau bersalah membuat istrinya harus menanggung keegoisannya.
Maafkan aku, Steve sangat tidak penyabar. Dasar pria posesif, hihi.
“Aku malu sedikit,” kata Steve yang agak enggan mengakuinya.
“Baik kamu ataupun aku. Kita sudah memikirkan ide memiliki anak ini dengan baik. Jadi kamu tidak perlu merasa bersalah jika menyusahkan aku seperti ini.”
“Sungguh?”
Dinda mengangguk. Dinda tidak keberatan mengandung bayi ini walau dulu Dinda sempat belum siap. Dan jika di ingat kembali ke masa di mana Steve tidak mau menahan diri agar Dinda hamil, wanita ini agak sebal.
Tapi ternyata asik. Menjadi Ibu hamil banyak yang memperhatikannya dengan ramah. Utamanya Ibu-ibu yang juga pernah mengandung.
“Tapi sayang. Karena mengandung, selama delapan bulan ini aku tidak mendapatkan lagi surga ku,” kata Steve yang terlihat agak lesu.
Wajahnya agak muram, tapi tangannya itu asik memainkan puding kenyal istrinya. Dinda tersenyum manja saat Steve menggigit, kadang merema* dadanya.
“Maaf jika aku tidak bisa melayani suami ku yang malang ini lagi.”
Steve cukup pengertian. Toh, selama ini juga walau Steve tidak berhasil mendapatkan sesuatu yang lebih enak. Nyatanya dia cukup asik memainkan puding kenyal istrinya ini.
“Kalau sudah lahiran. Doble layanannya ya,” pinta Steve dengan gaya sok imut. Dinda cukup tersenyum saja, dan tangan Dinda ikut meraba dada bidang suaminya yang tak mengenakan baju.
“Kita lihat saja nanti.”
****
Keesokan paginya...
Dinda melihat suaminya baru selesai mandi dan baru saja memakai pakaian kerja. Dinda datang dari bawah sambil membawakan sarapan untuk suaminya itu.
Seperti biasanya, Steve saat ini sudah tidak bisa lagi menggunakan dasi. Ya, kebiasan memakai dasinya sudah tidak dia ingat kembali, lantaran semuanya sudah Dinda yang mengurus.
Apa-apa semuanya harus Dinda. Steve benar-benar suami yang manja saat ini.
“Kalau kamu hari ini malas ke kantor mengantarkan makan siang untuk ku. Nggak datang tidak mengapa. Nanti aku akan makan siang di luar.”
Dinda menatap suaminya, badan tinggi yang sedang di ikatkan dasi ini membuat Dinda agak menjinjing. Namun tak ubah Dinda akan membantahnya.
“Nggak kok. Aku akan senang kalau setiap hari mengantar suami ku makan siang untuk suami ku. Itu sudah tanggung jawab ku.”
“Tapi kamu juga harus memperhatikan kandungan yang kian hari makin membesar ini. Aku takut terjadi apa-apa kalau kamu ke kantor.”
Sebagai suami, tentunya Steve sangat memperhatikan usia kehamilan sang istri. Apalagi kata dokter kandungan, Dinda sebentar lagi di prediksi akan melahirkan. Resiko ini yang setiap malam Steve pikirkan. Seminggu yang lalu, mereka pergi ke rumah sakit.
“Nggak masalah kok. Lagi pula cuma mengantarkan makanan. Kan nggak terlalu berat.”
“Aku tahu itu. Kamu bisa. Hanya saja aku tidak mau istri kecil ku dan putra yang ada di dalam kenapa-kenapa. Aku khawatir. Sungguh.”
Dinda sudah selesai memasangkan dengan rapi dasi di leher Steve. Tapi rasanya sang suami tidak mau pergi ke kantor. Dia terlihat ingin manja-manjaan pagi ini.
“Sudahlah. Jangan pikirkan aku. Sekarang sudah jam setengah sembilan. Harus berangkat sekarang. Takutnya terjebak macet.”
Steve patuh. Dia langsung berangkat. Tak lupa, tadi Steve sarapan terlebih dahulu. Makanan yang di buat pagi ini, sama seperti makanan sebelum-sebelumnya. Habis tak bersisa. Napsu makan yang besar, membuat Dinda bertanya-tanya. Seakan Steve yang hamil, bukan dirinya. Dinda mengantar Steve sampai di depan rumah. Suaminya berangkat kerja, harus di antarkan walau hanya sama depan pintu.
Meskipun terpaksa, Dinda tetap turun ke bawah.
Rumah besar ini memang sepi, hanya ada satu pembantu dan satu sopir. Karena sebenarnya rumah ini akan segera di kosongkan, itulah kenapa Steve menyewa satu pembantu dan satu sopir saja.
Sejujurnya Steve malas mau menempatkan pekerja di rumahnya. Hanya saja kali ini masalahnya beda. Dinda mengandung, itulah kenapa Steve harus siap dengan satu pembantu di rumah dan satu sopir yang selalu siap.
Tapi kali ini ada Stevie. Wanita itu bilang tidak akan pergi kemana-mana lagi. Karena dia dalam masa tidak baik sekarang. Steve agak merasa lega kalau kakaknya ada di rumah.
“Aku berangkat dulu ya. Kamu di rumah jaga kesehatan. Kalau ada apa-apa, cepat hubungi aku.”
Steve mencium kening Dinda. Setelah itu dia berangsur mencium perut Dinda bahkan berkata pada manusia kecil di dalam sana.
“Ayah berangkat dulu ya Nak. Jangan nyusahin bunda. Kalau Iqbal mau keluar, harus bilang-bilang ya. Biar ayah dan bunda bisa menyambut Iqbal nanti.”
Mendengar ucapan Steve, Dinda terkekeh. “Kamu kira bayi yang akan brojolan harus izin dulu.”
“Semua yang aku katakan pada bayi kecil ini harus di turuti. Kalau dia keluar harus bilang-bilang dulu. Jangan ngeyel.”
“Gimana caranya dia bilang kalau dia mau keluar.”
Steve membulatkan matanya. Iya juga ya. Memangnya bayi kalau mau keluar harus izin dulu. Kadang otak Steve terganggu koneksinya, lantaran selalu berpikir aneh-aneh.
__ADS_1
“Ya, minimal dia nangis kek. Atau apa gitu sebagai kode dia mau muncul ke dunia.”
Peak. Mana ada bayi nangis dalam perut. Kalau sudah keluar, dia nangis baru masuk akal. Pingin nampol muka si Steve, rasanya.
Dinda menggeleng. Tingkah suaminya pagi ini membuatnya terkekeh geli. “Sudahlah. Berangkat sana. Nanti terlambat,” usir Dinda.
Steve memandangi lagi istrinya. Dia mencium lagi puncak kepala Dinda, lalu kembali mencium si bayi di perut Dinda.
“Ayah berangkat yah Nak,” katanya pada calon bayi. Kemudian dia berpamitan pada sang istri. “Aku berangkat ya sayang. Ingat kalau ada apa-apa, kamu harus menghubungi ku.”
Dinda paham. Berulang kali dia mengingatkan Dinda. Dinda tidak lupa. Dia mengingat semua apa yang suaminya itu katakan.
“Hati-hati di jalan,” teriak Dinda seraya melambai.
Sedangkan Steve sudah meninggalkan lapangan garasi rumah. Dinda masih melihat kap belakang mobil yang dikendarai suaminya ini, sampai benar-benar hilang dari pandanganya.
“Ayah sudah berangkat nak. Sekarang waktunya memasak buat ayah.”
Oh, jalan Dinda terasa amat berat. Berat badannya kini makin bertambah. Dinda sebal harus terlihat seperti badak.
“Apakah akan seperti itu jika nanti aku menikah.”
Stevie melihat Dinda dan Steve di luar dari balik korden. Dia baru saja dari dapur, namun melihat pintu depan terbuka. Stevie yakin kalau adiknya pasti akan berangkat bekerja.
Entahlah. Stevie bingung. Melihat adiknya di layani Dinda dengan baik, rasanya Stevie merasa ada di posisi Dinda.
“Ah. Kenapa aku bingung sekarang. Aku tidak ingin menikah. Tapi kenapa mereka selalu memaksakan aku menikah. Sebal!”
****
Jalan Plesiran di pusat kota memang sedang ramai. Miko masih pada kegiatannya. Yah, Miko terlihat akrab dengan setelan jas hitam.
“Ko. Memperagakan pakaian pengantin ini. Suer, kamu cocok banget. Sekedar saran saja, kamu sudah cocok jadi seorang suami. Hehe”
Dendy cengengesan, dia meledek Miko yang santai di depan kamera.
Miko hanya mendengus dan menggeleng, ledekan itu seakan mengusiknya agar cepat-cepat nikah.
“Usia masih muda Den. Yang harus di pikirin itu, adalah masa depan. Bukannya nikah muda” celetuk Miko sok bijak.
“Iya sih Ko. Tapi—Suer, kamu cocok dengan pakaian ini.”
Miko mencebikkan bibirnya memanyun, ucapan Dendy ini seakan mengode dirinya kalau dia harus segera menikah. Padahal usianya saja masih belasan tahun. Belum terpikirkan di otak Miko untuk menikah. Jangankan menikah, pacaran saja saat ini masih kalap.
“Ada-ada saja kamu Den.”
Jam menunjukkan agak lumayan terik. Dendy memang hari ini menemani Miko pemotretan, karena nanti sore mereka ada jadwal latihan basket bersama.
“Gila. Pakai jas ini gerah banget,” kata Miko duduk di sebelah Dendy. Dia meraih sebotol minuman dingin di tangan Dendy, lalu menenggaknya.
Gerahnya cuaca, membuat Miko kadang mengibaskan jasnya agar ada udara yang masuk.
“Sudah tahu belum Ko.”
Ketika Miko baru selesai minum, dia melihat wajah temannya itu agak tegang.
“Serius?”
Miko mengangguk. “Memang pada dasarnya aku tidak tahu,” katanya memberitahu.
Dendy men-decak, temannya itu memang kolot. “Tania datang ke Jakarta,” katanya memberitahu.
“Uhuk.” Minuman yang di teguk Miko, kini berhamburan muncrat kemana-mana. Kaget, itu pasti. “Ta—tania?”
Mata Miko membulat. Dia terlalu kaget mendengar nama gadis itu di sebut. Kedatangannya secara tiba-tiba, itu yang membuat Miko heran.
“Kapan dia datang? Kenapa aku tidak tahu sama sekali.”
“Kemarin,” balas Dendy cepat. “Dia menemui Niko. Katanya dia ingin mengajak Niko kembali.”
“Pacaran?”
“Bukan Ko. Ngepet!”
Sial. Anak itu ngeles. Miko men-decak, melongos dengan tatapan sinis pada Dendy.
“Terus?” tanya Miko lagi.
“Dia kembali, katanya rindu Jakarta.”
“Dari Singapura?”
Dendy mengangguk pelan, di ikuti sudut bibir yang melipat. “Tapi di tolak.”
“Niko?”
“Siapa lagi?” Sambil kedua bahunya terangkat, Dendy mencoba memberitahu. “Kamu kira, Tania datang kesini demi siapa?”
“Aku pikir dia hanya liburan.”
Miko tahu, adiknya itu memang menjalin hubungan dengan wanita setengah Jerman itu. Dan wanita itu terobsesi pada Niko, karena banyak hal. Bukan satu dua gadis, tapi banyak.
“Lalu. Apa yang Niko lakukan. Selain menolak apakah dia......”
“Pergi.”
Miko sudah menduga. Anak itu pasti sudah tidak mau mengenal kembali masa lalunya. Kak Dinda kedua.
“Untung aku jomblo.”
“Tapi itu bukan pilihan Ko,” Dendy menimpali kata-katanya.
“Sial. Meledek!”
Tidak peduli yang lain. Jujur, Dendy seakan kasihan pada Niko. Anak itu selalu memendam perasaannya sendiri.
“Suer. Aku melihatnya kemarin di taman. Dia sudah tidak peduli masa lalunya lagi.”
__ADS_1
Memang kemarin, sebelum Dendy menjemput Miko, dia sempat bertemu Niko di taman. Dia tahu lantaran si motor skuter merah itu terparkir di taman, dan Dendy hapal pada pemiliknya.
“Dia kak Dinda kedua. Wajar kalau benci masa lalu.”
****
Stevie mengekori Dinda ke dapur. Saat Dinda sibuk memegang berbagai peralatan dapur, Stevie hanya duduk melihatnya saja. Sambil menopang siku di meja, dia sesekali mengajak Dinda bicara.
“Kamu masak apa Din?” tanya Stevie yang ingin tahu.
“Masak makanan yang di sukai Steve.”
Stevie mendongakkan kepalanya, dia ingin tahu apa yang ada di dalam wajan di depan Dinda itu. Aromanya sangat harum.
Sesekali Stevie memperhatikan perut buncit Dinda, dan Stevie ingin tahu rasanya jadi seorang Ibu hamil.
“Dinda.”
Dinda menoleh sekilas ketika suara lembut itu mengusik telinganya. Tapi tak lama dia kembali pada wajannya, sementara mulutnya ikut menjawab.
“Ada apa kak?”
Oh beratnya aku ingin bertanya lagi.
Stevie menggigit bibir bagian bawahnya, dia malu ingin bertanya mengenai sesuatu yang mengganjal di benaknya.
Aku harus mencoba. Jika tidak bertanya, bagaimana bisa aku tahu rasanya menjadi seorang istri.
“Bagaimana rasanya jadi Ibu hamil?” tanya Stevie agak ragu.
“Ha?” Dinda memutarkan tumitnya. Dia seperti salah dengar. “Kakak bertanya soal itu?”
Keraguan Stevie nampak nyata. Namun membawa dirinya mengangguk, kalau dia sebenarnya ingin tahu rasanya menjadi seorang wanita hamil. Lebih dari apapun.
“Apakah indah seperti yang aku bayangkan?"”
“Ehm.... Itu....”
“Apakah berat?”
Melihat Dinda agak bimbang menjawabnya, Stevie merasa memang dia tidak cocok menjadi wanita lemah lembut atau wanita rumahan. Sekalipun menjadi seorang istri.
Namun itu sepenuhnya tidak benar. Dinda saja belum menjawab kelanjutannya. Dinda menggeleng, menandakan kalau sebenarnya hamil itu indah.
“Menyenangkan,” kata Dinda memberitahu.
“Hah serius?”
Dinda memiringkan kepalanya, bukan mengangguk. Bosan dia melakukan hal itu untuk membenarkan ucapan Stevie.
“Menjadi wanita hamil. Aku merasa kalau suami kita akan terus memperhatikannya. Tidak tahu jika suami kak Stevie nanti.”
Ah, boro-boro di perhatikan. Kepikiran untuk menikah pun Stevie enggan. Sudut mata Stevie terlihat sayu, bisa jadi dia merasa tertekan.
“Okelah. Aku paham. Memang menjadi wanita hamil itu menyenangkan.”
“Tapi nggak sepenuhnya kok kak,” sambar Dinda cepat. “Ada banyak hal yang harus di perhatikan oleh Ibu hamil. Walau sebenarnya tidak rumit, tapi resikonya besar kalau di sepelekan.”
“Oke stop. Jangan di lanjutkan. Aku paham maksudnya.”
Stevie enggan mendengar lagi kelanjutan cerita ini. Dia tahu apa yang akan di jelaskan Dinda.
“Tapi, ngomong-ngomong kak,”
Steve hendak meninggalkan dapur. Namun saat Dinda berkata lagi, Stevie menoleh kembali.
“Ada apa?” tanya Stevie.
“Perut ku kak!”
“Hah!”
“Perut ku kak. Sakit!”
“Seriusan?”
“Iya kak,” angguk Dinda. “Rasanya sakit.”
Stevie melihatnya, Dinda nampak memegang perutnya kuat. Tangan sebelah kanannya berpegangan dinding, lalu ada yang keluar dari jalan lahir bayinya.
“Kamu kenapa Dinda?” tanya Stevie membelalak. Stevie membantu Dinda berdiri, tapi dia bingung harus berbuat apa. Sementara tangannya ikut memegang perut Dinda. Air yang keluar dari paha Dinda jumlahnya banyak, hal ini membuat Stevie panik.
“Kak. Perut ku makin sakit.”
“Ah. Aku bingung harus melakukan apa. Kamu sepertinya mau melahirkan.”
“Iya kak. Rasanya sakit.”
Oh tuhan. Apa yang ahrus aku lakukan.
Stevie menelisik ke sekeliling dapur, dia berharap ada sesuatu yang bisa dia temukan untuk membantu Dinda.
Namun nihil.
“Ke rumah sakit kak!” seru Dinda meminta.
“Sekarang?”
“Tahun depan kak. Ya sekarang!”
“Oh. Iya.”
Stevie mengangguk, sambil memapah Dinda keluar dari dapur.
“Bertahanlah. Jangan pingsan. Aku benci ketuban dan darah. Kamu harus kuat.”
Dinda tidak selemah itu. Hanya sakit saja, bukan sesuatu yang perlu di buatkan pingsan.
__ADS_1
“Telepon Steve kak!”