UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 101


__ADS_3

Hari-hari berikutnya, saat itu pagi sekitar pukul sembilan lebih condong menuju jam sepuluh.


Mira, dari bagian keuangan datang ke ruangan Steve tergesa-gesa sambil membawa sebuah tablet besar di tangannya.


Steve, di ruangan kerjanya, baru saja selesai menerima beberapa file dari Dinda, sedikit agak senggang. Dia merapikan dasinya, ingin kembali menyibukkan diri.


Pintu ruangan kerjanya yang semula tertutup rapat, mendadak terbuka lebar. Mira mengejutkannya, nafas wanita itu agak tersengal seakan dia membawa kabar sangat darurat.


"Ada apa? Kenapa terburu-buru begitu?" tanya Steve yang sedang duduk menyilang-kan kaki.


"Pak-," Mira berkata, tapi menghentikan suaranya. Dia menarik nafas panjang lebih dahulu sebelum lanjut bicara. "Di sana," katanya menunjukkan jari ke luar ruangan.


"Tarik nafas dulu, baru berkata dengan jelas," Steve memahami keadaan yang di hadapi oleh wanita ini walau dia tidak tahu apa yang akan di sampaikan oleh wanita modis ini.


"Di dapur kantor, polisi menemukan tiga ular kobra besar terbungkus dalam karung," katanya menjelaskan.


"Ular kobra?" Steve mengulangi. Matanya membulat, dia kaget. "Bagaimana bisa?" sentak Steve seraya beranjak berdiri dari kursinya.


"Pelaku teror ular sudah di ketahui, saat ini polisi sudah meringkusnya," kata Mira memberitahu.


"Ayo kita kesana, aku ingin tahu dengan jelas siapa pelakunya," ajak Steve pada Mira. Steve meninggalkan ruangannya, dia menuju ke dapur perusahaan.


Di sana para polisi bahkan ada beberapa wartawan yang mengambil gambar.


Di dapur, polisi memasang garis polisi tepat di depan lemari penyimpanan gelas dan semacamnya hingga sampai wastafel.


"Apa yang terjadi?" tanya Steve pada polisi yang bertugas. "Kenapa ada garis polisi di sini?"


"Kami sudah menemukan pelaku yang menebar teror ular di kantor anda Pak," kata opsir Rian menjawab. "Saat ini kami sedang mensterilkan tempat ini karena kami baru saja menemukan tiga ekor ular jenis kobra sepanjang empat setengah meter hingga lima meter terbungkus dalam karung," jelasnya pada Steve.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" Steve menuntut penjelasan.


"Kemungkinan adanya upaya konspirasi dari kejadian ini."


Polis itu berkata penuh keyakinan bahwa semua ini ada latar belakangnya.


"Untuk kejadian ini, selain tiga ekor ular. Kami juga menemukan bom rakitan dengan daya ledak mampu meruntuhkan gedung ini," lanjutnya memberitahu. "Tapi beruntung, tim penjinak bom sudah mengatasi dan menjinakkan bom ini."


Steve mengepal tangannya, dia geram pada pelaku yang berani melakukan hal ini di kantornya. Apalagi menyangkut keselamatan orang banyak, terutama pegawai kantornya.


"Apakah kalian sudah menangkap pelakunya?" Steve kembali bertanya. "Di mana dia sekarang!"


"Pelaku sudah kami ringkus, saat ini dia sudah di sel tahanan," balas Opsir Rian. "Untuk keterangan lebih lanjut, nanti kami akan mengabarkan kepada anda secepatnya. Kami masih mengembangkan kasus ini."


Para penyidik meninggalkan ruangan dapur perusahaan, para wartawan sebelumnya sudah mewawancarai mereka. Kini seluruh pewarta mengacungkan kameranya pada Steve, mereka ingin meminta penjelasan pada pria itu.


"Pak, bagaimana tanggapan anda mengenai teror ular ini." salah satu wartawan bertanya.


Steve yang tersulut dalam emosi pada pelaku yang berani melakukan hal ini pada perusahaannya, tidak terlalu menggubris kerumunan wartawan.


Nafasnya memburu, dia sangat geram. Wajahnya memerah panas, darahnya terasa mendidih menanggapi peristiwa ini.


Steve meninggalkan dapur, dia ingin pergi ke rumah tahanan menemui pelaku. Walau para karyawan mengejarnya, Steve tidak memperdulikan mereka.


Di tengah lobi kantor, di dekat meja resepsionis dia berpapasan dengan Dinda. "Kamu mau kemana?" Sela Dinda pada langkahnya. "Kenapa tergesa-gesa seperti ini?"


Steve tidak menghiraukannya, dia fokus pada langkahnya. Dinda mengernyitkan alisnya, tidak biasanya Steve seperti itu.


Walau Steve sudah menjauh keluar dari kantornya, Dinda tidak mengejar. Karena dia sedang membawa sekotak kertas A4.


Dari folding gate yang memuat satu orang, Dinda kembali berpapasan dengan Mira. Dia berjalan setengah berlari bersama dengan tablet di tangan.


Dia terlihat agak kesusahan berlari karena menggunakan heels.


"Mbak Mira, apa yang terjadi. Kenapa kalian terlihat gusar?" tanya Dinda padanya.


"Pak steve sepertinya mau ke rumah tahanan. Aku harus mengejarnya, aku takut dia berulah," jawab Mira terburu-buru.


"Memangnya ada apa mbak?"

__ADS_1


"Nanti aku jelaskan, aku harus mengikutinya sekarang."


"Aku ikut mbak," teriak Dinda. Dia meninggalkan kotak yang ia bawa di meja resepsionis, lalu mengejar Mira.


Wanita itu tidak menjawab Dinda, tapi Dinda nekat mengikutinya.


"Memangnya apa yang terjadi mbak?" Di dalam mobil Dinda kembali merengek bertanya.


Kedua wanita ini duduk di jok belakang, sementara pengemudi mobil adalah Zico.


"Polisi sudah menemukan pelakunya," jawab Mira.


"Hah?" Dinda sedikit terkejut mendengar berita ini. "Seriusan?"


"Iya," kata Mira. "Polisi juga menemukan bom berdaya ledak tinggi di bawah keran wastafel saat pekerja ledeng ingin memperbaiki pipa yang bocor bersama dengan tiga ekor ular kobra yang terbungkus dalam karung."


"Kenapa bisa jadi seperti ini?" Dinda menyayangkan kejadian yang sudah terjadi ini.


"Entahlah, aku juga kurang paham," Mira mengangkat bahunya. Dia tidak tahu menahu mengenai motif teror ular dan bom yang sudah membuat seluruh pekerja resah.


"Pelakunya memangnya siapa mbak? Kalian tahu?" Dinda kembali penasaran.


"Pelakunya Pak Jajang," sahut Zico sambil menyetir.


"Pak Jajang?" Dinda memicingkan matanya melihat Zico melalui kaca spion yang ada di depannya. "Siapa dia?"


"Dia OB yang sudah lama bekerja di perusahaan wong," Mira menyambar. "Tidak tahu kenapa, dia nekat melakukan ini di kantor yang sudah di abdinya hingga dua puluh lima tahun lamanya."


"Dua puluh lima tahun?" Dinda mengulangi. "Selama itu dia bekerja di kantor Wong, baru kali ini dia membuat kekacauan sebesar ini?"


"Nggak tahu kenapa, Pak Jajang begitu nekat melakukan ini. Yang pastinya, aku sebagai orang yang paling mengenal beliau saja tidak percaya dia berani melawan kehendaknya sendiri," Zico kembali menyahut. Dia agak mengenang pria paruh baya itu.


"Senekat ini dia berani membuat kekacauan?"


Mira yang duduk di sebelah Dinda, mengangguk. "Coba kamu lihat ini," katanya pada Dinda, menunjukan rekaman dalam tablet yang di bawanya dari tadi.


Dinda melihat, dia penasaran apa yang di tunjukan oleh Mira. "Dia-Kan?" usai melihat rekaman itu, Dinda ternganga begitu kaget.


Dinda mengangguk, jauh lebih mengenalnya. Wanita yang pernah bertemu dengannya fi malam itu.


>>>>>>>


Di dalam mobilnya, Steve menerima panggilan dari perusahaan media berita yang bekerjasama dengan perusahaannya. Mereka memberitahu desas desus yang baru saja menimpa perusahaannya.


Bahkan belum sampai satu jam, berita mengenai teror ular dan bom rakitan sudah menyebar ke seluruh pelosok negeri.


Hal ini membuat seluruh karyawan di perusahaan wong di evakuasi dan di perintahkan oleh Steve pulang lebih awal sampai benar-benar keadaan membaik.


Berita ini makin membuat mencekam seluruh isi kantor cabang grup wong yang tersebar di beberapa kota besar di Indonesia. Termasuk kantor cabang bagian Surabaya menyuarakan untuk mengevakuasi karyawan sedini mungkin. Mereka ingin meminimalisir agar tidak ada korban dalam kasus teror ini. Takut-takut saja tidak hanya kantor pusat di Jakarta yang di teror, tapi di kantor bagian atau kantor cabang lainnya.


"Sial!" Berang Steve mengenai laporan yang baru saja dia terima dari perusahaan media elektronik.


Steve membanting headset kecil yang ada di telinganya hingga hancur. Dia membuangnya di dashboard mobil. Bahkan sangking berangnya, Steve sampai memukul-mukul kemudi stirnya berulang kali.


"Aku pastikan mereka yang melakukan kekacauan ini membayar semua apa yang mereka perbuat," Steve meremat-remat kendali stirnya. Emosinya makin tak tertahankan, apalagi mengenai kejadian yang menimpa Eva ini.


Di kantor polisi, Steve sudah tiba. Dia langsung menemui pria pelaku teror itu. Jajang, itulah pria pelaku utama yang menyebabkan kekacauan ini hingga membuat Eva harus di rawat di rumah sakit dalam waktu yang lama.


Pria tua itu ini tengah duduk di depan Steve di ruang besuk. Wajah keriput di usianya yang sudah tidak muda lagi, seharusnya dia melakukan hal-hal yang baik.


Tapi tidak tahu kenapa, dia justru tidak memikirkan konsekuensi atas perbuatannya itu. Saat melihat guratan tua wajah pria yang keriput nyaris tanpa gigi ini, membuat Steve iba padanya. Steve tidak percaya bahwa dia yang melakukan kekacauan sebesar ini.


Steve meremat-remat tangannya, menahan amarah. Dia tidak tega harus membentak pria itu yang sudah di anggapnya sebagai kakek sendiri.


Pria yang selalu tersenyum ramah padanya walau dia sudah ompong.


Steve menyembunyikan rasa marahnya yang tak terbendung itu dengan wajah datar.


"Pak Jajang, bisa di jelaskan kenapa Bapak melakukan hal ini pada perusahaan ku?" Steve memulai pertanyaannya. Dia menatap wajah tua pria itu.

__ADS_1


Wajah tua Pak Jajang terlihat sayu dan lemas. Apalagi dia sudah merasakan begitu tidak enaknya terkurung dalam sebuah jeruji besi.


"Sebelumnya, Pak Steve," dia memulai berkata walau agak belepotan. "Maafkan Pak Jajang yang sudah membuat kekacauan ini."


Mendengar permintaan maafnya, Steve sangat menyayangkan kenapa harus pria ramah nan ceria ini yang harus melakukan kekacauan pada perusahaannya. Meskipun Steve iba padanya, dia serapat mungkin menutupinya agar pria tua itu tidak tahu bahwa dirinya mengasihaninya.


"Pak Jajang. Apa anda tahu, kejahatan yang Pak Jajang lakukan ini sudah di kategorikan sebagai kejahatan teror tingkat berbahaya," kata Steve.


Pria tua ini mengangguk. "Pak Jajang tahu Pak Steve, bahwa apa yang pak Jajang lakukan sudah termasuk level kriminalitas," jawabnya dengan rasa penyesalan. "Tapi Pak Jajang melakukan ini semua karena terpaksa." Pria tua ini merunduk, meratapi kesalahannya.


Dia akan menikmati hari tuanya di balik jeruji besi. Tidak peduli apapun, dia melakukannya karena sebuah alasan.


Steve mendengus, tangan kasar Steve yang sudah lama tak bertarung, kini meremat dengkulnya sekeras yang dia bisa. Dia tidak tega melimpahkan semua kemarahan pada pria itu. Sehingga dia melampiaskan pada dengkulnya sebagai bentuk menahan amarahnya.


"Memangnya Pak Jajang ada masalah apa? Sehingga nekat melakukan hal ini," tuntut Steve padanya. "Aku tidak percaya jika Pak Jajang yang melakukan hal senekat ini."


"Pak Jajang melakukan semua ini karena Pak Jajang sendiri membutuhkan uang," katanya memberitahu.


"Untuk apa?" Sentak Steve padanya. "Jika Pak Jajang butuh uang, Pak Jajang bisa mengatakannya pada ku. Tidak harus Pak Jajang memakai cara yang hina seperti ini!" bentak Steve padanya. Steve masih bisa membatasi diri untuk tidak terlalu kasar.


"Sejak dulu Pak Jajang selaku orang kecil memang hina, Pak Steve," dia berkata sendu. "Bagi Pak Steve, uang mungkin tidak ada artinya. Tapi bagi kami kaum kecil, itu sangat berati."


Steve memijit tulang hidung di bawah matanya. Dia tidak bisa jika mendengar keluhan orang lain mengenai sebuah uang.


"Katakan, Pak Jajang perlu uang berapa. Aku akan memberikan uang untuk Pak Jajang," Steve ingin mengakhiri bicara pria tua itu yang mengarah pada wajah mengiba dan memelas. Dia kesal, namun rasa iba terus menyelimuti dirinya.


"Pak Steve tidak perlu repot-repot," jawabnya. "Pak Jajang sudah tidak memerlukan uang lagi saat ini. Karena cucu Pak Jajang sudah di operasi, sehingga Pak Jajang sudah bisa tenang saat ini."


"Cucu?" Steve membulatkan matanya, menatap wajahnya.


"Pak Jajang melakukan ini bukan karena Pak Jajang ingin berfoya-foya dengan uang. Tapi demi cucu satu-satunya yang masih Pak Jajang punya. Pak Jajang sengaja melakukan hal ini."


"Tapi tidak harus menggunakan cara seperti ini-kan, Pak Jajang?" kata Steve padanya. "Apakah gaji perusahaan ku tidak cukup membayar atas hasil kerja Pak Jajang?"


"Semua ini karena keadaan Pak Steve," pria tua ini masih memiliki keberanian untuk menjawab. Walau dia takut melihat wajah Steve, Namun dia tetap pada perkataannya. "Pak Jajang tidak punya pilihan lain, selain menerima tawaran ini."


"Tsk!" Steve men-decak. "Aku tidak mengerti kenapa harus Pak Jajang yang melakukannya," Steve menggelengkan kepalanya. Dia menatapnya dengan ekspresi kecewa. "Apapun alasan Pak Jajang, aku tidak akan bertanya lagi. Pak Jajang pasti tahu hukuman apa yang akan Pak Jajang terima nanti," Steve mengakhiri pembicaraan. Dia sangat kecewa pada pria tua yang sudah lama bekerja di kantornya ini.


Pria tua ini menganggukkan kepalanya berulang kali, meminta maaf dan menunduk di hadapan Steve. "Bapak berjanji, bapak akan bertanggung jawab atas semua kejadian ini. Pak Steve tidak perlu mengkhawatirkan payung hukum yang berlaku, Pak Jajang siap menerima hukuman ini."


Mendengar ucapan itu, hati kecil Steve sedikit longgar. Dia luluh atas ucapan pria tua ini. Dia sangat tulus menerima hukumnya begitu saja.


Steve hanya bisa mengenang kisah pria energik ini. Apalagi gayanya yang menghibur saat bekerja. Pria tua yang selalu mendahulukan membersihkan ruangannya, pria yang tertawa hangat dalam kesederhanaan.


"Pak Jajang harus bertanggungjawab atas apa yang Pak Jajang lakukan." Steve berdiri, dia tidak mau menatap wajah tua pria ini. "Hari ini adalah pertemuan terakhir kita. Semoga Pak Jajang sehat-sehat saja kedepannya."


Steve meninggalkan pria tua itu tanpa berkata apapun lagi setelahnya. Dia mengerti maksud pria tua itu, dia melakukannya dengan terpaksa.


Steve tidak bertanya siapa yang menyuruhnya, bagi Steve itu tidak penting. Yang ia sesali adalah kenapa harus pria tua itu yang di targetkan, kenapa tidak ada karyawan lain yang bisa melakukan hal ini.


Steve menuju ke kamar mandi kantor polisi. Di depan kaca di atas wastafel Steve memandangi wajahnya, tak lama kemudian dia memukul kaca itu berulang kali. "Kenapa harus dia yang melakukan semua ini?"


Nafas yang menderu memburu, membuat Steve benar-benar tidak tega melihat pria tua itu harus merasakan dinginnya lantai tahanan.


Karena kemarahan yang menggebu, tanpa di sadari oleh Steve, dia melukai tangannya. Kaca toilet itu pecah, rasa sakitnya mengalahkan rasa kecewanya.


Darah segar mengalir dari tangannya, dia tidak peduli jika telah melukai diri sendiri.


Namun nasi sudah menjadi bubur, pelakunya adalah pria itu. Pria yang paling di kenalnya, pria yang sudah lama bekerja di kantornya yang sudah di anggap seperti kakeknya sendiri.


Dia mengakui semua kesalahannya di depan Steve, meskipun Steve sempat tak percaya, namun itulah kenyataannya. Kenyataan bahwa dia yang melakukan semua ini.


Saat Steve keluar dari bilik kamar mandi kantor polisi, tidak sengaja Dinda, Mira dan Zico bertemu dengannya yang sedang menutup pintu kamar mandi.


"Kalian?" Steve agak terkejut, mereka menguntitnya hingga ke kantor polisi.


Mira tanpa berbasa-basi menyodorkan tablet yang sedari tadi di pegang-nya.


Mira menunjukan sebuah rekaman kejadian saat Pak Jajang menaruh ular di kantornya.

__ADS_1


THE END



__ADS_2