UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 32


__ADS_3

"Mengapa aku harus bertemu lagi dengan kak Johan hari ini. Bahkan untuk melihatnya dan juga mendekati dirinya sudah membuat aku tak berdaya. Aku harap untuk kedepannya tidak lagi melihat wajahnya itu. Aku sudah muak mengikuti kisah drama keluarga kak Johan yang menyebalkan itu." Tutur Dinda sebal.


Ia mengambil langkah kaki seribu karena tidak ingin bertemu lagi dengan Johan. Orang yang paling ingin ia hindari karena tak mau terlibat masalah lagi dengan dia.


Namun, Johan yang tak bisa di abaikan begitu saja oleh Dinda mengejarnya dengan antusias seperti adegan yang ada di dalam drama Asia. Dimana seorang pria mengejar wanitanya yang sedang marah demi menjelaskan apa yang terjadi sebelumnya atas kesalah pahaman yang ia saksikan. Chemistry apik dan lazim ini bisa di lihat dalam drama Asia yang mendramatisir dan dia akhiri dengan sebuah ciuman romantis di muka umum seakan ingin menunjukkan kepada semua orang yang ada di sekitar mereka bahwa mereka adalah pasangan paling goals dan nyentrik.


Begitulah kira-kira yang terjadi, tetapi itu hanya angan-angan semata karena Johan tidak hidup dalam sebuah drama yang begitu pelik dan menguras emosi penonton. Sebab Johan sadar bahwa kehidupan di drama jauh lebih buruk ketimbang alur hidupnya yang malang. Dari belakang Dinda, Johan mengejarnya dengan langkah kaki yang tak kalah lebih cepat dari Dinda.


"Dinda!" teriak Johan dengan suara lantang.


"Hah.... Dia masih mengejar ku!" seru Dinda makin panik karena Johan masih ada di belakangnya.


Dengan segera ia mempercepat langkah kakinya sebisa mungkin tak ingin di dapati Johan. Ia berjalan setengah berlari seakan seperti di adegan aksyen penculikan dan Dinda sebagai salah satu sandera Johan yang mengaburkan diri dari genggamannya.


Tetapi pantopel Johan bahkan jauh lebih cepat dari heels yang Dinda kenakan.


Hingga jarak Johan untuk menggapai Dinda semakin dekat.


Grepp...


Johan mendapatkan tangan Dinda dengan cekatan penuh gairah membeludak.


"Dinda!" seru Johan dengan wajah sangar dan emosional khas pria dewasa.


"Coba dengarkan aku dulu. Aku? kak Johan mu yang dulu ini tidak akan pernah berubah untuk mencintai mu seperti dulu.


Kak Johan selalu menanti mu dan akan tetap mencintai mu bahkan kak Johan tak akan membiarkan kamu pergi meninggalkan kak Johan.


Kak Johan mohon, Kembalilah bersama kakak dan kak Johan berjanji akan memperlakukan Dinda dengan manis penuh kasih sayang.


Jadi kak Johan mohon, jangan tinggalkan kak Johan."


Johan bicara memelas penuh seraya memeluk Dinda dari belakang.


Dinda sedikit terkejut karena Johan melakukan hal ini tiba-tiba dan memeluknya dari belakang.


Matanya membesar dan ekspresi wajahnya tak tenang kala ia di peluk oleh Johan.


"Kak Johan! ku mohon lepaskan aku." Pekik Dinda dengan nada tinggi seraya meminta Johan melepaskan pelukannya dengan paksa.


"Tidak! aku tidak akan melepaskan Dinda sebelum Dinda mengatakan bahwa Dinda tidak akan meninggalkan kak Johan dan kembali bersama kak Johan seperti dulu lagi," tegas Johan memaksa.


Kali ini ia memeluk Dinda penuh kemanjaan di sinkronisasi dengan ucapannya.


Aroma tubuh Dinda yang segar dan menggugah selera inilah yang membuat Johan makin merindukan Dinda terlebih hidungnya merasakan nikmat kala rambut Dinda yang wangi ini menyeruak masuk kedalam lubang hidungnya bahkan urat nadinya seakan ikut merasakan aroma Dinda yang begitu mantap mengguyur perasaan emosional Johan.


"Seandainya Dinda menjadi istriku, maka tak akan aku biarkan pria manapun berbicara padanya. Aku mengharapkan itu jika benar-benar terwujud," batin Johan yang begitu licik ingin memonopoli Dinda seenaknya saja, seakan ia melupakan Steve yang mengaku sebagai tunangan Dinda.

__ADS_1


Namun Johan tak tahu itu. Tak tahu kebohongan yang di perbuat Steve, selagi Dinda masih belum menikah maka jalur khusus dan lampu hijau masih terbuka lebar untuk mendapatkan Dinda. Itulah yang di pikirkan Johan dengan pikiran luarnya.


"Kak Johan. Kakak sudah memiliki tunangan. Kakak sudah memiliki Vanya di sisi kakak. Dan aku hanya masa lalu kakak yang harus segera kakak lupakan. Jadi aku mohon hentikan tindakan konyol ini. Orang-orang sedang melihat kita." Dinda berbicara sedikit menekan dan memberontak melepaskan pelukan Johan pada dirinya.


Namun bukan Johan namanya jika ia tak memiliki urat malu dan tebal muka untuk melakukan hal-hal konyol di muka umum.


"Tidak. Aku tidak akan melepaskan pelukan ini sebelum kamu menerima kakak kembali bersama mu. Dan jika kamu mau aku bisa memutuskan pertunangan ini bersama Vanya.


Kamu tahu? hanya kamu yang paling kakak cintai seumur hidup kakak. Kakak tidak ingin ada wanita lain di hidup kakak, selain Dinda saja. Bahkan jika dunia menolak kita bersama maka kakak tak keberatan menentangnya demi Dinda.


Percayalah pada kakak bahwa kak Johan bisa menepati janji kakak demi Dinda. Jadi pertimbangkan kembali kakak agar bisa bersama Dinda seperti dulu lagi." Johan meminta dengan paksa bahkan jika Dinda menolak, ia akan tetap berusaha masuk kembali kedalam sisi Dinda apapun itu bahkan bersama siapa Dinda saat ini ia tak peduli.


"Kak Johan. Sudah aku katakan jika semua yang pernah kita lalui bersama di masa lalu itu hanya tinggal kenangan. Jadi hubungan kisah asmara di antara kita sudah berakhir empat tahun yang lalu. Kumohon jangan pernah ungkit masa lalu di antara kita, karena aku merasa itu sangat menyakitkan jika terus di ingat. Aku muak jika terus mengingat hal itu." Pungkas Dinda dengan tegas.


Ia melepaskan pelukan Johan dengan paksa yang sudah melemah seiring ucapan Dinda yang lantang di dengar oleh telinganya.


Kini Dinda menghadap tubuh tinggi Johan yang menjulang. Ucapan tegas Dinda tadi membuat Johan tertegun sejenak dan Dinda berharap semoga Johan mengerti atas ucapannya lalu akan meninggalkannya.


"Dinda bahkan tidak ingin kembali bersama dengan ku. Ini semua gara-gara pernikahan politik keluarga Tama dan keluarga Vanya. Jika bukan ada transaksi di dalamnya mungkin saja sekarang aku sudah menikah dengan Dinda.


Tetapi sekarang! jurang pemisah nampak jelas diantara kami berdua. Bahkan jika ingin menyalahkan orang, yang pastinya keluarga ku lah yang paling pantas di salahkan dalam hal ini. Aku belum siap kehilangan Dinda saat ini, karena dialah wanita yang paling aku cintai dan aku sayangi seumur hidup ku.


Tidak! Tidak! Tidak, aku tidak ingin kehilangannya untuk saat ini. Apapun itu tak akan aku biarkan." Batin Johan meronta bimbang tak karuan bahkan ia sulit berpikir jernih saat itu.


Lalu Johan tanpa di sadari memegang bahu Dinda dengan kedua tangannya yang kekar berurat lalu menatap gadis itu dalam-dalam. Tatapannya amat serius dan tajam, setajam tatapan tatapan burung hantu. Dinda ingin mengatakan bahwa tatapan Johan setajam tatapan mata elang, namun image itu lebih cocok untuk Steve yang bar-bar nan emosional.


"Kak Johan. Aku mohon kak Johan jangan bertindak egois. Aku sudah mengatakannya dengan jelas bahwa hubungan kita hanya tinggal kenangan. Aku sudah tidak ingin berhubungan apapun lagi dengan kak Johan. Jadi aku mohon mengertilah dan kak Johan harus bertanggung jawab pada Vanya yang sudah menjadi tunangan kak Johan selama empat tahun terakhir ini," Dinda berucap tegas sambil tangan lembutnya meminta lepas dari cengkraman Johan.


"Lupakanlah aku. Anggap saja aku sudah mati seiring putusnya kisah kita beberapa tahun yang lalu. Ini bukan permintaan tetapi ini semua kewajiban yang harus di turuti!" tambah Dinda melanjutkan bicaranya.


Johan yang mendengar ucapan tegas Dinda untuk sesaat merasa down putus asa tanpa harapan. Ia melepaskan cengkraman kasarnya pada Dinda dengan sendirinya mengikuti intuisi dari ucapan Dinda.


"Apa ini artinya aku akan kehilangan dia untuk selamanya?" ucap Johan dalam hati seraya tangannya memegang kepala seakan kepala itu sedang sakit dan menandakan bahwa ia tak bisa menerima kenyataan.


Ia tak habis pikir jika Dinda masih tetap tak ingin bersamanya. Sebelumnya Johan yakin jika Dinda masih mencintainya bahkan ia menjamin pria yang mengakui dirinya sebagai tunangan, itu hanyalah setting semata.


Dinda melihat raut wajah Johan yang berubah itu dengan seksama. Dinda merasa sedikit lega karena Johan mulai bereaksi atas ucapannya tadi.


Ia sangatlah berharap jika Johan tidak lagi menemui dirinya bahkan untuk selamanya.


"Maafkan aku kak Johan. Aku harus pergi sekarang!" seru Dinda membalikkan badannya seraya ingin meninggalkan Johan yang sedang dalam pemikiran kerasnya.


"Dia ingin pergi! aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!" batin Johan menyadari hal ini jika Dinda mungkin tidak akan menemui dirinya lagi untuk kedepannya.


"Tidak! aku tidak akan membiarkan mu pergi!" ucap Johan dengan tingkah sarkasme-nya.


Lalu Johan menarik kembali tangan Dinda dengan paksa. Kali ini jauh lebih kasar dari sebelumnya.

__ADS_1


"Kak Johan! lepaskan aku!" berontak Dinda karena Johan memegang tangannya dengan keras.


"Aku tidak akan melepaskan kamu lagi Dinda. Aku tak akan membiarkan kamu pergi dari sisi ku," ucap Johan dengan sikap anarkis.


Namun Dinda memaksa untuk melepaskan pegangan tangan yang jauh lebih kuat dari tenaganya yang lemah.


"Kak Johan." Teriak Dinda dengan nada tinggi.


"Sudah aku katakan aku tidak mencintai kak Johan lagi. Karena aku sudah memiliki seorang tunangan yang jauh lebih kaya, mapan dan juga bahkan lebih tampan dari kak Johan. Aku harap kak Johan bisa memahami semua ucapan ku!" tegas Dinda dengan wajah kesal.


"Apa!" ucap Johan dalam hati tak percaya pada ucapan Dinda.


Untuk sesaat ia kembali tertegun dan nampak bahwa ekspresi kaget atas ucapan Dinda yang menusuk relung kalbunya membuat ia makin parah. Semangatnya untuk mendapatkan Dinda lagi sedikit pupus dan tak berarti.


"Jadi selama ini rumor yang di katakan orang-orang itu benar, jika dia wanita jalang dan nakal. Aku tak bisa membayangkan hal ini benar-benar membuat ku tahu sifat aslinya yang hanya mendekati pria kaya hanya sebagai pemuas nafsu materilnya saja. Apakah yang ia ucapkan ini sungguhan dari perangainya ataukah ia hanya asal bicara saja." Johan berpikir keras akan hal ini.


Ia sungguh tak percaya jika gadis sederhana yang selama ini ia kenal kini menunjukkan sikapnya dengan spontan.


Ucapan Dinda tadi yang membandingkan dirinya dengan pria yang ia anggap sebagai tunangan sudah melukai egonya seakan kekayaan Johan tiada artinya di hadapan Dinda.


Ia berpikir sejenak bahwa tunangan yang di maksud oleh Dinda adalah Steve, pria yang pernah ia temui di kafe saat itu.


Sangking lemasnya mendengar ucapan Dinda yang menusuk itu, tanpa sadar Johan melepaskan pegangan tangannya pada Dinda yang erat tadi dengan refleksi semata.


Johan benar-benar merasa seakan nyawanya telah hilang dan ekspresi wajahnya mendatar tanpa ekspresi karena terkejut bukan kepalang atas pernyataan Dinda.


Pegangan tangannya pada Dinda tak lagi ia gubris karena ia sudah terlanjur lemas dan lesu akibat ucapan berbentuk samurai yang menusuk hatinya itu.


Pegangan tangan yang Johan lepaskan tanpa sengaja itu tanpa di sadari membawa malapetaka bagi Dinda.


A....A...A....A.....A...A


Teriak Dinda dengan keras dan melengking.


Johan dan Dinda nampaknya tak sadar jika keduanya sedari tadi sedang bicara di atas bibir eskalator dua arah.


"Dinda!" teriak Johan yang melihat Dinda tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga ia terjun ke eskalator hitam yang berjalan dengan deras.


Eskalator mall yang tidak terlalu ramai dan bisa di bilang sedikit sepi, sebab para pengunjung mall sedang sibuk kesana kemari mencari apa yang mereka perlukan. Walau banyak orang-orang berlalu lalang di sekitar mereka, namun orang-orang ini tak peduli pada tingkah keduanya seakan orang-orang bertindak sebagai sosiopat


Mungkin mereka yang melihat tingkah keduanya beranggapan bahwa kedua pasangan suami istri ini sedang bertengkar kecil akibat mempersalahkan diskonan di mall.


Hal semacam ini lazim terjadi bahkan bersifat lumrah untuk di saksikan. Pemandangan pengantin baru pikir orang-orang yang sedang melintas di sekita mereka.


BERSAMBUNG


Jangan lupa like + komentarnya ya, agar penulis makin semangat dalam berkarya.

__ADS_1


Kalau ada tip kasih thothornya sebagai penyemangat T_T


__ADS_2